Docstoc

makalah ilmu hadist

Document Sample
makalah ilmu hadist Powered By Docstoc
					Makalah


     “FAKTOR-FAKTOR PEMBUKUAN HADIST”
                      D
                       I
                      S
                      U
                      S
                      U
                      N
                    OLEH:
               RIDHA SAHPUTRA
                  510 501 359




ADAB SEJARAH KEBUDAYAAN FAKULTAS ADAB INSTITUT
    AGAMA ISLAM NEGERI AR RANIRY BANDA ACEH
                          KATA PENGANTAR


       Segala puji dan syukur hanya bagi Allah Swt, Rabb semesta alam. Tidak
ada daya dan upaya selain dari Nya. Semoga kita selalu dilimpahkan rahmat dan
karunia Nya dalam mengarungi kehidupan ini.
       Salawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Saw.
Beserta keluarga, sahabat dan orang-orang yang mengikutinya sampai akhir
zaman di manapun mereka berada.
       Alhamdulillah dengan izin dan kehendak dari Nyalah, sehingga makalah
ini dapat saya selesaikan. Makalah ini kami beri judul “Faktor-faktor
pembukuan Hadist”. Dalam makalah dijelaskan tentang definisi dan periodesasi
Pembukuan Hadist serta penjelasan tentang faktor-faktornya. Dengan penjelasan
dalam makalah ini diharapkan kepada para pembaca lebih memahami tentang
Ilmu Hadist dan supaya dapat menjadi nilai tambah dalam mempelajari Islam.
       Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen pembimbing
yang telah memberikan gambaran tentang materi yang harus selesaikan dan juga
semua pihak yang turut membantu menyelesaikan makalah ini.
       Terakhir, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun
untuk lebih menyempurnakan makalah ini, agar makalah ini lebih sempurna pada
masa yang akan datang.




                                                     Banda Aceh, 28 Mei 2006


                                                     Ridha Sahputra
A. PENGERTIAN HADIST
       Sunnah dan hadits adalah satu pengertian. Yang dimaksud dengan
sunnah adalah seluruh apa yang datang dari Rasul saw, baik berupa perkataan,
perbuatan maupun diamnya Rasul. Termasuk kedalam sunnah hadits-hadits
mauquf yang datang dari para sahabat. Mereka hidup bersama-sama Rasulullah
saw, mereka mendengar dan menyaksikan sendiri gerak gerik beliau, kemudian
mereka berbicara berdasarkan apa yang telah mereka lihat ataupun apa yang telah
mereka dengar. Hadits dianggap sebagai nash syara‟ karena Allah Swt berfirman:
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang
dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. (TQS. al-Hasyr [59]: 7)
    
         
                                                                        


Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya). (TQS. an-Najm[53]:3-4)


Banyak ayat-ayat yang datang secara umum lalu dirinci oleh hadits. Seperti
perkara shalat yang ayatnya datang secara umum, maka perbuatan Nabi
merupakan perbuatan yang dapat menjelaskan tentang waktu-waktu maupun tata
caranya. Begitu pula halnya dengan banyak hukum lain yang datang di dalam al-
Quran dalam bentuk global, kemudian Rasul saw datang menafsirkannya. Allah
Swt berfirman:


Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (TQS. an-Nahl [16]: 44)


Para sahabat ra telah mendengar seluruh perkataan Rasulullah saw dan telah
melihat seluruh perbuatan dan keadaan beliau. Apabila mereka sulit memahami
ayat atau mereka berselisih dalam penaf-sirannya atau berbeda pendapat tentang
suatu hukum maka mereka kembali kepada hadits-hadits Nabi untuk mencari
penjelasannya. Oleh karena itu maka sandaran kaum Muslim yang pertama sekali
adalah berdasarkan kekuatan hafalan di dalam hati tanpa melihat pada apa yang
telah mereka tulis, demi menjaga ilmu ini (hadits), seperti halnya penjagaan
mereka terhadap kitabullah. Ketika Islam telah tersebar dan wilayah-wilayah
Islam semakin luas serta para sahabat berpencar di berbagai negeri sementara
kebanyakan mereka telah wafat, disamping sedikitnya orang yang kuat
hafalannya, maka amat mendesak kebutuhan untuk melakukan pembukuan hadits-
hadits yang diperkuat dengan tulisan.
Pembukuan hadits-hadits kembali kepada masa para sahabat. Diantara mereka
ada sejumlah orang yang menulis dan mengungkap hadits-hadits yang pernah
ditulis. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, „Tidak ada seorangpun
diantara para sahabat Nabi saw yang lebih banyak haditsnya dari pada aku,
kecuali apa yang ada pada Abdullah bin Umar. Sesungguhnya dia telah menulis,
sedangkan aku tidak menulis.‟
Akan tetapi sahabat yang menuliskan hadits sangat jarang sekali dan jumlahnya
sangat sedikit. Kebanyakan para sahabat menghafalkan hadits-hadits di dalam
dada mereka karena mereka dilarang menuliskan hadits pada masa awal-awal
Islam. Imam Muslim telah mengeluarkan dalam kitab hadits shahihnya, dari Abu
Said al-Khudri bahwa ia berkata, Rasulullah saw bersabda:
Jangan kalian tulis dariku. Barangsiapa menulis sesuatu dariku selain al-Quran
maka hendaklah ia menghapusnya. Dan bicarakanlah oleh kalian tentang aku,
maka hal yang demikian tidak apa-apa.
Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah
mempersiapkan tempat duduknya di neraka.


Oleh karena itu para sahabat menghindarkan diri menulis hadits. Mereka cukup
dengan menghafal dan memahaminya. Para sahabat sangat memperhatikan sekali
pengetahuannya tentang hadits. Telah terbukti bahwa kebanyakan dari sahabat
menerima sebagian besar periwayatan (ikhbar). Telah diriwayatkan oleh Ibnu
Syihab dari Qubaishah bahwa seorang nenek telah datang menghadap Abu Bakar
ra, dia berharap mendapatkan harta warisan, maka Abu Bakar berkata: „Aku tidak
mene-mukan sesuatu untukmu (permasalahanmu) dalam kitabullah, dan aku tidak
mengetahui bahwa Rasulullah saw pernah menyebutkan sesuatu untukmu‟.
Kemudian Abu Bakar bertanya kepada yang lain sehingga al-Mughirah berdiri
lalu berkata: „Adalah Rasulullah saw memberikannya seperenam‟. Lalu Abu
Bakar berkata: „Adakah seseorang bersamamu? Ternyata (hal itu) telah disaksikan
oleh Muhammad bin Maslamah. Kemudian Abu Bakar memutuskan untuknya
bagian (waris) seperenam.
Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan ra muncul fitnah. Kaum Muslim berselisih
hingga mereka terpecah menjadi beberapa kelompok. Seluruh kelompok yang ada
mengarahkan pandangannya untuk melakukan istinbat terhadap dalil–dalil dan
mengeluarkan hadits-hadits untuk mendukung propaganda mereka. Sebagian dari
mereka jika kesulitan memperoleh hadits yang mendukung propaganda mereka
melalui perkataan atau hujjah, maka mereka membuat hadits -dari kalangan
mereka sendiri-, sehingga pada saat kekacauan terjadi banyak sekali hadits-hadits.
Ketika fitnah mereda kaum Muslim melakukan tahqiq (pemeriksaan fakta) dan
banyak ditemukan hadits-hadits maudhu‟at (palsu). Mereka lalu bekerja keras
untuk memisahkan antara hadits-hadits palsu dengan hadits-hadits shahih.


Para imam (ahli) hadits tatkala merancang pembukuan hadits, membukukannya
berdasarkan bentuk yang telah mereka dapatkan. Biasanya mereka tidak
menggugurkan hadits yang sampai kepada mereka kecuali hadits yang sudah
diketahui kepalsuannya. Mereka mengumpulkannya dengan sanad-sanad yang
telah mereka temui. Mereka membahas dan menyeleksi tentang keadaan para
perawinya dengan seleksi yang amat ketat, hingga mereka mengetahui siapa yang
bisa diterima periwayatannya dan siapa yang ditolak periwayatannya, serta mana
saja orang yang masih dalam tahap seleksi. Setelah itu mereka membahas tentang
matan (isi hadits) dan periwayatannya. Apa yang diriwayatkan oleh orang yang
bersifat adil dan dlabit (kuat hafalannya) diambil. Kadang-kadang terdapat
padanya kelalaian dan kekeliruan.


Hadits adalah topik yang amat luas, mencakup seluruh pengetahuan Islam. Di
dalamnya mencakup tafsir, tasyri‟ dan sirah. Kadangkala perawi hadits
meriwayatkan sebuah hadits yang didalamnya terdapat tafsir terhadap suatu ayat
didalam al-Quran. Kadang meriwayatkan hadits yang didalamnya terdapat hukum
pada suatu peristiwa. Kadang juga suatu hadits menceritakan suatu peperangan.
Begitulah seterusnya. Ketika kaum Muslim mulai mengumpulkan hadits,
terjadilah kodifikasi hadits. Hadits-hadits pun disusun di berbagai kota.
Pengumpulan hadits dipisahkan antara hadits Rasul dengan perkara-perkara
lainnya. Dengan demikian terpisahlah hadits dari fiqih sebagaimana hadits juga
terpisah dari tafsir. Itu terjadi pada awal tahun dua ratusan setelah aktivitas
(gerakan) pengumpulan hadits. Sejak itu dapat dibedakan antara hadits yang
shahih dengan hadits yang dha‟if. Disamping itu juga dijelaskan para perawinya
dan menetapkan apakah mereka dapat diterima (periwayatannya) atau ditolak.


Sejarah Pembinaan dan Penghimpunan Hadist
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bi Abdul Azis yakni tahun 99 Hijriyah
datanglah angin segar yang mendukung kelestarian hadits, Maka pada tahun 100
H Khalifah Umar bin Abdul Azis memerintahkan kepada gubernur Madinah, Abu
Bakar bin Muhammad bin Amer bin Hazm supaya membukukan hadits-hadits
Nabi yang terdapat pada para penghafal.
A. PENULISAN HADIST
Para penulis sejarah Rasul, ulama hadis, dan umat Islam semuanya sependapat
menetapkan bahwa AI-Quranul Karim memperoleh perhatian yang penuh dari
Rasul dan para sahabatnya. Rasul mengharapkan para sahabatnya untuk
menghapalkan AI-Quran dan menuliskannya di tempat-tempat tertentu, seperti
keping-keping tulang, pelepah kurma, di batu-batu, dan sebagainya.
Ketika Rasulullah SAW. wafat, Al-Quran telah dihapalkan dengan sempurna oleh
para sahabat. Selain itu, ayat-ayat suci AI-Quran seluruhnya telah lengkap ditulis,
hanya saja belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Adapun hadis atau
sunnah dalam penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti
halnya Al-Quran. Penulisan hadis dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak
resmi, karena tidak diperintahkan oleh Rasul sebagaimana ia memerintahkan
mereka untuk menulis AI-Quran. Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat memiliki
catatan hadis-hadis Rasulullah SAW. Mereka mencatat sebagian hadis-hadis yang
pernah mereka dengar dari Rasulullah SA W.


Diantara sahabat-sahabat Rasulullah yang mempunyai catatan-catatan hadis
Rasulullah adalah Abdullah bin Amr bin AS yang menulis, sahifah-sahifah yang
dinamai As-Sadiqah. Sebagian sahabat menyatakan keberatannya terhadap
pekerjaan yang dilakukan oleh Abdullah itu Mereka beralasan bahwa Rasulullah
telah bersabda.
Artinya:
"Janganlah kamu tulis apa-apa yang kamu dengar dari aku selain Al- Quran. Dan
barang siapa yang lelah menulis sesuatu dariku selain Al- Quran, hendaklah
dihapuskan. " (HR. Muslim)
Dan mereka berkata kepadanya, "Kamu selalu menulis apa yang kamu dengar dari
Nabi, padahal beliau kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu beliau
menuturkan sesuatu yang tidak dijadikan syariat umum." Mendengar ucapan
mereka itu, Abdullah bertanya kepada Rasulullah SAW. mengenai hal tersebut.
Rasulullah kemudian bersabda:
Artinya:
"Tulislah apa yang kamu dengar dariku, demi Tuhan yang jiwaku di tangannya.
tidak keluar dari mulutku. selain kebenaran ".
Menurut suatu riwayat, diterangkan bahwa Ali mempunyai sebuah sahifah dan
Anas bin Malik mempunyai sebuah buku catatan. Abu Hurairah menyatakan:
"Tidak ada dari seorang sahabat Nabi yang lebih banyak (lebih mengetahui) hadis
Rasulullah daripadaku, selain Abdullah bin Amr bin As. Dia menuliskan apa yang
dia dengar, sedangkan aku tidak menulisnya". Sebagian besar ulama berpendapat
bahwa larangan menulis hadis dinasakh (dimansukh) dengan hadis yang memberi
izin yang datang kemudian.
Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Rasulullah tidak menghalangi usaha
para sahabat menulis hadis secara tidak resmi. Mereka memahami hadis
Rasulullah SAW. di atas bahwa larangan Nabi menulis hadis adalah ditujukan
kepada mereka yang dikhawatirkan akan mencampuradukan hadis dengan AI-
Quran Sedangkan izin hanya diberikan kepada mereka yang tidak dikhawatirkan
mencampuradukan hadis dengan Al-Quran. Oleh karena itu, setelah Al-Quran
ditulis dengan sempurna dan telah lengkap pula turunannya, maka tidak ada
Jarangan untuk menulis hadis. Tegasnya antara dua hadis Rasulullah di atas tidak
ada pertentangan manakala kita memahami bahwa larangan itu hanya berlaku
untuk orang-orang tertentu yang dikhawatirkan mencampurkan AI-Quran dengan
hadis, dan mereka yang mempunyai ingatan/kuat hapalannya. Dan izin menulis
hadis diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunah untuk diri sendiri, dan
mereka yang tidak kuat ingatan/hapalannya


B. PENGHAPALAN HADIST
Para sahabat dalam menerima hadis dari Nabi SAW. berpegang pada kekuatan
hapalannya, yakni menerimanya dengan jalan hapalan, bukan dengan jalan
menulis hadis dalam buku. Sebab itu kebanyakan sahabat menerima hadis melalui
mendengar dengan hati-hati apa yang disabdakan Nabi. Kemudian terekamlah
lafal dan makna itu dalam sanubari mereka. Mereka dapat melihat langsung apa
yang Nabi kerjakan. atau mendengar pula dari orang yang mendengarnya sendiri
dari nabi, karena tidak semua dari mereka pada setiap waktu dapat mengikuti atau
menghadiri majelis Nabi. Kemudian para sahabat menghapal setiap apa yang
diperoleh dari sabda-sabdanya dan berupaya mengingat apa yang pernah Nabi
lakukan, untuk selanjutnya disampaikan kepada orang lain secara hapalan pula.


Hanya beberapa orang sahabat saja yang mencatat hadis yang didengarnya dari
Nabi SAW. Di antara sahabat yang paling banyak menghapal/meriwayatkan hadis
ialah Abu Hurairah. Menurut keterangan Ibnu Jauzi bahwa hadis yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah sejumlah 5.374 buah hadis. Kemudian para
sahabat yang paling banyak hapalannya sesudah Abu Hurairah ialah:
Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan 2.630 buah hadis.
Anas bin Malik meriwayatkan 2.276 buah hadis.
Aisyah meriwayatkan 2.210 buah hadis.
Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan 1.660 buah hadis.
Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 buah hadis.
Abu Said AI-Khudri meriwayatkan 1.170 buah hadis.


C. PENGHIMPUNAN HADIST
Pada abad pertama hijrah, yakni masa Rasulullah SAW., masa khulafaur Rasyidin
dan sebagian besar masa bani umayyah, hingga akhir abad pertama hijrah, hadis-
hadis itu berpindah-pindah dan disampaikan dari mulut ke mulut Masing-masing
perawi pada waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hapalannya.
Memang hapalan mereka terkenal kuat sehingga mampu mengeluarkan kembali
hadis-hadis yang pernah direkam dalam ingatannya. Ide penghimpunan hadis
Nabi secara tertulis untuk pertama kalinya dikemukakan oleh khalifah Umar bin
Khattab (w. 23/H/644 M). Namun ide tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar
karena beliau khawatir bila umat Islam terganggu perhatiannya dalam
mempelajari Al-Quran.


Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dinobatkan akhir
abad pertama hijrah, yakni tahun 99 hijrah datanglah angin segar yang
mendukung kelestarian hadis. Umar bin Abdul Azis seorang khalifah dari Bani
Umayyah terkenal adil dan wara', sehingga beliau dipandang sebagai khalifah
Rasyidin yang kelima.


Beliau sangat waspada dan sadar, bahwa para perawi yang mengumpulkan hadis
dalam ingatannya semakin sedikit jumlahnya, karena meninggal dunia. Beliau
khawatir apabila tidak segera dikumpulkan dan dibukukan dalam buku-buku hadis
dari para perawinya, mungkin hadis-hadis itu akan lenyap bersama lenyapnya para
penghapalnya. Maka tergeraklah dalam hatinya untuk mengumpulkan hadis-hadis
Nabi dari para penghapal yang masih hidup. Pada tahun 100 H. Khalifah Umar
bin Abdul Azis memerintahkah kepada gubernur Madinah, Abu Bakar bin
Muhammad bin Amer bin Hazm supaya membukukan hadis-hadis Nabi yang
terdapat pada para penghafal.


Umar bin Abdul Azis menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm yang berbunyi:
"Perhatikanlah apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasul lalu tulislah. karena aku
takut akan lenyap ilmu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan diterima
selain hadis Rasul SAW dan hendaklah disebarluaskan ilmu dan diadakan majelis-
majelis ilmu supaya orang yang tidak mengetahuinya dapat mengetahuinya, maka
sesungguhnya ilmu itu dirahasiakan. "
Selain kepada Gubernur Madinah, khalifah juga menulis surat kepada Gubernur
lain agar mengusahakan pembukuan hadis. Khalifah juga secara khusus menulis
surat kepada Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-
Zuhri. Kemudian Syihab Az-Zuhri mulai melaksanakan perinea khalifah tersebut.
Dan Az-Zuhri itulah yang merupakan salah satu ulama yang pertama kali
membukukan hadis.
Dari Syihab Az-Zuhri ini (15-124 H) kemudian dikembangkan oleh ulama-ulama
berikutnya, yang di samping pembukuan hadis sekaligus dilakukan usaha
menyeleksi hadis-hadis yang maqbul dan mardud dengan menggunakan metode
sanad dan isnad.


Metode sanad dan isnad ialah metode yang digunakan untuk menguji sumber-
sumber pembawa berita hadis (perawi) dengan mengetahui keadaan para perawi,
riwayat hidupnya, kapan dan di mana ia hidup, kawan semasa, bagaimana daya
tangkap dan ingatannya dan sebagainya. Ilmu tersebut dibahas dalam ilmu yang
dinamakan ilmu hadis Dirayah, yang kemudian terkenal dengan ilmu Mustalahul
hadis.


Setelah generasi Az-Zuhri, kemudian pembukuan hadis dilanjutkan oleh Ibn Juraij
(w. 150 H), Ar-Rabi' bin Shabih (w. 160 H) dan masih banyak lagi ulama-ulama
lainnya. Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa pembukuan hadis dimulai
sejak akhir masa pemerintahan Bani Umayyah, tetapi belum begitu sempuma.
Pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, yaitu pada pertengahan abad II H.
dilakukan upaya penyempunaan. Mulai. waktu itu kelihatan gerakan secara aktif
untuk membukukan ilmu pengetahuan, termasuk pembukuan dan penulisan hadis-
hadis Rasul SAW. Kitab-kitab yang terkenal pada waktu itu yang ada hingga
sekarang sampai kepada kita, antara lain AI-Muwatha ' oleh imam Malik, AI
Musnad oleh Imam Asy-Syafi'l (204) H. Pembukuan hadis itu kemudian
dilanjutkan secara lebih teliti oleh Imam-lmam ahli hadis, seperti Bukhari,
Muslim, Turmuzi, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, dan lain-lain


Dari mereka itu, kita kenal Kutubus Sittah (kitab-kitab) enam yaitu: Sahih AI-
Bukhari Sahih Muslim, Sunan An-Nasai dan At-Turmuzi. Tidak sedikit pada
"masa berikutnya dari para ulama yang menaruh perhatian besar kepada Kutubus
sittah tersebut beserta kitab Muwatta dengan cara mensyarahinya dan memberi
catatan kaki, meringkas atau meneliti sanad dan matan-matannya.


D. TIMBULNYA PEMALSUAN HADIST DAN UPAYA
PENYELAMATANNYA
Sejak terbunuhnya khalifah Usman bin Affan dan tampilnya Ali bin Abu Thalib
serta Muawiyah yang masing-masing ingin memegang jabatan khalifah, maka
umat Islam terpecah menjadi tiga golongan, yaitu syiah. khawarij, dan jumhur.
Masing-masing kelompok mengaku berada dalam pihak yang benar dan menuduh
pihak lainnya salah. Untuk membela pendirian masing-masing, maka mereka
membuat hadis-hadis palsu. Mulai saat itulah timbulnya riwayat-riwayat hadis
palsu. Orang-orang yang mula-mula membuat hadis palsu adalah dari golongan
Syiah kemudian golongan khawarij dan jumhur, Tempat mula berkembangnya
hadis palsu adalah daerah Irak tempat kamu syiah berpusat pada waktu itu.


Pada abad kedua, pemalsuan hadis bertambah luas dengan munculnya
propaganda-propaganda politik untuk menumbangkan rezim Bani Umayyah.
Sebagai imbangan, muncul pula dari pihak Muawiyyah ahli-ahli pemalsu hadis
untuk membendung arus propaganda yang dilakukan oleh golongan oposisi.
Selain itu, muncul juga golongan Zindiq, tukang kisah yang berupaya untuk
menarik minat masyarakat agar mendengarkannya dengan membuat kisah-kisah
palsu.


Menurut Imam Malik ada empat jenis orang yang hadisnya tidak boleh diambil
darinya:
Orang yang kurang akal.
Orang yang mengikuti hawa nafsunya yang mengajak masyarakat untuk
mengikuti hawa nafsunya.
Orang yang berdusta dalam pembicaraannya walaupun dia tidak berdusta kepada
Rasul.
Orang yang tampaknya saleh dan beribadah apabila orang itu tidak mengetahui
nilai-nilai hadis yang diriwayatkannya.
Untuk itu, kemudian sebagian ulama mempelajari dan meneliti keadaan perawi-
perawi hadis yang dalam masa itu banyak terdapat perawi-perawi hadis yang
lemah Diantara perawi-perawi tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengetahui mana
yang benar-benar dapat diterima periwayatannya dan mana yang tidak dapat
diterima.


Selain itu juga diusahakan pemberantasan terhadap hadis-hadis palsu oleh para
ulama, yaitu dengan cara menunjukan nama-nama dari oknum-oknum/ golongan-
golongan yang memalsukan hais berikut hadis-hadis yang dibuatnya supaya umat
islam tidak terpengaruh dan tersesat oleh perbuatan mereka. Untuk itu, para ulama
menyusun kitab-kitab yang secara khusus menerangkan hadis-hadis palsu
tersebut, yaitu antara lain :
Kitab oleh Muhammad bin Thahir Ak-Maqdizi(w. tahun 507 H)
Kitab oleh Al-Hasan bin Ibrahim Al-Hamdani
Kitab oleh Ibnul Jauzi (w. tahun 597 H)
Di samping itu para ulama hadis membuat kaidah-kaidah atau patokan-patokan
serta menetapkan ciri-ciri kongkret yang dapat menunjukkan bahwa suatu hadis
itu palsu. Ciri-ciri yang menunjukkan bahwa hadis itu palsu antara lain:


Susunan hadis itu baik lafaz maupun maknanya janggal, sehingga tidak pantas
rasanya disabdakan oleh Nabi SAW., seperti hadis:
Artinya:
"Janganlah engkau memaki ayam jantan, karena dia teman karibku. "
Isi maksud hadis tersebut bertentangan dengan akal, seperti hadis:
"Buah terong itu menyembuhkan. Segala macam penyakit. "
Isi/maksud itu bertentangan dengan nas Al-Quran dan atau hadis mutawatir,
seperti hadis:
"Anak zina itu tidak akan masuk surga. "
Hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah SWT. :
"Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. " (QS. Fatir: 18 )


Pada saat itu hadits tertolak karena bertentangan dengan al-Quran yang bersifat
qath‟i tsubut dan qath‟i dilalah. Hadits, apabila tidak bertentangan dengan al-
Quran dan (hadits) mencakup perkara yang tidak terdapat di dalam al-Quran atau
terdapat tambahan dari apa yang ada di dalam al-Quran, maka (harus) diterima
keduanya, baik al-Quran maupun hadits. Jadi, kita tidak bisa mengatakan, cukup
berpegang dengan al-Quran saja dan dengan apa yang ada pada al-Quran. Sebab,
Allah Swt memerintahkan untuk berpegang kepada keduanya (al-Quran dan
hadits) sekaligus. Meyakini keduanya hukumnya wajib.
E.ULAMA-ULAMA ILMU HADIST


Imam Bukhârî
Nama lengkap beliau ialah Abu Abdullâh Muhamad bin Isma'îl bin
Ibrâhîm bin Mughîrah bin Bardizbah al-Ju'fi al-Bukhârî. Beliau dilahirkan
pada hari jum'at, 13 syawal 194 H./1810 M. di Bukhârâ. Ayahnya Isma'îl
bin Ibrâhîm al-Ju'fî tanpaknya cendrung kepada hadits nabawi. Ketika
pergi haji pada tahun 179 H. beliau menyempatkan diri menemui tokoh-
tokoh ahli hadits seperti Imam Malik bin Anas, Abdullâh bin Mubârak,
Abu Muawiyyah bin Shâleh dan yang lainnya.


Ternyata semangat dan kecendrungan ini diwariskan kepada putranya
Muhamad. Ketika Muhamad masih kecil, ayahnya Isma'îl meninggal
dunia, dan meninggalkan perpustakaan pribadi yang diperuntukkan khusus
buat putranya tercinta Isma'îl. Dalam keadaan yatim ia diasuh oleh ibunya
dengan penuh kasih sayang, dibimbingnya untuk selalu mencintai buku-
buku peninggalan ayahnya. Bersama teman-teman sebayanya Muhamad
mulai belajar membaca, menulis, belajar al-Qur'an dan hadits.


Ketabahan ibu yang shalehah ini akhirnya mulai membuahkan hasil,
ketika pada umur 10 tahun Muhamad muncul sebagai anak yang berilian
otaknya mengalahkan anak-anak sebayanya, dan pada umur 10 tahun
itulah Muhamad mulai mempelajari dan menghapal hadits. Ketika
berumur 11 tahun perpustakaan ayahnya sudah tidak memenuhi syarat lagi
baginya. Cita-cita untuk mendalami hadits semakin menggebu-gebu.
Akhirnya Muhamad kecil menemui tokoh-tokoh ahli hadits di tanah airnya
untuk mempelajari hadits.


Melihat kehebatan Muhamad ini, para gurunya juga tidak urung
menemuinya. Betapa tidak, pada waktu berumur 16 tahun Muhamad
sudah hapal kitab-kitab hadits yang ditulis oleh abdullâh bin Mubârak dan
Waki', dua tokoh ahli hadits yang terkemuka pada masa itu.


Cita-cita Muhamad tidak berhenti sampai disitu, dengan bimbingan
ibundanya pada tahun 216 H., Muhamad di ajak pergi ke Makkah disertai
kakaknya Ahmad. Sesudah menunaikan ibadah haji, ibunya bersama
Ahmad pulang kembali ke Bukhârâ, sedang Muhamad mendalami hadits
dari tokoh-tokoh ahli hadits, seperti, al-Walid al-Azraqî dan Isma'îl bin
Salim al-Saigh, kemudian pergi ke Madinah untuk mempelajari hadits dari
anak cucu sahabat Nabi Saw. satu tahun Muhamad tinggal di Madinah, ia
juga sempat menulis dua buah buku di sana, yaitu: "Qadhâyâ ash-
Shahâbah wa at-Tabi'în" dan "Tarîkh al-Kabîr".


Muhamad ternyata bukanlah santri yang pasif, yang hanya mampu
menerima dan menghapal pelajaran saja. Muhamad adalah santri yan
produktif, sembari belajar, ia menulis buku. Maka tersebutlah karya
tulisnya di samping dua kitab tersebut di atas, sebagai berikut: al-Tarîkh
al-Shagîr, al-Tarîkh al-Awsath, al-Dhuafâ, al-Kunâ, al-Adab al-Mufrâd,
al-Jâmi' al-Shahîh (shahih bukhari), Raf'ul Yadain fî al-Shalâh, al-
Wuhdan, Khair Kalâm fî al-Qira'ah khalf al-Imâm, al-Asyrifah, Asami al-
Shahâbah, Bir al-Wâlidain, Khalq Af'al al-'Ibâd, al-Ujlah fî al-Hadîts, al-
Musnad al-Kabîr, al-Mabsut, al-Inbah.


Maka setelah berumur 62 tahun, anak yatim yang kemudian termasyhur
sebagai ahli hadits nomor satu. Dan setelah kembali menentap di Bukhârâ,
pergi ke desa Khartank di kawasan Samarqand untuk menjenguk
familinya yang bernama Ghalib bin Jibril. Beberapa hari muhamad tinggal
di sana sampai akhirnya sakit dan wafat pada hari sabtu, malam 'idul fitri 1
syawal 256 H./870 M.


Motivasi Penulisan Shahih al Bukhari
Meski sudah termasuk luar biasa dalam bidang hadits dan ilmu hadits,
tampaknya Imam Bukhârî tidak begitu saja membukukan hadits-hadits
nabawi. Ada beberapa faktor yang mendorong untuk menulis kitab itu,
yang menunjuknya bahwa penulisnya tidak mau berangkat dari
kemauannya sendiri. Karenanya wajar apabila keikhlasan beliau
menjadikan kitabnya sebagai rujukan yang paling otientik sesudah al-
Qur'an. Sementara faktor-faktor itu ialah:
Pertama, pada masa akhir Tabi'în, dimana para Ulama sudah menyebar ke
berbagai penjuru negeri Islam, hadits-hadits Nabi mulai dibukukan.
Tersebutlah orang-orang yang membukukan, antara lain: al-Râbi' bin
Shâlih (w. 160 H), Sa'id bin Abu 'Arabah (W. 156 H) dan yang lainnya.


Metode penulisan mereka terbatas pada bab-bab yang menyangkut
masalah-masalah tertentu saja. Kemudian datanglah Ulama priode
berikutnya, dimana mereka menulis lebeih lengkap dari pada cara
penulisan sebelumnya. Mereka menulis hadits-hadits yang menyangkut
masalah-masalah hukumnya secara luas. Tersebutlah nama-nama seperti
Imam Malik bin Anas dengan kitabnya al-Muwaththa di Madinah, Ibn
Juraij di Makkah, al-Auzai' di Bashrah. Hanya saja tulisan-tulisan mereka
masih bercampur dengan fatwa-fatwa sahabat, tabi'în dan atbau-t'tabi'în.


Pada awal abad ke II, para ulama bermaksud menulis hadits secara
tersendiri tanpa dicampuri fatwa sahabat dan tabi'în. Maka tersebutlah
penulis-penulis seperti Ubaidillah al-Kuffi, Musaddad al-Bashri, Asad al-
Umawi dan Nua'im al-Khunzai. Metode penulisan mereka berbentuk
musnad, dimana disebutkan dahulu nama sahabat kemudian hadits-hadits
yang diriwayatkannya. Metode ini diikuti oleh tokoh-tokoh sesudahnya,
seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Utsman bin Abu
Syaibah dan yang lainnya. Adapula yang menggabungkan antara metode
bab-bab dan metode musnad seperti yang dilakukan Abu bakar bin asy-
Syaibah. Namun hadits-hadits yang mereka tulis masih campur aduk
antara hadits-hadits yang shahîh, hasan dan dha'îf. Dari sinilah kemudian
Imam Bukhârî punya inisiatif untuk menghimpun hadits-hadits yang
shahih saja, sehingga tidak membingungkan orang. Ternyata Ishaq bin
Rawaihah seorang guru Imam Bukhârî mendorong maksud ini,
sebagaimana dituturkan oleh Bukhârî: "ketika saya berada di kediaman
Ishaq bin Rawaihah, ia menyarankan agar saya menulis kitab yang
singkat, yang hanya memuat hadits-hadits shahih saja. Saran beliau itu
sangat mendorong saya hingga kemudian saya menulis al-Jâmi' ash-
Shahîh".
Kedua, Dorongan moral yang seperti beliau tuturkan sendiri sebagai
berikut : "saya bermimpi bertemu Nabi Muhamad Saw. Saya berdiri
dihadapan Nabi seraya menyapa saya. Setelah itu, saya menemui ahli-ahli
ta'bir mimpi untuk menanyakan arti mimpi itu. Jawabnya "anda akan
membersihkan pembohong-pembohong yang dilontarkan kepada
Rasulullah Saw" itulah yang mendorong saya untuk menulis al-Jâmi' al-
Shahîh".
       Dengan demikian Imam Bukhari sangat termotivasi untuk
membukukan hadist karena pada masa itu telah banyak orang yang
meriwayatkan hadist palsu dan dilakukan secara sewenang-wenang.
       Ibn Shâlah dan Imam Nawawî yang pertama kali menuturkan
pendapatnya bahwa para ulama telah sepakat kitab Shahîh al-Bukhârî dan
Shahîh Muslim di terima sebagai kitab yang otentik sesudah al-Qur'an.
Namun, ada perbedaan pendapat, mana yang lebih otentik di antara dua
kitab tersebut ?. Sejumlah ahli hadits dari Maroko berpendapat bahwa
Shahîh Muslim lebih unggul dari Shahîh al-Bukhârî, sedangkan Jumhur
Ulama berpendapat bahwa Shahîh al-Bukhârî lebih otentik dari Shahîh
Muslim.
       Pendapat ini dikarenakan pembukuan “Shahih Muslim” terjadi
setelah pembukuan “Shahih Bukhari”. Dan juga metode pengambilan
hadist berbeda antara Imam Bukhari dengan Imam Muslim. Namun semua
hal yang telah dilakukan oleh ulama adalah untuk menjaga keaslian dan
keotentikan dari hadist-hadist Rasulullah Saw.
                          Daftar Pustaka


T. Muhammad As Siddiqy, “sejarah dan pengantar ilmu hadist” Penerbit

Bulan Bintang, Jakarta.

Dr. Mustafa Assiba‟i, “Al Hadist sebagai sumber hukum(kedudukan As

Sunnah dalam pembinaan hukum Islam)”, penerbit cv.Diponegoro

Bandung.

Muhammad ajar al khatib,”ushul al Hadist, ulumul wal mustalah” penerbit

Daral Fikri, Beirut.

An Nabhani Taqiyyuddin, "Asy Syakhshiyah Islamiyah" Jilid I/253, Beirut

1953 penerbit PTI (Pustaka Thoriqul Izzah) Bab tentang Assunah &

Hadits.

Artikel tentang ilmu Hadist di www.pesantrenonline.com

				
DOCUMENT INFO
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl