Docstoc

Kuliah Rematologi

Document Sample
Kuliah Rematologi Powered By Docstoc
					OSTEOARTRITIS
Dr.Savita Handayani, SpPD

  BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
   FAKULTAS KEDOKTERAN UISU
 Penyakit sendi degeneratif yg berkaitan dgn kerusakan
  kartilago sendi

 Plg sering mengenai lutut, panggul, tulang belakang, kaki

 Usia > 60 thn  hampir seluruhnya mengalami prubahan
  kartiago lutut

 Prevalensi OA lutut (radiologis) di Indonesia pd usia
  40 – 60 thn : ♂ 15,5 %, ♀ 12,7 %

 Gambaran klinis sangat heterogen akibat interasksi
  faktor konstitusional & lingkungan
FAKTOR RISIKO
 Umur  faktor resiko yg terkuat
 Jenis kelamin  Usia > 50 thn: ♀ > ♂
 Suku Bangsa
 Genetik
 Kegemukan & Penyakit Metabolik
 Cedera sendi
Kelainan pertumbuhan
 Faktor lain
GEJALA DAN TANDA
   • Nyeri
   • Kaku pagi
   • Ngilu pada saat udara dingin
   • Krepitasi
   • Pergerakan terbatas
   • Perubahan bentuk (deformitas)
   • Perubahan gaya berjalan
   • HEBERDEN’S Nodes
   • BOUCHARD’S nodes
   • Inflamasi setempat
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Radiologis
Gambaran yg menyokong Dx OA :
 Penyempitan celah sendi yg asimetris
 Peningkatan densitas (sklerosis) tulang subkondral
 Kista tulang
 Osteofit pd pinggir sendi
Perubahan struktur normal sendi
MRI :
Dilihat perubahan rawan , tulang subchondral, meniscus

SCINTIGRAFI :
Perubahan tulang subchondral

ARTHROSKOPI :
Melihat langsung permukaan sendi


LABORATORIUM
 Biasanya tidak banyak berguna
 Darah tepi ( Hb, lekosit, LED) dlm batas normal
 Imunologis ( ANA, Rh factor & Complement) : Normal
 Bila disertai peradangan  cairan sendi :  viskositas,
  pleiositosis,  sel peradangan,  protein
         SENDI NORMAL vs. OA
  Lutut Normal       Lutut Osteoartritik

                          penebalan kapsul
kapsul
                         Pembentukan kista
kartilago                   sklerosis tulang
                                 subkondral
sinovium
                         fibrillated cartilage

tulang                    hipertrofi sinovial

                      pembentukan osteofit
• Diet khusus tidak perlu
• Pemakaian alat bantu
      (tongkat penyangga, alat bantu jalan)
• Pemakaian korset
• Pemakaian sepatu khusus
• Pemberian kompres lokal panas / dingin
• Pemakaian ultrasound / UKG dll
• Hidrotherapy
• Trans Cutaneous Nerve Electrical Stimulation
      (TENS) : termasuk akupuntur dll
PRINSIP PENGOBATAN
• Mengurangi/ menghilangkan rasa sakit
• Mencegah / mengurangi gangguan fungsi
• Mencegah timbulnya kecacatan




 NON FARMAKOLOGIS / FISIOTHERAPY
 • Istirahat sendi
 • Berat Badan ideal
 • Hindarkan stress sendi
 • Aktifitas teratur, latihan ringan : ( jalan kaki, bersepeda
   berenang, senam ringan, aerobik tanpa lompat)
 • Jgn terlalu lam berdiri, jonkok, duduk bersila.
PENGOBATAN FARMAKOLOGIS
• Analgetik Non Opiat: aspirin, salisilat, parasetamol
• NSAID ( oral & topikal )
• Injeksi Intra Artikular :
     Steroid ( triamcinolone Hexacetonid 40 mg )
     Hyaluronan
• Disease Modifying Anti Osteoarthritis Drugs (DMOADs)
     Diacerrhein
     Kondroitin Sulphate
     Asam hialuronat
     Vitamin C

BEDAH
Bila farmakologis tidak berhasil & utk koreksi deformitas
REUMATOID ARTHRITIS

 Dr.Savita Handayani, SpPD

  BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
   FAKULTAS KEDOKTERAN UISU
 Penyakit autoimun yang ditandai dengan terdapatnya
  sinovitis erosif simetrik pada persendian atau organ
  tubuh lainnya

 Sangat mengganggu tetapi tidak mematikan/fatal

 Sering menyebabkan kerusakan sendi, kecacatan
  terutama pd usia produktif

 Prevalensi ( RSCM, tahun 2000) : 4,1 % dr seluruh kasus
  baru

♀:♂ 3:1
ETIOLOGI
o Penyebab pasti belum diketahui
o Infeksi : Mycoplasma, Epstein Barr Virus
o Genetik
o Lingkungan
o Trauma
KELUHAN DAN GEJALA

-   Lemah
-   Lelah
-   Lekas capek
-   Nafsu makan menurun
-   Berat badan menurun
-   Nyeri seluruh tubuh dan kaku
-   Tanda-tanda inflamasi
-   Parastesia, Raynoud’s pnenomenon
-   Morning Stiffness ( pagi, menurun siang )
-   Polyarthritis Simetris : bengkak, merah, panas,
    tenderness, pain, kaku.
                 LABORATORIUM
* LED meninggi
* Anemia ringan
* Rheuma factor :
  Rose waaler lebih spesific / latex lebih sensitif.
* Faktor APF amat spesifik
* Darah rutin, urine rutin, faal ginjal, faal hepar
* Cairan sinovial berupa exudat
                      RADIOLOGI
- Terutama sendi kecil ditangan, pergelangan dan kaki
- Mula-mula asimetris kemudian simetris
- Awal : * erosi
         * ruang antar sendi sempit

- Lanjut :   *   lesi pseudokistik
             *   erosi marginal
             *   Swan neck deformity
             *   Z deformity ibu jari
             *   sub luxasio Atlanto Axial C1-C2
             *   Osteoporosis periarticular (panggul)
             *   Protusio acetabuli
                 (caput femoris bergeser dari sumbu)
                       DIAGNOSA
* Manifestasi klinis
* Gambaran radiologis
* Laboratorium
      Lebih baik menunda diagnosa daripada gagal
                  mendiagnosa adanya penyakit lain
REVISED CRITERIA (ACR 1987)

1. Kaku pagi (1jam) selama > 6 minggu
2. Pembengkakan 3 sendi selama 6 minggu
3. Pembengkakan pergelangan tangan,
   MCP atau IPP selama 6 minggu
4. Pembengkakan sendi yang simetris
5. Kelainan radiologis tangan yang khas untuk RA
   (erosi atau dekalsifikasi tulang)
6. Nodulus Rheumatoid
7. Faktor rheumatoid dalam serum


DIAGNOSIS RA DITEGAKKAN JIKA ADA 4 ATAU LEBIH
               PENATALAKSANAAN

• Edukasi
• Pengobatan Non Farmakologis : latihan/ rehabilitasi
• Pengobatan Farmakologis
• Pembedahan
EDUKASI

 PENERANGAN, DORONGAN SEMANGAT, PERAN
  KELUARGA

- APA DAN BAGAIMANA RA ITU
     (Penyakit sendi sistemik, menahun, perjalanan
     penyakit sulit diduga, dapat remisi spontan dan
     kambuh silih berganti, kemungkinan cacat)

- SIAP MENTAL

- TABAH DAN TEKUN BEROBAT DAN MENERIMA

 KENYATAAN
PENGOBATAN NON FARMAKOLOGIS
• istirahat, posisi sendi senyaman mungkin
• Proses tidak akut lagi lakukan mobilisasi bertahap
 untuk mencegah deformitas
• Jangan diurut, symptom dapat menetap/ bertambah
• Physiotherapy, occupational therapy, orthopedy,
 phsicotherapy, social worker, phsichiatry, kerjasama
 dengan pasien dan famili
• Alat-alat bantu : bidai, tongkat, penyangga, kursi
 roda,sepatu khusus, walking machine dll.
PENGOBATAN FARMAKOLOGIS
1. Analgesik : - salicylate (4-6 gr/hari)
               - paracetamol (1-2 gr/hari)
               - codein (30 mg tiap 4 jam)
2. Anti inflamasi :
       - aspirin ( 5 gr/ hari)
       - indomethasin (25-150 mg/hari)
       - phenylbutazone (200-400 mg/hari)
       - oxyphenbutazone (200-400 mg/hari)
3. Korticosteroid :
      - Diberi pada yang aktif dan progresif
      - Dosis seminimal mungkin
      - Prednisone 10 -15 mg/hari
      - hydrocortisone asetate intra articular 20-50 mg
 4. Anti inflamasi non steroid (NSAID)
       - ibuprofen (600-1200 mg/hari)
       - naproxen (375-750 mg/hari)
       - piroxicam (10-40 mg/hari)
       - profenid (100-600 mg/hari)
       - ketoprofen (100-200 mg/hari)


5. Disease Modifying Anti Dheumatic Drugs (DMARD)
 Bekerja lambat menunggu kadar di darah cukup
 Khasiat baru mulai 3-12 bulan
 Side effect dan toksisitas tinggi
 Diharapkan dpt menghentikan progresifitas/ mjd remisi.
 Diagnosa pasti : DMARD segera diberi
 Setelah pakai 3-6 bulan tak memuaskan
        Ganti DMARD lain
        Kombinasi dengan yang lain
REUMATIK EKSTRA ARTIKULER

    Dr.Savita Handayani, SpPD

     BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
      FAKULTAS KEDOKTERAN UISU
 Defenisi : Sekelompok penyakit dengan manifestasi klinik
  umumya berupa nyeri & kekakuan jaringan lunak, otot,
  tulang

 Etiologi : belum pasti faktor pencetus : beban kerja
  berlebihan, trauma, usia lanjut, kelainan postural,
  degenerasi jaringan ikat.

♀:♂2:1
 Moehadsyah (1983), Medan : 10 % dari kasus rematik
KLASIFIKASI

RNA diklasifikasikan dalam 5 kategori :
      1 . Tendonitis dan bursitis
      2 . Gangguan struktural
      3 . Neurovascular entrapment
      4 . Sindroma nyeri myofasial regional
      5 . Sindroma nyeri generalisata
•   Klasifikasi yang lain oleh ARA :
    A. Myofascial pain synrdomes.
         1. Generalized (fibrositis, fibromialgia)
         2. Regional
    B. Low back pain and intervertebral disc disorders.
    C. Tendonitis (tenosynovitis) and on/or bursitis.
         1. Subacromial subdeltoid bursitis
         2. Bicipital tendinitis, tenosynovitis
         3. Olecranon bursitis
         4. Epicondylitis, medial or lateral humeral.
         5. De quervain’ s tenosynovitis.
         6. Adhesive capsulitis of the shoulder (frozen shoulder).
         7. Trigger finger
    D. Ganglion cyst
    E. Fasciitis
    F. Chronic ligament and muscle strain.
    G. Vasomotor disorders
         1. Erythromelalgia
         2. Raynoud’s disease or phenonemon
    H. Miscellaneous pain syndromes(includes weather
    sensitivity,psycogenic
       rheumatism).
•     Klasifikasi RNA berdasarkan bgian tubuh yg terkena
    I. Bahu
         a. Rotator cuff tendonitis:
           –   penyebab nyeri bahu yang paling sering
               dijumpai  radang tendon subskapularis,
               supraspinatus, infraspinatus dan teres mayor
           –   sangkaan diagnosa: nyeri waktu abduksi aktif
               terutama pada sudut 60 0 – 120 0 , nyeri hebat
               pada otot deltoid lateral pd malam hari
           –   Spesifik : nyeri hebat pd gerakan bahu
               abduksi + rotasi
           –   Terapi dgn: istirahat, NSAID, fisioterafi inj.
               lokal, kortikosteroid pada bursa subakromial.
b. Frozen shoulder syndrome
  – Keterbatasan gerak artikulus glenohumeral
  – Nyeri (+) pd bagian atas humerus  ke lengan atas
    bagian ventral, skapula, lengan bawah
  – Nyeri dirasakan bila lengan atas digerakkan &
    kambuh malam hr
  – Usia 40-60 thn, wanita > pria
  – Penyebab yang sering : fraktur lengan dan bahu
    serta kontusi jaringan
  – Diagnosis : gejala klinis, test rotasi dan pem.
    atrografi
  – Terapi : NSAID, inj. lokal kortikosteroid,
    fisioterapi, manipulasi sendi dan blok pada ganglion
    stellate.
c. Tendonitis bicipital
  - Klinis : nyeri sifatnya lebih difus di anterior bahu
  - Nyeri (+) oleh tendon bicipital dgn supinasi lengan bawah
    melawan tahanan (yergason’s sign), speed’s test atau
    ekstensi bahu
  - Terapi: istirahat, fisioterapi, NSAID,eksersises injeksi
    lokal kortikosteroid dosis kecil


  d. Thoracic outlet syndrome
   - Kumpulan gejala oleh kompresi jar. neurovaskular pd
    pleksus brakial & arteri/vena subklavikula.
  - Gbr klinis: gejala neurologis nyeri, parestesia, dan hilang
    rasa dari leher/bahu ke lengan dan tangan jari ke 4 dan
    5, gejala vaskular jarang, laki-laki > wanita
  - Diagnosis sulit ditegakkan  Adson test dan manuver
    hiperabduksi
  - terapi : konservatif
II. Siku

  * Epikondilitis Lateral (tennis elbow) & Medial (Golferr’s
    Elbow)

   -nyeri lokal subakut/ kronik pd bgn medial/lateral sendi
    siku
   -Timbul oleh gerakan fleksi dan ekstensi pergelangan
    tangan berulang serta rotasi dan supinasi lengan bawah
   -Epikondilitis lateral: pengguna lengan berlebihan, 20-50
    thn & dominan pd ♂
   -Gejala klinis : nyeri lokal, hambatan pd gerak sendi (-),
    kekuatan menggenggam  & terjadi parestesia
   -Diagnosis : gejala klinis, tes ekstensi dan menggenggam
   -Terapi : konservatif dan pembedahan
III. Jari & tangan
    a. Stenosing Tenosynovitis / trigger finger

      - Inflamasi sarung pembungkus tendon fleksor jari
       tangan  beberapa jari-jari tangan ekstensi (-)

      - Gbr klinis: bervariasi, tergtg tendon mana yang
        terkena, nyeri lokal pd jari terkena

      - Penyebab: penggunaan tangan berlebihan,trauma,
        terkait OA/RA

      - Terapi : konservatif dan pembedahan
  STENOSING
TENOSYNOVITIS
b. Tenosinovitis De Quervain
  • Radang pd sarung tendon pergelangan tangan 
    abduktor polisis longus dan ekstensor polisis brevis
     nyeri lokal pd bagian radial pergelangan tangan
  • Penyebab: aktifitas berulang / penggunaan
    berlebihan ibu jari dan pergelangan tangan
  • Gejala klinis : nyeri punggung pergelangan tangan 
    keibu jari dan lengan atas sisi radial
  • Keluhan : benda yg dipegang terlepas sendiri dari
    genggaman tangannya.
  • Diagnosa : test Finkeilstein  nyeri  dgn adduksi
    ibu jari deviasi ulnar
  • Terapi : konservatif dan pembedahan
TENOSINOVITIS DE QUERVAIN
c. Sindroma Carpal Tunnel

  • Kompresi n. medianus mel terowongan karpal oseosa
    fibrosa  parestesia dan mati rasa pd jari I-IV
  • Penyebab: penebalan ligamen carpalia transversal,
    nodul pd RA, retensi cairan pada wanita hamil
  • Gejala klinis : parestesia, mati rasa, rasa geli pada
    ibu jari, telunjuk dan jari tengah
  • Pekerjaan : penjahit, pekerja germen, juru tulis,
    juru ketik, penyortir surat, tukang cuci pakaian,
    operator komputer
  • Diagnosa : gejala klinis, tinnel’s sign, phalen’s test,
    torniket test dan elektromiografi
  • Terapi : konservatif dan pembedahan
CARPAL TUNNEL
  SYNDROME
IV. Panggul
  a. Bursitis Trokanterik
     • Sering dijumpai, tapi kerap kali tdk terdiagnosis
     • Dijumpai pd usia pertengahan s/d usia tua, ♀> ♂
     • Penyebab: trauma lokal, degenerasi dan kdg
       kalsifikasi
     • Gejala klinis: nyeri di daerah trokanter mayor,
       nyeri tekan di atas daerah panggul lateral dan
       dapat menjalar kebawah
     • Diagnosa : palpasi area trokanterik 
       tenderness point (+)
b. Bursitis Illiopsoas ( Illiopektinial )

  • Prevalensinya dijumpai 15% dari seluruh gangguan
    regional panggul
  • Penyebab: trauma dan inflamasi artritis
  • Gejala klinis: nyeri di sendi paha & anterior paha
     tungkai & lutut
  • Diagnosis : riwayat trauma / inflamasi artritis,
    gejala klinis, foto polos dan injeksi zat kontras ke
    daerah bursa atau dengan MRI
  • Terapi : konservatif
c. Bursitis Ischial (Ischiogluteal)

   • Radang pd bursa yg disebabkan oleh trauma /
     duduk yg berlama-lama pd kursi yg keras

   • Gejala klinis : nyeri pd bokong  dlm keadaan
     duduk / tidur telentang dan dapat menjalar ke
     belakang paha

   • Terapi dgn pakai bantal sebagai alas untuk duduk
     dan inj kortikosteroid
V. Lutut
  a. Kista Popliteal (Kista Baker)
    - Tanda awal: bengkak lutut yang ringan  distensi
       kista & rasa tidak nyaman di lutut terutama
       dlm keadaan fleksi & ekstensi
     - Kista terlihat waktu berdiri & diperiksa dr
       belakang
     - Gjl klinis : bengkak difus di betis, nyeri, kdg
       eritema, edema dikaki
     - Dx : gjl klinis, arthrogram, ultrasound &
       venogram
     - Th : konservatif dan pembedahan
b. Bursitis Anserina
   • Dominan pada wanita bertubuh gemuk, dijumpai
     pada usia pertengahan s/d tua
   • Gjl klinis :nyeri, tenderness, kdg membengkak
     dan hangat di medial inferior dan distal garis
     sendi lutut
   • Penyebab: trauma berlebihan dan inflamasi
   • Terapi : konservatif dan pembedahan

c. Bursitis prepatelar
   • Manifestasi klinis: bengkak superfisial
     tempurung lutut oleh trauma yg berulang
   • Keluhan khas : nyeri sewaktu berlutut, kaku,
     bengkak & memerah pada patella
   • Penyebab : lutut sering bertumpu pada lantai
   • Terapi : konservatif
VI. Kaki dan pergelangan
  a. Tendonitis Achilles
     • Penyebab : trauma, aktifitas berlebihan pd atlit,
       penekanan sepatu yg terlalu sempit, dorsofleksi
       tiba-tiba & inflamasi
     • Gjl klinis: Nyeri terasa pd gerakan dorsofleksi,
       bengkak, nyeri tekan
     • Terapi : konservatif

  b. Fasiitis Plantaris
     • Inflamasi di insersi fascia plantaris pd kalkaneus
     • usia 40- 60 thn , penyebab: trauma, penggunaan
       berlebihan, jln terlalu lama & pakai sepatu yg tidak
       sesuai
     • Gjl klinis: nyeri pd area plantas tumit terutama
       pagi hari
     • Terapi : konservatif dan pembedahan
OSTEOPOROSIS
Dr.Savita Handayani, SpPD

 BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
  FAKULTAS KEDOKTERAN UISU
 Defenisi :penyakit tulang sistemikyg ditandai ó 
 densitas massa tulang & perburukan mikroarsitektur
 tulang  rapuh & mudah patah

 Etiologi : multifaktorial

 Faktor risiko :
  1. Umur : tiap 1 dekade, risiko  1,4-1,8 kali
  2. Genetik :
  3. Etnis kaukasia & oriental > kulit hitam ♀ > ♂
  4. Riwayat keluarga
  5. Lungkungan : Defisiensi kalsium,aktifitas fisik
     kurang, obatobatan, merokok, alkohol
  6. Hormonal & penyakit kronik : Defisiensi estrogen,
     androgen, tirotoksikosis, hiperparatiroidisme primer
  7. Sifat fisik tulang : densitas, komposisi
DIAGNOSIS
1. Anamnesis : riwayat fraktur, imobilisasi,  tinggi badan,
    riwayat minum obat2an, alkohol,riwayat haid, menopause
2. Pem. Fisik : BB, TB, gait, deformitas tulang
3. Pem. Biokimia tulang : Ca, Bone spesific alkalin
    phospatase, osteocklsin, PTH, 25 (OH)D
4. Radiologis :
    o tidak sensitiv utk menilai  densitas masa tulang
    o Penipisan kortex & trabekuler ( hipolusen), Fx
       kompresi
5. Pem. Densitas massa tulang ( densitometri) :
    o Single Photon Absorptiometri (SPA),
    o Dual Photon Absorptiometri (DPA),
    o Quantitative Computer Tomography (QTC),
    o Dual Energy X-Ray Absorptiometri (DEXA)
DENSITOMETRI TULANG

Indikasi :
• Defisiensi estrogen
• Gambaran RO spinal abnormal / osteopenik
• Memakai glukokortikoid atau antikonvulsan jangka
  panjang
• Hiperparatiroidisme primer
• Evaluasi dengan risiko tinggi osteoporosis ( alkoholisme,
  amenore, anoreksia nervosa )
• Evaluasi terapi osteoporosis
DENSITOMETRI TULANG
KRITERIA WHO


   T- Score          Klasifikasi
   > -1              Normal
   -1 s/d -2,5       Osteopenia
   < - 2,5           Osteoporosis
   < 2,5 + fraktur   Osteoporosis berat
PENATALAKSANAAN

I. Edukasi dan Pencegahan
II. Latihan & Rehabilitasi
III. Medikamentosa
IV. Pembedahan
EDUKASI & PENCEGAHAN
 Aktifitas fisik teratur ( berenang, bersepada, berjalan
 30 – 60 mnt )
 Asupan Ca 1000 – 1500 mg/ hr
 Hindari merokok, alkohol mengangkat beban berat, hati2
  pemakain C steroid



LATIHAN & REHABILITASI
 Mencegah perburukan osteoporosis,  remodelling tulang
 Alat bantu (ortosis) : korset lumbal, tongkat
 MEDIKAMENTOSA
1. Bifosfonat
    • Pilihan utama, absorbsinya sangat buruk, efek
       samping : refluks esofagitis, hipokalsemia
    • Bbrp jenis bifosfonat :
        Riserdronat 35 mg / minggu
        Alendronat 10 mg/ hr
        Sodium etidronat 400 mg/ hr

2. Raloksifen ( anti estrogen ) : 60 mg/hr, tidak boleh pd ♀
   hamil
3. Kalsitonin: pemberian intranasal, Dosis 200 U/ hr
4. Vitamin D : pd pasien yg kurang terpapar sinar mata-
   hari. Suplementasi: 500 IU kalsiferol & 500 mg Ca
5. Kalsitriol : Pada penderita hipokalsemia yang tidak respons
  thd pemberian Ca peroral. Dos :2 X 0,5 mg/ hr.
6. Ca, yg terbaik : Ca karbonat




PEMBEDAHAN
 Tujuan : utk mendapat fiksasi yg stabil
 Pd penderita Osteoporosis Fx  segera oprasi.
ARTRIRIS GOUT
Dr.Savita Handayani, SpPD

  BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM
   FAKULTAS KEDOKTERAN UISU
 Defenisi : kelompok penyakit heterogen akibat deposisi
  kristal monosodium urat pada jaringan

 Sering pd ♂ dewasa & ♀ setelah menopause

 Insidensi di Indonesia : belum di ketahui pasti, sering pd
  daerah Sumut & Sulawesi




 GAMBARAN KLINIS

1. Hiperurisemia asimtomatik :  asam urat tanpa disertai
   gejala artritis, tofus, maupun batu saluran kemih
2. Artritis Gout Akut : serangan artritis yg eksplosif ( nyeri,
  panas, kemerahan). Serangan awal 60 % pd sendi MTP I,
  malam hari. Serangan akan hilang dengan sendirinya setelah
  10 hari.

3. Gout Interkritikal : merupakan interval antara 2 serangan
   akut. Umumnya terjadi 6 bln – 1 thn setelah serangan I.
   Sifat : poliartikular, lebih berat, lebih lama, kadang demam

4. Artritis Gout kronik bertofus : Tofus terbentuk biasanya
   setelah 11 tahun serangan I. Tofus tdd kristal MSU yang
   dikelilingi reaksi Inflamasi.
PEMERIKSAN PENUNJANG

1.   LED, CRP  inflamasi

1.   Cairan sendi : keruh,lekosit 20.000 – 100.000/ml

2. Analisis cairan sendi : Kristal MSU 

4. Ureum, Creatinin  apakah ada ggn fs Ginjal

5. Radiologi : pembengkakan jar. lunak, kalsifikasi pd
   tofus
KRITERIA DIAGNOSIS : Kriteria ACR ( 1977 )
A. Kristal MSU  pd cairan sendi atau
B. Kristal MSU  pd tofi atau
C. Didapatkan 6 dari 12 kriteria berikut :
   1. Inflamasi maksimal pd hari I
   2. Serangan artritis > 1 kali
   3. Artritis mono artikular
   4. Sendi yang terkena berwarna kemerahan
   5. Pembengkakan & sakit pd sendi MTP I
   6. Serangan pd sendi MTP unilateral
   7. Serangan pd sendi tarsal unilateral
   8. Tofus
   9. Hperurisemia
   10. Pembengkakan sendi asimetris pd gambaran
       radiologik
   11. Kista subkortika tanpa erosi pd gambaran radiologik
   12. Kultur bakteri cairan sendi (-)
PENATALAKSANAAN
Tujuan : mengatasi rasa sakit, cegah serangan ulang, cegah
destruksi sendi & pembentukan tofi, cegah komplikasi
seperti: batu ginjal.


NON FARMAKOLOGIS :
• Perbaiki poal makan
• Modifikasi pola hidup dgn edukasi
• Modifikasi aktifitas
•  BB
FARMAKOLOGIS :
A. Fase Akut :
   • Colchicine : 0,5 mg/jam sampai terjadi perbaikan
      inflamasi @ terdapat tanda toksik @dosis maks 8 mg/
      24 jam. Bl GFR < 50 ml/mnt : beri colchicine ½ dosis
      normal
   • OAINS : indometasin,fenilbutazon, fenoprofen
   • Steroid :
      o Prednison 20 – 40mg, 3 hr  tappering off
      o Metilprednisolon 125 mg/ iv ( single shot)
      o Betametaso 7 mg/im (single shot)
      o   C steroid intra artikuler : pd sendi besar
   B. Gout Kronik :
      • Diet rendah purin
      • Xantin oxidase inhibitor ( Allopurinol )  Dosis :
        300mg/hr. Bl GFR < 50 ml/mnt : 100 mg/hr
      • Urikosurik ( probenesid ) Dosis : 0,5 mg/hr,
        bertahap sampai 1 -3 mg/ hari

REHABILITASI MEDIK :
Mengurangi deformitas yg telah terjadi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:598
posted:5/27/2011
language:Indonesian
pages:61
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl