Definisi - DOC by anamaulida

VIEWS: 1,250 PAGES: 6

									Definisi
Episiotomi adalah insisi perineum yang dimulai dari cincin vulva ke bawah,
menghindari anus dan muskulus spingter serta memotong fasia pervis, muskulus
konstrikter vagina, muskulus transversus perinei dan terkadang ikut terpotong serat
dari muskulus levator ani.




Berdasarkan tipe insisinya terdapat 3 jenis episiotomi :
1.Median :
 Insisi dimulai dari ujung terbawah introitus vagina sampai batas atas otot – otot
   sfingter ani.
                                         ]
 2.Mediolateral :
 Insisi dimulai dari ujung terbawah introitus vagina menuju ke belakang dan
 samping kiri atau kanan.
 3.Lateral


 Adapun keuntungan dan kerugian setiap jenis episiotomi :
 Episiotomi median :
Mudah diperbaiki (dijahit)
tidak akan mempengaruhi keseimbangan otot dikanan kiri dasar pelvis.
Kesalahan penyembuhan jarang
Insisi akan lebih mudah sembuh, karena bekas insisi tersebut mudah dirapatkan.
Tidak begitu sakit pada masa nifas.
Dispareuni jarang terjadi
Hasil akhir anatomik selalu bagus
Hilangnya darah lebih sedikit, didaerah insisi ini hanya terdapat sedikit pembuluh
   darah.
Perluasan ke sfingter ani dan kedalam rektum agak sering.
 Episiotomi Mediolateral :




 Lebih sulit memperbaikinya (menjahitnya)
 Insisi lateral akan menyebabkan distorsi (penyimpangan) keseimbangan dasar
    pelvis.
 Kesalahan penyembuhan lebih sering
 Otot – ototnya agak lebih sulit untuk disatukan secara benar (aposisinya sulit).
 Rasa nyeri pada sepertiga kasus selama beberapa hari
 Kadang – kadang diikuti dispareuni
 Hasil akhir anatomik tidak selalu bagus (pada 10% kasus)
 Terbentuk jaringan parut yang kurang baik
 Kehilangan darah lebih banyak
 Daerah insisi kaya akan fleksus venosus.
 Perluasan ke sfingter lebih jarang.




Sebelum melakukan episiotomi ada prosedur yang harus dilakukan :
Mempersiapkan alat
Memberitahukan pada ibu tentang apa yang akan dilakukan dan bantu agar ibu
   tetap tenang atau merasa tenang.
Melakukan tindakan desinfektan sekitar perineum dan vulva
Anestesi lokal caranya :
      oBahan anestesi (lidokain HCL 1% atau xilokain 10 mg/ml)
      oTusukkan jarum tepat dibawah kulit perineum pada daerah komisura
         posterior (fourchette).
      oArahkan jarum dengan membuat sudut 45 derajat kesebelah kiri atau kanan
         garis tengah perineum. Lakukan aspirasi.
      oSambil menarik mundur jarum suntik, infiltrasikan 5 – 10 ml lidokain 1% .
      oTunggu 1 – 2 menit agar efek anestesi bekerja maksimal sebelum
         episiotomi dilakukan.
Cara melakukan tindakan episiotomi adalah :




Pegang gunting yang tajam dengan satu tangan
Letakkan jari telunjuk dan tengah diantara kepala bayi dan perineum, searah
   dengan rencana sayatan.
Tunggu fase puncak his, kemudian selipkan gunting dalam keadaan terbuka
   diantara jari telunjuk dan tengah.
Gunting perineum, dimulai dari komissura posterior 45 derajat ke lateral (kiri atau
   kanan)
Lanjutkan pimpinan persalinan.




Perbaikan episiotomi median :
catgut kromik 00 atau 000 sebagai jahitan kontinyu untuk menutup mukosa
   vagina .
Dekatkan tepi – tepi potongan cincin hymen, jahitan dikencangkan dan dipotong.
   Selanjutnya tiga atau empat jahitan terputus catgut 00 atau 000 ditempatkan
   pada fasia dan otot perineum yang di insisi.
Jahitan kontinyu dibawa kebawah untuk menyatukan fasia
Penyempurnaan jahitan , dan jahitan kontinyu diarahkan keatas sebagai jahitan
   subkutikuler.
Alternatif lain penyempurnaan jahitan, beberapa jahitan catgut kromik 000
   terputus ditempatkan melalui kulit.
Perbaikan episiotomi mediolateral :




Catgut kromik 00 atau 000, sebagai jahitan kontinyu untuk menutup mukosa dan
   submukosa vagina.
Ketika mencapai cincin hymen, terus dilanjutkan hingga menyatukan ujung
   posterior fourchette dan labia mayora.
Jahitan dikubur dibawah kulit, dan kedua ujung sfingter vagina yang terpotong
   (kedua ujung otot bulbokavernosus) dipertemukan.
Otot perineum profunda termasuk levator ani didekatkan dengan jahitan terputus
Otot – otot perineum profunda disatukan dengan jahitan inversi terputus dengan
   memakai kromik catgut.
Selanjutnya dibuat suatu lapisan jahitan inversi terputus dengan menggunakan
   bahan yang sama untuk menyatukan otot perineum superfisialis.
Kulit perineum didekatkan dengan jahitan matras terputus menggunakan kromik
   catgut.
Penjahitan robekan perineum tingkat III :




Lakukan inspeksi vagina dan perineum untuk melihat robekan .
Jika ada perdarahan yang terlihat menutupi luka perineum, pasang tampon atau
   kasa ke dalam vagina.
Gunakan benang jahit ( kromik no 2/0 )
Tentukan dengan jelas batas luka robekan perineum.
Ujung otot sfingter ani yang terpisah oleh karena robekan, di klem dengan
   menggunankan pean lurus.
Kemudian tautkan ujung otot sfingter ani dengan melakukan 2 – 3 jahitan angka 8
   dengan catgut kromik 2/0 sehingga bertemu kembali.
Selanjutnya dilakukan jahitan lapis demi lapis seperti melakukan jahitan pada
   robekan perineum tingkat II.
Penjahitan robekan perineum Tingkat IV :
Gunakan benang jahit ( kromik 2/0 )
Tentukan dengan jelas batas luka robekan perineum.
Mula – mula dinding depan rektum yang robek dijahit dengan jahitan jelujur
   menggunakan catgut kromik no 2/0.
Jahi fasia perirektal dengan menggunakan benang yang sama shingga bertemu
   kembali.
Jahit fasia septum rektovaginal dengan menggunakan benang yang sama,
   sehingga bertemu kembali.
Ujung otot sfingter ani yang terpisah oleh karena robekan di klem dengan
   menggunakan pean lurus.
Kemudian tautkan ujung otot sfingter ani dengan menggunakan 2 – 3 jahitan 8
   dengan catgut kromik 2/0 sehingga bertemu kembali.
Selanjutnya dilakukan jahitan lapis demi lapis seperti melakukan jahitan pada
   robekan perineum tingkat II.
Komplikasi episiotomi adalah :
1.Nyeri post partum dan dyspareunia.




2.Rasa nyeri setelah melahirkan lebih sering dirasakan pada pasien bekas
   episiotomi, garis jahitan (sutura) episiotomi lebih menyebabkan rasa sakit.
   Jaringan parut yang terjadi pada bekas luka episiotomi dapat menyebabkan
   dyspareunia apabila jahitannya terlalu erat.
3.Nyeri pada saat menstruasi pada bekas episiotomi dan terabanya massa .
4.Trauma perineum posterior berat.
5.Trauma perineum anterior
6.Cedera dasar panggul dan inkontinensia urin dan feses
7.Infeksi bekas episiotomi, Infeksi lokal sekitar kulit dan fasia superfisial akan
   mudah timbul pada bekas insisi episiotomi.
8.Gangguan dalam hubungan seksual, Jika jahitan yang tidak cukup erat,
   menyebabkan akan menjadi kendur dan mengurangi rasa nikmat untuk kedua
   pasangan saat melakukan hubungan seksual.

								
To top