Docstoc

AISYAH AKPER

Document Sample
AISYAH AKPER Powered By Docstoc
					                                             BAB I

                                      PENDAHULUAN



           Allah     SWT      telah    menjadikan       manusia      masing-masing   saling

membutuhkan satu sama lain, supaya mereka tolong-menolong tukar-menukar,

keperluan dalam segala urusan kepentingan hidup masing-masing baik dengan

jalan jual-beli, sewa-menyewa, bercocok tanam, atau perusahaan dan lain-lain,

baik dalam urusan kepentingan sendiri maupun untuk                     kemaslahatan umum.

Dengan cara demikian kehidupan masyarakat menjadi teratur dan subur, pertalian

yang satu dengan yang lain pun menjadi teguh. Akan tetapi, sifat loba dan tamak

tetap ada pada manusia, suka mementingkan diri sendiri supaya hak masing-

masing jangan sampai tersia-sia, dan juga menjaga kemaslahatan umum agar

pertukaran dapat berjalan dengan lancar dan teratur. Oleh sebab itu, agama

memberi peraturan yang sebaik-baiknya Karena dengan teraturnya muamalat,

maka penghidupan manusia jadi terjamin pula dengan sebaik-baiknya sehingga

perbantahan dan dendam mendendam tidak akan terjadi.1

           Nasehat Lukmanul Hakim kepada anaknya “ Wahai anakku ! berusahalah

untuk menghilangkan kemiskinan dengan usaha yang halal. Sesungguhnya orang

yang berusaha dengan jalan yang halal itu tidaklah akan mendapat kemiskinan,

kecuali apabila dia telah dihinggapi oleh tiga macam penyakit : 1. Tipis

kepercayaan agamanya, 2. Lemah akalnya, 3. Hilang kesopanannya”.




1
    Fiqih Islam Bab VII Hal. 278 Muamalat, Jual – Beli H. Sulaiman Rasjid



                                                 1
       Jadi, yang dimaksud dengan Muamalat adalah tukar-menukar barang atau

sesuatu yang memberi manfaat dengan cara yang ditentukan seperti jual beli,

sewa-menyewa, upah-mengupah, pinjam-meminjam urusan bercocok tanam,

berserikat dan usaha lainnya.




                                     2
                                   BAB II

                       HUKUM-HUKUM MUAMALAT



1. Aturan Jual-Beli

      Jual beli adalah menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan

   cara yang tertentu atau akad

   Firman Allah Surat Al-Baqarah 275.




   Artinya :
   “Padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

   Firman Allah Surat An-Nisa ayat 29.

                                                 
                                     
          
                                          
   Artinya :
   ” Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil,

   kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di

   antara kamu”.



2. Rukun Jual – beli

   1. Penjual dan pembeli syaratnya adalah :




                                         3
   a. Berakal, agar dia tidak terkecoh. Orang yang gila atau bodoh tidak sah

       jual-belinya

   b. Dengan kehendak sendiri bukan dipaksa

   c. Tidak mubazir atau pun boros, sebab harta orang yang mubazir itu

       ditangan walinya.

   d. Baligh, berumur 15 tahun keatas atau dewasa.



2. Uang dan benda yang dibeli syaratnya adalah

   a. Suci, barang najis tidak sah dijual dan tidak boleh dijadikan uang

       untuk dibelikan, seperti kulit binatang atau bangkai yang belum

       disamak.

   b. Ada manfaatnya.      Tidak boleh menjual sesuatu yang tidak ada

       manfaatnya dilarang pula mengambil tukarannya karena hal itu

       termasuk dalam arti menyia-nyiakan atau memboroskan harta yang

       terlarang.

   c. Barang itu dapat diserahkan. Tidak sah menjual suatu barang yang

       tidak dapat diserahkan kepada yang membeli misalnya ikan dalam laut,

       barang rampasan yang masih berada ditangan yang merampasnya,

       barang yang sedang dijaminkan sebab semua itu mengandung tipu

       daya atau kekecohan.

       Dari Abu Hurairiah. Ia berkata “ Nabi Muhammad SAW melarang

       memperjualbelikan yang mengandung tipu daya (Riwayat Muslim).




                                   4
   d. Barang tersebut merupakan kepunyaan si penjual, kepunyaan yang

      diwakilinya atau yang mengusahakan

   e. Barang tersebut diketahui oleh si penjual dan si pembeli zat kadar,

      bentuk atau ukuran, dan sifat-sifatnya jelas sehingga diantara keduanya

      tidak akan terjadi kekecohan.



3. Lafadzh Ijab dan Kabul

   Ijab adalah perkataan penjual umpamanya “ Saya jual barang ini sekian”

   Kabul adalah ucapan si pembeli “ Saya terima atau saya beli dengan harga

   sekian”. Contoh jual beli yang tidak sah karena kurang rukun atau

   syaratnya :

   1. Mencampurkan hewan betina dengan hewan jantan pencampuran

      ditetapkan dengan harga yang tertentu untuk sekali campur. Jadi

      menjual air mani jantan ini tidak sah menurut cara jual beli karena

      tidak diketahui kadarnya, juga tidak dapat diserahkan.

   2. Menjual suatu barang yang baru dibelinya sebelum diterima karena

      miliknya belum sempurna. Tanda sesuatu yang baru dibeli dan belum

      diterimanya adalah : barang itu masih dalam tangungan si penjual.

      Berarti kalau barang itu hilang, sipenjual harus menggantinya. Sabda

      Rasullullah SAW : “ Janganlah engkau menjual sesuatu yang engkau

      beli sebelum engkau terima “ (Riwayat Ahmad dan Baihaqi).




                                      5
3. Menjual buah-buahan sebelum nyata atau pantas dimakan karena

   buah-buahan yang masih kecil sering rusak atau busuk sebelum

   matang.

4. Beberapa jual beli yang sah tetapi dilarang

   Mengenai jual-beli yang tidak diizinkan oleh agama disini akan

   diuraikan beberapa cara saja sebagai contoh perbandingan bagi yang

   lainnya yang menjadi sebab pokok timbulnya larangan adalah

   menyakiti si penjual pembeli atau orang lain, menyempitkan gerakan

   pasaran, merusak ketentraman umum.

   a. Membeli barang yang harga yang lebih daripada harga pasar,

       sedangkan ia tidak menginginkan barang itu, tetapi semata-mata

       supaya orang lain tidak bisa membeli barang itu.

   b. Membeli barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam

       masa khiyar.

   c. Mencegah orang-orang yang datang dari desa diluar kota, lalu

       membeli barangnya sebelum mereka sampai ke pasar dan sebelum

       mereka mengetahui harga pasar.

   d. Membeli barang untuk ditahan agar dapat dijual dengan harga yang

       lebih mahal. Sabda Rasullullah SAW : “ Tidak ada orang yang

       menahan barang kecuali orang yang durhaka atau salah “ . (H.R.

       Riwayat Muslim).




                                6
     e. Menjual sesuatu barang yang berguna tetapi kemudian dijadikan

         alat maksiat oleh yang membelinya. Firman Allah (Surat Al-

         Maidah ayat 2)

     f. Jual beli yang diserta tipuan. Berarti dalam urusan jual-beli ada

         tipuan, baik dari pihak pembeli maupun dari pihak penjual, pada

         barang atau pun ukuran dan timbangannya.



4. Khiyar

         Khiyar artinya boleh memilih antara dua meneruskan akad jual beli

  atau mengurungkan menarik kembali tidak jadi jual beli. Diadakan khiyar

  oleh syara’ agar kedua orang yang berjual beli dapat memikirkan

  kemaslahatan masing-masing dari jauh, supaya tidak akan terjadi

  penyesalan dikemudian hari karena merasa tertipu. Khiyar ada 3 macam :

  1. Khiyar Majelis artinya si pembeli dan si penjual boleh memilih antara

     dua perkara tadi selama keduanya masih tetap berada di tempat jual

     beli. Habislah Khiyar Majelis apabila : a. keduanya memilih akan

     meneruskan akad b. Keduanya terpisah dari tempat jual beli.

  2. Khiyar Syarat artinya khiyar itu dijadikan syarat suatu akad oleh

     keduanya atau oleh salah seorang, seperti kata si penjual “ Saya jual

     barang ini dengan harga sekian dengan syarat Khiyar dalam tiga hari

     atau kurangh dari tiga hari.




                                    7
       3. Khiyar Aibih atau Cacat artinya si pembeli bolem mengambilkan

          barang yang dibelinya apabila pada barang itu terdapat suatu catat

          yang mengurangi kualitas barang itu.



   5. Membatalkan jual beli

       Apabila terjadi penyesalan diantara dua orang yang berjual beli disunatkan

       atas yang lain membatalkannya. Akad jual beli diantara keduanya. Abu

       Hurairiah “ Telah menceritakan hadits tersebut bahwa nabi SAW telah

       bersabda barang siapa mencampur jual-belinya terhadap orang yang

       menyesal maka Allah akan mencabut kejatuhannya atau kerugian

       dagangnya”. Riwayat Bazzar.



   6. Hukum – hukum jual beli

       1. Mubah, merupakan asal hukum jual-beli

       2. Wajib, umpamanya wali menjual harta anak yatim apabila terpaksa

       3. Haram, sebagaimana yang telah diterangkan pada rupa-rupa jual beli

          yang dilarang.

       4. Sunat, misalnya jual beli kepada family atau sahabat yang dikasihi dan

          kepada orang yang sangat membutuhkan barang itu.



Riba

Asal makna menurut bahasa Arab adalah lebih atau bertambah. Adapun yang

dimaksud dengan istilah Syara’ adalah akad yang terjadi dengan penukaran yang




                                       8
tertentu, tidak diketahui sama atau tidaknya menurut aturan syara’ atau terlambat

menerimanya. Beberapa macam riba menurut pendapat sebagian ulama, riba itu

ada 4 macam :

1. Riba Fadli (Menukarkan dua barang yang sejenis dengan tidak sama).

2. Riba Qardi (Hutang dengan syarat ada keuntungan bagi yang member hutang)

3. Riba Yad (Berpisah dari tempat akad sebelum timbang terima).

4. Riba Nasa (Disyaratkan salah satu dari kedua barang yang dipertukarkan

    ditangguhkan penyerahannya).

Sebab terjadinya riba adalah pada utang piutang, sedangkan pada jual beli tidak

terjadi riba.



Beberapa ayat dan hadits yan melarang riba

1. Firman Allah SWT Surat Ali Imran Ayat 130

                                       
                                     
                            
                                    
                                           
                                                              
    Artinya :
    ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan

    berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat

    keberuntungan”.




                                         9
2. Firman Allah Al baqarah 275 :

                  
                    
   Artinya :
   “Padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

   Firman Allah Al baqarah 276 :

                                       
                    
   Artinya :
   ” Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah ”.



Serikat (Perseroan)

1. Serikat innan (serikat harta) artinya akad dari dua orang atau lebih untuk

   berserikat harta yang ditentukan oleh keduanya dengan maksud mendapat

   keuntungan atau tambahan, dan keuntungan itu untuk orang yang berserikat.



Rukun Serikat :

1. Ada sigatnya (lafadz akad)

2. Ada orang yang berserikat

3. Ada pokok pekerjaannya.




                                     10
Syarat Lafadz

Kalimat akad hendaklah mengandung arti izin buat menjalankan barang

perserikatan. Syarat menjadi anggota perkongsian :

a. Berakal

b. Baligh berumur 15 tahun

c. Merdeka dan dengan kehendaknya sendiri



Syarat Modal Perkongsian

a. Modal hendaklah berupa uang (emas atau perak) atau barang yang ditimbang

   atau ditakar, misalnya beras, gula dan lain-lain.

b. Dua barang modal itu hendaklah dicampurkan sebelum akad



2. Serikat Kerja

   Yang dimaksud dengan serikat kerja adalah dua orang tenagaahli atau lebih,

   bermufakat atas suatu pekerjaan supaya keduanya sama-sama mengerjakan

   pekerjaan itu.



Hukum serikat

       Mengenai serikat yang pertama (serikat inan) para ulama telah bersepakat

tentang sahnya hanya ada sedikit perbedaan paham tentang syarat-syarat dan




                                        11
cara-caranya. Adapun yang kedua (serikat kerja). Menurut Mazhab Syafi’i tidak

sah dan tidak boleh tetapi mazab yang lain berpendapat boleh dan sah.



Qirad

Qirad ialah memberikan modal dari seseorang kepada orang lain untuk modal

usaha, sedangkan keuntungan untuk keduanya menurut perdamaian (perjanjian)

antara keduanya sewaktu akad, dibagi dua atau tiga.

Rukun qirad

1. Harta atau modal

2. Pekerjaan

3. Keuntungan

4. Yang punya modal dan yang bekerja atau pekerja



Cara bekerja

Pekerja hendaklah bekerja dengan ikhlash tidak boleh mengutangkan barang,

kecuali dengan izin yang punya modal, dan tidak boleh membelanjakan uang

qirad untuk dirinya sendiri.



Musaqqah (Paroan Kebon)

Ialah kerjasama (syirkah) antara pemilik kebun dengan pemelihara kebun dengan

perjanjian bagi hasil (production sharing) yang jumlahnya ditentukan menurut

kesepakatan bersama.

Rukun Musaqah




                                       12
1. Baik pemilik kebun maupun tukang kebun keduanya hendaklah orang yang

   sama-sama berhak ber-tasarruf atau membelanjakan harta keduanya.

2. Kebun, yaitu semua pohon yang berbuah, boleh diparokan, demikian juga

   hasil pertahun boleh pula diparokan.

3. Pekerjaan hendaklah ditentukan masanya, misalnya satu tahun, dua tahun atau

   lebih, sekurang-kurangnya kira-kira menurut kebiasaan dalam masa itu kebun

   sudah mungkin berbuah. Pekerjaan yang wajib dikerjakan oleh tukang kebun

   ialah semua pekerjaan yang bersangkutan dengan penjagaan kerusakan dan

   pekerjaan untuk buah seperti menyiram dan merumput dan mengawinkannya.

4. Buah. Hendaklah ditentukan bagian masing-masing (yang punya kebun dan

   tukang kebun, misalnya 1/2, 1/3, atau berapa saja asal berdasarkan

   kesepakatan keduanya pada waktu akad.



Muzaraah dan Mukhabarah

Muzaraah adalah kerjasama antara pemilik tanah (sawah atau ladang) dengan

penggarap tanah dengan perjanjian bagi hasil yang jumlahnya menurut

kesepakatan bersama. Pada umumnya paroan, dan bibit (benihnya) dari pihak

penggarap. Jika benih atau bibitnya dari pihak pemilik tanah maka namanya

Mukhabarah.




                                      13
                                 BAB III

                       KESIMPULAN DAN SARAN



1. KESIMPULAN

  - Setiap orang yang melakukan jual-beli harus dengan rasa suka sama suka

   tanpa paksaan dan keputusan atau keinginan bersama. Jual-beli juga harus

   mempunyai syarat serta rukun, karena tanpa syarat dan rukun maka jual-beli

   itu tidak akan sempurna.

  - Allah berfirman : ” Janganlah kamu memakan harta sesama kamu dengan

   jalan yang salah melainkan dengan perniagaan diatas sukarela satu sama

   lain” (S. An-Nisa ayat 29)

   ”Dihalalkan oleh Allah berjual beli dan diharamkannya Riba”. (S. Al-

   Baqarah ayat 275)

   Disebutkan oleh Allah tentang jual-beli pada bukan satu tempat dari

   tempatnya yang menunjukkan atas diperbolehkan berjual-beli itu. Maka

   mungkin dihalalkan oleh Allah azza wa jalla berjual beli itu dengan dua

   makna :

   1. Salah satu dari dua makna, bahwa dihalakannya setiap berjual beli yang

       berjual beli diantara dua orang, yang boleh berurusan, ada yang

       diperjualbelikannya, dengan sukarela daripada keduanya.

   2. Bahwa Allah azza wa jalla berjual beli, apabila dari ada dari yang tidak

       dilarangoleh Rasulullah SAW yang menjelaskan dari Allah azza wa jalla

       akan makna yang dikehendakinya. Maka adalah ini dari jumlah yang




                                    14
               ditetapkan oleh Allah akan fardlu-Nya dengan kitab-Nya. Ia menjelaskan

               bagaimana hukum itu dengan lisan atau                          dari umum yang

               dikehendakinya akan khusus. Maka Rasulullah SAW menjelaskan apa

               yang dimaksudkan dengan penghalalannya dan yang diharamkannya

               atau yang masuk dalam keduanya.



      - Kumpulan yang boleh dari setiap jual-beli itu dari yang nanti atau sekarang

        dan apa yang lazim dari nama jual-beli, dengan cara bahwa tidak lazimlah

        sipenjual dan si pembeli sehingga keduanya sepakat untuk berjual-beli

        dengan ridha keduanya pada jual-beli itu. Apabila si penjual dan sipembeli

        sudah menyepakati akad maka sahlah jual beli itu dan tidak boleh baginya

        mengembalikan kecuali dengan khiyar (janji boleh memilih antara

        meneruskan atau tidak meneruskan jual beli) atau ada kekurangan yang

        didapatinya atau syarat yang diisyaratkannya. Dan khiyar melihat manakala

        tidak ada maka tidaklah terjadi berjual beli diantara kedua orang berjual beli

        itu2



2. SARAN

      - Setiap Umat Islam diwajibkan untuk mengetahui dan mempelajari serta

        mengamalkan hukum syariah Ibadah yang salah satunya berisikan hukum-

        hukum Muamalat (Hukum Jual-beli).



2
    Khiyar melihat, artinya : memilih jadi atau tidak jadinya berjual beli sesudah melihat barang itu.
    Seharusnya dilihat dulu apa yang akan dibelikan. (Kitab berjual beli Al-UMM/Kitab Induk
    karangan Al-Imam Asy-Syafi’i R.A)



                                                  15
- Islam mengajarkan cara berniaga (berdagang) yang sebenarnya menurut

 aturan-aturan Islam itu sendiri. Tinggal kita sendiri sebagai umat Islam

 tersebut untuk mengamalkannya.

- Penulis mengaharapkan kepada seluruh pembaca Makalah ini, walaupun

 hanya beberapa butir dari Ilmu Islam yang diambil tentang hukum

 Muamalat, namun para pembaca bisa menerapkan dan mengamalkannya

 dalam perniagaan.




                                  16
                            DAFTAR PUSTAKA



1. Kifayatul Achyar oleh Muhammad Taqiuddin

2. Fiqh ala Mazhab Arba’a oleh Panitia Negara di Mesir

3. Mu’ainul Mubin oleh Abdul Hamid Hakim

4. Al-Mahallil Syarah Minhaj Thalibin oleh Jalaluddin

5. Al-um Karangan Imam syafi’i

6. Kitab Janazah keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah

7. Muqaranatul Mazahib (Muzakirat Perguruan tinggi Al-Azhar) oleh Thaha

   Mustafa Habib

8. Tarikh Tasyri’Islami (Muzakirat Perguruan Tinggi Al – Azhar) Karangan

   Abdur Rachman Taj dan Muhammad Ali Sabisi

9. Mir-atul Haramian oleh Ibrahim Rif’at Basya

10. Muqaddimah Ibnu Khaldun

11. Shahih Bukhari

12. Shahih Muslim




                                      17
                               BIBLIOGRAPHY



       Nur Aisyah Dewi, Lahir di Julok 01 Januari 1988, bertempat tinggal di

Desa Tanjung Genteng. Peran sebagai ketua didalam pembuatan atau penyusunan

Makalah Syariah Ibadah yang berjudul “Hukum-hukum Muamalat”. Beliau

menyusun Makalah ini tidak seorang diri, ada beberapa orang/teman-teman yang

membantunya. Adapun teman-teman yang sangat membantu dalam penyusunan

Makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Ummul Khairina, lahir di Idi tanggaol 10 Juni 1989, NIM.0701062

2. Yuni Shara, lahir di Bayeun, 15 April 1989, NIM.0701063

3. Sri Murfida, lahir di Peureulak, tanggal 07 Maret 1987, NIM.0701061

4. Marlina, lahir di Peureulak, tanggal 15 Maret 1989, NIM.0701047

5. Sarita, lahir di Telaga Meuku 24 Mei 1988, NIM.0701059




                                       18

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:103
posted:5/28/2011
language:Malay
pages:18
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl