BAB I by anamaulida

VIEWS: 130 PAGES: 6

									                                                                                1




                                    BAB I

                              PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

      Di Indonesia frekuensi terjadinya aborsi sangat sulit dihitung secara akurat

   karena aborsi buatan sering terjadi tanpa dilaporkan, akan tetapi berdasarkan

   perkiraan dari BKKBN ada sekitar lebih dari 60.000 kasus pengguguran

   kandungan oleh Dr. Bernard Natharson yang dikenal sebagai raja aborsi dan

   telah memimpin tindfakan aborsi yang merupakan pembunuhan yang biadab.

   (http://www.pikiranrakyat.com/med/hot/topic.2007).

      Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia

   kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.

   Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu abortus spontan dan abortus

   buatan. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak diketahui

   faktor alamiah (Mochtar, 1998). Abortus spontan terdiri dari abortus komplit

   atau keguguran lengkap, abortus incomplitus atau keguguran bersisa, abortus

   insipens atau keguguran sedang berlangsung, abortus iminens atau keguguran

   membakat, missed abortus atau kematian janin lebih kurang sudah dua bulan

   dan tidak diketahui, abortus habitualis atau keguguran berulang dan abortus

   septik atau keguguran berdasarkan infeksi. Missed abortion adalah keadaan

   dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam rahim dan tidak

   dikeluarkan selama dua bulan atau lebih (Mochtar, 1998). Penyebab missed

   abortion   adalah   pengaruh   hormon     progesteron,   pemakaian     hormon
                                                                         2




progesteron pada abortus iminens mungkin juga dapat menyebabkan missed

abortion (Prawihardjo, 1994). Aborsi tidak hanya menimbulkan penderitaan

dan kematian janin dalam rahim, aborsi dapat mengancam keselamatan hidup

wanita yang menggugurkan kandungannya, sejarah menunjukkan bahwa para

wanita yang pernah melakukan aborsi kini mengalami gangguan psikologis,

mental rohani, resiko jasmani, depresi, gangguan kejiwaan dan kematian sang

ibu tak jarang menjadi akhir sebauh upaya aborsi.

   Aborsi juga menimbulkan sejumlah cacat tubuh seperti perdarahan,

sobeknya leher rahim, perforasi pada kandungan, usus maupun kandungan

kemih dan aborsi dapat mendatangkan penyakit-penyakit yang tak terduga

seperti anemia, radang selaput perut, radang urat darah ataupun radang

panggul yang berkaitan dengan terjadinya kemandulan. (Sumber Acuan : John

Ankerberg, John Weldon, 1995; The Facts on Abortion).

   Berdasarkan catanan Medical Record Badan Pelayanan Kesehatan Rumah

Sakit Umum Pemerintahan Kota Langsa tercatat angka prevalensi penderita

abortus sebanyak 20 orang data pada Juni 2006 sampai dengan Juni 2007

sedangkan penderita missed abortus sebanyak 8 orang (40 %) dari jumlah

pasien abortus yang dirawat di Ruang Kupula pada tahun 2006 insiden missed

abortion menurun menjadi 7 orang.

   Sedangkan menurut data yang diperoleh dari Dinas kesehatan Kota

Langsa, klien dengan kasus aborsi sebanyak 10 orang selama periode Juni

2006 sampai Juni 2007.
                                                                             3




   Meskipun angka kejadian pada missed abortion sangat minimal, tetapi

missed abortion harus ditangani karena dampak yang diakibatkan dari aborsi

yaitu tingginya kejadian komplikasi hipofibrinogenemia yang berlanjut

dengan gangguan pembekuan darah dan masalah yang akan muncul adalah

perdarahan pada kehamilan muda diserta shock dan anemia.

   Peran perawat dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada pasien

dengan missed abortion sebaiknya lebih berfokus pada upaya promotif seperti

pemberian   pendidikan   kesehatan   kepada      klien   dan   keluarga   yaitu

menganjurkan    untuk    penurunan   aktifitas    yang    berat   yang    dapat

mengakibatkan abortus, upaya perawat preventif perlu meningkatkan motivasi

klien dan keluarga untuk memantau antenatal care secara rutin, dan melakukan

imunisasi yang teratur pada saat hamil, disamping itu dalam upaya perawat

kuratif perlu adanya kolaborasi dengan tim medis dan yang lainnya untuk

merekomendasikan tindakan kuretasi dan upaya secara mandiri mengajarkan

klien untuk tirah baring total, dengan meningkatkan asupan cairan, sedangkan

peran perawat pada rehabilitatif adalah bagaimana cara pemulihan kembali

pasien yang telah mengalami aborsi dengan mencegah terjadinya aborsi

berikutnya dan kemandulan.

   Berdasarkan uraian dan penjelasan diatas dan mengingat bahaya yang

dapat ditimbulkan yaitu tingginya komplikasi hipofibrinogenemia yang

berlanjut dengan gangguan pembekuan darah dan akan mengakibatkan

perdarahan pada kehamilan dan kemandulan maka penulis merasa sangat

tertarik untuk melakukan pendokumentasian dalam bentuk karya tulis ilmiah
                                                                      4




   dengan judul “ Asuhan Keperawatan pada Ny. R Dengan Kasus Missed

   Abortion di Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum Pemerintahan

   Kota Langsa “.



B. Tujuan Penulisan

   1. Tujuan Umum

             Untuk memperoleh gambaran dan informasi Asuhan Keperawatan

      dengan kasus Missed Abortion di Badan Pelayanan Kesehatan Rumah

      Sakit Umum Pemerintahan Kota Langsa.

   2. Tujuan Khusus

      a. Melakukan pengkajian pada Ny. R dengan kasus Missed Abortion di

         Ruang Kupula Rumah Sakit Umum Pemerintahan Kota Langsa.

      b. Menegakkan diagnosa keperawatan pada Ny. R dengan kasus Missed

         Abortion di Ruang Kupula Rumah Sakit Umum Pemerintahan Kota

         Langsa.

      c. Menyusun rencana keperawatan berdasarkan diagnos keperawatan

         pada Ny. R dengan kasus Missed Abortion di Ruang Kupula Rumah

         Sakit Umum Pemerintahan Kota Langsa.

      d. Melakuan tindakan keperawatan pada Ny. R dengan kasus Missed

         Abortion di Ruang Kupula Rumah Sakit Umum Pemerintahan Kota

         Langsa.

      e. Melakukan evaluasi keperawatan pada Ny. R dengan kasus Missed

         Abortion di Rumah Sakit Umum Pemerintahan Kota Langsa.
                                                                          5




C. Tehnik Pengumpulan Data

  1. Studi Kepustakaan, meliputi pengumpulan data-data dan judul buku

     (Rencana Perawatan Maternal/Bayi, Sinopsis Obstetri, Kapita Selekta

     Kedokteran, Buku Acuan Nasional/Pelayanan Kesehatan Maternal Dan

     Neonatal, Ilmu Kebidanan) dan literatur yang digunakan dalam menyusun

     karya tulis ilmiah dengan kasus Missed Abortion Di Badan Pelayanan

     Kesehatan Rumah Sakit Umum Pemerintahan Kota Langsa.

  2. Studi Kasus, menjelaksan tentang data yang telah dikumpulkan dari Ny. R

     dan keluarga atau sumber informasi lain. Adapaun tehnik pengumpulan

     data yang penulis lakukan adalah sebagai berikut :

     a. observasi yang penulis lakukan dengan pengamatan langsung terhadap

         penderita untuk melihat keadaan dan perkembangan klien secara

         umum.

     b. Wawancara dengan klien, tim medis dan keluarga untuk mendapatka

         kondisi klien secara menyeluruh baik biologis, psiko sosial, dan

         spiritual.

     c. Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui data fisik klien dengan

         cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi.

     d. Dalam pemeriksaan diagnostik yang penulis dapatkan melalui

         pemeriksaan golongan darah dan normal darah dalam tubuh.
                                                                                 6




D. Sistematika Penulisan

      Adapun sistematika penulisan karya tulis ilmiah terdiri dari 5 bab yaitu

      BAB I ; Pendahuluan yang berisikan latar belakang, tujuan penulisan,

   tehnik pengumpulan data dan sistematika penulisan.

      BAB II ; Tinjauan teoritis berisikan konsep dasar yang meliputi

   pengertian, etiologi, patofisiologi, gambaran klinis, komplikasi, pemeriksaan

   diagnostik, penatalaksanaan baik medis maupun perawatan dan Asuhan

   Keperawatan    meliputi   pengkajian,    diagnosa    keperawatan,    intervensi

   keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi.

      BAB III ; Tinjauan kasus meliputi pengkajian, analisa data diagnosa

   keperawatan, perencanaan keperawatan, implementasi, dan evaluasi dari

   tindakan keperawatan yang dilakukan.

      BAB IV ; Membahas tentang kesenjangan yang akan terjadi antara

   tinjauan teoritis dan tinjauan kasus serta pemecahan permasalahan.

      BAB V ; Penutup berisikan kesimpulan dan saran yang bertujuan kepada

   klien dan masyarakat.

								
To top