KARAKTERISTIK KONTAP TUBEKTOMI (MAYA) by anamaulida

VIEWS: 4,945 PAGES: 45

									GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MULTIGRAVIDA
    TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI MANTAP
       (TUBEKTOMI) DIDESA TUALANG TENGOH
            KECAMATAN LANGSA KOTA
                   TAHUN 2009


                 KARYA TULIS ILMIAH


    Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh
     Gelar Ahli Madya Kebidanan Di Akademi Kebidanan
                  Bustanul ‘Ulum Langsa




                      Disusun Oleh :

                     MAYA KURNIA
                    NIM. 732401S05023




AKADEMI KEBIDANAN BUSTANUL ‘ULUM LANGSA
          PEMERINTAHAN ACEH
                  2009
                   HALAMAN PERSETUJUAN

  GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MULTIGRAVIDA
 TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI MANTAP (TUBEKTOMI)
      DI DESA TUALANG TENGOH KEC. LANGSA KOTA
                           TAHUN 2009


                       KARYA TULIS ILMIAH




                           Disusun Oleh :


                          MAYA KURNIA



      Telah Memenuhi Persyaratan Dan Disetujui Untuk Mengikuti
         Ujian Karya Tulis Ilmiah Program D.III Kebidanan Di
              Akademi Kebidanan Bustanul ‘Ulum Langsa


                               Oleh :



1. Pembimbing I    :   SUSANTI, SKM

   Tanggal         :

   Tanda Tangan    :   ………………………


2. Pembimbing II   :   UMRASHITA, S.ST

   Tanggal         :

   Tanda Tangan    :   ………………………
                    HALAMAN PENGESAHAN

  GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MULTIGRAVIDA
 TERAHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI MANTAP (TUBEKTOMI)
       DI DESA TUALANG TENGOH KEC. LANGSA KOTA
                            TAHUN 2009

                        KARYA TULIS ILMIAH




                             Disusun Oleh :

                            MAYA KURNIA


     Telah Dipertahankan di Hadapan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah
            Program D. III Kebidanan di Akademi Kebidanan
                        Bustanul ‘Ulum Langsa



1. Penguji I   : SUSANTI, SKM                          (             )
   Tanggal     :


2. Penguji II : UMRASHITA, S.ST                        (             )

   Tanggal     :


3. Penguji III : dr. H.Eddy, M. Kes                   (              )

   Tanggal     :


                            Mengetahui :
          Direktur Akademi Kebidanan Bustanul ‘Ulum Langsa



                      ( Drs. H. Sofjan. AR, M.Kes)
                            KATA PENGANTAR


     Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena

rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah yang

berjudul “Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Multigravida Terhadap

Pemakaian Kontrasepsi Mantap (Tubektomi) di Desa Tualang Tengoh Kec.

Langsa Kota tahun 2009”.

     Penulis menyadari bahwa dalam penelitian ini masih jauh dari

kesempurnaan baik dari segi penyusunan bahasa maupun dari segi isinya. Maka

dari itu penulis sangat mengharapkan kritikan atau saran yang bersifat

membangun demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini untuk masa yang akan

datang.

     Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak mendapatkan bantuan

dan bimbingan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan

penghargaan setinggi-tingginya dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Drs. H. Sofjan, AR, M.Kes, selaku Direktur Akademi Kebidanan

   Bustanul „Ulum Langsa.

2. Ibu Susanti, SKM, selaku pembimbing I yang telah memberikan arahan dan

   bimbingan guna kesempurnaan karya tulis ilmiah ini.

3. Ibu Umrashita, S.ST, selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktu,

   tenaga, pikiran serta memberikan arahan penulisan karya tulis ilmiah ini.

4. Bapak Zulkifli Gade, selaku Kepala Desa Tualang Tengoh yang telah

   memberi izin untuk melaksanakan penelitian.
5. Ibu Agustina, Amd.Keb, selaku Bidan di Desa Tualang Tengoh, yang telah

   membantu dan memberi izin unutk melaksanakan penelitian.

6. Seluruh staf pengajar Akademi Kebidanan Bustanul „Ulum Langsa yang telah

   mendidik, membekali penulis dengan ilmu pengetahuan selama dalam masa

   pendidikan.

7. Ayahanda Sarkani Samad (Alm) dan Ibunda Lasmi tercinta yang telah

   mendidik penulis dengan kasih sayang dan doa yang tiada hentinya sserta

   bantuan moril maupun materil demi tercapainya cita-cita penulis.

8. Untuk keluarga besar yaitu abang Herliandi Sarkani, Herlani Sarkani beserta

   Istri Dina Mailinda, serta Kakak Yuni Rama Yanti berseta suami Dedi

   Hermansyah, Adik Erick Hernanda Sarkani. Yang telah memberikan dorongan

   kepada penulis untuk dapat menyelesaikan proposal penelitian ini.

9. Kepada teman-teman seperjuangan dalam suka maupun duka yang telah

   memberikan kritik dan saran serta dukungan, terima kasih atas persahabatan

   yang tulus.

10. Kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu pada

   kesempatan ini yang telah banyak membantu penulisan karya tulis ilmiah ini.

     Akhir kata penulis berharap semoga penulisan karya tulis ilmiah ini dapat

bermanfaat bagi kita semua khususnya para pembaca semoga Allah SWT

memberikan balasan yang setimpal kepada kita semua serta mendapatkan

kebahagiaan dan keridhaannya, Amin Ya Rabbal Alamin.

                                                             Langsa,   Juli 2009

                                                                  Penulis
                           BIODATA PENULIS



Nama                   :   MAYA KURNIA
Tempat & Tanggal Lahir :   Tapak tuan, 10 Oktober 1987
Agama                  :   Islam
Jenis Kelamin          :   Perempuan
Anak ke                :   4 (empat) dari 5 bersaudara
Alamat                 :   Jln. Merdeka No.100. Kel. Pasar Tapaktuan Aceh
                           Selatan


Nama Ayah              :   SARKANI SAMAD (Alm)
Nama Ibu               :   LASMI
Pekerjaan Ayah         :   Wiraswata
Alamat Orang Tua       :   Jln. Merdeka No.100. Kel. Pasar Tapaktuan Aceh
                           Selatan




Riwayat Pendidikan
1. Tahun 1993 – 1994   :   TK. Dharma Wanita Tapaktuan (Aceh Selatan).
2. Tahun 1994 – 1999   :   MIN Tapaktuan (Aceh Selatan).
2. Tahun 1999 – 2002   :   SLTP Negeri 1 Tapatuan (Aceh Selatan)
3. Tahun 2002 – 2005   :   SMU Negeri I Tapaktuan (Aceh Selatan)
4. Tahun 2005 - 2009   :   Mengikuti Pendidikan Akademi Kebidanan
                           Bustanul‟Ulum Langsa.
                                   BAB I

                             PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang

             Menunda kehamilan adalah hak setiap pasangan. Salah satu cara

    untuk menunda kehamilan adalah penggunaan kontrasepsi (Indriati,dkk

    2008).    Sedangkan menurut Mochtar (1998), alat kontrasepsi dianggap

    mempunyai efektivitas baik, bila angka kehamilan/kegagalan berkisar antara

    0-10%.

             Banyak perempuan mengalami kesulitan didalam menentukan

    pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya kerena keterbatasan metode

    yang tersedia, tetapi oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan

    keamanan metode kontrasepsi tersebut (Saifuddin, 2006).

             Kontrasepsi mantap atau sterilisasi pada wanita adalah suatu

    kontrasepsi permanen yang dilakukan dengan cara melakukan tindakan pada

    kedua saluran telur sehingga menghalangi pertemuan sel telur (ovum)

    dengan sel mani (sperma) dan hanya dikerjakan atas indikasi medis dan

    terutama dilakukan pada waktu yang bersamaan dengan tindakan obstetrik

    operatif perabdominal seperti pada secsio negara (Mochtar, 1998).

             Kecocokan antara suatu metode kontrasepsi dari setiap klien

    tergantung pada sejumlah faktor. Dalam menentukan metode mana yang

    akan digunakan, dipengaruhi oleh kepentingan pribadi. Tingkat kepentingan

    berbeda dari satu pasangan ke pasangan lain (Brahm, 2006).
       Sterilisasi wanita adalah bentuk kontrasepsi yang sangat efektif

dengan angka kegagalan 1-5 per 1000 kasus, yang berarti efektivitasnya

99,4-99,8% per 100 wanita pertahun (Everest, 2007).

       Saat ini, negara 60% pasangan usia reproduksi di seluruh dunia

menggunakan kontrasepsi (Glasier, 2005). Selama 20 tahun terakhir, hamper

satu juta orang Amerika setiap tahun menjalankan operasi strilisasi, dan

akhir-akhir ini lebih banyak wanita daripada pria (Speroff, 2005).

       Di Inggris, hamper 30% pasangan, dan himpir 50% dari mereka yang

berusia lebih dari 40, mnggunakan sterilisasi wanita atau pria sebagai

metode kontrasepsi mereka. Diperkirakan terdapat lebih dari 150 juta wanita

yang memilih sterilisasi sebagai metode kontrasepsi. Dan digunakan lebih

dari 50 juta pasangan di seluruh dunia, yang sebagian besar hidup di negara

berkembang (Glasier, 2005).

       Peserta atau pasangan yang akan mengikuti kontrasepsi mantap harus

secara sukarela dan mengikuti kontrasepsi mantap atas keinginannya sendiri.

Artinya calon peserta tersebut tidak dipaksa atau ditekan untuk menjadi

peserta kontap. Peserta sudah mengetahui bahwa disamping kontap masih

ada cara kontrasepsi lain yang dapat mencegah kehamilan yang bersifat

sementara tetapi peserta tetap memilih kontap (Suratun, dkk, 2008).

       Dimasyarakat modern, dengan majunya tingkat pendidikan, metode

kontrasepsi mantap (kontap) merupakan pilihan ibu-ibu di daearah

perkotaan. Banyak ibu-ibu diperkotaan memilih dan merencanakan keluarga

kecil, daan kontrasepsi tubektomi merupakan paling efektif (Kompas, 2006).
           Wanita yang melakukan sterilisasi sering kali merasa dibebaskan,

    mereka tidak memiliki kecemasan akan kehamilan. Seringkali ketakutan

    akan kehamilan memicu permintaan akan sterilisasi (Everett, 2007)

           Dari informasi BKKBN Pusat (2008), di Indonesia jumlah pelayanan

    tubektomi sebanyak 54 % kasus. Pada tahun 2008 Di Provinsi Nanggroe

    Aceh Darussalam sebanyak 0,78 % kasus tubektomi.

           Dari hasil rekapitulasi BKKBN Kota Langsa dari bulan Januari s/d

    Desember 2008 di dapatkan data tubektomi sebanyak 0,93 % kasus, dan

    Januari s/d April 2009 didapatkan data tubektomi sebanyak 1,65 % kasus.

    Sedangkan di desa Tualang Tengoh Tahun 2008 mencatat jumlah peserta

    KB secara keseluruhan sebanyak 75 % orang, yang melakukan tubektomi

    sebanyak 1,6 % orang (Buku Register).

           Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk meneliti

    tentang “Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Multigravida Terhadap

    Pemakaian Kontrasepsi Mantap (Tubektomi) Di Desa Tualang Tengoh

    Kecamatan Langsa Kota Tahun 2009 ”.


1.2. Perumusan Masalah

           Berdasarkan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan yang

    menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah Gambaran Pengetahuan

    Dan Sikap Ibu Multigravida Terhadap Pemakaian Kontrasepsi Mantap

    (Tubektomi) Di Desa Tualang Tengoh Kecamatan Langsa Kota Tahun 2009.
1.3. Tujuan Penelitian

    1.3.1. Tujuan Umum

                  Untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap ibu

           multigravida terhadap pemakaian kontrasepsi mantap (tubektomi) di

           desa Tualang Tengoh Kec. Langsa Kota Tahun 2009.

    1.3.2. Tujuan Khusus

           1.3.2.1. Untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu multigravida

                      terhadap pemakaian kontrasepsi mantap tubektomi di desa

                      Tualang Tengoh Kec. Langsa Kota Tahun 2009.

           1.3.2.2. Untuk mengetahui gambaran sikap ibu multigravida

                      terhadap pemakaian kontrasepsi mantap tubektomi di desa

                      Tualang Tengoh Kec. Langsa Kota Tahun 2009.


1.4. Manfaat Penelitian

    1.4.1. Bagi Ibu

           Dapat menambah pengetahuan ibu tentang kontrasepsi mantap

           (tubektomi), yang mana nantinya merupakan metode kontrasepsi

           pilihan bagi ibu untuk merencanakan kehamilan.

    1.4.2. Bagi Pelayanan Kesehatan
            Khususnya Puskesmas Langsa Kota. Dari hasil penelitian ini dapat

            menjadi bahan masukan data terhadap klien yang menjalani

            kontrasepsi mantap (tubektomi).




     1.4.3. Bagi Institusi Pendidikan

            Hasil penelitian ini dapat menambah bahan referensi bagi Mahasiswi

            Akademi Kebidanan Bustanul Ulum Langsa, dan juga sebagai bahan

            kajian bagi Mahasiswi yang tertarik untuk meneliti terhadap

            pemakaian Kontrasepsi mantap (tubektomi).

     1.4.4. Bagi Peneliti

            Penelitian ini dapat menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman

            peneliti, terhadap pemakaian kontrasepsi mantap (tubektomi).


1.5. Keaslian Penelitian

          Penelitian tentang gambaran pengetahuan dan sikap ibu multigravida

     terhadap pemakaian kontrasepsi mantap (tubektomi) di desa Tualang

     Tengoh Kec.Langsa Kota. Sebelumnya tidak pernah diteliti oleh kalangan

     Mahasiswi Akademi Kebidanan Bustanul‟Ulum Langsa maupun kalangan

     Mahasiswa/I kesehatan lainnya. Data-data yang diperoleh dari penelitian ini

     merupakan hasil yang nyata dari lapangan.
                                       BAB II

                              TINJUAN PUSTAKA



2.1. Kontrasepsi

         Kontrasepsi     adalah   menghidari/mencegah   terjadinya   kehamilan

    sebagai akibat adanya pertemuan antara sel telur dengan sel sperma

    (Suratun, 2008).

    2.1.1. Jenis-jenis Kontraspsi

           Menurut Hartanto (2004) ada beberapa jenis kontrasepsi yaitu :

           2.1.1.1. Metode Sederhana

                       1) Tanpa Alat

                          (1) KB alamiah

                             Natural Family Planning, Fertility Awareness

                             Mewthode, Periodik Abstinens, Metode Rhythm,

                             Pantang Berkala, Metode Kalender (Ogino-Knaus),

                             Metode Suhu Badan Basa (Termal), Metode Lendir

                             Serviks (Bilings), Metode Simpto-Termal, Coitus

                             Interruptus.
                      (2) Dengan Alat

                          Mekanis (Barrier) : Kondom pria. Barrier Intra-

                          Vaginal : Diagfragma, Kap Serviks (Cervical Cap),

                          Spons (Sponge), Kondom wanita. Kimiawi :

                          Spermisid, Vaginal cream, Vaginal foam, Vaginal

                          jelly, Vagibal suppositoria, Vaginal tablet, dan

                          Vaginal soluble film

    2.1.1.2. Metode Modern

            1) Kontrasepsi Hormonal

               (1) Per-oral

                   Pil oral kombinasi (POK), Mini-Pil, Morning – after pill

               (2) Injeksi/suntikan

                   (DMPA, NET-EN, Microspheres, Microcapsules).

               (3) Sub-kutis : Implant

                   Alat Kontrsepsi Bawah Kulit (AKBK) : Implant Non-

                   biodegradable. Norplant, Norplant-2, ST-1425, Implanon :

                   Implant biodegradable

            2) Intra Uterin Devices (IUD, AKDR)

            3) Kontrasepsi mantap


2.2. Kontrasepsi Mantap (Tubektomi)

         Kontrasepsi berasal dari kata kontra yang berarti „mencegah‟ atau

    „melawan‟. Sedangkan konsepsi berarti pertemuan antara sel telur yang

    matang dan sel sperma yang mengakibatkan kehamilan. Dengan demikian,
yang dimaksud dengan kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya

kehamilan sebagai akibat dari pertemuan antara sel telur yang matang

dengan sel sperma tersebut (Indiarti & Hotimah, 2008). Menurut Mochtar

(1998), kontrasepsi atau antikonsepsi (conception control) adalah cara untuk

mencegah terjadinya konsepsi, alat, atau obat-obatan.

     Sedangkan menurut Siswasudarmo.et.al (2007), istilah kontrasepsi

mantap merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, scure contraception.

Nama lain adalah sterilisasi (strelization), atau kontrasepsi operatif (surgical

contraception). Pada wanita sterilisasi lazimnya dilakukan dengan

memotong dan mengambil sebagian saluran telur (tuba) sehingga dikenal

istilah tubektomi.

2.2.1. Pengertian Tubektomi

               Tubektomi atau kontap wanita ialah suatu kontrasepsi

       permanen untuk mencegah keluarnya ovum dengan cara tindakan

       mengikat atau memotong pada kedua saluran tuba. Dengan demikian

       maka ovum yang matang tidak akan bertemu dengan sperma karena

       adanya hambatan pada tuba (Suratun dkk, 2008).

2.2.2. Kefektifian Tubektomi

               Angka kegagalannya hanya 0,2-0,4 per 100 wanita pertahun,

       kegagalan ini umumnya karena kesalahan tehnik operasi tetapi

       mungkin juga karena rekanalisasi (Siswasudarmo.et.al, 2007).

       Sedangkan menurut Saifuddin (2008), angka kefektifannya 0,5

       kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama penggunaan.
2.2.3. Yang Dapat Menjalani dan Yang Sebaiknya Tidak Menjalani

      Tubektomi

      2.2.3.1. Yang Dapat Menjalani Tubektomi

              1) Usia > 26 tahun

              2) Paritas > 2

              3) Yakin telah mempunyai besar keluarga yang sesuai

                  dengan kehendaknya

              4) Pada     kehamilannya     akan     menimbulkan   resiko

                  kesehatan yang serius.

              5) Pascapersalinan

              6) Pasca keguguran

              7) Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini

      2.2.3.2. Yang Sebaiknya Tidak Menjalani Tubektomi

              1) Hamil (sudah terdeteksi atau dicurigai)

              2) Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga

                  harus dievaluasi).

              3) Infeksi sistemik atau pelvic yang akut (hingga masalah

                  itu disembuhkan atau dikontrol)

              4) Tidak boleh menjalani proses pembedahan

              5) Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas di

                  masa depan

              6) Belum memberikan persetujuan tertulis.

              (Saifuddin, 2006).
2.2.4. Waktu Pelaksanaan Tubektomi

           Menurut Suratun dkk (2008), waktu palaksanaan tubektomi

      sebaiknya dilakukan pada saat :

      2.2.4.1. Pasca persalinan, sebaiknya dalam jangka waktu 48 jam

               pasca persalinan.

      2.2.4.2. Pasca keguguran, dapat dilakukan pada hari yang sama

               dengan evakuasi rahim atau keesokan harinya

      2.2.4.3. Dalam masa interval (keadaan tidak hamil), sebaiknya

               dilakukan dalam 2 minggu pertama dari siklus haid ataupun

               setelahnya, seandainya calon akseptor menggunakan salah

               satu cara kontrasepsi dalam siklus tersebut.

2.2.5. Keuntungan dan Kerugian Tubektomi

             Keuntungan yang utama bahwa kontap merupakan suatu

      metode cara KB yang paling efektif disbanding seluruh cara yang

      tersedia. Keefektifannya tercapai begitu operasi selesai dikerjakan.

      Tubektomi merupakan cara KB jangka panjang yang tidak

      memerlukan tindakan ulang artinya cukup sekali dikerjakan. Dengan

      kata lain cara ini selain tidak user dependent. Karena cara ini

      permanent, dapat dikatakan continuation rate-nya praktis 100%.

      Meskipun kontap harus ditempuh melalui operasi tubektomi

      merupakan cara yang paling aman, bebas dari efek samping asal

      semua prosedur dan persyaratan operasi terpenuhi. Sebagaimana cara

      KB lainya kontap bersifat praktis artinya tidak membutuhkan
           kunjungan ulang yang terjadwal dan tidak mengganggu hubungan

           sexsual. Bebas dari efek samping hormonal sebagaimana pil, KB

           suntik maupun susuk.

                  Kerugian kontap adalah sifatnya permanent, sehingga calon

           ibu klien harus menyadari betul bahwa sekali dilakukan sterilisasi

           hamper tidak mungkin hamil kembali. Cara ini hanya cocok untuk

           mereka yang tidak ingin mempunyai anak lagi, bukan sebagai cara

           penjarangan. Kontap merupakan tindakan operasi, sehingga syarat

           operasi harus terpenuhi terutama yang menyangkut pencegahan

           infeksi (Siswasudarmo.et.al, 2007).

     2.2.6. Komplikasi Tubektomi

                  Perdarahan didaerah tuba, perdarahan karena perlukaan

           pembuluh darah besar, perporasi usus, emboli udara, dan perforasi

           rahim (Suratun dkk, 2008).

     2.2.7. Tempat pelayanan kontrasepsi mantap

           Pelayanan kontraspsi mantap dapat dilakukan :

           2.2.7.1. Puskesmas

           2.2.7.2. Tempat pelayanan kesehatan dengan fasilitas dokter bedah,

                       pemerintah maupun swasta.

           2.2.7.3. Tindakan kontrasepsi mantap ini murah dan ringan

                       sehingga dapat dilakukan dilapangan (Puskesmas).


2.3.Ibu Multigravida
         Multigravida adalah wanita yang hamil untuk kedua kalinya atau lebih

    (Farrer, 1999). Menurut Siswasudarmo.et.al (2007) multigravida (banyak

    anak) apalagi dengan usia relative lanjut, yakni paritas lima atau lebig

    dengan umur 35 tahun atau lebih merupakan indikasi obstetric penggunaan

    kontrasepsi mantap tubektomi.

         Sebaiknya keluarga setelah mempunyai dua anak dan umur ibu lebih

    30 tahun tidak hamil lagi. Kondisi keluarga seperti ini dapat menggunakan

    kontrasepsi yang mempunyai efektifitas tinggi (Suratun, dkk, 2008).

    Kontrasepsi mantap merupakan metode KB yang paling efektif (Manuaba,

    1998). Dimana ibu multigravida paling aman dan cocok menggunakan

    metode kontap untuk mencegah kehamilan (Kompas, 2006).


2.4. Pengetahuan

           Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari

    tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu

    objek tertentu. Penginderaam terjadi melalui panca indera manusia, yakni

    indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar

    pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau

    kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan

    seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang tercakup dalam domain

    kognitif adalah :

    2.4.1. Tahu (know)

           Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari

           sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah
       mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan

       yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu

       tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata

       kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari

       antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan,

       dan sebagainya. Contoh : Ibu mengetahui dan dapat menyebutkan

       apa yang dimaksud dengan kontrasepsi mantap tubektomi.

2.4.2. Memahami (comprehension)

       Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

       secara   benar    tentang   objek   yang   diketahui,   dan   dapat

       menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah

       paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

       menyebutkan, menyimpulkan, dan meramalkan dan sebagainya

       terhadap objek. Misalnya dapat menjelaskan keuntungan dan

       kerugian kontrasepsi mantap tubektomi.

2.4.3. Aplikasi (application)

       Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

       yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

       Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan

       hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam

       konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menjelaskan indikasi

       dan kontraindikasi dilakukan kontrasepsi mantap tubektomi.

2.4.4. Analisis (analysis)
       Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

       suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu

       struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

       Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja,

       seperti    membedakan,        memisahkan,    mengelompokan,        dan

       sebagainya.




2.4.5. Sintesis (synthesis)

       Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan

       atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk

       keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu

       kemampuan untuk menyusun formasi-formasi yang ada.

2.4.6. Evaluasi (evaluation)

       Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

       justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-

       penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri,

       atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada. Misalnya dapat

       membandingkan kefektifan kontrasepsi mantap (tubektomi) dengan

       metode kontrasepsi lainnya.

     Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek

peneliti atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui
    atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan diatas

    (Notoatmodjo, 2003).

         Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan merupakan hasil dari tahu,

    dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek

    tertentu. Penginderaam terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera

    penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba.

         Dalam memilih suatu metode, seorang wanita harus mengetahui

    bagaimana penggunaan metode akan mempengaruhi gaya hidup mereka.

    Kadang-kadang suatu metode tidak dapat diterima oleh seorang wanita

    hanya karena metode tersebut dapat mengganggu kegiatan rutinnya.

    Kesalahan membuat keputusan mengenai kontrasepsi berdasarkan informasi

    yang salah yang diperoleh dari teman dan keluarga atau dari kampanye

    pendidikan yang membingungkan (Brahm, 2006).


2.5. Sikap

    2.5.1. Pengertian Sikap

                      Sikap adalah kecendrungan bertindak dari individu, berupa

             respon tertutup terhadap stimulus atau objek tertentu (Sunaryo,

             2004).     Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai

             kecendrungan untuk bertindak sesuai dengan objek (Purwanto,

             1993).

    2.5.2. Fungsi Sikap
       Menurut Attkinson, R.I, dkk, dalam bukunya Pengantar

Psikologi, Jilid 2, edisi 11, dikutip dari Sunaryo (2004), sikap

memiliki lima fungsi yaitu :

2.5.2.1. Fungsi Instrumental

               Fungsi sikap ini dikaitkan dengan alasan praktis atau

         manfaat,      dan     menggambarkan    keadan     keinginan.

         Sebagaimana kita maklumi bahwa untuk mencapai suatu

         tujuan, diperlukan sarana yang disebut sikap. Apabila objek

         sikap dapat membantu individu mencapai tujuan, individu

         akan bersikap positif terhadap objek sikap tersebut atau

         sebaliknya.

               Disebut fungsi manfaat (utility), yaitu sejauh mana

         manfaat objek sikap dalam pencapaian tujuan, misalnya

         sikap sangat setuju terhadap tindakan metode kontrasepsi

         mantap tubektomi karena mempunyai efektivitas yang baik

         terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan.

2.5.2.2. Fungsi Pertahanan Ego

               Sikap ini diambil individu dalam rangka melindungi

         diri dari kecemasan atau ancaman harga dirinya.

2.5.2.3. Fungsi Nilai Ekspresi

               Sikap ini mengekpresikan nilai yang ada dalam diri

         individu. Sistim nilai apa yang ada pada diri individu, dapat
               dilihat dari sikap yang diambil oleh individu yang

               bersangkutan terhadap nilai tertentu.

      2.5.2.4. Fungsi Pengetahuan

                     Sikap ini membantu individu untuk memahami dunia,

               yang membawa keteraturan terhadap bermacam-macam

               informasi yang perlu diasimilasikan dalam kehidupan

               sehari-hari. Setiap individu memiliki motif untuk ingin

               tahu, ingin     mengerti, dan ingin banyak mendapat

               pengalaman dan pengetahuan.




      2.5.2.5. Fungsi Penyesuaian Sosial

                     Sikap ini membantu individu merasa menjadi bagian

               dari masyarakat. Dalam hal ini, sikap yang diambil individu

               tersebut akan dapat menyesuaikan dengan lingkungan.

2.5.3. Tingkatan Sikap

           Menurut     Notoatmodjo      (2003),   seperti   halnya     dengan

      pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu :

      2.5.3.1. Menerima (receiving)

                     Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

               memperhatikan stimulus yang diberikan (objek). Misalnya

               sikap ibu terhadap metode kontrasepsi, dapat dilihat dari
        kesedian dan perhatian ibu terhadap informasi-informasi

        tentang kontrasepsi.

2.5.3.2. Merespons (responding)

              Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan,

        dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu

        indikasi dari sikap. Karena dengan suatu usaha untuk

        menjawab pertanyaan atau mengerjakan tugas yang

        diberikan, terlepas dari pekerjaan itu benar atau salah,

        adalah berarti bahwa orang menerima ide tersebut.

2.5.3.3. Menghargai (valuing)

              Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau

        berdiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap

        tingkat ketiga. Misalnya seorang ibu yang mempunyai anak

        lebih dari tiga mengajak pasangannya untuk memakai alat

        kontrasepsi mantap, atau mendiskusikan tentang metode

        kontrasepsi yang akan dipilih, adalah suatu bukti bahwa si

        ibu tersebut telah mempunyai sikap positif terhadap metode

        kontrasepsi.

2.5.3.4. Bertanggung jawab (responsible)

              Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah

        dipilih dengan segala resiko merupakan sikap yang paling

        tinggi.
                         Peserta sudah mengetahui bahwa disamping kontap

                 masih ada cara kontrasepsi lain yang dapat mencegah

                 kehamilan yang bersifat sementara tetapi peserta tetap

                 memilih kontap (Suratun, dkk, 2008).

2.5.4. Ciri-ciri Sikap

            Menurut Purwanto (1993),        irri-ciri sikap yaitu :

       2.5.4.1. Sikap bukan dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk atau

                dipelajari   sepanjang    perkembangan         orang    itu   dalam

                hubungan dengan objeknya. Sifat ini membedakannya

                dengan sifat motif-motif biogenetic seperti lapar, haus,

                kebutuhan akan istirahat.

       2.5.4.2. Sikap dapat berubah-ubah, karena itu sikap dapat dipelajari

                dan karena itu pula sikap dapat berubah pada orang-orang

                bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang

                mempermudah sikap pada orang lain.

       2.5.4.3. Sikap tidak berdiri sendiri, tetapi senantiasa mempunyai

                hubungan terutama terhadap suatu objek. Dengan kata lain,

                sikap itu terbantuk, dipelajari atau berubah senantiasa

                berkenaan    dengan      suatu   objek     tertentu    yang   dapat

                dirumuskan dengan jelas.

       2.5.4.4. Objek sikap itu dapat merupakan satu hal tertentu, tetapi

                dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut.
          2.5.4.5. Sikap mempunyai segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat

                  inilah yang membedakan sikap dari kecakapan-kecakapan

                  atau pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki orang.

2. 5. 5. Pengukuran Sikap

                  Secara garis besar menurut Sunaryo (2004), pengukuran

               sikap di bedakan menjadi dua cara, yaitu secara langsung, dan

               tidak langsung.

          2.5.5.1. Secara Langsung

                    Dengan cara ini subjek secara langsung di minta pendapat

                 bagaimana sikapnya terhadap suatu masalah atau hal yang di

                 hadapkan kepadanya. Jenis-jenis pengukuran sikap secara

                 langsung, yaitu :

                    1. Langsung Berstruktur

                    Cara ini mengukur sikap dengan mengunakan petanyaan-

                    pertanyaan yang telah di susun sedemikian rupa dalam

                    suatu alat yang telah di tentukan dan langsung di berikan

                    kepada subjek yang di teliti. Misalnya : pengukuran sikap

                    dengan skala likert, dikenal dengan tehnik “ summated

                    Rattings”. Responden di berikan pertanyaan-pertanyaan

                    dengan katagori jawaban yang telah di tuliskan dan pada

                    umumnya 1 sampai 5 katagori jawaban. Sebagai contoh ….

                    Jawabannya sebagai berikut : sangat setuju (5), setuju (4),

                    ragu-ragu (3), tidak setuju (2), dan sangat tidak setuju
                  (1).nilai 5 adalah hal yang meyenangkan dan nilai 1 adalah

                  tidak meyenangkan

                  2. Langsung Tak Berstruktur

                  Cara ini adalah pengukuran sikap yang sederhana dan tidak

                  diperlukan persiapan yang cukup mendalam, misalnya

                  mengukur sikap dengan wawancara bebas atau free

                  interviw, pengamatan langsung, atau survey.

       2.5.5.2. Secara Tidak Langsung

               Cara pengukuran sikap dengan mengunakan tes. Umumnya di

               gunakan skala semantic-diferensial yang berstandar. Cara

               pengukuran sikap yang banyak di gunakan adalah skala yang di

               kembangkan oleh Charles E.Osgood.

       Sikap adalah kecenderungan bertindak dari individu, berupa respon

tertutup terhadap stimulus atau objek tertentu (Sunaryo, 2004).
2.5.6. Kerangka Teoritis
2.4. Tinjauan Tentang Variabel

    a. Pengetahuan Ibu

    b. Sikap Ibu

    c. Kontrasepsi Mantap Tubektomi



2.4. Kerangka Teoritis



     Menurut Adi (2007)

      -   Pengetahuan
      -   Sikap
                                      Kontrasepsi mantap
                                         (Tubektomi)
     Nurwahyuni (2003)

      -   Pengetahuan
      -   Sikap
Indikator untuk mengetahui
tingkat pengetahuan dan
sikap ibu terhadap sakit dan
penyakit (Notoatmodjo,2003)
- Pengertian dan penyebab
  penyakit.
- Gejala dan tanda penyakit
- Cara pengobatan.




Tingkat pengetahuan didalam
Domain kognitif (Notoatmodjo,
2003).

- Tahu                            Penanganan
- Memahami                       Kejang Demam
- Aplikasi                        pada Balita
- Analisis
- Sintesis
- Evaluasi


Tingkatan sikap (Sunaryo, 2004
     - Menerima
     - Merespons
     - Menghargai
     - Bertanggung jawab




                                  BAB III

                           KERANGKA KONSEP



3.1. Kerangka Konsep

         Kerangka konsep penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi

    pengetahuan dan sikap ibu terhadap pemakaian kontrasepsi Mantap

    (tubektomi) di Desa Tualang Teungoh. Berdasarkan pada tinjauan teoritis,

    maka secara skematis kerangka konsep pada penelitian dapat digambarkan

    sebagai berikut :



             Variabel Indenpenden           Variabel Dependen



                Pengetahuan ibu

                                                Kontrasepsi mantap
                                                  (Tubektomi)
                    Sikap Ibu
     3.2. Definisi Operasional

                                       Tabel 3.1
        Definisi Operasional Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu Terhadap
                          Kontrasepsi Mantap (Tubektomi)


                                    Variabel Dependen
                         Definisi            Cara     Alat        Skala       Hasil
No     Variabel
                       Operasional           Ukur     Ukur        Ukur        Ukur
1. Kontrasepsi     Metode pencegahan      Wawancara Kuisioner    Ordinal   - Ya
   Mantap          kehamilan permanent
   (Tubektomi)     yang di gunakan ibu                                     - Tidak




                                    Variabel Independen
2. Pengetahuan     Pemahaman se-           Wawancara Kuisioner Ordinal     - Baik
   ibu             orang ibu terhadap
                   Kontrasepsi mantap                                      - Cukup
                   (tubektomi)
                                                                           - Kurang


                                                                           -
3. Sikap ibu       Respon (tindakan)     Wawancara   Kuisioner   Ordinal   Mendukung
                   yang dilakukan ibu
                                                                           - Tidak
                   terhadap kontasepsi                                     Mendukung
                   mantap (tubektomi)
3.3. Cara Pengukuran Variabel

    3.3.1. Kontrasepsi mantap (tubektomi)

                 Untuk pertanyaan mengenai kontrasepsi mantap (tubektomi),

          terdiri dari 1 (satu) pertanyaan dengan dua pilihan jawaban yaitu :

          Ya       : Jika responden melakukan kontrasepsi tubektomi.

          Tidak : Jika responden tidak melakukan kontrasepsi tubektomi

    3.3.2. Pengetahuan

                 Untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu terhadap kontrasepsi

          mantap (tubektomi) diberikan 10 pertanyaan tentang pengetahuan

          dengan penilaian untuk setiap jawaban benar diberikan score 2,

          sedangkan untuk jawaban salah diberikan nilai 0, kemudian

          dilakukan penghitungan maka dapat dikategorikan dengan kriteria

          dibawah ini.

          Baik        : Jika jawaban ibu benar dengan nilai 76% - 100 %

                         dengan total score 16-20.

          Cukup       : Jika jawaban ibu benar dengan nilai 56% - 75 % dengan

                         total score 11-15.

          Kurang      : Jika jawaban ibu benar dengan nilai < 56 % dengan

                         total score <11. (Nurssalam, 2003).

    3.3.3. Sikap
     Sedangkan untuk pengukuran sikap digunakan skala likert

yaitu Sangat setuju nilai 5, Setuju 4, Ragu-ragu 3, Tidak setuju 2,

dan Sangat tidak setuju 1. Penilaian sikap digunakan skala standar

patokan media yaitu nilai maksimum 5 dan nilai minimum 1 dengan

total score maksimum 50 dan minimum 10.

Dikatakan Mendukung : Jika responden dapat menjawab dengan

                       nilai ≥ 50 % dengan total score ≥ 25

Dikatakan Tidak mendukung      : jika responden dapat menjawab

dengan nilai < 50 % dengan total > 25.
                                      BAB IV

                        METODELOGI PENELITIAN



4.1. Jenis Penelitian

          Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain Cross

     Sectional,    dimana     kedua     variabel   dilihat   secara   bersamaan

     (Notoatmodjo,2002). Penelitian ini     bertujuan untuk membuat gambaran

     terhadap pengetahuan dan sikap ibu multigravida terhadap pemakaian

     kontrasepsi mantap (tubektomi) di desa Tualang Tengoh Kec. Langsa Kota

     Tahun 2009.


4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

     4.2.1. Lokasi Penelitian

                   Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Tualang Tengoh

            Kecamatan Langsa Kota.

     4.2.2. Waktu Penelitian

                   Waktu penelitian direncanakan pada bulan Juli 2009.


4.3. Populasi dan Sampel Penelitian

     4.3.1. Populasi Penelitian

                   Populasi pada penelitian ini adalah ibu multi gravida di Desa

            Tualang Tengoh Kec. Langsa Kota sebanyak 40 orang.
    4.3.2. Sampel Penelitian

                 Dalam penelitian ini menggunakan total sampling, dimana

           seluruh populasi dijadikan objek penelitian.

4.4. Instrumen Penelitian

         Instrumen dalam penelitian ini berupa angket dalam bentuk kuisioner,

    dimana pertanyaan yang diajukan merupakan pertanyaan terstruktur yang

    terdiri dari : kuisioner kontrasepsi mantap (tubektomi) terdiri dari 1 item

    pertanyaan dan kuisioner tentang pengetahuan ibu terdiri dari 10 item

    pertanyaan dalam bentuk pilihan jawaban multiple choise.

         Sedangkan kuisioner        tentang sikap ibu menggunakan skala

    pengukuran dalam bentuk skala likert yang terdiri dari 10 item pertanyaan,

    dengan pilihan jawaban sangat setuju, setuju, ragu-ragu , tidak setuju , dan

    sangat tidak setuju.

4.5. Tehnik Pengumpulan Data

    4.5.1. Data Primer

                 Data yang dikumpulkan dengan menggunakan kuisioner,

           melalui wawancara dan observasi terhadap responden.

    4.5.2. Data Skunder

                 Data yang diperoleh dari pihak lain/badan atau institusi yang

           secara rutin mengumpulkan data, seperti internet, instansi dinas

           kesehatan, dan Puskesmas Langsa Kota.
4.6. Pengolahan dan Analisa Data

           Data yang telah terkumpul dari sejumlah kuisioner yang telah

    disebarkan kepada responden, kemudian diolah secara manual dengan cara :

    4.6.1. Editing, yaitu data yang telah dikumpulkan diperiksa kebenarannya.

    4.6.2. Coding, yaitu mengklasifikasikan jawaban atau hasil yang ada

           menurut macamnya.

    4.6.3. Scoring, yaitu memberi nilai score pada setiap pertanyaan yang di

           ajukan.

    4.6.4. Tabulating, yaitu data yang telah terkumpul di tabulasikan dalam

    bentuk tabel distribusi frekuensi, (Notoatmodjo, 2005).



           Data yang telah diolah, selanjutnya data dianalisa dan hasil analisa

           disajikan dalam bentuk tabel frekuensi dengan rumus :

                                  F
                          P =          x 100 %
                                  N
           Keterangan :

             P :     Persentase

             F :     Frekeunsi

            N    :   Jumlah Populasi
                                KUISIONER

   GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU MULTIGRAVIDA
      TERHADAP KONTRASEPSI MANTAP (TUBEKTOMI )
       DI DESA TUALANG TENGOH KEC. LANGSA KOTA
                      TAHUN 2009


No Responden : ………………………...
Tanggal diisi : ………………………...

Identitas Responden   :
Nama
Umur                  :   …………………..
Pekerjaan             :   …………………..
Suku                  :   …………………..
Pendidikan            :   …………………..
Alamat                :   …………………..

Petunjuk Pengisian :

a. Bacalah baik-baik pada setiap pertanyaan
b. Berikanlah tanda chek (√) pada setiap jawaban
c. Mohon agar setiap pertanyaan dijawab dengan sejujurnya

I. Ibu Tubektomi

   1. Apakah ibu memakai alat kontrasepsi mantap tubektomi ?

              Ya                      Tidak

II. Pengetahuan Ibu

   Petunjuk Pengisian :

   Pilihlah salah satu jawaban yang menurut anda benar dengan memberikan
   tanda silang (x) pada kolom atau jawaban yang telah disediakan sesuai dengan
   jawaban yang anda ketahui.

   1. Kontrasepsi adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan. Menurut
       ibu apa yang dimaksud dengan kontrasepsi mantap ?
       a. Salah satu cara pencegahan kehamilan dengan tindakan pembedahan
          (sterilisasi) yang mengakibatkan pasangan tidak akan memperoleh
          keturunan
   b. Salah satu cara pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat yang
       dimasukkan dalam rahim
   c. Salah satu cara pencegahan kehamilan dengan menggunakan alat yang
       disusupkan dibawah kulit


2. Bila pasangan sudah tidak menginginkan keturunan karena sudah merasa
   anak sudah cukup. Menurut ibu cara pencegahan kehamilan yang paling
   efektif bagi wanita untuk tidak mempunyai keturunan lagi adalah ?
   a. Vasektomi
   b. Tubektomi
   c. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

3. Tubektomi atau kontrasepsi mantap pada wanita dilakukan dengan
   tindakan mengikat dan memotong kedua saluran yang berfungsi sebagai
   pembentukan janin. Menurut ibu, yang       boleh   menjalani    tubektomi
   adalah ?
   a. Pasangan yang belum mempunyai anak
   b. Ibu yang berusia dibawah 25 tahun
   c. Pada kehamilan yang menimbulkan resiko kesehatan yang serius

4. Yang sebaiknya tidak boleh menjalani tubektomi ?
   a. Sudah diketahui hamil
   b. Pasca keguguran
   c. Paham dan secara sukarela setuju dengan tindakan tubektomi

5. Setiap metode kontrasepsi memiliki keunggulan dan kelemahan. Menurut
   ibu keunggulan kontrasepsi mantap tubektomi adalah ?
   a. Paling cocok untuk mengatur jumlah anak
   b. Cara KB yang praktis, efektif dan tidak mengganggu hubungan sexsual
   c. Ibu tampak awet muda dan langsing
6. Dalam memakai kontrasepsi mantap tubektomi sebaiknya ibu sudah
   mempunyai anak lebih dari dua orang

7. Setiap pasangan ingin memilih kontrasepsi untuk mencegah kehamilan
   yang mempunyai angka kegagalan rendah untuk terjadinya kehamilan.
   Menurut ibu, waktu pemasangan tubektomi sebaiknya dilakukan pada saat
   ?
   d. Setelah persalinan dan ibu telah memutuskan tidak ingin mempunyai
       anak lagi
   e. Datangnya haid (mentruasi) atau tidak datangnya haid.
   f. Ibu sedang hamil muda

6. Dalam memutuskan metode mana yang akan digunakan pasangan untuk
   mencegah kehamilan merupakan hal yang perlu dimusyawarahkan.
   Menurut ibu, persyaratan untuk menjadi akseptor kontrasepsi mantap
   adalah ?
   a. Atas keinginan sendiri dan tidak dipaksa untuk menjadi peserta
       kontrasepsi mantap
   b. Keluarga yang kurang harmonis
   c. Telah dianugrahi 1 orang anak

7. Pelayanan kontrasepsi yang aman merupakan pilihan bagi setiap pasangan.
   Menurut ibu tempat pelayanan kontrasepsi mantap dapat dilakukan di ?
   a. Pondok Bersalin Desa (Polindes)
   b. Posyandu
   c. Rumah sakit pemerintah atau swasta

8. Semua alat kontrasepsi menimbulkan resiko tertentu bagi pemakainya.
   Menurut ibu, efeksamping dari pemakaian kontrasepsi mantap tubektomi
   adalah ?
   a. Badan ibu menjadi gemuk.
   b. Perdarahan didaerah tuba
   c. Haid tidak teratur
II. Sikap Ibu

   Berikan tanda cheslist ( √ ) pada kolom angka yang ada pada sebelah kanan
   pada masing-masing butir pertanyaan dengan pilihan sebagai berikut :
   Kode :       5   = Sangat Tidak Setuju
                4   = Tidak setuju
                3   = Ragu-ragu
                2   = Setuju
                1   = Sangat setuju

    No                     PERYATAAN                       1     2    3   4    5

    1.   Cara mencegah kehamilan dengan kontrasepsi
         mantap tubektomi baik dilakukan bagi ibu yang
         sudah mempunyai anak lebih dari 3

    2.   Jika ibu ingin mendapatkan informasi untuk
         menjadi akseptor tubektomi, maka ibu akan
         mengunjungi puskesmas terdekat.

    3.   Dslsm penggunaan KB secara tubektomi tidak
         akan berpengaruh terhadap suami istri

    4.   Dalam melakukan tubektomi sebaiknya ibu
         perlu mendapat izin dari suami.

    5.   Salah satu alasan ibu enggan menjadi akseptor
         KB tubektomi adalah ibu ingin mempunyai
         anak banyak.

    6.   Penggunaan KB secara tubektomi tidak akan
         mempengaruhi kesehatan ibu



    No                     PERYATAAN                       1     2    3   4    5

    7.   Untuk menggunakan KB secara tubektomi harus
         diputuskan secara bersama-sama

    8.   Menurut pendapat ibu suami adalah pengambil
      keputusan yang terbaik untuk memutuskan ibu
      menjadi akseptor KB Tubektomi.

 9.   Kesediaan seorang ibu menjalankan operasi
      tubektomi karena hal tersebut bukan hal yang
      menakutkan bagi ibu.

 10   Jika suami tidak mengizinkan untuk dilakukan
      operasi tubektomi maka ibu akan mengajaknya
      untuk berkonsultasi kepada petugas kesehatan.




      enentuan besarnya sampel yang akan diambil menggunakan rumus yang

dikemukakan oleh Notoatmodjo (2002) yaitu :

                 N
      n   =
              1 + N (d²)
Keterangan :

N :       Besar Populasi

n :       Besar Sampel

d :       Tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan 0,01

      Berdasarkan rumus        diatas, maka jumlah sampel yang akan diteliti

adalah :

                  N
      n    =
               1 + N (d²)

                  53
      n    =
               1 + 53 (0,1²)

                  53
      n    =
                1 + 1,53

                  53
      n    =
                  2,53

      n    = 21 responden


           Pengambilan sampel ini dilaksanakan dengan cara purposive

   sampling suatu teknik penetapan sample dengan cara memilih sample

   diantara populasi sesuai dengan yang dikehndaki peneliti (Nursalam,

   2004), yaitu ibu multi gravida usia reproduktif (25-30 tahun).
                            DAFTAR PUSTAKA



Brahm, (2006),”Ragam Metode Kontrasepsi”.Cet.1-Jakarta : EGC.
       Halaman 30.

Everett,(2007),”Buku Saku Kontrasepsi dan Kesehatan Seksual reproduktif”.
       Ed.2-Jakarta : EGC. Halaman 25, 26.

Ferre, Hellen,(1999),”Perawatan Maternitas”.Cet.1.Ed.2-Jakarta : EGC.
        Halaman 21.

Glasier, A,(2005),”Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi”.Ed.4.Cet.1-
       Jakarta : EGC. Halaman V,191.

Hartanto,(2004),”Keluarga Berencana dan Kontrasepsi”.Cet.5-Jakarta : CV
       Muhasari. Halaman 12

Indiarti, dkk,(2008), “Bahagia Menjalani Kehamilan Sehat”.Cet.1-Yokyakarta :
        Pegasus. Halaman 11,14.
Kompas,(2006),”Kontrasepsi Mantap”.http://www.kompas.htm.dikutip tanggal
     23-4-2009 Halaman 1.

Manuaba, (1998), Ilmu Kebidanan & Penyakit Kandungan. Cet.2 – Jakarta : EGC
     Halaman 62.

Mochtar,Rustam,(1998),”Sinopsi Obstetri : Obstetri        Operatif,   Obstetri
      Sosial”.Ed.2-Jakarta : EGC. Halaman 27.

Notoatmodjo.S,(2002), “Metodologi Penelitian Kesehatan”.Cet.2 – Jakarta :
      PT.Rineka Cipta. Halaman 121, 122, 123, 126.

                ,(2003).”Pendidikan dan Prilaku Kesehatan”Cet.1-Jakarta :
       Rineka Cipta. Halaman 12, 56.

Nursalam,(2003),”Konsep & Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
       Keperawatan”.Cet.2 – Jakarta : Salemba Medika. Halaman 97, 102.

Purwanto,(1993),”Pengantar Perilaku Manusia”.Cet.1-Jakarta : EGC
       Halaman 62.
Saifuddin,(2006),”Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi”.Ed.2.Cet.2 –
       Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Halaman V, MK
       82, MK 83.

Siswasudarmo.et.al,(2007),”Teknologi  Kontrasepsi”.Cet.2-Yogyakarta:Gadjah
      Mada University, Halaman 51,52,53,57.


Speroff Leon,(2005), “Pedoman Klinis Kontrasepsi”.Ed.2.Cet.1-Jakarta : EGC.
       Halaman 27,30.

Suratun,dkk,(2008),”Pelayanan      Kelarga     Berencana     dan    Pelayanan
       Kontrasepsi”.-Jakarta : Trans Info Media. Halaman 108,116,122,123.

Sunaryo,(2004),”Psikologi Untuk Keperawatan”.Cet.1-Jakarta : EGC.

       Halaman 99,100.

								
To top