Docstoc

Berikut terjemahan dari kitab

Document Sample
Berikut terjemahan dari kitab Powered By Docstoc
					Berikut terjemahan dari kitab "Asy Syakhshiyah Islamiyah" Jilid I/253, An Nabhani
Taqiyyuddin, Beirut 1953 penerbit PTI (Pustaka Thoriqul Izzah) Bab tentang Assunah &
Hadits.

.......................................
Sunnah dan hadits adalah satu pengertian. Yang dimaksud dengan sunnah adalah
seluruh apa yang datang dari Rasul saw, baik berupa perkataan, perbuatan maupun
diamnya Rasul. Termasuk kedalam sunnah hadits-hadits mauquf yang datang dari para
sahabat. Mereka hidup bersama-sama Rasulullah saw, mereka mendengar dan
menyaksikan sendiri gerak gerik beliau, kemudian mereka berbicara berdasarkan apa
yang telah mereka lihat ataupun apa yang telah mereka dengar. Hadits dianggap sebagai
nash syara’ karena Allah Swt berfirman:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah. (TQS. al-Hasyr [59]: 7)

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (TQS. an-
Najm [53]: 3-4)

Banyak ayat-ayat yang datang secara global lalu dirinci oleh hadits. Seperti perkara shalat
yang ayatnya datang secara umum, maka perbuatan Nabi merupakan perbuatan yang
dapat menjelaskan tentang waktu-waktu maupun tata caranya. Begitu pula halnya dengan
banyak hukum lain yang datang di dalam al-Quran dalam bentuk global, kemudian Rasul
saw datang menafsirkannya. Allah Swt berfirman:

Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia
apa yang telah diturunkan kepada mereka. (TQS. an-Nahl [16]: 44)

Para sahabat ra telah mendengar seluruh perkataan Rasulullah saw dan telah melihat
seluruh perbuatan dan keadaan beliau. Apabila mereka sulit memahami ayat atau mereka
berselisih dalam penaf-sirannya atau berbeda pendapat tentang suatu hukum maka
mereka kembali kepada hadits-hadits Nabi untuk mencari penjelasannya. Oleh karena itu
maka sandaran kaum Muslim yang pertama sekali adalah berdasarkan kekuatan hafalan
di dalam hati tanpa melihat pada apa yang telah mereka tulis, demi menjaga ilmu ini
(hadits), seperti halnya penjagaan mereka terhadap kitabullah. Ketika Islam telah tersebar
dan wilayah-wilayah Islam semakin luas serta para sahabat berpencar di berbagai negeri
sementara kebanyakan mereka telah wafat, disamping sedikitnya orang yang kuat
hafalannya, maka amat mendesak kebutuhan untuk melakukan pembukuan hadits-hadits
yang diperkuat dengan tulisan.
Pembukuan hadits-hadits kembali kepada masa para sahabat. Diantara mereka ada
sejumlah orang yang menulis dan mengungkap hadits-hadits yang pernah ditulis.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia berkata, ‘Tidak ada seorangpun diantara para
sahabat Nabi saw yang lebih banyak haditsnya dari pada aku, kecuali apa yang ada
pada Abdullah bin Umar. Sesungguhnya dia telah menulis, sedangkan aku tidak
menulis.’
Akan tetapi sahabat yang menuliskan hadits sangat jarang sekali dan jumlahnya sangat
sedikit. Kebanyakan para sahabat menghafalkan hadits-hadits di dalam dada mereka
karena mereka dilarang menuliskan hadits pada masa awal-awal Islam. Imam Muslim
telah mengeluarkan dalam kitab hadits shahihnya, dari Abu Said al-Khudri bahwa ia
berkata, Rasulullah saw bersabda:

Jangan kalian tulis dariku. Barangsiapa menulis sesuatu dariku selain al-Quran maka
hendaklah ia menghapusnya. Dan bicarakanlah oleh kalian tentang aku, maka hal yang
demikian tidak apa-apa.

Barang siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, maka hendaklah
mempersiapkan tempat duduknya di neraka.

Oleh karena itu para sahabat menghindarkan diri menulis hadits. Mereka cukup dengan
menghafal dan memahaminya. Para sahabat sangat memperhatikan sekali
pengetahuannya tentang hadits. Telah terbukti bahwa kebanyakan dari sahabat menerima
sebagian besar periwayatan (ikhbar). Telah diriwayatkan oleh Ibnu Syihab dari
Qubaishah bahwa seorang nenek telah datang menghadap Abu Bakar ra, dia berharap
mendapatkan harta warisan, maka Abu Bakar berkata: ‘Aku tidak mene-mukan sesuatu
untukmu (permasalahanmu) dalam kitabullah, dan aku tidak mengetahui bahwa
Rasulullah saw pernah menyebutkan sesuatu untukmu’. Kemudian Abu Bakar bertanya
kepada yang lain sehingga al-Mughirah berdiri lalu berkata: ‘Adalah Rasulullah saw
memberikannya seperenam’. Lalu Abu Bakar berkata: ‘Adakah seseorang bersamamu?
Ternyata (hal itu) telah disaksikan oleh Muhammad bin Maslamah. Kemudian Abu Bakar
memutuskan untuknya bagian (waris) seperenam.

Diriwayatkan oleh al-Jaririy dari Abu Nadhrah dari Abu Said bahwa Abu Musa
mengucapkan salam kepada Umar ra dari balik pintu (hingga) sebanyak tiga kali, (ini
sama saja dengan ) tidak diizinkan untuknya (masuk) sehingga ia pulang. Lalu Umar
mengejarnya. Umar berkata: ‘Mengapa engkau pulang? Ia menjawab: ‘Aku mendengar
Rasulullah saw bersabda:

Apabila salah seorang diantara kamu mengucapkan salam sebanyak tiga kali dan tidak
dijawab, maka pulanglah.

Umar berkata: ‘Sungguh engkau harus mendatangkan bayyinah (saksi) atau aku akan
memperkarakanmu’. Abu Musa datang meng-hampiri kami yang tengah duduk-duduk
dengan raut muka berbeda. Maka kami berkata: ‘Apa yang terjadi’. Abu Musa
menyampaikan kepada kami lalu berkata: ‘Adakah salah seorang diantara kalian yang
pernah mendengarnya? Kami menjawab: ‘Ya pernah, kami semua telah mendengarnya’.
Maka mereka mengutus seorang laki-laki bersama Abu Musa hingga sampai kehadapan
Umar, kemudian dia menyampaikannya. Ali ra berkata: ‘Jika aku telah mendengar dari
Nabi saw sebuah hadits maka Allah memberikan manfaat kepadaku dengan yang Dia
kehendaki. Dan apabila seseorang datang membicarakan tentang suatu hadits maka aku
memintanya untuk bersumpah. Jika ia telah bersumpah untukku barulah aku membe-
narkannya’.
Dari paparan tadi kita dapat melihat ketelitian para sahabat dalam periwayatan hadits.
Mereka selalu bersikap hati-hati dalam menerima segala khabar. Diriwayatkan bahwa
Umar tidak memperhatikan periwayatan Fathimah binti Qais mengenai tidak adanya
nafkah dan tempat tinggal bagi perempuan yang telah dithalaq tiga kali. Umar berkata:
‘Kami tidak meninggalkan Kitab Tuhan kami dan Sunnah Nabi kami disebabkan
perkataan seorang perempuan, kami tidak tahu apakah si perempuan itu hafal ataukah ia
lupa’. Masa-lahnya bukan berarti dia seorang perempuan, melainkan (maksudnya) kami
tidak meninggalkan Kitab dan Sunnah disebabkan oleh perkataan seseorang yang tidak
diketahui (keadaannya) apakah ia hafal ataukah ia lupa. Jadi, illatnya mengacu pada
keadaan seseorang, apakah ia hafal ataukah ia lupa, bukan keberadaannya sebagai
seorang perempuan.

Setelah terbunuhnya Utsman bin Affan ra muncul fitnah. Kaum Muslim berselisih hingga
mereka terpecah menjadi beberapa kelompok. Seluruh kelompok yang ada mengarahkan
pandangannya untuk melakukan istinbat terhadap dalil–dalil dan mengeluarkan hadits-
hadits untuk mendukung propaganda mereka. Sebagian dari mereka jika kesulitan
memperoleh hadits yang mendukung propaganda mereka melalui perkataan atau hujjah,
maka mereka membuat hadits -dari kalangan mereka sendiri-, sehingga pada saat
kekacauan terjadi banyak sekali hadits-hadits. Ketika fitnah mereda kaum Muslim
melakukan tahqiq (pemeriksaan fakta) dan banyak ditemukan hadits-hadits maudhu’at
(palsu). Mereka lalu bekerja keras untuk memisahkan antara hadits-hadits palsu dengan
hadits-hadits shahih.

Setelah masa para sahabat berakhir datang masa (setelah mereka yaitu masa) tabi’in.
Masa mereka berjalan sesuai dengan yang telah dilakukan pendahulu mereka, yaitu para
sahabat yang mulia, dimana perhatian mereka sangat besar mengenai urusan hadits,
termasuk penyebarannya melalui cara periwayatan, hingga pada masa kekhalifahan
berada ditangan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Beliau memerintahkan untuk penulisan
hadits pada awal tahun 100 H. Imam Bukhari berkata dalam shahihnya pada bab tentang
al-ilmu, ‘Umar bin Abdul Aziz mengirimkan surat kepada Abu Bakar bin Hazm:
‘Perhatikan apa yang ada dari hadits Rasulullah saw. Tulislah, sesungguhnya aku
khawatir akan hilangnya ilmu dan meninggalnya para ulama. Dan jangan sekali-kali
engkau menerima hadits kecuali hadits Nabi saw. Hendaknya kalian menyebarkan ilmu
serta mempelajarinya di majlis-majlis sehingga orang yang tidak mengetahui menjadi
berilmu. Ilmu itu tidak membawa kebinasaan sampai ilmu itu menjadi hal yang pokok
dipelajari.’
Beliau juga menulis surat kepada seluruh ‘ummal (para wali) yang ada di setiap ibu kota
negeri-negeri Islam agar memperhatikan hadits.

Orang pertama yang diperintahkan Umar bin Abdul Aziz untuk membukukan hadits
adalah Muhammad bin Musallam bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab az-Zuhri.
Beliau mengambil dari kelompok sahabat kecil hingga para pemuka tabi’in. Lalu
tersebarlah thabaqat (tingkatan) mengikuti thabaqat az-Zuhri. Diantara mereka orang
yang mengumpulkannya di Makkah adalah Ibnu Juraij, di Madinah adalah Malik, di
Bashrah adalah Hamad bin Salmah, di Kufah adalah Sufyan ats-Tsauri, dan di Syam
adalah al-Auza’i, dan lain-lain di negeri-negeri Islam. Kumpulan hadits yang ada pada
mereka bercampur dengan perkataan para sahabat serta fatwa para tabi’in. Ini terjadi
pada masa abad kedua Hijriyah. Pada awal abad ketiga Hijriyah para perawi hadits
mengumpulkan dan menyusun hadits secara tersendiri. Penyusunan hadits tetap
berlangsung sampai munculnya Imam Bukhari. Beliau adalah pakar ilmu hadits. Beliau
mengarang kitabnya yang terkenal Shahih al-Bukhari, yang didalamnya memuat hadits-
hadits sahih menurut beliau. Lalu diikuti oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj. Beliau adalah
murid Imam al-Bukhari. Imam Muslim menyusun kitabnya yang terkenal dengan Shahih
Muslim. Kedua kitab ini digelari Shahihain (dua kitab yang memuat hadits-hadits
shahih).
Para imam (ahli) hadits tatkala merancang pembukuan hadits, membukukannya
berdasarkan bentuk yang telah mereka dapatkan. Biasanya mereka tidak menggugurkan
hadits yang sampai kepada mereka kecuali hadits yang sudah diketahui kepalsuannya.
Mereka mengumpulkannya dengan sanad-sanad yang telah mereka temui. Mereka
membahas dan menyeleksi tentang keadaan para perawinya dengan seleksi yang amat
ketat, hingga mereka mengetahui siapa yang bisa diterima periwayatannya dan siapa yang
ditolak periwayatannya, serta mana saja orang yang masih dalam tahap seleksi. Setelah
itu mereka membahas tentang matan (isi hadits) dan periwayatannya. Apa yang
diriwayatkan oleh orang yang bersifat adil dan dlabit (kuat hafalannya) diambil. Kadang-
kadang terdapat padanya kelalaian dan kekeliruan.

Hadits adalah topik yang amat luas, mencakup seluruh pengetahuan Islam. Di dalamnya
mencakup tafsir, tasyri’ dan sirah. Kadangkala perawi hadits meriwayatkan sebuah hadits
yang didalamnya terdapat tafsir terhadap suatu ayat didalam al-Quran. Kadang
meriwayatkan hadits yang didalamnya terdapat hukum pada suatu peristiwa. Kadang
juga suatu hadits menceritakan suatu peperangan. Begitulah seterusnya. Ketika kaum
Muslim mulai mengumpulkan hadits, terjadilah kodifikasi hadits. Hadits-hadits pun
disusun di berbagai kota. Pengumpulan hadits dipisahkan antara hadits Rasul dengan
perkara-perkara lainnya. Dengan demikian terpisahlah hadits dari fiqih sebagaimana
hadits juga terpisah dari tafsir. Itu terjadi pada awal tahun dua ratusan setelah aktivitas
(gerakan) pengumpulan hadits. Sejak itu dapat dibedakan antara hadits yang shahih
dengan hadits yang dha’if. Disamping itu juga dijelaskan para perawinya dan menetapkan
apakah mereka dapat diterima (periwayatannya) atau ditolak.

Sunnah adalah hukum syara’ sebagaimana al-Quran. Sunnah merupakan wahyu dari
Allah Swt. Membatasi diri hanya pada al-Quran saja dan meninggalkan Sunnah adalah
kekafiran yang nyata. Dan (pendapat seperti itu) merupakan pendapat orang-orang yang
melanggar Islam. Sunnah merupakan wahyu dari Allah Swt. Hal ini jelas diterangkan di
dalam al-Quran al-Karim. Allah Swt berfirman:

Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu.
(TQS. al-Anbiya [21]: 45)

Tidak diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa sesungguhnya aku hanyalah seorang
pemberi peringatan yang nyata. (TQS. Shaad [38]: 70)
Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. (TQS. al-An’aam [6]: 50)

Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku.
(TQS. al-A’raaf [7]: 203)

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (TQS. an-
Najm [53]: 3-4)

Ayat-ayat ini bersifat qath’i tsubut (pasti sumbernya) dan qath’i dilalah (pasti
penunjukkannya) tentang apa yang dibawa oleh Rasul. Apa yang beliau sampaikan -
berupa peringatan- dan apa yang beliau ucapkan bersumber hanya dari wahyu. Ayat-ayat
tersebut tidak mengandung ta’wil apapun. Sunnah adalah wahyu sebagaimana al-Quran.
Sunnah wajib diikuti sebagaimana al-Quran al-Karim. Hal ini jelas diterangkan di dalam
al-Quran. Allah Swt berfirman:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah. (TQS. al-Hasyr [59]: 7)

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. (TQS. an-
Nisa[4]: 80)

Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau
ditimpa azab yang pedih. (TQS. an-Nur [24]: 63)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain). (TQS. al-Ahzab [33]: 36)

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka
tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. an-Nisa [4]: 65)

Taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya. (TQS. an-Nisa [4]: 59)

Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu. (TQS. Ali Imran[3]: 31)

Semuanya menunjukkan jelas dan terangnya mengenai kewajiban mengikuti Rasul dan
terhadap apa yang dibawa beliau. Juga (pandangan) bahwa ketaatan kepada beliau
merupakan ketaatan kepada Allah Swt.

Dari sisi keterikatan untuk mengikutinya, al-Quran dan hadits merupakan dua dalil
syara’. Dalam perkara ini hadits laksana al-Quran. Oleh karena itu tidak boleh
mengatakan, kami (hanya) memiliki kitab Allah yang kami ikuti. Perkataan seperti itu
bisa dipahami meninggalkan Sunnah. Jadi, harus dibarengi al-Quran dan Sunnah, hingga
hadits dapat diambil sebagai dalil syara’ seperti halnya al-Quran. Seorang muslim tidak
boleh mengeluarkan perasaan bahwa ia cukup dengan al-Quran saja tanpa (memerlukan)
hadits. Rasul telah memperingatkan hal itu. Dari Nabi saw, beliau bersabda:

Kelak akan terjadi pada seseorang diantara kamu yang sedang duduk diatas bangku
sambil membicarakan tentang haditsku, sehingga ia berkata: ‘Antara aku dan kalian
hanyalah kitabullah’. Maka apa yang kami dapatkan itu halal, kami menghalalkannya,
dan apa yang kami dapatkan haram, maka kami mengharamkannya. Apa yang telah
diharamkan oleh Rasulullah sama dengan apa yang telah diharamkan oleh Allah.

Rasul bersabda dalam riwayat hadits marfu’, dari Jabir:

Barangsiapa yang yang sampai kepadanya sesuatu dariku berupa hadits, lalu ia
mendustakan hadits tersebut, maka sungguh ia telah berdusta kepada tiga hal: (yaitu)
berdusta kepada Allah, berdusta kepada Rasul dan berdusta kepada orang yang telah
menyampaikan hadits tersebut.

Berdasarkan hal ini maka amat keliru jika mengatakan, kami mengqiyaskan al-Quran
dengan hadits. Jika hadist itu tidak sesuai dengan al-Quran maka kami tinggalkan.
Perkataan itu berakibat ditinggalkannya hadits. Padahal hadits juga datang sebagai
pentakhshish atau pentaqyid (pembatas/pengikat) terhadap al-Quran, atau pentafshil
(pemerinci) terhadap globalitas al-Quran. (Itu dilakukan) hanya karena apa yang terdapat
dalam hadits tidak sesuai dengan al-Quran, atau tidak terdapat di dalam al-Quran. Hadits-
hadits itu datang layaknya cabang-cabang mengikuti asal. Misalnya terdapat dalam hadits
hukum-hukum yang bersifat furu’ (cabang) yang tidak terdapat dalam al-Quran. Lebih
dari itu kebanyakan hukum-hukum yang rinci tidak terdapat dalam al-Quran. Hanya
dijumpai di dalam hadits saja. Oleh karena itu hadits tidak bisa diqiyaskan terhadap al-
Quran, sehingga yang diterima hanya yang sesuai dengan al-Quran. Yang tidak sesuai
ditolak. Meskipun demikian jika ada perkara yang terdapat di dalam hadits yang ber-
tentangan dengan sesuatu yang ada di dalam al-Quran dan maknanya bersifat pasti, maka
hadits tersebut ditolak secara dirayah (matan atau isinya). Sebab, maknanya bertentangan
dengan al-Quran. Seperti hadits yang diriwayatkan dari Fathimah binti Qais yang berkata,
‘Suamiku telah menceraikanku dengan thalaq tiga dimasa Rasulullah saw, maka aku
datang kepada Nabi saw. Lalu beliau tidak memutuskan untukku (berupa) tempat tinggal
dan nafkah.’
Hadits ini tertolak karena bertentangan dengan al-Quran, yaitu berlawanan dengan firman
Allah:

Tempatkanlah mereka (para isteri) dimana kamu bertempat tinggal menurut
kemampuanmu. (TQS. ath-Thalaq [65]:6)

Pada saat itu hadits tertolak karena bertentangan dengan al-Quran yang bersifat qath’i
tsubut dan qath’i dilalah. Hadits, apabila tidak bertentangan dengan al-Quran dan (hadits)
mencakup perkara yang tidak terdapat di dalam al-Quran atau terdapat tambahan dari apa
yang ada di dalam al-Quran, maka (harus) diterima keduanya, baik al-Quran maupun
hadits. Jadi, kita tidak bisa mengatakan, cukup berpegang dengan al-Quran saja dan
dengan apa yang ada pada al-Quran. Sebab, Allah Swt memerintahkan untuk berpegang
kepada keduanya (al-Quran dan hadits) sekaligus. Meyakini keduanya hukumnya wajib.
.............................................

                                  Imam Bukhârî
                         (Amîr-ul 'Mu'minîn fî-l 'Hadîts)
                     Tanggal: Sunday, July 07 @ 01:46:17 JAVT
                                   Topik: Kajian



oleh: Yandi Rahmayandi

"Tidak ada yang paling tahu di muka bumi ini dalam hadits, selain Muhamad bin Ismail
(Bukhari)". (Abu Bakar bin Khuzamah)

Iftitah
Sanjungan dan pujian di atas hanyalah salah satu dari begitu banyaknya ungkapan
                     lim
kekaguman para ' ‫ آ‬dan tokoh terkemuka tempo dulu sampai sekarang terhadap salah
seorang Imam hadits Muhamad bin Ismail al-Bukhârî. Kekaguman mereka terhadap
Imam Bukhârî, memang bukan tanpa alasan. Karya momentalnya "Shahîh-
ul'Bukhârî"telah membawa kemasyhuran namanya sampai hari kiamat nanti. Betapa
tidak, kitab inilah yang disepakati Ulama hadits yang otientik setelah al-Qur'an.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Shalâh (W. 643 H), kemudian pendapat ini diikuti,
dan dipopulerkan oleh Imam Nawawî (W. 676 H).



Agaknya pendapat ulama ini, khususnya Imam Nawawî sudah terlanjur menjadi "dalil"
yang akhirnya penelitian khusus Shahîh-ul'Bukhârî dianggap kurang penting. Apalagi,
kritikan terhadap sejumlah hadits dianggap kurang penting. Apalagi kritikan terhadap
sejumlah hadits dalam Shahîh-ul'Bukhârî juga sudah disanggah antara lain oleh Imam
Ibnu Hajar (W. 852 H.) dalam kitabnya hady al-sari dan fath-ul 'bârî. Namun akibat lebih
jauh dari hal itu, adalah kenyataan bahwa kebanyakan umat Islam, kita khususnya, tidak
mengetahui siapa Imam Bukhari, bagaimana asal muasal kitabnya yang mashur itu,
bagaimana metode beliau dalam meneliti dan mengkritik hadits?, dan lain sebagainya.
Padahal di pihak lain, mereka juga tidak pernah membantah pendapat Imam Nawawî
yang tersebut diatas.

Berangkat dari faktor-faktor tersebut, tulisan sederhana ini, akan mencoba memaparkan
tentang Imam Bukhârî, berikut hal-hal yang ada kaitannya dengan metodologi beliau
dalam ilmu hadits. Semoga hal ini bisa menambah khazanah ilmiyyah tentang hadits.

Imam Bukhârî
Nama lengkap beliau ialah Abu Abdullâh Muhamad bin Isma'îl bin Ibrâhîm bin
Mughîrah bin Bardizbah al-Ju'fi al-Bukhârî. Beliau dilahirkan pada hari jum'at, 13 syawal
194 H./1810 M. di Bukhârâ. Ayahnya Isma'îl bin Ibrâhîm al-Ju'fî tanpaknya cendrung
kepada hadits nabawi. Ketika pergi haji pada tahun 179 H. beliau menyempatkan diri
menemui tokoh-tokoh ahli hadits seperti Imam Malik bin Anas, Abdullâh bin Mubârak,
Abu Muawiyyah bin Shâleh dan yang lainnya.

Ternyata semangat dan kecendrungan ini diwariskan kepada putranya Muhamad. Ketika
Muhamad masih kecil, ayahnya Isma'îl meninggal dunia, dan meninggalkan perpustakaan
pribadi yang diperuntukkan khusus buat putranya tercinta Isma'îl. Dalam keadaan yatim
ia diasuh oleh ibunya dengan penuh kasih sayang, dibimbingnya untuk selalu mencintai
buku-buku peninggalan ayahnya. Bersama teman-teman sebayanya Muhamad mulai
belajar membaca, menulis, belajar al-Qur'an dan hadits.

Ketabahan ibu yang shalehah ini akhirnya mulai membuahkan hasil, ketika pada umur 10
tahun Muhamad muncul sebagai anak yang berilian otaknya mengalahkan anak-anak
sebayanya, dan pada umur 10 tahun itulah Muhamad mulai mempelajari dan menghapal
hadits. Ketika berumur 11 tahun perpustakaan ayahnya sudah tidak memenuhi syarat lagi
baginya. Cita-cita untuk mendalami hadits semakin menggebu-gebu. Akhirnya Muhamad
kecil menemui tokoh-tokoh ahli hadits di tanah airnya untuk mempelajari hadits.

Melihat kehebatan Muhamad ini, para gurunya juga tidak urung menemuinya. Betapa
tidak, pada waktu berumur 16 tahun Muhamad sudah hapal kitab-kitab hadits yang ditulis
oleh abdullâh bin Mubârak dan Waki', dua tokoh ahli hadits yang terkemuka pada masa
itu.

Cita-cita Muhamad tidak berhenti sampai disitu, dengan bimbingan ibundanya pada
tahun 216 H., Muhamad di ajak pergi ke Makkah disertai kakaknya Ahmad. Sesudah
menunaikan ibadah haji, ibunya bersama Ahmad pulang kembali ke Bukhârâ, sedang
Muhamad mendalami hadits dari tokoh-tokoh ahli hadits, seperti, al-Walid al-Azraqî dan
Isma'îl bin Salim al-Saigh, kemudian pergi ke Madinah untuk mempelajari hadits dari
anak cucu sahabat Nabi Saw. satu tahun Muhamad tinggal di Madinah, ia juga sempat
menulis dua buah buku di sana, yaitu: "Qadhâyâ ash-Shahâbah wa at-Tabi'în" dan
"Tarîkh al-Kabîr".

Fase berikutnya, Muhamad menjelajahi negeri-negeri lain, disamping mondar mandir ke
beberapa kota untuk menemui guru-guru hadits. Maka tersebutlah nama beberapa kota
tempat Muhamad belajar hadits, antara lain : Makkah, Madînah, Syâm, Baghdad, Washt,
Bashrah, Bukhârâ, Kûffah, Mesir, Harah, Naisabur, Qarasibah, Asqalan, dan Khurasan.

Muhamad ternyata bukanlah santri yang pasif, yang hanya mampu menerima dan
menghapal pelajaran saja. Muhamad adalah santri yan produktif, sembari belajar, ia
menulis buku. Maka tersebutlah karya tulisnya di samping dua kitab tersebut di atas,
sebagai berikut: al-Tarîkh al-Shagîr, al-Tarîkh al-Awsath, al-Dhuafâ, al-Kunâ, al-Adab
al-Mufrâd, al-Jâmi' al-Shahîh (shahih bukhari), Raf'ul Yadain fî al-Shalâh, al-Wuhdan,
Khair Kalâm fî al-Qira'ah khalf al-Imâm, al-Asyrifah, Asami al-Shahâbah, Bir al-
Wâlidain, Khalq Af'al al-'Ibâd, al-Ujlah fî al-Hadîts, al-Musnad al-Kabîr, al-Mabsut, al-
Inbah.

Maka setelah berumur 62 tahun, anak yatim yang kemudian termasyhur sebagai ahli
hadits nomor satu. Dan setelah kembali menentap di Bukhârâ, pergi ke desa Khartank di
kawasan Samarqand untuk menjenguk familinya yang bernama Ghalib bin Jibril.
Beberapa hari muhamad tinggal di sana sampai akhirnya sakit dan wafat pada hari sabtu,
malam 'idul fitri 1 syawal 256 H./870 M. semoga Allah memberkahi dan merahmatinya.
Amîn.

Shahîh Bukhârî
Memperhatikan karya-karya tulisannya, Imam Bukhârî sebenarnya tidak hanya sekedar
tokoh ahli hadits seperti dikenal selama ini, tetapi, ia dikenal juga sebagai sejarawan
(muarrikh), ahli fiqh dan lain sebagainya. Walaupun ia menulis beberapa kitab hadits
atau ilmu hadits, namun yang membawa namanya terkenal sampai hari kiamat nanti
adalah kitabnya yang berjudul "Jâmi' al-Musnad al-Shahîh al-Mukhtashar Min Umûr-i
Rasul-il'Llâh Shallâ-l 'Llâhu Alayhi Wasallâm wa sunanihi wa ayyâmih-i", yang lajim
disebut dengan "al-Jâm'i al-Shahîh" dan lebih populer dengan sebutan "shahîh al-
Bukhârî". Sehingga barangkali dapat dikatakan bahwa tanpa "shahîh al-Bukhârî"
Muhamad bin Isma'îl tidak akan menjadi Imam Bukhârî seperti sekarang ini.

Motipasi Pembukuan
Meski sudah termasuk luar biasa dalam bidang hadits dan ilmu hadits, tampaknya Imam
Bukhârî tidak begitu saja membukukan hadits-hadits nabawi. Ada beberapa faktor yang
mendorong untuk menulis kitab itu, yang menunjuknya bahwa penulisnya tidak mau
berangkat dari kemauannya sendiri. Karenanya wajar apabila keikhlasan beliau
menjadikan kitabnya sebagai rujukan yang paling otientik sesudah al-Qur'an. Sementara
faktor-faktor itu ialah:

Pertama, pada masa akhir Tabi'în, dimana para Ulama sudah menyebar ke berbagai
penjuru negeri Islam, hadits-hadits Nabi mulai dibukukan. Tersebutlah orang-orang yang
membukukan, antara lain: al-Râbi' bin Shâlih (w. 160 H), Sa'id bin Abu 'Arabah (W. 156
H) dan yang lainnya.

Metode penulisan mereka terbatas pada bab-bab yang menyangkut masalah-masalah
tertentu saja. Kemudian datanglah Ulama priode berikutnya, dimana mereka menulis
lebeih lengkap dari pada cara penulisan sebelumnya. Mereka menulis hadits-hadits yang
menyangkut masalah-masalah hukumnya secara luas. Tersebutlah nama-nama seperti
Imam Malik bin Anas dengan kitabnya al-Muwaththa di Madinah, Ibn Juraij di Makkah,
al-Auzai' di Bashrah. Hanya saja tulisan-tulisan mereka masih bercampur dengan fatwa-
fatwa sahabat, tabi'în dan atbau-t'tabi'în.

Pada awal abad ke II, para ulama bermaksud menulis hadits secara tersendiri tanpa
dicampuri fatwa sahabat dan tabi'în. Maka tersebutlah penulis-penulis seperti Ubaidillah
al-Kuffi, Musaddad al-Bashri, Asad al-Umawi dan Nua'im al-Khunzai. Metode penulisan
mereka berbentuk musnad, dimana disebutkan dahulu nama sahabat kemudian hadits-
hadits yang diriwayatkannya. Metode ini diikuti oleh tokoh-tokoh sesudahnya, seperti
Imam Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Utsman bin Abu Syaibah dan yang
lainnya. Adapula yang menggabungkan antara metode bab-bab dan metode musnad
seperti yang dilakukan Abu bakar bin asy-Syaibah. Namun hadits-hadits yang mereka
tulis masih campur aduk antara hadits-hadits yang shahîh, hasan dan dha'îf. Dari sinilah
kemudian Imam Bukhârî punya inisiatif untuk menghimpun hadits-hadits yang shahih
saja, sehingga tidak membingungkan orang. Ternyata Ishaq bin Rawaihah seorang guru
Imam Bukhârî mendorong maksud ini, sebagaimana dituturkan oleh Bukhârî: "ketika
saya berada di kediaman Ishaq bin Rawaihah, ia menyarankan agar saya menulis kitab
yang singkat, yang hanya memuat hadits-hadits shahih saja. Saran beliau itu sangat
mendorong saya hingga kemudian saya menulis al-Jâmi' ash-Shahîh".

Kedua, Dorongan moral yang seperti beliau tuturkan sendiri sebagai berikut : "saya
bermimpi bertemu Nabi Muhamad Saw. Saya berdiri dihadapan Nabi seraya menyapa
saya. Setelah itu, saya menemui ahli-ahli ta'bir mimpi untuk menanyakan arti mimpi itu.
Jawabnya "anda akan membersihkan pembohong-pembohong yang dilontarkan kepada
Rasulullah Saw" itulah yang mendorong saya untuk menulis al-Jâmi' al-Shahîh".

Kandungan Shahîh Bukhârî
Ibnu Shâlah, begitu pula imam Nawawî, menuturkan bahwa shahîh al-Bukhârî berisi
7275 hadits dengan pengulangan, dan apabila tanpa pengulangan jumlah itu hanya 4000
hadits saja. Jumlah diseleksi dari 600.000. hadits yang diperolehnya dari 90.000 guru
koleksi shahîh al-Bukhârî ditulis selama 16 tahun, berisi dari 100 kitab dan 3450 bab.
Lamanya penulisan ini karena Imam Bukhârî sangat cermat dalam menyeleksi hadits.
Bahkan ia tidak mau menulis satu hadits pun sebelum mandi lalu shalat istikhorah 2
rakaat dan yakin bahwa hadits yang ditulisnya itu benar-benar shahih.

Jumlah kitab yang mensyarah Shahîh al-Bukhârî mencapai 57 kitab diantaranya yang
sangat populer yaitu fath-ul 'bârî karangan ibn Hajar al As qalani (W.853H) dan umdat-ul
qari' karangan al 'Ain (W. 855 H). Jumlah kitab ta'liq (komentar pada bagian-bagian
tertentu) ada 5 buah. Sedang mukhtasar (resumenya) ada 3 buah dan yang populer adalah
al-Tajrîd as-Sharîh karangan az Zubaidi (W. 893 H). ada juga kitab lain yang masih
membahas Shahîh al-Bukhârî, disamping kitab-kitab mukhtasar dari beberapa kitab
syarah diatas.

Antara Shahîh al-Bukhârî Dan Shahîh Muslim
Ibn Shâlah dan Imam Nawawî yang pertama kali menuturkan pendapatnya bahwa para
ulama telah sepakat kitab Shahîh al-Bukhârî dan Shahîh Muslim di terima sebagai kitab
yang otentik sesudah al-Qur'an. Namun, ada perbedaan pendapat, mana yang lebih
otentik di antara dua kitab tersebut ?. Sejumlah ahli hadits dari Maroko berpendapat
bahwa Shahîh Muslim lebih unggul dari Shahîh al-Bukhârî, sedangkan Jumhur Ulama
berpendapat bahwa Shahîh al-Bukhârî lebih otentik dari Shahîh Muslim. Dengan
argumen-argumen sebagai berikut : Pertama, keunggulan pribadi Bukhârî atas Muslim
yang hal ini, dapat dilihat dari penuturan-penuturan tokoh-tokoh Ulama sebagai berikut :
1.

Ad-Darukuthnî menuturkan : "seandainya tidak ada Bukhârî maka Muslim tidak akan
ada" dalam kesempatan lain ia berkata : "apakah sebenarnya yang dilakukan muslim, ia
tidak lebih sekedar mentransfer kitab Bukhârî dan memberi tambahan di sana-sini". 2.

Al-Hakim Abu Ahmad Naisaburi mengatakan : "semoga Allah merahmati Muhammad
bin Ismail, karena ia telah menulis (membukukan) hadits-hadits yang menjadi sumber
hukum Islam dan menerangkannya kepada manusia, orang-orang yang membukukan
hadits sesudahnya seperti Muslim bin Hujaj sebenarnya hanya mengambil dari kitab
Bukhârî". 3.

Para ulama umumnya juga sepakat bahwa Bukhârî lebih alim dari pada Muslim dalam
biang hadits, Muslim sendiri mengakui hal itu.

Kedua, keunggulan kitab Shahîh al-Bukhârî itu sendiri atas Imam Muslim karena
perbedaan metode pengambilan hadits yang dilakukan masing-masing, sebagaiamana
terlihat dalam ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 1.
Shahîh al-Bukhârî, rawi-rawi haditsnya ditulis oleh Imam Bukhârî saja (tanpa bersaman
dengan Imam Muslim) berjumlah kurang lebih 435 orang. Di antara jumlah ini yang
mendapat kritikan hanya 80 orang. Shahîh Muslim, rawi-rawi yang di tulis Imam Muslim
saja (tanpa bersamaan dengan Imam bukhârî) berjumlah 620 orang. Dari jumlah ini yang
mendapatkan kritikan 160 orang. Logikanya, kitab yang sedikit mendapat kritikan lebih
baik daripada yang mendapat banyak kritrikan, meskipun dengan catatan bahwa adanya
kritikan itu tidak mengurangi nilai keotientikan kitab Bukhârî. 2.
Shahîh Bukhârî: 80 orang yang dikritik dalam Shahîh Bukhârî itu kebanyakan adalah
guru Imam Bukhârî sendiri, di mana beliau pernah bertemu, mendampingi, dan
mengetahui keadaan mereka, serta mengetahui dengan teliti nilai hadits-hadits mereka,
mana yang baik dan mana yang tidak. Shahîh Muslim, 160 orang yang di kritik dalam
Shahîh Muslim itu kebanyakan adalah orang-orang tabi'în dan atba-ut tabi'în yang tidak
pernah bertemu dengan Imam Muslim, sehingga keadaan Imam Muslim juga tidak
mengetahui keadaan mereka secara langsung. Ketidaktahuan Imam Muslim terhadap
mereka secara langsung, ini menjadikan kitab Shahîh Muslim berada di bawah Shahîh
Bukhârî. 3.
Shahîh Bukhârî, dalam hal bersambungnya sanad, Imam Bukhârî mensyaratkan bahwa
sanad dapat disebut bersambung apabila murid dengan guru, atau rawi kedua dengan rawi
pertama benar-benar bertemu meskipun hanya sekali. Shahîh Muslim, menurut Imam
Mus lim, sanad sudah dapat disebut bersambung apabila ada kemungkinan bertemu bagi
kedua rawi diatas, di mana keduanya hidup dalam satu kurun waktu dan tempat
tinggalnya tidak terlalu jauh menurut ukuran saat itu, meskipun keduanya belum pernah
bertemu sama sekali.

Jelaslah dari sini, bahwa pengertian "bersambung" yang dimaksud oleh Imam Bukhârî
lebih jelas dan tegas di banding yang dimaksudkan oleh Imam Muslim. Dari beberapa
argumen tersebut, memperkuat pendapat Jumhur Ulama bahwa Shahîh Bukhârî lebih
otientik daripada Shahîh Muslim. Sedang pendapat Ulama Maroko yang menyatakan
Shahîh Muslim lebih kuat dari pada Shahîh Bukhârî diartikan sebagai baik dalam metode
penyusunannya, bukan dari segi nilai haditsnya. Tentu saja, keunggulan dan
keotientikkan Shahîh Bukhârî itu bila di tinjau dari secara umum, sebab dalam Shahîh
Muslim pun terdapat beberapa hadits yang lebih otientik di banding beberapa hadits
dalam Shahîh Bukhârî

Kritik Terhadap Hadits-Hadits Bukhârî
Dalam ilmu hadits, kritik ditujukan kepada dua aspek, yaitu: sanad dan matan hadits.
Krtik sanad (naqd sanad/naqd ar-Rijal) diperlukan untuk mengetahui apakah rawi-rawi
itu jujur, taqwa, kuat hapalannya, dan apakah sanad itu bersambung atau tidak. Sedang
kritik matan (naqd al-matan) diperlukan untuk mengetahui apakah hadits itu mempunyai
cacat (illat) atau janggal (syadz). Dari sini, kemudian timbul istilah ahli hadits "hadza al-
hadîts shahîh al-isnad" (hadits ini shahih sanadnya), dan"hadza shahîh al-matan" (hadits
ini shahih matannya).

Para orientalis seperti, Ignaz Boldziher (1850-1921), Arent Jan Wenssinck (1882-1939),
Joseph Schacth (1902-1969), dan yang lainnya, berpendapat bahwa dalam meneliti
hadits, para ahli hadits hanya menggunakan metode kritik sanad saja tanpa menilai
metode kritik matan. Sehingga, menurut mereka, banyak ditemukan di belakang hari
hadits-hadits yang semula di anggap shahih ternyata palsu, termasuk hadits yang terdapat
dalam Shahîh Bukhârî. Hadits-hadits Shahîh Bukhârî ternyata tidak luput dari kritikan
berbagai pihak, baik dahulu maupun sekarang. Kritikan juga ditujukan kepada sanad dan
matan hadits, seperti dalam uraian berikut:

Kritik hadits Shahîh tempo dulu
Perlu diketahui lebih dulu, bahwa sebagian besar hadits-hadits bukhari di akui sebagai
hadits shahih oleh ahli-ahli hadits. Namun, juga di akui bahwa sejumlah kecil hadits-
hadits Bukhari dan Muslim dikritik oleh sejumlah ahli hadits masa dulu seperti ad-
Daruquthnî (w. 385 H), Abu Ali al-Ghasani (w. 365 H) dan yang lainnya. Mereka
menganggap hadits-hadits tersebut dha'îf.

Menurut Imam Nawawî, kritikan mereka itu berangkat dari tuduhan bahwa dalam hadits-
hadits Imam Bukhari tidak menepati persyaratan-persyaratan yang ia tetapkan. Untuk itu,
ad-Daruquthnî menulis buku yang berjudul "al-Istidrakat wa al-tatabu", di mana ia
mengkritik 200 buah hadits yang terdapat dalam Shahîh Bukhârî dan Muslim. Imam
Nawawî menegaskan bahwa kritik ad-Daruquthnî dan yang lainnya itu hanyalah
berdasarkan kreteria-kriteria yang ditetapkan oleh sejumlah ahli hadits yang justru di nilai
lemah sekali di tinjau dari ilmu hadits, karena berlawanan dengan kriteria-kriteria yang
ditetapkan oleh Jumhur Ulama. Karena demikian, lanjut Nawawî, anda jangan sekali-kali
terperdaya oleh kritikan-kritikan itu.

Kritik sanad
Dalam mengkritik Shahîh Bukhârî, ad-Daruquthnî menyoroti sanad dalam arti deretan
rawi-rawi hadits, sedangkan ahli hadits yang lain ada yang menyoroti pribadi-pribadi
rawi. Ad-Daruquthnî berkata: "Imam Bukhari (dan Imam Muslim) menulis hadits al-
Zubaidi dari Zuhri, dan Urwah dari Zainab binti Abi Salamah, bahwa Nabi Muhamad
Saw melihat seorang wanita di rumah Umi Salamah, wajah wanita itu memar, lalu nabi
bersabda: "obatilah wanita itu dengan jampi-jampi (ruqyah)". Kata ad-Daruquthnî
selanjutnya,: "hadits ini oleh Uqail diriwayatkan dari al-Zuhri dari Urwah secara mursal.
Begitu pula Yahya bin Said meriwayatkannya dari Sulaiman bin Yasar dari Urwah secara
mursal.

Jelaslah bahwa ad-Daruquthnî menilai hadist tersebut dha'îf, sebab hadits mursal itu
putus sanadnya, di mana Uqa'il tidak menyebut Zainab dan umi Salamah, tetapi langsung
menyebut Nabi. Sanad hadits ini selengkapnya, seperti yang terdapat dalam Shahîh
Bukhârî adalah sebagai berikut:

Riwayat Bukhârî:
Muhamad bin Khalid- Muhamad bin Walid-Muhamad bin Harb-al-Zubaidi-al-Zuhri-
Urwah-Zainab binti Abi Salamah-Ummu Salamah-Nabi.

Riwayat yang lain : 1.
Ibn Walid-Ibn Lahiah-al-Zuhri-Urwah-Nabi. Di sini Urwah meriwayatkan hadits
langsung dari Nabi dengan menggugurkan dua riwayat yaitu Zainab binti Abi Salamah
dan Umu Salamah. 2.
Abu Muawiyyah-Yahya bin Yazid- Sulaiman bin Yasar-Urwah-Umu Salamah- Nabi. Di
sini yang digugurkan hanya Zainab binti Abi Salamah, dan riwayat ini ditulis oleh Imam
al-Bazzar.

Dari perbandingan riwayat-riwayat itu dapat di ketahui bahwa setenarnya riwayat hadits
yang mursal (putus sanadnya menjelang Nabi) terdapat dalam riwayat yang lain. Riwayat
inilah yang sebenarnya dha'îf. Sedangkan riwayat yang terdapat dalam Shahîh Bukhârî
sanadnya bersambung, maka haditsnya di nilai shahih. Sedang di cantum hanya sanad
Uqail-al-Zuhri-Urwah-Nabi" atau yang semisal dengan itu dalam Shahîh Bukhârî, hal itu
dimaksudkan sebagai istisyhad bahwa hadits yang diriwayatkan itu, diriwayatkan pula
oleh penulis hadits yang lain, dengan sanad yang lain pula. Periwayatan semacam itu
dalam ilmu hadits dikenal sebagai hadits syahid atau hadits mutabi'.

Kritik pribadi rawi
Sejumlah ahli hadits menyoroti beberapa nama rawi yang terdapat dalam Shahîh Bukhârî.
Menurut mereka, rawi-rawi itu tidak memenuhi persyaratan sebagai rawi yang di terima
haditsnya. Menyanggah tuduhan itu, Ibn Hajar menegaskan bahwa hal itu tidak dapat di
terima kecuali apabila rawi-rawi itu terbukti dengan jelas mempunyai sifat-sifat dan, atau
melakukan hal-hal yang dapat menyebabkan haditsnya tertolak. Dan ternyata setelah
diteliti dengan cermat, tidak ada satu rawi pun dalam Shahîh Bukhârî yang mempunyai
sifat-sifat dan atau melakukan perbuatan seperti itu.

Faktor-faktor yang menyebabkan seorang rawi di talak haditsnya- dalam ilmu hadits
disebut "asbab al-Jarh" berkisar pada lima masalah, yaitu:ghalath (rawi sering keliru
dalam meriwayatkan hadits), jahalah (rawi tidak dikenal), identitasnya, rawi berlawanan
maksudnya dengan hadits lain yang diriwayatkan oleh seorang rawi yang lebih dapat
dipercaya dari raw (pertama), bid'ah (rawi melakukan perbuatan dan atau mempunyai
keyakinan dapat menyebabkan dirinya kafir) dan da'wa al-inqitha fi as-sanad (rawi di
tuduh menyebutkan sanad yang tidak bersambung). Kelima masalah ini tidak terdapat
pada pribadi rawi dalam Shahîh Bukhârî.
Menurut al-Azdi, Usamah lemah haditsnya, dan menurut Abu al-Qasim, Usamah tidak di
kenal identitasnya. Dalam Shahîh Bukhârî ada satu hadits yang diriwayatkan dari
Usamah yaitu dalam kitab al-dzabaih. Ibnu Hajar pernah membaca dalam buku mizan
I'tidal yang ditulis ad-Dzahabi, bahwa Usamah di kenal identitasnya. Imam-imam yang
empat juga meriwayatkan hadits dari Usamah.

Jelaslah dari sini bahwa tuduhan tidak di kenal identitasnya (jahalah) hanya berdasarkan
kriteria majhul sejumlah tokoh hadits yang justru kurang memperoleh pengakuan ilmiah
di banding misalnya dengan adz-Dzahabi. Karena itu, penilaian adz-Dzahabi tentang
Usamah lebih diunggulkan daripada perkataan abu al-Qasim, apabila ditambahkan bahwa
Imam yang empat juga meriwayatkan haditsnya.

Dari contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa kritik-kritik terhadap hadits-hadits Bukhari
pada masa lalu, baik yang ditujukan pada sanad ataupun pribadi rawi tidak dapat
mengurangi derajat atau nilai keotientikan hadits-hadits Bukhari, sebab kritik-kritik itu
bertolak dari kaidah-kaidah yang justru lemah menurut mayoritas ahli-ahli hadits, di
samping hadits-hadits yang di kritik itu hadits-hadits mutabi', yang pencantumannya
dalam Shahîh Bukhârî tidak dimaksudkan sebagai hadits pokok. Karena itu, tepat sekali
komentar kritikus terkemuka masa-masa terakhir Syeh Ahmad Syakir yang menyatakan
bahwa seluruh hadits-hadits Bukhari dan Muslim adalah Shahih. Adapun bantahan-
bantahan yang datang dari ad-Daruquthnî dan yang lainnya itu, hanyalah karena beberapa
hadits Bukhari dan Muslim itu tidak memenuhi persyaratan masing-masing kedua tokoh
hadits itu. Namun, apabla hadits-hadits itu dikembalikan kepada persyaratan ahli-ahli
hadits pada umumnya, maka memang shahih.

Kritik hadits Bukhari masa kini
Meskipun ahli-ahli hadist masa lalu sudah melakukan kritik hadits, baik sanad maupun
matannya. Namun, kalangan orientalis menuduh bahwa para ahli hadits dahulu hanya
mengkritik hadits dari segi sanad atau matannya saja. Sebab banyak hadits yang termasuk
dalam Shahîh Bukhârî yang pada kemudian hari ternyata tidak shahih (otientik) di tinjau
dari segi sosial, politik, sains dan yang lainnya. Karenanya, mereka tidak mengetahui
hasil penelitian ahli-ahli hadits masa lalu. Mereka melihat teori sendiri yang di kenal
dengan "kritik materi hadits". Tersebutlah nama-nama kelompok ini : Ignaz Boldziher,
A.J. Wensinch, Robson, Maurice Bacaille, dan lain-lain. Sedangkan dari kubu orang
Islam terdengar nama Ahmad Amin.

Ignaz Boldziher
Contoh hadits yang di kritik oleh dia adalah hadits yang berasal dari al-Zuhri, di mana
Rasulullah bersabda: "tidak diperintahkn pergi kecuali ke tiga masjid. Masjid alharam
(mekah), masjid rasul (madinah) dan masjid al-aqsa (alquds palestina)".

Hadits ini di babad habis-habisan oleh Ignaz dari segi politik, sehingga ia berkesimpulan
bahwa hadits ini palsu. Menurutnya, Abdul Malik bin Marwan (di Damaskus) merasa
khawatir kalau-kalau Abdullah bin az-Zubair (di Mekkah) mengambil kesempatan untuk
menyuruh orang-orang Syam yang peri ke haji (Makkah) untuk melakukan bai'at
kepadanya. Karenanya, Abdul Malik berusaha agar orang-orang Syam tidak pergi haji ke
Makkah, melainkan cukup ke Kubbah Sakhra di al-Quds (palestina). Untuk mewujudkan
usaha yang bersifat politis ini, Abdul Malik menugaskan al-Zuhri untuk membuat hadits
yang sanadnya bersambung kepada Nabi, di mana umat Islam tidak diperintahklan pergi
kecuali ke tiga masjid itu.

Prof. Dr. Muhamad Mushthafa Azami, ulama kontemporer kebangsaan India, sekarang
Guru Besar Ilmu Hadits di Universitas King Saud Riyadh Saudi Arabia dalam disertasi
Ph.d-nya di Combridge Univercity, Inggris tahun 1976. Diantaranya membantah
pendapat Ignaz, setelah melakukan penelitian secara umum terhadap hadits nabawi.
Menurutnya, teori Ignaz tidak di tunjang oleh argumen dan dalil yang valid, karena tidak
ada bukti-bukti sejarah yang dapat menunjang kebenaran teorinya. Bahkan justru
sebaliknya. Para ahli sejarah berbeda pendapat tentang tahun kelahiran al-Zuhri antara
50-58 H. al-Zuhri belum pernah bertemu dengan Abdul Malik sebelum tahun 81 H.
Palestina, dimana terdapat masjid al-Aqsa, pada tahun 67 H. berada di luar kekuasaan
Abdul Malik dan pada tahun 68 H. orang-orang Bani Umayyah berada di Makkah dalam
urusan haji. Dari sini Azami berkesimpulan bahwa Abdul Malik baru berpikir untuk
membangun Quds Asahra- yang konon sebagai pengganti Ka'bah sesudah tahun 68 H.
apabila demikian halnya, maka al-Zuhri pada saat itu baru berusia antara 10-18 tahun,
karenya tidak logis seorang anak yang berumur belasan tahun sudah populer sebagai alim
di luar daerahnya sendiri. Dimana ia mampu mengalihkan ibadah haji dari Makkah ke
Palestina. Lagi pula pada saat itu di Syam masih banyak terdapat para sahabat dan tabi'in,
sehingga tidak mungkin mereka diam saja melihat kejadian itu.

Kenyataan lain yang membantah teori Ignaz adalah hadits itu sendiri sebagaimana dalam
Shahîh Bukhârî. Di sini tidak ada satu petunjuk pun yang mengisyaratkan bahwa ibadah
haji itu dapat dilakukan di al-Quds, yang ada hanyalah "keistimewaan" yang diberikan
pada masjid al-aqsha. Dan ini wajar saja, karena masjid itu, pernah menjadi kiblat
pertama umat Islam. Ignaz tanpaknya hanya menuduh al-Zuhri sebagai pemalsu hadits,
padahal riwayat itu diriwayatkan pula oleh 18 rawi yan lain (selain al-Zuhri), namum
mereka beruntung tidak di tuduh sebagai pemalsu hadits oleh Ignaz.

Ahmad Amin
Dalam bukunya fajr Islam, Ahmad Amin tidak kepalang-tanggung ikut mengkritik ahli-
ahli hadits, setelah mereka di tuduh hanya lebih memperhatikan sanad. Giliran Imam
Bukhari di hantam secara tersendiri. Kata amin: "kita lihat sendiri sampai dengan Imam
Bukhari, meskipun tinggi reputasi ilmu haditsnya, dan cermat penelitiannya, beliau
menetapkan hadits-hadist yang tidak shahih di tinjau dari segi perkembangan zaman dan
penemuan ilmiah. Karena penelitian beliau hanya terbatas pada sanad saja".

Amin menyebutkan contoh hadits Rasululah Saw bersabda: "seratus tahun lagi tidak ada
manusia yang masih hidup diatas bumi ini". Dalam hadist ini ternyata Amin keliru
memahami maksudnya, sebab, yang di maksud oleh hadits itu bukan sesudah seratus
tahun sejak Nabi mengucapkan hal itu, tidak ada lagi yang hidup di dunia ini. Melainkan
yang di maksud adalah orang-orang yang pada saat itu masih hidup seratus tahun lagi
mereka sudah meninggal dunia. Dan ini memang terbukti demikian. Karenanya hadits itu
termasuk mu'jizat Nabi.

Demikian beberapa contoh tuduhan orientalis dan konconya terhadap hadits-hadits yang
terdapat dalam Shahîh Bukhârî berikut bantahannya. Sehingga tuduhan-tuduhan mereka
dengan tanpa adanya argumen dan dalil yang valid hanya didasari oleh sikap permusuhan
mereka terhadap Islam dan ingin menghancurkannya melalui pilar kedua yaitu as-sunnah
atau al-hadits karena dengan adanya tuduhan-tuduhan tersebut akan berpengaruh
terhadap umat Islam dalam mempercayai al-hadits sebagi sumber syari'at yang kedua
setelah al-Qur'an akan menimbulkan syak (keragu-raguan) tentang keotientikannya dan
yang diharapkan mereka umat Islam meninggalkan as-sunnah yang kemudian lebih jauh
lagi melepaskan al-Qur'an dan Islam itu sendiri. Namun, usaha-usaha mereka itu hanya
sebuah makar yang hanya menghasilkan isapan jempol belaka tanpa hasil yang nyata.

Dengan demikian Shahîh Bukhârî masih tetap kitab yang paling otientik setelah al-Qur'an
dan ini telah dan akan terus disepakati umat Islam sampai hari kiamat. Alur penelitian
yang logis akan menyatakan bahwa seorang yang keliru semakin banyak orang yang
melihatnya semakin banyak pula orang yang menyatakan bahwa ia keliru. Namun, logika
tersebut tidak relevan apabila diterapkan pada pribadi Imam Bukhari. Sebab sejarah
mencatat bahwa Imam Bukhari yang wafat pada abad ke-III itu justru menanjak
reputasinya setelah banyak di kritik pada abad ke-IV. Padahal para ahli hadits mengakui
bahwa abad ke II dan ke IV itu merupakan masa yang matang dengan suburnya karya-
karya ilmiah, terutama dalam bidang hadits.

Guru-guru Imam Bukhari
Sebagaimana diketahui bahwa Imam Bukhari seorang yang sangat cinta ilmu, sehingga
ke mana pun, siapa pun dan di mana pun ia akan cari dan belajar. Oleh karena itu,guru-
guru beliau dalam tolab ilmi, sangat banyak sekali. Lebih dari 1000 orang seperti
ucapannya sendiri "aku menulis dari 1000 orang guru atau lebih".

Sebagaimana disebutkan oleh al-Hafidh Ibn Hajar al-Asqalani, bahwa guru-guru belaiu
itu diklasifikasikan ke dalam lima tabaqat: 1.
yang menerima atau meriwayatkan haditsnya dari tabi'in, misalnya Muhamad bin
Abdullah al-Anshari yang meriwayatkan dari Humaid, abu Nua'im dari Amasy, Maki bin
Ibarhim yang meriwayatkan dari Yazid bin Abi Uba'id dan yang lainnya. 2.
yang semasa dengan mereka pada tingkatan pertama tetapi tidak mendengar dari tabi'in
seperti Adam bin Abi Ias, Said bin Abi Maryam dan yang lainnya. 3.
guru-guru beliau yang pertengahan yaitu yang gtidak bertemu dengan tabi'in, namun
mengambilnya dari tabi-ut 'tabi'in seperti, Sulaiman bin Harb Qutaibah bin Said, Ishaq
bin Rahawah, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, Ali bin al-Madini, Nua'im bin
Hamad dan yang lainnya. 4.
merupakan teman beajar, namun pernah mendengar sesuatu sebelumnya darinya seperti
Muhamad bin Yahya al-Dzahali, Abu Hatan al-Raji Ahmad bin Nazhar dan yang lainnya.
5.
kaum atau golongan orang yang dekat, baik pada waktu belajar atau periwayatan hadits
dan pernah mendengar dari mereka faidah-faidah, seperti Abdullah al-Hamd al-Hamili,
Abdullah bin Abi ash al-Khawanzani dan yang lainnya.
Murid-murid Imam Bukhari
Begitu juga dengan murid-murid beliau sangat sulit membatasi atau menentukan
jumlahnya, karena teramat banyaknya. Namun, seprti yang dikatakan Muhamad bin
Yusuf al-Tarbary yang pernah mendengar (murid) dari Muhamad bin Ismail sebanyak
90.000 orang" Yang paling termasyhur di antaranya : 1. Ibrahim bin Ma'qal al Nasafi, 2.
al-Husain bin Ismail al-Muhamily, 3. Hamad bin Syakur, 4. Saleh bin Muhamad al-
Mulaqqab, 5. Muhamad bin Ishaq bin Khuzamah, 6. Abu Isa Muhamad bin Isa at-
Turmidzi, 7. Muhamad bin Yusuf al-Farbali, 8. Muslim bin al-Hujaj.

Demikian nama guru-guru dan murid-murid dari Imam Bukhari yang kesemuanya
merupakan para pembela dien Islam.

Membaca dan menelaah tokoh sekaliber Imam Bukhari butuh waktu yang lama, sangat
banyak mutiara-mutiara hikmah dan ibroh yang beliau miliki, bukan saja kepribadian
namun juga karya-karyanya yang agung. sebagaimana diungkapkan Ibn Hajar al-
Asqalani dalam hady syarah-nya Imam Bukhari bagaikan lautan yang sangat dalam,
kedalaman dan keluasan ilmunya khususnya hadits, telah dan akan terus dikenang umat
Islam sampai hari kiamat.

Semoga Allah senantiasa memberkati dan merahmatinya, dan semoga kita semua
termotivasi untuk mengikuti langkah serta mendalami segala aktifitasnya sebagai bukti
penghormatan kita terhadap jerih payah dan usaha mulyanya. Inilah tulisan singkat dan
sederhana yang bisa dituangkan penulis, masih banyak kekurangannya sehingga kritik
konstruktif sangat ditunggu. Wallâh-u 'alam bis-shawâb.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadits Universitas Al-Azhar
Kairo. Ketua Umum Keluarga Paguyuban Masyarakat Jawa Barat (KPMJB) Mesir.
Makalah ini pernah dipresentasikan pada acara "Kajian Tokoh Imam Hadits", yang
diadakan oleh Bidang Taklim Forum Silaturahmi Persatuan Islam. Pada hari Rabu, 13
Maret 2002. Di markaz FOSPI.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:250
posted:5/27/2011
language:Malay
pages:17
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl