SKRIPSI NADIA

Document Sample
SKRIPSI NADIA Powered By Docstoc
					                                                                              1




                                     BAB I
                               PENDAHULUAN


1. Latar Belakang

        Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang perlu mendapat

  perhatian yang besar dari pemerintah Republik Indonesia, karena sebagian

  besar penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani, baik petani

  tanaman pangan, tanaman perkebunan, tanaman kehutanan maupun jenis

  kegiatan pertanian lainnya. Oleh karena itu pemerintah Indonesia harus

  memberikan perhatian yang besar terhadap petani terutama petani tanaman

  pangan yaitu petani yang mengusahakan tanaman padi.

        Sektor pertanian dalam tatanan pembangunan nasional memegang

  peranan penting karena selain bertujuan menyediakan pangan bagi seluruh

  penduduk, juga merupakan sektor andalan penyumbang devisa dari sektor non

  migas. Perkembangan pertanian diharapkan dapat menimbulkan kualitas dan

  kuantitas produksi serta keanekaragaman hasil pertanian, melalui usaha

  diversifikasi, intensifikasi, ekstensifikasi dan rehabilitasi pertanian dengan

  memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

        Problema utama yang dihadapi oleh negara kita saat ini adalah

  peningkatan produksi dan distribusi pangan yang belum merata dan sekaligus

  masalah peningkatan pendapatan petani yang belum mencapai tingkat

  kesejahteraan. Masyarakat hendaknya tidak terus tenggelam dengan keadaan

  tersebut, harus bangkit menghadapi tantangan hari esok.

        Kedudukan beras sangat penting bagi perekonomian Indonesia, selain

  merupakan bahan makanan pokok bangsa Indonesia, juga merupakan sumber
                                                                                 2




pendapatan bagi sebagian besar petani, oleh karena itu perhatian akan beras

atau padi tidak ada      henti-hentinya. Kebutuhan beras semakin meningkat

karena jumlah penduduk bertambah dan terjadi pergeseran menu dari non

beras ke beras. Keadaan tersebut mendorong pemerintah untuk mencari

terobosan baru guna meningkatkan produksi pangan yang bersifat massal dan

integral yaitu dengan membangun sistim irigasi di berbagai daerah di seluruh

Indonesia.

       Menurut Hidayat (2006:4), “Proses pengembangan dan pengelolaan
       sistim irigasi dimasa lalu kurang melibatkan secara langsung peran serta
       masyarakat termasuk petani yang akan mendapat manfaat langsung dari
       hasil pembangunan irigasi tersebut. Pengembangan dan pengelolaan
       irigasi baik berupa pembangunan baru peningkatan, operasi dan
       pemeliharaan serta rehabilitasi sistim irigasi bersifat Project Oriented dan
       pendekatan yang digunakan adalah atas – bawah dan belum dilakukan
       pendekatan dialogis, sehingga peran serta masyarakat terhadap hasil
       pembangunan tersebut cenderung pasif”.

       Di Kecamatan Simpang Ulim tidak semuanya petani menerapkan sistim

irigasi dalam menanam padi sawah, ada sebagian yang menerapkan sistim

tadah hujan sehingga produktivitas padi sawah masih rendah dibandingkan

dengan kecamatan lain di Kabupaten Aceh Timur. Produksi dan produktivitas

padi sawah di Kecamatan Simpang Ulim dibandingkan kecamatan lainnya

dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini:
                                                                                  3




Tabel 1. Luas Lahan, Produksi dan Produktivitas Usahatani Padi Sawah di
        Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008

 No                Kecamatan   Luas Lahan (Ha)   Produksi (Ton)   Produktivitas
                                                                    (Ton/Ha)
1.     Madat                       3.250            26.765           6,35
2.     Pante Bidari                1.559             9.160           6,54
3.     Simpang Ulim                2.720            18.592           6,25
4.     Serbajadi                   1.208             4.757           4.38
5.     Simpang Jernih                85               64             3.20
6.     Birem Bayeun                 630              3.587           4.72
7.     Sungai Raya                  600              4.111           4.58
8.     Peureulak                   1.044             4.838           5.87
9.     Peureulak Timur             2.987             5.200           4.74
10.    Peureulak Barat             2.105             7.639           4.52
11.    Ranto Perlak                1.800             7.488           4.68
12.    Idi Rayeuk                   600              5.794           5.40
13.    Peudawa                      343              1.185           4.68
14.    Banda Alam                   690              3.475           5.43
15.    Idi Tunong                   660              5.941           5.74
16.    Darul Ihsan                  260               961            3.10
17.    Darul Aman                   700              7.250           5.53
18.    Nurussalam                  3.216            19.247           4.82
19.    Julok                       1.481            11.017           4.64
20..   Indra Makmu                  600              2.604           4.65
                     Jumlah        26.538           149.675           5.32

Sumber: Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh
       Timur Tahun 2008

       Dari tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa produktivitas padi sawah di

Kecamatan Simpang Ulim adalah 6,25 Ton/Ha, hal ini masih di bawah

produktivitas di Kecamatan Madat yaitu 6,35 Ton/Ha dan produktivitas di

Kecamatan Pante Bidari yaitu 6,54 Ton/Ha.

       Produksi tanaman sangat ditentukan oleh ketersediaan air bagi

pertumbuhannya. Penyebab utama kegagalan panen selain oleh serangan

hama adalah keterbatasan ketersediaan air. Kebutuhan air bagi pertumbuhan

tanaman terutama sekali adalah untuk kelangsungan proses fisiologi seperti

fotosintesis dan pelarutan senyawa organik hingga memungkinkan terjadinya

translokasi dan transformasi, disamping itu air juga sangat dibutuhkan sebagai
                                                                           4




pengisi sel (protoplasma) dan pencipta tekanan turgor yang memungkinkan

tanaman dapat tegak dan segar, dan juga air dibutuhkan untuk transpirasi,

membantu proses serapan hara dan pelarutan hara bagi tanaman.

      Kebutuhan irigasi adalah benyaknya air yang dibutuhkan untuk

menambah curah hujan efektif guna memenuhi kebutuhan pertumbuhan

tanaman. Besarnya curah hujan efektif hanyalah merupakan sebagian dari total

curah hujan yang jatuh pada wilayah yang bersangkutan. Curah hujan efektif

adalah besarnya curah hujan yang dapat digunakan oleh tanaman.

      Pada hakekatnya kebutuhan air bagi tanaman lebih kepada memenuhi

kebutuhan lingkungan seperti tanah dan atmosfer dari kebutuhan tanamannya

sendiri. Sebagai contoh kebutuhan evapotranspirasi bagi tanaman hanya

sebagai penjaga kestabilan temperatur dan membantu penyerapan hara saja,

padahal   untuk   kedua   proses   itu   tidak   memerlukan   air   sebanyak

evapotranspirasi yang terjadi pada tanamannya. Kebutuhan evapotranpirasi

lebih banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan atmosfernya. Demikian

juga pada irigasi penggenangan, lebih banyak digunakan untuk menggantikan

air yang hilang selama penyaluran dan kehilangan akibat perkolasi di petakan

sawahnya daripada yang digunakan oleh tanamannya.

      Program intensifikasi terutama padi sawah telah dilaksanakan dengan

penerapan teknologi yang dimulai dari panca usaha sampai kepada supra

insus, dari berbagai paket teknologi yang diterapkan pemenuhan kebutuhan air

melalui irigasi merupakan komponen yang paling utama, hal ini karena belum

ada daerah diperlukaan bumi yang curah hujannya dapat mencukupi kebutuhan

air bagi bagi tanaman padi sepanjang tahun. Kebanyakan daerah hanya
                                                                              5




mampu menyediakan air untuk satu musim tanaman padi dalam setahun,

sedangkan intensitas tanam yang dikehendaki adalah tiga kali musim tanaman

dalam setahun, oleh karena itu irigasi menjadi kebutuhan pada hampir

diberbagai belahan bumi yang masyarakat membudayakan padi sawah.

      Untuk memenuhi kebutuhan air irigasi, pemerintah telah membangun

jaringan irigasi diberbagai daerah, namun demikian kenyataannya di Nanggroe

Aceh Darussalam hampir seluruh jaringan irigasi yang ada tidak mampu

mengaliri   seluruh   persawahan   yang   ada   dalam   daerah   irigasi   yang

bersangkutan. Kekurangan ini terutama disebabkan oleh debit air sungai, baik

akibat perubahan penggunaan lahan dalam daerah tampungan (catchment

area) maupun akibat bergesernya pola klimatologis yang mengakibatkan pola

hidrologis bergeser pula, ataupun akibat kesalahan perencanaan pada awal

masa pembangunannya. Kekurangan air irigasi dapat juga disebabkan oleh

tindakan pengelolaan air yang tidak memadai, seperti penggunaan air yang

berlebihan di daerah hulu, hingga di bagian hilirnya kekurangan bahkan tidak

mendapat air sama sekali. Akibat dari kekurangan air ini akan berpengaruh

buruk bagi peningkatan produksi padi sawah, yaitu produksi pertanahannya

akan merosot.

      Pengembangan dan pengelolaan sistim irigasi yang dilaksanakan oleh

pemerintah pusat, pemerintah provinsi, atau pemerintah kabupaten/kota

melibatkan semua pihak yang berkepentingan dengan mengutamakan

kepentingan dan peran masyarakat petani. Pengembangan dan pengelolaan

sistim irigasi yang dilaksanakan oleh badan usaha, badan sosial, atau

perseorangan     diselenggarakan    dengan      memperhatikan    kepentingan
                                                                             6




masyarakat disekitarnya dan mendorong peran serta masyarakat petani.

Penerapan sistim tadah hujan yang diterapkan oleh petani didaerah-daerah

disebabkan kurangnya sumber air didaerah tersebut yang dijadikan sumber

irigasi, sehingga penanaman hanya dilakukan pada musim hujan saja.

           Untuk mewujudkan tertib pengelolaan irigasi yang dibangun oleh

pemerintah dibentuk kelembagaan pengelolaan irigasi, perkumpulan petani

pemakai air, dan komisi irigasi. Petani pemakai air wajib membentuk

perkumpulan petani pemakai air secara demokratis pada setiap daerah

layanan/petak tersier atau petak sawah.

           Perkumpulan   petani   pemakai   air   dapat   membentuk   gabungan

perkumpulan petani pemakai air pada daerah layanan/blok sekunder, gabungan

beberapa blok sekunder atau satu daerah irigasi. Gabungan perkumpulan

petani pemakai air dapat membentuk induk perkumpulan petani pemakai air

pada daerah layanan/blok primer, gabungan beberapa blok primer, atau daerah

irigasi.

           Hak dan tanggung jawab masyarakat petani dalam pengembangan dan

pengelolaan sistim irigasi meliputi :

a. Melaksanakan pengembangan dan pengelolaan sistim irigasi tersier.

b. Menjaga efektivitas, efisiensi, dan ketertiban pelaksanaan pengembangan

    dan pengelolaan sistim irigasi tersier yang menjadi tanggung jawabnya; dan

c. Memberikan persetujuan pembangunan, pemanfaatan, pengubahan, dan

    penbongkaran bangunan atau saluran irigasi pada jaringan irigasi tersier

    berdasarkan pendekatan partisipatif.
                                                                               7




            Partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan pengelolaan sistim

   irigasi diwujudkan dimulai dari pemikiran awal, pengambilan keputusan, dan

   pelaksanaan      kegiatan   dalam     pembangunan,     peningkatan,   operasi,

   pemeliharaan dan rehabilitasi. Partisipasi masyarakat petani dapat diwujudkan

   dalam bentuk sumbangan pemikliran, gagasan, waktu, tenaga, material dan

   dana. Didasarkan atas kemauan dan kemampuan masyarakat petani serta

   semangat kemitraan dan kemandirian. Semua itu dapat disalurkan melalui

   sistim irigasi yang diterapkan di berbagai daerah.

            Kecamatan Simpang Ulim adalah salah satu kecamatan di Kabupaten

   Aceh Timur yang menerapkan sistim irigasi, tetapi pembangunannya masih

   belum merata keseluruh daerah. Oleh sebab itu sebagian petani di daerah

   tersebut masih menerapkan sistim tadah hujan sehingga sangat berpengaruh

   terhadap pendapatan karena produksi dan produktivitas padi sawah menurun.

   Dari uraian diatas peneliti ingin menganalisis secara mendalam tentang

   perbedaan pendapatan usahatani padi sawah (Oriza sativa. L) sistim tadah

   hujan dengan sistim irigasi di Kecamatan Simpang Ulim Kabupaten Aceh

   Timur.


2. Identifikasi Masalah

            Berdasarkan judul dan latar belakang yang telah dikemukakan di atas

   dapat diidentifikasikan masalah adalah: Apakah ada perbedaan pendapatan

   usahatani padi sawah sistim tadah hujan dengan sistim irigasi.
                                                                              8




3. Tujuan Penelitian

          Adapun tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui perbedaan

   pendapatan usahatani padi sawah sistim tadah hujan dengan sistim irigasi di

   Kecamatan Simpang Ulim Kabupaten Aceh Timur.


4. Kegunaan Penelitian

   a. Dari segi peneliti

          Penelitian ini dilakukan dalam rangka penyusunan skripsi sebagai salah

   satu syarat kurikulum untuk mencapai Gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas

   Pertanian Universitas Samudra Langsa.

   b. Dari segi petani.

          Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan petani

   padi sawah tentang sistim irigasi dengan tujuan untuk mendorong petani dalam

   meningkatkan pendapatan usahataninya.

   c. Dari segi Fakultas/ Ilmu Pengetahuan

          Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan studi

   yang berhubungan dengan penelitian dan sebagai bahan bacaan bagi yang

   memerlukan.

   d. Dari segi pertanian

          Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang sistim

   irigasi yang sangat berpengaruh dan penting terhadap hasil pertanian

   khususnya dan perencanaan pembangunan pada umumnya di Kabupaten Aceh

   Timur dan di daerah-daerah lain.
                                                                              9




5. Kerangka Pemikiran

        Pembangunan pertanian dari tahun ke tahun pada hakekatnya ditujukan

  untuk meningkatkan pendapatan petani yang lebih merata sesuai dengan cita-

  cita bangsa Indonesia yaitu tercapainya masyarakat adil dan makmur . Dalam

  rangka meningkatkan pendapatan petani, arah yang perlu ditempuh adalah

  perluasan kegiatan ekonomi produktif petani, serta peningkatan efisiensi dan

  daya saing. Perluasan kegiatan ekonomi yang mungkin dilakukan adalah

  peningkatan nilai tambah melalui pengolahan dan perbaikan kualitas, serta

  pengembangan kegiatan usahatani secara terpadu yang mencakup berbagai

  komoditas.

        Mubyarto, (1996:23) menyatakan bahwa: “Ciri khas kehidupan petani
        adalah perbedaan pola penerimaan, pendapatan dan pengeluarannya.
        Pendapatan petani hanya diterima pada setiap musim panen, sedangkan
        pengeluaran harus dikeluarkan setiap hari atau kadang-kadang dalam
        waktu yang sangat mendesak sebelum panen tiba”.

        Selain itu flutuasi harga, keadaan pasar di Nanggroe Aceh Darussalam,

  sempitnya lahan pertanian akibat tekanan penduduk dan pola pertanian

  subsistens semakin mempengaruhi keadaan petani padi sawah dalam upaya

  mencukupi kebutuhan sehari-hari apalagi untuk meningkatkan pendapatan

  menuju taraf hidup yang layak. Untuk mencapai keberhasilan pembangunan

  pertanian tidak terlepas dari unsur manusia yang melaksanakan pembanguan

  tersebut, antara lain aparat pemerintah, dinas, instansi terkait, swasta dan

  petani.

        Menurut Mosher (1995:65) “Pendapatan bersih usahatani yaitu
        pendapatan diterima petani sesudah dikurangi dengan biaya produksi
        atau hasil kali produksi dengan harga jual dikurangi dengan total biaya.
        Produksi dibidang pertanian berarti menggunakan input untuk
        menghasilkan output”
                                                                                 10




       Penggunaan input pertanian dalam kegiatan cabang usahatani padi

sawah pada umumnya meliputi lahan/tanah garapan, benih, pupuk, pestisida

dan tenaga kerja. Nilai dari komponen tersebut menunjukkan besarnya modal

yang diperlukan oleh petani untuk melakukan usahataninya. Besar kecilnya

pendapatan tergantung kepada kemampuan petani mengelola penerimaan dan

pengeluarannya.

       Analisis   pendapatan     mempunyai       dua      tujuan   bersama     yaitu

menggambarkan      keadaan     sekarang   dari    suatu     kejadian   usaha    dan

menggambarkan keadaan yang akan datang dari suatu perencanaan atau

tindakan. Analisa pendapatan membutuhkan dua keterangan pokok, yaitu

keadaan penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu tertentu,

sedangkan pendapatan merupakan nilai hasil yang diperoleh dari hasil

pertanian dengan nilai korbanan.

       Menurut Vaughen (1998:68), “Air yang dibutuhkan oleh tanaman sangat
       penting sekali dalam menghitung waktu pemberian air irigasi selama
       musim tanaman tumbuh di proyek irigasi yang mendapatkan kebutuhan
       airnya dari waduk penampungan atau sumber air lain yang dapat
       diandalkan. Tiga pertimbangan utama yang mempengaruhi waktu
       pemberian air irigasi dan berapa besarnya air yang harus diberikan ialah
       air yang dibutuhkan tanaman, ketersediaan air untuk irigasi, dan
       kapasitas tanah daerah akar untuk menampung air.

       Kebutuhan air untuk suatu areal pertanaman dipengaruhi oleh beberapa

faktor yaitu :

1. Kondisi tanah. Semakin kasar tekstur tanah dan makin tinggi porositas suatu

   tanah, serta semakin permeabilitas tanah maka semakin besar pula

   kehilangan air melalui perkolasi.
                                                                            11




2. Jenis tanaman. Tanaman padi sawah membutuhkan air yang lebih banyak

   karena tanaman padi disamping membutuhkan air untuk evapotranpirasi

   (kebutuhan konsumtif) yang lebih tinggi yakni 6-8 mm/hari, sedangkan

   tanaman palawija hanya membutuhkan air konsumtif (evapotranspirasi)

   yang jumlahnya juga relatif lebih kecil, yakni kurang lebih 5 mm/hari.

3. Kedaan iklim. Curah hujan menentukan curah hujan efektif yang dapat

   mengurangi besarnya kebutuhan air irigasi, sedangkan unsur-unsur iklim

   lainnya menentukan besarnya evapotranspirasi yang akan terjadi.

4. Keadaan topografi. Keadaan topgrafi berpengaruh terhadap kehilangan air

   melalui aliran perm,ukaan dan lebih besar terjadi aliran permukaan dan

   rembesan dibanding dengan tanah datar.

5. Luas areal pertanaman. Luas areal pertanian akan mempengaruhi jumlah

   kebutuhan air per satuan luas, makin luas areal pertanaman makin kecil

   kebutuhan air irigasi per satuannya, karena air dari daerah hulu masih dapat

   dimanfaatkan kembali untuk daerah hilir.

6. Kehilangan air selama penyaluran. Selama penyaluran air ke persawahan

   akan terjadi kehilangan air melalui evaporasi, perkolasi, rembesan dan

   bocoran dalam saluran. Kehilangan air selama penyaluran lebih banyak

   terjadi pada saluran tanah dibanding dengan saluran yang telah dilapisi

   (lining)

       Tanaman yang sedang tumbuh menggunakan air terus menerus, tetapi

besarnya pemakaian berbeda-beda sesuai dengan jenis tanaman yang

ditanam, umur tanaman dan keadaan atmosfir. Pada setiap pemberian air

irigasi, volume air yang memadai untuk mencukupi kebutuhan tanaman untuk
                                                                              12




suatu periode berbeda-beda dari beberapa hari sampai beberapa minggu

ditampung pada tanah yang tidak jenuh dalam bentuk air tanah yang tersedia.

Faktor yang paling penting dalam mencari frekuensi yang diinginkan dan waktu

pemberian air irigasi adalah air yang dibutuhakan oleh tanaman.

      Anonymous (2007:6), menyatakan bahwa “Pada hakikatnya tanaman
      padi sawah bukanlah tanaman air, tetapi merupakan tanaman darat yang
      membutuhkan penggenangan, oleh karena itu pemberian air bagi
      tanaman padi sawah juga ada batasnya dan jika pemberian airnya terlalu
      berlebihan akan terjadi keterbatasan-keterbatasan dalam pertumbuhan
      tanamannya, seperti terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan
      anakan atau lainnya. Dengan demikian pemberian air bagi tanaman padi
      sawah sebaiknya seperlunya saja, atau sesuai dengan kebutuhan air
      tanamannya”.

      Pertumbuhan tanaman padi sawah menurut pelaksanaan pemberian air

irigasi dapat dibagi kedalam tiga tahapan yaitu masa tumbuh, masa berbunga

dan masa berbuah. Selama tahapan masa tumbuh kebutuhan air terus-

menerus meningkat. Masa berbunga diikuti dengan penurunan kebutuhan air

sampai transpirasi pertumbuhan buah atau bulir.

      Tahapan masa berbuah dibagi kedalam dua bagian : tahapan buah

muda yang mengikuti masa berbunga, dan tahapan buah masak yang

mengikuti pertumbuhan muda. Masa berbuah masak diikuti oleh oleh

penurunan kebutuhan air sampai transpirasi berhenti dan tanaman istirahat.

      Jumlah air yang digunakan dan frekuensi pemberian air irigasi harus

diatur menurut kebutuhan air untuk tananam, kapasitas tanah menahan air, dan

kedalaman    akar.   Secara   alami   tanah   berpasir   yang     dangkal   akan

membutuhkan waktu pengaturan pemberian air irigasi air yang sangat berbeda

dibandingkan dengan tanah lempung yang dalam.
                                                                            13




      Menurut Hidayat (2006:4), “Pertumbuhan sebagian tanaman yang
      dihasilkan oleh pertanian beririgasi dirangsang oleh jumlah kelembaban
      tanah dan diperlambat baik oleh jumlah kelembaban yang berlebihan
      ataupun       kekurangan. Udara dalam tanah dibutuhkan untuk
      pertumbuhan tanaman yang sesuai, sehingga pemberian air yang
      berlebihan dan pengisian pori-pori tanah dengan air, mengeluarkan
      udara, dengan demikian menghambat pertumbuhan tanaman yang
      seharusnya, meskipun air yang tersedia berlimpah”

      Pemberian air irigasi pada waktu berhenti musim tanam, di berbagai
tempat adalah salah satu cara yang ekonomis dalam menampung air dalam
tanah untuk keperluan masa tanam yang akan datang. Pada musim hujan
jumlah air yang tersedia tentunya tersedia dalam jumlah banyak, untuk itu perlu
didirikan waduk
      Menurut Sunarto (1996:23), “Pertumbuhan tanaman tidak boleh
      terhambat karena kukurangan kelembaban tanah yang tersedia ; dan
      praktek tidak memberikan air irigasi sampai tanaman benar-benar
      menunjukkan membutuhkan air. Dalam hal ini perlu untuk memelihara air
      supaya selalu tersedia pada tanah apabila tanaman diinginkan tumbuh
      dengan sempurna”.

      Kenyataan menunjukkan bahwa irigasi sangat berperan terhadap

pertumbuhan tanaman apalagi tanaman padi sawah. Penggunaan irigasi untuk

pertumbuhan tanaman padi sawah sangat tepat sekali karena dengan

ketersediaan air yang cukup untuk tanaman padi sawah menyebabkan

pertumbuhannya menjadi merata dan mempercepat panen. Penggunaan sistim

irigasi sangat berdampak baik terhadap produksi dan produktivitas padi, karena

sistim irigasi dalam setahunnya bisa panen tiga kali. Sedangkan sistim tadah

hujan penanaman hanya dilakukan pada waktu musim hujan saja sehingga

panen kadang-kadang cuma sekali setahun.

      Menurut Hidayat (2004:3), “Pada kondisi ketersediaan air irigasi sangat
      terbatas penghematan air murapakan hal yang mutlak yang harus
      dilakukan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan sebagai langkah
      penghematan pemakaian air bagi tanaman padi sawah yaitu mengurangi
      kehilangan air di petakan sawah, pergiliran air irigasi, sistem golongan,
      pengaturan pola tanam, pengaturan waktu tanam, cara pemberian air,
      dan pemulsaan”.
                                                                                14




         Berkurangnya debit air pada hampir semua daerah irigasi di Nanggroe

Aceh Darussalam berdampak pada penurunan produksi tanaman pangan

terutama padi, padahal kebutuhan pangan terus meningkat sejalan dengan

pertambahan penduduk. Upaya untuk mengatasi hal tersebut untuk jangka

pendek dapat ditempuh melalui peningkatan pemakaian air irigasi.

         Kehilangan air irigasi dapat terjadi melalui perkolasi, rembesan, bocoran,

dan pemakaian air yang berlebihan hingga menyebabkan terjadinya aliran

permukaan. Peningkatan efisiensi dapat ditempuh melalui cara-cara pemberian

dengan sistim hemat air, pembuatan aturan-aturan seperti pergiliran pemberian

air, pengaturan pola tanam penyesuaian waktu tanam, dan minimalisasi

kehilangan air baik di lapangan maupun saat penyaluran.

         Suhardyono (1998:32) menyatakan bahwa: “ Dalam penerimaan
         teknologi atau praktek-praktek baru yang dianjurkan oleh penyuluhan
         lapangan kecepatan penerimaan petani terhadap teknologi ataupun
         praktek baru (inovasi) tidak sama tetapi tergantung pada sikap dan
         kondisi masing-masing petani pada saat teknologi maupun inovasi
         tersebut dikenalkan pada mereka”.

         Kesediaan petani untuk menerima atau menolak suatu teknologi tidak

merupakan kejadian yang tiba-tiba, akan tetapi merupakan suatu proses

bertahap dimana sebelum itu perlu untuk berpikir dan menganalisis inovasi

yang diterimanya apakah inovasi tersebut menguntungkan atau tidak.

Meningkatkan produksi pangan terutama beras memang merupakan tugas

yang rumit, satu hal yang perlu kita sadari bahwa yang memproduksi adalah

petani    bukan    pemerintah,     yang    dapat   dilakukan   pemerintah   adalah

menciptakan       suasana   yang    baik   untuk   berproduksi,   mendorong    dan
                                                                           15




  menggerakkan petani untuk meningkatkan produksinya melalui berbagai

  metode dan cara yang disampaikan melalui PPL


6. Hipotesis

         Sesuai dengan judul, latar belakang dan kerangka pemikiran yang telah

  diuraikan di atas, maka dapat diturunkan hipotesis sebagai berikut : Diduga

  terdapat perbedaan pendapatan usahatani padi sawah sistim tadah hujan

  dengan sistim irigasi.
                                                                                16




                                        BAB II

                            METODELOGI PENELITIAN



1. Lokasi, Objek, Ruang Lingkup Dan Waktu Penelitian

              Penelitian   ini menggunakan metode      survey.   Penentuan   lokasi

  penelitian dilakukan dengan sengaja (Purposive Sampling) yaitu di Kecamatan

  Simpang Ulim Kabupaten Aceh Timur dengan pertimbangan bahwa kecamatan

  tersebut adalah sentra produksi padi dan terdapat sistim tadah hujan dan sistim

  irigasi.

             Objek penelitian ini adalah para petani yang menerapkan sistim irigasi

  dan sistim tadah hujan. Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada perbedaan

  sistim irigasi dan sistim tadah hujan dalam peningkatan pendapatan usahatani

  padi sawah di Kecamatan Simpang Ulim Kabupaten Aceh Timur. Waktu

  penelitian dilakukan pada bulan Februari 2008.

2. Metode dan Teknik Penentuan Sampel

  a. Penentuan Sampel

              Penentuan desa sampel dilakukan secara acak sederhana (Simple

  Random Sampling), terambil 4 (empat) desa dari 22 (dua puluh dua) desa yang

  ada di Kecamatan Simpang Ulim, yaitu; Desa Gampong Blang, Desa Alue

  Buloh Dua, Desa Matang Weng, dan Desa Pucok Alue Dua. Pemilihan petani

  sampel juga dilakukan secara acak sederhana (Simple Random Sampling)

  dengan mengambil para petani padi sawah sistim tadah hujan dan sistim irigasi.

  Dari tiap-tiap desa sampel diambil sebesar 10% petani sistim tadah hujan dan
                                                                                             17




   10% petani sistim irigasi. Untuk lebih jelas jumlah sampel dapat diperlihatkan

   pada tabel 2. berikut:


   Tabel 2. Jumlah Populasi dan Jumlah Sampel Petani Sistim Tadah Hujan
             dan Sistim Irigasi di Daerah Penelitian, Tahun 2008
                            Jumlah Populasi   Jumlah Populasi   Jumlah Sampel   Jumlah Petani

                             Petani Sistim     Petani Sistim    Petani Sistim   Sampel Sistim
    No     Desa Sampel
                             Tadah Hujan          Irigasi        Tadah hujan       Irigasi

                               (Orang)           (Orang)           (Orang)        (Orang)

    1    Gampong Blang           69                79                7               8

    2    Alue Buloh Dua          68                62                7               6

    3    Matang Weng             92                98                9              10

    4    Pucok Alue Dua          70                59                7               6

         Jumlah                 303               298               30              30

   Sumber : Data primer (diolah), 2008


   b. Pengumpulan Data

          Data primer yang diperoleh dari para petani sampel dengan wawancara

   langsung dan ditambah daftar pertanyaan (quetioner) yang telah dipersiapkan

   terlebih dahulu. Data sekunder diperoleh dari literatur-literatur, buku-buku,

   laporan-laporan dan data lembaga/ instansi pemerintah dan swasta serta

   bahan-bahan lain yang berhubungan dengan penelitian ini.



3. Variabel dan Data Yang Diteliti

          Untuk menguji kebenaran hipotesis maka dibutuhkan variabel dan data

   sebagai berikut :

  1. Biaya produksi (Rp/Ha/Musim tanam)
                                                                                  18




  2. Hasil produksi (Kg/Ha/Musim Tanam)

  3. Nilai produksi (Rp/Ha/Musim tanam)

  4. Pendapatan (Rp/Ha/Musim tanam)


4. Konsep Operasional Variabel

        Dari variabel dan data yang diteliti maka dioperasikan sebagai berikut:

    a. Perhitungan biaya produksi dalam penelitian ini meliputi biaya tetap dan

       biaya variabel. Biaya tetap meliputi biaya sewa lahan dan biaya alat-alat.

       Biaya variabel bersifat operasional yang terdiri dari biaya persiapan lahan,

       biaya sarana produksi, biaya perawatan dan biaya panen, yang dihitung

       dalam rupiah/hektar/musim tanam.

    b. Hasil produksi adalah hasil produksi padi yang dihasilkan petani sampel

       sistim tadah hujan dan petani sampel sistim irigasi yang dihitung dalam

       kilogram/hektar/musim tanam.

    c. Nilai produksi adalah hasil produksi yang dihasilkan petani sampel

       dikalikan dengan harga jual gabah kering, dalam penelitian ini harga

       gabah    Rp.   2.800/Kg,    sehingga    nilai   produksi   dihitung   dalam

       rupiah/hektar/musim tanam.

    d. Pendapatan petani sampel sistim tadah hujan dan petani sampel sistim

       irigasi adalah hasil pengurangan antara nilai produksi dengan biaya

       produksi yang dihitung dalam rupiah/hektar/musim tanam.
                                                                                   19




5. Metode Analisis dan Pengujian Hipotesis

  a. Analisis Data

          Data yang diperoleh dari lapangan baik data primer maupun data

  sekunder diolah dengan mentabulasikan dan kemudian dipindahkan ke dalam

  bentuk tabelaris sesuai dengan kebutuhan analisis.


  b. Pengujian Hipotesis

          Hipotesis yang telah diajukan, dianalisis dengan mengguankan statistik

  uji “t” dengan rumus (Amudi, 1981:292) sebagai berikut:


                               1   2
  t hitung 
                  n1  1S
                          1
                           2
                              n2  1S 2
                                         2
                                             1 1
                                               
                        n1  n2  2          n1 n2



   1 dan  2            :Rata-rata pendapatan petani sistim tadah hujan dan rata-rata

                          pendapatan petani sistim irigasi.

   S 1 dan S 2           :Rata-rata varians pendapatan petani sistim tadah hujan dan

                          rata-rata varians pendapatan petani sistim irigasi.

   n1 dan n2             :Jumlah sampel petani sistim tadah hujan dan jumlah sampel

                          petani sistim irigasi.

          Kriteria pengambilan keputusan:

  H0         :Tidak ada perbedaan pendapatan usahatani padi sawah antara petani

                 sampel sistim tadah hujan dengan petani sampel sistim irigasi.

  Ha             :Ada perbedaan pendapatan usahatani padi sawah antara petani

                 sampel sistim tadah hujan dengan petani sampel sistim irigasi.
                                                     20




     Kaedah pengambilan keputusan sebagai berikut:

- Jika t hitung ≤ t tabel maka terima Ho tolak Ha

- Jika t hitung > t tabel maka terima Ha tolakHo
                                                                           21




                                   BAB III

                    GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN



1. Keadaan Umum Daerah Penelitian

        Kecamatan Simpang Ulim merupakan salah satu dari 21 (dua puluh

 satui) Kecamatan yang ada di Kabupaten Aceh Timur. Posisi Kecamatan

 Langsa Timur berada di bagian Barat Kabupaten Aceh Timur yang berbatasan

 sebagai berikut:

 -   Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Julok

 -   Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Panton Labu Kabupaten

     Aceh Utara.

 -   Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Malaka

 -   Sebelah Timur berbatasan dengan Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara.


2. Topografi dan Jenis Tanah

        Kecamatan Simpang Ulim memiliki topografi sangat bervariasi yang

 terdiri dari dataran rendah, bergelombang dan sedikit berbukit dengan

 ketinggian tempat berkisar antara 0 sampai dengan 25 meter di atas

 permukaan laut. Jenis tanah pada umumnya adalah jenis tanah alluvial,

 hidromorf kelabu yang sedikit agak homogen. Tanah jenis ini sangat baik untuk

 areal persawahan yang ditanami padi sawah.


3. Iklim dan Curah Hujan

        Kecamatan Simpang Ulim memiliki iklim tropis, curah hujan pada tahun

 2007 sebanyak 20.288 mm, dengan rata-rata 2.453 mm untuk setiap tahunnya
                                                                                   22




dan jumlah hari hujan 1.655 hari, rata-rata 331 hari setiap tahunnya. Musim

hujan terjadi antara bulan September sampai dengan bulan Februari.

Sedangkan musim kemarau terjadi antara bulan Maret sampai dengan bulan

Agustus. Untuk lebih jelasnya mengenai curah hujan di Kecamatan Simpang

Ulim dapat dilihat pada tabel 3 berikut:


Tabel 3 : Jumlah Hujan, Bulan Basah dan Bulan Kering dari Tahun 2003-
           2007 di Kecamatan Simpang Ulim

 No       Tahun      Curah     Hari Hujan   Bulan Basah   Bulan Kering    Bulan
                     Hujan        (hh)        (Bulan)       (Bulan)      lembab
                     (mm)                                                (Bulan)
 1         2003      1.335         104          8              2            2

 2         2004      1.673          84          9              3           0

 3         2005      1.672         117          11             1           0

 4         2006      2.300          71          10             0           2

 5         2007     20.288         1.279        10             0           2

       Jumlah       27.268         1.655        48             6           6

      Rata-rata      2.453         331          9.6           1.2         1.2

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Aceh
         Timur Tahun 2008


Perhitungan tipe iklim Schmidt dan Ferguson, dengan rumus:

Q = Rata-rataJumlah Bulan Kering x 100%
       Rata-rata Bulan Basah

Q = 1.2 x 100% = 12.5%
       9.6

         Dengan demikian dapat diketahui bahwa menurut klasifikasi iklim

Schmidt dan Ferguson, daerah Kecamatan Langsa Timur digolongkan ke

dalam tipe iklim C (agak basah).
                                                                               23




4. Penduduk dan Mata Pencaharian

        Penduduk Kecamatan Simpang Ulim berjumlah 39.270 jiwa. Jumlah laki-

 laki 19.826 jiwa dan perempuan 19.444 jiwa. Untuk lebih jelasnya komposisi

 jumlah penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 8.

 berikut.


 Tabel 4 :Jumlah Penduduk Menurut Komposisi Umur dan Jenis Kelamin di
         Kecamatan Simpang Ulim Tahun 2008

   No        Kelompok Umur                   Jenis Kelamin         Jumlah (Jiwa)
                                      Laki-Laki        Perempuan
                                       (Jiwa)             (Jiwa)
    1            0–4                   1.881               1.759     3.640
    2            5–9                   2.117               2.018     4.135
    3           10 – 14                2.719               2.586     5.305
    4           15 – 19                2.706               2.743     5.449
    5           20 – 24                2.011               1.935     3.946
    6           25 – 29               1.525            1.612         3.137
    7           30 – 34               1.516            1.597         3.113
    8           35 – 39               1.253            1.264         2.517
    9           40 – 44               1.148            1.179         2.327
   10           45 – 49                 955              786         1.741
   11           50 – 54                 654              591         1.245
   12           55 – 59                 420              345           765
   13           60 – 64                 381              411           792
   14             65 +                  540              618         1.158
             Jumlah                   19.826           19.444       39.270
 Sumber : Data Primer 2008 (Diolah)


        Dari tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa penduduk yang tergolong

 angkatan kerja produktif yang telah berumur 15 – 54 tahun sebanyak 23.475

 jiwa atau 59,78% dari total jumlah penduduk yang terdiri dari 11.768 jiwa atau

 29,97% jiwa laki-laki dan 11.707 jiwa atau 29,81% perempuan. Pada angka

 kerja produkstif umumnya manusia dapat bekerja secara maksimal dan minat

 untuk menerapkan suatu teknologi lebih besar, serta adanya kemampuan

 berfikir lebih tinggi. Sedangkan angkatan kerja non produktif yang berumur lebih
                                                                             24




 54 tahun keatas sebanyak 1.341 jiwa atau 3,41% laki-laki dan 1.374 jiwa atau

 3,50% perempuan. Tenaga kerja non produktif ini merupakan beban yang

 harus ditanggung oleh tenaga kerja produktif. Di samping tenaga kerja produktif

 terlihat pula adanya tenaga kerja yang berusia muda yaitu berumur 10 – 14

 tahun sebanyak 5.305 jiwa atau 6,92% laki-laki dan 6,59% perempuan. Ini

 merupakan tenaga kerja yang belum produktif yang memerlukan lapangan

 pekerjaan untuk masa-masa yang akan datang.


5. Luas Lahan Pertanian

        Pada umumnya keadaan pertanian di Kecamatan Simpang Ulim adalah

 bergerak dibidang pertanian tanaman pangan, kolam/tambak dan perkebunan.

 Untuk lebih jelasnya mengenai luas lahan pertanian berdasarkan jenis

 penggunaan tanah di Kecamatan Simpang Ulim dapat dilihat pada tabel          5

 berikut:

 Tabel 5 : Perincian Laus Lahan Wilayah Kecamatan Simpang Ulum
            Berdasarkan Penggunaan Tanah Tahun 2008

   No           Lahan Padi Sawah           Luas (Ha)        Persentase (%)

    1       Tanah Sawah                      2.720                 32

    2       Tanah Ladang                     2.597                 31

    3       Kolam/Tambak                     3.022                 36

    4       Perkebunan                        123                  1

                  Jumlah                     8.462               100,00

 Sumber: Kantor Statistik Kabupaten Aceh Timur Tahun 2008

        Dari tabel 5 diatas terlihat bahwa penggunaan tanah sawah yaitu

 sebesar 2. 720 hektar atau 32 % dari luas lahan seluruhnya, tanah ladang
                                                                         25




2.597 hektar atau 31 % dari luas lahan seluruhnya, kolam/ tambak yaitu

sebesar 3.022 atau 36 % dari luas lahan seluruhnya dan luas lahan perkebunan

yaitu sebesar 123 hektar atau 1 % dari luas lahan seluruhnya.
                                                                               26




                                     BAB IV

                    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



1. Karakteristik Petani

        Pengertian karakteristik petani dalam penelitian ini meliputi umur petani,

 pendidikan, pengalaman berusahatani, tanggungan keluarga serta luas

 garapan yang diusahakan. Keadaan karakteristik ini dapat mempengaruhi

 kegiatan dan kemampuan kerja petani dalam berusahatani. Dalam menjalankan

 uasahataninya, tiap petani memegang dua peranan yaitu petani sebagai juru

 tani (cultifator) dan sekaligus seorang pengelola (manajer). Peranan petani

 dalam usahatani mencakup semua aspek sehingga menghendaki adanya

 keahlian dan keterampilan yang sangat teragantung kepada umur, pengalaman

 berusahatani dan tanggungan keluarga.

        Suatu usahatani yang baik menghendaki agar petani yang melakukan

 usahatani pada batas umur yang potensial, pendidikan yang memadai,

 berpengalaman serta mempunyai tanggungan yang bisa membantunya. Untuk

 lebih jelasnya keadaan karakteristik petani sampel di daerah penelitian yang

 terlihat pada tabel 6 berikut.
                                                                               27




Tabel 6 : Rata-rata Karakteristik Petani Sampel di Daerah Penelitian
          Tahun 2008

 No.           Karakteristik                                    Sistim Tadah
                                     Satuan    Sistim Irigasi
              Petani Sampel                                        Hujan
 1     Umur                          Tahun         38,5             39
 2     Pendidikan                    Tahun          11,9            11,7
 3     Pengalaman                    Tahun         15,5             14,3
 4     Tanggungan Keluarga           Orang          3,3             3,3
 5     Luas Garapan                  Hektar        0,36             0,38
Sumber: Data Primer, Tahun 2008 (diolah)

       Berdasarkan Tabel 6 diatas dapat dilihat bahwa petani anggota sistim

irigasi memiliki tingkat pendidikan yaitu 11,9 tahun dan pengalaman 15,5 tahun

lebih tinggi dibandingkan dengan petani anggota sistim tadah hujan yaitu

pendidikan 11,7 tahun dan pengalaman 14,3 tahun. Dengan tingkat pendidikan

dan pengalaman yang lebih tinggi mengakibatkan mampu menyerap inovasi

dari anggota sitim irigasi dalam mengelola usahataninya.

       Perbedaan tingkat pendidikan dan pengalaman menyebabkan terjadinya

perbedaan di dalam memecahkan masalah usahataninya bagi petani anggota

sistim irigasi dengan petani anggota sistim tadah hujan . Rata-rata umur petani

juga berbeda dimana petani anggota sistim irigasi memiliki umur yang lebih

muda yaitu 38,5 tahun dari petani yang anggota sistim tadah hujan yaitu 39

tahun. Jumlah tanggungan keluarga petani anggota sistim irigasi sama bila

dibandingkan dengan petani anggota sistim tadah hujan.
                                                                                                            28




2. Biaya Sarana Produksi

          Biaya sarana produksi di daerah penelitian terbagi atas dua jenis, yaitu

 biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya tetap terdiri dari

 biaya sewa lahan, biaya penyusutan alat yang dipergunakan seperti cangkul,

 arit, parang dan lain-lain, baik yang dibayar tunai maupun tidak tunai tetapi

 diperhitungkan dan juga biaya tenaga kerja. Biaya variabel terdiri dari biaya

 bibit, pupuk dan pestisida dan lain-lain. Adapun besar biaya sarana produksi

 yang digunakan petani sampel dapat dilihat pada tabel berikut:


 Tabel 7: Rata-rata Penggunaan Biaya Sarana Produksi Petani Sampel di
          Daerah Penelitian Tahun 2008.

                                    Sistim Irigasi                         Sistim Tadah Hujan

                                                      Biaya       Sewa        Penyusutan         Biaya
   No      Desa Sampel     Sewa     Penyusutan
                                                      Tenaga     Lahan            Alat           Tenaga
                          Lahan        Alat
                                                       Kerja     (Rp/Ha)        (Rp/Ha)           Kerja
                          (Rp/Ha)    (Rp/Ha)
                                                     (Rp/Ha)                                    (Rp/Ha)

   1     Gampong Blang    283.333     81.083         968.500     263.125        45.375          1.086.750


   2     Alue Buloh Dua   285.714     44.071         1.128.571   287.500        56.983          1.055.917


   3     Matang Weng      300.000     63.333         1.142.556   285.000        47.800          1.160.850


   4     Pucok Alue Dua   285.714     54.812         1.219.524   283.333        94.000          1.165.833


        Rata-rata/ UT     288.355     60.824         1.114.788   279.739        61.039          1.117.338


        Rata-rata/ Ha     801.038    168.957         3.096.632   736.156        160.629         2.940.363

  Sumber: Data Primer, 2007 (diolah)

          Dari tabel 7 diatas terlihat bahwa rata-rata biaya sewa lahan petani

 sampel anggota sistim irigasi yaitu sebesar Rp. 288.355 per usahatani danRp.

 801.038 per hektar, lebih besar jika dibandingkan dengan rata-rata biaya sewa

 lahan petani sampel anggota sistim tadah hujan yaitu sebesar Rp. 279.739 per

 usahatani dan Rp. 736.156 per hektar. Rata-rata biaya penyusutan alat petani
                                                                              29




anggota sistim irigasi yaitu sebesar Rp. 60.824 per usahatani dan Rp. 168.957

per hektar, lebih besar jika dibandingkan dengan rata-rata biaya penyusutan

alat petani anggota sistim tadah hujan yaitu sebesar Rp. 61.039 per usahatni

dan Rp. 160.629 per hektar. Rata-rata penggunaan biaya tenaga kerja mulai

dari persiapan lahan, penanaman, pemupukan dan pemeliharaan untuk petani

angggota sistim irigasi yaitu   sebesar Rp.1.114.788 per usahatani dan Rp

3.096.632 per hektar lebih tinggi bila dibandingkan dengan biaya tenaga kerja

petani anggota sistim tadah hujan yaitu sebesar Rp.1.117.338 per usahatani

dan Rp. 2.940.363 per hektar.

       Sedangkan penggunaan biaya variable (VC) secara keseluruhan yang

terdiri dari pengadaan bibit, pembelian pupuk dan pestisida dapat dilihat pada

tabel berikut:

Tabel 8: Rata-rata Penggunaan Biaya Variabel (VC) Petani Sampel di
         Daerah Penelitian Tahun 2008

                 Desa Sampel         Sistim Irigasi      Sistim tadah Hujan
  No
                                        (Rp/Ha)               (Rp/Ha)

   1    Gampong Blang                  338.333                312.500

   2    Alue Buloh Dua                 352.499                358.082

   3    Matang Weng                    376.111                338.000

   4    Pucok Alue Dua                 364.372                392.499

           Rata-rata/ UT               357.828                350.270

           Rata-rata/ Ha               993.969                921.761

Sumber: Data Primer, 2008 (diolah)

       Dari tabel di atas terlihat bahwa rata-rata biaya variable (VC) petani

anggota sistim irigasi yaitu sebesar Rp. 357.828 per usahatani dan Rp. 993.968

per hektar, lebih tinggi dengan rata-rata biaya variable (VC) petani anggota
                                                                               30




 sistim tadah hujan yaitu sebesar Rp. 350.270 per usahatani dan Rp. 921.764

 per hektar.


3. Biaya Panen dan Biaya Pasca Panen

        Biaya panen dan pasca panen dalam penelitian ini meliputi biaya panen

 baik menggunakan mesin perontok padi (threser) atau secara manual tanpa

 menggunakan mesin perontok padi, biaya pengeringan, penggonian dan biaya

 angkut (transport). Penggunaan biaya panen dan pasca panen dapat dilihat

 pada tabel 9 berikut.

 Tabel 9 : Rata-rata Penggunaan Biaya Panen dan Pasca Panen Usahatani
           Masing-masing Desa Sampel di Daerah Penelitian Tahun 2008


                                      Sistim Irigasi      Sistim Tadah Hujan
   No          Desa Sampel
                                        (Rp/Ha)                (Rp/Ha)


    1   Gampong Blang                  1.002.567              1.123.438

    2   Alue Buloh Dua                  802.928               1.075.729

    3   Matang Weng                     980.141               1.027.500

    4   Pucok Alue Dua                  995.524               1.054.050


           Rata-rata/ UT                945.290               1.070.179


           Rata-rata/ Ha               2.625.805              2.816.260

 Sumber: Data Primer, 2008 (diolah)

        Dari tabel 9 diatas terlihat bahwa rata-rata penggunaan biaya panen dan

 pasca panen petani sampel anggota sistim irigasi adalah sebesar Rp. 945.290

 per usahatani dan Rp. 2.265.805 per hektar. Lebih rendah dibandingkan

 dengan rata-rata biaya panen dan pasca panen petani sampel anggota sistim
                                                                                31




 tadah hujan yaitu sebesar Rp. 1.070.179 per usahatani dan Rp. 2.816.260 per

 hektar.


4. Produksi, Nilai Produksi dan Pendapatan

       Produksi adalah hasil dari balas jasa akibat penggunaan ataupun

 pemanfaatan    faktor-faktor   produksi.   Selain   dipengaruhi   oleh    kualitas

 penggunaan faktor-faktor produksi, produksi juga sangat dipengaruhi oleh

 tingkat kombinasi yang tepat antara faktor-faktor produksi yang dilakukan oleh

 petani. Produksi yang dihasilkan dapat diukur dalam bentuk fisik yaitu dalam

 kilogram (Kg). Produksi yang dianalisis dalam penelitian ini adalah produksi

 usahatani padi sawah yang dihasilkan oleh petani anggota sisti irigasi dan

 produksi yang dihasilkan petani anggota sistim tadah hujan.

       Nilai produksi merupakan hasil kali antara jumlah produksi dengan harga

 yang berlaku pada saat penelitian pada desa sampel yaitu sebesar Rp. 2.800,-

 /Kg. Nilai produksi dipengaruhi oleh besarnya produksi yang dihasilkan.

       Pendapatan adalah selisih antara nilai produksi dengan total biaya

 produksi, yang merupakan pendapatan bersih petani. Untuk lebih jelasnya

 tentang biaya produksi, produksi, nilai produksi dan pendapatan bagi petani

 sampel di daerah penelitian baik petani anggota sisti irigasi maupun petani

 anggota sistim tadah hujan dapat dilihat pada tabel 10 berikut.
                                                                                                                    32




    Tabel 10: Rata-rata Biaya Produksi, Produksi, Nilai Produksi dan
              Pendapatan Usahatani Sistim irigasi dan Sistim Tadah Hujan
              di Daerah Penelitian Tahun 2008.
                                       Sistim Irigasi                               Sistim Tadah Hujan

No     Desa Sampel     Biaya                    Nilai    Pendapatan    Biaya                    Nilai     Pendapatan
                                  Produksi                                        Produksi
                      Produksi                Produksi   Usahatani    Produksi                Produksi    Usahatani
                                    (Kg)                                            (Kg)
                        (Rp)                    (Rp)        (Rp)        (Rp)                    (Rp)         (Rp)

1    Gampong Blang 2.403.900       3.400     9.520.000   7.116.133    2.913.813    2.816     7.884.800    5.041.687

2    Alue Buloh Dua   2.331.039    3.254     9.112.000   6.354.753    2.799.396    2.797     7.831.600     4.798704

3    Matang Weng      2.810.475    3.283     9.193.644   5.719.355    2.910.750    2.842     7.957.600    5.045.710

4    Pucok Alue Dua 3.010.868      3.360     9.408.000   6.397.031    2.964.300    2.749     7.697.200    4.960.167


     Rata-rata/ UT    2.639.070    3.324     9.308.000   6.396.818    2.897.065    2.801     7.842.800    4.961.567

     Rata-rata/ Ha    7.330.751    9.234     25.856.697 17.768.939    7.623.855    7.371     20.638.947   13.056.755

Sumber: Data Primer, 2008(diolah)

            Pada tabel 10 diatas dapat dilihat bahwa rata-rata produksi petani

anggota sistim irigasi yaitu sebesar 3.324 Kg per usahatani dan 9.234 Kg per

hektar, dan petani anggota sistim tadah hujan adalah sebesar 2.801 per

usahatani dan 7.371Kg per hektar . Selisih rata-rata produksi 523 Kg per

usahatni dan 1.863 Kg per hektar . Dari tabel di atas terlihat bahwa rata-rata

pendapatan petani anggota sistim irigasi masing-masing desa di daerah

penelitian adalah Rp. 6.396.818 per usahatni dan Rp. 17.768.939 per hektar.

Rata-rata pendapatan petani anggota sistim tadah hujan sebesar Rp. 4.961.567

per usahatani dan Rp. 13.056.755 per hektar.

            Dari data tersebut diatas dapat ditemukan selisih rata-rata pendapatan

antara petani anggota sistim irigasi petani dengan anggota sistim tadah hujan

adalah sebesar Rp. 1.435.251 per usahati dan Rp. 4.712.184 per hektar.
                                                                                   33




5. Analisis Pendapatan Sistim Irigasi dengan Sistim Tadah Hujan

          Berdasarkan pengolahan data diketahui bahwa terjadi perbedaan

 pendapatan petani anggota sistim irigasi dengan petani anggota sistim tadah

 hujan,    dimana    pendapatan   petani   anggota   sistim   irigasi   lebih   tinggi

 dibandingkan dengan petani anggota sistim tadah hujan.

          Agar lebih yakin apakah perbedaan tersebut significant atau tidak, maka

 dilakukan pengujian statistik uji “t”. Dari hasil perhitungan perbedaan

 pendapatan bagi petani anggota sistim irigasi diperoleh t hitung = 18,96

 sedangkan t tabel pada df 0,05 = 1,67 dan pada df 0,01 = 2,39. ini berarti t

 hitung > t tabel baik pada tingkat kepercayaan 95% maupun 99%. Dengan

 demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis terima Ha dan Tolak Ho. Artinya

 ada perbedaan yang sangat nyata antara pendapatan usahatani padi sawah

 petani anggota sistim irigasi dengan pendapatan usahatani anggota sistim

 tadah hujan . Dengan adanya sistim irigasi berarti terdapat perubahan yang

 positif terdapat peningkatan produksi padi yang akhirnya akan meningkatkan

 pendapatan usahatani. Perubahan kearah positif ini akan menjadikan petani

 dan menjadikan petani menjadi petani maju dan mempunyai kemampuan

 sumber daya alam terutama kebutuhan akan air bagi anggota sistim irigasi

 dibandingkan dengan petani anggota sistim tadah hujan, sehingga terlihat

 bahwa sistim irigasi dapat meningkatkan pendapatan usahatani padi sawah di

 Kecamatan Simpang Ulim Kabupaten Aceh Timur.
                                                                                     34




                                      BAB V

                         KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

        Berdasarkan data yang telah dianalisis dan hasil pembahasan maka

 dapat disimpulkan sebagai berikut:

 a) Petani anggota sistim irigasi memiliki tingkat pendidikan yaitu 11,8 tahun

    dan pengalaman 15 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan petani anggota

    sistim tadah hujan yaitu pendidikan 11,7 tahun dan pengalaman 14,3 tahun.

    Dengan     tingkat   pendidikan      dan   pengalaman     yang      lebih     tinggi

    mengakibatkan mampu menyerap inovasi dari anggota sistim irigasi dalam

    mengelola usahataninya.

 b) Secara umum petani yang menggunakan sistim irigasi akan mengakibatkan

    kebutuhan air akan mencukupi lahan usahataninya sehingga meningkatkan

    pendapatan usahatani padi sawah di Kecamatan Simpang Ulim.

 c) Petani anggota sistim irigasi sangat berperan dalam meningkatkan

    pendapatan petani padi sawah di Kecamatan Simpang Ulim.

 d) Dari hasil penelitian terlihat bahwa jumlah pendapatan usahatani rata-rata

    petani sistim irigasi adalah sebesar Rp.17.768.939/Ha,- sedangkan jumlah

    pendapatan     usahatani    petani   sistim   tadah   hujan   adalah        sebesar

    Rp.13.056.455Ha. Hal ini berarti terjadi selisih perbedaan pendapatan

    usahatani rata-rata Rp. 4.712.484/Ha, bagi petani sistim irigasi.

 e) Dari hasil statistik uji “t” untuk perbedaan produksi diperoleh t hitung = 18,96

    yang berarti nilainya lebih besar dari t tabel baik pada tingkat kepercayaan

    95% (df=1,67) dan tingkat kepercayaan 99% (df=2,39). Dengan kesimpulan
                                                                         35




    terima hipotesis Ha dan tolak Ho. yang berarti ada perbedaan yang sangat

    significant pendapatan uasahatani bagi petani sistim irigasi dengan

    pendapatan usahatani sisti tadah hujan.


2. Saran-saran

 a. Dalam upaya meningkatkan produksi dan pendapatan petani padi sawah di

    Kecamatan Simpang Ulim hendaknya pemerintah dapat melihat masalah

    petani terutama masalah irigasi dan harga saprodi maupun alat dan mesin

    pertanian yang sangat tinggi harganya, juga kepada seluruh petani dan

    komponen masyarakat lainnya agar dapat bekerja sama dalam menangani

    masalah usahatani padi sawah khususnya dalam rangka peningkatan

    produksi beras secara menyeluruh dan berkesinambungan.

 b. Perlu adanya pendidikan pada petani kelompok tani untuk dapat

    menerapkan sistem usahatani yang terpadu dengan melaksanakan kegiatan

    langsung di lapangan sehingga dapat memadukan antara teori dan

    kenyataannya.

 c. Diharapkan seluruh petani, pemerintah, swasta dan komponen masyarakat

    lainnya dapt bekerjasama dalam menangani masalah pangan khususnya

    peningkatan produksi beras secara menyeluruh bagi semua daerah yang

    berpotensi terhadap usahatani padi sawah.
                                                                        36




                            DAFTAR PUSTAKA


Anonymous, 2007. Pengelolaan Air Untuk Efisiensi Irigasi. Penerbit Balai
    Pustaka, Banda Aceh NAD.

Basri, Raden, M, 1996. Ilmu Tehnik Pengairan, Penerbit Pradana Paramita,
     Jakarta.

Hidayat, M. 2006. Peranan P3A Keujreun Blang Dalam Pengelolaan Irigasi,
    Penerbit, Dinas Pertanian Propinsi Banda Aceh, NAD

Hansen, Vaughen. 1998. Dasar-dasar dan Praktek Irigasi, Penerbit Erlangga
    Jakarta.

Mosher, AT, 1995, Menggerakkan dan Membangun Pertanian (Saduran
    Khisnandhi dan bharin Samad), Penerbit, Yasa Guna, Jakarta.

Mubyarto, 1996. Pengantar Ekonomi Pertanian. Penerbit LP3ES, Jakarta.

Pasaribu, Amudi,.1981. Pengantar Statistik. Ghali Indonesia. Jakarta

Suhardiyono,1998. Penyuluhan Petunjuk Bagi Penyuluhan Pertanian,
    Penerbi Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor.

Sunarto, R. 1996.Pengairan. Penerbit PT. Sorongan, Jakarta

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:990
posted:5/28/2011
language:Indonesian
pages:36
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl