ABSTRAK - DOC by anamaulida

VIEWS: 2,425 PAGES: 45

									ABSTRAK

Alat kontrasepsi spiral merupakan salah satu metode kontrasepsi yang pengunaannya relatif lebih
rendah dibandingkan dengan penggunaan metode kontrasepsi lain. Penggunaan KB spiral mengalami
penurunan dari 13% pada tahun 1991 menjadi 5,4% pada tahun 2006. Berdasarkan mini survei
BKKBN tahun 2006, didapatkan bahwa metode hormonal suntikan (35,8%) dan pil (17,4%), IUD
(5,4%), susuk KB (4,3%), dan MOW (2,3%) yang digunakan oleh akseptor KB.
Penelitian ini menggunakan studi deskriptif cross sectional dengan menggunakan uji statistik analitik
non parametrik chi square. Data diambil dari ibu - ibu akseptor KB mengenai KB Spiral di RW 03
Kelurahan Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat dengan kuesioner yang sudah diuji coba sebelumnya.
Populasi sebanyak 487 orang dan didapatkan sampel berjumlah 105 orang dengan simple random
sampling                          dengan                        tabel                       random.
Dari penelitian yang dilakukan didapatkan 16,2% ibu akseptor KB yang memakai KB spiral. Data
sebaran didapatkan 44,76 % ibu akseptor KB berpengetahuan kurang, 40,95% mempunyai sikap
kurang, 45,71% mempunyai perilaku kurang terhadap alat kontrasepsi spiral, 53,33% ibu akseptor KB
usia 20 sampai dengan 30 tahun, 42,86% ibu akseptor KB mempunyai tingkat pendidikan yang sedang,
70,48% ibu akseptor KB tidak bekerja, 73,33% dari keluarga akseptor KB yang berada di bawah garis
kemiskinan ( pendapatan sama atau kurang dari Rp.972.604), 60,95% ibu akseptor KB memilki jumlah
anak lebih dari dua, 42,86% ibu akseptor KB mengikuti satu kegiatan soaial (aktivitas sosial yang
cukup), 77,14% suami turut berperan untuk memutuskan pilihan alat kontrasepsi yang akan digunakan.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu, pekerjaan
ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak, dan peran suami dengan pengetahuan ibu-ibu akseptor KB
mengenai Alat Kontrasepsi Spiral. Ada hubungan yang bermakna antara aktivitas sosial dengan sikap
ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat Kontrasepsi spiral. Ada hubungan yang bermakna antara usia ibu
dengan perilaku ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat Kontrasepsi spiral. Ada hubungan yang bermakna
antara pengetahuan ibu dengan sikap ibu-ibu akseptor KB, pengetahuan ibu dengan perilaku ibu, dan
antara sikap ibu dengan perilaku ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat Kontrasepsi spiral.

Kata kunci : Pengetahuan, sikap, perilaku, alat kontrasepsi spiral, akseptor KB

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.                                          Latar                                           Belakang
Jumlah penduduk yang terus meningkat merupakan masalah besar bagi Negara-negara di dunia
khususnya Negara berkembang. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar
keempat           setelah         Cina,           India          dan          Amerika          Serikat.
Dari data sensus tahun 2000 didapat penduduk Indonesia berjumlah 203,6 juta jiwa dengan laju
pertumbuhan penduduk sebesar 1,49% dan jumlahnya akan terus bertambah sesuai dengan Laju
Pertumbuhan Penduduk (LPP). Laju pertambahan penduduk 1,49 % per tahun-artinya setiap tahun
jumlah penduduk Indonesia bertambah 3-3,5 juta jiwa. Bila tanpa pengendalian yang berarti atau tetap
dengan pertumbuhan penduduk 1,49% per tahun, maka jumlah tersebut pada tahun 2010 akan terus
bertambah menjadi 249 juta jiwa atau menjadi 293,7 juta jiwa pada tahun 2015. 1
Dari sensus penduduk yang dilakukan, didapatkan : LPP pada tahun 2000 sebesar 1,49%, dan pada
tahun 2006 sebesar 1,39% dengan jumlah penduduk 255,5 juta. Hal ini sejalan dengan peningkatan
keikutsertaan masyarakat terhadap KB. Angka kelahiran kasar tahun 2000 adalah sebesar 22 per 1000
penduduk dan pada tahun 2003 sebesar 20 per 1000 penduduk. Angka TFR (Total Fertility Rate) pada
periode 2002 sebesar 2,6 artinya potensi rata–rata kelahiran oleh wanita usia subur berjumlah 2-3 anak.
Pada tahun 2007, angka TFR tetap 2,6. Angka kematian kasar juga mengalami penurunan dari menjadi
7,0 kematian per 1000 penduduk tahun 2001 dan 6,8 kematian per 1000 penduduk tahun 2002. 2,3
Pada tahun 1997, angka pemakaian kontrasepsi (contraceptive prevalence rate/CPR) sebesar 57,4 %
dan pada tahun 2002-2003 sebesar 60,3%. Pada 2015 jumlah penduduk Indonesia hanya mencapai
255,5 juta jiwa. Namun, kalau terjadi penurunan angka satu persen saja, jumlah penduduk mencapai
264,4 juta jiwa atau lebih. Sedangkan kalau pelayanan keluarga berencana bisa ditingkatkan dengan
kenaikan CPR 1%, penduduk negeri ini sekitar 237,8 juta jiwa.3

Berdasarkan data dari SDKI 2002 – 2003, jumlah akseptor KB mengalami peningkatan dari 57,4%
pada tahun 1997 menjadi 60,3% pada tahun 2003. Pada tahun 2003, Jumlah Pasangan Usia Subur
(PUS) berjumlah 5.918.271 pasang. Dari jumlah ini sebesar 11,72% merupakan peserta KB baru dan
sebesar 77,80% merupakan akseptor KB aktif. Dewasa ini diperkirakan lebih dari 100 juta wanita yang
memakai AKDR, hampir 40%-nya terdapat di Cina. Sebaliknya hanya 6% di Negara maju dan 0,5% di
sub-sahara Afrika. ²
Menurut SDKI 2002-2003 kontrasepsi yang banyak digunakan adalah metode suntikan (49,1 persen),
pil (23,3 persen), IUD/spiral (10,9 persen), implant (7,6 persen), MOW (6,5 persen), kondom (1,6
persen), dan MOP (0,7 persen). Berdasarkan mini survei BKKBN, pengguna AKDR mengalami
penurunan dari 10,9% pada tahun 2002-2003 menjadi 5,4% pada tahun 2006.
Menurut SDKI 2002–2003, 57% wanita yang sudah menikah menggunakan metoda kontrasepsi
modern, contohnya pil, suntikan, IUD atau spiral, norplant atau susuk KB, sterilisasi wanita
(tubektomi), dan sterilisasi pria (vasektomi). KB spiral merupakan alat kontrasepsi yang kurang
diminati oleh wanita yang berstatus kawin sebesar 9,34% dibandingkan dengan penggunaan KB suntik
(27,8%) dan pemakaian pil KB sebesar 13%. 4,5
Melihat kondisi permasalahan di atas, maka dirasakan perlu diambil langkah untuk mengkaji suatu
penelitian untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan, sikap dan perilaku ibu-ibu akseptor KB serta
faktor–faktor yang berhubungan mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim di RW 03 Kelurahan
Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat pada periode Agustus 2008.

1.2. Permasalahan

1. Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2000 berjumlah 203,6 juta orang dan pada tahun 2006
sebesar 225,5 juta jiwa. Diperkirakan pada tahun 2010 akan terus bertambah menjadi 249 juta jiwa atau
menjadi 293,7 juta jiwa pada tahun 2015.
2. Laju pertumbuhan penduduk yang masih cukup tinggi. Laju pertumbuhan penduduk pada tahun
2000 sebesar 1,49% dan pada tahun 2006 sebesar 1,39%.
3. Total fertility rate (TFR) Indonesia yang masih cukup tinggi. Tahun 2002 sebesar 2,6 dan tahun 2007
juga tetap 2,6.
4. Pengguna AKDR mengalami penurunan dari 10,9% pada tahun 2003 menjadi 5,4% pada tahun
2006.
1.3. Tujuan
1.3.1. Tujuan Umum
Pengendalian kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) sehingga angka
kesuburan total menurun dan tercapai pengendalian laju pertumbuhan penduduk serta mewujudkan
Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera.

1.3.2. Tujuan Khusus
1. Sebaran alat kontrasepsi yang digunakan ibu akseptor KB di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren
Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.
2. Diketahuinya tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol,
Jakarta Barat.
3. Diketahuinya sebaran ibu-ibu akseptor KB berdasarkan usia, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak
hidup, aktivitas sosial, pendapatan, dan peran serta suami di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara,
Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.
4. Diketahuinya hubungan antara usia, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak hidup, aktivitas sosial,
pendapatan, dan peran serta suami dengan pengetahuan ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim AKDR di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol,
Jakarta Barat.
5. Diketahuinya hubungan antara usia, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak hidup, aktivitas sosial,
pendapatan, dan peran serta suami dengan sikap ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim (AKDR) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.

6. Diketahuinya hubungan antara usia, pendidikan, pekerjaan, jumlah anak hidup, aktivitas sosial,
pendapatan, dan peran serta suami dengan perilaku ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat Kontrasepsi
Dalam Rahim (AKDR) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.
7. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dengan sikap ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol,
Jakarta Barat.
8. Diketahuinya hubungan antara pengetahuan dengan perilaku ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol,
Jakarta Barat.
9. Diketahuinya hubungan antara sikap dengan perilaku ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol,
Jakarta Barat.

1.4. Manfaat
1.4.1. Manfaat bagi Peneliti
1. Menerapkan dan mengembangkan ilmu yang telah didapatkan saat kuliah.
2. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi langsung dengan masyarakat.
3. Menimbulkan minat dan pengetahuan peneliti.

1.4.2. Manfaat bagi Perguruan Tinggi.
1. Mewujudkan Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan, pengabdian kepada masyarakat dan
penelitian.
2. Sebagai masukan untuk bahan dalam melaksanakan penyuluhan dalam bidang kesehatan.
3. Mewujudkan Perguruan Tinggi sebagai masyarakat ilmiah dalam peran serta dan fungsinya di
bidang kesehatan.
4. Mengenalkan Fakultas Kedokteran UKRIDA kepada masyarakat.

1.4.3. Manfaat bagi Puskesmas.
1. Sebagai masukan untuk bahan informasi dalam melaksanakan penyuluhan dalam bidang kesehatan
kepada masyarakat.
2. Menambah wawasan dalam menggunakan alat kontrasepsi yang dianggap aman dan dapat
dipertanggungjawabkan.

BAB II
TINJAUANPUSTAKA

2.1. Kerangka Teori
Perhatian Pemerintah Indonesia terhadap masalah kependudukan telah mulai sejak ditandatanganinya
deklarasi mengenai kependudukan oleh para pemimpin dunia termasuk Presiden Soeharto pada tahun
1967. Dalam deklarasi tersebut dinyatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi merupakan
masalah yang harus ditanggulangi karena mengecilnya arti pembangunan dalam bidang ekonomi.
Untuk melaksanakan kebijakan kependudukan, pemerintah telah mencanangkan berbagai program, dan
Keluarga Berencana ( KB ) merupakan bagian yang penting.
Tujuan pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang
sehat fisik, mental dan sosial, sehingga tercapai kesejahteraan masyarakat sebagaimana diamanatkan
dalam UUD1945. Keberhasilan pembangunan, pada hakekatnya bergantung pada unsur manusianya.
Perkembangan penduduk yang tinggi dapat menghambat pertumbuhan hasil pembangunan, termasuk
pembangunan kesehatan. Oleh karena itu, pengendalian pertumbuhan jumlah penduduk melalui
program keluarga berencana menjadi penting adanya.

2.1.1. Keluarga Berencana
Keluarga Berencana adalah perencanaan kehamilan, sehingga kehamilan hanya terjadi pada waktu
yang diinginkan. Jarak antara kelahiran diperpanjang, dan kelahiran selanjutnya dapat dicegah apabila
jumlah anak telah mencapai yang dikehendaki, untuk membina kesehatan seluruh anggota keluarga
dengan sebaik–baiknya, menuju Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS). Kegiatan KB
tidak hanya berupa perpanjang dan mengatur kehamilan, tetapi termasuk kegiatan untuk meningkatkan
taraf ekonomi dan kesejahteraan keluarga secara menyeluruh.6,7

Menurut Undang-undang No.10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan
Keluarga Sejahtera, maka pengertian KB didefinisikan sebagai upaya peningkatan kepedulian dan
peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kehamilan, pembinaan
ketahanan keluarga dan peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil yang
bahagia dan sejahtera. Dengan tujuan KB jangka panjang adalah mewujudkan keluarga berkualitas
pada tahun 2015.
Salah satu faktor yang memberikan kontribusi yang besar terhadap keberhasilan program KB di
Indonesia adalah keberhasilan pemerintah dalam melibatkan masyarakat untuk ikut berpartisipasi
dalam melaksanakan program KB. Terbukti jumlah akseptor KB mengalami peningkatan dari 57%
pada tahun 1997 menjadi 60,3% pada tahun 2003. Pada tahun 2003, jumlah Pasangan Usia Subur
berjumlah 5.918.271 pasang. Dari jumlah ini sebesar 11,72%. (693.469 orang) merupakan peserta KB
baru dan sebesar 77,80% (4.604.160 orang) merupakan akseptor KB aktif.8

2.1.2. Definisi Kontrasepsi
Kontrasepsi berasal dari kata kontra berarti „mencegah‟ atau „melawan‟ dan konsepsi yang berarti
pertemuan antara sel telur yang matang dan sperma yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari
kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel
telur yang matang dengan sperma.9,10
Ada dua pembagian cara kontrasepsi, yaitu cara kontrasepsi sederhana dan cara kontrasepsi modern
(metode efektif).
1. Kontrasepsi Sederhana
Kontrasepsi sederhana terbagi lagi atas kontrasepsi tanpa alat dan kontrasepsi dengan alat/obat.
Kontrasepsi sederhana tanpa alat dapat dilakukan dengan senggama terputus dan pantang berkala.
Sedangkan kontrasepsi dengan alat/obat dapat dilakukan dengan menggunakan kondom, diafragma
atau cup, cream, jelly atau tablet berbusa (vaginal tablet).

2. Cara Kontrasepsi Moderen/Metode Efektif
Cara kontrasepsi ini dibedakan atas kontrasepsi tidak permanen dan kontrasepsi permanen. Kontrasepsi
tidak permanen dapat dilakukan dengan pil, AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), suntikan dan
implant. Sedangkan cara kontrasepsi permanen dapat dilakukan dengan metode mantap, yaitu dengan
operasi tubektomi (sterilisasi pada wanita) dan vasektomi (sterilisasi pada pria).11

2.1.3 Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ( AKDR )
Dewasa ini diperkirakan lebih dari 100 juta wanita yang memakai AKDR, hampir 40%-nya terdapat di
Cina. Sebaliknya hanya 6% di Negara maju dan 0,5% di sub-sahara Afrika.2
AKDR merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan plastik yang halus berbentuk spiral (Lippes
Loop) atau berbentuk lain (Copper T Cu 200, Copper T 220 atau ML Cu 250)yang dipasang di dalam
rahim dengna memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/ paramedik lain yang sudah dilatih.

Jenis AKDR
Walaupun di masa lampau AKDR dibuat dalam berbagai bentuk dan bahan yang berbeda-beda, dewasa
ini AKDR yang tersedia di seluruh dunia hanya 3 tipe
• Inert, dibuat dari plastik (Lippes Loop) atau baja antikarat (The Chinese ring)
• Mengandung tembaga, termasuk di sini TCu 380A, TCu 200C, Multiload (MLCu 250 dan 375) dan
Nova T
• Mengandung hormon steroid seperti Progestasert yang mengandung progesterone dan Levanova yang
mengandung levonorgestrel.

Copper T 380 A
AKDR Copper T 380A bentuknya mirip huruf “T”. Bentuk ini terbukti sangat efektif, aman,dan mudah
beradaptasi.
Dua faktor yang memperbesar hasil guna Copper T 380A adalah :
• Tidak ada AKDR lain yang mempunyai luas permukaan tembaga seperti AKDR Copper T 380A (
380 mm2 )
• Tembaga di kedua lengan AKDR ini menjamin tembaga akan dibebaskan di bagian tertinggi fundus
uteri.
Jangka waktu Pemakaian
• Badan Pengawasan obat Federal amerika (USFDA) baru-baru ini telah menyetujui pemakaian IUD
Copper T 380A secara efektif sebagai kontrasepsi selama maksimum 8 tahun.
• Tiap kemasan IUD Copper T 380A mempunyai jangka waktu penyimpanan selama 7 tahun. Hal ini
berarti bahwa setiap kemasan yang masih utuh (tidak robek) dijamin akan tetap steril sampai tanggal
kadaluwarsa sebagaimana tercantum pada label kemasan. Setelah lewat tanggal kadaluwarsa, IUD
dalam kemasan yang belum terpakai harus dibuang/dimusnahkan.
Mekanisme Kerja AKDR, yaitu:
• Perubahan pada endometrium yang mengakibatkan kerusakan pada spermatozoa yang masuk ke
dalam rahim.
• Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii.
• Mempengaruhi fertilisasi ovum mencapai kavum uteri.
• Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.

Keuntungan pemakaian AKDR, antara lain:
• Sebagai kontrasepsi efektifitas tinggi
• AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
• Metode jangka panjang
• Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
• Tidak mempengaruhi hubungan seksual
• Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil
• Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR ( CuT-380A )
• Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
• Dapat di pasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus ( apabila tidak terjadi infeksi )
• Dapat digunakan sampai menopause ( 1 tahun atau lebih setelah haid terakhir )
• Tidak ada interaksi dengan obat-obat
• Membantu mencegah kehamilan ektopik

Kerugian pemakaian AKDR, yaitu :
• Efek samping yang umum terjadi :
- Keputihan
- Perubahan siklus haid ( umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan ).
- Haid lebih lama dan banyak.
- Perdarahan ( spotting ) antarmenstruasi.
- Saat haid lebih sakit.
• Komplikasi lain :
- Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan.
- Perdarahan berat pada waktu haid atau di antaranya yang memungkinkan penyebab anemia.
- Perforasi dinding uterus ( sangat jarang apabila pemasangannya benar ).
• Tidak mencegah IMS(Infeksi Menular Seksual) termasuk HIV/AIDS.
• Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan.
• Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR, penyakit radang
panggul dapat memicu infertilitas.
• Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvis: diperlukan dalam pemasangan AKDR. Seringkali
perempuan takut selama pemasangan.

Indikasi pemakaian AKDR :
• Usia reproduktif
• Telah mendapat persetujuan dari suami
• Pernah melahirkan dan mempunyai anak, serta ukuran rahimtidak kurang dari 5 cm.
• Telah cukup jumlah anaknya dan belum memutuskan untuk sterilisasi.
• Tidak ingin hamil paling tidak untuk 2 tahun.
• Dianjurkan sebagai pengganti pil KB bagi akseptor KB yang berumur diatas 30 tahun.
• Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
• Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
• Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya
• Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
• Resiko rendah dari IMS
• Tidak menghendaki metode hormonal
• Tidak ada kontraindikasi

Pada umumnya ibu dapat menggunakan AKDR Cu dengan aman dan efektif. AKDR dapat digunakan
pada ibu dalam segala kemungkinan keadaan misalnya :
• Perokok
• Pasca keguguran atau kegagalan kehamilan apabila tidak terlihat adanya infeksi
• Sedang memakai antibiotik atau antikejang
• Gemuk ataupun yang kurus
• Sedang menyusui
Kontraindikasi pemakaian AKDR, yaitu :
• Diketahui atau dicurigai adanya kehamilan
• Infeksi panggul (pelvis) yang terus menerus
• Lecet(erosi) atau peradangan di leher rahim
• Diketahui atau dicurigai adanya kanker rahim
• Perdarahan yang tidak normal yang belum diketahui penyebabnya.
• Perdarahan haid yang hebat
• Alergi terhadap logam
• Kelainan rahim (misalnya rahim kecil, endometriosis, polipendometrium) dan kelainan jaringan perut
yang menyulitkan pemasangan.
• Pernah mempunyai riwayat kehamilan di luar kandungan.10,11
Waktu penggunaan
• Pemasangan dilakukan pada waktu haid yaitu pada akhir haid atau pada hari sebelum berakhirnya
haid, karena serviks lembut dan sedikt terbuka.
• Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 40 hari pascapersalinan. Perlu diingat
angka eksplusi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48 jam pascapersalinan.
• Setelah menderita abortus ( segera atau dalam waktu 7 hari ) apabila tidak ada gejala infeksi.

Pemasangan AKDR
Instrumen dan perlengkapan :
Kit untuk pemasangan / pencabutan AKDR yang dipasok oleh USAID (medical kit No.2 ) mengandung
semua instrument dan perlengkapan yang diperlukan untuk memasang dan mencabut AKDR.
Untuk pemasangan AKDR alat-alat yang diperlukan :
• Spekulum cocor bebek ( kecil, sedang, besar )
• Tenakulum uterus
• Sonde uterus
• Gunting
• Baskom untuk larutan antiseptik
Bahan-bahan yang lain yang diperlukan :
• Sarung tangan steril
• Larutan antiseptik untuk membersihkan serviks uteri
• Kain kasa atau bola kapas
• AKDR Copper T 380 A dalam kemasaan steril yang belum dibuka, dan belum rusak.
Teknik pemasangan AKDR
Metode 10 langkah yang merupakan suatu pendekatan sistematik untuk pemasangan yang aman dan
nyaman dari Copper T 380 A AKDR adalah berdasarkan teknik tanpa sentuh yang menekankan
pentingnya :
• Muatan AKDR dalam kemasan steril.
• Mengoleskan larutan antiseptik, seperti povidone iodine, sebanyak dua atau tiga kali ke serviks uteri
dan vagina.
• Hindari terjadinya kontaminasi terhadap sonde uterus yang telah di DTT atau yang telah di steril dan
selanjutnya isi AKDR tanpa menyentuh dinding vagina atau bibir speculum.
• Sonde uterus dan inserter AKDR keduanya dilewatkan hanya sekali melalui kanalis servikalis.
Dengan cara aseptik dan teknik tanpa sentuh akan meminimalkan resiko terjadinya infeksi pasca-
pemasangan.
Instruksi kepada klien
• Kembali memeriksakan diri setelah 4 sampai 6 minggu pemasangan AKDR.
• Selama bulan pertama mempergunakan AKDR, periksalah benang AKDR secara rutin terutama
setelah haid.
• Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksa keberadaan benang setelah haid apabila
mengalami :
- Kram/kejang di perut bagian bawah.
- Perdarahan (spotting) di antara haid atau setelah senggama.
- Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman selama melakukan hubungan
seksual.
• Kembali ke klinik apabila :
- Tidak dapat meraba benang AKDR.
- Merasakan bagian yang keras dari AKDR.
- AKDR terlepas.
- Terjadi pengeluaran cairan dari vagina yang mencurigakan.
- Adanya infeksi.

Kapan AKDR dapat dikeluarkan
• Bila ibu menginginkannya.
• Bila ibu ingin hamil.
• Bila terdapat efek samping yang menetap atau masalah kesehatan lainnya.
• Pada akhir masa efektif dari AKDR. Misalnya TCu 380A harus dikeluarkan sesudah 8 tahun
terpasang.
Untuk mengeluarkan/mencabut AKDR ibu harus kembali keklinik. Kesuburan atau fertilitas normal
segera kembali sesudah AKDR dicabut. Jika ibu tidak ingin hamil, maka AKDR yang baru dapat
segera dipasang.
Informasi umum yang dapat diterangkan pada ibu
• AKDR bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan.
• AKDR dapat keluar dari uterus secara spontan.
• Sering terjadi perasaan mulas dan bercak-bercak perdarahan setelah pemasangan/pencabutan.
• Sering terjadi keputihan.
• Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih lama dan banyak.
• AKDR mungkin dilepas setiap saat atas kehendak ibu.
• AKDR tidak melindungi diri terhadap PMS termasuk virus AIDS.
• Segera datang untuk pemeriksaan bila timbul rasa nyeri perut, perdarahan tidak dapat haid.
• Dianjurkan bagi wanita diatas 30 tahun untuk secara berkala memeriksakan usapan lendir mulut/bibir
rahim (papanicolau smear).9,10,12,13

2.1.4 Faktor – faktor yang mempengaruhi pemilihan AKDR pada ibu-ibu akseptor KB
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi persentase pemakaian AKDR. Pengguna AKDR mengalami
penurunan dari 10,9% pada tahun 2002-2003 menjadi 5,4% pada tahun 2006 menurut mini survei
BKKBN
Pengetahuan tentang KB merupakan salah satu aspek penting ke arah pemahaman tentang berbagai
alat/cara kontrasepsi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kundi Ardiyan 2005 di Kelurahan
Sumbersari Kabupaten Jember periode 2004 – 2005 didapatkan bahwa tingkat pengetahuan PUS
tentang KB dan metode kontrasepsi cukup tinggi sebesar 53,5%.14
Alat/cara KB modern popular di antara wanita di semua umur. Namun demikian pemakaian kontrasepsi
pada wanita yang berumur lebih muda dan yang berumur lanjut lebih rendah dibandingkan mereka
yang berumur 20-39 tahun. Wanita muda cenderung menggunakan cara suntik, pil dan Implant
sementara mereka yang lebih tua cenderung memilih alat/cara kontrasepsi jangka panjang seperti
AKDR, sterilitas wanita dan sterilitas pria. Berdasarkan SDKI 2002 – 2003 persentase pengguna
AKDR pada wanita usia 15-19 tahun (1,7%), usia 20-30 tahun (10,4%), usia 30-34 tahun (12,1%), usia
35-39 tahun (16,7%) dan usia 40-44 tahun (19%) dan usia 45-49 tahun (16%). Pengguna AKDR
didominasi wanita kelompok usia 40 sampai 44 tahun dengan persentasi 19%. Dari data tersebut dapat
dilihat bahwa usia yang lebih tua cenderung memilih spiral dibandingkan usia yang lebih muda.
Pendidikan adalah salah satu faktor penentu pada gaya hidup dan status kehidupan seseorang dalam
masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan yang dimiliki mempunyai pengaruh
yang kuat pada perilaku reproduksi dan penggunaan alat kontrasepsi. Berdasarkan SDKI 2002-2003,
pemakaian alat kontrasepsi meningkat sejalan dengan tingkat pendidikan. Sebesar 45% wanita yang
tidak sekolah menggunakan cara kontrasepsi modern, sedangkan wanita berpendidikan menengah atau
lebih tinggi yang menggunakan cara kontrasepsi modern sebanyak 58%. Jadi, secara umum semakin
tinggi tingkat pendidikan wanita, semakin besar kemungkinannya memakai alat/cara KB modern.
Persentase pemakaian alat kontrasepsi spiral berdasarkan tingkat pendidikan menurut SDKI 2002-2003
adalah yang tidak bersekolah 5,8%; tidak tamat SD 5%; tamat SD 4,1%; tidak tamat SLTP 5,1%;
SLTP+ 11,6%. Berdasarkan SDKI 2002 – 2003 menurut tingkat pendidikan pengguna AKDR yang
terbanyak adalah tingkat pendidikan yang lebih tinggi.
Persentase pemakaian alat kontrasepsi berdasarkan pekerjaan menurut SDKI 1999 pada wanita bekerja
sebesar 55,4% dan yang tidak bekerja sebesar 53,6%. Wanita yang bekerja memiliki nilai waktu yang
mahal sehingga kesempatan untuk mengurus anak lebih sedikit dibanding wanita yang tidak bekerja,
dan wanita yang bekerja akan cenderung membatasi jumlah anak.
Berdasarkan SDKI 2002-2003 alat kontrasepsi pil terbanyak digunakan oleh wanita dari golongan
menengah atas yaitu 15,4%; alat kontrasepsi susuk KB/implant lebih sering digunakan oleh wanita dari
golongan menengah bawah dan terbawah, sebesar masing-masing 6,4%; pada golongan menengah
sebesar 4,2%; golongan menengah atas sebesar 2,9%; dan golongan teratas sebesar 1,6%; kontrasepsi
suntik banyak digunakan oleh wanita dari golongan menengah yaitu 32,4% dan alat kontrasepsi
kondom banyak digunakan oleh golongan teratas yaitu 2,2%. Sedangkan alat kontrasepsi spiral lebih
sering digunakan oleh wanita dari golongan teratas, sebesar 13,7%, pada golongan terbawah sebesar
3,1%, pada golongan menengah kebawah sebesar 5,1%, pada golongan menengah sebesar 4,7%; dan
golongan menengah atas sebesar 4,2%. Secara keseluruhan, pemakaian alat atau cara KB mempunyai
hubungan positif dengan indeks kekayaan kuantil, dari 52% untuk indeks kekayaan kuantil terbawah
menjadi 64% untuk indeks kekayaan teratas.
Berdasarkan SDKI 2002 – 2003, pemakaian kontrasepsi meningkat pesat sejalan dengan jumlah anak
yang masih hidup. Sebesar 7% pada wanita yang tidak memiliki anak, 67% pada wanita dengan 1-2
anak, 38% pada wanita yang memiliki 3-4 anak dan turun menjadi 49% pada wanita dengan 5 anak
atau lebih.
Berdasarkan penelitian BKKBN 2001, keaktifan isteri dalam perkumpulan/organisasi KB tidak dapat
menjamin bahwa seseorang dapat mengerti dan melaksanakan program KB. Keikutsertaan KB pada
keluarga kecil sebesar 46% yang ternyata lebih rendah daripada keikutsertaan KB pada keluarga besar
yaitu sebesar 54%. Persentase terbesar pada keluarga kecil adalah pada kelompok keluarga muda,
sehingga sebaiknya sasaran program diarahkan pada mereka yang masih keluarga muda, baik pada
keluarga kecil maupun keluarga besar.
Pembicaraan antara suami dan isteri mengenai KB tidak selalu menjadi prasyarat dalam penerimaan
KB, namun tidak adanya diskusi tersebut dapat menjadi halangan terhadap pemakaian alat kontrasepsi.
Berdasarkan SDKI 2002-2003, 57% wanita mendiskusikan KB dengan pasangannya paling sedikit satu
kali selama setahun terakhir. Wanita usia 20-34 tahun cenderung lebih sering membicarakan KB
dengan suami dibandingkan dengan wanita pada kelompok umur lainnya. Dan 43% wanita tidak
pernah membicarakan KB dengan pasangannya. Data yang lain juga menyebutkan bahwa 2% wanita
setuju menggunakan alat kontrasepsi tetapi suaminya tidak setuju dan hanya 1% wanita yang tidak
setuju tetapi suaminya setuju. Jadi perbedaan pendapat tentang KB antara suami dan isteri di Indonesia
relatif rendah yaitu 2%. 7,8

2.2. Kerangka konsep

Variabel yang diteliti

BAB III
METODOLOGIPENELITIAN

3.1. Desain Penelitian
Desain yang digunakan adalah studi deskriptif cross sectional mengenai penggunaan AKDR pada ibu
akseptor KB serta faktor-faktor yang berhubungan di RW 03, Kelurahan Tanjung Duren Utara,
Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan Pada tanggal 4 Agustus 2008- 6 September 2008 di RW 03, Kelurahan
Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.

3.3. Sumber Data
Sumber data terdiri dari :
a. Data primer yang diambil dari ibu akseptor KB dengan menggunakan kuesioner terhadap ibu yang
memakai alat kontrasepsi KB yang bertempat tinggal di RW 03, Kelurahan Tanjung Duren Utara,
Kecamatan Grogol, Jakarta Barat. Kuesioner sebelumnya telah dicoba dilokasi lain.
b. Data sekunder dari Puskesmas Tanjung Duren Utara, Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan
Grogol, Jakarta Barat.

3.4. Populasi dan Sampel
Populasi adalah semua ibu akseptor KB di RW 03, Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan
Grogol, Jakarta Barat yang berjumlah 487 orang. Sampel adalah bagian dari populasi yang diteliti
berjumlah 105 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan Simple
Random Sampling dengan teknik tabel random.
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
a. Kriteria inklusi adalah semua ibu-ibu akseptor KB yang menggunakan alat kontrasepsi yang
bertempat tinggal di RW 03, Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat, yang
ketika dilakukan penelitian bersedia untuk berpartisipasi dalam penelitian.
b. Kriteria eksklusi adalah semua ibu-ibu akseptor KB yang memenuhi kriteria inklusi namun tidak
mengisi kuesioner dengan lengkap.

3.5.1. Besar Sampel
Melalui rumus dibawah ini didapatkan besar sampel penelitian sebagai berikut:
(Z?)2 .p.q
n1 = ---------------
L2

n2 = n1 + (10% . n1)

Keterangan:
n1 : jumlah sampel minimal
n2 : jumlah sampel ditambah substitusi 10% ( substitusi adalah persen responden yang mungkin drop
out )
p : proporsi variabel yang ingin diteliti, yaitu : sebesar 53,5%
Z? = Tingkat batas kemaknaan, dengan ? = 5%
Didapat Z? pada kurva normal = 1,96
q = 100% - p = 100 % - 53,5 % = 46,5 %
L = Derajat kesalahan yang masih dapat diterima adalah 10%

Berdasarkan rumus di atas didapatkan angka sebagai berikut :
( Z? )2 . p. q ( 1,96 )2 . 0,535.0,465
n1 = ------------------ = ---------------------------- = 95,57
L2 ( 0,1 )2
Untuk menjaga kemungkinan adanya responden yang drop out maka dihitung
n2 = n1 + ( 10% . n1 )
= 95,57 + ( 10% . 95,57 )
= 105.1 ?di bulatkan 105 responden

3.5.2. Teknik pengambilan sampel
Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan simple random sampling dengan tabel
random.

3.6. Identifikasi Variabel.
Dalam penelitian ini digunakan variabel dependent (terikat) dan variabel independent (bebas). Variabel
terikat adalah pengetahuan, sikap dan perilaku ibu akseptor KB mengenai AKDR. Variabel bebas
berupa usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, aktivitas sosial, jumlah anak
hidup, dan peran suami.

3.7. Cara Kerja
1. Menghubungi ketua RW 03, kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.yang
menjadi daerah penelitian untuk melaporkan tujuan diadakan penelitian di daerah tersebut.
2. Pengambilan data-data yang dibutuhkan di Puskesmas Tanjung Duren Utara.
3. Membuat usulan penelitian dan kuesioner.
4. Melakukan uji coba kuesioner dalam skala kecil di lokasi lain.
5. Menghubungi petugas – petugas lapangan KB dan para kader agar membantu kegiatan penelitian.

6. Melakukan pengumpulan data – data dengan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner di
Posyandu RW 03 dan kunjungan rumah RW 03, kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol,
Jakarta Barat.
7. Melakukan pengolahan, analisis, dan interpretasi data.
8. Penulisan laporan penelitian.
9. Pelaporan Penelitian.
10. Presentasi.
3.7.1 Pengumpulan data
Data primer dikumpulkan dengan memakai kuesioner melalui kunjungan rumah dan posyandu terhadap
ibu-ibu akseptor KB di RW 03, Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.
Kuesiner sebelumya telah diuji coba di lokasi lain.
Data sekunder didapat dari Puskesmas Tanjung Duren Utara, Kelurahan Tanjung Duren Utara,
Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.

3.7.2. Pengolahan data
Terhadap data-data yang telah dikumpulkan dilakukan pengolahan dengan proses editing, verifikasi,
dan koding. Selanjutnya dimasukkan dan diolah dengan menggunakan program komputer, yaitu
program SPSS.

3.7.3. Penyajian data
Data yang didapat disajikan secara tekstular dan tabular.

3.7.4. Analisis data
Terhadap data yang telah diolah akan dilakukan analisis sesuai dengan cara uji statistik menggunakan
Uji Chi-square.

3.7.5. Interpretasi data
Data interpretasi secara deskriptif antar variabel-variabel yang telah ditentukan.

3.7.6. Pelaporan data
Data disusun dalam bentuk pelaporan penelitian yang selanjutnya akan dipresentasikan dihadapan staf
pengajar Program Pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen
Krida Wacana (UKRIDA) dalam forum pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat FK UKRIDA periode
Agustus 2008.

3.8. Definisi Operasional.
3.8.1. Data umum.
? Alat Kontrasepsi Dalam Rahim merupakan alat kontrasepsi yang terbuat dari bahan plastik yang
halus berbentuk spiral (Lippes Loop) atau berbentuk lain (Copper T Cu 200, Copper T 220 atau ML Cu
250)yang dipasang di dalam rahim dengna memakai alat khusus oleh dokter atau bidan/ paramedik lain
yang sudah dilatih.
? Akseptor KB adalah semua Pasangan Usia Subur ( PUS ) yang menggunakan alat kontrasepsi jenis
apapun dan masih menggunakannya dalam masa penelitian ini.
? Usia adalah usia ibu dihitung dari tanggal penelitian dikurangi dengan tanggal lahir yang tertera pada
KTP yang masih berlaku. Bila terdapat kelebihan usia kurang dari enam bulan, maka dibulatkan ke
bawah.
Berdasarkan golongan usia, maka responden dikelompokkan menjadi:
o 15 – 19 tahun
o 20 – 30 tahun
o Di atas 30 tahun

Koding :
Kode 1 : ? 30 tahun
Kode 2 : 20-30 tahun
Kode 3 : 15-19 tahun

? Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal tertinggi yang dicapai dari suatu institusi tertentu yang
mencakup tingkat SD atau sederajat, SMP atau sederajat, SMU atau sederajat dan Akademi / Perguruan
tinggi atau yang sederajat.

Tingkat Pendidikan Rendah :
o Buta huruf
o Tidak tamat / tamat SD atau sederajat
o Tidak tamat / tamat SMP atau sederajat
o Tidak tamat SMA atau sederajat
Tingkat Pendidikan Sedang :
o Tamat SMA atau sederajat
o Tidak tamat akademi atau perguruan tinggi atau sederajat
Tingkat Pendidikan Tinggi :
o Tamat akademi atau Perguruan tinggi atau sederajat.

Koding :
Kode 1 : Tingkat pendidikan tinggi
Kode 2 : Tingkat pendidikan sedang
Kode 3 : Tingkat pendidikan rendah

? Pekerjaan adalah profesi atau kegiatan rutin yang dilakukan sehari – hari yang mendapatkan imbalan
uang atau materi. Dalam hal ini responden digolongkan sebagai:
o Bekerja
o Tidak bekerja ( Ibu Rumah Tangga )

Koding :
Kode 1 : Bekerja
Kode 2 : Tidak bekerja (Ibu rumah tangga)

? Pendapatan keluarga adalah jumlah total pendapatan keluarga selama satu bulan dibagi dengan
jumlah orang yang menjadi tanggungan keluarga.
Penggolongan dibagi berdasarkan standar yang ditetapkan Upah Minimum Propinsi tahun 2008 tentang
Batas pendapatan perkapita perbulan untuk penduduk perkotaan:

o Di atas garis kemiskinan : pendapatan perkapita > Rp. 972.604
o Di bawah garis kemiskinan : pendapatan perkapita < Rp.972.604
Koding :
Kode 1 : Di atas garis kemiskinan
Kode 2 : Di bawah garis kemiskinan

? Aktivitas sosial adalah aktivitas responden dalam mengikuti kegiatan di masyarakat, seperti PKK,
Posyandu, penyuluhan, kegiatan agama, arisan, dan lain-lain dalam enam bulan terakhir.
o Baik, bila aktivitas sosial ibu > 2 kegiatan
o Cukup, bila aktivitas sosial ibu 1 kegiatan
o Kurang, bila ibu tidak mengikuti aktivitas sosial sama sekali.
Koding :
Kode 1 : aktivitas sosial baik
Kode 2 : aktivitas sosial cukup
Kode 3 : aktivitas sosial kurang

? Jumlah anak hidup adalah jumlah anak yang dilahirkan sendiri oleh responden yang saat dilakukan
penelitian masih hidup.
o Cukup : bila jumlah kurang dari atau sama dengan dua orang
o Banyak : bila jumlah lebih dari dua orang.
Koding :
Kode 1 : Jumlah anak cukup (< 2 orang)
Kode 2 : Jumlah anak banyak (> 2 orang)

? Peran suami adalah keikutsertaan suami dalam hal memilih dan mengambil keputusan tentang jenis
alat kontrasepsi yang dipakai.
o Baik, bila suami ikut berperan
o Kurang, bila suami tidak ikut berperan
Koding :
Kode 1 : Suami berperan
Kode 2 : Suami tidak berperan

3.8.2 Data Khusus
? Pengetahuan adalah segala informasi yang diketahui yang berkaitan dengan proses pembelajaran.
Proses pembelajaran ini dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam seperti motivasi dan faktor dari luar
seperti informasi. Pengetahuan yang ingin dinilai disini adalah pengetahuan ibu akseptor KB tentang
AKDR. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan responden tentang AKDR, ibu akseptor KB diberi 11
buah soal yang penilaiannya telah ditentukan.
Koding :
Kode 1 : Pengetahuan baik
Kode 2 : Pengetahuan cukup
Kode 3 : Pengetahuan kurang

? Sikap adalah tanggapan atau reaksi seseorang secara konsisten terhadap sesuatu berdasarkan
pendirian, pendapatan, dan keyakinan individu tersebut. Yang diteliti adalah sikap ibu akseptor KB
mengenai AKDR. Untuk mengetahui sikap ibu akseptor KB tentang AKDR, ibu akseptor KB diberi 4
buah soal yang penilaiannya telah ditentukan.

Koding :
Kode 1 : sikap baik
Kode 2 : sikap cukup
Kode 3 : sikap kurang

? Perilaku adalah tindakan yang dilakukan seseorang untuk kepentingan atau pemenuhan kebutuhan
tertentu berdasarkan pengetahuan, kepercayaan, nilai dan norma kelompok yang bersangkutan serta
merupakan konsekuensi logis dari eksistensi pengetahuan, budaya, atau pola pikir yang dimaksud.
Hal yang diteliti adalah perilaku ibu akseptor KB mengenai AKDR. Untuk mengetahui perilaku ibu
akseptor KB tentang AKDR, ibu akseptor KB diberi 6 buah soal yang penilaiannya telah ditentukan.
Koding :
Kode 1 : perilaku baik
Kode 2 : perilaku cukup
Kode 3 : perilaku kurang

Skoring
Pengetahuan
Pertanyaan nomor 1 :
Jawaban yang benar :
Perencanaan kehamilan sehingga kehamilan hanya terjadi pada waktu yang diinginkan, usaha untuk
merencanakan jumlah anak, usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan, usaha untuk mengatur jarak
kehamilan, dan usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
• Bila > 3 jawaban benar diberi skor 5
• Bila 2 jawaban benar diberi skor 3
• Bila 1 jawaban benar diberi skor 1

Pertanyaan nomor 2 :
Jawaban yang benar : Menjarangkan kehamilan, menunda kehamilan, mengatur jarak kehamilan,
merencanakan jumlah anak, dan membatasi jumlah anak
• Bila > 3 jawaban benar diberi skor 5
• Bila 2 jawaban benar diberi skor 3
• Bila 1 jawaban benar diberi skor 1

Pertanyaan nomor 3 :
Jawaban yang benar : Pil, suntik, spiral, susuk, dan kondom
• Bila > 4 jawaban benar diberi skor 5
• Bila 1-3 jawaban benar diberi skor 3
• Bila menjawab tidak tahu diberi skor 1

Pertanyaan nomor 4 :
Jawaban yang benar : A. Alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim terbuat dari bahan plastik
dan tembaga yang dipasang oleh dokter atau bidan terlatih.
• Jawaban A diberi skor 5
• Jawaban B, C, dan D diberi skor 3
• Jawaban E diberi skor 1
Pertanyaan nomor 5 :
Jawaban yang benar : 8 tahun, 5 tahun, dan 3 tahun
• Bila 3 jawaban benar diberi skor 5
• Bila 1-2 jawaban benar diberi skor 3
• Bila menjawab tidak tahu diberi skor 1

Pertanyaan nomor 6 :
Jawaban yang benar : A. rahim
• Jawaban A diberi skor 5
• Jawaban lainnya diberi skor 1

Pertanyaan nomor 7 :
Jawaban yang benar : A. Tidak
• Bila jawaban benar diberi skor 5
• Bila jawaban salah diberi skor 1

Pertanyaan nomor 8 :
Jawaban yang benar : Saat haid hampir selesai, haid tinggal sedikit, setelah melahirkan dan setelah
keguguran.
• Bila > 3 jawaban benar diberi skor 5
• Bila 1-2 jawaban benar diberi skor 3
• Bila menjawab tidak tahu diberi skor 1

Pertanyaan nomor 9 :
Jawaban yang benar : Dokter dan Bidan terlatih
• Bila 2 jawaban benar diberi skor 5
• Bila 1 jawaban benar diberi skor 3
• Bila tidak ada jawaban yang benar diberi skor 1

Pertanyaan nomor 10 :
Jawaban yang benar : Keinginan ibu, ibu ingin hamil, timbul efek samping yang mengganggu, masa
pakai telah habis

• Bila > 3 jawaban benar diberi skor 5
• Bila 1-2 jawaban benar diberi skor 3
• Bila menjawab tidak tahu diberi skor 1

Pertanyaan nomor 11 :
Jawaban yang benar : Keputihan, haid lebih lama dan banyak, saat haid lebih nyeri.
• Bila 3 jawaban benar diberi skor 5
• Bila 1 - 2 jawaban benar diberi skor 3
• Bila menjawab tidak tahu diberi skor 1

Kesimpulan penilaian
Skor tertinggi : 55
Skor terendah : 11
Interval : 44
Pengetahuan baik : (80% X 44) + 11 = 46,2– 55
Pengetahuan cukup : (60% X 44) + 11 = 37,4 – 46,19
Pengetahuan kurang : 11 – 37,39

B. Sikap
Pertanyaan nomor 1 :
• Bila jawaban A diberi skor 5
• Bila jawaban B diberi skor 1

Pertanyaan nomor 2 :
• Bila jawaban A diberi skor 5
• Bila jawaban B diberi skor 1
Pertanyaan nomor 3 :
• Bila jawaban A diberi skor 5
• Bila jawaban B diberi skor 1

Pertanyaan nomor 4 :
• Bila jawaban A diberi skor 5
• Bila jawaban B diberi skor 1

Kesimpulan penilaian
Skor tertinggi : 20
Skor terendah : 4
Interval : 16
Sikap baik : (80% X 16) + 4 = 16,8 - 20
Sikap cukup : (60% X 16) + 4 = 13,6- 16,79
Sikap kurang : 4 – 13,59

C. Perilaku

Pertanyaan nomor 1 :
Jawaban yang benar : Pil, suntik, spiral, susuk, dan kondom
• Bila 1 jawaban benar diberi skor 5
• Bila >1 jawaban benar diberi skor 1

Pertanyaan nomor 2 :
• Bila jawabn A diberi skor 5
• Bila jawaban B diberi skor 3
• Bila jawaban C diberi skor 1
Pertanyaan nomor 3 :
Jawaban benar : A. Rumah sakit, B.Dokter, C.Bidan, D. Puskesmas
• Bila jawaban A/B/C/D diberi skor 5
• Bila jawaban E diberi skor 1

Pertanyaan nomor 4 :
• Bila jawaban A diberi skor 5
• Bila jawaban B diberi skor 1

Pertanyaan nomor 5 :
• Bila jawaban A diberi skor 5
• Bila jawaban B diberi skor 1

Kesimpulan penilaian
Skor tertinggi : 25
Skor terendah : 5
Interval : 20
Perilaku baik : (80% X 20) + 5 = 21– 25
Perilaku cukup : (60% X 20) + 5 = 17 – 20,9
Perilaku kurang : 5 – 16,9

Aktifitas Sosial
• Bila lebih dari 3 : baik
• Bila 2 – 3 : sedang
• Bila < 2 : kurang

Peran Suami
• Bila jawaban A diberi skor 5
• Bila jawaban B diberi skor 1
3.9.Etika Penelitian.
Ibu-ibu akseptor KB yang diminta untuk pengisian kuesioner pada penelitian ini diberi jaminan
kerahasiaan terhadap data – data yang diberikan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol,
Jakarta Barat pada 4 Agustus 2008 – 6 September 2008 tentang pengetahuan, sikap dan perilaku ibu
akseptor KB mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dan faktor-faktor yang berhubungan,
maka diperoleh hasil pengumpulan data sebanyak 105 sampel penelitian yang menggunakan Simple
Random Sampling dengan teknik tabel random dari jumlah populasi sebanyak 487 akseptor KB.

Tabel 4.1 Sebaran alat kontrasepsi yang digunakan ibu akseptor KB di RW 03 Kelurahan Tanjung
Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat
Kelompok Akseptor Frekuensi Presentase(%)
Pil 36 34,3
Suntik 28 26,7
AKDR/Spiral 17 16,2
Susuk/implant 21 20,0
Kondom wanita 3 2,8

Total 105 100%

Tabel 4.2 Sebaran ibu akseptor KB berdasarkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu akseptor KB
mengenai alat kontrasepsi dalam rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan
Grogol, Jakarta Barat
Variabel Frekuensi Persentase
Pengetahuan Baik 24 22,9
Cukup 34 32,4
Kurang 47 44,8

Sikap Baik 27 25,7
Cukup 35 33,3
Kurang 43 41

Perilaku Baik 25 23,8
Cukup 32 30,5 Kurang 48 45,7

Tabel 4.3 Sebaran ibu akseptor KB berdasarkan usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan
keluarga, jumlah anak, aktivitas sosial, dan peran suami di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara,
Kecamatan Grogol, Jakarta Barat
Variabel Frekuensi Persentase
Usia Ibu >30 tahun 21 20,00
20-30 tahun 56 53,33 16-19 tahun 28 26,67

Pendidikan Ibu Tinggi 20 19,05
Sedang 45 42,86
Rendah 40 38,09
Pekerjaan Ibu Bekerja 31 29,52
Tidak bekerja 74 70,48

Pendapatan keluarga
Di atas garis kemiskinan 28 26,67
Di bawah garis kemiskinan 77 73,33

Jumlah anak hidup < 2 41 39,05
> 2 64 60,95
Aktivitas sosial Baik 33 31,43
Cukup 45 42,86
Kurang 27 25,71

Peran suami
Suami turut berperan 81 77,14
Suami tidak berperan 24 22,86

Tabel 4.4 Hubungan antara usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak,
aktivitas sosial, dan peran suami dengan pengetahuan ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam
rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat
Variabel Pengetahuan Uji statistik P Ho
Baik Cukup Kurang
Usia Ibu
?30 tahun
20-320-30 tahun
16-19 tahun
6
10
8
7
14
13
8
32
7
Chi-square
8,536
> 0,05

Diterima
Pendidikan Ibu
Tinggi
Sedang
Rendah 7
12
57
18
96
15
26 Chi-square
11,455 < 0,05 Ditolak
Pekerjaan Ibu
Bekerja
Tidak bekerja
2
22
15
19
14
33 Chi-square
8,661
< 0,05 Ditolak

Pendapatan keluarga
Di atas garis kemiskinan
Di bawah garis kemiskinan
9
15

13
21

6
41
Chi-square
8,411

< 0,05

Ditolak
Jumlah anak hidup
<2
>2
13
11
16
18
12
35 Chi-square
6,829 < 0,05
Ditolak
Aktivitas sosial
Baik
Cukup
Kurang
8
11
5
16
10
8
9
24
14
Chi-square
7,737
> 0,05

Diterima

Peran suami
Suami turut berperan
Suami tidak berperan

20
4

31
3

30
17

Chi-square
9,043
< 0,05

Ditolak

Tabel 4.5 Hubungan antara usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak,
aktivitas sosial, dan peran suami dengan sikap ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam rahim
(spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat
Variabel Sikap Uji statistik P Ho
Baik Cukup Kurang
Usia Ibu
? 30 tahun
20- 30 tahun
16-19 tahun
8
15
4
6
15
14
7
26
10
Chi-square
6,791
> 0,05

Diterima

Pendidikan Ibu
Tinggi
Sedang
Rendah

7
11
9

9
12
14

4
22
17

Chi-square
5,169

> 0,05

Diterima

Pekerjaan Ibu
Bekerja
Tidak bekerja

11
16
8
27

12
31
Chi-square
2,434

> 0,05

Diterima

Pendapatan keluarga
Di atas garis kemiskinan
Di bawah garis kemiskinan

11
16

9
26

8
35
Chi-square
4,180

> 0,05

Diterima

Jumlah anak hidup
<2
>2

14
13

14
21

13
30
Chi-square
3,277

> 0,05

Diterima
Aktivitas sosial
Baik
Cukup
Kurang
12
9
6
12
19
4
19
17
17
Chi-square
10,903
<0,05

Ditolak
Peran suami
Suami turut berperan
Suami tidak berperan
25
2
27
8
29
14
Chi-square
5,950
> 0,05
Diterima

Tabel 4.6 Hubungan antara usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak,
aktivitas sosial, dan peran suami dengan perilaku ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam
rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat
Variabel Perilaku Uji statistik P Ho
Baik Cukup Kurang
Usia Ibu
? 30 tahun
20- 30 tahun
16-19 tahun
9
7
9
5
21
6
7
28
13
Chi-square
9,922
< 0,05

Ditolak

Pendidikan Ibu
Tinggi
Sedang
Rendah

8
11
6

3
14
15
9
20
19

Chi-square
5,785

>0,05

Diterima

Pekerjaan Ibu
Bekerja
Tidak bekerja

11
14

8
24

12
36
Chi-square
3,305

> 0,05

Diterima

Pendapatan keluarga
Di atas garis kemiskinan
Di bawah garis kemiskinan

10
15

9
23

9
39
Chi-square
3,846

>0,05

Diterima

Jumlah anak hidup
<2
>2

14
11

12
20
15
33
Chi-square
4,277

> 0,05

Diterima

Aktivitas sosial
Baik
Cukup
Kurang

13
7
5

7
17
8

13
21
14

Chi-square
7,214

> 0,05

Diterima

Peran suami
Suami turut berperan
Suami tidak berperan

23
2

23
9

35
13

Chi-square
4,119

> 0,05

Diterima

Tabel 4.7 Hubungan pengetahuan dengan sikap ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam
rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat
Variabel Sikap Total
Baik Cukup Kurang
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang 6
14
7 11
6
18 7
14
22
24
34
47
Total 27 35 43 105
Ho : Tidak ada perbedaan bermakna secara statistik antara pengetahuan ibu dengan sikap ibu mengenai
alat kontrasepsi dalam rahim (spiral).
Batas kemaknaan (?) : 5%
Uji Chi-square (X2) : 10,496
df : 4
p <0,05 ? Ho ditolak
Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan ibu dengan sikap ibu
mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/spiral).

Tabel 4.8 Hubungan pengetahuan dengan perilaku ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam
rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat
Variabel Perilaku Total
Baik Cukup Kurang
Pengetahuan
Baik
Cukup
Kurang 7
12
64
12
16 13
10
25 24
34
47
Total 25 32 48 105

Ho : Tidak ada perbedaan bermakna secara statistik antara pengetahuan ibu dengan perilaku ibu
mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (spiral).

Batas kemaknaan (?) : 5%
Uji Chi-square (X2) : 9,464
df : 4
p = 0,05 ? Ho ditolak
Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan ibu dengan perilaku
ibu mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/spiral).

Tabel 4.9 Hubungan sikap dengan perilaku ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam rahim
(spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat
Variabel Perilaku Total
Baik Cukup Kurang
Sikap
Baik
Cukup
Kurang 11
6
8 10
8
14 6
21
21 27
35
43
Total 25 32 48 105
Ho : Tidak ada perbedaan bermakna secara statistik antara sikap ibu dengan perilaku ibu mengenai Alat
Kontrasepsi Dalam Rahim (spiral)
Batas kemaknaan (?) : 5%
Uji Chi-square (X2) : 10,416
df : 4
p < 0,05 ? Ho ditolak
Kesimpulan : Ada hubungan yang bermakna secara statistik antara sikap ibu dengan perilaku ibu
mengenai Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR/spiral).

BAB V
PEMBAHASAN
Tabel 4.1 Sebaran alat kontrasepsi yang digunakan ibu akseptor KB di RW 03 Kelurahan Tanjung
Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.

Sebaran alat kontrasepsi spiral yang digunakan ibu akseptor KB menurut hasil penelitian kami adalah
16,2 % dari total kelompok akseptor. Hal ini berbeda dengan hasil survei BKKBN 2006 yang
menyatakan bahwa terdapat 5,4% dari akseptor KB yang menggunakan KB spiral. Perbedaan ini
disebabkan karena jumlah sampel yang berbeda, waktu penelitian yang berbeda, dan lokasi penelitian
yang berbeda. Selain itu, alat kontrasepsi spiral kurang diminati karena takut akan efek sampingnya
yang sering menyebabkan perdarahan lebih banyak dan rasa nyeri pada perut. Ibu akseptor KB lebih
memilih pil karena merasa lebih aman dalam penggunaannya dan lebih fleksibel.

Tabel 4.2 Sebaran ibu akseptor KB berdasarkan pengetahuan, sikap dan perilaku ibu akseptor KB
mengenai alat kontrasepsi dalam rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan
Grogol, Jakarta Barat.

Sebaran ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi spiral menunjukkan bahwa kelompok ibu akseptor
KB di RW 03 berpengetahuan kurang sebesar 44,76%, sikap kurang sebesar 40,95% dan perilaku
kurang sebesar 45,71% dari seluruh kelompok akseptor KB. Pengetahuan ibu kurang disebabkan
karena tingkat pendidikan ibu rendah sehingga sikap dan perilaku ibu kurang ada tanggapan mengenai
pemakaian alat kontrasepsi spiral

Tabel 4.3 Sebaran ibu akseptor KB berdasarkan usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan
keluarga, jumlah anak, aktivitas sosial, dan peran suami di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara,
Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.
Sebaran usia ibu akseptor KB yang menunjukkan bahwa sebagian besar ibu akseptor KB berusia 20 –
30 tahun sebesar 53,33%. Hasil ini tidak sesuai dengan data SDKI 2002-2003 dimana sebaran usia ibu
akseptor KB sebagian besar terdapat pada kelompok usia 40-44 tahun sebesar 9,3%. Perbedaan ini
disebabkan pada kelompok akseptor KB berusia 20-30 tahun mempunyai pendapatan yang kurang
sehingga mencegah kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi.
Pada sebaran pendidikan 42,86% ibu akseptor KB berpendidikan sedang. Hal ini sesuai dengan data
SDKI 2002-2003 yang menyatakan bahwa 58% wanita kawin yang menggunakan cara kontrasepsi
modern adalah wanita yang berpendidikan menengah.
Pada sebaran pekerjaan, sebagian besar ibu akseptor KB tidak bekerja yaitu sebesar 70,48%. Ibu
akseptor KB tidak bekerja lebih memilih menggunakan alat kontrasepsi karena cenderung memikirkan
kesejahteraan keluarga dengan mencegah kehamilan bila jumlah anak cukup. Hal ini tidak sesuai
dengan data SDKI 1999 yang menyatakan bahwa prevalensi pemakaian alat kontrasepsi terbanyak
terdapat pada wanita bekerja sebesar 55,4%.
Pada sebaran pendapatan keluarga sebagian besar ibu akseptor KB sebesar 73,33% mempunyai
pendapatan keluarga di bawah garis kemiskinan. Pendapatan keluarga berada dibawah garis
kemiskinan karena sebagian besar ibu akseptor KB tidak bekerja dan ibu akseptor KB lebi memilih
menggunakan alat kontrasepsi untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga . Hal ini tidak sesuai dengan
data SDKI 2002-2003 dimana sebagian besar akseptor KB berada pada golongan menengah atas
dengan persentase 64%.
Pada sebaran jumlah anak sebagian besar ibu akseptor KB memiliki anak lebih dari dua orang dengan
persentase 60,95%. Hal ini sesuai dengan data SDKI 2002-2003 dimana wanita yang memiliki jumlah
anak lebih dari dua sebanyak 58,5% cenderung menggunakan alat kontrasepsi.
Pada sebaran aktivitas sosial, sebagian besar ibu akseptor KB yang memiliki aktivitas sosial yang
cukup (mengikuti satu aktivitas sosial) sebesar 42,86%. Hal ini tidak sesuai dengan data BKKBN tahun
2001 yang menyatakan ibu yang mengikuti aktivitas sosial sebanyak 54% cenderung menggunakan alat
kontrasepsi. Sebagian besar ibu akseptor KB mempunyai aktivitas sosial cukup mengetahui
pengalaman mengenai pengguaan alat kontrasepsi dari ibu akseptor KB lainnya sehingga cenderung
mempertimbangkan penggunaan alat kontrasepsi.
Pada sebaran peran suami dalam memilih dan mengambil keputusan mengenai alat kontrasepsi yang
digunakan, sebagian besar ibu akseptor KB menyatakan adanya peran suami dalam memilih dan
mengambil keputusan mengenai alat kontrasepsi yang digunakan sebesar 77,14. Hasil ini sesuai dengan
data SDKI 2002-2003 yang menyatakan wanita yang mendiskusikan tentang KB dan alat kontrasepsi
dengan suaminya sebesar 57%.

Tabel 4.4 Hubungan antara usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak,
aktivitas sosial, dan peran suami dengan pengetahuan ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam
rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.
Hubungan antara variabel usia ibu dengan pengetahuan melalui uji Chi-Square tidak didapatkan adanya
hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan pengetahuan mengenai Alat Kontrasepsi Spiral. Hal
ini mungkin semakin tua usia ibu belum tentu mempunyai pengetahuan tinggi. Hasil ini tidak sesuai
dengan data SDKI 2002-2003 yang menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai alat kontrasepsi
meningkat sejalan dengan bertambahnya usia.
Pada hubungan antara variabel pendidikan ibu dengan pengetahuan melalui uji Chi-Square didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan pengetahuan mengenai Alat
Kontrasepsi Spiral. Hal ini berarti bahwa pengetahuan seseorang dapat dinilai dari tingkat
pendidikannya karena semakin tinggi pendidikan ibu maka cara untuk mendapat informasi yang lebih
banyak tentang alat kontrasepsi spiral. Hasil ini sesuai dengan data SDKI 2002-2003 yang
menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu mempengaruhi pengetahuan ibu mengenai Alat
Kontrasepsi Spiral.
Pada hubungan antara variabel pekerjaan ibu dengan pengetahuan melalui uji Chi-Square didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan pengetahuan mengenai Alat Kontrasepsi
Spiral. Hal ini berarti bahwa ibu yang bekerja mempunyai pengetahuan yang lebih baik karena ibu
yang bekerja memiliki pergaulan dan informasi yang lebih baik. Hasil ini sesuai dengan data SDKI
1999 yang menyatakan 55,4% wanita bekerja menggunakan alat kontrasepsi.
Pada hubungan antara variabel pendapatan keluarga dengan pengetahuan melalui uji Chi-Square
didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara pendapatan keluarga dengan pengetahuan
mengenai Alat Kontrasepsi Spiral. Hal ini berarti pendapatan keluarga mempengaruhi pengetahuan
karena semakin besar pendapatan keluarga semakin mudah untuk mendapatkan informasi dengan
membeli majalah atau konsultasi dengan dokter. Hasil ini sesuai dengan data SDKI 2002-2003 yang
menunjukkan bahwa pengetahuan tentang suatu cara KB modern, termasuk alat kontrasepsi spiral,
dipengaruhi oleh pendapatan keluarga.
Pada hubungan antara variabel jumlah anak dengan pengetahuan melalui uji Chi-Square didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan pengetahuan mengenai Alat Kontrasepsi
Spiral. Hal ini disebabkan karena semakin banyak jumlah anak maka ibu-ibu akseptor KB cenderung
memikirkan kesejahteraan keluarganya sehingga lebih berusaha mencari pengetahuan tentang alat
kontrasepsi spiral.
Pada hubungan antara variabel aktivitas sosial ibu dengan pengetahuan melalui uji Chi-Square tidak
didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara aktivitas sosial ibu dengan pengetahuan mengenai
Alat Kontrasepsi Spiral. Hal ini berarti aktivitas sosial ibu tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan
karena mungkin saat mengikuti aktivitas sosial kurang mendapatkan informasi mengenai spiral.
Pada hubungan antara variabel peran suami dengan pengetahuan melalui uji Chi-Square didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara peran suami dengan pengetahuan mengenai Alat Kontrasepsi
Spiral. Hal ini berarti peran suami mempengaruhi pengetahuan ibu terhadap kontrasepsi spiral karena
suami turut berperan dalam memberikan informasi seperti mengajak berkonsultasi dengan dokter/
tenaga medis atapun membelikan majalah kesehatan.
Tabel 4.5 Hubungan antara usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak,
aktivitas sosial, dan peran suami dengan sikap ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam rahim
(spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat.

Hubungan antara variabel usia ibu dengan sikap melalui uji Chi-Square tidak didapatkan hubungan
yang bermakna antara usia ibu dengan sikap terhadap Alat Kontrasepsi Spiral. Hal ini berarti usia ibu
tidak mempengaruhi sikap ibu terhadap kontrasepsi spiral karena mungkin semakin tua usia ibu
mempunyai banyak pengalaman tapi jika ibu tidak memiliki kesadaran yang baik tetap saja sikapnya
kurang.
Pada hubungan antara variabel pendidikan ibu dengan sikap melalui uji Chi-Square tidak didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan sikap mengenai Alat Kontrasepsi
Spiral. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat pendidikan ibu belum tentu sikap ibu baik. Ibu yang
berpendidikan memperoleh informasi lebih lengkap mengenai keuntungan dan kerugian tentang alat
kontrasepsi spiral sehingga lebih mempertimbangkan penggunaan alat kontrasepsi spiral.

Pada hubungan antara variabel pekerjaan dengan sikap melalui uji Chi-Square tidak didapatkan adanya
hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan sikap mengenai Alat Kontrasepsi Spiral. Hal ini
berarti bekerja atau tidak bekerjanya ibu tidak mempengaruhi sikap ibu terhadap kontrasepsi spiral
karena ibu yang bekerja mungkin terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan ibu tidak bekerja lebih banyak
menghabiskan waktu dirumah.
Pada hubungan antara variabel pendapatan keluarga dengan sikap melalui uji Chi-Square tidak
didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara pendapatan keluarga dengan sikap mengenai Alat
Kontrasepsi Spiral. Hal ini berarti sikap ibu akseptor KB terhadap kontrasepsi spiral tidak dapat dilihat
dari pendapatan keluarganya karena penggunaan alat kontrasepsi tergantung keinginan pasangan usia
subur.
Pada hubungan antara variabel jumlah anak dengan sikap melalui uji Chi-Square tidak didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan sikap mengenai Alat Kontrasepsi Spiral.
Hal ini berarti sikap ibu terhadap kontrasepsi spiral tidak dapat dilihat dari jumlah anaknya, dimana
semakin banyak anak belum tentu pengalaman yang diperoleh semakin bertambah dan walaupun
pengalamannya banyak tapi jika ibu tidak memiliki kesadaran yang baik tetap saja sikapnya kurang.
Pada hubungan antara variabel aktivitas sosial dengan sikap melalui uji Chi-Square didapatkan adanya
hubungan yang bermakna antara aktivitas sosial dengan sikap mengenai Alat Kontrasepsi Spiral. Hal
ini berarti sikap ibu dipengaruhi oleh aktivitas sosial yang diikuti ibu karena saat mengikuti aktivitas
sosial ibu akseptor KB mengetahui pengalaman tentang penggunaan alat kontrasepsi dari ibu akseptor
KB lainnya.

Pada hubungan antara variabel peran suami dengan sikap melalui uji Chi-Square tidak didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara peran suami dengan sikap mengenai Alat Kontrasepsi Spiral.
Hal ini berarti sikap ibu terhadap kontrasepsi spiral tidak dipengaruhi peran suami karena ibu akseptor
KB lebih mandiri dalam memutuskan pemilihan alat kontrasepsi.

Tabel 4.6 Hubungan antara usia ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak,
aktivitas sosial, dan peran suami dengan perilaku ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam
rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat

Hubungan antara variabel usia ibu dengan perilaku melalui uji Chi-Square didapatkan adanya
hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan perilaku mengenai Alat Kontrasepsi Spiral. Hal ini
berarti perilaku ibu terhadap kontrasepsi spiral dipengaruhi oleh usia ibu karena sejalan dengan
meningkatnya usia ibu lebih memilih alat kontrasepsi yang praktis dan dapat digunakan dalam jangka
waktu yang lama. Hasil ini sesuai data SDKI 2002-2003 yang menunjukkan dari keseluruhan akseptor
spiral di Indonesia yang berjumlah 5,4 %, sebagian besar digunakan pada kelompok usia 15-19 tahun
(1,7%), usia 20-30 tahun (10,4%), usia 30-34 tahun (12,1%), usia 35-39 tahun (16,7%) dan usia 40-44
tahun (19%) dan usia 45-49 tahun (16%). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa usia yang lebih tua
cenderung memilih spiral dibandingkan usia yang lebih muda.
Pada hubungan antara variabel pendidikan ibu dengan perilaku melalui uji Chi-Square tidak didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan perilaku mengenai Alat Kontrasepsi
Spiral. Hal ini berarti semakin tinggi tingkat pendidikan ibu belum tentu perilakunya baik terhadap
kontrasepsi spiral karena penggunaan alat kontrasepsi sesuai dengan kebutuhan.
Hasil ini tidak sesuai dengan data SDKI 2002-2003 yang menunjukkan bahwa sebagian besar akseptor
spiral tidak sekolah dan tidak tamat SD (10,8%), tamat SD (4,1%), tidak tamat SLTP (5,1%) dan tamat
SLTP (16,6%). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa alat kontrasepsi spiral lebih banyak digunakan
oleh ibu dengan pendidikan tinggi.
Pada hubungan antara variabel pekerjaan dengan perilaku melalui uji Chi-Square tidak didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan perilaku mengenai Alat Kontrasepsi Spiral.
Hal ini berarti bahwa bekerja atau tidak bekerjanya ibu tidak mempengaruhi perilaku terhadap
kontrasepsi spiral karena ibu akseptor KB mungkin dipengaruhi oleh ibu akseptor KB lainnya dalam
pemilihan alat kontrasepsi.
Pada hubungan antara variabel pendapatan keluarga dengan perilaku melalui uji Chi-Square tidak
didapatkan adanya hubungan yang bermakna antara pendapatan keluarga dengan perilaku mengenai
alat kontrasepsi spiral. Hal ini berarti bahwa tingkat pendapatan keluarga tidak mempengaruhi perilaku
terhadap kontrasepsi spiral karena pemilihan alat kontrasepsi tergantung dari keinginan pasangan usia
subur. Hasil ini tidak sesuai dengan data SDKI 2002-2003 yang menyatakan bahwa sebagian besar
akseptor KB spiral lebih sering digunakan oleh wanita dari golongan teratas, sebesar 13,7%, pada
golongan terbawah sebesar 3,1%, pada golongan menengah kebawah sebesar 5,1%, pada golongan
menengah sebesar 4,7%; dan golongan menengah atas sebesar 4,2%.
Pada hubungan antara variabel jumlah anak dengan perilaku melalui uji Chi-Square tidak didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara jumlah anak dengan perilaku mengenai Alat Kontrasepsi
Spiral. Hal ini berarti bahwa banyaknya anak tidak mempengaruhi perilaku ibu untuk memilih
kontrasepsi spiral karena ibu takut menggunakan kontrasepsi spiral.

Hasil ini tidak sesuai dengan data SDKI 2002-2003 yang menyatakan bahwa wanita dengan jumlah
anak lebih dari dua sebanyak 68%. Pemakaian kontrasepsi meningkat pesat sejalan dengan jumlah anak
yang masih hidup. Sebesar 7% pada wanita yang tidak memiliki anak, 67% pada wanita dengan 1-2
anak, 38% pada wanita yang memiliki 3-4 anak dan turun menjadi 49% pada wanita dengan 5 anak
atau lebih. Dari hasil tersebut kontrasepsi spiral lebih banyak digunakan oleh wanita dengan jumlah
anak banyak.
Pada hubungan antara variabel aktivitas sosial dengan perilaku melalui uji Chi-Square tidak didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara aktivitas sosial dengan perilaku mengenai Alat Kontrasepsi
Spiral. Hal ini berarti bahwa aktivitas sosial ibu aseptor KB tidak mempengaruhi perilakunya untuk
memilih alat kontrasepsi spiral karena semakin banyak mengikuti aktivitas sosial ibu belum tentu
diikuti dengan perilaku ibu. Hasil ini sesuai dengan penelitian BKKBN 2001 yang menunjukkan bahwa
keaktifan istri dalam perkumpulan atau organisasi KB tidak menjamin dapat mengerti dan
melaksanakan program KB.
Pada hubungan antara variabel peran suami dengan perilaku melalui uji Chi-Square tidak didapatkan
adanya hubungan yang bermakna antara peran suami dengan perilaku mengenai Alat Kontrasepsi
Spiral. Hal ini berarti bahwa peran suami tidak mempengaruhi perilaku ibu akseptor KB terhadap
kontrasepsi spiral karena suami lebih menyerahkan keputusan dalam memilih alat kontrasepsi kepada
istrinya. Hasil ini tidak sesuai dengan data SDKI 2002-2003 yang menyatakan bahwa wanita yang
mendiskusikan tentang KB dan alat kontrasepsi dengan suaminya sebesar 57%.

Tabel 4.7 Hubungan pengetahuan dengan sikap ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam
rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat

Pada variabel pengetahuan dengan sikap melalui uji Chi-square didapatkan hubungan yang bermakna
antara pengetahuan dengan sikap ibu akseptor KB mengenai kontrasepsi spiral. Hal ini berarti
seseorang yang memiliki pengetahuan yang baik, tentu memiliki sikap yang baik terhadap kontrasepsi
spiral sehingga akan menggunakan kontrasepsi spiral.

Tabel 4.8 Hubungan pengetahuan dengan perilaku ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam
rahim (spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat

Pada variabel pengetahuan dengan perilaku melalui uji Chi-square didapatkan hubungan yang
bermakna antara pengetahuan dengan perilaku ibu akseptor KB mengenai kontrasepsi spiral. Hal ini
berarti pengetahuan ibu akseptor KB mempengaruhi perilakunya dalam memilih kontrasepsi spiral
sebagai alat kontrasepsi karena ibu dengan pengetahuan tinggi tentu mempunyai perilaku yang berbeda
dengan yang pendidikannya rendah karena ibu yang berpengetahuan tinggi lebih memilih cara
pengguaan alat kontrasepsi yang lebih efisien dan praktis.
Tabel 4.9 Hubungan sikap dengan perilaku ibu akseptor KB mengenai alat kontrasepsi dalam rahim
(spiral) di RW 03 Kelurahan Tanjung Duren Utara, Kecamatan Grogol, Jakarta Barat

Pada variabel sikap dengan perilaku melalui uji Chi-square didapatkan hubungan yang bermakna antara
sikap dengan perilaku ibu akseptor KB mengenai kontrasepsi spiral. Hal ini berarti sikap ibu akseptor
KB mempengaruhi perilakunya dalam memilih kontrasepsi spiral sebagai alat kontrasepsinya

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Dari seluruh data yang telah diperoleh dan hasil perhitungan yang telah dilakukan, dapat diambil
kesimpulan bahwa :
1. Dari sebaran ibu akseptor KB menurut variabel pengetahuan, sikap dan perilaku, didapatkan
sebagian besar ibu akseptor KB yang berpengetahuan kurang sebesar 44,76%, sikap kurang sebesar
40,95% dan perilaku kurang sebesar 45,71% dari seluruh total akseptor KB.

2. Dari sebaran ibu akseptor KB menurut variabel tertentu dapat terlihat bahwa :
• Sebagian besar ibu akseptor KB berusia 20-30 tahun yaitu sebesar 55,33%.
• Sebagian besar ibu akseptor KB memiliki tingkat pendidikan sedang yaitu sebesar 42,86%.
• Sebagian besar ibu akseptor KB tidak bekerja yaitu sebesar 70,48%.
• Sebagian besar ibu akseptor KB mempunyai pendapatan keluarga dibawah garis kemiskinan yaitu
sebesar 73,33%.
• Sebagian besar ibu akseptor KB memiliki > 2 anak yaitu sebesar 60,95%.
• Sebagian besar ibu akseptor KB cukup (mengikuti satu kegiatan di masyarakat) yaitu sebesar 42,86%.
• Sebagian besar ibu akseptor KB menyatakan adanya peran suami dalam memilih dan mengambil
keputusan mengenai alat kontrasepsi yang digunakan yaitu sebesar 77,14%.
3. Ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah
anak, dan peran suami dengan pengetahuan ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat Kontrasepsi Spiral.
4. Ada hubungan yang bermakna antara aktivitas sosial dengan sikap ibu-ibu akseptor KB mengenai
Alat Kontrasepsi spiral.
5. Ada hubungan yang bermakna antara usia ibu dengan perilaku ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat
Kontrasepsi spiral.
6. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan sikap ibu-ibu akseptor KB mengenai
Alat Kontrasepsi spiral.
7. Ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu dengan perilaku ibu-ibu akseptor KB
mengenai Alat Kontrasepsi spiral.
8. Ada hubungan yang bermakna antara sikap ibu dengan perilaku ibu-ibu akseptor KB mengenai Alat
Kontrasepsi spiral.

6.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan di atas, ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap
maka disarankan kepada wanita PUS agar menambah pengetahuan dan wawasan tentang alat
kontrasepsi spiral melalui surat kabar, majalah, mengikuti penyuluhan, dan lain-lain
Berdasarkan data di atas, disarankan agar pihak-pihak terkait terutama PLKB, menggiatkan kegiatan
KIE antara lain dengan cara penyuluhan guna meningkatkan pengetahuan ibu akseptor KB tentang KB
spiral.
Penyuluhan bagi suami tentang alat kontrasepsi yang akan dipakai oleh istrinya penting dilakukan
karena berdasarkan penelitian peran suami mempengaruhi pengetahuan istrinya dalam menentukan alat
kontrasepsi yang digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kependudukan dan Pembangunan.http://www.bkkbn.go.id . Diakses tanggal 14 Agustus 2008.
2. KB_Kesehatan Reproduksi. http://www.bkkbn.go.id. Diakses tanggal 14 Agustus 2008.
3. Pelayanan KB Menurun, Ancaman Pertumbuhan Penduduk. 5 Maret 2004. Suara Pembaharuan
http://www.freelists.org/archives/ppi/03-2004/msg00074.html. 5 Maret 2004. Suara Pembaharuan.
Diakses tanggal 14 Agustus 2008.
4. Kontrasepsi oral KB paling efektif. http :/www.replubika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid2>.
Diakses tanggal 14 Agustus 2008.
5. Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas serta Pemuda dan
Olahraga.http://www.bappenas.go.id/index.ph.Diakses tanggal 14 Agustus 2008.
6. BKKBN, Upaya Peningkatan Penggunaan AKDR, Jakarta, 2005, hal 1-2.
7. Departemen Kesehatan RI. Keluarga Berencana. Dalam: Pedoman Kerja Puskesmas,Jilid II. Jakarta
1991; hal 51-88.
8. Irwati T,Lolong D.B, Isnawati, Hzartanto W, et al. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-
2003. Jakarta: BPS, BKKBN, DepKes, ORC. Macro, 2003, hal: p2-3,43-5,64-5,67-71.
9. Winknjosastro. H, Saifuddin A.B, Rachimhadhi T. Ilmu kebidanan. Jakarta: YBPSP,1999. hal 915-
21.
10. Ilmu Kandungan. Jakarta: YBPSP, 1999. hal 543-51.
11. Mochtar,R.Sinopsis Obstetri Jilid II. Jakarta: EGC,1998 hal 249-307.
12. Referensi Kesehatan. Alat Kontrasepsi dalam Rahim.
http://creasoft.wordpress.com/2008/04/15/alat-kontrasepsi-dalam-rahim/. 15 April 2008. Diakses
tanggal 15 Agustus.
13. Saifudin, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Ed.1, Cetakan ke-4. Jakarta; Yayasan Bina
Pustaka Sarwono Prawiroharjo,2004, hal:MK 72-7.
14. Ardiyan, Kundi. Hubungan antara Tingkat pengetahuan tentang KB dan Metode Kontrasepsi di
Kelurahan Sumber Sari. http://www. University of Jember.com 10 Maret 2008. Diakses tanggal 14
Agustus 2008.

LEMBAR KUESIONER PENELITIAN
PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU IBU-IBU AKSEPTOR KB MENGENAI ALAT
KONTRASEPSI DALAM RAHIM (SPIRAL) SERTA FAKTOR-FAKTOR YANG
BERHUBUNGAN DI RW 02 KELURAHAN TANJUNG DUREN UTARA, KECAMATAN
GROGOL, JAKARTA BARAT
PERIODE AGUSTUS 2008

Diisi Oleh Pewawancara
Nomor Kuisioner :
Tempat / tanggal Pengisian :
Pewawancara : DS / DI / YI / VA

Jawaban pada kuesioner ini akan kami rahasiakan, mohon anda menjawab dengan sejujurnya

DATA UMUM RESPONDEN
1. Nama Ibu :
2. Alamat :
3. Usia (sesuai KTP) :
4. Pendidikan terakhir :
5. Pekerjaan ibu :
6. Jumlah anak yang hidup :
7. Pendapatan keluarga :
a. Suami : Rp<1,5 juta / 1,5 juta-3 juta / >5 juta /bulan
b. Isteri : Rp<1,5 juta / 1,5 juta-3 juta / >5 juta /bulan
c. Anggota keluarga yang lain: Rp<1,5 juta / 1,5 juta-3 juta / >5 juta /bulan
8. Jumlah anggota keluarga yang ditanggung :
*CORET YANG TIDAK PERLU

DATA KHUSUS
PENGETAHUAN
1. Apakah yang ibu ketahui tentang KB ?(jawaban boleh lebih dari satu)
a. Perencanaan kehamilan sehingga kehamilan hanya terjadi pada waktu yang diinginkan.
b. Usaha untuk merencanakan jumlah anak.
c. Usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan.
d. Usaha untuk mengatur jarak kehamilan.
e. Usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
2. Apakah yang ibu ketahui tentang kegunaan KB? (jawaban boleh lebih dari satu)
a. Menjarangkan kehamilan
b. Menunda kehamilan
c. Mengatur jarak kehamilan
d. Merencanakan jumlah anak
e. Membatasi jumlah anak

3. Sebutkan jenis–jenis alat kontrasepsi yang ibu ketahui! (Jawaban boleh lebih dari
satu )
a. Pil
b. Suntik
c. Spiral
d. Susuk
e. Kondom

4. Apakah yang ibu ketahui tentang alat kontrasepsi spiral ?
a. Alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim terbuat dari bahan plastik dan tembaga yang
dipasang oleh dokter atau bidan terlatih.
b. Alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rahim.
c. Alat kontrasepsi yang dipasang oleh bidan.
d. Alat kontrasepsi yang berbentuk spiral.
e. Tidak tahu

5. Pemasangan spiral dapat digunakan untuk jangka waktu berapa lama ? (jawaban boleh lebih dari
satu)
a. 8 tahun
b. 5 tahun
c. 3 tahun
d. Tidak tahu

6. Di bagian tubuh manakah spiral dapat dipasang ?
a. Rahim
b. Alat kemaluan
c. Bokong
d. Tidak tahu

7. Apakah spiral mengganggu kelancaran ASI ?
a. Ya
b. Tidak

8. Saat kapan alat kontrasepsi spiral boleh dipasang ? (jawaban boleh lebih dari satu)
a. Saat haid hampir selesai
b. Darah haid tinggal sedikit
c. Setelah melahirkan
d. Setelah keguguran
e. Tidak tahu

9. Siapakah yang diperbolehkan untuk memasang dan mencabut kembali alat kontrasepsi spiral ? (
jawaban boleh lebih dari satu )
a. Dokter terlatih
b. Bidan terlatih
c. Dukun

10. Pencabutan alat kontrasepsi spiral dapat dilakukan bila : ( jawaban boleh lebih dari satu )
a. Keinginan ibu
b. Ibu ingin hamil
c. Timbul efek samping yang mengganggu
d. Masa pakai telah habis
e. Tidak tahu
11. Apakah ibu tahu efek samping KB spiral? (jawaban boleh lebih dari satu)
a. Keputihan
b. Haid lebih lama dan banyak
c. Saat haid lebih nyeri
d. Tidak tahu

SIKAP
1. Apakah ibu setuju bahwa KB spiral adalah alat kontrasepsi yang aman dan efektif?
a. Setuju
b. Tidak setuju

2. Apakah ibu setuju bahwa alat kontrasepsi spiral dapat mencegah kehamilan ?
a. Setuju
b. Tidak setuju

3. Apakah ibu setuju bahwa KB spiral lebih praktis daripada alat kontrasepsi pil dalam hal
penggunaan?
a. Setuju
b. Tidak setuju

4. Apakah ibu setuju untuk menggunakan alat kontrasepsi spiral disaat menyusui ?
a. Setuju
b. Tidak setuju

PERILAKU

1. Jika Ya, alat kontrasepsi apa yang ibu gunakan :
a. Pil
b. Suntik
c. Spiral
d. Susuk
e. Kondom

2. Sudah berapa lama ibu menggunakan alat kontrasepsi tersebut ?
a. >10 tahun
b. 5-10 tahun
c. <5 tahun

3. Dimana ibu mendapatkan pelayanan KB dan alat kontrasepsi tersebut ?
a. Puskesmas
b. Rumah sakit
c. Posyandu
d. Bidan
e. Dokter

4. Apakah ibu pernah mengikuti penyuluhan tentang KB dan penggunaan alat kontrasepsi ?
a. Ya
b. Tidak

5. Apakah ibu pernah menganjurkan kepada ibu-ibu yang lain untuk menggunakan alat kontrasepsi ?
a. Ya
b. Tidak

AKTIVITAS SOSIAL
1. Kegiatan sosial apa saja yang ibu ikuti dalam 6 bulan terakhir? (jawaban boleh lebih dari satu)
PKK
Posyandu
Penyuluhan
Kegiatan agama
Arisan

PERAN SUAMI
1. Apakah suami turut berperan dalam mengambil keputusan mengenai alat kontrasepsi yang ibu
gunakan saat ini?
a. Ya
b. Tidak

DAFTAR NAMA IBU AKSEPTOR KB

1. Ny. W 49. Ny. L 97. Ny. L
2. Ny. D 50. Ny. T 98. Ny. O
3. Ny. S 51. Ny. G 99. Ny. E
4. Ny. C 52. Ny. D 100. Ny. A
5. Ny. I 53. Ny. N 101. Ny. S
6. Ny. T 54. Ny. S 102. Ny.R
7. Ny. L 55. Ny. I 103. Ny. N
8. Ny. O 56. Ny. A 104. Ny. M
9. Ny. E 57. Ny. B 105. Ny. H
10. Ny. A 58. Ny. T
11. Ny. H 59. Ny. M
12. Ny. R 60. Ny. S
13. Ny. N 61. Ny. Y
14. Ny. R 62. Ny. L
15. Ny. M 63. Ny. R
16. Ny. K 64. Ny. E
17. Ny. S 65. Ny. G
18. Ny. N 66. Ny. A
19. Ny. H 67. Ny. H
20. Ny. I 68. Ny. K
21. Ny. W 69. Ny. D
22. Ny. S 70. Ny. C
23. Ny. N 71. Ny. R
24. Ny. A 72. Ny. S
25. Ny. Y 73. Ny. O
26. Ny. D 74. Ny. N
27. Ny. R 75. Ny. C
28. Ny. K 76. Ny. L
29. Ny. I 77. Ny. F
30. Ny. S 78. Ny. A
31. Ny. N 79. Ny. Y
32. Ny. T 80. Ny. D
33. Ny. D 81. Ny. S
34. Ny. W 82. Ny. R
35. Ny. I 83. Ny. E
36. Ny. S 84. Ny. M
37. Ny. M 85. Ny. K
38. Ny. N 86. Ny. L
39. Ny. A 87. Ny. T
40. Ny. C 88. Ny. D
41. Ny. D 89. Ny. H
42. Ny. E 90. Ny. F
43. Ny. U 91. Ny. D
44. Ny. F 92. Ny. N
45. Ny. R 93. Ny. A
46. Ny. E 94. Ny. W
47. Ny. M 95. Ny. C
48. Ny. K 96. Ny. U
No Pengtn Sikap Perilk Usia ibu Penddkn ibu pkrjn ibu Pendptn jmLank aktvsos prnsuami
12213111111
21111122232
33323122121
42112211121
53222212212
62313122221
71223122121
83222322131
92222112122
10 3 3 2 2 3 2 1 2 2 2
11 3 3 1 2 3 2 2 2 1 1
12 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1
13 3 2 3 3 2 2 2 2 2 1
14 3 3 2 2 3 1 2 2 3 1
15 1 1 1 3 2 2 2 2 2 1
16 3 2 3 2 3 2 1 2 2 1
17 1 3 3 2 2 2 2 1 2 2
18 3 1 3 2 3 2 2 2 1 1
19 2 1 2 1 2 1 2 2 2 1
20 3 3 3 2 1 2 1 2 3 1
21 3 2 1 1 1 2 2 2 1 2
22 1 1 3 1 1 1 2 1 2 1
23 2 3 3 3 1 1 2 1 2 1
24 2 3 2 2 2 2 1 2 3 1
25 3 1 1 2 3 2 2 2 1 1
26 2 2 1 3 1 2 2 1 2 2
27 3 2 3 2 3 1 2 2 2 1
28 1 3 3 2 2 2 2 2 3 1
29 3 2 3 2 3 2 2 2 3 1
30 3 2 2 1 3 2 2 1 2 1
31 2 3 3 3 2 2 2 2 2 2
32 1 3 3 2 2 1 1 2 1 1
33 3 3 2 2 2 2 2 2 3 1
34 3 3 2 3 2 2 2 1 2 1
35 1 3 3 3 1 2 2 2 2 1
36 3 1 1 2 3 1 2 2 3 2
37 2 3 3 3 2 2 2 2 1 1
38 2 1 3 2 1 2 1 1 2 1
39 1 1 1 1 2 2 2 2 1 1
40 3 2 3 2 3 1 2 2 3 1
41 3 3 2 2 3 2 2 1 2 2
42 1 1 1 3 1 2 2 1 2 1
43 3 2 3 3 1 2 1 1 3 1
44 3 1 3 2 1 2 2 2 1 1
45 1 2 3 2 2 2 2 2 3 1
46 3 1 2 2 2 2 2 1 2 1
47 2 3 3 2 2 2 1 2 2 2
48 2 2 3 1 1 1 1 2 1 1
49 3 1 2 2 2 2 2 1 2 1
50 2 2 1 3 1 2 2 2 2 1
51 1 3 3 1 1 2 2 1 1 2
52 3 2 3 3 2 1 1 2 1 1
53 2 1 2 2 2 1 1 1 1 1
54 2 3 1 1 2 1 2 2 3 1
55 2 1 2 3 3 2 2 2 2 2
56 1 2 3 2 2 2 2 2 1 1
57 3 3 3 1 2 1 2 1 2 1
58 2 1 2 2 3 2 2 1 2 1
59 3 3 3 1 3 2 2 1 3 2
60 1 3 3 1 2 1 1 1 3 1
61 3 2 1 3 2 2 2 2 1 1
62 3 3 3 2 3 2 2 2 2 1
63 2 3 1 1 2 1 2 2 1 1
64 3 2 3 2 3 2 2 1 1 2
65 3 3 3 2 3 2 2 2 3 1
66 2 1 3 2 3 1 1 2 2 1
67 3 1 2 2 3 2 1 1 1 1
68 1 3 2 2 2 1 2 2 3 1
69 2 3 3 2 3 1 2 2 1 1
70 3 2 2 3 2 2 2 1 2 1
71 1 2 3 3 2 2 2 2 2 2
72 3 3 1 2 3 2 2 2 1 1
73 3 1 3 1 3 2 1 2 2 1
74 1 2 3 1 3 2 2 2 3 1
75 2 3 1 3 2 2 2 1 2 1
76 2 3 2 2 3 2 1 2 2 2
77 2 3 2 1 3 2 2 2 1 1
78 3 3 3 2 2 2 2 1 3 1
79 3 1 3 2 2 1 2 2 2 1
80 1 2 3 2 2 1 2 2 2 2
81 3 3 2 2 3 2 2 1 1 1
82 2 1 2 2 2 2 1 2 3 1
83 3 2 3 2 3 1 2 2 2 2
84 2 1 1 3 3 2 2 2 1 1
85 1 2 2 3 3 2 2 1 2 1
86 3 3 3 2 3 2 2 1 1 1
87 2 2 3 3 2 1 1 1 3 1
88 1 2 1 2 3 2 1 2 3 2
89 3 3 3 2 2 2 1 2 3 1
90 2 1 2 2 3 2 2 2 1 2
91 3 3 3 2 3 2 2 1 1 1
92 2 1 1 1 2 1 1 2 1 1
93 3 3 2 2 3 2 2 2 3 1
94 3 2 3 3 3 2 2 1 2 1
95 2 2 3 3 3 2 2 2 1 2
96 1 3 2 2 2 2 2 2 2 1
97 2 3 2 2 2 1 1 1 3 1
98 3 2 2 1 2 2 2 2 1 1
99 1 3 1 3 3 2 2 2 2 2
100 2 2 3 3 2 1 1 1 3 1
101 3 2 1 2 2 1 2 2 1 1
102 2 3 3 1 2 2 2 1 2 1
103 2 1 2 2 2 1 1 2 3 2
104 3 3 1 1 2 2 2 1 1 1
105 1 2 3 2 3 2 1 1 1 1

SPSS

Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
pengethn * sikap 105 100.0% 0 .0% 105 100.0%

pengethn * sikap Crosstabulation
sikap Total
sikap baik sikapnckp sikapkrg sikap baik
pengethn pengthn baik Count 6 11 7 24
Expected Count 6.2 8.0 9.8 24.0
% of Total 5.7% 10.5% 6.7% 22.9%
pengethnckp Count 14 6 14 34
Expected Count 8.7 11.3 13.9 34.0
% of Total 13.3% 5.7% 13.3% 32.4%
pengthnkrg Count 7 18 22 47
Expected Count 12.1 15.7 19.2 47.0
% of Total 6.7% 17.1% 21.0% 44.8%
Total Count 27 35 43 105
Expected Count 27.0 35.0 43.0 105.0
% of Total 25.7% 33.3% 41.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 10.496(a) 4 .033
Likelihood Ratio 10.854 4 .028
Linear-by-Linear Association 2.571 1 .109

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.17.

pengethn * perilaku Crosstabulation

perilaku Total
perilkubaik perilakuckp perilakukrg perilkubaik
pengthn pngthn baik Count 7 4 13 24
Expected Count 5.7 7.3 11.0 24.0
% of Total 6.7% 3.8% 12.4% 22.9%
pngethnckp Count 12 12 10 34
Expected Count 8.1 10.4 15.5 34.0
% of Total 11.4% 11.4% 9.5% 32.4%
pngthnkrg Count 6 16 25 47
Expected Count 11.2 14.3 21.5 47.0
% of Total 5.7% 15.2% 23.8% 44.8%
Total Count 25 32 48 105
Expected Count 25.0 32.0 48.0 105.0
% of Total 23.8% 30.5% 45.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 9.464(a) 4 .050
Likelihood Ratio 10.209 4 .037
Linear-by-Linear Association 1.471 1 .225

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.71.

sikap * perilaku Crosstabulation

perilaku Total
perilkubaik perilakuckp perilakukrg perilkubaik
sikap sikap baik Count 11 10 6 27
Expected Count 6.4 8.2 12.3 27.0
% of Total 10.5% 9.5% 5.7% 25.7%
sikapnckp Count 6 8 21 35
Expected Count 8.3 10.7 16.0 35.0
% of Total 5.7% 7.6% 20.0% 33.3%
sikapkrg Count 8 14 21 43
Expected Count 10.2 13.1 19.7 43.0
% of Total 7.6% 13.3% 20.0% 41.0%
Total Count 25 32 48 105
Expected Count 25.0 32.0 48.0 105.0
% of Total 23.8% 30.5% 45.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 10.416(a) 4 .034
Likelihood Ratio 10.616 4 .031
Linear-by-Linear Association 4.759 1 .029

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.43.

usiaibu * pengethn Crosstabulation

pengethn Total
pengthn baik pengethnckp pengthnkrg pengthn baik
usiaibu >30thn Count 6 7 8 21
Expected Count 4.8 6.8 9.4 21.0
% of Total 5.7% 6.7% 7.6% 20.0%
20-30thn Count 10 14 32 56
Expected Count 12.8 18.1 25.1 56.0
% of Total 9.5% 13.3% 30.5% 53.3%
16-19thn Count 8 13 7 28
Expected Count 6.4 9.1 12.5 28.0
% of Total 7.6% 12.4% 6.7% 26.7%
Total Count 24 34 47 105
Expected Count 24.0 34.0 47.0 105.0
% of Total 22.9% 32.4% 44.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 8.536(a) 4 .074
Likelihood Ratio 8.736 4 .068
Linear-by-Linear Association .668 1 .414

N of Valid Cases 105

a 1 cells (11.1%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.80.

pendidikanibu * pengethn Crosstabulation

pengethn Total
pengthn baik pengethnckp pengthnkrg pengthn baik
penddknibu tinggi Count 7 7 6 20
Expected Count 4.6 6.5 9.0 20.0
% of Total 6.7% 6.7% 5.7% 19.0%
sedang Count 12 18 15 45
Expected Count 10.3 14.6 20.1 45.0
% of Total 11.4% 17.1% 14.3% 42.9%
rendah Count 5 9 26 40
Expected Count 9.1 13.0 17.9 40.0
% of Total 4.8% 8.6% 24.8% 38.1%
Total Count 24 34 47 105
Expected Count 24.0 34.0 47.0 105.0
% of Total 22.9% 32.4% 44.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 11.455(a) 4 .022
Likelihood Ratio 11.524 4 .021
Linear-by-Linear Association 8.710 1 .003

N of Valid Cases 105
a 1 cells (11.1%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.57.

pekerjaan ibu * pengethn Crosstabulation

pengethn Total
pengthn baik pengethnckp pengthnkrg pengthn baik
pekrjn ibu bekerja Count 2 15 14 31
Expected Count 7.1 10.0 13.9 31.0
% of Total 1.9% 14.3% 13.3% 29.5%
tidakbekr Count 22 19 33 74
Expected Count 16.9 24.0 33.1 74.0
% of Total 21.0% 18.1% 31.4% 70.5%
Total Count 24 34 47 105
Expected Count 24.0 34.0 47.0 105.0
% of Total 22.9% 32.4% 44.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 8.661(a) 2 .013
Likelihood Ratio 9.742 2 .008
Linear-by-Linear Association 1.959 1 .162

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.09.

pendapatankeluarga * pengethn Crosstabulation

pengethn Total
pengthn baik pengethnckp pengthnkrg pengthn baik
pendapta DiatasgAris
kemiskinan Count 9 13 6 28
Expected Count 6.4 9.1 12.5 28.0
% of Total 8.6% 12.4% 5.7% 26.7%
dibawahgaris Count 15 21 41 77
kemiskinan Expected Count 17.6 24.9 34.5 77.0
% of Total 14.3% 20.0% 39.0% 73.3%
Total Count 24 34 47 105
Expected Count 24.0 34.0 47.0 105.0
% of Total 22.9% 32.4% 44.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 8.411(a) 2 .015
Likelihood Ratio 8.893 2 .012
Linear-by-Linear Association 6.405 1 .011

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.40.

jumlahanak * pengethn Crosstabulation

pengethn Total
pengthn baik pengethnckp pengthnkrg pengthn baik
jmlhanak <2 Count 13 16 12 41
Expected Count 9.4 13.3 18.4 41.0
% of Total 12.4% 15.2% 11.4% 39.0%
>2 Count 11 18 35 64
Expected Count 14.6 20.7 28.6 64.0
% of Total 10.5% 17.1% 33.3% 61.0%
Total Count 24 34 47 105
Expected Count 24.0 34.0 47.0 105.0
% of Total 22.9% 32.4% 44.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 6.829(a) 2 .033
Likelihood Ratio 6.959 2 .031
Linear-by-Linear Association 6.285 1 .012

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.37.

aktivitassosial * pengethn Crosstabulation

pengethn Total
pengthn baik pengethnckp pengthnkrg pengthn baik
aktvtsssial baik Count 8 16 9 33
Expected Count 7.5 10.7 14.8 33.0
% of Total 7.6% 15.2% 8.6% 31.4%
cukup Count 11 10 24 45
Expected Count 10.3 14.6 20.1 45.0
% of Total 10.5% 9.5% 22.9% 42.9%
kurang Count 5 8 14 27
Expected Count 6.2 8.7 12.1 27.0
% of Total 4.8% 7.6% 13.3% 25.7%
Total Count 24 34 47 105
Expected Count 24.0 34.0 47.0 105.0
% of Total 22.9% 32.4% 44.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 7.737(a) 4 .102
Likelihood Ratio 7.889 4 .096
Linear-by-Linear Association 2.293 1 .130

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.17.

peransuami * pengethn Crosstabulation
pengethn Total
pengthn baik pengethnckp pengthnkrg pengthn baik
prnsuami berprn Count 20 31 30 81
Expected Count 18.5 26.2 36.3 81.0
% of Total 19.0% 29.5% 28.6% 77.1%
tidkberprn Count 4 3 17 24
Expected Count 5.5 7.8 10.7 24.0
% of Total 3.8% 2.9% 16.2% 22.9%
Total Count 24 34 47 105
Expected Count 24.0 34.0 47.0 105.0
% of Total 22.9% 32.4% 44.8% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 9.043(a) 2 .011
Likelihood Ratio 9.451 2 .009
Linear-by-Linear Association 5.105 1 .024
N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.49.

usiaibu * sikap Crosstabulation

sikap Total
sikap baik sikapnckp sikapkrg sikap baik
usiaibu >30thn Count 8 6 7 21
Expected Count 5.4 7.0 8.6 21.0
% of Total 7.6% 5.7% 6.7% 20.0%
20-30thn Count 15 15 26 56
Expected Count 14.4 18.7 22.9 56.0
% of Total 14.3% 14.3% 24.8% 53.3%
16-19thn Count 4 14 10 28
Expected Count 7.2 9.3 11.5 28.0
% of Total 3.8% 13.3% 9.5% 26.7%
Total Count 27 35 43 105
Expected Count 27.0 35.0 43.0 105.0
% of Total 25.7% 33.3% 41.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 6.791(a) 4 .147
Likelihood Ratio 6.661 4 .155
Linear-by-Linear Association 1.117 1 .291

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.40.

pendidikanibu * sikap Crosstabulation

sikap Total
sikap baik sikapnckp sikapkrg sikap baik
pendidikanibu tinggi Count 7 9 4 20
Expected Count 5.1 6.7 8.2 20.0
% of Total 6.7% 8.6% 3.8% 19.0%
sedang Count 11 12 22 45
Expected Count 11.6 15.0 18.4 45.0
% of Total 10.5% 11.4% 21.0% 42.9%
rendah Count 9 14 17 40
Expected Count 10.3 13.3 16.4 40.0
% of Total 8.6% 13.3% 16.2% 38.1%
Total Count 27 35 43 105
Expected Count 27.0 35.0 43.0 105.0
% of Total 25.7% 33.3% 41.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 5.169(a) 4 .270
Likelihood Ratio 5.533 4 .237
Linear-by-Linear Association 1.732 1 .188

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.14.

pekerjaan ibu * sikap Crosstabulation

sikap Total
sikap baik sikapnckp sikapkrg sikap baik
pekerjn ibu bkrj Count 11 8 12 31
Expected Count 8.0 10.3 12.7 31.0
% of Total 10.5% 7.6% 11.4% 29.5%
tdkbkrj Count 16 27 31 74
Expected Count 19.0 24.7 30.3 74.0
% of Total 15.2% 25.7% 29.5% 70.5%
Total Count 27 35 43 105
Expected Count 27.0 35.0 43.0 105.0
% of Total 25.7% 33.3% 41.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 2.434(a) 2 .296
Likelihood Ratio 2.378 2 .305
Linear-by-Linear Association .977 1 .323

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.97.

pendapatankeluarga * sikap Crosstabulation

sikap Total
sikap baik sikapnckp sikapkrg sikap baik
pdpnklrg diataskemsknan Count 11 9 8 28
Expected Count 7.2 9.3 11.5 28.0
% of Total 10.5% 8.6% 7.6% 26.7%
dibwhkemiskinan Count 16 26 35 77
Expected Count 19.8 25.7 31.5 77.0
% of Total 15.2% 24.8% 33.3% 73.3%
Total Count 27 35 43 105
Expected Count 27.0 35.0 43.0 105.0
% of Total 25.7% 33.3% 41.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 4.180(a) 2 .124
Likelihood Ratio 4.062 2 .131
Linear-by-Linear Association 3.959 1 .047

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.20.

jumlahanak * sikap Crosstabulation

sikap Total
sikap baik sikapnckp sikapkrg sikap baik
jumlahanak <2 Count 14 14 13 41
Expected Count 10.5 13.7 16.8 41.0
% of Total 13.3% 13.3% 12.4% 39.0%
>2 Count 13 21 30 64
Expected Count 16.5 21.3 26.2 64.0
% of Total 12.4% 20.0% 28.6% 61.0%
Total Count 27 35 43 105
Expected Count 27.0 35.0 43.0 105.0
% of Total 25.7% 33.3% 41.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 3.277(a) 2 .194
Likelihood Ratio 3.275 2 .194
Linear-by-Linear Association 3.236 1 .072
N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.54.

aktivitassosial * sikap Crosstabulation

sikap Total
sikap baik sikapnckp sikapkrg sikap baik
aktvssosial baik Count 12 12 9 33
Expected Count 8.5 11.0 13.5 33.0
% of Total 11.4% 11.4% 8.6% 31.4%
cukup Count 9 19 17 45
Expected Count 11.6 15.0 18.4 45.0
% of Total 8.6% 18.1% 16.2% 42.9%
kurang Count 6 4 17 27
Expected Count 6.9 9.0 11.1 27.0
% of Total 5.7% 3.8% 16.2% 25.7%
Total Count 27 35 43 105
Expected Count 27.0 35.0 43.0 105.0
% of Total 25.7% 33.3% 41.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 10.903(a) 4 .028
Likelihood Ratio 11.189 4 .025
Linear-by-Linear Association 5.739 1 .017

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.94.

peransuami * sikap Crosstabulation
sikap Total
sikap baik sikapnckp sikapkrg sikap baik
Prn suami berprn Count 25 27 29 81
Expected Count 20.8 27.0 33.2 81.0
% of Total 23.8% 25.7% 27.6% 77.1%
tdkberprn Count 2 8 14 24
Expected Count 6.2 8.0 9.8 24.0
% of Total 1.9% 7.6% 13.3% 22.9%
Total Count 27 35 43 105
Expected Count 27.0 35.0 43.0 105.0
% of Total 25.7% 33.3% 41.0% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 5.950(a) 2 .051
Likelihood Ratio 6.731 2 .035
Linear-by-Linear Association 5.787 1 .016

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.17.

usiaibu * perilaku Crosstabulation

perilaku Total
perilkubaik perilakuckp perilakukrg perilkubaik
usiaibu >30thn Count 9 5 7 21
Expected Count 5.0 6.4 9.6 21.0
% of Total 8.6% 4.8% 6.7% 20.0%
20-30thn Count 7 21 28 56
Expected Count 13.3 17.1 25.6 56.0
% of Total 6.7% 20.0% 26.7% 53.3%
16-19thn Count 9 6 13 28
Expected Count 6.7 8.5 12.8 28.0
% of Total 8.6% 5.7% 12.4% 26.7%
Total Count 25 32 48 105
Expected Count 25.0 32.0 48.0 105.0
% of Total 23.8% 30.5% 45.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 9.922(a) 4 .042
Likelihood Ratio 9.976 4 .041
Linear-by-Linear Association .629 1 .428

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.00.

pendidikanibu * perilaku Crosstabulation

perilaku Total
perilkubaik perilakuckp perilakukrg perilkubaik
pddkn tinggi Count 8 3 9 20
Expected Count 4.8 6.1 9.1 20.0
% of Total 7.6% 2.9% 8.6% 19.0%
sedang Count 11 14 20 45
Expected Count 10.7 13.7 20.6 45.0
% of Total 10.5% 13.3% 19.0% 42.9%
rendah Count 6 15 19 40
Expected Count 9.5 12.2 18.3 40.0
% of Total 5.7% 14.3% 18.1% 38.1%
Total Count 25 32 48 105
Expected Count 25.0 32.0 48.0 105.0
% of Total 23.8% 30.5% 45.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 5.785(a) 4 .216
Likelihood Ratio 5.927 4 .205
Linear-by-Linear Association 1.581 1 .209

N of Valid Cases 105
a 1 cells (11.1%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.76.

pekerjaan ibu * perilaku Crosstabulation

perilaku Total
perilkubaik perilakuckp perilakukrg perilkubaik
pekrjn ibu bkrj Count 11 8 12 31
Expected Count 7.4 9.4 14.2 31.0
% of Total 10.5% 7.6% 11.4% 29.5%
tdkbrj Count 14 24 36 74
Expected Count 17.6 22.6 33.8 74.0
% of Total 13.3% 22.9% 34.3% 70.5%
Total Count 25 32 48 105
Expected Count 25.0 32.0 48.0 105.0
% of Total 23.8% 30.5% 45.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 3.305(a) 2 .192
Likelihood Ratio 3.153 2 .207
Linear-by-Linear Association 2.349 1 .125

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.38.

pendapatankeluarga * perilaku Crosstabulation

perilaku Total
perilkubaik perilakuckp perilakukrg perilkubaik
Pdptn klrg diataskmskn Count 10 9 9 28
Expected Count 6.7 8.5 12.8 28.0
% of Total 9.5% 8.6% 8.6% 26.7%
dibawahkmskn Count 15 23 39 77
Expected Count 18.3 23.5 35.2 77.0
% of Total 14.3% 21.9% 37.1% 73.3%
Total Count 25 32 48 105
Expected Count 25.0 32.0 48.0 105.0
% of Total 23.8% 30.5% 45.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 3.846(a) 2 .146
Likelihood Ratio 3.780 2 .151
Linear-by-Linear Association 3.792 1 .051

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.67.

jumlahanak * perilaku Crosstabulation

perilaku Total
perilkubaik perilakuckp perilakukrg perilkubaik
jmlanak <2 Count 14 12 15 41
Expected Count 9.8 12.5 18.7 41.0
% of Total 13.3% 11.4% 14.3% 39.0%
>2 Count 11 20 33 64
Expected Count 15.2 19.5 29.3 64.0
% of Total 10.5% 19.0% 31.4% 61.0%
Total Count 25 32 48 105
Expected Count 25.0 32.0 48.0 105.0
% of Total 23.8% 30.5% 45.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 4.277(a) 2 .118
Likelihood Ratio 4.221 2 .121
Linear-by-Linear Association 3.900 1 .048

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.76.

aktivitassosial * perilaku Crosstabulation

perilaku Total
perilkubaik perilakuckp perilakukrg perilkubaik
aktvsosl baik Count 13 7 13 33
Expected Count 7.9 10.1 15.1 33.0
% of Total 12.4% 6.7% 12.4% 31.4%
cukup Count 7 17 21 45
Expected Count 10.7 13.7 20.6 45.0
% of Total 6.7% 16.2% 20.0% 42.9%
kurang Count 5 8 14 27
Expected Count 6.4 8.2 12.3 27.0
% of Total 4.8% 7.6% 13.3% 25.7%
Total Count 25 32 48 105
Expected Count 25.0 32.0 48.0 105.0
% of Total 23.8% 30.5% 45.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 7.214(a) 4 .125
Likelihood Ratio 6.922 4 .140
Linear-by-Linear Association 2.729 1 .099

N of Valid Cases 105
a 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 6.43.

peransuami * perilaku Crosstabulation
perilaku Total
perilkubaik perilakuckp perilakukrg perilkubaik
prnsuami bprn Count 23 23 35 81
Expected Count 19.3 24.7 37.0 81.0
% of Total 21.9% 21.9% 33.3% 77.1%
tdkbprn Count 2 9 13 24
Expected Count 5.7 7.3 11.0 24.0
% of Total 1.9% 8.6% 12.4% 22.9%
Total Count 25 32 48 105
Expected Count 25.0 32.0 48.0 105.0
% of Total 23.8% 30.5% 45.7% 100.0%

Chi-Square Tests

Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 4.119(a) 2 .127
Likelihood Ratio 4.849 2 .089
Linear-by-Linear Association 2.726 1 .

								
To top