Saluran Pencernaan
Document Sample


1
Saluran Pencernaan (Traktus Digestivus)
1. Sebelum dilahirkan, traktus gastrointestinal tidak pernah menjalankan fungsi yang
sebenarnya.
2. Sebagian cairan amnion yang ditelan berikut materi seluler yang terkandung
didalamnya melalui aktivitas enzymatik dan bakteri dirubah menjadi mekonium.
Mekonium tetap berada didalam usus kecuali bila terjadi hipoksia hebat yang
menyebabkan kontraksi otot usus sehingga mekonium keluar dan bercampur dengan
cairan ketuban. Dalam beberapa kadaan keberadaaan mekonium dalam cairan amnion
merupakan bentuk kematangan traktus digestivus dan bukan merupakan indikasi
adanya hipoksia akut.
3. Pada janin, hepar berperan sebagai tempat penyimpanan glikogen dan zat besi
4. Vitamin K dalam hepar pada neonatus sangat minimal oelh karena pembentukannya
tergantung pada aktivitas bakteri. Defisiensi vitamin K dapat menyebabkan perdarahan
neonatus pada beberapa hari pertama pasca persalinan.
5. Proses glukoneogenesis dari asam amino dan timbunan glukosa yang memadai dalam
hepar belum terjadi saat kehidupan neonatus. Lebih lanjut, aktivitas kadar hormon
pengatur karbohidrat seperti cortisol, epinefrin dan glukagon juga masih belum efisien.
Dengan demikian, hipoglikemia neonatal adalah merupakan keadaan yang sering terjadi
bila janin berada pada suhu yang dingin atau malnutrisi.
6. Proses glukoronidasi pada kehidupan awal neonatus sangat terbatas sehingga bilirubin
tak dapat langsung dikonjugasi menjadi empedu. Setelah hemolisis fisiologis pada awal
neonatus atau adanya hemolisis patologis pada isoimunisasi nenoatus dapat terjadi kern
icterus.
2
Perubahan-perubahan dari organogenesis yang terjadi pada berbagai periode kehamilan :
Umur
Panjang Fetus Pembentukan Organ
Kehamilan
4 minggu 7,5 mm – 10 Rudimental mata, telinga, dan hidung.
mm
8 minggu 2,5 cm Hidung, kuping, jari-jemari mulai dibentuk, kepala
menekuk ke dada.
12 minggu 9 cm Daun kuping lebih jelas, kelopak mata melekat, leher
mulai berbentuk, alat kandungan luar terbentuk
namun belum terdiferensiasi.
16 minggu 16-18 cm Genetalia eksterna terbentuk dan dapat dikenal, kulit
tipis dan warna merah.
20 minggu 25 cm Kulit lebih tebal, rambut mulai tumbuh di kepala, dan
rambut halus (lanugo) tumbuh di kulit.
24 minggu 30-32 cm Kedua kelopak mata tumbuh alis dan bulu mata serta
kulit keriput. Kepala besar. Bila lahir dapat bernafas
tetapi hanya dapat bertahan hidup beberapa jam saja.
28 minggu 35 cm Kulit warna merah ditutupi verniks kaseosa. Bila lahir,
dapat bernafas, menangis pelan dan lemah, bayi
imatur.
32 minggu 40-43 cm Kulit merah dan keriput. Bila lahir, kelihatan seperti
orang tua kecil (little old man).
36 minggu 46 cm Muka berseri, tidak keriput. Bayi premature.
40 minggu 50-55 cm Bayi cukup bulan. Kulit licin, verniks kaseosa banyak,
rambut kepala tumbuh baik, organ-organ baik. Pada
pria, testis sudah berada dalam skortum, sedangkan
pada wanita, labia majora berkembang baik. Tulang-
tulang kepala menulang. Pada 80% kasus telah terjadi
center-osifikasi pada epifis tibia proksimal.
3
Proses berbicara tidak hanya melibatkan system pernapasan saja tetapi juga (1) pusat
pengatur saraf bicara spesifik dalam korteks cerebri (2) pusat pengatur pernapasan di otak
(3) struktur artikulasi dan resonansi pada rongga mulut dan hidung. Berbicara diatur oleh
2 fungsi mekanis (1) fonasi, yang dilakukan oleh laring dan (2) artikulasi yang dilakukan
oleh struktur pada mulut.
Fonasi
laring khususnya berperan sebagai penggetar (vibrator). Elemen yang bergetar adalah pita
suara, yang umumnya disebut tali suara. Selama pernapasan normal, pita akan terbuka
lebar sehingga aliran udara mudah lewat. Selama fonasi, pita menutup bersama-sama
sehingga aliran udara di antara mereka akan menghasilkan getaran.
Bila proses menelan dan bersuara terjadi bersamaan, dimana proses respirasi dan
menelan pada tahap faringeal terjadi dalam waktu yang sama, dapat menyebabkan
masuknya makanan/minuman ke saluran pernapasan.
Bronkhus dan trachea sedemikian sensitifnya terhadap sentuhan halus, sehingga benda
asing dalam jumlah berapapun atau penyebab iritasi lainnya akan menimbulkan refleks
batuk. Laring dan karina (tempat percabangan trachea) adalah yang paling sensitive, dan
bronkhiolus terminalis dan bahkan alveoli bersifat sensitive terhadap rangsang kimia yang
korosif. Impuls aferen yang berasal dari saluran napas terutama berjalan melalui n. vagus
ke medulla dan terjadilah refleks batuk.
Inhibisi pernapasan dan penutupan glottis merupakan bagian dari refleks menelan.
Menelan sulit atau tidak dapat dilakukan apabila mulut terbuka. Seorang dewasa
normal sering menelan selama makan juga di antara makan. Jumlah total menelan
perhari sekitar 600 kali = 200 kali sewaktu makan dan minum, 350 kali sewaktu terjaga
tanpa makan dan 50 kali sewaktu tidur.
Apabila inhibisi pernapasan tidak ada dan atau glottis tidak menutup atau tidak
menutup sempurna selama proses menelan, maka akan terjadi refleks tersedak. Hal ini
penting untuk melindungi selama pernapasan dari bolus dan bahan-bahan lainnya yang
4
seharusnya melalui saluran pencernaan. Tersedak dapat terjadi antara lain saat makan
sambil berbicara, makan terlalu cepat, dll.
Fungsi Motorik Lambung
x Menyimpan
x Mengaduk : gelombang konstriktor peristaltik lemah menuju antrum per 20 detik
x Mencerna : enzimatis
x Absorbsi: sangat sedikit, yaitu substansi sangat larut lemak seperti alkohol, obat-
obat tertentu (aspirin) tapi secara umum absorbsi belum terjadi
x Pengosongan lambung
Sekresi Lambung
x Mukus: pelumas dan menjaga mukosa
x Gastrin : merangsang pembentukan HCl dan pepsin
x HCl
membunuh kuman, melarutkan mineral, membantu perubahan pepsinogen menjadi
pepsin
x pepsin : mencerna protein
x lipase : mencerna lemak
x intrinsik faktor
membantu penyerapan Vit B12 untuk pembentukan eritrosit
Pengaturan Sekresi Lambung
1. Fase sefalik : sekresi terjadi bahkan sebelum makanan sampai lambung. Makin kuat
nafsu makan makin banyak sekresinya
2. Fase Gastrik
Rangsang regangan dinding lambung dan kimiawi makanan merangsang nukleus
motorik
dorsalis vagus dan sekresi gastrin
Kimiawi khusus merangsang gastrin : sekretagogue, alkohol, kafein
5
Rangsang vagus: sekresi pepsin, gastrin dan asam
Rangsang gastrin: meningkatkan sekresi asam lambung dan pepsin
Fase intestinal: keberadaan makanan pada bagian usus kecil merangsang sejumlah kecil
gastrin
Pengosongan Lambung
Dirangsang oleh: n.vagus, penuruna simpatis, alkohol, kafein, protein yang tercerna
sebagian, distensi dinding lambung →peningkatan kontraksi pompa pilorus → penurunan
resistensi spingter pilorus → peningkatan pengosongan lambung
Dihambat oleh Penurunan vagus, peningkatan simpatis, distensi duodenum, adanya
lemak, antikolinergik gastrointestinal, antasid, belladona →perlehahan kontraksi pompa
pilorus → peningkatan resistensi sfingter pilorus →penurunan pengosongan lambung
Pergerakan Usus
Kontraksi mencampur: regangan satu bagian akan menyebabkan kontraksi konsentris.
Panjang kontraksi 1 cm (segmentasi). Kontraksi segmen memotong chyme
Gerakan mendorong; gerakan segmentasi bendorong chyme ke tatub ileosekal dan
mendorong melewati katub tsb
Fungsi katub ileosekal: mencegah kembalinya fecal dari kolon ke usus halus
Sekresi dan Pencernaan di Usus kecil
1. Sekresi:
peptidase, maltase, lactase, sukrase, amilase, lipase, garam, air, mukus , hormon
kolesistokinin, GIP, sekretin Pencernaan enzimatis oleh enzim dari sekresi usus
sendiri juga menerima sekresi dari pankreas (tripsin, kimotripsin, amilase, lipase,
nuklease, carboxypeptidase, mukus) liver (empedu, bicarbonat)
2. Bicarbonat dari pankreas dan liver menetralkan asam lambung
3. Empedu mengubah lemak menjadi terlarut dalam air (water soluble)
4. Kolesistokinin : merangsang sekresi amilase pankreas dan kontraksi kantong
empedu
5. Sekretin : merangsang sekresi bikarbonat pankreas
6
Absorbsi Usus
1. Asam amino: masuk p. darah dengan transport aktif
2. Glukosa, gal;aktosa, fruktosa : masuk p. darah dengan transport aktif
3. Lemak
60-70 % dalam emulsi dengan garam empedu, diabsorsi dalam bentuk asam lemak
dan gliserol masuk ke dalam duktus limfatik
Absorbsi mineral di usus
1. Bicarbonat: diabsorsi oleh sel mucosal ketika kadar dalam lumen yang tinggi, dan
disekresi dalam lumen ketika kadarnya tinggi dalam darah
2. Calcium: diabsorbsi secara transport aktif dengan stimulus Vit D
3. Chlorid: dengan difusi pasif mengikuti ion natrium
4. Copper: Transport aktif
5. Besi
Transport aktif. Dipercepat oleh Vit.C. disimpan sementara di sel usus sebelum ke
plasma. Disimpan di hepar dalam bentuk feritin.
6. Phosphat: seluruh bagian intestin. Secara aktif dan pasif.
7. Kalium: Difusi pasif dan aktif
8. Natrium : difusi pasif dan aktif
Pengaturan sekresi pankreas
x Asam lambung melepaskan sekretin dari duodenum →peningkatan cairan pankreas
dan bikarbonat
x Lemak dan makanan lain merangsang pelepasan kolesistokinin →peningkatan
sekresi
x Rangsang Vagus →peningkatan sekresi enzim
Garam Empedu
x Dibuat di hepar 0,5 g per hari.
7
x Kolesterol (prekursor) →asam kolik, dikombinasi dengan glisin dan taurin →gliko/
tauro-asam empedu
x Fungsi emulsifikasi lemak dan membantu absorbsi lemak, mono gliserid, kolesterol,
dan lipid lain
x Tidak ada garan empedu :40 % lemak tak diabsorbsi →menurunkan vitamin larut
lemak
x 94% empedu diabsorbsi dan digunakan kembali
Komposisi empedu
Air 97,5 (%)
Garam empedu 1,1
Bilirubin 0,04
Kolesterol 0,1
Asam lemak 0,12
Lesitin 0,04
Mineral: Na, K, Ca, Cl, HCO3
Pengaturan sekresi empedu
Sekretin sedikit merangsang hepar.
Disimpan dan dikonsentrasikan sampai 12 kali di kantong empedu
Rangsang vagus: kontraksi lemah kantong empedu
Kolesistokinin menyebabkan kontraksi kandung empedu dan relaksasi kantong
empedu
Pengaturan sekresi usus halus
Rangsang setempat: berupa taktil oleh kimus(utama) dan iritasi
Pengaturan hormonal : sekretin dan Kolesistokinin
Efek toksin kolera
meningkatkan kecepatan sekresi ion Cl dan diikuti sekresi cairan, terutana di
jejunum
Hari pertama kolera dapat mengeluarkan 15 L cairan diare.
8
Toksin bacilus colon dan desentri meningkatkan sekresi cairan dengan cara sama
Respon rangsang selain hipersekresi juga terjadi hiperperistaltik
USUS BESAR
x Sekresi : mukus
x Aktifitas pencernaan tidak ada
x Absorbsi KH, protein, lemak, telah selesai. Absorbsi terjadi untuk air, elektrolit,
dan vitamin. Glukosa dan obat dapat diabsorbsi jika diberikan melalui rektum
x Iritasi akan mengakibatkan peningkatan sekresi air dan elektrolit
Pergerakan kolon
x Gerakan mencampur dan mendorong
x Kontraksi sfingter ani internus menghalangi rangsangan feses ke anus secara terus
menerus
x Sfingter ani eksternus dipersarafi n pudendus (saraf somatik) volumter
x Refleks defekasi terjasi oleh rangsang regang feses menimbulkan gelombang
peristaltik kolon dan rektum memaksa feses menuju anus.
Penyerapan air dan elektrolit
Setiap hari usus halus terisi sekitar 2000 ml cairan dari makanan dan minuman, 7000
ml sekresi dari mukosa saluran cerna dan kelenjar-kelenjar yang berkaitan. 98% cairan
diabsorbsi. Cairan yang diekskresi melalui feces adalah 200 ml. Hanya sejumlah kecil air
bergerak melalui mukosa lambung, tetapi air bergerak dalam 2 arah melalui mukosa usus
halus dan usus besar sebagai respon terhadap perbedaan osmotik.
Sebagian natrium berdifusi ke dalam atau ke luar usus halus tergantung pada beda
konsentrasi. Oleh karena membran luminal eritrosit dalam usus halus dan kolon permeabel
terhadap natrium dan membran basolateralnya mengandung Na, K ATP ase, Na juga
diserap secara aktif sepanjang usus halus dan usus besar.
Di dalam usus halus, transport aktif sekunder Na penting untuk penyerapan glukosa ,
beberapa asam amino, dan zat-zat lain.Adanya glukosa di dalam usus akan mempermudah
9
penyerapan kembali Na. Hal ini merupakan dasar fisiologis untuk pengobatan kehilangan
Na dan air pada diare dengan pemberian larutan yang mengandungNaCl dan glukosa
Refleks lapar :
Istilah “lapar” berarti keinginan terhadap makanan, dan berkaitan dengan sejumlah
perasaan obyektif. Misalnya, pada seseorang yang tidak makan selama berjam-jam,
lambung mengalami kontraksi berirama yang kuat yang di sebut kontraksi lapar. Kontraksi
ini menyebabkan rasa penuh atau perih di ulu hati dan kadang-kadang menyebabkan nyeri
yang di sebut sebagai perih perut karena lapar (hunger pangs).
Faktor yang mempengaruhi jumlah asupan makanan :
1. Pengaturan energi (pengaturan jangka panjang, berkaitan dengan cadangan makanan
dalam tubuh, kadar glukosa, asam amino dan lemak tubuh), yang berhubungan
terutama dengan pemeliharaan jangka panjang jumlah normal energi yang disimpan
dalam tubuh.
Jika cadangan energi tubuh jauh di bawah normal, maka pusat makan dipothalamus
dan daerah lain di otak menjadi sangat aktif, dan orang tersebut memperlihatkan rasa
lapar yang menigkat demikian juga dengan mencari makanan; sebaliknya jika
cadangan energi (teritama cadangan lemak) sudah berlimpah, maka orang tersebut
akan kehilangan rasa lapar dan menjadi kenyang.
2. Pengaturan pencernaan (pengaturan jangka pendek) yang berhubungan terutama
dengan mencegah kelebihan makan pada setiap waktu makan, sehingga mekanisme
pencernaan dan absorpsinya dapat bekerja pada kecepatan optimal dan tidak menjadi
terlalu berat secara periodik. Dipengaruhi oleh peregangan dan pengkerutan saluran
cerna/lambung, hormone saluran cerna gastrin dan kolesistokinin
3. Suhu
4. Palatabilitas (cita rasa)
5. Psikis
10
Refleks haus :
Asupan cairan diatur oleh mekanisme rasa haus, yang bersama dengan mekanisme
osmoreseptor-ADH, mempertahankan kontrol osmolaritas cairan ekstra seluler dan
konsentrasi natrium dengan tepat. Pusat rasa haus berada di sepanjang dinding
anteroventral dari ventrikel ketiga (yang juga meningkatkan pelepasan ADH) dan di
anterolateral dari nukleus preoptik.
Pengaturan rasa haus
Peningkatan rasa haus Penurunan rasa haus
Peningkatan osmolalitas Penurunan osmolalitas
Penurunan volume darah Peningkatan volume darah
penurunan tekanan darah Peningkatan tekanan darah
Peningkatan angiotensin II Penurunan angiotensin II
Kekeringan mulut Distensi lambung
Tersedak
Apabila inhibisa pernapasan tidak ada dan atau glottis tidak menutup atau tidak
menutup sempurna selama proses menelan, maka akan terjadi refleks tersedak. Hal ini
penting untuk melindungi selama pernapasan dari bolus dan bahan-bahan lainnya yang
seharusnya melalui saluran pencernaan. Tersedak dapat terjadi antara lain saat makan
sambil berbicara, makan terlalu cepat, dll.
o Muntah
Pengeluaran isi lambung secara ekspulsif melalui mulut dengan bantuan otot-otot
perut
o Terjadi karena respon lambung berlawanan dengan normal :penurunan tonus
esofagus bawah, fundus,dan korpus lambung dan peningkatan peristaltik antrun,
tonus pilorus dan duodenum
MUNTAH
Penyebab muntah
11
x Gangguan saluran cerna
x Gangguan metabolik
x Hipoksia
x Bau-bauan
x Gangguan keseimbangan
x Keracunan
x Obat
Mekanisme muntah
1. Rangsangan reseptor labirin
2. Impuls ditransmisi terutama melalui inti-inti vestibuler ke serebellum
3. Menuju zona pencetus kemoreseptor
4. Akhirnya ke pusat muntah medula oblongata
Tanda-tanda penyakit gastrointestinal
1. Nyeri
2. Kesulitan makan (mual, muntah, gangguan makan)
3. Odyniphagia (nyeri sewaktu menelan)
4. Anorexia (kehilangan nafsu makan)
5. Gangguan pergerakan bolus makanan (diare, konstipasi)
6. Perdarahan
12
Kepustakaan
Ganong WF, 2003, Review of Med. Phys, 21sd Ed.,
Guyton AC and Hall JE, 2000, Textbook of Med. Phys, 10th Ed, Saunders Philadelphia
Price, SA and Wilson, LM., 1995, Patofisiologi Konsep klinis Proses-proses Penyakit, edisi 4
buku 1, EGC