DIARE (DOC) by anamaulida

VIEWS: 329 PAGES: 9

									                                    DIARE


• Pengertian

Menurut Haroen N, S. Suraatmaja dan P.O Asdil (1998), diare adalah defekasi
encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau lendir dalam tinja.

Sedangkan menurut C.L Betz & L.A Sowden (1996) diare merupakan suatu
keadaan terjadinya inflamasi mukosa lambung atau usus.

Menurut Suradi & Rita (2001), diare diartikan sebagai suatu keadaan dimana
terjadinya kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena
frekuensi buang air besar satu kali atau lebih dengan bentuk encer atau cair.

Jadi diare dapat diartikan suatu kondisi, buang air besar yang tidak normal yaitu
lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dapat disertai atau
tanpa disertai darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi
pada lambung atau usus.



• Penyebab

Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut
patofisiologi, penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:

• Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:

• Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan apatogen seperti shigella, salmonela, E.
Coli, golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus,
comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan (misalnya
keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan psikis
(ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.

• Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan
terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.

   1. Diare osmotik (osmotik diarrhoea) disebabkan oleh:

• malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.

• Kurang kalori protein.

• Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.
• Patofisiologi

Mekanisme dasar yang menyebabkan diare ialah yang pertama gangguan osmotik,
akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit kedalam rongga usus, isi rongga usus yang berlebihan ini akan
merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

Kedua akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
peningkatan sekali air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya diare
timbul karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

Ketiga gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan mengakibatkan
berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare
sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri timbul
berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare pula.

Selain itu diare juga dapat terjadi, akibat masuknya mikroorganisme hidup ke
dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung, mikroorganisme
tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan toksin dan akibat toksin
tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya akan menimbulkan diare.

Sedangkan akibat dari diare akan terjadi beberapa hal sebagai berikut:

1. Kehilangan air (dehidrasi)

Dehidrasi terjadi karena kehilangan air (output) lebih banyak dari pemasukan
(input), merupakan penyebab terjadinya kematian pada diare. Gangguan
keseimbangan asam basa (metabik asidosis)

Hal ini terjadi karena kehilangan Na-bicarbonat bersama tinja. Metabolisme lemak
tidak sempurna sehingga benda kotor tertimbun dalam tubuh, terjadinya
penimbunan asam laktat karena adanya anorexia jaringan. Produk metabolisme
yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal (terjadi
oliguria/anuria) dan terjadinya pemindahan ion Na dari cairan ekstraseluler
kedalam cairan intraseluler.

2. Hipoglikemia

Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, lebih sering pada anak
yang sebelumnya telah menderita KKP. Hal ini terjadi karena adanya gangguan
penyimpanan/penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan absorbsi
glukosa.Gejala hipoglikemia akan muncul jika kadar glukosa darah menurun
hingga 40 mg% pada bayi dan 50% pada anak-anak. Gangguan gizi
3. Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat, hal ini disebabkan
oleh:

• Makanan sering dihentikan oleh orang tua karena takut diare atau muntah yang
bertambah hebat.

• Walaupun susu diteruskan, sering diberikan dengan pengeluaran dan susu yang
encer ini diberikan terlalu lama.

• Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi dengan baik
karena adanya hiperperistaltik.

4. Gangguan sirkulasi

Sebagai akibat diare dapat terjadi renjatan (shock) hipovolemik, akibatnya perfusi
jaringan berkurang dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat, dapat
mengakibatkan perdarahan otak, kesadaran menurun dan bila tidak segera diatasi
klien akan meninggal.

• Manifestasi Klinis Diare

   1. Mula-mula anak/bayi cengeng gelisah, suhu tubuh mungkin meningkat,
      nafsu makan berkurang.
   2. Sering buang air besar dengan konsistensi tinja cair atau encer, kadang
      disertai wial dan wiata.
   3. Warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur empedu.
   4. Anus dan sekitarnya lecet karena seringnya difekasi dan tinja menjadi lebih
      asam akibat banyaknya asam laktat.
   5. Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelas (elistitas kulit
      menurun), ubun-ubun dan mata cekung membran mukosa kering dan
      disertai penurunan berat badan.
   6. Perubahan tanda-tanda vital, nadi dan respirasi cepat tekan darah turun,
      denyut jantung cepat, pasien sangat lemas, kesadaran menurun (apatis,
      samnolen, sopora komatus) sebagai akibat hipovokanik.
   7. Diuresis berkurang (oliguria sampai anuria).
   8. Bila terjadi asidosis metabolik klien akan tampak pucat dan pernafasan
      cepat dan dalam. (Kusmaul).



• Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan tinja

• Makroskopis dan mikroskopis
• PH dan kadar gula dalam tinja

• Bila perlu diadakan uji bakteri

   1. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan
      menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.
   2. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
   3. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.



• Komplikasi

   1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).
   2. Renjatan hipovolemik.
   3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi,
      perubahan pada elektro kardiagram).
   4. Hipoglikemia.
   5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena
      kerusakan vili mukosa, usus halus.
   6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.
   7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga
      mengalami kelaparan.



• Derajat dehidrasi

Menurut banyaknya cairan yang hilang, derajat dehidrasi dapat dibagi
berdasarkan:

• Kehilangan berat badan

• Tidak ada dehidrasi, bila terjadi penurunan berat badan 2,5%.

• Dehidrasi ringan bila terjadi penurunan berat badan 2,5-5%.

• Dehidrasi berat bila terjadi penurunan berat badan 5-10%



• Pentalaksanaan

   1. Medis

Dasar pengobatan diare adalah:
• Pemberian cairan, jenis cairan, cara memberikan cairan, jumlah pemberiannya.

• Cairan per oral

Pada klien dengan dehidrasi ringan dan sedang diberikan peroral berupa cairan
yang bersifat NaCl dan NaHCO 3 dan glukosa. Untuk diare akut dan kolera pada
anak diatas 6 bulan kadar Natrium 90 mEg/l. Pada anak dibawah umur 6 bulan
dengan dehidrasi ringan-sedang kadar natrium 50-60 mEg/l. Formula lengkap
disebut oralit, sedangkan larutan gula garam dan tajin disebut formula yang tidak
lengkap karena banyak mengandung NaCl dan sukrosa.

• Cairan parentral

Diberikan pada klien yang mengalami dehidrasi berat, dengan rincian sebagai
berikut:

• Untuk anak umur 1 bl-2 tahun berat badan 3-10 kg

• 1 jam pertama : 40 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infus set berukuran 1 ml=15
tts atau 13 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).

• 7 jam berikutnya : 12 ml/kgBB/menit= 3 tts/kgBB/mnt (infusset berukuran 1
ml=15 tts atau 4 tts/kgBB/menit (set infus 1 ml=20 tetes).

• 16 jam berikutnya : 125 ml/kgBB/ oralit

• Untuk anak lebih dari 2-5 tahun dengan berat badan 10-15 kg

• 1 jam pertama : 30 ml/kgBB/jam atau 8 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 10
tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).

• Untuk anak lebih dari 5-10 tahun dengan berat badan 15-25 kg

• 1 jam pertama : 20 ml/kgBB/jam atau 5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 7
tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).

• 7 jam berikut : 10 ml/kgBB/jam atau 2,5 tts/kgBB/mnt (1 ml=15 tts atau 3
tts/kgBB/menit (1 ml=20 tetes).

• 16 jam berikut : 105 ml/kgBB oralit per oral.

• Untuk bayi baru lahir dengan berat badan 2-3 kg

• Kebutuhan cairan: 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan
4:1 (4 bagian glukosa 5% + 1 bagian NaHCO 3 1½ %.
Kecepatan : 4 jam pertama : 25 ml/kgBB/jam atau 6 tts/kgBB/menit (1 ml = 15 tts) 8
tts/kg/BB/mt (1mt=20 tts).

• Untuk bayi berat badan lahir rendah

Kebutuhan cairan: 250 ml/kg/BB/24 jam, jenis cairan 4:1 (4 bagian glukosa 10% +
1 bagian NaHCO 3 1½ %).

• Pengobatan dietetik

Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak diatas 1 tahun dengan berat badan kurang
dari 7 kg, jenis makanan:

• Susu (ASI, susu formula yang mengandung laktosa rendah dan lemak tak jenuh

• Makanan setengah padat (bubur atau makanan padat (nasi tim)

• Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan misalnya susu
yang tidak mengandung laktosa dan asam lemak yang berantai sedang atau tak
jenuh.

• Obat-obatan

Prinsip pengobatan menggantikan cairan yang hilang dengan cairan yang
mengandung elektrolit dan glukosa atau karbohidrat lain.

   1. Keperawatan

Masalah klien diare yang perlu diperhatikan ialah resiko terjadinya gangguan
sirkulasi darah, kebutuhan nutrisi, resiko komplikasi, gangguan rasa aman dan
nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai proses penyakit.

Mengingat diare sebagian besar menular, maka perlu dilakukan penataan
lingkungan sehingga tidak terjadi penularan pada klien lain.

• Data fokus

• Hidrasi

• Turgor kulit

• Membran mukosa

• Asupan dan haluaran

• Abdomen
• Nyeri

• Kekauan

• Bising usus

• Muntah-jumlah, frekuensi dan karakteristik

• Feses-jumlah, frekuensi, dan karakteristik

• Kram

• Tenesmus

• Diagnosa keperawatan

• Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara intake dan out put.

• Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan kontaminasi usus dengan
mikroorganisme.

• Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi yang disebabkan oleh
peningkatan frekuensi BAB.

• Cemas berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, tidak mengenal
lingkungan, prosedur yang dilaksanakan.

• Kecemasan keluarga berhubungan dengan krisis situasi atau kurangnya
pengetahuan.

• Intervensi

• Tingkatkan dan pantau keseimbangan cairan dan elektrolit

• Pantau cairan IV

• Kaji asupan dan keluaran

• Kaji status hidrasi

• Pantau berat badan harian

• Pantau kemampuan anak untuk rehidrasi

• Melalui mulut
• Cegah iritabilitas saluran gastro intestinal lebih lanjut

• Kaji kemampuan anak untuk mengkonsumsi melalui mulut (misalnya: pertama
diberi cairan rehidrasi oral, kemudian meningkat ke makanan biasa yang mudah
dicerna seperti: pisang, nasi, roti atau asi.

• Hindari memberikan susu produk.

• Konsultasikan dengan ahli gizi tentang pemilihan makanan.

• Cegah iritasi dan kerusakan kulit

• Ganti popok dengan sering, kaji kondisi kulit setiap saat.

• Basuh perineum dengan sabun ringan dan air dan paparkan terhadap udara.

• Berikan salep pelumas pada rektum dan perineum (feses yang bersifat asam akan
mengiritasi kulit).

• Ikuti tindakan pencegahan umum atau enterik untuk mencegah penularan infeksi
(merujuk pada kebijakan dan prosedur institusi).

• Penuhi kebutuhan perkembangan anak selama hospitalisasi.

• Sediakan mainan sesuai usia.

• Masukan rutinitas di rumah selama hospitalisasi.

• Dorong pengungkapan perasaan dengan cara-cara yang sesuai usia.

• Berikan dukungan emosional keluarga.

• Dorong untuk mengekspresikan kekhawatirannya.

• Rujuk layanan sosial bila perlu.

• Beri kenyamanan fisik dan psikologis.

• Rencana pemulangan.

• Ajarkan orang tua dan anak tentang higiene personal dan lingkungan.

• Kuatkan informasi tentang diet.

• Beri informasi tentang tanda-tanda dehidrasi pada orang tua.
• Ajarkan orang tua tentang perjanjian pemeriksaan ulang.


http://rusari.com/askep_diare.html

								
To top