Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

ilmu hadist

VIEWS: 248 PAGES: 6

									Sejarah Pembinaan dan Penghimpunan Hadist


Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bi Abdul Azis yakni tahun 99 Hijriyah datanglah
angin segar yang mendukung kelestarian hadits, Maka pada tahun 100 H Khalifah Umar
bin Abdul Azis memerintahkan kepada gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad
bin Amer bin Hazm supaya membukukan hadits-hadits Nabi yang terdapat pada para
penghafal.


A. PENULISAN HADIST


Para penulis sejarah Rasul, ulama hadis, dan umat Islam semuanya sependapat
menetapkan bahwa AI-Quranul Karim memperoleh perhatian yang penuh dari Rasul dan
para sahabatnya. Rasul mengharapkan para sahabatnya untuk menghapalkan AI-Quran
dan menuliskannya di tempat-tempat tertentu, seperti keping-keping tulang, pelepah
kurma, di batu-batu, dan sebagainya.


Ketika Rasulullah SAW. wafat, Al-Quran telah dihapalkan dengan sempurna oleh para
sahabat. Selain itu, ayat-ayat suci AI-Quran seluruhnya telah lengkap ditulis, hanya saja
belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Adapun hadis atau sunnah dalam
penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti halnya Al-Quran. Penulisan
hadis dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi, karena tidak diperintahkan oleh
Rasul sebagaimana ia memerintahkan mereka untuk menulis AI-Quran. Diriwayatkan
bahwa beberapa sahabat memiliki catatan hadis-hadis Rasulullah SAW. Mereka mencatat
sebagian hadis-hadis yang pernah mereka dengar dari Rasulullah SA W.


Diantara sahabat-sahabat Rasulullah yang mempunyai catatan-catatan hadis Rasulullah
adalah Abdullah bin Amr bin AS yang menulis, sahifah-sahifah yang dinamai As-
Sadiqah. Sebagian sahabat menyatakan keberatannya terhadap pekerjaan yang dilakukan
oleh Abdullah itu Mereka beralasan bahwa Rasulullah telah bersabda.
Artinya:
"Janganlah kamu tulis apa-apa yang kamu dengar dari aku selain Al- Quran. Dan barang
siapa yang lelah menulis sesuatu dariku selain Al- Quran, hendaklah dihapuskan. " (HR.
Muslim)


Dan mereka berkata kepadanya, "Kamu selalu menulis apa yang kamu dengar dari Nabi,
padahal beliau kadang-kadang dalam keadaan marah, lalu beliau menuturkan sesuatu
yang tidak dijadikan syariat umum." Mendengar ucapan mereka itu, Abdullah bertanya
kepada Rasulullah SAW. mengenai hal tersebut. Rasulullah kemudian bersabda:


Artinya:
"Tulislah apa yang kamu dengar dariku, demi Tuhan yang jiwaku di tangannya. tidak
keluar dari mulutku. selain kebenaran ".


Menurut suatu riwayat, diterangkan bahwa Ali mempunyai sebuah sahifah dan Anas bin
Malik mempunyai sebuah buku catatan. Abu Hurairah menyatakan: "Tidak ada dari
seorang sahabat Nabi yang lebih banyak (lebih mengetahui) hadis Rasulullah daripadaku,
selain Abdullah bin Amr bin As. Dia menuliskan apa yang dia dengar, sedangkan aku
tidak menulisnya". Sebagian besar ulama berpendapat bahwa larangan menulis hadis
dinasakh (dimansukh) dengan hadis yang memberi izin yang datang kemudian.


Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Rasulullah tidak menghalangi usaha para
sahabat menulis hadis secara tidak resmi. Mereka memahami hadis Rasulullah SAW. di
atas bahwa larangan Nabi menulis hadis adalah ditujukan kepada mereka yang
dikhawatirkan akan mencampuradukan hadis dengan AI-Quran Sedangkan izin hanya
diberikan kepada mereka yang tidak dikhawatirkan mencampuradukan hadis dengan Al-
Quran. Oleh karena itu, setelah Al-Quran ditulis dengan sempurna dan telah lengkap pula
turunannya, maka tidak ada Jarangan untuk menulis hadis. Tegasnya antara dua hadis
Rasulullah di atas tidak ada pertentangan manakala kita memahami bahwa larangan itu
hanya berlaku untuk orang-orang tertentu yang dikhawatirkan mencampurkan AI-Quran
dengan hadis, dan mereka yang mempunyai ingatan/kuat hapalannya. Dan izin menulis
hadis diberikan kepada mereka yang hanya menulis sunah untuk diri sendiri, dan mereka
yang tidak kuat ingatan/hapalannya




B. PENGHAPALAN HADIST

Para sahabat dalam menerima hadis dari Nabi SAW. berpegang pada kekuatan
hapalannya, yakni menerimanya dengan jalan hapalan, bukan dengan jalan menulis hadis
dalam buku. Sebab itu kebanyakan sahabat menerima hadis melalui mendengar dengan
hati-hati apa yang disabdakan Nabi. Kemudian terekamlah lafal dan makna itu dalam
sanubari mereka. Mereka dapat melihat langsung apa yang Nabi kerjakan. atau
mendengar pula dari orang yang mendengarnya sendiri dari nabi, karena tidak semua dari
mereka pada setiap waktu dapat mengikuti atau menghadiri majelis Nabi. Kemudian para
sahabat menghapal setiap apa yang diperoleh dari sabda-sabdanya dan berupaya
mengingat apa yang pernah Nabi lakukan, untuk selanjutnya disampaikan kepada orang
lain secara hapalan pula.

Hanya beberapa orang sahabat saja yang mencatat hadis yang didengarnya dari Nabi
SAW. Di antara sahabat yang paling banyak menghapal/meriwayatkan hadis ialah Abu
Hurairah. Menurut keterangan Ibnu Jauzi bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Abu
Hurairah sejumlah 5.374 buah hadis. Kemudian para sahabat yang paling banyak
hapalannya sesudah Abu Hurairah ialah:

Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan 2.630 buah hadis.
Anas bin Malik meriwayatkan 2.276 buah hadis.
Aisyah meriwayatkan 2.210 buah hadis.
Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan 1.660 buah hadis.
Jabir bin Abdullah meriwayatkan 1.540 buah hadis.
Abu Said AI-Khudri meriwayatkan 1.170 buah hadis.

C. PENGHIMPUNAN HADIST

Pada abad pertama hijrah, yakni masa Rasulullah SAW., masa khulafaur Rasyidin dan
sebagian besar masa bani umayyah, hingga akhir abad pertama hijrah, hadis-hadis itu
berpindah-pindah dan disampaikan dari mulut ke mulut Masing-masing perawi pada
waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hapalannya. Memang hapalan
mereka terkenal kuat sehingga mampu mengeluarkan kembali hadis-hadis yang pernah
direkam dalam ingatannya. Ide penghimpunan hadis Nabi secara tertulis untuk pertama
kalinya dikemukakan oleh khalifah Umar bin Khattab (w. 23/H/644 M). Namun ide
tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar karena beliau khawatir bila umat Islam terganggu
perhatiannya dalam mempelajari Al-Quran.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dinobatkan akhir abad
pertama hijrah, yakni tahun 99 hijrah datanglah angin segar yang mendukung kelestarian
hadis. Umar bin Abdul Azis seorang khalifah dari Bani Umayyah terkenal adil dan wara',
sehingga beliau dipandang sebagai khalifah Rasyidin yang kelima.

Beliau sangat waspada dan sadar, bahwa para perawi yang mengumpulkan hadis dalam
ingatannya semakin sedikit jumlahnya, karena meninggal dunia. Beliau khawatir apabila
tidak segera dikumpulkan dan dibukukan dalam buku-buku hadis dari para perawinya,
mungkin hadis-hadis itu akan lenyap bersama lenyapnya para penghapalnya. Maka
tergeraklah dalam hatinya untuk mengumpulkan hadis-hadis Nabi dari para penghapal
yang masih hidup. Pada tahun 100 H. Khalifah Umar bin Abdul Azis memerintahkah
kepada gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin Amer bin Hazm supaya
membukukan hadis-hadis Nabi yang terdapat pada para penghafal.

Umar bin Abdul Azis menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm yang berbunyi:

"Perhatikanlah apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasul lalu tulislah. karena aku takut
akan lenyap ilmu disebabkan meninggalnya ulama dan jangan diterima selain hadis Rasul
SAW dan hendaklah disebarluaskan ilmu dan diadakan majelis-majelis ilmu supaya
orang yang tidak mengetahuinya dapat mengetahuinya, maka sesungguhnya ilmu itu
dirahasiakan. "

Selain kepada Gubernur Madinah, khalifah juga menulis surat kepada Gubernur lain agar
mengusahakan pembukuan hadis. Khalifah juga secara khusus menulis surat kepada Abu
Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab Az-Zuhri. Kemudian Syihab
Az-Zuhri mulai melaksanakan perinea khalifah tersebut. Dan Az-Zuhri itulah yang
merupakan salah satu ulama yang pertama kali membukukan hadis.

Dari Syihab Az-Zuhri ini (15-124 H) kemudian dikembangkan oleh ulama-ulama
berikutnya, yang di samping pembukuan hadis sekaligus dilakukan usaha menyeleksi
hadis-hadis yang maqbul dan mardud dengan menggunakan metode sanad dan isnad.

Metode sanad dan isnad ialah metode yang digunakan untuk menguji sumber-sumber
pembawa berita hadis (perawi) dengan mengetahui keadaan para perawi, riwayat
hidupnya, kapan dan di mana ia hidup, kawan semasa, bagaimana daya tangkap dan
ingatannya dan sebagainya. Ilmu tersebut dibahas dalam ilmu yang dinamakan ilmu hadis
Dirayah, yang kemudian terkenal dengan ilmu Mustalahul hadis.

Setelah generasi Az-Zuhri, kemudian pembukuan hadis dilanjutkan oleh Ibn Juraij (w.
150 H), Ar-Rabi' bin Shabih (w. 160 H) dan masih banyak lagi ulama-ulama lainnya.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa pembukuan hadis dimulai sejak akhir masa
pemerintahan Bani Umayyah, tetapi belum begitu sempuma. Pada masa pemerintahan
Bani Abbasiyah, yaitu pada pertengahan abad II H. dilakukan upaya penyempunaan.
Mulai. waktu itu kelihatan gerakan secara aktif untuk membukukan ilmu pengetahuan,
termasuk pembukuan dan penulisan hadis-hadis Rasul SAW. Kitab-kitab yang terkenal
pada waktu itu yang ada hingga sekarang sampai kepada kita, antara lain AI-Muwatha '
oleh imam Malik, AI Musnad oleh Imam Asy-Syafi'l (204) H. Pembukuan hadis itu
kemudian dilanjutkan secara lebih teliti oleh Imam-lmam ahli hadis, seperti Bukhari,
Muslim, Turmuzi, Nasai, Abu Daud, Ibnu Majah, dan lain-lain

Dari mereka itu, kita kenal Kutubus Sittah (kitab-kitab) enam yaitu: Sahih AI-Bukhari
Sahih Muslim, Sunan An-Nasai dan At-Turmuzi. Tidak sedikit pada "masa berikutnya
dari para ulama yang menaruh perhatian besar kepada Kutubus sittah tersebut beserta
kitab Muwatta dengan cara mensyarahinya dan memberi catatan kaki, meringkas atau
meneliti sanad dan matan-matannya.



D. TIMBULNYA PEMALSUAN HADIST DAN UPAYA PENYELAMATANNYA

Sejak terbunuhnya khalifah Usman bin Affan dan tampilnya Ali bin Abu Thalib serta
Muawiyah yang masing-masing ingin memegang jabatan khalifah, maka umat Islam
terpecah menjadi tiga golongan, yaitu syiah. khawarij, dan jumhur. Masing-masing
kelompok mengaku berada dalam pihak yang benar dan menuduh pihak lainnya salah.
Untuk membela pendirian masing-masing, maka mereka membuat hadis-hadis palsu.
Mulai saat itulah timbulnya riwayat-riwayat hadis palsu. Orang-orang yang mula-mula
membuat hadis palsu adalah dari golongan Syiah kemudian golongan khawarij dan
jumhur, Tempat mula berkembangnya hadis palsu adalah daerah Irak tempat kamu syiah
berpusat pada waktu itu.

Pada abad kedua, pemalsuan hadis bertambah luas dengan munculnya propaganda-
propaganda politik untuk menumbangkan rezim Bani Umayyah. Sebagai imbangan,
muncul pula dari pihak Muawiyyah ahli-ahli pemalsu hadis untuk membendung arus
propaganda yang dilakukan oleh golongan oposisi. Selain itu, muncul juga golongan
Zindiq, tukang kisah yang berupaya untuk menarik minat masyarakat agar
mendengarkannya dengan membuat kisah-kisah palsu.

Menurut Imam Malik ada empat jenis orang yang hadisnya tidak boleh diambil darinya:

Orang yang kurang akal.
Orang yang mengikuti hawa nafsunya yang mengajak masyarakat untuk mengikuti hawa
nafsunya.
Orang yang berdusta dalam pembicaraannya walaupun dia tidak berdusta kepada Rasul.
Orang yang tampaknya saleh dan beribadah apabila orang itu tidak mengetahui nilai-nilai
hadis yang diriwayatkannya.
Untuk itu, kemudian sebagian ulama mempelajari dan meneliti keadaan perawi-perawi
hadis yang dalam masa itu banyak terdapat perawi-perawi hadis yang lemah Diantara
perawi-perawi tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengetahui mana yang benar-benar
dapat diterima periwayatannya dan mana yang tidak dapat diterima.

Selain itu juga diusahakan pemberantasan terhadap hadis-hadis palsu oleh para ulama,
yaitu dengan cara menunjukan nama-nama dari oknum-oknum/ golongan-golongan yang
memalsukan hais berikut hadis-hadis yang dibuatnya supaya umat islam tidak
terpengaruh dan tersesat oleh perbuatan mereka. Untuk itu, para ulama menyusun kitab-
kitab yang secara khusus menerangkan hadis-hadis palsu tersebut, yaitu antara lain :

Kitab oleh Muhammad bin Thahir Ak-Maqdizi(w. tahun 507 H)
Kitab oleh Al-Hasan bin Ibrahim Al-Hamdani
Kitab oleh Ibnul Jauzi (w. tahun 597 H)
Di samping itu para ulama hadis membuat kaidah-kaidah atau patokan-patokan serta
menetapkan ciri-ciri kongkret yang dapat menunjukkan bahwa suatu hadis itu palsu. Ciri-
ciri yang menunjukkan bahwa hadis itu palsu antara lain:

Susunan hadis itu baik lafaz maupun maknanya janggal, sehingga tidak pantas rasanya
disabdakan oleh Nabi SAW., seperti hadis:
Artinya:
"Janganlah engkau memaki ayam jantan, karena dia teman karibku. "

Isi maksud hadis tersebut bertentangan dengan akal, seperti hadis:

"Buah terong itu menyembuhkan. Segala macam penyakit. "

Isi/maksud itu bertentangan dengan nas Al-Quran dan atau hadis mutawatir, seperti hadis:

"Anak zina itu tidak akan masuk surga. "

Hadis tersebut bertentangan dengan firman Allah SWT. :

"Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. " (QS. Fatir: 18 )


Sumber: pesantrenonline.com

								
To top