pengertian tauhid bahan kuliah

Document Sample
pengertian tauhid bahan kuliah Powered By Docstoc
					                                                                       1




              PENGERTIAN TAUHID DAN LAPANGANNYA


A. Pengertian Tauhid.

       Tauhid menurut bahasa ialah : Pengetahuan bahwa sesuatu itu

satu atau menjadikan sesuatu itu menjadi satu.

       Tauhid menurut agama Islam ialah mengesakan yang disembah

dalam melakukan ibadah serta meng i‟tikadkannya atau membenarkan

keesaan-Nya pada zat Allah, sifat dan perbuatan-Nya.

       Tauhid menurut istilah ahli kalam adalah ilmu pengetahuan yang

mempelajari / membahas hal-hal yang wajib, mustahil, zais pada zat Allah

dan sifat-sifatnya, juga pada Rasul Allah dan sifat-sifatnya.

       Ringkasnya tauhid ialah : suatu ilmu yang menjelaskan mana yang

wajib, mustahil, zais pada zat Allah dan rasul-Nya sebagaimana bunyi

surat Yunus ayat 31 yang berbunyi :




Artinya : “Katakanlah siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan

          bumi atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan

          penglihatan dan siapakah menghidupkan dan yang mematikan

          dari yang hidup serta siapakah mengeluarkan / mengatur segala

          urusan maka menjawab, Allah dan katakanlah mengapa kamu

          tidak bertaqwa kepada-Nya”.
                                                                         2




Bunyi ayat 61-63 surat Al-Ankabut.




Artinya : “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka

         siapakah yang menjadikan langit dan bumi serta menundukkan

         matahari bulan, tentu mereka menjawab Allah, maka seakan

         mereka dapat memalingkan dari jalan yang benar”.




Artinya : “Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendaki diantara

         hamba-hambaNya       dan    dia   pula   yang   kuasa   bagi-Nya,

         sesungguhnya Allah maha atas segala sesuatu”.




Artinya : “Dan sesungguhnya menanyakan kepada mereka siapakah

         yang menurunkan air dari langit, lalu menghidupkan dengan air

         itu bumi, sesudah matinya ketika mereka akan menjawab Allah

         katakanlah segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka

         tidak memahaminya”.
                                                                     3




Bunyi ayat 84-89 surat Al-Mukminin




Artinya : “Katakanlah kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada

         pada-Nya jika kamu mengetahui”.




Artinya : “Mereka akan menjawab kepunyaan Allah katakanlah maka,

         apakah kamu tidak ingat”.




Artinya : “Katakanlah siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan

         yang mempunyai arsy yang besar ?”.




Artinya : “Mereka akan menjawab kepunyaan Allah katakanlah maka

         apakah kamu tidak bertaqwa”.




Artinya : “Katakanlah siapakah yang di tangan-Nya berada kakuasaan

         atas segala suatu sedang dia melindungi tetapi tidak ada yang

         dapat di lindungi-Nya”.
                                                                           4




B. Lapangan

      Lapangan pembahasan Ilmu Tauhid terbagi 3 macam yaitu :

   1. Ilahiyyat (masalah ketuhanan) yaitu zat Allah dan sifat-sifat-Nya.

   2. Nubuwwat (masalah kenabian) zat Rasul Allah dan sifat-sifatnya.

   3. Sam‟iyyah (masalah apa yang didengar) yaitu masalah yang diingat

      tentang penjelasan Allah (Al-Qur‟an) dan Rasul-Nya (Al-Hadist)

      mengenai alam akhirat seperti : Masyar / berkumpul di akhirat nanti,

      hisab, surga, di titian timbangan amal dan sebagainya.


Defenisi Ilmu Tauhid Ialah :




Artinya : “Ilmu yang membahas segala kepercayaan keagamaan dengan

         menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan”.


      Ilmu tauhid dalam agama Islam seperti thiology dalam agama

Kristen dan Protestan, yakni kedua-dunya mempersoalkan zat Tuhan.

Bedanya kalau ilmu tauhid mengajarkan bahwa tuhan itu satu, baik zat-

Nya maupun sifat dan perbuatan-Nya, kalau thiology mengajarkan trinitas

artinya tuhan itu tiga dalam satu dan satu dalam tiga oknum. Yaitu tuhan

bapak, tuhan anak (yesus) dan ruhul kudus.

      Dengan kata lain ilmu tauhid ialah ilmu yang membicarakan tentang

cara menetapkan aqidah agama dengan mempergunakan dalil yang
                                                                            5




meyakinkan, baik dalil aqli ataupun dalil naqli, atau dalil wajdani (perasaan

halus).


Guna / Faedah mempelajarinya

         Untuk mengetahui Allah dan Rasulnya dengan dalil yang yakin,

melepaskan diri dari taklid, kepada I‟tikadnya yang jazim (putus dengan

hati) juga melepaskan diri, dari kekafiran dan paham-paham yang subhad

serta menjadi landasan bagi ilmu syariat dan lain-lainnya. Karena tanpa

ilmu tauhid ilmu yang lain tidak berfungsi apa-apa karena itulah ilmu

tauhid di sebut juga ilmu ushuluddin (ilmu pokok-pokok agama).


Penciptanya.

         Ilmu tauhid / Qalam itu datang dari Allah. Kepada tiap-tiap Rasul-

Nya, kemudian di tulis dan dibukukan oleh ulama-ulama.

         Pencipta ilmu tauhid merupakan suatu kitab yang disusun mula-

mula sekali ialah ; Washil bin Atha‟ dari kalangan muktazilah, kemudian

dilanjutkan olah Abu Hasan Asy‟ari dan Abu Mansyur Al-Maturidy dari

kalangan Ahlu Sunnah Waljama‟ah.

         Ilmu tauhid / qalam ialah semulia ilmu karena pebahasannya

menyangkut dengan zat Allah dan Rasul-Nya, ilmu ini dasar/pokok ilmu

agama Islam serta yang lainnya seperti ilmu fiqh, tasawuf, nahu dan

sebagainya adalah cabang baginya. Ilmu ini di sebut juga dengan ilmu

aqidah atau ilmu ushuluddin (dasar-dasar agama islam) juga ilmu theology

Islam.
                                                                            6




Pengertian Ilmu Qalam


      Ilmu qalam adalah ilmu yang membicarakan tentang cara

menetapkan aqidah agama dengan mempergunakan dalil-dalil yang

meyakinkan, baik dalil-dalil itu merupakan dalil naqli, ataupun dalil wijdani

(perasaan halus).

      Dinamakan ilmu ini dengan qalam karena pembahasannya yang

paling menonjol ialah pembahasan tentang ke Esaan Allah yang menjadi

sendi asasi agama Islam bahkan sendi asasi bagi segala agama yang

benar telah dibawakan oleh para rasul yang diutus Allah.

Adapun dinamakan dengan ilmu qalam adalah sebagai berikut :

a. Karena problema-problema yang diperselisihkan para ulama-ulama

   Islam dalam ilmu ini, yang menyebabkan umat islam terpecah dalam

   beberapa golongan ialah masalah qalam.

b. Materi-materi ilmu ini adalah merupakan teori (qalam) tak ada

   diantaranya yang diujudkan dalam kenyataan atau diamalkan dengan

   anggota.

c. Ilmu ini di dalamnya dia menerangkan cara atau jalan menetapkan dalil

   untuk pokok-pokok aqidah.

d. Ulama-ulama muta-akhirin membicarakan dalam ilmu ini masalah-

   masalah yang tidak di bicarakan oleh ulama salaf, seperti pentakwilan

   ayat-ayat mustasyabihat, pembahasan tentang pengertian qadha, dan

   qadhar serta lain-lainnya.
                                                                       7




Perkembangan Ilmu Qalam

      Ilmu yang digunakan untuk menetapkanaqidah-aqidah diniyahyang

didalamnya di terangkan segala yang disampaikan Rasul dari Allah swt

tumbuh bersama-sama dengan tumbuhnya agama di dunia ini.

      Para ulama di setiap umat berusaha memelihara agama dan

menengahkannya dengan aneka macam dalil yang dapat mereka

kemukakan, tegasnya ilmu qalam ini dimiliki oleh semua umat hanya saja

dalam kenyataannyalah yang berbeda-beda ada yang lemah, ada yang

kuat, ada yang sempit, ada yang luas menurut keadaan masa serta

keadaan hal-hal yang mempengaruhi perkembangan umat, seperti

tumbuhnya bermacam-macam rupa pembahasan.

      Imam Razali berpesan dalam kitab ihyalumudhin bahwa sifat

manusia atau hal yang berhubungan dengan manusia ada 4 macam :

1. Dekatnya mati dengan manusia seperti azan dengan khamat.

2. Jauhnya waktu dengan manusia.

3. Beratnya amanah dengan manusia.

4. Ringannya shalat dengan manusia.


Aliran-Aliran Yang Populer dalam Ilmu Qalam

1. Aliran Salaf

      Aliran salaf pada hakikatnya aliran yang ingin mencari selamat, ia

mengambil jalan tengah antara Jabariah dan Qadariah.

      Jadi sebetulnya Allah itu Maha Kuasa untuk menjalankan qadar-

Nya, tetapi kerena rahman dan rahim-Nya, Allah memberi kesempatan
                                                                            8




kepada hamba-Nya untuk merubah nasibnya dengan ikhtiarnya. Apabila

dia mau berikhtiar Allah juga mau merubah qadar-Nya, demikian pendapat

aliran salaf dalam masalah itu.


2. Aliran Mu’tazilah.

      Aliran mu‟tazilah dalam masalah qadar termasuk aliran yang

menentang, aliran jadariah, dia berpendapat bahwa perbuatan manusia

sudah di tentukan tuhan, apa perlunya manusia di uji cobaan (laktif)

pertanggung jawaban jadi golongan mu‟tazilah banyak memakai alat-alat

ikhtiar menjadi pegangan.

      Mu‟tazilah membagai perbuatan manusia dua bagian :

   a. perbuatan bebas, dimana manusia dapat memilih dia mengerjakan

      atau tidak, perbuatan ini lebih tepat dikatakan perbuatan manusia,

      bukan perbuatan tuhan / Allah mereka beralasan pada akal.

   b. Perbuatan manusia yang bergerak dan ini bukan kehendak

      manusia.

      Tokoh Mu’tazilah : Wasil bin Atha’ dan Abu Huzail Al-‘Allaf


3. Aliran Qadariah

             Qadariah      ialah   faham    dari   sesuatu   golongan    yang

      berkeyakinan bahwa manusia berkuasa penuh terhadap segala

      tingkah laku dan perbuatannya sendiri, dia bebas berkehendak

      dengan     mutlak,    maka    dia    harus   bertanggung   jawab   atas

      perbuatannya itu, golongan ini timbul di Irak sebagai penguasa.
                                                                          9




       Tokohnya :

             Tokoh qadariah ialah Ma‟bad Al-Juhaini bin Ja‟du bin Dirham

       mereka hidup pada zaman Daulah Umaiyah atau khalifah Abdul

       Malik bin Mazwan.

             Faham qadariah bahwa gerak usaha manusia di tentukan

       oleh manusia sendiri, bukan dari Allah sebab manusia harus

       bertanggung jawab atas segala perbuatannya.

             Aliran ini mengingkari adanya qadar menurut dia segala

       perbuatan hamba di ketahui oleh Allah sejak dari azali, tetapi

       kejadian tersebut hambanya sendiri tidak ada sangkut paut dengan

       kekuasaan Allah.


4. Aliran Jabariah

       Aliran jabariah ini mengatakan bahwa semua gerak gerik manusia

dalam hidupnya sudah di tentukan oleh Allah swat, sedang manusia

sendari sama sekali tidak campur tangan dan tidak ikut menentukan apa-

apa.

       Aliran jabariah tidak mengakui perlunya sifat-sifat yang di tentukan

bagi Allah untuk mensucikannya sehingga Allah itu mempunyai sifat

kesempurnaan. Jadi menurut jabariah perbuatan manusia tak ubah seperti

kapas di bawa angin kemana angin itu bertiup kesitulah dia. Jadi mereka

beralasan kepada sebuah ayat :
                                                                           10




   Artinya : “Tak ada suatu bencana yang menciptakan kamu di bumi

              dan tak ada pula dirimu sendiri, melainkan telah ditulis dalam

              kitab dulu sebelum kamu di jadikan”. (QS. Hadid : 22).


       Jadi aliran jabariah ini sangat berlebih-lebihan dalam memahami

ayat antara lain :

   1. Dalam soal usaha, manusia tidak berikhtiar sedikitpun, karena

       manusia selalu berserah diri kepada takdir saja akhirnya manusia

       menjadi malas.

   2. Karena berlebih-lebihan dalam mena‟wilkan ayat-ayat Qur‟an

       dalam memahami satu jurusan saja dalam arti kata secara sempit.


5. Aliran Ahlusunnah Waljama’ah

       Ahlusunnah Waljama‟ah ialah golongan yang bena-benar mengikuti

sunnah Nabi saw, dan mencontoh jamaah sahabat sekalipun sedikit

jumlahnya mereka menganut madzhab empat yaitu ; madzhab Syafi‟I,

madzhab Hambali, madzhab Hanafi, madzhab Maliki. Aliran ini menitik

beratkan pada penilaian terhadap orang Islam ialah orang yang sudah

memenuhi tiga syarat :

   1. Mengucapkan dua kalimat syahadat dengan lisan.

   2. Ucapan syahadat diikuti oleh kepercayaan dalam hati.

   3. Di buktikan dengan amal perbuatan.

       Sedangkan     orang    yang    mengerjakan     dosa    besar    atau

meninggalkan kewajiban-kewajiban apa bila dia mati dan belum taubat,
                                                                      11




maka dia di hukumi sama dengan orang mukmin lil ashi atau mu‟min yang

maksiat, tetapi akan masuk surga setelah menjalankan hukumannya.



                 SEJARAH TIMBULNYA ILMU QALAM


A. Latar Belakang Ilmu Qalam.

      Nabi Muhammad saw dalam memimpin ummatnya, dikatakan

selain dia sebagai Nabi juga sebagai pemimpin Negara.

      Kondisi yang demikian telah banyak diakui oleh pemikir-pemikir di

belahan dunia barat, seperti R. Strathmann.

      Dalam tugasnya sebagai Rasul banyak yang telah diperbuatnya,

demi untuk mempersatukan ummat, indikasinya dia hijrah dari Mekkah ke

Madinah, telah menjalin hubungan ukhuwah Islamiyah yang sangat kuat

antara orang Muhajirin (orang-orang yang hijrah mengikuti Nabi dari

Mekkah ke Madinah) dengan golongan Anshar.

      Di sini nampak situasi ummatnya, tidak ada tanda-tanda untuk ada

peluang timbul suatu percekcokkan ataupun perselisihan, baik dibidang

agama maupun dibidang politik.

      Namun pada saat Rasul meninggal, sempat pula terjadi perdebatan

diantara pengikut-pengikutnya terutama golongan Muhajirin dan Anshar

yang saling mempertahankan bahwa masing-masing mereka berhak

untuk menggantikan kedudukan Nabi sebagai Khalifah. Tetapi rupanya

masing-masing pihak menyadari akan pentingnya arti penggalangan

persatuan (semangat ukhuwah islamiyah yang tinggi) perdebatan itu
                                                                       12




segera berakhir, dan di tunjuklah Abu Bakar menjadi Khalifah. Setelah

Abu Bakar maka di gantikan Umar, lalu setelah Umar di gantikan Usman

bin Affan.

       Selanjutnya dikatakan oleh Harun, bahwa Usman adalah orang

kaya raya, dari keturunan keluarga aristokrat dan banyak memiliki

pengetahuan administrasi dengan bermodalkan itu maka dia dapat

memperluaskan kekuasaan islam sampai ke laut semenanjung Arabia, di

samping itu Usman di pandang sebagai orang yang lemah lembut

sehingga dia tak mampu menentang pengaruh-pengaruh keluarganya dan

oleh sebab itu banyak mendudukan orang penting dalam porsi pimpinan

adalah dari golongan keluarganya sendiri, apalagi dia telah memecat para

gubernur yang diangkat oleh Umar bin Khatab sebagai orang yang kuat,

yang juga tidak terlalu terpengaruh kepada keluarga, sebagaimana

Usman. Yang sangat menonjol ialah Marwan bin Hakam, pada dasarnya

ialah yang menjalankan roda pemerintahan, disini Usman di gambarkan

sebagai boneka atau sebagai simbol saja.

       Dari periode Usman ialah tampak ada cela-cela persengketaan,

perdebatan dalam persoalan-persoalan sebagaimana di sebut “Imamah”

termasuk persoalan politik yang sangat bertentangan sekali dengan

konsep pemerintahan pada masa Rasulullah, oleh sebab itu terkenallah

dengan sebutan Usman Kontra Ali.

       Hal ini di tandai dengan adanya pembunuhan terhadap diri Usman,

karena tindakan-tindakan politiknya membuat orang tidak senang. Dan ini
                                                                     13




merupakan kesempatan bagi pihak-pihak yang ambisi jatuhnya Umar bin

Ash yang di gantikan oleh Abdullah bin Sa‟d bin Abi Sarh yang dia

sebagai keluarga Usman juga dan dia sebagai gubernur Mesir.

      Kalau dilihat pada masa periode wafatnya Rasul mereka itu

dihadapkan terhadap persoalan-persoalan yang bersifat kepentingan

politik. Adanya ambisi masing-masing pihak seperti sejak dari golongan

muhajirin karena merasa bahwa merekalah yang pertama masuk Islam

dan bersama-sama Rasul hijrah dari Mekkah ke Madinah, lalu menurut

ambisi kaum Anshar, bahwa merekalah orang-orang yang banyak

menolong Rasul di Madinah oleh sebab itu mereka juga punya hak untuk

menduduki sebagai kahlifah, sedangkan menurut kaum mayoritas mukmin

yang berhak dan cakap menjadi khalifah adalah orang-orang Quraiys

dasarnya ; Rasul pernah berkata : “imam-imam yang terdiri dari orang-

orang Quraiys”. (bukan imam shalat).

      Periode selanjutnya juga terjadi perdebatan-perdebatan yang

disebabkan terbunuhnya Umar dan Usman sendiri yang menghukumkan

bagi pembunuh apakah dia termasuk dosa besar atau di golongkan

kepada orang-orang yang telah keluar dari agama Islam, dalam kejadian

ini Ali telah dituduh sebagai turut campur terhadap pembunuhan Usman,

dikatakan bahwa yang membunuh Usman adalah Muhammad bin Abi

Bakar anak angkat Ali bin Abi Thalib.
                                                                          14




      Perdebatan yang telah terjadi selama ini sangat berpengaruh sekali

dengan keberlangsungan kehidupan politik pada masa kekhalifahan

sesudah Rasul yaitu sampai kepada masa khalifah Ali bin Abi Thalib.

      Ketika Ali diangkat menjadi khalifah ada dua kubu musuh yang

dihadapinya, yaitu pertama : Thalhah, Zubair dan Aisyah dan yang kedua

Mu‟awiyah bin Abi Sufyan. Menurut sejarahbahwa yang berat adalah

menghadapi mu‟awiyah, maka Ali menghabiskan pihak Thalhah lebih

dahulu dan terbunuhlah Thalhah dan Zubair sedangkan Aisyah di tawan

dikirimkan kembali ke Madinah selanjutnya perang ini di sebut Jamal

karena Aisyah mengendarai onta.

      Kemudian Ali mengadakan peperangan terhadap Mu‟awiyah yang

di kenal sebagai sebutan “shiffin” tampak di sini situasi tentara Mu‟awiyah

terdesak, seketika tokoh tua dari pihaknya yaitu Amar bin Ashsambil

mengangkat Al-Qur‟an ke atas minta berdamai, lalu Ali menerima tawaran

itu dan lansung membentuk Arbitrase atau penengah, sedangkan

penengah dari Ali yaitu Abu Musa Al-Asy‟ari, keduanya bersepakat untuk

menjatuhkan Ali dan Mu‟awiyah, tetapi kerena liciknya Amar bin Ash, di

suruhnya dahulu Abu Musa Al-Asy‟ari untuk mengumumkannya, ketika

saat Amar bin Ash berdiri, dikatakannyalah bahwa dia tidak menerima

penjatuhan Mu‟awiyah dalam       kondisi yang demikian inilah bahwa Ali

sangat terpukul dan merugikan baginya, lalu muncul gejolak sebagai

tentara Ali tidak menerimanya yang kemudian keluar dari barisan Ali yang

tersebutlah mereka itu golongan Khawarij, alasan mereka segala sesuatu
                                                                               15




itu harus berdasarkan hukum Allah, sedangkan arbitrase itu tidak

berdasarkan hukum Allah atau terkenal dengan ungkapan : “LA Hakama

Illallahu”.

         Disinilah menjadi titik awal sejarah politik secara ilmiah untuk dikaji

dan dibahas serta dicatat bagi para ahli sejarah, seperti yang di

perdebatkan soal pembunuhan terhadap Usman, satu pihak mengatakan

bahwa Usman yang bersalah bahkan kafir karena selama dia memegang

kekhalifahan      banyak     salah/menyimpang,      sedangkan      pihak    lain

mengatakan yang membunuh Usman adalah dosa besar bahkan kafir,

karena Usman adalah prajurit yang setia dan sah.

         Akhir dari perdebatan itu muncullah aliran thiologi, sekte di

kalangan dunia Islam pada waktu itu.

         Pertama aliran Khawarij mengatakan bahwa orang yang berdosa

besar adalah kafir, keluar dari Islam atau disebut juga murtad oleh sebab

itu wajib dibunuh.

         Sedangkan aliran yang kedua adalah aliran Murji‟ah yang

berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar tetap mukmin dan

bukan kafir dan semua apa yang telah dilakukannya adalah terserah

Allah.

         Yang ketiga yaitu aliran Mu‟tazilah tidak sependapat dengan kedua

pendapat di atas/kelompok tersebut, orang yang berdosa besar bukan

kafir bukan pula mukmin, mereka didalam bahasa Arab disebut ; Al-

Manzilah bain al-manzilatain yaitu posisi diantara dua posisi.
                                                                       16




      Selanjutnya Islam ada dua aliran dalam thiologi yang terkenal

dengan    nama       Al-Qadariyah   yang   berpendapat   bahwa   manusia

mempunyai kebebasan dalam kehendak dan perbuatannya atau disebut

juga “Free Will” atau “Free Act”. Dan Al-Jabariyah yang berpendapat

sebaliknya yaitu ; manusia tidak punya kebebasan dalam kehendak

berbuat, tapi atas paksaan tuhan di sebut juga “fatalism” atau

“Predestinations”.


B. Timbulnya Ilmu Kalam.

      Ilmu qalam identik dengan ungkapan teologi islam atau di sebut

tauhid yang mengandung pengertian sebagai keyakinan terhadap ke

Esaan Tuhan dalam Islam. Orang yang mengusai ilmu qalam di sebut

juga mutakallimin di artikan seagai orang yang ahli debat yang pintar

memakai kata-kata.

      Selanjutnya dikatakan oleh harun bahwa jika ilmu qalam itu adalah

sabda tuhan, karena dia pernah menimbulkan pertentangan serta

perdebatan yang keras dikalangan umat Islam dan mengakibatkan

timbulnya penganiayaan bahkan pembunuhan, di abad kesembilan dan

kesepuluh masehi.

      Dikatakan dalam sejarah bahwa sebab timbulnya ilmu qalam

adalah adanya perdebatan soal kekhalifahan, imamah pada saat wafatnya

Nabi sehingga sampai titik akhir pada masa terbunuhnya Usman dan Ali

bin Abi Thalib. Termasuk timbulnya perdebatan tentang dosa besar lalu
                                                                               17




mengklaim kafir antara yang satu dengan yang lain dan akhirnya

menimbulkan beberapa aliran-aliran atau sekte di dalam Islam.

      Dengan kata lain timbulnya ilmu qalam disebabkan pula oleh

beberapa hal, yaitu :

1. Primodalisme serta fanatisme yang cukup tinggi.

          Bagi masing-masing keturunan suku bangsa Arab, seperti

   Quraisy, itu terlalu bertahan dengan martabat atau jati diri suku

   bangsanya dalam menduduki tampuk pimpinan.

2. Perdebatan soal kekhalifahan, yang sebelumnya tidak pernah

   dibicarakan oleh Rasulullah secara jelas dan tuntas.

          Mungkin       mengandung        maksud     bahwa      konsep    dalam

   kepemimpinan dan kenegaraan dalam itu berorientasi kepada azas

   demokrasi, musyawarah, seperti apa yang terjadi pada pengangkatan

   Abu     Bakar,       sehingga   Nabi      tidak   merasa       perlu   untuk

   membicarakannya.

3. Masing-masing pihak semata-mata, mempunyai kepentingan politik

   yang berdalihkan masalah-masalah agama, seharusnya apa yang

   terjadi adalah masalah-masalah fiqh (Mu‟amalah) lalu mereka

   orientasikan     kepada    soal-soal    aqidah,   sehingga    timbul   saling

   mengkafirkan dan seterusnya.

Kesimpulan.

      Dari uraian yang telah dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan

sebagai berikut :
                                                                           18




      Mundurnya ilmu qalam, disebabkan terjadinya perdebatan soal

kekhalifahan, imamah, pada saat wafat Nabi hingga berlanjutnya pada

masa khalifah Usman hingga Ali bin Abi Thalib, yang jelas karena

kepentingan politik sekelompok orang-orang tertentu yang berdalih,

beralaskan kepada persoalan-persoalan aqidah/agama.

      Dari semua fenomena itu maka menimbulkan beberapa aliran atau

sekte-sekte di dalam Islam.



                      SEJARAH PERKEMBANGAN

                      ILMU TAUHID/ILMU QALAM


1. Sejarah Perkembangan Ilmu Qalam.

      Ilmu ini sebagai ilmu yang berdiri sendiri belum di kenal orang sejak

masa hidupnya Nabi sampai masa sahabat, tapi beru dikenal setelah

bermunculan ilmu agama Islam yaitu setelah dibicarakan tentang

kepercayaan terhadap alam ghaib (alam abstrak) memang kita baru bisa

memahami ilmu tauhid sebaiknya setelah kita tahu faktor-faktor yang

mempengaruhi timbulnya peristiwa politik dan historis, faktor-faktor itu ada

2 (dua) yaitu faktor dari dalam (dari kaum muslimin sendiri) dan faktor dari

luar (disebabkan adanya kebudayaan bukan Islam) yaitu.


Faktor dari dalam.

1. Al-Qur‟an. Penuh dengan ajakan kepada bertauhid dan ajakan untuk

   mempercayai kerasulan, semua ini ditujukan kepada golongan dan
                                                                     19




agama yang tidak benar yang hidup pada masa Nabi Muhammad saw

juga   Al-Qur‟an   tidak   membenarkan        kepercayaan-kepercayaan/

golongan-golongan yang membantah alasan-alasan sebagai berikut

antara lain :

a. Golongan     yang   mengikuti      agama    (adanya    tuhan)mereka

   mengatakan bahwa yang menyebabkan kebinasaan dan perusakan

   hanyalah waktu saja (baca Al-Jasiah : 24)

b. Golongan Syirik, yang menyembah patung-patung, bulan, matahari

   (Qs. Al-An‟am : 76-78) juga yang mempertuhan Nabi Isa dan

   ibunya (Al-Maida : 116) yang menyembah berhala-berhala (baca

   Al-An‟am ; 74 dan As-Syura ; 9).

c. Golongan yang tidak percaya keutusan Nabi-Nabi (baca Al-Israk :

   49) dan juga tidak percaya kehidupan kembali di akhirat nanti (baca

   Qs. Al-Ambiya : 104).

d. Golongan yang menyatakan bahwa semua yang terjadi di dunia ini

   adalah perbuatan tuhan dan tidak ada campur tangan manusia

   (yaitu orang yang munafik) baca Qs. Ali-Imran : 154.

       Dari alasan-alasan di atas Allah membantah perkataan-

perkataan mereka dan juga memerintahkan Nabi Muhammad saw

untuk tetap menjalankan sambil menghadapi alasan-alasan mereka

yang tidak percaya, dengan cara yang halus. Firman tuhan dalam Al-

Qur‟an surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi:
                                                                           20




   Artinya : “Ajaklah mereka ke jalan tuhanmu dengan hikmah dan
             nasehat-nasehat yang baik-baik dan bermusyawarahlah
             dengan mereka itu lebih baik bagi kamu” (An-Nahl : 125).

2. Ketika kaum muslimin selesai membuka negeri-negeri baru untuk

   masuk Islam, mereka mulai tentram dan tenang fikirannya, disamping

   melimpah-limpah rizkinya. Pada saat itulah mereka mengemukakan

   persoalan agama dan berusaha mempertemukan nash-nash agama

   yang kelihatannya saling bertentangan.


3. Soal-soal politik seperti soal khalifah (pimpinan pemerintah negeri)

   sebenarnya khalifah itu adalah soal politik agama tidak mengharuskan

   kaum muslimin mengambil bentuk, khilaf tertentu, tetapi hanya

   memberikan dasar yang umum yaitu kepentingan umum, wakil-wakil

   umat   bisa     mewujudkan   kepentingan   umum    itu,   kalau   terjadi

   perselisihan dalam soal ini, maka perselisihan itu adalah soal politik

   semata-mata.


Faktor dari luar

1. Adanya pendapat seorang yang jauh dari ajaran Islam, seperti orang-

   orang yang asalnya dari pemeluk agama Yahudi dan agama Nasrani,

   bahkan Ulama-ulamanya dari agama tersebut, setelah dia memeluk

   agama islam, dia ingat akan ajaran agamanya yang dulu, kemudian

   memasukan ke dalam agama Islam.
                                                                        21




2. Golongan Mu‟tazilah dalam melawan lawannya dari agama lain,

   terpaksa mempelajari pendapat lawan itu dan mempelajari dalil-

   dalilnya yang terang, bahwa hukum perdebatan antara bermacam-

   macam pemeluk agama itu, antara satu sama lain akan berpengaruhi-

   mempengaruhi bagi kaum muslimin dalam menggunakan filsafat

   sebagai senjata.


2. Penjelasan Ilmu Tauhid/Qalam.

      Ilmu tauhid memang suatu ilmu yang tidak cukup di bahas dengan

nash-nash Al-Qur‟an dan hadist saja sesuai dengan tuntunan zamannya,

ahli ilmu qalam yang menamakan dirinya mutakallimin merupakan

golongan yang dapat berdiri sendiri yang dapat menggunakan fikiran-

fikirannya (alasan-alasan) dalam memakai nash-nash (teks-teks) agama

dan juga mempertahankan kepercayaan-kepercayaannya. Golongan

mutakillin berbeda dengan golongan filsafat yang mengambil oper

pemikiran, pemikiran filsafat yunani yang dianggap benar semua.

Golongan mutakillin percaya kepada pokok persoalan aqidah dan

mempercayai    kebenarannya,    kemudian   dia   menetapkan   dalil-dalil

fikirannya untuk pembuktian, dengan perkataan lain mutakillin adalah

laksana pembela perkara yang ikhlas dan menganggapnya benar.


3. Periodisasi Ilmu Tauhid/Qalam.

      Ilmu tauhid timbul dan berkembang mengalami beberapa priode

pada garis besarnya ada tiga priode.
                                                                   22




a. Periode sebelum Islam/sebelum Nabi Muhammad saw di utus

      Pada periode ini manusia mengenal tuhan dengan cara

meraba-meraba, dia percaya ada kekuatan ghaib tetapi belum

mengenalnya, mengenai soal ibadah mereka mengadakan pemujaan,

pemujaan dewa yang diwujudkan patung-patung dia menganggap

bahwa patung-patung dan berhala itu menjadi wasilah dan perantara

untuk sampai kepada tuhannya, jadi ilmu tauhid pada priode ini masih

kabur dan bersifat meraba-raba.


b. Priode Nabi Muhammad saw.

      Nabi Muhammad saw di utus oleh Allah kepada manusia

seluruh alam, untuk membawa manusia dari kegelapan kepada

penerangan,   dari   kesengsaraan   menuju   kebahagiaan,   dengan

pedoman Al-Qur‟an, sistem pemujaan/sistem wasilah di hilangkan

karena salah manusia langsung sendiri menyembah tuhannya tanpa

perantara, jadi jelas pada priode ini masih berpedoman kepada Al-

Qur‟an dan hadist.


c. Priode sesudah Nabi Muhammad saw.

      Setelah Rasulullah wafat barulah ummat Islam menjumpai

kesulitan-kesulitan yang belum pernah dijumpai sebelumnya sedang

tempat bertanya untuk memecahkan soal-soal yang sulit sukar

didapat, akhirnya timbul beberapa faham dan aliran pada waktu Nabi

masih hidup keadaan umat masih bersatu dan menuju kesatu arah.
                                                                         23




         Ada     juga    beberapa     orang    yang     menyembunyikan

   kemunafikannya kemudian timbul khilaf, tapi tidak sampai merusakkan

   imannya, setelah Nabi wafat golongan munafik ini lebih memperluas

   khilaf di antara umat, untung golongan yang masih ingin memurnikan

   tauhidnya, ingin kembali kepada tauhid yang benar, mulai pada saat

   inilah ada ijtihat, ijtihat bertujuan untuk menegakkan kembali syari‟at

   yang sudah agak jauh dari tuntunan Nabi tentang tauhid.


4. Pandangan Orientalis Mengenai Keimanan Islam.

      Pendapat-pendapat orang barat tentang keimanan Islam dapat kita

simpulkan menjadi tiga pendapat :

   a. Pendapat Dr. Nikon.

             bahwa manusia belum mempunyai perasaan keagamaan

      karena bodohnya, jangan menyelidiki agama alam ghaib dan

      sebagainya, sedang mengitung jarinya saja tidak dapat.

   b. Pendapat David Hume

             Manusia pada  1700 tahun yang lalu, mengabdi serta

      menyembah patung dan berhala, kemudian meningkat untuk dapat

      mengenal tuhan, walaupun masih meraba-raba atau mencari-cari

      barang yang masih samar-samar, kemudian meningkat mengenal

      tuhan lebih sempurna menurut ukuran pada masa itu.

   c. Pendapat yang berdasarkan wahyu dan petunjuk dari Allah swt.

             Pendapat pertama masih meraba-raba, sedangkan yang

      kedua sudah bertuhan, walaupun masih musyrik, misalnya
                                                                        24




       menyembah berhala, diantara berhala itu ada yang di istimewakan

       dan di utamakan yang paling adalah menurut pendapat sekarang

       yaitu tauhid yang bersumber dari wahyu dan sunnah.


5. Masalah Khalifah dalam Ilmu Tauhid/Qalam

       Masalah khalifah ini, sejak wafat Nabi saw, sudah ramai di

permasalahkan karena memang Nabi wafat juga tidak meninggalkan

wasiat, siapa yang harus menggantinya sebagai pimpinan, sehingga

timbul perasaan tidak puas, baik dari luar Islam dan para sahabat yang

dekat dan ahli bait sendiri.

       Dari luar Islam seperti Mutsailamah merasa tidak puas terhadap

kekhalifahan Abu Bakar, dia mengadakan aksi begitu juga dari Ali bin Abi

Thalib tidak puas terhadap khalifah Abu Bakar itu. Rasa tidak puas dari

berbagai pihak ini dapat menyelusup ketubuh Islam sendiri sehingga

timbul perpecahan dikalangan umat Islam.

       Pada waktu khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman kekhalifahan

masih bisa digunakan sebagai alat penyiaran dan pengembangan Islam.

Tapi sayang pada waktu Usman sudah mulai terjadi fitnah yang

mengakibatkan terbunuhnya Usman. Khalifah di gantikan oleh Ali sejak ini

mulai timbul kekeruhan di kalangan umat Islam, jadi soal kekhalifahan ini

sudah berubah corak, beralih menjadi jabartan nafsi-nafsi, yang artinya

jabatan khalifah merupakan kesempatan mencari keuntungan dunia yang

bersifat nafsi-nafsi, sehingga khalifah sebagai tugas suci dalam membawa

umat kepada kesejahteraan dunia akhirat sudah tidak tampak berfungsi,
                                                                        25




bahkan berupa menjadi I‟tikad dan keyakinan. Apabila khalifah tidak dari

golongan khalifah itu tidak syah, seperti pendapat golongan syiah, mereka

berpendapat bahwa tidak seorangpun yang berhak memegang khalifah

dan pemerintah kecuali dari keturunan Ali.

      Ini tentu menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama, jadi masalah

khalifah pada masa khalifah Rasyidin masih murni menurut ilmu tauhid,

tetapi sesudah itu khalifah sudah banyak berubah dan banyak di campuri

dengan kepercayaan yang sudah jauh dari pokok-pokok ajaran agama.

Banyak aliran-aliran yang sudah jauh dari ketentuan-ketentuan agama

dalam hal ini kita contohkan seperti golongan syiah, aliran syiah sangat

mempercayai bahwa Muhammad bin Ali salah seorang ananda Saidina Ali

bin Abi Thalib akan kembali kedunia ini karena menurut anggapan mereka

dia tidak mati, tetapi dia akan datang menghidupkan kerajaan Bani Ali.

Semasa hidupnya Muhammad bin Ali itu pengikut-pengikutnya telah

banyak menda‟wahkan, bahwa beliaulah Mahdi yang di janjikan itu,

kepercayaan ini bukanlah terbit dari pada Muhammad bin Ali, tetapi

olahan bikinan dari pada pengikut-pengikutnya belaka, terutama Mukhtar

bin Aki Ubaid yang menjadi kepala fitnah pada masa itu.

      Satu golongan syiah percaya, bahwa Muhammad bin Ali sekarang

ini sedang bersembunyi dengan kudanya yang berwarna putih di suatu

tanah lapang diantara Mekkah dan Madinah, di mana dia akan datang,

nanti akan kelihatan tandanya, dan sesudah dia datang dunia ini akan

takluk ke bawah perintahnya. Demikianlah kepercayaan golongan ini.
                                                                       26




      Nama Syiah itu pada awalnya berarti golongan Firqah dalam

bahasa arab, tetapi kemudian nama ini terutama di tujukan kepada suatu

golongan yang tertentu, yaitu golongan yang membela Ali, khalifah yang

ke IV, Suami dari anak Muhammad saw. Sti Fatimah dan sebagai saudara

dari Nabi. Orang syiah itu artinya orang-orang yang masuk golongan

Syaidina Ali, mempercayai bahwa Syaidina Ali itulah orang yang berhak

menjadi pengganti Nabi sesudah beliau wafat, begitu pula seterusnya.

      Sesudah Syaidina Ali meninggal dunia yang berhak turun-temurun

menggantikannya menjadi imam, kepada masyarakat kaum muslimin,

hendaklah dari keturunannya pula, yang disebut golongan Ali.

      Kepercayaan ini bertentangan dengan ajaran Islam mengenai

khalifah, sebagaimana yang diakui oleh sebahagian besar orang Islam

yang dinamakan Ahlu sunnah (golongan sunnah).

      Pada permulaan Islam kehormatan yang di berikan kepada

keluarga Nabi berlainan coraknya dari apa yang terjadi sesudah Nabi

Wafat, jika dahulu kehormatan ini berlahan-lahan berubah menjadi suatu

anggapan    kesucian   yang    berlebih-lebihan   yang   kadang-kadang

menyimpang dari pada ajaran Iman dan Islam sendiri.
                                                              27




6. Pembahagian Hukum.




                                    Wajib

                  Hukum Adi        Mustahil
                                                     Bading
                                     Jaiz
                                                     Bading

                                    Wajib
                                                     Bading
                 Hukum Aqly        Mustahil
                                                     Bading
                                     Jaiz
      HUKUM




                                                     Bading
                                    Wajib
                                                     Bading
                                    Haram

                Hukum Syar‟i        Sunat

                                    Makruh

                                     Jaiz

                                    Wajib

                                    Haram

                Hukum Wad‟i          Sunat

                                    Makruh

                                     Jais



      Hukum ialah : menetapkan adanya sesuatu perkara kepada

sesuatu perkara atau meniadakan sesuatu perkara kepada sesuatu

perkara.
                                                                    28




Contoh : Saya gembira saya sehat

         Saya tidak gembira saya tidak sehat

      Pada kalimat saya gembira dan saya sehat menceritakan bahwa

gembira dan sehat adalah sama saja, sedangkan pada kalimat berikutnya

menceritakan bahwa gembira dan sehat tidak ada pada saya pemberian

sehat atau tidak sehat kepada saya inilah yang di sebut hukum.

      Dengan ibarat lain hukum ialah : menghubungkan adanya sesuatu

kepada sesuatu atau meniadakan adanya sesuatu bagi sesuatu dengan

demikian hukum tidak terlepas dari 2 keadaan.



           MACAM-MACAM HUKUM DALAM ILMU TAUHID

                          ATAU ILMU QALAM


1. Hukum Adi

      Hukum adi menetapkan padanya sesuatu perkara untuk sesuatu

perkara, atau menafikan sesuatu perkara dari sesuatu perkara dengan

percobaan yang berulang-ulang terjadi menurut kebiasaan yang berlaku

pada alam misalnya : api panas, panasnya api dapat diketahui dengan

sebab percobaan yang berulang-ulang.

Hukum adi terbagi kepada 3 macam

   a. Wajib Adi yaitu : sesuatu perkara yang menurut kebiasaan

      begitulah terjadi atau mesti demikian menurut kebiasaan.

      Misal : Api panas, manusia beranak manusia, benda berat jatuh

      kebawah dan sebagainya.
                                                                       29




   b. Mustahil Adi yaitu : sesuatu perkara yang terjadi bukan menurut

      kebiasaan    atau   tidak   mungkin   terjadi   demikian   menurut

      kebiasaannya.

      Misalnya : Api dingin, manusia beranak lembu, benda berat jatuh

      keatas dan sebagainya.

   c. Jaiz Adi yaitu : sesuatu yang mungkin terjadi dan mungkin pula

      tidak terjadi menurut kebiasaan.

      Misalnya : orang jahat menjadi orang alim, orang kaya menjadi

      orang miskin atau sebaliknya buah yang ditanam ke dalam tanah

      mungkin tumbuh mungkin tidak, dan sebagainya.


2. Hukum Aqly.

      Hukum aqli ialah : menetapkan adanya sesuatu perkara kepada

sesuatu atau munafikan sesuatu perkara berdasarkan penimbangan akal

bukan dengan kebiasaan

Hukum Aqly terbagi kepada 3 macam.

   a. Wajib yaitu : sesuatu yang tidak tergambar tidak di terima akal

      sarapnya sesuatu arti sesuatu perkara atau sesuatu yang di

      tetapkan akal adanya sesuatu itu bagi sesuatu menurut akal.

      Misalnya : tiap-tiap benda mempunyai sifat, tiap-tiap benda

      mempunyai berat jenis dan mempunyai tempat menurut besarnya

      benda itu, Allah wajib bersifat Ujud, Qadam dan sebagainya.
                                                                             30




   b. Mustahil yaitu : sesuatu yang tidak di terima akal adanya sesuatu

      perkara bagi sesuatu perkara atau sesuatu yang ditetapkan akal

      tidak adanya sesuatu kepada sesuatu.

      Misalnya : Allah bersifat dengan buta, lemah dan sebagainya.

   c. Jaiz yaitu : sesuatu yang adanya dan mungkin tidak adanya

      sesuatu bagi sesuatu.

      Misalnya : manusia melahirkan manusia, benda kadang-kadang

      bergerak       kadang-kadang    diam,      Allah    berbuat      menurut

      kehendaknya, ikan hidup di dalam air dan hidup di daratan dan

      sebagainya.


3. Hukum Syar’i.

      Hukum syar‟I hukum yang terdapat di dalamnya Al-Qur‟an dan

Hadist-hadist Rasulullah, atau hukum ciptaan manusia yang diambil dari

Qur‟an dan Hadist.

      Seperti : hukum puasa, shalat, nikah, jual beli dan sebagainya. Ini

disebut dengan hukum fiqih.

Hukum syar‟I terbagi kepada 5 macam :

   a. wajib   yaitu    :   sesuatu   pekerjaan     yang    di   beri    pahala

      mengerjakannya dan di beri siksa bila meninggalkannya.

      Seperti : shalat, puasa dan sebagainya.

   b. Haram yaitu : sesuatu perkataan/pekerjaan yang diberi pahala

      meninggalkannya dan diberi siksa mengerjakannya.

      Seperti : berzina, mencuri, mengupat dan sebagainya.
                                                                         31




   c. Sunnat yaitu : sesuatu perkara yang di beri pahala mengerjakannya

      dan tidak di siksa meninggalkannya.

      Misalnya : melakukan ibadah-ibadah sunnat, membaca Qur‟an dan

      lain-lain.

   d. Makruh yaitu : suatu pekerjaan yang di beri pahala.

   e. Jaiz yaitu : sesuatu pekerjaan yang baik di keejakan maupun tidak

      di kerjakan, tidak mendapat dosa dan tidak mendapat pahala.


4. Hukum Wad’y

      Hukum wad‟y yaitu hukum ketetapan yang di buat oleh segolongan

manusia untuk kepentingan mereka sesuai dengan masyarakatnya.

Misalnya : hukum dagang untuk keperluan dagang, hukum lalu lintas,

hukum perkawinan, hukum kinternasional dan sebagainya.

Hukum wad‟I terbagi 5 macam

   a. wajib yaitu : suatu pekerjaan yang mesti dikerjakan andai kata tidak

      dikerjakan    atau   mendapat   hukuman     dari   kelompok    yang

      bersangkutan.

      Misalnya : hukum negara tentang pembayaran pajak dan

      sebagainya.

   b. Haram yaitu : pekerjaan yang mesti ditinggalkan kalau dikerjakan

      mendapat hukuman sesuai dengan peraturan yang berlaku.

   c. Sunnat yaitu : sesuatu pekerjaan yang dianjurkan sedapat mungkin

      meninggalkannya dan kalau dikerjakan mendapat pujian dari
                                                                               32




      kelompok yang bersangkutan tetapi kalau ditinggalkan tidak

      mendapat hukuman apa-apa.

   d. Makruh      yaitu   :   sesuatu   pekerjaan   yang     dianjurkan   untuk

      meninggalkannya,         tetapi   kelau   dikerjakan   tidak   mendapat

      hukuman.

   e. Jaiz yaitu : sesuatu pekerjaan yang boleh dikerjakan dan boleh di

      tinggal dengan ringkas dapat dikatakan hukuman dengan ditinjau

      dari segi kebiasaan, hukum agly ditinjau dari segi akal, berdasarkan

      qudrat Allah, hukum syar‟I ditinjau dari hukum yang di ciptakan oleh

      kelompok manusia tertentu.


      Wajib menurut syara‟ dan wad‟I ialah sesuatu yang mesti di

tinggalkan, makruh sesuatu yang dianjurkan meninggalkannya, sunnat

sesuatu yang dianjurkan melakukannya dan jaiz sesuatu yang boleh

dikerjakan dan boleh ditinggalkan.


Aqidah pada masa Nabi Adam a.s

      Rasul yang pertama di kirim ke muka bumi ialah Nabi Adam a.s.

Rasulullah bersabda :




Artinya : “Nabi Adam di utus untuk anak-anaknya. Setelah Nabi Adam
          wafat    tumbuhlah      penyelewengan     terhadap    aqidah    yaitu;
          tumbuhnya kemusyirikan dengan menyembah patung kemudian
          Allah mengirim Rasul yang lain sebagai Rasul pertama untuk
          melarang orang mensekutukan tuhan yaitu Nabi Nuh a.s”.
                                                                          33




Rasulullah Bersabda :




Timbulnya kemusyirikan di muka bumi.


          Mula-mula timbulnya kemusyirikan di muka bumi ialah pada masa

Nabi Nuh pada masa beliau terdapat beberapa patung-patung orang

shaleh.     Orang   shaleh   berasal   dari   keturunan   Nabi   Adam   dan

menyampaikan pengaruh yang besar dalam masyarakat.

Orang-orang shaleh tersebut ialah :




      Setelah mereka wafat mereka tetap di kenang oleh pengikut-

pengikutnya lalu mereka datang I‟tikaf di samping kubur mereka,

kemudian mereka membuat patung-patung dari ulama-ulama tersebut.

Tujuan mereka membuat patung itu untuk mencontoh dan mengenang

jasa-jasa baik yang dilakukan mereka, kemudian mereka beribadah di

samping kuburan tersebut.

      Generasi-generasi yang datang sesudahnya tidak mengetahui

tujuan pembuatan patung sebelumnya lalu iblis datang memberi was-was

kepada mereka bahwa orang-orang yang sebelum mereka tetap

menyentuh dan memuliakan patung-patung tersebut.
                                                                               34




      Imam     Bukhari      menerangkan       sesungguhnya     tuhan-tuhan   ini

menular kepada bangsa Arab, maka mereka menamakan tuhan-tuhan itu

Asnam (             ) berhala atau patung-patung.

      Generasi yang datang belakangan tidak mengetahui sejarah dan

tujuan pembuatan patung-patung tersebut, lalu mereka ikut-ikutan kepada

orang-orang yang sebelumnya dalam menyembah patung.

      Sejak penyembahan patung inilah mula-mulanya kemusyirikan di

muka bumi sehingga aqidah yang monoloisme atau menjadi politeisme

atau almusrikun pada dasarnya aqidah yang diturunkan ke dunia ini

adalah    bertuhan      satu,   tetapi    pada   masa   Nabi    Nuh   timbullah

penyelewengan sehingga ada orang yang menjadi musyirik, maka sejak

itu pula timbulnya kemusyirikan sampai sekarang orang-orang yang

datang sesudah Nabi Nuh tidak mengetahui asal usul penyembahan

berhala mereka mengikuti saja kepada orang tua mereka.


Aqidah Orang Arab Mengenai Berhala.

      Orang Arab jahiliyah tidak mengakui berhala sebagai tuhan yang

memberi    rizki,     menciptakan,       menghidupkan   dan    sebagainya,   itu

semuanya adalah diciptakan Allah bukan di ciptakan berhala.

Allah berfirman dalam surat Az-Zukhruf ayat 9 yang berbunyi :
                                                                        35




Artinya : “Maka jika engkau tanya mereka siapa yang menciptakan langit
          dan bumi, niscaya mereka menjawab semuanya diciptakan oleh
          yang maha perkasa lagi maha mengetahui”.


      Mereka mengakui pencipta langit dan bumi, pengurus matahari dan

bulan, menurunkan hujan menumbuhkan tumbuhan, menyuburkan tanah

tandus, pemilik langit dan bumi, menghidupkan yang mati, mengurus aras

dan merajai segala sesuatu adalah Allah, sebagaimana tersebut dalam

ayat 31 dari surat Yunus, ayat 61-63 dari surat Al-Ankabut dan ayat 84-89

dari surat Al-Mukminun.

      Sekalipun mereka beranggapan bahwa berhala-berhala itu adalah

benda jamad (benda mati) yang tidak dapat bergerak tetapi mereka

berkeyakinan berhala itu dapat memberi pertolongan dan mendekatkan

diri mereka kepada Allah karena itu mereka memuja-mujanya dan

menyembahnya sesuai dengan hajat mereka.

Allah berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 3 yang berbunyi :




Artinya : “Mereka yang menjadikan selain dari pada Allah sebagai
          penolong mereka berkata kami tidak menyembah mereka
          kecuali untuk mendekatkan kami kepada Allah sedekat-
          dekatnya.

      Berdasarkan ayat-ayat di atas dapat dipahami bahwa kedudukan

berhala bagi bangsa Arab jahiliyah bukanlah sebagai tuhan tetapi sebagai

perantara kepada Allah karena itu mereka disebut musyirik orang yang

menjadikan syarikat bagi Allah dengan berhala kalau mereka mendapat
                                                                      36




serangan dari Rasul-rasul yang di utus kepada mereka. Mereka menjawab

itu Allah kami warisi dari orang tua-tua kami walaupun kadang-kadang

bertentangan dengan pikiran mereka.


Aqidah Pada Masa Rasulullah

      Pada masa Rasulullah aqidah sangat sederhana sahabat-sahabat

memahami ayat-ayat Al-Qur‟an dan Hadist-hadist Rasulullah sesuai

dengan pengertian bahasa yang berlaku dan beredar pada masa mereka

itu tanpa mentakwilkan jauh-jauh dari pengertian bahasa mereka

menerima saja apa yang dikatakan oleh Rasulullah.

Misalnya : di dalam Qur‟an dijelaskan bahwa Allah mempunyai wajah

tangan dan sebagainya, mereka yakin bahwa Allah mempunyai wajah dan

tangan tetapi tidak serupa dengan wajah dan tangan makhluknya juga

mereka tidak bertanya bagaimana bentuk wajah dan tangan Allah dan

sebagainya.

      Mereka tidak bertanya kecuali apa yang perlu mengenai masalah

agama karena Rasulullah telah mengajari mereka agar jangan banyak

bertanya seperti : umat Nabi Musa nanti memberatkan mereka sendiri.

Sesuai dengan sabda Nabi :




Artinya : “Sesungguhnya sebesar-besar orang muslim dengan orang
          muslim ialah bertanya sesuatu yang tidak diberatkan atas
          mereka lalu diberatkan disebabkan pertanyaan tersebut”.
                                                                      37




        Dengan adanya larangan-larangan tersebut sahabat-sahabat tidak

bertanya mendetil (terperinci) apa lagi dalam masalah ketuhanan karena

itu ulama-ulama salaf beri‟tikad dengan lahirnya ayat saja sedangkan

hakikatnya Allah yang mengetahuinya.

Misalnya : Allah mempunyai wajah di I‟tikadkan dengan sepenuh hati

tetapi bagaimana hakikat wajah itu terserah kepada Allah jangan ditanya

lagi.

        Rasulullah tidak pernah meminta dalil, apa buktinya bahwa Allah

ada, apa dalilnya bahwa beliau Rasul Allah dan sebagainya yang pokok

bagi beliau ialah yakin dan mengi‟tikadkan karena itu golongan Ahli

sunnah berpendapat bahwa orang yang bertauhid kepada ulama sah

imamnya menurut kaum yang muktamat sekalipun dia tidak mengetahui

dalil-dalilnya dengan syarat taqlik yang jazim.

        Seorang laki-laki Anshar menjumpai Rasulullah serta membawa

seorang wanita yang berkulit hitam dia berkata Ya Rasulullah saya

mempunyai seorang hamba wanita yang mukmin, jika Rasulullah

melihatnya dia sudah mukmin saya akan memerdekakannya lagi,

Rasulullah bertanya kepada hamba itu apakah engkau mengaku bahwa

tidak ada tuhan kecuali Allah, budak itu menjawab “ya” Rasulullah

bertanya lagi apa engkau yakin hari kebangkitan ada sesudah mati dia

menjawab ya.

        Rasulullah bersabda kepada pemiliknya memerdekakanlah dia

riwayat Malik dari Abdullah, dalam riwayat lain Rasulullah bertanya di
                                                                        38




mana Allah hamba itu menunjuk ke langit dengan telunjuknya, rasulullah

bersabda siapa saya hamba itu menunjuk ke Nabi dan kelangit yakni

Rasul Allah Rasulullah bersabda merdekakanlah dia seorang wanita yang

mukmin riwayat Abu Daud dari Abi Hurairah.

      Pejuang-pejuang dari kalangan-kalangan sahabat tidak pernah

Rasulullah menyuruh mereka mengemukakan dalil-dalil tentang iman,

mereka dan beliau tidak mengajarkan dalil tetapi mengajarkan I‟tikad yang

mendalam serta menjiwai apa yang di ajarkannya yang berpokok pangkal

kepada adanya Allah yang maha esa tanpa sekutu baginya serta beriman

kepada Rasulnya.



                   ADINULLAH (                      )


      Agama Allah yang turunkan ke duania ini melalui malaikat jibril

kepada Rasul-rasulnya untuk disampaikan kepada manusia pada

dasarnya mengadung 3 unsur pokok yaitu : aqidah sunnat dan akhlak

dalam masalah aqidah sejak dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad

sama saja tidak ada perubahannya kecuali syahadat ummat kepada

Rasulnya masing-masing jika dia melihat ummat Nabi Nuh berkata :




Artinya : “Adapun mengenai syariat terjadi perubahan sesuai dengan

         Rasul yang di utus kepada mereka”.
                                                                          39




Misalnya : dalam syariat Nabi Adam boleh kawin dengan saudaranya

yang bukan kembar, sedangkan pada syariat yang sesudahnya tidak

boleh.

         Pada syariat sebahagian Rasul boleh mengawini dua yang

bersaudara tetapi pada syariat Nabi Muhammad dilarang dan tidak sah,

seluruh    Rasul-rasul   semua   dalam   masalah   syariat   berlain-lainan

jamannya dan syariat itu sesuai dengan zamannya.


A. Syirik.

         Syirik ialah mengadakan sekutu bagi Allah dalam melakukan

ibadah atau dalam I‟tikad baik pada zat Allah sifat-sifatnya maupun

perbuatannya.

Syirik terbagi kepada 2 (dua) macam yaitu :

   1. Syirik Akbar.

             Syirik akbar ialah orang yang menjadikan sekutu bagi Allah

   dalam ibadah atau dalam I‟tikadnya.

   Seperti : mengaku adanya tuhan selain Allah, ada yang berkuasa

   selain Allah mengadakan perantara kepada Allah lalu perantara itu di

   sembah baik terdiri dari patung-patung maupun benda-benda lainnya.

             Orang yang mati dalam kemusyirikan atau dalam kekafiran

   kekal di dalam neraka walaupun banyak kebaikan-kebaikanya seluruh

   dosa diampuni Allah kecuali dosa orang yang mati dalam kekafiran

   dan kemusyirikan.
                                                                          40




   2. Syirik Askrar.

          Syirik Askrar yaitu : riya ialah beramal untuk mengharapkan

   pujian dari manusia atau membinasakan amal karena manusia, syirik

   askrar ini membatalkan pahala amal malahan diberi dosa karena

   amalnya bukan karena Allah, Rasulullah bersabda :




   Artinya : “Sesungguhnya yang paling saya takuti di antara yang paling

             saya takuti atas kamu ialah syirik yang kecil, berkata sahabat

             apakah syirik yang kecil itu ya Rasulullah, “riya”. (H.R.

             Baihaqi dan Ahmad).




   Artinya : “sedikit saja dari pada riya adalah syirik” (H.R. Ibnu Majah

             dan Baihaqi).


B. Taqlid.

      Taqlid ialah : mengikuti perkataan ulama dalam masalah agama

tanpa mengetahui dalil-dalilnya orang yang bertaqlid disebut muqallid.

Muqallid terbagi kepada 2 (dua) golongan :

   1. Al-Muzallidul Jarim artinya putus I‟tikad iman mereka itu sah

      menurut ulama-ulama kalam.
                                                                             41




   2. Muzallid Khairu Jarim yaitu : orang yang tidak putus I‟tikad baik

       dengan kata-katanya tidak sah imannya mereka di hukumkan kafir.


Mengitsbatkan.

Artinya   : Menetapkan adanya sesuatu pada sesuatu

Seperti   : Rumah itu tinggi, kayu itu besar.

           Si Muhammad kaya dan sebagainya.


       Kalimat itu menjelaskan tinggi ada pada sirumah besar ada pada

kayu, kaya ada pada si Muhammad dan sebagainya.

       Pada itsbat ini tidak terdapat huruf nafi (menidakkan) jika ada huruf

nafi musti di iringi dengan pengecualian seperti : illa, qhairu, siwa dan kata

yang sama maknanya dengan kata-kata tersebut.

Misalnya : Ma Muhammad illa Rasul in anta illa nazhir.

            Laisa lil insani illa ma sa‟a.


Pengelompokkan Ilmu Pengetahuan.

   1. Alamiah

   2. Budaya

   3. Sosial

   4. Agama

 Yang dimaksud dengan alamiah ialah pasti berdasarkan rumus.

   Contonya : Biologi, Fisika, Matematika, Aljabar

 Yang dimaksud dengan budaya ialah : hasil karya ciptaan manusia

   baik berupa fikiran yang diperoleh dari otak ataupun dengan hati.
                                                                         42




 Yang dimaksud dengan sosial ialah : hubungan masyarakat.

 Yang dimaksud dengan agama ialah : kepercayaan kepada tuhan

   yang maha Esa dan keselamatan dunia akhirat.

       Ilmu memang berasal dari bahasa Arab. Pengetahuan ialah ilmu

pengetahuan dalam bahasa di katakan Knowledge sentences satemen /

disiplin ilmu.


C. Syarat I’lmiah

       Sistimatis berasal dari bahasa Arab.

   1. Sistimatis ialah terdiri dari susunan, urutan gabungan yang terpadu.

   2. Resional/ficis : tidak dapat kita bicarakan.

   3. Umum : dalam pengertian universal baik di amerika/di eropa.

   4. Kumulatif : yang dikatakan kumulatif berasal dari suatu sumber dan

       lain-lain.


       Ada dalam tubuh di kalau Comman Tence ialah akal sehat,

cenderung kepada kebenaran hati nurani.

Kelompok :

   1. Natural Servies

   2. Social Secendes

   3. Humainion/humainiti ilmu untuk memuaskan rasa rohani manusia

       kesenian sastra.

   4. Keagamaan.
                                                                         43




       Objek dari pada Ilmu Tauhid hanya 1 (satu) Allah apapun kaitannya

seperti Rasul Allah juga mengesakan Allah.



D. Dasar-dasar Aqidah.

       Manusia memerlukan         bentuk kepercayaan,    kepercayaan   itu

berguna untuk menopang tata nilai hidup budaya, sikap tanpa

kepercayaan atau raga yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi, tetapi

selain kepercayaan itu di anut karena kebutuhan dalam waktu yang sama

juga harus benar.

       Menganut kepercayaan yang salah atau dengan cara yang salah

bukan saja tidak dikehendaki akan tetapi bahkan berbahaya, di sebabkan

kepercayaan itu diperlukan, maka dalam kenyataan kita temui bentuk-

bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di dalam masyarakat.

       Adanya bermacam-macam kepercayaan itu maka kemungkinan

terdiri atas 2 hal.

Hal pertama : Seluruh kepercayaan itu salah semuanya.

Hal kedua      : Mungkin salah satu saja yang benar atau bahkan pula

                 kepercayaan yang kita jumpai dalam masyarakat terdiri

                 dari campuran kepercayaan yang benar dan palsu.

       Sekalipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan

itu melahirkan nilai-nilai, kemudian membawa dalam tradisi-tradisi yang di

gariskan    secara    turun   temurun   (mewariskan)   mengingat   anggota

masyarakat yang mendukungnya, karena cenderung tradisi untuk tetap
                                                                         44




mempertahankan diri terhadap kemungkinan perubahan-perubahan yang

datang dari luar. Karena itu selalu di jumpai bahwa ikatan-ikatan

tradisional itu sering penghambat perkembangan dan kemajuan manusia.

      Disinilah terdapat kontradisi kepercayaan diperlukan bagai simbol

tata nilai guna menopang peradapan manusia, tetapi pula nilai-nilai itu

haruslah benar, dan benar itu merupakan asal tujuan segala kenyataan,

kebenaran yang mutlak adalah tuhan Allah.


Pengertian Allah dan Tuhan.

      Keyakinan kepada Allah kita memang sudah berpendapat bahwa

masalahnya bukan sekedar mempercayai saja sebab sudah ternyata

bahwa bicara tentang percaya syaitanpun secara yakin mempunyai wujud

Allah dan Esanya Allah itu.


Defenisi Tuhan (        )

      Untuk memetik difinisi tuhan kita bertitik tolak kepada ayat-ayat

yang terdapat dalam Al-Qur‟an termasuk Allah yakni perkataan.

      Dan hal tersebut kita jumpai dalam Al-Qur‟an dengan berbagai

macam objeknya yang termaktub lebih kurang 100 kali yang menarik

perhatian ialah : tidak satu katapun yang dijumpai yang sama artinya

dengan Atheis.

      Pada       masa   belakangan     ini   orang-orang   Arab   modern

menterjemahkan Atheis dengan perkataan :                      , padahal di

dalam Al-Qu‟an di jumpai kata-kata :
                                                                          45




       Di dalam beberapa surat misalnya Al-A‟raf :180, An-Nahl :103,

Fusilat :40, Al-Haj :25. kemudian kata-kata : (              )juga dijumpai

pada surat Jin :22. namun kalau kita periksa di dalam tafsir baik yang

berbahasa Indonesia maupun tidak, para ahli tafsir tidak menterjemahkan

kata-kata.

       (               ) Itu pengertian Atheis mereka menterjemahkannya

dengan pengertian :

“orang-orang yang tidak percaya kepada tuhan”.

       Sedangkan orang yang menamakan dirinya Atheis pada saat ini di

seluruh dunia tercatat lebih kurang satu milyar. Namun demikian kepada

Allah tidak menyinggung-nyinggung masalah Atheis ini dalam Al-Qur‟an.

Apakah mungkin Allah terlupa membicarakan masalah itu ? padahal Allah

telah berkata :




       Kalau demikian apa sebabnya, hal ini menunjukkan bahwa tidak

ada manusia yang tidak mengaku bertuhan. Kecuali banyak manusia itu

yang bertuhan banyak bahkan mempertuhankan keinginannya.

       Surat Al-Jaatsiyah ayat 23 menjelaskan :




     Artinya : “tidakkah     engkau   melihat   berapa   banyak   manusia

                  mempertuhankan keinginannya”. (Al-Jaatsiyah : 23).
                                                                              46




      Mengapa tuhan mengatakan demikian tak lain adalah selain

manusia sangat mementingkan keinginannya oleh karena itu bertolak atas

analisis (analisa) diatas, maka kita dapat mengetahui bahwa tuhan ialah

“sesuatu yang dianggap penting atau dipentingkan oleh manusia

sedemikian rupa sehingga manusia itu mementingkan dirinya di kuasai

atau di dominir oleh sesuatu”.


Musuh-Musuh Ketauhidan

1. Egoisme.

      Adapun sesuatu yang paling sering mendominir diri kita ialah :

egoisme Ke-Aku-an. Akibatnya manusia lebih mementingkan dirinya

sendiri, sehingga dia menganggap dirinya hebat, karena ia mempunyai

kelebihan-kelebihan. Yang di jelaskan oleh Allah dalam surat Al-(             )

ayat : 24 yang berbunyi :




   Artinya : “Mereka berkata ; tidak adalah kehidupan setelah kehidupan

              dunia ini, kita hidup disini dan kita mati disini, tidak ada yang

              mematikannya kecuali waktu pertukaran malam dan siang”

              padahal   tindakan    mereka    tentang    pengetahuan     yang

              demikian itu melainkan semata-mata dugaan saja”.
                                                                          47




2. Skularisme

         Tidak pernah memikirkan masa datang yang mereka di selidiki oleh

hal-hal yang hari ini semata, hari ini tidak ada hubungannya dengan hari

yang akan datang, karena mereka memikirkan hal-hal dunia saja dan tidak

memikirkan hari esok, oleh karena itu skularisme melakukan sesuatu

dengan menghalalkan berbagai macam cara asalkan tujuan yang hendak

dicapainya di dunia ini tercapai.

         Dengan demikian skularisme beranggapan bahwa dirinyalah yang

paling hebat persis sebagaimana syaitan menganggap dirinya yang paling

hebat.

         Dalam surat Al-A‟rab ayat 12 yang berbunyi :




   Artinya : “Allah berfirman : apakah yang melarang engkau bahwa

               tidak bersujud kepada Adam, ketika Aku perintahkan kepada

               engkau? Sahut Iblis : saya terlebih baik dari padanya,

               Engkau menjadikan saya dari pada api dan menjadikan dia

               dari pada tanah”.


E. Takabur.

         Takabur   sama   artinya   dengan   membanggakan     diri   karena

teratifikasi sosial yang dimilikinya berpangkal dari bisikan syaitan berupa
                                                                          48




pujian dan sanjungan yang menimbulkan rasa kagum terhadap diri sendiri

disebut dengan istilah Uzub.

      Uzub adalah bunga dari takabur yang pada gilirannya akan

menjelma menjadi penyakit takabur yang hakiki.

      Penyakit inilah yang pernah menimpa Fir‟un terpukau atas

kebenaran yang dikemukakan oleh Musa, tetapi fir‟un tidak mau

menurutinya, karena dia beranggapan bahwa Musa adalah seorang anak

yang dibesarkannya dan dikutipnya dari sungai Nil, kalaulah dia yang

bukan memungutnya waktu hanyut itu secara pasti Fir‟un merasa terhina,

karena Musa mau mengajarinya maka berkatalah Fir‟un, aku tak

menyangka kalau kau mempunyai penolong yang lain selain dari ku.

      Hal ini dijelaskan oleh Allah swt. Surat ke 28 ayat 38 berbunyi :




   Artinya : “Aku tidak menyangka kalau kamu masih mempunyai tuhan

             selain diri-Ku”.


      Selanjutnya Allah berfirman dalam surat Al-A‟raf ayat 12 yang

berbunyi :
                                                                        49




   Artinya : “Allah berfirman : Apakah yang melarang engkau bahwa

               tidak bersujud kepada Adam, ketika Aku perintahkan kepada

               engkau ?” sahut iblis : saya terlebih baik dari padanya

               Engkau menjadikan saya dari pada api dan menjadikan dia

               dari pada tanah”.


      Banyak contoh yang lain, yang menerangkan bahwa manusia yang

diberi Allah swt. Kelebihan dalam berbagai tradifikasi yang positif, akan

tetapi apabila kelebihan yang positif ini jatuh kedalam hati yang tidak

menyenangkan syukurnya maka menjadilah dia takabur yang akhirnya

menuju kufur.



F. Metode Memahami Adanya Yang Mutlak.

      Kita telah mempelajari metode berfikir yang di ajarkan oleh Abu

Hasan Al-Asyari, yang terkenal sebagai sifat dua puluh, beliau memakai

dengan hukum akal yang dihubungkan dengan hukum Causalitet yang

dihukum sebab akibat yaitu tidak ada sesuatu pun yang tidak ada faktor

penyebabnya.

Hukum akal tadi di batasi dengan 3 (tiga) oksioma yaitu :

   1. Wajib.

   2. Mustahil

   3. Jaiz


Wajib adalah      : Sesuatu yang mau tidak mau harus di terima oleh akal

                    mesti menerima akan adanya atau berlakunya.
                                                                            50




Contoh Wajib      : Sudut atas dari segi tiga sama kaki wajib sama.


Mustahil ialah    : Sesuatu yang tidak mungkin diterima oleh akal, akal

                    tidak mungkin bisa menerimanya.

Contoh mustahil : Mustahil      kalau    ada     orang     yang       mampu

                    menggambarkan segi tiga sama kaki, tetapi sudut

                    atasnya tidak sama ini suatu yang mustahil bagi akal.


Jaiz ialah       : dalam hal ini akal berlaku netral boleh ada boleh tidak,

                  karena tidak ada kepastian.




             TIMBULNYA GOLONGAN DALAM KALANGAN

                               UMAT ISLAM


       Tentang timbulnya golongan dalam kalangan uumat Islam telah

digambarkan oleh Nabi saw, sebagaimana yang tersebut dalam hadist

riwayat Ibnu Majah dari Abi Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda :




   Artinya : Ummat yahudi terpecah kepada 71 atau 72 golongan dan

               golongan Nasrani demikian juga. Ummatku akan terpecah

               kepada 73 golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu.
                                                                     51




         Lalu sahabat bertanya, siapakah golongan yang satu itu ya

         Rasulullah ? Beliau menjawab yaitu golongan yang tetap

         berpegang tuguh dengan ajaranku dan ajaran sahabatku.


   Dalam hadist yang lain Nabi bersabda :




Artinya : “Sesungguhnya akan datang atas ummatku apa yang terjadi

         atas Bani Israil setapak demi setapak. Sehingga bila dalam

         kalangan mereka terdapat orang-orang yang mendatangi

         ibunya   secara   terang-terangan,    terdapat   juga   dalam

         kalangan ummatku orang-orang yang berbuat demikian,

         bahwasanya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan

         dan ummatku akan terpecah juga sampai 73 golongan.

         Semuanya masuk neraka kecuali satu. Sahabat bertanya,

         siapakah yang satu itu. Itulah orang-orang yang tetap

         mengikuti    perjalanan   aku   dan    perjalanan   sahabat-

         sahabatku.
                                                                       52




       Juga dalam hadist yang lain Nabi bersabda yang berbunyi sebagai

berikut :




   Artinya : “Ummatku akan berpecah sampai 73 golongan, sedangkan

             yang lepas dari padanya hanyalah satu dan yang lain akan

             binasa. Sahabat bertanya. Siapakah yang lepas itu ?

             Rasulullah   mengatakan,    Ahlussunnah    Wal     Jama‟ah.

             Sahabat bertanya lagi apa itu sunnah dan jama‟ah ?NAbi

             menjawab itulah jalanku dan jalan sahabatku”.


       Berdasarkan hadist-hadist tersebut diatas teranglah bahwa umat

Islam akan pecah menjadi 73 golongan. Tetapi apakah 73 itu dalam

pengertian yang sebenarnya ? sebahagian ulama berpendapat bahwa

bilangan itu bukan dalam pengertianyang hakiki, tetapi yang dimaksud

ialah jumlah atau banyaknya perpecahan dikalangan umat. Ada pula yang

berpendapat bahwa golongan 73 itu terdapat pada Firqah Syiah. Ulama

yang lain menetapkan bilangan 73 itu tetap pada maknanya yang hakiki

dan pada seluruh umat Islam yang rumusannya sebagai berikut :

   1. Syi‟ah terpecah menjadi 22 golongan.

   2. Khuwrij terpecah menjadi 20 golongan.
                                                                            53




   3. Mu‟tajilah terpecah menjadi 20 golongan.

   4. Murjiah terpecah menjadi 5 golongan.

   5. Bakriyah terpecah menjadi 1 golongan.

   6. An-Majjaririyah terpecah menjadi 1 golongan.

   7. Adh-dhirariyah terpecah menjadi 1 golongan.

   8. Jahamiyah terpecah menjadi 1 golongan.

   9. Karamiyah terpecah menjadi 1 golongan.

   10. Ahlussunnah terpecah menjadi 1 golongan.


      Menurut Syahrastani yang terbesar diantara 73 itu adalah 4

golongan yaitu Qadariyah, Khawarij, Shifatiyah dan Syi‟ah. Dari 4 inilah

timbul dan bercabang menjadi 73 golongan.


1. Aliran Syi’ah

      Syi‟ah adalah golongan umat Islam yang sangat mengagung-agung

terhadap Ali ra. Dan keturunannya. Walaupun golongan ini pecah menjadi

22 golongan, namun terdapat juga prinsip-prinsip pokok yang sama

diantara mereka karena semua mereka berkeyakinan bahwa Ali lah yang

berhak menjadi khalifah sesudah wafat Rasulullah saw, Ali adalah guru

yang ulung yang mewarisi segala ilmu pengetahuan dari pada Nabi saw.

Beliau mempunyai ciri-ciri dan keistimewaan yang luar biasa. Lebih jauh

lagi mereka menganggap, Ali dan imam-imam sesudahnya adalah

terpelihara dari dosa kecil dan dosa besar. Khalifah-khalifah itu tidak boleh

keluar dari keturunan Ali. Justru itu khalifah sebelum Ali telah
                                                                             54




merampasnya, sesudah Ali wafat khalifah itu berpindah kepada

keturunannya. Oleh karena beliau banyak keturunannya yaitu hasan,

husain, muhammad bin hanafiah dan lain-lain, maka timbul pula

perpecahan dan perbedaan pendapat dalam menentukan, siapakah yang

berhak menjadi khalifah. Akhirnya timbullah golongan-golongan dalam

kalangan syi‟ah itu.

2. Aliran Khawarij Dan Ajarannya.

          Menurut Syahrustani yang dimaksudkan dengan khawarij adalah

setiap orang yang keluar dari pada imam yang telah di sepakati oleh kaum

muslimin, baik pada masa Khulafa‟ar Rusyidin ataupun sesudahnya.

          Mula-mula    timbulnya   golongan   ini   adalah   setelah   terjadi

peperangan antara Ali dan Mu‟awiyah yang terkenal dengan “perang

shifin” dimana berakhir dengan terjadi perdamaian antara kedua belah

pihak. Pada mulanya mereka adalah pengikut Ali, kemudian karena tidak

mau menerima tahkim yang berlaku antara Abu Musa Al-Asu‟ary di satu

pihak dan Amru bin Ash dipihak yang lain, maka keluar dan memisahkan

diri dari jama‟ah Ali. Mereka mengingatkan “tidak ada hukum kecuali bagi

Allah”.

          Mereka melepaskan diri dari Usman dan Ali ra. Hal inilah yang

sangat penting dalam aqidah mereka, sehingga nikah tidak dianggap sah,

kalau tidak didahului dengan melepaskan diri dari kedua imam itu. Selain

dari pada itu mereka berpendapat bahwa orang-orang yang melakukan

dosa besar itu telah menjadi kafir dan akan di tetapkan di dalam neraka.
                                                                      55




      Semua hal yang tersebut diatas itu merupakan masalah yang

disepakati oleh semua mereka. Selain dari pada itu banyak juga masalah-

masalah lain yang lahir setelah adanya perpecahan dan timbul golongan-

golongan, karena setiap golongan itu menetapkan aqidah baru yang

saling berbada antara satu dengan lainnya. Aqidah-aqidah itu dapat kita

lihat ada ajaran masing-masing golongan itu.

Pokok-pokok aqidah Khawarij

   1. Mengkafirkan Ali, Usman, Zubair, Thalhah, Aisyah, Abdullah bin

      Abbas dan kaum muslimin yang tidak ikut bersama mereka.

   2. Mengkafirkan orang-orang yang tidak mau berperang terhadap

      mereka dan tidak mau berhijrah untuk itu.

   3. Membolehkan bunuh terhadap anak-anak dan wanita-wanita yang

      bukan kelompok mereka dan juga yang menyalahi mereka.

   4. menggugurkan rajam dari pada orang-orang janda yang melakukan

      zina dan menggugurkan pula dari pada orang laki-laki yang

      menuduh orang lain serta diwajibkan terhadap wanita yang

      menuduhnya.

   5. anak-anak kaum musrikin tetap abadi dalam neraka serta bapak-

      bapaknya.

   6. Allah boleh mengutus orang kafir sebelum bai‟at atau orang-orang

      yang diketahuinya akan menjadi kafir.

   7. Mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar dan abadi

      dalam neraka selama-lamanya.
                                                                          56




   8. Khalifah atau pimpinan negara tertinggi bukanlah hak orang-orang

       tertentu, tetapi harus diadakan pemilihan oleh umum umat Islam,

       apabila khalifah dari orang besar, wajiblah dipecat atau dibunuh,

       khalifah boleh dari golongan Quraisy, boleh dari golongan lain,

       bahkan lebih baik dari golongan yang lain, supaya mudah dipecat.

   9. Mereka berpendapat bahwa mengerjakan shalat, berpuasa, berhaji

       dan ibadah yang lain, serta menjauhi segala yang dilarang adalah

       suatu rukun dari iman orang yang tidak melaksanakan yang

       demikian itu dan tidak menjauhi larangan, tidak di namakan

       mukmin hanya di namakan fasik.

       Prediksi Nabi saw dalam hadistnya tentang perpecahan umat Islam

menjadi beberapa kelompok menjadi suatu realitas yang tidak dapat

digugat lagi, hal ini dapat kita lihat dan dapat kita buktikan dalam

perjalanan sejarah Islam yang selalu diwarnai oleh adanya pertentangan

dan konflik diantara kaum khususnya semenjak pemerintahan Usman bin

Affan ra.

       Harus kita akui bahwa kapasitas intelektual dan ketajaman

interprestasi masing-masing individu tentang suatu ajaran adalah tidak

sama. Sehingga dari sini dapat kita tarik suatu benang merah bahwa

perbedaan pendapat yang merupakan sumber kemunculan kelompok-

kelompok dalam Islam merupakan sunatullah yang harus kita akui

keberadaannya.
                                                                        57




      Sebagai kelanjutan dari adanya perbedaan pendapat maka

terbentuklah kelompok-kelompok yang masing-masing merasa dirinya

paling benar sedangkan yang lain salah.

a. Defenisi Khawarij.

      Kata khawarij merupakan bentuk jamak dari sim fail. Khawarij yang

berasal dari kata Kharaja‟ yang berarti keluar, sehingga arti dari kata

Khawarij adalah orang-orang yang keluar.

      Imam Syahrastani di dalam kitabnya memberikan defenisi bahwa

khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak telah

disepakati oleh suatu kelompok baik pada masa sahabat, tabi‟in atau

keluar dari pemimpin pada setiap masa. Sedangkan Abu Hasan Al-Asy‟ari

lebih menekankan pengertian istilah ini pada orang-orang yang keluar dari

barisan Ali bin Abi Thalib, sementara penulis lebih cenderung pada

defenisi yang di tawarkan oleh Abu Hasan Al-Asy‟ari karena istilah

khawarij baru saja muncul setelah adanya pertentangan antara Ali dan

Mu‟awiyah.


b. Sebab munculnya Khawarij.

      Setelah Usman wafat, Ali sebagai calon terkuat menjadi khalifah

yang ke empat, tetapi segera mendapatkan tantangan dari Thalhah,

Zubair dan Aisyah yang akhirnya terjadi perang Jamal pada tahun 656 M

yang dimenangkan oleh Ali bin Abi Thalib.
                                                                          58




          Tantangan kedua datang dari Mu‟awiyah yang merupakan keluarga

dekat Usman dan tidak mengakui Ali sebagai khalifah, dia menuntut Ali

supaya menghukum pembunuh-pembunuh Usman dan bahkan menuduh

Ali turut campur dalam soal pembunuhan itu.

          Percekcokan antara kedua belah pihak semakin memuncak

sehingga terjadi pertempuran di daerah siffin yang akhirnya terkenal

dengan sebutan perang siffin.

          Setelah pertempuran terjadi, pasukan Ali nampaknya menguasai

medan dan hampir saja dapat memenangkan pertempuran, namun

kondisi semacam ini capat disadari oleh tangan kanan Mu‟awiyah yang

terkenal licik yaitu Amar bin Al-Ash sehingga beliau minta berdamai

dengan mengangkat Al-Qur‟an ke atas.

          Melihat kenyataan seperti ini pihak Ali akhirnya menerima tahkim,

namun mengenai siapa yang mendesak Ali sehingga beliau menerima

tahkim yang di tawarkan oleh pihakMu‟awiyah para ahli berbeda pendapat

yaitu :

   1. Menurut Harun Nasution di dalam bukunya Thiologi Islam, yang

          mendesak Ali untuk menerima tahkim adalah para Qurra‟ yang ada

          dalam barisan tentara Ali.

   2. Menurut Syahrastani, yang mendesak Ali untuk menerima tahkim

          adalah dari kalangan Khawarij dan Ali menyetujuinya, kemudian Ali

          berkeinginan untuk mengutus Abdullah bin Abbas sebagai wakil

          dari pihak Ali namun dari kalangan Khawarij menolak dan
                                                                      59




      mendesak Ali agar memilih Abu Musa Al-Asy‟ari sebagai wakil,

      desakan tersebut dikabulkan hingga yang menjadi wakil dari pihak

      Ali adalah Abu Musa Al-Asy‟ari. Namun peristiwa tahkim tidak

      seperti yang diharapkan kalangan Khawarij dan akhirnya mereka

      menolak dan keluar dari barisan Ali.

   3. Ahmad Amin di dalam bukunya tidak menyebutkan siapa yang

      mendasak Ali, beliau hanya menjelaskan bahwa di dalam tubuh

      tentara Ali ada perdebatan antara menerima dan menolak tahkim

      yang pada akhirnya Ali menerima tahkim.


      Dari peristiwa tahkim ini yang berakhir dengan terpedayanya pihak

Ali, mundullah kelompok yang tidak pro pada Ali dan juga tidak pro pada

Mu‟awiyah dan bahkan kelompok ini yang akhirnya disebut khawarij

mengkafirkan mereka berdua.


c. Nama-nama khawarij.

      Musthafa Al-Ghorobi berpendapat bahwa ketiga defenisi yang kita

gunakan adalah sebagaimana yang ditawarkan oleh Syahrastani, maka

nama khawarij berasal dari lawan-lawannya namun apabila nama khawarij

diambil dari ayat Al-Qur‟an. Surat An-Nisa ayat :100, maka asal kata

khawarij “dari mereka”.

      Sedangkan nama-nama yang dimiliki khawarij adalah :

 1. Haruriyah : dinisbatkan pada harura : nama sebuah kampung yang

     ada di wilayah kufah. Dinamakan haruriyah karena setelah Ali
                                                                        60




     kembali dari siffin menuju kufah, mereka berbelok dan menuju desa

     Harura.

 2. Syurah : di juluki karena ucapan mereka kami menjual jiwa kita

     dalam ketaatan kepada Allah, yang di ambil dari ayat Al-Qur‟an surat

     Al-Baqarah ayat : 207.

 3. Mariqah : dijuluki karena mereka dianggap keluar dari agama.

 4. Muhakkimah : dijuluki karena mereka mengatakan tidak ada hukum

     kecuali milik Allah.


      Dari nama-nama tersebut yang tidak dikehendaki adalah nama

Mariqah, karena menurut pandangan mereka, mereka tidak keluar dari

agama bahkan merekalah yang sebenarnya mukmin sedangkan yang lain

adalah kafir atau musyrik.

      Sebenarnya nama atau julukan yang paling tepat bagi mereka

adalah julukan Khawarij, karena watak dari para pengikut kelompok ini

yang selalu keluar dari kelompok asal karena adanya pertentangan kecil

dan membentuk kelompok baru serta mengkafirkan kelompok asal. Begitu

seterusnya sehingga perpecahan dari kolompok ini sangat banyak.


d. Penyebaran Aliran Khawarij.

      Pada dasarnya aliran ini hanya diikuti dan diyakini oleh barisan

tentara Ali yang tidak setuju terhadap peristiwa tahkim.

      Terjadi perselisihan diantara para ahli sejarah tentang siapa yang

pertama kali orang-orang ingkar terhadap terjadinya tahkim, sebagian ahli
                                                                        61




mengatakan bahwa orang yang pertama kali ingkar terhadap tahkim

adalah Urrah bin Adyah yang oleh Abu Hasan Al-Asy‟ari dikatakan Urrah

bin Bulal bin Mardas, sementara Syahrastani mengatakan bahwa Urrah

adalah putra laki-laki dari Jarir. Sedangkan ahli sejarah yang lain

berpendapat bahwa orang yang pertama kali ingkar terhadap peristiwa

tahkim adalah Yazid bin Ashim Al-Maharibi.

      Siapapun yang pertama kali menentang terhadap adanya tahkim,

namun yang jelas dia berpengaruh dan diikuti oleh 12000 orang dimana

seluruhnya memisahkan diri dari pihak Ali dan berkumpul dalam sebuah

kampung yang disebut Harura.

      Setelah terjadi negosiasi dan lobi-lobi yang dilakukan oleh Ali

terhadap golongan Khawarij pertama selanjutnya disebut Al-Muhakkimah

Al-Ula, maka jumlah khawarij surut menjadi 4000 orang dan setelah terjadi

peperangan dengan pihak Ali, maka jumlah pendukung khawarij hanya

tinggal 9 orang, sembilan orang inilah yang akhirnya terkenal dengan

sebutan salaful khawarij dan menjadi penyebar faham khawarij di luar

daerah Harura.

      Syahrastani di dalam kitabnya memberikan penjelasan bahwa dari

sembilan orang tersebut, 2 orang pergi ke Karman, 2 orang pergi ke

Aman, 2 orang pergi ke Sajistan, 2 orang pergi ke Jazirah dan satu orang

lagi pergi ke Tal Mauzun (daerah Yaman) dan faham-faham khawarij

nampak di daerah-daerah ini sampai sekarang.
                                                                        62




e. Sekte-sekte Khawarij.

       Sebagaimana telah kita jelaskan diatas bahwa Khawarij merupakan

nama yang paling tepat untuk aliran ini, karena sifat para pengikutnya

yang selalu mebesar-besarkan pertentangan kecil yang timbul di antara

mereka, dimana selalu bermuara pada adanya perpecahan dalam tubuh

aliran ini sehingga tidak mengherankan apabila aliran inimempunyai

banyak sekte yang kepastian jumlahnya masih ada perselisihan diantara

para ahli.

       Sifat kaku dan keras yang menjadi ciri khas aliran ini dapat kita

terima sebagai suatu kewajaran, karena kebanyakan aliran ini berasal dari

suku Baduwi yang jelas pandangannya sangat primitive dan tradisional.

       Sekte-sekte khawarij yang begitu banyak dapat kita bagi menjadi

dua bagian yaitu sekte pokok (Ushul) dan yang kedua adalah sekte

cabang (Furu‟).

       Abu Hasan Al-Asy‟ari dalam Maqalatul Islamiyin memberikan

penjelasan bahwa yang termasuk kelompok Ushul adalah Al-Azariqoh, Al-

Ibadhiyah, Al-Najdiyah dan Al-Shufriyah, sementara menurut syahrastani

yang termasuk Ushul adalah Al-Muhakkimah Al-Ula, Al-Azariqah, Al-

Hajdat, Al-Baihaqiyah, Al-Ajaridah, Al-Ibadhiyah dan Al-Shufriyah.

       Selanjutnya berdasarkan pendapat Syahrastani, maka sekte-sekte

Khawarij baik Ushul ataupun Furu‟nya adalah Al-Muhakkimah Al-Ula, Al-

Azariqah, Al-Najdat, Al-Baihisiyah yang memiliki cabang yaitu Al-Muniyah,

Ash-Habut Tafsir dan Ash-Habus Su‟al, Al-Ajaridah yang terpecah menjadi
                                                                         63




Al-Shaltiyah, Al-Hamziyah, Kholifiyah, Al-Maimuniyah, Al-Ithrofiyah, Al-

Sya‟biyah, Al-Khorimiyah, Al-Tsa‟alibah yang terpecah menjadi beberapa

sekte yaitu Al-Akhnasiyah, Al-Ma‟badiyah, Al-Rusydiyah, Al-Syaibaniyah

dan Al-Mukrimiyah, Al-Ma‟lumiyah dan Al-Majhuliyah yang merupakan

bagian   dari   Khozimiyah   Ibadhiyah   terpecah   menjadi     Khofsiyah,

Haristsiyah, yazidiyah dan Shofriyah.

      Pada dasarnya inti permasalahan yangmenjadi inti pembahasan

aliran khawarij adalah hampir sama dengan inti pembahasan kaum

murjiah atau yang lain yaitu seputar permasalahan kafir dan mu‟min.

      Abu Manshur Abdul Qohir Al Baqhdadi di dalam bukunya Al-Farqu

Baina Al-Firaq memberikan penjelasan bahwa Al-ka‟bi di dalam uraiannya

berpendapat bahwa ajaran yang disepakati oleh seluruh cabang-cabang

Khawarij (ajaran pokok) adalah pengkafiran Ali, Usman, Hakamaini,

Ashhabul Jamal dan seluruh orang yang sependapat dengan adanya

tahkim dan juga pengkafiran karena berbuat dosa besar serta kewajiban

keluar dari iman yang dzalim, sementara Abu Hasan Al-Asy‟ari

berpendapat yang menjadi kesepakatan seluruh cabang-cabang khawarij

adalah pengkafiran Ali, Usman, Ashhabul Jamal, Hakamaini dan seluruh

orang yang sepakat dan membenarkan hakamaini atau salah satu dari

keduanya dan juga kewajiban keluar dari pimpinan yang dzalim.

      Kalau kita lihat dua pendapat yang ditawarkan oleh Al-Ka‟bi dan

Abu Hasan Al-Asy‟ari, maka sebenarnya yang menjadi perselisihan

adalah masalah kafir yang disebabkan oleh perbuatan dosa besar,
                                                                       64




dimana hal ini oleh Al-Ka‟bi dianggap sebagai ajaran pokok, sementara

Abu Hasan Al-Asy‟ari tidak.

      Untuk menjelaskan ajaran yang menjadi ciri khas masing-masing

cabang dan menjadi pembaca antara cabang yang satu dengan yang lain

merupakan hal yang sulit, namun sebagai kompensasi, sesuai dengan

pendapat yang dikemukakan oleh Doktor Muhammad Ahmad Abdul Qodir

merupakan ringkasan dari kitab I‟tiqad Firoqil Muslimin Wa Al-Musyirikin

oleh Fahruddin Muhammad bin Umar Al-Razi, pendapat tersebut adalah :

   1. Al-Azariqah : mereka adalah para pengikut Abi Nafi‟rasyid bin

      Azraq dan sebagian dari pendapatnya adalah bahwa membunuh

      orang yang tidak sepaham dengan mereka adalah boleh.

   2. Al-Najdat : mereka adalah para pengikut Naddah bin Amir Al-

      Hanafi, mereka berpendapat bahwa membunuh orang yang tidak

      sepaham dengan mereka adalah wajib.

   3. Al-Baihisiyah : mereka adalah para pengikut Abi Baihis Haisho bin

      Jabir, sedangkan pendapat mereka adalah bahwa orang yang tidak

      mengenal Allah dan nama-namanya serta tidak mengetahui sendi-

      sendi syari‟ah adalah kafir.

   4. Al-Ajaridah : mereka adalah para pengikut Abdul Karim bin Umar,

      menurut mereka surat yusuf bukan merupakan bagian dari Al-

      Qur‟an, karena surat tersebut menjelaskan tentang kerinduan,

      orang yang rindu dan orang yang dirindukan sedang seperti ini

      tidak boleh merupakan bagian dari Al-Qur‟an menurut mereka.
                                                                         65




   5. Al-Sholtiyah : mereka adalah para pengikut Abi Usman bin Abi

      Sholt, menurut mereka bahwa orang yang masuk aliran mereka

      adalah muslim dan mereka menghukumi Islamnya anak kecil

      semenjak dari usia baliqh.

   6. Al-Hamziyah : mereka adalah para pengikut Hamzah bin Adrak dan

      mereka berpendapat bahwa anak-anak orang kafir adalah masuk

      neraka.

   7. Al-Mukrimiyah : mereka adalah para pendukung Hukrim bin

      Abdullah Al-Ajaly, mereka berpendapat bahwa terikush aholah

      adalah kafir bukan karena mereka meninggalkan shalat tapi karena

      mereka tidak mengetahui tuhan.

   8. Al-Ibadhiyah : mereka adalah para pendukung Abdullahbin Abdi

      yang muncul pada pemerintahan Marwan bin Muhammad kalifah

      terakhir bani Umayah, mereka berpendapat bahwa lawan-lawan

      mereka dari ahli qiblah adalah kafir yang tidak musyirik, oleh sebab

      itu boleh menikahi mereka dan menerima harta warisan mereka,

      dan orang yang melakukan dosa besar di sebut sebagai Muwahhid

      dan bukan mu‟min serta orang yang melakukan dosa besar di

      sebut kafir Ni‟mah dan bukan kafir agama.

3. Aliran Murji’ah

      Aliran murji‟ah adalah berasal dari bahasa Arab yang diambil dari

“Irja‟” dan mengandung dua pengertian yaitu :
                                                                         66




       1. Irja‟ artinya Ta‟khir (melambatkan) karena mereka melambatkan

          kerja dari pada niat dan „aqad.

       2. Irja‟ artinya „ithaur raja‟ (memberi harapan) karena mereka

          beranggapan bahwa iman itu tidak melarat dan tidak rusak

          dengan sebab melakukan maksiat, sebagaimana halnya ta‟at

          tidak ada manfaatnya serta kufur.

       Golongan Murji‟ah itu pecah kepada beberapa golongan, dimana

masing-masing meraka mempunyai aqidah dan kepercayaan yang

berbeda-beda.


       Realitas yang terjadi pada masa lampau, tidak semuanya dapat

dipantau oleh para sejarawan, bukti yang dapat memperkuat akan hal ini

adalah kenyataan yang terjadi pada salah satu firqoh Islam, di mana bukti-

bukti yang ada kurangnya mampu mengantarkan kita pada pemahaman

utuh tentang ajaran ini.



Definisi Murji’ah

       para ahli sepakat bahwa secara bahasa kata murji‟ah dapat di

kembalikan pada dua kata yaitu Arja‟a dan raja.

       Berdasarkan kata yang pertama, maka arti murji‟ah secara bahasa

adalah menunda atau menangguhkan.

       Sedangkan berdasarkan kata yang kedua maka arti murjiah secara

bahasa adalah memberikan pengharapan.
                                                                         67




      Secara istilah Murjiah merupakan nama suatu kelompok yang

menunda tidak menghukumi permasalahan orang-orang yang beda

pendapat yang saling menunpahkan darah dan menyerahkan hukum

semua itu kepada Allah pada hari kiamat.


Sebab Munculnya Golongan Murji’ah

      Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak akhir pemerintahan Usman,

situasi dan kondisi yang melingkupi umat Islam pada waktu itu sangat

kacau, percekcokan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain

tidak pernah reda dan bahkan semakin memuncak sampai adanya

peperangan.

      Kenyataan semacam ini sebenarnya dilatarbelakangi adanya

fanatisme   kelompok    yang    pada   gilirannya   kelompok   yang   satu

mengkafirkan kelompok yang lain begitu juga sebaliknya.

      Kelompok murji‟ah merupakan suatu kelompok yang tidak mau

turut larut dalam situasi dan kondisi yang semacam itu dalam arti

kolompok ini tidak mau turut serta kafir mengkafirkan antara kelompok

Islam yang ada pada waktu itu bahkan semua kelompok Islam yang ada

diterima dan tidak dihukumi kafir.

      Sebenarnya kelompok yang berpaham semacam ini sudah ada

semenjak periode awal sahabat, dimana kita tahu bahwa ada sekelompok

sahabat yang abstain dalam pertentangan yang terjadi pada akhir

pemerintahan Usman, mereka itu adalah Abu Bakar, Abdullah bin Umar
                                                                              68




dan Imran bin Husin. Sedangkan dasar keabstainan mereka adalah

sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, dimana Rasulullah saw

pernah bersabda : “bahwa akan terjadi fitnah-fitnah agama, orang yang

duduk pada waktu itu lebih baik dari pada orang yang berjalan, orang

yang berjalan pada waktu itu lebih baik dari pada orang yang berusaha.

(Al-Hadist). Paham inilah yang menjadi benih terhadap lahirnya golongan

murjia‟ah.

      Dari uraian diatas dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa penyebab

langsung munculnya golongan murji‟ah adalah adanya perbedaan

pendapat antara kelompok, sedangkan penyebab tidak langsungnya

adalah adanya khilafah.




Sekte-sekte Murji’ah dan ajarannya

      Ar-Rozi didalam kitabnya Al-I‟tiqodat sebagaimana dikutip oleh

Doktor Muhammad Abdul Qodir berpendapat bahwa aliran Murji‟ah

terpecah     menjadi   5   golongan    yaitu   al-Yunusiah,     al-Ghossaniyah,

Altuminiyah, Al-tsaubniyah dan Al-Kholidiyah.

      Meskipun aliran ini sudah terpecah menjadi 5 aliran, namun pada

akhirnya     musnah    dan   lenyap,   salah    satu   faktor   yang   menjadi

penyebabnya adalah adanya upaya dari daulah abasiyah untuk meng
                                                                         69




hancurkan kan kelompok ini membantu daulah umayyah sampai batasan

tertentu.

       Memang secara formal kelompok ini sudah lenyap, namun ide-ide

yang dimilikinya tetap tumbuh dan berkembang sampai sekarang. Hal ini

dapat kita lihat pendapat Al-Asy‟ari tentang pengertian iman dimana harus

kita akui bahwa pendapat beliau adalah pendapat kaum Murji‟ah, oleh

sebab itu Ibnu hazm memasukkan Al-Asy‟ari kedalam kelompok Murji‟ah

dan bahkan Harun Naution menambah kan bahwa ajaran mereka tentang

iman, kufur dan dosa besar masuk kedalam ajaran Ahlus sunnah Wal

Jamaah.

       Jika prinsip dasar golongan mu‟tazilah adalah ushulul Khomsah,

prinsip dasar golongan Syi‟ah adalah imamah, maka prinsip dasar

golongan Murji‟ah adalah batasan pengertian iman.

       Menurut kalangan Murji‟ah, iman itu mempunyai dua rukun yaitu

embenaran dalam hati dan ikrar dengan lisan tidak cukup demikian juga

sebaliknya. Dan hampir semua kalangan Murji‟ah sepakat bahwa amal

bukan merupakan bagian iman dan tidak masuk dalam konsep iman.

       Dan dari sini dapat kita sadari bahwa lawan berat kalangan Murji‟ah

tentang konsep iman adalah Khawarji dan Mu‟tazilah, karena dua

kelompok ini memberikan persyaratan melakukan ketaatan dan menjauhi

kemaksiatan dalam iman dan juga menjadikan amal bagian dari iman.
                                                                      70




      Sedangkan ajaran masing-masing sekte adalah sebagai berikut :

   1. Al-Yunusiyah: mereka adalah pengikut yunus bin „Aun Al-Namiri,

      mereka berpendapat bahwa setiap bagian dari iman bukan

      merupakan iman dan bukan merupakan bagian iman keseluruhan.

      Sesungguhnya iman tidak menerima tanbahan dan pengurangan.

   2. Al-ghasaniyah: merka adalah para pengikut Ghassan Al-Hirmi,

      mereka berpendapat bahwa iman tidak menerima tambahan dan

      pengurangan dan setiap bagian dari iman adalah iman.

   3. Al-Tuminiyah: mereka adalah para pengikut Abu Muadz Al-tumini

      mereka berpendapat bahwa kemaksiatan apapun tidak akan

      membahayakan iman dan Allah tidak menyiksa orang-orang faiq

      umat ini.

   4. Al-Tsabaniyah: mereka adalah para pengikut Abu Tsauban mereka

      berpendapat bahwa orang-orang yang berbuat ma‟siat („ushot)

      akan menjumpai pamasnya jahanam diatas shirot, tetapi mereka

      tidak masuk jahanam sumasrkali.

   5. Al-Kholidiyah: mereka berpendapat bahwa „ushot akan masuk

      neraka tetapi akhirnya dapat masuk surga.


Al-jabariyah dan Al-Qadariyah Serta Ajarannya.

      Pembahasan mengenai aliran-aliran dalam teologi islam senantiasa

mengikut sertakan uraian tentang aliran jabariyah dan Qadariyah.
                                                                            71




Meskipun demikian tentang kedua aliran dalam teologi ini kurang

memperoleh cermatan dalam porsi yang semestinya kurang proporsional-

bila dibandingkan dengan aliran teologi Islam yang lain. Barang kali, hal ini

terjadi akibat pengaruh atau latar belakang munculnya aliran ini.

Sebagaimana dalam kajian sejarah munculnya sekte-sekte teologi islam

berawal dari perbedaan atau persoalan politik, tetapi juga ada yang tidak

murni sebagai akibat aktor tersebut. Didalam buku “Islam” karangan

Caesar E Farah disebutkan munculnya beberapa sekte dalam islam

padadasarnya disebabkan oleh dua faktor sejarah, yang pertama sebagai

akibat pergolakan politik terhadap kekuasaan yang tengah berlangsung,

dan kedua sebagai akibat dari usaha atau upaya menginterprestasikan

kepercayaan dengan pendekatan pemikiran rasional terhadap falsafah

teologi. Dalam katagori yang terakhir inilah barangkali aliran Al-Jabariyah

dan aliran Al-Qadariyah timbul.

      Sebagai akibat lebih lanjut, pembahasan tentang kedua aliran

teologi islam ini tidak seinterest dengan pembahasan aliran-aliranlain.

Sebagai suatu aliran, Al-Qadariyah sudah kehilangan implikasi politis

pada zamannya bahkan Al-Jabariyah Al-Qadariyah tidak diklasifikasikan

kedalam aliran-aliran penting yang timbul dalam islam.

      Terlepas dari pendapat tersebut, yang penting bahwa apabila

dipertanyakan kembali, apakah pada diri manusia itu terdapat daya ikhtiar

atau tidak, maka yang pertama memberi jawaban terhadap persoalan ini

adalah aliran Al-jabariyah dan aliran Al-Qadariyah.
                                                                       72




       Dari rujukan diatas, pembahasan tentang Al-Jabariyah dan Al-

Qadariyah akan mempunyai arti tersendiri dan yang jelas pembahasan

tentang kedua aliran ini tidak kehilangan relevansinya, sebagaimana

pembahasan aliran-aliran teologi lainnya. Karena sungguh pun penganjur-

penganjur dari kedua aliran ini telah tiada, masih tetap terdapat pada

kalangan umat islam. Dalam sejarah teologi islam, paham Al-Qadariyah

dianut oleh Mu‟tazilah, sedangkan paham Al-Jabariayah dianut oleh aliran

Al-asy‟riah.

       Bertitik tolak dari uraian diatas, bermaksud mengungkapkan secara

sekilas tentang Aliran Al-jabariyah dan Al-Qadariyah; pemuka dan ajaran-

ajarannya dengan sistematika sebagai berikut yaitu :


Al-Jabariyah : pemuka dan ajarannya

       Al-Jabariyah mempunyai pengertian menghilangkan perbuatan dari

hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatan tersebut kepada

Allah paham Al-Jabariyah dalam istilah Inggris dikenal dengan istilah

predestination, fatalisme atau determinisme.

       Paham Al-Jabariyah ini diduga telah subur sejak sebelum agama

Islam datang kemasyarakat Arab. Bangsa Arab, oleh karena pengaruh

keadaan geografis yang serba sederhana, jauh dari pengetahuan, hidup

digurun padang pasir dan masih banyak bentuk kenistaan alam sekitar

mereka. Dalam keseharianya mereka hidup bergantung pada Alam, tidak

banyak usaha merubah sekeliling mereka sesuai dengan keinginannya.

Hal ini yang membina mereka bersifat fatalisme.
                                                                         73




      Di hadapan alam yang begitu ganas, alam yang indah namun

kejam menyebabkan jiwa mereka dekat pada zat yang maha pengasih

dan penyayang,     zat   Pembina,   pemberi petunjuk,Pemelihara,      dan

Pelindung. Dengan suasana seperti menyebabkan mereka tidak punya

daya dan kesanggupan diluar sunatullah, melainkan hanya patuh serta

mengikuti.

      Namum terlepas dari pengaruh keadaan alam yang secara

geografis tidak   menguntungkan seperti tergambarkan tersebut secara

hayati memang didalam Al-Qur‟an terdapat pernyataan yang dapat

menimbulkan coprak pemikiran jabariyah.

      Aliran Jabariyah ini terbagi menjadi dua, yakni Jabariah Al-Khalisah

dan Jabariah Al-Mutawasitah. Paham Jabariah Al-khalisah atau ekstrim

adalah paham yang dibawa oleh Ma‟ad Ibnu Dirham dan disebar luaskan

oleh Jahm Ibn Sofwan, seorang juru tulis dari eorang pemimpin yang

bernama Suraih Ibn Harits.

      Paham yang diajarkan Jahm Ibn Sofwan sebagai ajaran Jabariah

padadasarnya adalah sesungguhnya manusia itu tidak mempunyai daya,

tidak mempunyai kehendak sendiri dan tidak mempunyai ikhtiar manusia

atau perbuatan-perbuatannya yang dipaksa (                 ) dengan tidak

ada kekuasaan, kemauan dan pilihan baginya. Sesungguhnya Allah

menciptakan perbuatan-perbuatan didalam diri manusia seperti gerak

yang diciptakan Allah dalam seluruh benda-benda mati. Manusia

dikatakan berbuat bukan dalam arti sebenarnya tetapi dalam arti Majazi
                                                                      74




seperti pohon berbuah, air mengalir, batu bergerak, matahari terbit dan

terbenam, langit mendung atau hujan dan sebagainya. Segala perbuatan

manusia adalah perbuatan yang dipaksakan atas dirinya termasuk

menerima siksaan, mengerjakan kewajiban.

      Bagi Jabariah Al-Jamiah, hanya Allah sajalah yang menentukan

dan memutuskan segala amal perbuatan manusia. Semua perbuatan

sejak semula telah diketahui Allah. Dan semua amal perbuatan adalah

berlaku dengan kodrat dan iradat Allah. Usaha manusia sama sekali

bukan ditentukan oleh manusia sendiri. Pada hakekatnya, segala

perbuatan dan gerak gerik manusia adalah merupakan “paksaan” atau

Majbur. Hidup dan kehidupan manusia adalah scenario tuhan dan

manusia hanyalah sekeping wayang, menunggu kemana dia digerakkan.

      Sedangkan golongan Jabariah yang kedua adalah jabaran Jabariah

Al- Mutawasitah atau moderat yang diawa oleh tokoh yang bernama Al-

Husain Ibn Muammad Al-Najjar danDirar Ibn „Amr. Menurut paham

Jabariah gologan ini, tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan

hamba, baik perbuatan terpuji atau tercela, tetapi manusia mempunyai

bagian dalam perwujudan perbuatan-perbuatan itu. Tenaga yang

diciptakannya dalam diri manusia mempunyai efek untuk mewujudkan

perbuatan-perbuatannya. Dan ini yang dinamakan konsep “kasb”.

      Dari paham tersebut dapat dikatakan bahwa perbuatan manusia

hakekatnya dicptakan Allah, dan diperoleh pada hakekatnya oleh

manusia.
                                                                        75




Al-Qadariah : pemuka dan ajarannya

       Istilah Al-Qadariah adalah bentuk dari kata qadara yang berarti

memutuskan dan memiliki kekuatan atau kemampuan sebagai aliran

dalam teologi Islam, qadariah adalah sebutan yang dipakai untuk suatu

aliran yang memberi penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan

manusia dalam menghasilkan perbuatannya. Qadariah memberikan

penekanan bahwa manusia mempunyai kekuatan dan kekuasaan atas

perbuatannya sendiri. Al-Qadariah mempunyai pengertian manusia

mempunyai qadrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya.

       Kalau paham Jabariah dikenal dengan sebutan Predestination,

fatalism,   determinis   atau   necessitarians,   maka   paham   qadariah

disamaartikan dengan paham “free will”.

       Tentang paham munculnya aliran qadariah, secara pasti tidak

dapat diketahui tetapi ada sementara ahli yang menghubungkan paham

ini dengan kaum Khawarij, ada yang menyebut paham ini timbul sekitar

tahun 70 H / 689 M. Prof. dr. Harun Nasution, tidak memberi informasi

secara pasti, kapan paham qadariah timbul dalam sejarah perkembangan

teologi Islam.

       Namun demikian, hampir seluruh sekte-sekte teologi Islam

menginformasikan bahwa yang dianggap sebagai tokoh pertama dari

qadariah adalah Ma‟bad. Al-juhani bin Ja‟du ini kemudian diikuti oleh

Ghailan Al-imasqy.
                                                                          76




      Sebenarnya paham qadariah ini ada yang berpendapat bahwa

aliran ini muncul dari orang Irak yang menganut agama Kristen lalu masuk

Islam pendapat ini sama dengan apa yang telah ditulis oleh Caesar E.

Farah bahwa ada dua sekte yang munculnya dipengaruhi oleh “Greco

Cristian Theologian” yaitu murjiah dan yang kedua adalah Qadariah.

      Terlepas oleh pengaruh luar atau tidak, yang pasti banyak ayat

dalam Al-Qur‟an yang memberikan pijakan terhadap munculnya Al-

Qadariah.

      Pada    dasarnya   inti   ajaran   paham   qadariah   terletak   pada

kebebasan dan kekuasaan manusia atas perbuatan-perbuatannya,

manusia sendirilah yang melakukan perbuatan-perbuatan baik atas

kehendak     dan kekuasaannya sendiri dan manusia sendiri pula yang

melakukan atau menjauhi perbuatan jahat atas kemauan dan dayanya

sendiri. Dengan jelas paham ini sangat menekankan posisi manusia yang

sangat menentukan prbuatanya. Manusia dinilai mempunyai kekuatan

untuk melaksanakan kehendaknya itu. Dalam menentukan keputusan

yang menyangkut perbuatannya sendiri, manusialah yang menentukan

tanpa campur tangan Tuhan.

      Sesunguhnya manusia itu bebas berbuat, manusia mempunyai

kekuatan atas perbuatan-perbuatannya.


      Ajaran paham Al-qadariah yang besumber dari Ma‟bad dan

dikembangsiarkan oleh Ghailan ini segera memperoleh pengikut yang
                                                                              77




cukup, tetapi dalam perjalanan sejarah, karena Ma‟bad memasuki

lapangan politik dan menentang kekuasaan Bani Umayah, akhirnya dia

mati terbunuh pada tahun 80 H/690 M.

      Agaknya Ghailan, sepeninggal Ma‟bad tampil sebagai penerus

dalam menyiarkan paham qadariah. Ghailan Al-Dimasqi yang memiliki

jabatan sekretaris dalam pemerintahan di Damaskus ini, juga sama

Ghailan yang menjadi tokoh dan pemuka paham Al-Murjiah Al-Sholihiah

bersama-sama     dengan     Sholeh   Ibn   Umar     Al   Sholihi,   Al-Sholihi,

Muhammad Ibn Syabit dan Ghailan terus menerus meyebarkan paham Al-

Qadariah, sampai-sampai khalifah Umar Ibn Abd.Al-Aziz memperingatkan

Ghailan bahwa simpatinya pada keyakinan tersebut adalah berbahaya.

Peringatan dan kecaman khalifah Umar ini menjadi kenyataan ketika

pemerintahan khalifah Hisyam abd al-malik ( 724 s/d 743 M) yang tidak

selunak   Umar   terhadap    paham      tersebut,   menyebabkan       Ghailan

menyingkir ke Armenia, tetapi akhirnya dia tertangkap dan setelah

dipenjarakan lalu dijatuhi hukuman bunuh meskipun tokoh qadariah telah

tiada, namun perkembangan sejarah berbicara bahwa paham aliran

qadariah dianut oleh kaum mu‟tazilah.

      Memperhatikan ajaran dari kedua aliran yang telah dibahas, sangat

menarik untuk dikembangkan diskusi yang bermuara dari pernyataan “

daya siapakah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan manusia, daya

manusia atau daya Tuhan”. Tentu saja dalam kapasitas sebagai penulis

makalah yang sangat dibatasi oleh ruang lingkup pembahasan, maka
                                                                         78




hanya dapat dikatakan disini bahwa sungguhpun pada diri manusia

terdapat kebebasan dalam kebebasan dalam kehendak dan dalam

perbuatan, kebebasan manusia adalah tidak mutlak. Kebebasan dan

kekuasaan manusia dibatasi oleh hal-hal yang tak dapat dikuasai manusia

sendiri. Seperti bagaimana baik dan hebatnya perencanaan untuk

pencapaian suatu tujuan, toh kita tidak dapat bisa terhindar dari

kegagalan.

      Tanpa disadari ternyata, siapa pun orangnya, yang pasti dia tidak

bisa memprediksi apa yang bakal terjadi dalam durasi 24 jam mendatang.

Jangankan untuk peristiwa dunia, bagi diri sendiri pun tidak akan poernah

tahu dan mengerti.


Kesimpulan

a. Aliran Jabariah dan Qadariah merupakan dua aliran teologi Islam yang

   menekankan pada persoalan ada atau tidaknya kekuatan atau

   kekuasaan pada diri manusia dalam melaksanakan perbuatan-

   perbuatanya.

b. Paham Jabariah ekstrim dengan tokoh Ja‟ad Ibn Dirham dan Jahm Ibn

   Sofwan berpendirian bahwa manusia tidak mempunyai kekuasaan

   untuk berbuat apa-apa, semua perbuatan manusia adalah “ sipaksa “.

   Sementara Jabariah moderat dengan tokoh Husain Ibn Muhammad Al-

   Najjar dan Dirar Ibn „Amr berpendapat bahwa manusia memerankan

   bagian penting dalam perwujudan perbuatanya.
                                                                       79




c. Paham Qadariah dengan tokoh mulanya Ma‟bad al-Juhani dan Ghilan,

   adalah paham yang menekankan pada adanya kebebasan dan

   kekuasaan manusia atas perbuatannya.

d. Baik Jabariah atau Qadariah masing-masing memiliki pijakan naqliah,

   sehingga tidak sepantasnya kita menilai bahwa al-jabariah lebih benar

   daripada al-qadariah dan atau sebaliknya. Yang penulis ketahui,

   bahwa didalam islam masih terbuka kemungkinan terjadinya saling

   silang dan perbedaan pendapat.

                              AL-MU’TAZILAH

        SEJARAH TIMBUL DAN WASIL SERTA PEMIKIRANNYA


       Mu‟tazilah merupakan salah satu aliran dalam theologi Islam yang

dikenal bersifat rasional dan liberal, ciri utama yang membedakan aliran

ini dengan dengan aliran theologi Islam lainnya adalah pandangan-

pandangan theologinya lebih banyak di tunjang oleh dalil-dalil akal dan

lebih bersifat filosofis (harun, 1972 : 38).

       Latar belakang munculnya hingga sekarang masih diperdebatkan,

berbagai analisa di majukan, sebahagian berpendapat aliran ini muncul

sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dan Murji‟ah

mengenai soal orang mu‟min yang berdosa besar. Menurut Khawarij

orang mu‟min yang berdosa besar tidak bisa dikatakan mu‟min melainkan

kafir. Sementara itu, kaum Murji‟ah menganggap orang mu‟min yang

berdosa besar itu tetap mu‟min, bukan kafir. Menghadapi kedua pendapat

yang kontraversial ini, Wasil bin Ata mendahului gurunya Hasan Al-Basri,
                                                                             80




ia berpendapat bahwa orang yang berdosa besar berada pada satu

tempat diantara dua tempat. Setelah menyatakan pendapatnya itu Wasil

meninggalkan perguruan Hassan Al-Basri lalu membentuk kelompok

sendiri, setelah Wasil memisahkan diri, Hasan Al-Basri berkata : I‟tazala

anna wasil. Dari kata itulah muncul Mu‟tazilah (Al-Syahrastani, 1955 :48).

       Pendapat lain menyatakan bahwa kata Mu‟tazilah memang berarti

memisahkan diri tetapi tidak selalu berarti memisahkan diri secara fisik,

mu‟tazilah dapat juga berarti memisahkan diri dari pendapat-pendapat

yang umum (Ahmad Amin, 1975 : 288).

       Beranjak dari uraian diatas, memaparkan bahwa sekilas tentang

sejarah munculnya aliran Mu‟tazilah, wasil sebagai pemukanya serta

pemikiran-pemikirannya.


Sejarah Munculnya Aliran Mu’tazilah.

       Mu‟tazilah merupakan gerakan keagamaan semata-mata yang

muncul untuk merespon persoalan pelaku dosa besar yang dimunculkan

oleh Khawarij dan Murji‟ah tentang dosa-dosa besar dengan banyak

menggunakan rasio. Tentang versi kemunculannya di dapati banyak

pendapat.

       Menurut Ahmad Amin berdasarkan beberapa reference, munculnya

mu‟tazilah tidak lepas dari tiga hal.

1. disebut Mu‟tazilah karena dikaitkan dengan i‟tizalnya Wasil dan Amer

   dari halaqah Hasan Al-Basri dan mereka berdua menyatakan

   pendapat mereka bahwasanya orang yang berbuat dosa besar tidak
                                                                       81




   dianggap mu‟min dan tidak dianggap kafir tetapi dia berada diantara

   satu posisi diantara dua posisi (                     ) karena itulah

   mereka menamakannya dengan Mu‟tazilah.

2. pendapat yang lain, dinamakan mu‟tazilah karena i‟tizalnya mereka

   kepada pendapat yang baru. Dalam artian mereka meninggalkan

   pendapat-pendapat yang lama tentang pelaku dosa besar, dimana

   murji‟ah berpendapat orang yang berdosa besar itu mu‟min, sementara

   itu Azariqah Khawarij berpendapat orang yang berdosa besar itu kafir

   dan Hasan Al-Basri menamakannya munafiq, Wasil menentang

   pendapat-pendapat ini dan berpaling kepada pendapat yang lain yaitu :

   orang yang berdosa besar itu tidak mu‟min dan tidak kafir, menurut

   mereka penamaan itu secara maknawi bukan indrawi.

         Yang berpendapat seperti ini diantaranya Abdul Qadir Al-

   Baghdady di dalam kitabnya Al-Farq Bainal Firaq. Dimana dikatakan

   “Sesungguhnya Hasan Al-Basri ketika mengusir Wasil dari majelisnya

   dan dia beri‟tizal (berpindah) ke salah satu tiang Masjid Basrah lalu

   diikuti oleh sahabatnya Amer bin Ubaid, pada hari itu orang-orang

   mengatakan kepada mereka bahwasanya mereka berdua telah

   beri‟tizal (berpindah) dari pendapat ummat, lalu semenjak itu

   dinamakanlah pengikut-pengikut Wasil dan Amer dengan Mu‟tazilah.

3. Menurut Ahmad Amin yang didasarkan atas pendapat Mas‟udy

   bahwasanya dinamakan Mu‟tazilah karena status orang yang berdosa

   besar telah berpindah (i‟tizal) tidak mu‟min dan tidak kafir, maka
                                                                         82




   mu‟tazilah menurut Mas‟udy adalah orang yang mengatakan bahwa

   terpisahnya orang yang berdosa besar dari status kafir atau mu‟min.

      Adapun menurut Tasy Kubra Zadah, munculnya Mu‟tazilah karena

peristiwa Qatadah ibn Da‟amah dimana ketika memasuki masjid

Basrahdan menuju majelis Amer bin Ubaid yang disangkanya majelis

Hasan Al-Basri, setelah ternyata baginya bahwa itu bukan majelis Hasan

Al-Basri ia berdiri dan meninggalkan tempat itu, sambil berkata ; ini kaum

Mu‟tazilah. Semenjak itu, kata Tasy Kubra Zadah mereka disebut kaum

Mu‟tazilah.

      Dalam cerita lain At-Thobary meriwayatkan, ketika Qais bin Saat

menjabat sebagai Amir Mesir dalam masa pemerintahan Ali bin Abi

Thalib, dia menulis surat kepada Ali yang isinya, sesungguhnya sebelum-

ku ada generasi-genarasi Mu‟tazilah, mereka memintaku untuk berlepas

diri dari mereka dan membiarkan dalam urusan mereka hingga

terlaksananya urusan manusia.

      Dengan demikian ada yang berpendapat bahwa kata mu‟tazilah

telah digunakan sebelum peristiwa Wasil bin Ata dengan Hasan Al-Basri,

tegasnya istilah ini telah digunakan untuk golongan yang tidak ingin ikut

campur dalam perselisihan politik. Namun dalam hal ini An-Masyar

berpendapat ; istilah Mu‟tazilah betul timbul dalam lapangan-lapangan

perselisihan politik Islam terutama antar Ali dan Mu‟awiyah tapi nama itu

tidak dapat dipakai untuk satu golongan tertentu, argumentasi yang

dikemukakan An-Masyar ialah bahwa kata i‟tazala dan Al-Mu‟tazilah
                                                                        83




terkadang dipakai untuk menyebut orang yang menjauhkan diri dari

masyarakat umum dan orang-orang yang memusatkan pemikiran pada

ilmu pengetahuan dan ibadah.

      Untuk    mengetahui    asal-usul   nama   Mu‟tazilah   itu   dengan

sebenarnya memang sulit, berbagai pendapat dikemukakan oleh para ahli

tetapi belum ada kata sepakat diantara mereka, yang jelas bahwa nama

Mu‟tazilah sebagai desiqnatie bagi aliran theologi rasionil dan liberal

dalam Islam timbul sesudah peristiwa Wasil bin Ata dengan Hasan Al-

Basri di Basrah.



                            WASIL BIN ATHA

A. Latar Belakang Kehidupannya.


      Ia adalah pendiri Aliran Muktazilah, dilahirkan di Madinah tahun 80

M. ia merupakan Budak dari bani Dhobah ada juga yang mengatakan

budak dari bani Makhjun, akan tetapi para sejarawan tidak menjelaskan

apakah ia tetap dalam status budak seumur hidupnya, atau telah di

merdekakan, namun ada satu riwayat dari Mabrad dari kitabnya Al-Kamil

yang menyatakan bawasannya Wasil adalah orang yang memiliki harta

dan juga menyedekahkan hartanya tersebut.


B. lingkungannya.

      Sebagaimana telah disebutkan tadi bahwa basil dilahirkan di

Madinah, bahkan ada yang meriwayatkan bawasannya wasil merupakan
                                                                        84




budak dari bani Hasyim, jika demikian liongkungan pertama yang

mendidik wasil adalah Ibukota islam yang pertama yaitu Madinah dimana

kota   tersebut   merupakan    pusat   berkumpulnya   ulama   salaf   dan

pengikutnya, dengan demikian dapat secara tegas kita katakan bahwa

lingkungannya ini telah banyak memberikan pengaruh baginya, hal ini

tercermin dalam pemikiran-prmikirannya yang senantiasa berpegang

kepada Al-Qur‟an. Akan tetapi beliau tidak selamanya menetap di

madinah karena selanjutnya beliau berhijrah ke Basrah menuntut ilmu

pada gurunya Hasan Al-Basri.


C. Ilmunya.

       Para sejarawan telah mengatakan tentang kwalitas ilmu Wasil yang

tidak perlu diragukan lagi, dikatakan beliau menghabiskan waktu siangnya

dengan diskusi sedangkan malam harinya beliau manfaatkan untuk

mencetuskan argumentasi-argumentasi bagi mazhabnya. Beliau seorang

sastrawanyang fasih, serta mampu beretorica secara tepat, memiliki
                                                                                  85




                             SIFAT-SIFAT TUHAN

1. Sifat Sam’iyyat

       Yang dimaksud sifat sam’iyyat ialah bahwa sifat-sifat tuhan itu di

terangkan dalam Al-Qur’an dan Hadist sam’iyyat artinya di dengar penjelasan

sifat-sifat dari Al-Qur’an dan Hadist, yang sesuai dengan akal pikiran manusia.


2. Sifat Nafsiah.

       Sifat Nafsiah ialah sifat yang berhubungan dengan zat Tuhan

Contoh : sifat ujud.


3. Sifat Salbiah

       Sifat salbiah ialah sifat yang menolak dan meniadakan sebaliknya. Artinya

mustahil adanya sifat yang berlawanan dengan sifat tersebut.

Contoh : Qidam (terdahulu)

         Mustahil-baharu

4. Sifat Ma’ani.
                                                                              86




       Sifat ma’ani ialah sifat yang ada pada tuhan yang dapat digambarkan oleh

akal pikiran manusia, karena dapat dibuktikan dengan kebenarannya oleh panca

indra manusia dan ternyata yang mempunyai sifat itu hanyalah tuhan sendiri.

Contohnya : Iradah-qudrah

              Ilmu-kalam


5. Sifat Ma’nawiyah.

Sifat ma’nawiyah ialah sifat yang berhubungan erat dengan sifat ma’ani sebagai

kelanjutan dari pada sifat Ma’ani bukan merupakan sifat tersendiri.

Contohnya :

Qadiran-Muridan

Aliman-Hayyan

Jami’an-Bashiran.




                            MAS’ALAH KEIMANAN


B. Sebab Wajibnya Beriman.

       Mengenai sebab wajibnya manusia beriman yaitu mengetahui Allah dan

Rasul-Nya serta agama yang dibawanya, timbul perkhilafan di kalangang

Ahlusunnah sebagai berikut :

 1. Golongan Asy’ariyyah berpendapat.

         Sebab wajibnya seorang mengenal/beriman ialah : apabila seorang

 manusia sudah tingkat/derajat Al-Aqlul mumayyiz dan baliqh/dewasa.
                                                                            87




          Yang dimaksud dengan al-aqlul mumayyiz ialah orang yang kecerdasan

akalnya sudah pandai membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,

sudah bisa mengurus kepentingan pokok bagi dirinya sendiri seperti makan,

minum, berak, berpakaian dan sebagainya.

          Selain dari baliqh dan akal yang mumayyiz, juga sampai kepadanya

agama Islam. Sebaliknya tidak wajib beriman bagi anak-anak, orang gila dan

orang yang cacat pendengaran dan penglihatannya sejak dilahirkan atau sebelum

baliqh.


2. Syekh Abu Manshur Al-Maturidy berpendapat.

          Sebab wajibnya seorang manusia beriman ialah akal yang muwayyid

saja, tidak mesti baliqh.

          Sesungguhnya beriman/mengetahui Allah adalah wajib bagi anak-anak

yang telah berakal.

          Inilah pendapat ulama-ulama mazhab Hanafy dan kebanyakan ulama-

ulama Irak.

          Mewajibkan beriman kepada Allah bagi orang yang telah baliqh adalah

memandang kepada Akal. Apabila ada akal yang cerdas pada anak-anak maka

wajib atasnya beriman kepada Allah. (ma’rifah).


3. Menurut Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat.

          Yang menyebabkan wajibnya manusia beriman adalah berdasarkan

kecerdasan otaknya bukan dengan sebab baliqhnya.
                                                                                88




C. Definisi Iman

       Mengenai defenisi iman terdapat perbedaan pendapat diantara aliran-aliran

(mazhab) dalam ilmu qalam sebagai berikut :

1. Mazhab Jumhur Ahlusunnah Waljama’ah berpendapat :

       Iman   adalah   tashdiq   (membenarkan)     dengan    hati.   Maksudnya

membenarkan Nabi Muhammad saw dan segala apa yang dibawanya mengenai

urusan agama. Yang dimaksud dengan membenarkan ialah tunduk, ridha, dan

menerima dengan sepenuh hati.

       Berlainan halnya dengan orang yang membenarkan tetapi tidak tundukdan

tidak menerima dengan sepenuh hati itu tidak dinamakan beriman seperti yahudi.

Mereka mengetahui Nabi Muhammad seperti mengetahui anak merekasendiri,

tetapi mereka tidak tunduk dan beriman karena kedengkian mereka.

       Dengan demikian mengetahui atau mengenal berbeda dengan beriman,

karena itu mengetahui tanpa mengi’tiqadkan kafir hukumnya.

       Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat : 146 yang berbunyi :




   Artinya : “Mereka yang kami berikan kepada mereka kitab, mereka

              mengetahuinya (Muhammad) sebagaimana mereka mengetahui

              anak-anak mereka sendiri. Dan sesungguhnya sebagian diantara

              mereka     menyembunyikan        kebenaran     padahal       mereka

              mengetahuinya”.(Al-Baqarah : 146).
                                                                              89




       Ada juga ulama yang mengatakan : Iman ialah Ma’rifah (pengetahuan) Ini

dla’if, yang mu’tamad iman ialah tashdiqul qalby artinya pembenaran hati.


2. Mazhab Abu Hanifah dan pengikutnya berpendapat :

       Iman ialah tashdiq beserta ikrar (mengucapkan/menuturkan dua kalimah

syahadat dengan lidah). Dengan demikian iman ialah suatu nama bagi amal hati

dan amal lidah.


3. Mazhab Khawarij dan Mu’tazillah berpendapat :

       Iman ialah membenarkan dengan hati (tashdiq), menuturkan dengan lidah

(ikrar/nuthuq) dan amal. Maksudnya mengamalkan rukun-ruku iman dan yang

bersangkut paut dengannya.


4. Mazhab Ahli-ahli fiqh, Ahli hadist dan ahli tasawuf berpendapat :

       Iman ialah membenarkan dengan hati, menuturkan dengan lidah serta

beramal, beralasan dengan hadist : iman ialah membenarkan dengan hati,

mengikrarkandengan lidah dan mengamalkan rukun-rukun iman (R. Asy-Syairazi

dari Aisyah) Ibnu majah dan thabrani meriwayatkan dari Ali, iman ialah ma’rifah

dengan hati, mengucapkan dengan lidah dan mengamalkan rukun-rukun iman.


5. Mazhab Murji’ah berpendapat :

       Iman ialah perkataan saja (ikrar) walaupun tidak mengamalkannya.

Sebagian murji’ah berkata : iman ialah pengakuan dengan lidah tanpa ikatan

dengan hati. Golongan yang ekstrim (ghulat) dari kalangan mereka berkata :
                                                                              90




Sesungguhnya dengan menuturkan dua kalimah syahadat saja bisa masuk surga

walaupun tidak di I’tikadkannya.

       Sebagian lagi dari antara mereka itu mengatakan : iman ialah pembenaran

dengan hati (tashdiq) dan amal tidak memberi pengaruh kepada iman.


6. Mazhab Karamiyyah berpendapat :

       Iman ialah pengakuan dengan lidah saja, apabila sudah mengucap dua

kalimah syahadat sudah beriman.

       Perbedaan pendapat antara aliran mu’tazilah dan khawarij dengan aliran

fuqaha (ahli fiqh) dan ahli Al-Hadist ialah :

       Aliran mu’tajilah dan khawarij berpendapat : iman tiga bagian yang tidak

dapat dipisah-pisahkan yaitu tashdiq, ikrar dan amal. Apabila salah satu

diantaranya tidak ada tidak dinamakan beriman.

       Aliran Fuqaha, Ahli hadist, ahli tasawuf dan aliran ahlusunnah

berpendapat : amal bukan bagian daripada iman, tanpa amal dikatakan juga

mukmin, tetapi mukmin yang tidak sempurna imannya, karena amal menurut

mereka merupakan kesempurnaan bagi iman, demikian pula ikrar bukan bagian

dari iman.


D. Bertambah Dan Berkurangnya Iman

       Mengenai pasang surutnya iman ini berlain-lainan pendapat ulama

Islam. Iman itu adalah Nur yang diberikan Allah kedalam hati hambanya

yang beriman kepadanya. Dengan sebab datangnya Nur itu manusia itu

jadi beriman dan taat kepada-Nya.
                                                                       91




      Islam masalah pemberian iman (tashdiq) ini kedalam hati manusia

dan dalam masalah iman menurut bahasa atau hakikat iman yaitu

semata-mata tashdiq juga mengenai iman menurut istilah syar‟iy, timbul

perkhilafan ulama yang sulit di rumuskan.

      Dalam pembahasan ini kita mulai membahas iman sebagai

pemberian Allah.

a. Mengenai tashdiq yang diberikan Allah kedalam hati manusia terjadi

   perkhilafan ulama mengenai sama atau tidak tashdiq yang diberikan-

   Nya kepada hambanya yang beriman.

   2. Berkata sebagian ulama.

          Iman itu tashdiq, manusia seluruhnya sama pada-Nya, tidak

   berlebih kurang. Berkata imam Abu Abdillah Muhammad Ibnu Ismail

   At-Tamimiy Al-Ashbahaniy dalam kitabnya At-Tahrir Syarah Shahih

   Muslim :

   “iman menurut bahasa (logat) ialah At-tashdiq, jika dimaksud begitu

   saja, tidak bertambah dan tidak berkurang, karena tashdiq bukan suatu

   yang dapat di bagi-bagi sehingga sempurna pada satu masa dan

   berkurang pada masa yang lain”.



          Selanjutnya beliau berkata : iman menurut syara‟ ialah

   mentashdiqkan dengan hati dan mengamalkan rukun-rukunnya. Ini

   dapat bertambah dan dapat pula berkurang, beginilah pendapat

   ahlusunnah.
                                                                        92




   3. Golongan Asy‟ariah berpendapat

          Mereka berpendapat bahwa tashdiq yang diberikan Allah

   kepada hamba-Nya tidak sama semuanya, antara seorang dengan

   yang lainnya berlebih kurang.


b. Tashdiq menurut ulama-ulama Islam ialah pembenaran jazim (putus) di

   dalam hati, rela menyambung nyawanya mempertahankannya, kalau

   berkeyakinan bahwa apa yang di I‟tikadkannyaitu benar.

      Kemudian mengenai tashdiq atau hakikat iman ini ulama qalam

berlain-lainan pendapat sebagai berikut :

   1. sebagian pentashdiq dari ulama qalam (muhaqiqun).

          Nafs (zat) tashdiq tidak bertambah dan berkurang. Iman adalah

   tashdiq, manusia sama majunya dalam masalah ini, karena itu hakikat

   iman (tashdiq) tidak bertambah dan tidak berkurang.

          Adapun yang bertambah adalah buah daripada tashdiq yaitu

   amal. Ini sejalan dengan pendapat Abu Abdillah At-Tamimiy yang

   mengatakan iman menurut logat yaitu tashdiq tidak bertamabah dan

   tidak berkurang karena ia bukan sesuatu yang dapat dibagi-bagi.


   2. Pendapat     Junaid    dan    Sahal   At-Tusturi,   juga   sebagian

      Mutaqaddimin.

          Sesungguhpun tashdiq dapat bertambah dan tidak berkurang,

   kalau berkurang keluar daripada iman.
                                                                           93




  3. Sebagian Ulama berkata :

        Zat (nafs) tashdiq bertambah dengan sebab banyak berfikir

  (nadhar) buktinya banyak sekali diantaranya, iman orang-orang yang

  shidiqqin lebih kuat dari iman orang yang lain dan zat tashdiq Abu

  Bakar tidak sama dengan tashdiq orang lainnya. Begitu pula tashdiq

  Bilal bin Rabah, Ammar Ibnu Yasir dan lain-lainnya.


c. Mengenai iman menurut syara‟ bertambah atau tidak, khilaf ulama

  qalam yaitu :

  1. Jumhurul Asy‟ariyah berpendapat :

        Iman dapat bertambah dan dapat berkurang, bertambahnya

  ketaatan bertambah pula iman dan berkurangnya ketaatan berkurang

  pula iman. Yang dimaksud taat ialah mengerjakan perintah-perintah

  Allah dan meninggalkan larangan-larangannya.

        Mereka mengemukakan dalil sebagai berikut :

     a. Dalil Naqli.

     Allah berfirman :




     Artiya   : ”Sesungguhnya       orang-orang   yang    beriman   apabila

                  disebut nama Allah, gentar hati mereka. Dan apabila

                  dibaca ayat-ayat-Nya (Allah) kepada mereka, ayat-ayat

                  itu menjadikan bertambah iman mereka dan mereka

                  berserah diri kepada tuhan mereka” (Qs. Al-Anfal : 2).
                                                                94




Artinya : “apabila diturunkan satu surah, maka diantara mereka

           (yang munafik) ada yang bertanya : siapa diantara kamu

           yang bertambah imannya dengan sebab (surat) ini. Maka

           adapun orang-orang yang beriman bertambah iman

           mereka sambil bergembira” (Qs. Al-Baqarah :124).




Artinya : “Allah menurunkan ketentraman ke dalam hati orang

           yang beriman, supaya bertambah iman mereka beserta

           iman mereka (yang sudah ada)” (Qs. Al-Fath : 4).


       Sabda Rasulullah saw kepada Abdullah Ibnu Umar, ketika

beliau bertanya kepada Rasulullah, apakah iman dapat bertambah

dan dapat berkurang. Beliau menjawab : Ya bertambah sehingga

orangnya masuk surga.

       Maksud masuk surga di sini masuk orang-orang yang masuk

lebih duhulu (As-Sabiqun) dan masuk neraka, masuk kedalamnya

tetapi tidak kekal.
                                                                      95




      b. Dalil Akal

             Jikalau hakikat iman tidak berlebih kurang dengan pasang

      surutnya iman, niscaya iman orang yang fasiq dan maksiat kepada

      Allah sama dengan iman Nabi-nabi, Malaikat, Khulafaur Rasyidin

      dan orang-orang shaleh.

             Berkata imam Abu Hasan Ali Ibnu Khalaf Ibnu Baththal Al-

      Maghriby : ……………..Mazhab Jama‟ah Ahlusunnah dari golongan

      salaf dan khalafnya berpendapat : sesungguhnya iman ialah

      perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.

             Selanjutnya beliau berkata : iman yang tidak bertambah

      akan berkurang. Jika di tanya orang, iman kepada logat tashdiq,

      maka jawabnya : bahwa tashdiq sempurna dengan sebab

      melakukan       ketaatan   semuanya.   Apabila   seorang   mukmin

      mengerjakan amal-amal kebaikan maka imannya lebih sempurna,

      dengan demikian iman bertambah dan apabila berkurang amal-

      amal kebaikan berkurang kesempurnaan imannya.



E. PENGARUH MAKSIAT KEPADA IMAN


1. Golongan Mu‟tazilah dan Khawarij.

      Golongan khawarij berpendapat : seluruh dosa besar tidak ada

yang kecil dan orang yang melakukan dosa besar di hukumkan kafir.

      Golongan Mu‟tazilah berpendapat dosa terbagi dua yaitu dosa

besar dan dosa kecil.
                                                                         96




      Ma‟siat ialah meninggalkan yang fardhu atau mengerjakan yang

haram. Melakukan maksiat berarti meninggalkan beramal, sedangkan

amal menurut mereka satu bagian dari pada iman.

      Dengan demikian orang yang mengerjakan maksiat, kehilangan

satu bagian dari pada iman dan kehilangan sebagian iman berarti iman

rusak dengan sebab maksiat.

      Kedua aliran ini berpendapat : maksiat dapat merusakan iman

manusia. Menurut kedua aliran, amal merupakan bagian dari pada iman

maka orang yang tidak beramal berarti kehilangan sebagian dari pada

iman. Kemudian apabila orang yang tidak beramal baik dengan sebab

meninggalkan ibadah fardhu maupun dengan sebab mengerjakan

maksiat, mati tanpa taubat ia kekal di dalam neraka selama-lamanya.


2. Golongan Murji‟ah.

      Mereka     berpendapat,    maksiat    tidak   merusakkan        iman

sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat sedikitpun kalau masih berada di

dalam kekafiran. Begitu pula maksiat tidak berpengaruh kepada iman

selama hati tetap mentashdiqkan, karena amal bukan rukun iman menurut

mareka.

      Perbuatan (amal) lahiriah tidak berpengaruh kepada iman, seperti

menghina Al-Qur‟an, menyembah berhala, menjalankan agama yang lain

dari agama Islam dan lain-lain, selama hati tetap mentashdiqkan. Ini

pendapat sebagian murjiah yang mengatakan iman ialah tashdiq saja.
                                                                         97




3. Golongan Ahlusunnah

      Dosa terbagi dua, yaitu dosa kecil dan dosa besar. Dosa (maksiat)

yang kecil dapat mengotorkan hati dan menggelapkan cahaya iman.

      Dosa besar disamping menggelapkan hati dan iman juga merusak

iman, kadang-kadang dapat mengeluarkan iman dari temoatnya pada saat

melakukan kejahatan. Kemudian setelah kejahatan itu selesai dilakukan,

barulah iman kembali masuk kedalam tubuh orang yang melakukan

kejahatan.

      Rasulullah bersabda :

   Artinya : “Apabila orang laki-laki berzina, keluar imannya dari

             tubuhnya     seolah-olah    naungan      diatasnya.   Apabila

             dicabutnya (selesai) kembali imannya kedalam tubuhnya”.

             (Hr. Abu Daud lafadhnya Abu Daud).


      Rasulullah bersabda :

   Artinya : orang yang berzina tidak melakukan zina, ketika ia berzina

             kalau ia masih beriman. Pencuri tidak melakukan pencurian,

             ketika ia mencuri kalau ia masih beriman dan peminum arak

             tidak minum arak kalau ia masih mukmin (beriman, ada iman

             didalam hati)”. (Hr. Bukhari dari Abu Hurairah).


      Rasulullah bersabda :
                                                                       98




   Artinya : “Hindarilah marah-marah, karena marah-marah itu merusak

             iman seperti galagaru/jadam merusak madu”. (Hr. Baihaqi,

             Ibnu „Asakir).


      Rasulullah bersabda :

   Artinya : “Dengki merusak iman seperti galagaru/jadam merusak

             madu”. (Hr. Dailami dari Mu‟awiyah Ibnu Hidah).


      Orang-orang sufi, ahli hadist, fugaha dari golongan Ahlusunnah

sependapat bahwa kejahatan dapat merusak iman dan merusak hati

manusia. Mengenai kerusakan iman dan hati yang dirusakkan oleh

maksiat yang dilakukan manusia, tergantung kepada besar kecilnya

maksiat yang dilakukan.

      Apabila   dosa      besar   seperti   zina,   minum-minuman   yang

memabukkan, mencuri, syirik tentu kerusakan imanpun besar pula

sehingga keluar dari dalam tubuh manusia. Tetapi kalau dosa kecil, tidak

sampai mengeluarkan iman dari dalam hati.


F. Mukmin Dan Kafir

1. Golongan Mu‟tazilah dan Khawarij berpendapat :

      Orang mukmin menurut mereka ialah orang berkumpul padanya

bagian iman yang tiga yaitu membenarkan segala apa yang dibawa Nabi

Muhammad mengenai agama Islam, kemudian mengikrarkan dan

mengamalkannya.
                                                                       99




      Orang kafir ialah orang yang kehilangan salah satu dari bagian

iman yang tersebut diatas, karena itu orang yang tidak beramal kemudian

mati sebelum taubat, kekal di dalam neraka. Yang dimaksud dengan amal

disini ialah melakukan perintah yang wajib dan meninggalkan larangan-

larangan yang haram, dan yang dimaksud dengan tidak beramal yang

menjadikan manusia kekal di dalam neraka ialah meninggalkan perintah

yang wajib dan melakukan perbuatan yang menyebabkan dosa besar bagi

pelakunya.


2. Sebagian dari golongan Murjiah berpendapat :

Orang mukmin ialah orang yang mentashdiqkan kerasulan Nabi

Muhammad dan apa yang dibawanya mengenai urusan agama Islam.

Perbuatan maksiat menurut mereka tidak mengeluarkan seorang dari

iman dari kekafiran dengan perbuatan apa sajapun walaupun menyembah

berhala selama hatinya tetap mengakui dan mentashdiqkan agama yang

dibawa Nabi Muhammad saw. Orang kafir ialah orang yang tidak

mentashdiqkan .


3. Golongan Ahlusunnah Waljama‟ah berpendapat :

      Orang mukmin ialah orang yang mentashdiqkan kerasulan Nabi

Muhammad dan segala apa yang di bawanya mengenai urusan agama

Islam. Baik mereka mengikrarkan atau tidak, baik beramal atau tidak, ial

sudah mukmin disisi Allah dengan dalil : Siapa/orang yang mati dan

mengetahui bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah masuk surga.
                                                                         100




      R. Muslim dari Usman Rasulullah bersabda :

   Artinya : “Datang Jibril Alaihisalam kepadaku, ia menggembirakan

             saya   bahwa      orang   yang   mati   dari   umatmu   tidak

             mensekutukan Allah sedikitpun masuk surga. Saya berkata :

             sekalipun ia berjina dan mencuri ia menjawab : sekalipun ia

             berjina sekalipun ia mencuri. (R. Muslim dari Ma‟aruf bin

             Suwaid).

      Orang yang mentashdiqkan tetapi tidak mengikrarkan dan tidak

beramal mukmin disisi Allah dan kafir disisi manusia. Ia dinamakan

mu‟minul „ashyi (mu‟min yang mag‟ghiat).

      Orang yang mentashdiqkan dan mengikrarkan dan beramal,

dinamakan mu‟min yang sempurna imannya. Akan tetapi derajat

kesempurnaan iman seseorang manusia bergantung kepada amal

kebaikannya yang dilakukannya semakin tinggi, derajat iman yang

diperolehnya.

      Kesimpulan     derajat   kesempurnaan    iman    manusia   menurut

amalnya. Apabila derajat amalnya sudah tinggi, ikhlas, khusu‟ maka

derajat imannya pun tinggi pula.

      Orang kafir menurut mereka ialah orang yang mendustakan atau

mengingkarkan kerasulan Nabi Muhammad saw dan agama yang

dibawanya ikhlas dari hatinya, bukan sebab terpaksa. Sebab itu orang

yang meninggalkan ibadah fardhu atau orang yang dosa besar, tidak

menjadi kafir menurut mereka selama hatinya masih tetap mentashdiqkan.
                                                                               101




        Perbuatan ma‟siat tidak mengeluarkan manusia dari mu‟min ke

kafir, kecuali ma‟siat yang telah ditetapkan Allah kufur dengan sebab

melakukan seperti syirik, menyembah berhala, menentang agama Islam

dan sebagainya.

        Selama    iman/tashdiq    masih   ada    walaupun     sedikit   sekali,

ma‟siatnya tidak akan mengeluarkan dari mu‟min menjadi kafir. Ia tetap

masuk surga walaupun di dahului dengan bermacam-macam azab di

neraka sebagai balasan kejahatannya.

        Rasulullah bersabda :

   Artinya : “Keluar dari api neraka orang yang masih ada iman di dalam

              hatinya sebesar biji sawi. (R. Bukhari dari Abu Sa‟id Al

              Hundry).



                           IMAN ORANG FASIQ


1. Golongan Ahlusunnah.

        Orang fasiq ialah orang yang tidak mengerjakan perintah Allah dan

mengerjakan dosa-dosa besar. Ia terus-terusan mengerjakan dosa besar

dan ma‟siatnya lebih banyak dari pada ketaatannya

        Orang fasiq tidak kekal di dalam neraka, karena kefasiqkannya

tidak   mengeluarkan     dari    pada   mu‟min   kepada     kafir   kecuali   ia

mengi‟tikadkan boleh mengerjakan ma‟siat, baik ma‟siat kecil maupun

ma‟siat besar.
                                                                           102




       Kefasiqkan tidak menjadikan pelakunya kafir, karena iman menurut

Asy‟ariyyah dan pentashdiq Maturidiyyah (muhaqqiqun) hanya tashdiq

saja. Ikrar bagi orang yang mampu menuturkannya merupakan syarat

berlakunya hukum Islam kepadanya. Wajib di I‟tiqadkan bahwa orang

fasiq tidak kekal di dalam neraka.

       Apabila iman tashdiq saja, maka seorang manusia tidak keluar dari

pada mu‟min kepada kafir dengan sebab kefasiqkannya kecuali ia

mengerjakan sesuatu yang mengkafirkan/yang menafikan iman seperti

tidak membenarkan agama yang di bawa oleh Nabi Muhammad saw atau

tidak mau mengiqrarkan padahal ia mampu mengucapkannya, karena

iqrar itu merupakan syarat seseorang manusia di namakan mu‟min

menurut hukum duniawi.

       Sebagaimana orang mu‟min yang melakukan ma‟siat yang besar

tidak kekal di dalam neraka, demikian pula syafa‟at tidak berguna untuk

orang kafir.


2. Golongan Mu‟tazilah.

       Orang yang melakukan dosa besar menurut mu‟tazilah di sebut

fasiq, ia terletak di antara mu‟min dan kafir, bukan mu‟min dan bukan kafir.

       Apabila ia mati tanpa taubat, ia kekal di dalam neraka sama

dengan kafir asli, tetapi azab yang di terimanya lebih ringan daripada

mereka. Ia bertempat pada lapisan sebelah atas dari lapisan orang kafir di

dalam neraka.
                                                                     103




                  HUBUNGAN IMAN DENGAN AMAL


1. Golongan Ahlusunnah Wal Jama‟ah.

      Amal bukan bagian atau hakikat bagi iman, tetapi merupakan

syarat sempurna iman, sebab itu orang yang tidak beramal seperti tidak

shalat dan sebagainya. Bukan dengan sebab mengingkarinya atau ragu

apakah amal itu di syari‟atkan demikian atau menghalalkan yang haram

atau sebaliknya, maka orang tersebut telah kehilangan kesempurnaan

iman, tetapi ia masih di namakan beriman yaitu iman yang tidak

sempurna.

      Apabila ia mengamalkan syari‟at, imannya menjadi baik dan

sempurna. Dengan demikian amal merupakan syarat sempurnanya iman

bukan bagian atau rukun daripadanya.

      Semakin banyak seorang hamba melakukan amal kebaikan seperti

shalat, puasa serta meninggalkan ma‟siat-ma‟siat semakin sempurna

imannya. Sebaliknya orang yang mentashdiqkan dan mengiqrarkan, tetapi

tidak mengamalkan perintah-perintah Allah yang dasarnya rukun iman,

maka ia dinamakan mu‟min yang tidak sempurna imannyaatau mu‟min

yang durhaka (Al-Mu‟minul „Ashyi).


2. Golongan Abu Hanifah dan pegikutnya.

      Amal bukan bagian atau hakikat daripada iman dan bukan

sebagian daripada iman yang sempurna, sebab itu menurut mereka orang
                                                                       104




yang tidak beramal dinamakan juga mu‟min akan tetapi mu‟min yang

fasiq.

         Iman menurut mereka dapat berdiri tanpa amal tetapi amal tidak

berfaedah tanpa iman dan amal dapat menyempurnakan iman dengan

sebaik-baiknya.


3. Golongan Mu‟tazilah.

         Amal satu bagian dari hakikat iman, karena Iman menurut mereka

ialah kesatuan dari tashdiaq, iqrar dan amal. Sebab itu orang yang tidak

beramal, tidak dinamakan mu‟mindan bukan pula kafir, tetapi berada

diantara keduanya yaitu fasiqyang disebut mereka dengan Al-Manzilatu

bainal manzilatain (satu tempat diantara dua tempat) yaitu antara mu‟min

dengan kafir.

         Orang yang tidak beramal tidak dapat dikatakan mu‟min karena

telah hilang salah satu bagian dari imannya yaitu amal dan tidak dapat

dikatakan kafir karena masih ada tashdiqnya.

         Ia kekal di dalam api neraka sama dengan orang kafir asli, cuma

bedanya ia menerima azab lebih ringan dari azab yang diterima oleh

orang kafir asli.


4. Golongan Khawarij.

         Amal satu bagian dari hakikat iman, sebab itu orang yang tidak

beramal berarti kehilangan satu bagian dari imannya. Orang tersebut di

hukumkan kafir. Demikian pula orang yang melakukan dosa besar, jika ia
                                                                           105




mati sebelum taubat di hukumkan lafir kekal didalam neraka selama-

lamanya.


5. Imam Syafi‟i, Ahli-ahli Hadist dan Ahli Tasawwuf.
      Amal merupakan bagian/juzu‟ daripada iman yang sempurna,
bukan bagian daripada iman saja, bukan pula hakikat iman, sebab itu
orang yang menyia-nyiakan amal, tidak shalat dan sebagainya imannya
akan berkurang tidak sempurna.
      Sebaliknya orang yang beramal kebaikan imannya menjadi
sempurna, semakin banyak amal kebaikannya semakin tinggi derajat
kesempurnaan imannya. Dengan demikian iman menurut mereka
mempunyai pasang surut sesuai dengan pasang-surutnya amal yang di
lakukannya.


                         BAGIAN (JUZU’) IMAN.


1. Golongan Asy‟ariyyah dan sebagian dari Murjiah.
      Iman itu basith (tunggal, satu saja) yaitu tashdiq karena itu ia tidak
mempunyai bagian dan tidak dapat di bagi-bagi.
      Berkata Abu Laits : iman tidak dapat di bagi-bagi, karena iman itu
nur/cahaya di dalam hati, akal dan pada ruh manusia. Itu adalah hidayah
Allah kepada manusia.


2. Mazhab Abu Hanifah dan pengikutnya.
      Iman itu Tsuna-iy (dualisme, dua bagian yang tidak dapat dipisah-

pisahkan) yaitu membenarkan dengan hati (tashdiq) dan menuturkan

dengan lidah (iqrar, an nuthq).
                                                                      106




3. Mazhab Mu‟tazilah dan Khawarij.

         Iman itu Tsulatsi (tiga yang tak dapat dipisah-pisahkan) yaitu

tashdiq, iqrar dan amal.

         Amal bagian dari hakikat iman menurut Mu‟tazilah dan Khawarij,

sehingga orang yang melakukan dosa besar keluar dari iman menurut

kedua aliran ini. Menjadi kafir menurut Khawarij dan tidak sampai kafir

menurut Mu‟tazilah tetapi terletak di antara mu‟min dan kafir.

         Golongan Khawarij mengatakan : Amal satu bagian dari kesatuan

bagian iman yang tiga yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan

yang lainnya, karena itu orang yang kehilangan salah satu daripadanya,

kafir.




A.

B.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3106
posted:5/28/2011
language:Malay
pages:106
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl