Docstoc

bahan-bahan

Document Sample
bahan-bahan Powered By Docstoc
					FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN IBU
MEMBERIKAN 5 (LIMA) IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA
BAYINYA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN IBU MEMBERIKAN 5 (LIMA) IMUNISASI DASAR

LENGKAP PADA BAYINYA (ANALISIS KUALITATIF)



Kesehatan merupakan masalah yang penting dalam sebuah keluarga, terutama yang berhubungan dengan

bayi dan anak. Mereka merupakan harta yang paling berharga sebagai titipan Tuhan Yang Maha Esa, juga

dikarenakan kondisi tubuhnya yang mudah sekali terkena penyakit. Oleh karena itu, bayi dan anak

merupakan prioritas pertama yang harus dijaga kesehatannya.



Pada saat seorang bayi dilahirkan ke dunia, ia sudah harus menghadapi berbagai „musuh‟ yang mengancam

jiwa. Virus, bakteri, dan berbagai bibit penyakit sudah siap menerjang masuk ke tubuh yang masih tampak

lemah itu. Ternyata sang bayi mungil pun sudah siap untuk menghadapi kerasnya dunia. Berbekal antibodi

yang diberikan ibunya, ia siap menyambut tantangan. Inilah contoh dari apa yang kita sebut sebagai daya

imunitas (kekebalan) tubuh. Tanggal 8 Mei 1980 adalah merupakan hari bersejarah. Pada tanggal tersebut

eradikasi atau pembasmian penyakit cacar atau smallpox eradication, secara resmi sudah tercapai. Virus

penyebab penyakit cacar kini hanya tinggal kenangan, tersimpan dalam arsip laboratorium dibeberapa

negara di dunia, dengan penjagaan yang amat ketat (http://datadeni.blogspot.com/2008/02/bab-i.html,

2009)



Menurut Undang-Undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992, “Paradigma Sehat” dilaksanakan melalui beberapa

kegiatan antara lain pemberantasan penyakit. Salah satu upaya pemberantasan penyakit menular adalah

upaya pengebalan (imunisasi).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1059/MENKES/SK/IX/2004, salah satu

pembangunan kesehatan nasional untuk mewujudkan “Indonesia Sehat 2010” adalah menerapkan

pembangunan nasional berwawasan kesehatan, yang berarti setiap upaya program pembangunan harus

mempunyai kontribusi positif terhadap terbentuknya lingkungan yang sehat dan perilaku sehat. Sebagai

acuan pembangunan kesehatan mengacu kepada konsep “Paradigma Sehat” yaitu pembangunan kesehatan

yang memberikan prioritas utama pada upaya pelayanan peningkatan kesehatan (promotif) dan

pencegahan penyakit (preventif) dibandingkan upaya pelayanan penyembuhan/pengobatan (kuratif) dan

pemulihan (rehabilitatif) secara menyeluruh dan terpadu dan berkesinambungan.

Pemerintah mewajibkan setiap anak untuk mendapatkan imunisasi dasar terhadap tujuh macam penyakit

yaitu penyakit TBC, Difteria, Tetanus, Batuk Rejan (Pertusis), Polio, Campak (Measles, Morbili) dan Hepatitis
B, yang termasuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI) meliputi imunisasi BCG, DPT, Polio,

Campak dan Hepatitis B. Imunisasi lain yang tidak diwajibkan oleh pemerintah tetapi tetap dianjurkan

antara lain terhadap penyakit gondongan (mumps), rubella, tifus, radang selaput otak (meningitis), HiB,

Hepatitits A, cacar air (chicken pox, varicella) dan rabies.

Penyelenggaraan program imunisasi pemerintah Indonesia mengacu pada kesepakatan-kesepakatan

internasional untuk pencegahan dan pemberantasan penyakit, antara lain: 1) 1. WHO tahun 1988 dan

UNICEF melalui World Summit for Children pada tahun 1990 tentang ajakan untuk mencapai target cakupan

imunisasi 80-80-80, Eliminasi Tetanus Neonatorum dan Reduksi Campak; (2. Himbauan UNICEF, WHO dan

UNFPA tahun 1999 untuk mencapai target Eliminasi Tetanus Maternal dan Neonatal (MNTE) pada tahun

2005 di negara berkembang; (3. Himbauan dari WHO bahwa negara dengan tingkat endemisitas tinggi >

8% pada tahun 1997 diharapkan telah melaksanakan program imunisasi hepatitis B ke dalam program

imunisasi rutin; (4. WHO/UNICEF/UNFPA tahun 1999 tentang Joint Statement on the Use of Autodisable

Syringe in Immunization Services; (5. Konvensi Hak Anak: Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak

dengan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1999 tertanggal 25 Agustus 1990, yang berisi antara lain

tentang hak anak untuk memperoleh kesehatan dan kesejahteraan dasar; (6. Resolusi Majelis Kesehatan

Dunia (World Health Assembly) tahun 1988 dan tahun 2000 yang diperkuat dengan hasil pertemuan The

Eight Technical Consultative Group Vaccine Preventable Disease in SEAR tahun 2001 untuk mencapai

Eradikasi Polio pada tahun 2004 untuk regional Asia Tenggara dan sertifikasi bebas polio oleh WHO tahun

2008; (7. The Millenium Development Goal (MDG) pada tahun 2003 yang meliputi goal 4 : tentang reduce

child mortality, goal 5: tentang improve maternal health, goal 6: tentang combat HIV/AIDS, malaria and

other diseases (yang disertai dukungan teknis dari UNICEF); (8. Resolusi WHA 56.20, 28 Mei 2003 tentang

Reducing Global Measles Mortality, mendesak negara-negara anggota untuk melaksanakan The WHO-

UNICEF Strategic Plan for Measles Mortality Reduction 2001-2005 di negara-negara dengan angka kematian

campak tinggi sebagai bagian EPI; (9. Cape Town Measles Declaration, 17 Oktober 2003, menekankan

pentingnya melaksanakan tujuan dari United Nation General Assembly Special Session(UNGASS) tahun 2002

dan World Health Assembly (WHA) tahun 2003 untuk menurunkan kematian akibat campak menjadi 50 %

pada akhir tahun 2005 dibandingkan keadaan pada tahun 1999; dan mencapai target The United Millenium

Development Goal untuk mereduksi kematian campak pada anak usia kurang dari 5 tahun menjadi 2/3 pada

tahun 2015 serta mendukung The WHO/UNICEF Global Strategic Plan for Measles Mortality Reduction and

Regional Elimination 2001-2005; (10.Pertemuan The Ninth Technical Consultative Group on Polio Eradication

and Polio Eradication and Vaccine Preventable Diseases in South-East Asia Region tahun 2003 untuk

menyempurnakan proses sertifikasi eradikasi polio, reduksi kematian akibat campak menjadi 50% dan

eliminasi tetanus neonatal, cakupan DPT3 80% di semua negara dan semua kabupaten, mengembangkan
strategi untuk Safe Injections and Waste Disposal di semua negara serta memasukkan vaksin hepatitis B di

dalam Program Imunisasi di semua negara; (11.WHO-UNICEF tahun 2003 tentang Joint Statement on

Effective Vaccine Store Management Initiative (http://www.desentralisasi-kesehatan.net, 2009).

Kendala utama untuk keberhasilan imunisasi bayi dan anak dalam sistem perawatan kesehatan yaitu

rendahnya kesadaran yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan dan tidak adanya kebutuhan

masyarakat pada imunisasi, jalan masuk ke pelayanan imunisasi tidak adekuat, melalaikan peluang untuk

pemberian vaksin dan sumber-sumber yang adekuat untuk kesehatan masyarakat dan program

pencegahannya (Nelson, 2000)



Banyak anggapan salah tentang imunisasi yang berkembang dalam masyarakat. Banyak pula orang tua dan

kalangan praktisi tertentu khawatir terhadap resiko dari beberapa vaksin. Adapula media yang masih

mempertanyakan manfaat imunisasi serta membesar-besarkan resiko beberapa vaksin (Muhammad Ali,

2005).



Kecemasan para orang tua ini ditimbulkan oleh diterbitkannya laporan pada tahun 1998 oleh seorang

spesialis organ dalam untuk anak, Dr. Andrew Wakefield, yang menyatakan bahwa kemungkinan bahwa

anak yang mendapat vaksin MMR bisa mengalami gangguan usus dan autisme. Namun sebenarnya laporan

yang diterbitkan di Lancet itu menyimpulkan bahwa mereka tidak berhasil membuktikan adanya hubungan

antara vaksin MMR dengan sindrom tersebut (Grifford, 2008: 7).



Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting, karena penggunaan sarana kesehatan oleh

anak berkaitan erat dengan perilaku dan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status

imunisasi. Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua dalam program imunisasi tidak akan menjadi

halangan yang besar jika pendidikan yang memadai tentang hal itu diberikan.

Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Karenanya suatu pemahaman tentang

program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. (Muhammad Ali, 2005). Dalam hal ini peran orang

tua, khususnya ibu menjadi sangat penting, karena orang terdekat dengan bayi dan anak adalah ibu.

Demikian juga tentang pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu. Pengetahuan, kepercayaan,

dan perilaku kesehatan seorang ibu akan mempengaruhi kepatuhan pemberian imunisasi dasar pada bayi

dan anak, sehingga dapat mempengaruhi status imunisasinya. Masalah pengertian, pemahaman dan

kepatuhan ibu dalam program imunisasi bayinya tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan

dan pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan.
Standar Pelayanan Minimum Kesehatan ( SPMK ) yang dicanangkan oleh pemerintah, bahwa pada tahun

2010 nanti setiap bayi yang lahir harus mendapatkan imunisasi lengkap secara merata 100% ke semua

desa. Sedangkan berdasar Indikator Imunisasi Dasar lengkap untuk anak bayi yaitu imunisasi, BCG, DPT-

HB3, Polio 4 dan Campak lebih dari 80 %. Dari uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan ibu memberikan 5 imunisasi dasar lengkap

pada bayinya, pada hasil prasurvei, di Desa Sumber Sari Natar diketahui bahwa dari jumlah bayi usia 9-11

bulan yang ada di wilayah tersebut baru 70% yang telah mendapatkan imunisasi lengkap. Dengan demikian

penelitian memilih Desa Sumber Sari Natar sebagai tempat penelitian.



                                              ABSTRAKSI

Kesehatan merupakan masalah yang penting dalam sebuah keluarga, terutama yang berhubungan
dengan bayi dan anak. Pemerintah mewajibkan setiap anak untuk mendapatkan imunisasi dasar
terhadap tujuh macam penyakit yaitu penyakit TBC, Difteria, Tetanus, Batuk Rejan (Pertusis), Polio,
Campak (Measles, Morbili) dan Hepatitis B. Tingkat pengetahuan ibu yang beragam dapat
menentukan tingkat kepatuhan imunisasi dasar pada bayinya.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar
dengan kepatuhan pemberian imunisasi pada bayi. Penelitian ini dilakukan di Posyandu Desa
Tonjong, Brebes, Jawa Tengah pada tanggal 5 Mei sampai dengan 5 Juni 2008.

Jenis penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat deskriptif analitik dengan
rancangan cross sectional. Responden dalam penelitian ini berjumlah 116 ibu dengan bayinya
sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner
danchecklist. Kuesioner digunakan untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang imunisasi
dan checklist digunakan untuk mengetahui kepatuhan pemberian imunisasi yang sudah diberikan.
Teknik pengolahan data dengan uji korelasiKendal tau, karena kedua variabel berbentuk ordinal
dengan bantuan komputer (SPSS 12 version for windows).

Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar
terhadap kepatuhan pemberian imunisasi pada bayi dengan nilai koefisien kontingensi 0,556
dengan taraf signifikan p=0,01 (p<0,05). Dengan demikian sangat diperlukan pendidikan kesehatan
dalam perawatan kesehatan anak khususnya tentang imunisasi sehingga ibu mengetahui kapan
bayi harus diimunisasi dengan tepat.


                  Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi



Surat Persetujuan (informed consent)

Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) no. 585 tahun 1989 tentang Persetujuan
Tindakan Medik dinyatakan bahwa informed consent adalah perse-tujuan yang diberikan oleh pasien
atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medik yang akan dilakukan terhadap
pasien tersebut (pasal 1 ayat a).


       Informasi harus diberikan kepada pasien baik diminta ataupun tidak diminta (pasal 4 ayat
        1)
       Semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan
        (pasal 2 ayat 2)
       Apabila tindakan medik dilakukan tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya,
        maka dokter dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin prakteknya
        (pasal 13)

   Di dalam Permenkes tersebut yang dimaksud dengan tindakan medik adalah tindakan diagnostik
atau terapeutik (pasal 1, ayat b), sehingga ada yang berpendapat bahwa imunisasi tidak perlu
persetujuan tindakan medis. Namun, di Amerika dan Australia persetujuan tindakan medik sebelum
imunisasi dianggap perlu, walaupun tidak harus tertulis. The American Academy of Pediatrics (AAP)
menganjurkan pemberian (berupa brosur) yang disusun dan disediakan oleh pemerintah
bekerjasama dengan AAP dan produsen vaksin. Selain itu AAP menganjurkan agar setiap kali
pemberian imunisasi orangtua menandatangani persetujuan tertulis, atau dicatat dalam catatan
medik bahwa penjelasan telah dilakukan dan difahami oleh orangtua.

    The Australian National Health and Medical Research Council (NHMRC) juga menganjurkan agar
setiap kali sebelum imunisasi diberikan penjelasan tertulis di samping penjelasan lisan. Pada
imunisasi perorangan orangtua diberi daftar isian (kuesioner) dan keterangan tertulis tentang
perbandingan risiko imunisasi dan bahaya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut
untuk dibaca dan didiskusikan dengan dokter. Tidak ada keharusan untuk mendapatkan
persetujuan tertulis dari orangtua, cukup dicatat di dalam catatan medik bahwa orangtua telah
diberikan penjelasan. Namun beberapa klinik meminta persetujuan tertulis. Imunisasi masal (di
sekolah) dilakukan setelah ada persetujuan tertulis dari orangtua. Namun jika orangtua hadir
dibutuhkan persetujuan lisan dari orangtua. Namun jika orangtua hadir dibutuhkan persetujuan
lisan dari orangtua walaupun telah ada persetujuan tertulis pada imunisasi sebelumnya.

    Sejalan dengan peningkatan pendidikan dan pengetahuan masyarakat serta kesadaran
konsumen tentang hak-haknya, dihimbau kepada anggota IDAI sebelum melakukan imunisasi
sebaiknya memberikan penjelasan bahwa imunisasi berguna untuk melindungi anak terhadap
bahaya penyakit mempunyai manfaat lebih besar dibandingkan dengan risiko kejadian ikutan yang
dapat ditimbulkannya (sesuai maksud pasal 2 ayat 3 Permenkes 585/1989). Cara penyampaian dan
isi informasi disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan situasi pasien (Permenkes
585/1989, pasal 2 ayat 4). Imunisasi yang dilaksanakan sesuai dengan program pemerintah untuk
kepentingan masyarakat banyak (di Posyandu, Puskesmas) tidak diperlukan persetujuan tindakan
medik (sesuai Permenkes 585/1989 pasal 14).

Hal-hal yang Perlu Diperhatikan pada Bayi/ Anak Sebelum Imunisasi

Orangtua atau pengantar bayi / anak dianjurkan dan memberitahukan hal-hal tersebut di bawah ini
secara lisan tentang hal-hal yang berkaitan dengan indikasi kontra atau risiko kejadian ikutan pasca
imunisasi tersebut di bawah ini,


       pernah mengalami kejadian ikutan pasca imunisasi yang berat pada imunisasi sebelumnya,
       alergi terhadap bahan yang juga terdapat di dalam vaksin,
       sedang mendapat pengobatan steroid, radioterapi atau kemoterapi,
       menderita sakit yang menurunkan imunitas (leukimia, kanker, HIV/AIDS),
       tinggal serumah dengan orang lain yang imunitasnya menurun (leukimia, kanker, HIV /
        AIDS),
       tinggal serumah dengan oang lain dalam pengobatan yang menurunkan imunitas
        (radioterapi, kemoterapi, atau terapi steroid)
       pada bulan lalu mendapat imunisasi yang berisi vaksin virus hidup (vaksin campak,
        poliomielitis, rubela)
       pada 3 bulan yang lalu mendapat imunoglobulin atau transfusi darah

Pemberian Parasetamol Sesudah Imunisasi

Untuk mengurangi ketidaknyamanan pasca vaksinasi, dipertimbangkan untuk pemberian
parasetamol 15 mg/kgbb kepada bayi/anak setelah imunisasi, terutama pasca vaksinasi DPT.
Kemudian dilanjutkan setiap 3-4 jam sesuai kebutuhan, maksimal 4 kali dalam 24 jam. Jika keluhan
masih berlanjut, diminta segera kembali kepada dokter.

Reaksi KIPI

Orangtua atau pengantar perlu diberitahu bahwa setelah imunisasi dapat timbul reaksi lokal di
tempat penyuntikan atau reaksi umum berupa keluhan dan gejala tertentu, tergantung pada jenis
vaksinnya. Reaksi tersebut umumnya ringan, mudah diatasi oleh orangtua atau pengasuh , dan
akan hilang dalam 1 - 2 hari. Di tempat suntikan kadang-kadang timbul kemerahan, pembekakan,
gatal, nyeri selama 1 sampai 2 hari. Kompres hangat dapat mengurangi keadaan tersebut. Kadang-
kadang teraba benjolan kecil yang agak keras selama beberapa minggu atau lebih, tetapi umunya
tidak perlu dilakukan tindakan apapun.

BCG

Orangtua atau pengantar perlu diberitahu bahwa 2-6 minggu setelah imunisasi BCG dapat timbul
bisul kecil (papula) yang semakin membesar dan dapat terjadi ulserasi selama 2-4 bulan, kemudian
menyembuh perlahan dengan menimbulkan jaringan parut. Bila ulkus mengeluarkan cairan
orangtua dapat mengkompres dengan cairan antiseptik. Bila cairan bertambah banyak, koreng
semakin membesar atau timbul pembesaran kelenjar regional (aksila), orangtua harus
membawanya ke dokter.

Hepatitis B

Kejadian ikutan pasca imunisasi pada hepatitis B jarang terjadi, segera setelah imunisasi dapat
timbul demam yang tidak tinggi, pada tempat penyuntikan timbul kemerahan, pembengkakan,
nyeri, rasa mual dan nyeri sendi. Orangtua / pengasuh dianjurkan untuk memberikan minum lebih
banyak (ASI atau air buah), jika demam pakailah pakaian yang tipis, bekas suntikan yang nyeri
dapat dikompres air dingin, jika demam berikan parasetamol 15 mg/kgbb setiap 3 - 4 jam bila
diperlukan, maksimal 6 kali dalam 24 jam bila diperlukan, maksimal 6 kali dalam 24 jam, boleh
mandi atau cukup diseka dengan air hangat. Jika reaksi tersebut menjdai berat dan menetap, atau
jika orangtua merasa khawatir, bawalah bayi / anak ke dokter.

DPT

Reaksi yang dapat terjadi segera setelah vaksinasi DPT antara lain demam tinggi, rewel, di tempat
suntikan timbul kemerahan, nyeri dan pembengkakan, yang akan hilang dalam 2 hari. Orangtua /
pengaruh dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau air buah), jika demam
pakailah pakaian yang tipis, bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin, jika demam
berikan parasetamol 15 kg/kgbb setiap 3 - 4 jam bila diperlukan, maksimal 6 kali dalam 24 jam,
boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat. Jika reaksi-reaksi tersebut berat dan menetap,
atau jika orangtua merasa khawatir, bawalah bayi / anak ke dokter.

DT

Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi DT antara lain kemerahan, pembengkakan dan nyeri pada
bekas suntikan. Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres dengan air dingin . Biasanya tidak perlu
tindakan khusus.

Polio Oral

Sangat jarang terjadi reaksi sesudah imunisasi polio, oleh karena itu orangtua / pengasuh tidak
perlu melakukan tindakan apapun.

Campak dan MMR

Reaksi yang dapat terjadi pasca vaksinasi campak dan MMR berupa rasa tidak nyaman di bekas
penyuntikan vaksin. Selain itu dapat terjadi gejala-gejala lain yang timbul 5 12 hari setelah
penyuntikan, yaitu demam tidak tinggi atau erupsi kulit halus/tipis yang berlangsung kurang dari 48
jam. Pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dapat terjadi sekitar 3 minggu pasca
imunisasi MMR. Orangtua / pengasuh dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau
air buah), jika demam pakailah pakaian yang tipis, bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air
dingin, jika demam diberikan parasetamol 15 mg/kgbb setiap 3 - 4 jam bila diperlukan, maksimal 6
kali dalam 24 jam, boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat. Jika reaksi-reaksi tersebut
berat dan menetap, atau jika orangtua merasa khawatir, bawalah bayi / anak ke dokter.

Daftar Pustaka

    1.    Menteri Kesehatan & Kesejahteraan Sosial RI. Permenkes no. 585/Menkes/ Per / IX/1989
          Persetujuan Tindakan Medik. Jakarta: Depkes & Kesos RI 1990.
    2.    Guwandi J. Tanya jawab persetujuan tindakan medik (informed consert). Edisi kedua.
          Jakarta, FKUI 1994.
    3.    National Health and Medical Research Council. MMR. Dalam: Watson C, penyunting. The
          Australian Immunisation Handbook. Edisi ke-6. Canberra: NHMRC 1997.
    4.    American Academy of Pediatrics. Active immunisation. Dalam: Peter g, Lepow ML,
          McCracken GH, Phillips CF., penyunting. Red Book 1994, Report Committee on Infectious
          Diseases. Edisi ke-23. Illinois: American Academy of Pediatrics 1994.


Imunisasi

Februari 20, 2010



Rate This


sumber :http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=Tips%20-
%20Tips&direktori=tips&filepdf=0&pdf=&html=20060220-0l1g6a-tips.htm
Apa yang seharusnya diketahui oleh setiap keluarga dan masyarakat mengenai imunisasi? Tanpa
imunisasi, kira-kira 3 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit campak, 2 dari 100 kelahiran
anak akan meninggal karena batuk rejan, 1 dari 100 kelahiran anak akan meninggal karena penyakit
tetanus, dan dari setiap 200.000 anak, 1 akan menderita penyakit polio. Imunisasi yang dilakukan dengan
memberikan vaksin tertentu akan melindungi anak terhadap penyakir-penyakit tertentu. Walaupun pada
saat ini fasilitas pelayanan untuk vaksinasi ini telah tersedia di masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah
dibawa untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap. Walaupun pada saat ini fasilitas pelayanan untuk
vaksinasi ini telah tersedia di masyarakat, tetapi tidak semua bayi telah dibawa untuk mendapatkan
imunisasi yang lengkap.
Bilamana fasilitas pelayanan kesehatan tidak dapat memberikan imunisasi dengan pertimbangan tertentu,
orang tua dapat menghubungi seseorang Dokter (Dokter Spesialis Anak) untuk mendapatkannya.
Tujuan Imunisasi:
Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak
yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit.
Manfaat Imunisasi:
* Untuk Anak: mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau
kematian.
* Untuk Keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong
pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang
nyaman.
* Untuk Negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk
melanjutkan pembangunan negara.
Perlukah Imunisasi ulang?
Imunisasi perlu diulang untuk mempertahankan agar kekebalan dapat tetap melindungi terhadap paparan
bibit penyakit.
Dimana mendapatkan imunisasi?
* Di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)-Di Puskesmas, Rumah Sakit Bersalin, BKIA atau Rumah Sakit
Pemerintah.
* Di Praktek Dokter/Bidan atau Rumah Sakit Swasta.
Apakah imunisasi Difteri, Pertusis (Batuk rejan), Tetanus (DPT) dapat diberikan bersama-sama imunisasi
polio?
Imunisasi DPTdan polio dapat diberikan bersamaan waktunya.
Efek samping Imunisasi:
Imunisasi kadang dapat mengakibatkan efek samping. Ini adalah tanda baik yang membuktikan bahwa
vaksin betuk-betul bekerja secara tepat.
Efek samping yang biasa terjadi adalah sebaagai berikut:
BCG: Setelah 2 minggu akan terjadi pembengkakan kecil dan merah ditempat suntikan. Setelah 2�3
minggu kemudian pembengkakan menjadi abses kecil dan kemudian menjadi luka dengan garis tengah
�10 mm. Luka akan sembuh sendiri dengan meninggalkan luka parut yang kecil.
DPT: Kebanyakan bayi menderita panas pada waktu sore hari setelah mendapatkan imunisasi DPT, tetapi
panas akan turun dan hilang dalam waktu 2 hari. Sebagian besar merasa nyeri, sakit, kemerahan atau
bengkak di tempat suntikan. Keadaan ini tidak berbahaya dan tidak perlu mendapatkan pengobatan khusus,
akan sembuh sendiri.Bila gejala diatas tidak timbul tidak perlu diragukan bahwa imunisasi tersebut tidak
memberikan perlindungan dan Imunisasi tidak perlu diulang.
POLIO: Jarang timbuk efek samping.
CAMPAK: Anak mungkin panas, kadang disertai dengan kemerahan 4�10 hari sesudah penyuntikan.
HEPATITIS: Belum pernah dilaporkan adanya efek samping.
TETANUS TOXOID: Efek samping TT untuk ibu hamil tidak ada.
Perlu diingat efek samping imunisasi jauh lebih ringan daripada efek penyakit bila bayi tidak diimunisasi.
Perlukah pemerikasaan darah sebelum pemberian imunisasi Hepatitis?
Untuk bayi berumur lebih dari 1 tahun seyogyanya dilakukan pemerikasaan darah.
Untuk apakah imunisasi ini?
Kelompok yang paling penting untuk mendapatkan imunisasi adalah bayi dan balita karena meraka yang
paling peka terhadap penyakit dan ibu-ibu hamil serta wanita usia subur.
Apakah imunisasi dasar dan berapa kali diberikan?
* Imunisasi dasar adalah imunisasi yang diberikan untuk mendapat kekebalan awal secara aktif
* Kekebalan Imunisasi dasar perlu diulang pada DPT, Polio, Hepatitis agar dapat mdlindungi dari paparan
penyakit.
* Pemberian Imunisasi dasar pada Campak, BCG, tidak perlu diulang karena kekebalan yang diperoleh
dapat melindungi dari paparan bibit penyakit dalam waktu cukup lama.



Imunisasi

adalah usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak engan memasukkan vaksin ke
dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu.

Vaksin
adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat antibodi sehingga dapat
berfungsi untuk meningkatkan imunitas tubuh terhadap penyakit.

Vaksinasi

adalah memberikan vaksin(bakteri/virus hidup/mati)

Vaksin dapat terdiri dari:

   1.   Virus hidup yang telah dilemahkan.
   2.   Sediaan virus atau bakteri yang telah mengalami inaktivasi.
   3.   Ekstrak eksotoksin yang dihasilkan mikroorganisme ata eksotoksin yang telah
        mengalami detoksifikasi. Contoh: vaksin tetanus

Jenis-jenis vaksin:

                 Vaksin bakteri                             Vaksin virus

Vaksin hidup     - BCG                                      - campak

                                                            - parotitis

                                                            - rubella

                                                            - varisella

                                                            - OPV

                                                            - yellow fever
Vaksin inaktif   - difteria                                 - influenza

                 - tetanus                                  - IPV

                 - pertusis                                 - rabies

                 - kkolera                                  - hepatitis B

                 - meningo                                  - hepatitis A

                 - pneumo

                 - Hib

                 - typhim Vi
A. Vaksin BCG ( Baccile Calmette Guerin )

Ditemukan oleh Calmette dan Guerin. Vaksin ini tidak dapat mencegah infeksi M.
Tuberculosa, tetapi dapat mencegah penyebaran penyait lebih lanut.. vaksin hidup yang
dibuat dari Mycobacterium Bovis yang dilemahkan. Vaksin berbentuk bubuk kering
harus dilarutkan dengan NaCl 0,9% 4cc.

Tiap ml mengandung: basil hidup 0,375 mg, Na glutamat 1,875mg, NaCl 9 mg.

Disimpan dalam suhu 2-8 C, tidak boleh beku dan tidak boleh terkena sinar matahari dan
alkohol karena vaksin sangat labil.

Dosis: 0,05ml intracutan di dareah insersio muskulus deltoideus kanan.

Diberikan pada bayi usia < 2 bulan. Diberikan 1 kali.

Reaksi sesudah imunisasi:

* reaksi normal lokal.

2 minggu indurasi, eritema kemudian menjadi fistula

3-4 minggu, pustula pecah menjadi ulkus ( tidak perlu pengobatan )

8-12 minggu, ulkus menjadi scar diameter 3-7 mm

* reaksi regional pada kelenjar

merupakan respon seluler pertahanan tuuh.

Kadang terjadi di kelenjar axila dan servikal

timbul 2-6 bulan sesudah imunisasi.

Kelenjar berkonsistensi padat, tidak nyeri, demam (-).

akan mengecil 1-3 bulan kemudian tanpa pengobatan

Proteksi: mulai 8-12 minggu asca vaksinasi.

- daya lindung hanya 42% ( WHO 50-78%)

- 70% TB berat mempunyai parut BCG

- dewasa: BTA (+) 25-36% walaupun pernah BCG
KIPI

       Abses di tempat suntikan, abses bersifat tenang ( cold abses ) idak perlu terapi,
        oleh karena suntikan sub cutan, abses matang aspirasi.
       Limfadenitif supurativ, oleh karena suntikan sub kutan atau dosis tinggi. Terjadi 2
        bulan setelah imunisasi, terapi tuberkulostatik mempercepat pengecilan.

K`ontrainndikasi

respon imunologik terganggu: imunokompromise

B. Polio

Ada 2 tipe:

   1.   Vaksin Polio Oral ( OPV)

Suatu suspensi yang berasal dari virus hidup yang dilemahkan. Yaitu virus poliomyelitis
tip 1, 2, 3 strain Sabin. Penyimpanan pada suhu -200C, potensi sampai dengan 2tahun.
Pada suhu 2-80C hanya sampai 6 bulan. Vaksin ini sangat stabil, tetapi setelah dibuka
akan segera kehilangn potensinya, oleh karena itu sisa vaksin setelah imunisasi harus
dbuang. Dapat disimpan beku asal warna tidak berubah dan blum kadaluarsa.

Vaksin digunakan rutin sejak bayi lahir, sebagai dosis awal, dosis 2 tetes ( segera
terlindungi dari virus polio liar. Imunisasi dasa/primer umur 2-3 bulan dalam 3 dosis
terpisah, dengan interval 6-8 minggu. Dapat diberikan dengan gula, tidak boleh diberikan
dengan makanan yang mengandung pengawet. SI tida berpengaruh pada respon antibody.
Bila dimuntahkan dalam 10menit, dosis perlu diulang.

KIPI:

       Pusing, diare ringan , nyeri otot.
       VAVP dan VDVP

Kontraindikasi:

       Penyakit akut/demam (suhu >38,50C)  vaksin ditunda.
       Muntah atau iare hebat  vaksin ditunda. Boleh divakin 4 minggu kemudian.
        Beri 1 dosis tambahan.
       Pengoatan kortikosteroid, imunosupresif, radiasi umum.
       Eganasan retikuloendotelal, imunitas erganggu.
       Infeksi HIV
       Ibu hamil 4 bulan pertama.
       Jangan diberikan dengan vaksin oral tifoid.
       Hipersensitif berlebihan terhadap antibiotic.
       Kontak dengan anak imunosupresif.
   1.   Polio Injeksi (IPV)

Dari antigen polio tipe1, 2, 3 yang telah mati. Disimpan pada suhu 2-80C, stabil selama 3
tahun. Tidak boleh dibekukan. Imunitas mukosal IPV lebih rendah dari OPV. Keduanya
dapt diberikan secara bergantian. IPV dapat diberikan pada anak sehat, anak dengan
imunokompromise atau bersamaan dengan vaksin DPT. Tidak ada KIPI VAVP dan
VDVP.

Dosis 0,05 ml, suntikan subkutan dalam/ intramuscular di paha kiri. Polio 1 pada saat
bayi lahir, imunisasi dasar 3 kali dengan interval minimal 4 minggu. Vaksin ulangan 1
tahun setelah polio 4.

        Umur                       OPV                        IPV

        0 bulan                    OPV1, BCG, Hep B           BCG, Hep B

        2 bulan                    OPV2, DPT-Hep B1           IPV1, DPT-HepB1

        3 bulan                    OPV3, DPT-Hep B2           IPV2, DPT-HepB2

        4 bulan                    OPV4, DPT-Hep B3           IPV3, DPT-HepB3

        9 bulan                    campak                     IPV4, campak

C. hepatitis B

Mengandung inactivated hepatitis B virus surface antigen ( HBsAg). Ada 2 macam
imunisasi hepatitis B, yaitu:

   1.   Imunisasi pasif

Hepatitis B immunoglobulin ( HBIg ) dalam waktu singkat memberikan proteksi,
mekipun untuk jangka pendek. Sebaiknya dilanjutkan dengan pemberian imunisasi aktif
agar proteksi lama.

   1.   Imunisasi aktif

Vaksinasi hepatitis B ( VH B ). 3 seri pemberian.

Dosis, injeksi itramuskular di paha kanan. 3 dosis 0,5 ml.

Jadwal:

       Hepatitis B 1, sedini mungkin setelah bayi lahir.
       Hepatitis B 2, 1 bulan dari hepatitis B 1.
        Hepatitis B 3, 6 bulan dari hepatitis B1.

Vaksin hepatitis B1  monovalen / uniject.

Bayi lahir dari ibu dengan HBsAg positif, beri vaksin HBIg 0,5 ml kemudian diberikan
dengan dosis selanjutnya dengan tempat yang berbeda.

D. DPT

Difteri dan tetanus berasal dari toksoid yang dimurnikan. Sedangkan pertusis dari bakteri
mati yang teradsorbsi dalam alumunium fosfat. Tiap 1ml: 40 Lf toksoid difteri, 24 OU
pertusis, 15 Lf toksoid tetanus, Al fosfat 3 mg, thimerosal 0,1 mg. vaksin disimpan dalam
suhu 2-80C. jangan di dalam freezer. Sebelum digunakan, kocok dulu sampai homgen.
Bila ada gumpalan atau endapan jangan digunakan.

Dosis:

Intra muscular, 0,5 ml.

Jadwal:

        Dberikan 3 kali sejak umur 2 bulan dengan interval 4-6 minggu.
        DPT 1 umur 2 bulan.
        DPT 2 umur 3 buLan.
        DPT 3 umur 4 bulan
        DPT ulangan setelah 1tahun ( 18-24 bulan)
        DPT 5 pada saat masuk sekolah ( 5 tahun )
        DT 6 pada umur 6 ahun.

Efek samping/ KIPI:

        lokal: nyeri, bengkak
        Istemik:d emam,muntah, mual, kejang, ensefalopatik ( 7 hari kemudian), paralisis
         ( 30 hari, 1/1 juta resipien).
        Gelisah dan nangis terus menerus pasca penyuntikan.

Kontra indikasi:

        Demam, reaksi berlebihan imunisasi sebelumnya, klainan neurologi, riwayat
         kejang.

DT  kombinasi toksoid difteria dan tetanus. Diberikan ada anak kontraindikasi pertusis.

Kontra indikasi pertusis:

        Riwayat anafilaksis
         Ensefalopati sesudah pemberian pertusis pada imunisasi sebelumnya.
         Riwayat hiperpireksia, hipotonik-hiporesponsif dalam 48 jam, menangis teru
          menerus dalam 3 jam, kejang dalam waktu 3 hari pasca enyuntikan pertusis
          sebelumnya.

E. Campak

Vaksin berasal dari virus hidup yang dilemahkan. Vaksin kering sebaiknya disimpan
pada suhu kurang dari 00C atau kurang dari 80C, lebih baik -200C. Jangan terkena sinar
matahari. Setelah dilarutkan, dalam suhu 2-80C maksimum 8 jam dan tidak membeku.

Dosis :

0,5 ml subkutan di deltoid lengan atas. Tiap 0,5 ml mengandung : 1000U virus strain
CAM 70, 100 mcg kanamisin, 30 mg eritromicin.

Diberikan pada usia 9 bulan. Bila ada outbreak atau wabah 6 bulan di ulang usia 12 bulan
kemudian. Jika umur 15-18 bulan mendapat vaksin MMR imunisasi ulangan tidak perlu.
Imunisasi ulangan dilakukan pada saat masuk SD (5-6 tahun). Lama proteksi 8-16 tahun

KIPI : Demam ringan, kemerahan 3 hari, timbul 8-12 hari setelah imunisasi, mual, diare,
konjungtivitis (7-12 hari), enchepalitis (1/1 juta, 30 hari pasca imunisasi)

Kontra indikasi :

         alergi telur ayam.,eritrimicin, kanamicin
         infeksi akut (demam)
         imunokompromise dan ibu hamil ditunda setelah 3 bulan setelah transfuse

IMUNISASI NON PPI

A. HIB ( Haemophyllus Influenzae Tipe B)

Polisakarida H.Influenza B dikonjugasikan pada toksoid tetanus, trometamol, sukrosa,
NaCl. Vaksin ini mencegah meningitis, bronchopneumonia, epiglotitis. Vaksin disimpan
pada suhu 2-80C dan tidak boleh beku. Jika suspense berkabut keputihan, normal.

Vaksin diberikan dalam seri 3 dosis dengan interval 1 bulan yaitu pada 2, 4, 6 bulan,
diulang 15 bulan. Bila umur 6 bulan – 1 tahun diberikan 2 kali. Umur > 1 tahun 1 kali.

Dosis : 0,5 ml intramuscular pada paha mid anterolateral ( pada anak <2tahun ), atau
subcutan dalam di deltoid pada anak usia >2 tahun. Lokasi penyuntikan berbeda dari
vaksin lain yang diberikan secara bersamaan.

Efek samping : jarang terjadi
Kontra indikasi : hipersensitif, demam, infeksi akut

B. MMR ( Vaksin Measles Mumps Rubella )

Bertujuan untuk membasmi rubella ( dan sindrom rubella congenital ), campak dan
mumps.

Vaksin dari virus campak Schwarz hidup yang dilemahkan dalam embrio ayam. Virus
gondong urabe dibiak dalam telur ayam. Virus rubella wistar dibiak pada sel diploid
manusia.

Tersedia dalam vial, simpan dalam suhu 2-80C.

Dosis pertama diberikan pada anak usia 12-15 bulan, ulangan 12 tahun.

Dosis : 0,5 ml secara subcutan dalam atau intramuscular.

KIPI :

        Demam ringan, eritema, purpura
        Sejak har kelima erupsi kulit bintik merah
        Hipertemia, parotitis, adenopati
        Enchepalopati, tuli, meningitis
        Orktitis, trombositopenia

Kontra indikasi :

        Imunokompromise dan ibu hamil, pasca imunoglobulum
        Alergi telur ayam, neomycin, kanamicin
        Transfuse darah ( tunda 6-18 minggu )

C. Vaksin Demam Thypoid

Ada 2 jenis :

        Inaktif : typim, injeksi dalam bentuk suspensi
        Hidup yang dilemahkan per oral dalam bentuk kapsul enteric coatet

Komposisi vaksin :

        Polisakarida kapsul virus Salmonella typim
        Fenol, NaCl, NaHPO3H

Vaksin di simpan pada suhu 2-80C. vaksin tidak melindungi terhadap Salmonella
parathypi A dan B. Hanya mencegah Salmonella thypi.
Dosis :

         Suntikan umur >2 tahun intramuscular/subcutan 0,5 ml, di ulang 3 tahun
         Oral diatas 6 tahun 3 dosis selang sehari (2 hari sekali) tiap dosis 1 kapsul

KIPI :

         Lokal : nyeri, indurasi, eritema (ringan)
         Sistemik : demam, diare, muntah (ringan dan jarang)

Kontra indikasi : per oral individu dengan imunosupresan , ibu hamil dan di inaktifasi
bila diberikan bersama antibiotic dan sulfonamide.

D. Vaksin hepatitis A

Vaksin ini dibuat dari virus hepatitis A yang dikembangbiakan dalam sel diploid manusia
dan di inaktivasi dalam formaldehyde.

Indikasi:

- staff laboratorium yang bekerja langsung dengan virus

- pasien hemophilia yang diobati dengan konsentrat faktor VIII atau IX,

-wisatawan yang berpergian ke tempat resiko tinggi ( endemis )

- individu yang memiliki resiko tinggi karena prilaku sexualnya.

- panti asuhan

Vaksin hepatitis A disimpan pada suhu 2-8 0 C.

Dosis :

Diberikan pada anak umur > 2 tahun, diberikan 2 x ( 270 unit), interval 4 minggu,
perlindungan > 10 tahun .Dosisi ketiga diberikan 6 bulan kemudian.

Vaksin diberikan IM deltoid 0,5 ml.

KIPI :

         Lokal : erytema dan indurasi,nyeri otot dan tulang.
         Sistemik : lelah, mual, muntah, demam, sakit kepala, lesu ( jarang dan ringan )

Kontrindikasi :
         Demam, infeksi akut
         Hipersensitif terhadap komponen vaksin

E. Vaksin Varicella

Vaksin dari virus hidup yang dilemahkan, straing oka. Mengandung kanamycin sulfat,
erytromicin.

Direkomendasikan pada usia >12 tahun. Bila pada 1 tahun , di ulang umur pada umur 12
tahun.

Dosis :

Subkutan, 0,5 ml.

Kontraindikasi : demam, sakit perut, ibu hamil, individu dengan gangguan respon imun.

KIPI :

         Lokal : merah, bengkak, indurasi
         Sistemik : demam , kemerahan, 1-3 minggu kemudian , anfilaktik, perdarahan.

Perhatian :

         Jangan diberikan bersama vaksin hidup lain.
         Jangan hamil dalam 2 bulan yang akan datang.
         Tidak efektif bila tranfusi gamaglobulin

F. Vaksin Kolera

Vaksin mengandung Vibrio Cholerae Serovar Oi.Sub tipe Inaba dan Ogawa yang
dimatikan dengan pemanasan.

Vaksin kolera dapat memberi sedikit perlindungan infeksi tetapi tidak dapat
mengendalikan penyebaran penyakit. Menurut depkes vaksin ini tidak perlu lagi
diberikan untuk perjalanan internasional.

Dosis :

Dosis pertama biasanya 0,5 ml dengan cara injeksi subcutan dalam /Intramusculer. Dosis
kedua setelah paling sedikit 1 minggu dan lebih baik 4 minggu 1 ml. Dosis penguat setiap
6 bulan bila terjadi pemaparan terus menerus.

Anak usia 1-5 tahun 0,1 ml, dosis kedua 0,3 ml

Anak usia 5-10 tahun 0,3 ml, dosis kedua 0,5 ml
G. Vaksin Influenza

Vaksin nfluenza yang dipasarkan dan dipakai mengandung komponen H dan N dari strain
yang sering timbul. Strain tersebut kemudian dikembangbiakan dalam rongga alantoik
embrio ayam.

Indikasi :

       Orang-orang yang ber4esiko tinggi.
       Imunisasi tahunan sangat dianjurkan untutk semua golongan umur khususnya usia
        lanjut dengan kondisi penyakit respirasi kronik termasuk asma, penyakit jantung
        kronik, gagal ginjal kronik, diabetes militus, imunosupresi.
       Penghuni panti jompo.

Kontra indikasi : hipersensitif terhadap telur ayam.

Contoh vaksin : Vaxigrip (Pasteur-Merieux-Bio Farma) (K)

Dosis : 0,5 ml secara subcutan dalam/intramuscular

Untuk anak usia 6-47 bulan 0,25 ml diulang sekali setelah 4-6 minggu

4-12 tahun 0,5 ml diulang sekali setelah 4-6 minggu

Dosis tunggal cocok untuk anak yang diimunisasi

H. Vaksin Rabies

Imunisasi profilaktik dengan vaksin rabies sel diploid manusia harus diberikan kepada
mereka yang beresiko tinggi.

Indikasi : mereka yang bekerja di kebun binatang, dokter hewan, staf laborat, petugas
pelabuhan tertentu, petugas kesehatan yang mungkin dekat dengan pasien rabies.

Depkes telah menganjurkan penggunaan profilaktifk vaksin yang menghasilkan respon
antibody yang baik dengan pemberian 3 dosis pada hari ke- 0, 7 dan 28 dan dengan dosis
penguat 2-3 tahun untuk mereka yang tetap dalam resiko.

Tidak ada kontra indikasi yang spesifik terhadap vaksin sel diploid ini.

Dosis : profilaktik, 1 ml secara injeksi subcutan dalam / intramuscular. Pasca paparan 1
ml subcutan dalam / intramuscular pada area deltoid. Pada daerah gluteal responnya
kurang baik.

Kehamilan tidak dianggap sebagai kontra indikasi profilaksis pasca paparan. Bila ada
resiko nyata profilaksis pra paparan dapat diindikasikan selama kehamilan.
I. Vaksin Yellow Fever

Suatu suspensi berisi virus hidup yang dilemahan (strain 17D) yang dibiakkan dalam
embrio ayam.

Indikasi : mereka yang bepergian ke daerah endemic, staf laboratorium, bayi dibawah
usia 9 bulan hanya divaksinasi bila resiko Yellow Fever tak terelakan karena ada sedikit
resiko untuk menjadi enchepalitis.

Kontra indikasi : mereka dengan gangguan respon kekebalan, riwayat anafiktatik dengan
telur, ibu hamil.

Dosis : 0,5 ml injeksi subcutan. Kekebalan mungkin untuk seumur hidup tetapi secara
resmi dianggap 10 tahun di mulai dari 10 hari setelah imunisasi primer dan 10 tahun
sesudahnya segera revaksinasi.

IMUNISASI
Tuhan menciptakan setiap makhluk hidup dengan kemampuan untuk mempertahankan diri terhadap
ancaman dari luar dirinya. Salah satu ancaman terhadap manusia adalah penyakit, terutama penyakit
infeksi yang dibawa oleh berbagai macam mikroba seperti virus, bakteri, parasit, jamur. Tubuh mempunyai
cara dan alat untuk mengatasi penyakit sampai batas tertentu. Beberapa jenis penyakit seperti pilek, batuk,
dan cacar air dapat sembuh sendiri tanpa pengobatan. Dalam hal ini dikatakan bahwa sistem pertahanan
tubuh (sistem imun) orang tersebut cukup baik untuk mengatasi dan mengalahkan kuman-kuman penyakit
itu. Tetapi bila kuman penyakit itu ganas, sistem pertahanan tubuh (terutama pada anak-anak atau pada
orang dewasa dengan daya tahan tubuh yang lemah) tidak mampu mencegah kuman itu berkembang biak,
sehingga dapat mengakibatkan penyakit berat yang membawa kepada cacat atau kematian.
Apakah yang dimaksudkan dengan sistem imun? Kata imun berasal dari bahasa Latin „immunitas‟ yang
berarti pembebasan (kekebalan) yang diberikan kepada para senator Romawi selama masa jabatan mereka
terhadap kewajiban sebagai warganegara biasa dan terhadap dakwaan. Dalam sejarah, istilah ini kemudian
berkembang sehingga pengertiannya berubah menjadi perlindungan terhadap penyakit, dan lebih spesifik
lagi, terhadap penyakit menular. Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta
produk zat-zat yang dihasilkannya, yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinir untuk melawan
benda asing seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya, yang masuk ke dalam tubuh.
Kuman disebut antigen. Pada saat pertama kali antigen masuk ke dalam tubuh, maka sebagai reaksinya
tubuh akan membuat zat anti yang disebut dengan antibodi. Pada umumnya, reaksi pertama tubuh untuk
membentuk antibodi tidak terlalu kuat, karena tubuh belum mempunyai “pengalaman.” Tetapi pada reaksi
yang ke-2, ke-3 dan seterusnya, tubuh sudah mempunyai memori untuk mengenali antigen tersebut
sehingga pembentukan antibodi terjadi dalam waktu yang lebih cepat dan dalam jumlah yang lebih banyak.
Itulah sebabnya, pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya, dilakukan tindakan imunisasi
atau vaksinasi. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit
tersebut, atau seandainya terkena pun, tidak akan menimbulkan akibat yang fatal.
Imunisasi ada dua macam, yaitu imunisasi aktif dan pasif. Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau
racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi
antibodi sendiri. Contohnya adalah imunisasi polio atau campak. Sedangkan imunisasi pasif adalah
penyuntikan sejumlah antibodi, sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Contohnya adalah
penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang yang mengalami luka kecelakaan. Contoh lain adalah
yang terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima berbagai jenis antibodi dari ibunya
melalui darah placenta selama masa kandungan, misalnya antibodi terhadap campak.


IMUNISASI


Imunisasi Pada Anak
Imunisasi perlu diberikan kepada bayi untuk memberikan kekebalan terhadap
penyakit tertentu. Ntar deh dibahas dilain waktu masalah jenis penyakitnya. Yang ini
khusus masalah jadwalnya saja ya. . .

Imunisasi dasar (diwajibkan) :

1. Hep B ==> 12 jam setelah lahir (usia 0 bulan), dilanjutkan usia 1, dan 3-6 bulan
(3x)
2. Polio ==> diberikan pada saat bayi akan pulang dari RB setelah persalinan,
diberikan 5 x pada usia 0, 2, 4, 6, 18 bulan
3. BCG ==> Diberikan sejak lahir pada usia 0-2 bulan. Apabila usia bayi > 3 bulan
harus dilakukan tes tuberkulin terlebih dahulu. BCG akan diberikan apabila tes
tuberkulin memberikan hasil (-) ( 1 x ).Lebih baik jika diberikan kurang dari 7 hari
4. DPT ==>Diberikan pada umur > 6 minggu, dapat bersamaan dengan vaksin
kombinasi hepatitis B atau HiB. diberikan 4 x pada usia 2, 4, 6, 18 bulan
5. Campak => 9 bulan ( 1 x )

Untuk Imunisasi Booster / Penguat

1. DTP5 ==>5 tahun
2. Polio 6 ==> 5 tahun
3. Campak ==> 2 6 tahun

Imunisasi Tambahan (dianjurkan) :

1. HiB ==>Diberikan 4 x pada usia 2, 4, 6, 15-18 bulan
2. Pneumokokkus ==> Diberikan 4 x pada usia 2, 4, 6, 12-15 bulan
3. Influenza ==> Diberikan setelah usia 6 bulan dan dianjurkan setahun sekali
4. MMR ==> Diberikan 2 kali pada usia 15 bulan dan 6 tahun
5. Tifoid ==>Diberikan setelah usia 2 tahun dan diulang setiap 3 tahun
6. Hepatitis A ==>Diberikan sebanyak 2x setelah usia 2 tahun dengan interval 6-12
bulan
7. Varisela (cacar air) ==> Diberikan setelah usia 5 tahun

Sumber : http://anak.klikdokter.com

Untuk DPT bisa diberikan bersamaan dengan HIB ato Hepatitis B, memang sih
harganya agak lebih mahal dikit (jika digabungkan) dari pada vaksin yang biasa. At
least kita menurunkan jumlah suntikan pada baby. Biasanya moms akan ditayain
dulu mau yang sendiri2 ato yang paket
Sebaiknya dari vaksin pertama ke vaksin selanjutnya diberi interval waktu Sesuai
dengan petunjuk dokter Karena jika interval waktu lebih cepat dari Jadwal,
kekebalan tubuh bayi terhadap vaksin masih rendah. Sehingga anti bodi yang
terbentuk kurang sempurna.

Apabila ada imunisasi yang terlewat sebaiknya jangan mengabaikannya, it will be
better konsultasi dahulu kepada bidan/dokter untuk mendapatkan solusi terbaik
kapan imnunisasi dapat diberikan.

Jangan lupa untuk melakukan booster. Booster/ulangan diperlukan coz berdasarkan
penelitian setelah satu tahun biasanya kekebalan tubuh menurun, sehingga
diperlukan lagi pemberian vaksin untuk menguatkan lagi anti bodynya.

Make a Comment

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:657
posted:5/27/2011
language:Indonesian
pages:21
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl