http
Document Sample


http://khaidirmuhaj.tk
ASKEP KANKER LAMBUNG
A. KANKER LAMBUNG
Kebanyakan kanker lambung terjadi pada kurvaturap kecil atau antrum
lambung dan adenokarsinoma. Diet tampaknya menjadi faktor signifikan, diet tinggi
makanan asap dan kurang buah - buahan dan sayuran dapat meningkatkan risiko
terhadap kanker lambung. Faktor lain yang berhubungan dengan insiden kanker
lambung mencakup inflamasi lambung, anemia pernisiosa, aklorhidria (tidak adanya
asam hidroklorida), ulkus lambung, bakteri H. pylori , dan keturunan. Prognosisnya
buruk, kebanyakan pasien telah mengalami metastase pada waktu didiagnosis.
Manifestasi Klinis
Gejala awal dari kanker lambung sering tidak pasti karena kebanyakan
tumor ini dimulai di kurvatura kecil, yang hanya sedikit menyebabkan gangguan
fungsi lambung. Pada tahap awal kanker lambung, gejala mungkin tidak ada.
Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa gejala awal seperti nyeri yang
hilang dengan antasida, dapat menyerupai gejala pada pasien dengan ulkus
benignan gejala penyakit progresif dapat meliputi tidak dapat makan, anoreksia,
dispepsia, penurunan berat badan, nyeri abdomen, konstipasi, anemia, dan mual serta
muntah.
Evaluasi Diagnostik
Pemeriksaan fisik biasanya tidak membantu, kebanyakan tumor
lambung tidak dapat diraba. Asites muncul bila terdapat metastasis pada hepar.
Endoskopi untuk biopsi dan pencucian cytologis adalah pemeriksaan diagnostik
umum. Pemeriksaan sinar-x terhadap saluran gastrointestinal atas dengan barium
juga dilakukan karena metastase sering terjadi sebelum tanda peringatan ada.
Pemindai tomografi komputer, pemindai tulang dan pemindai hepar dilakukan
dalam menentukan luasnya metastasis.
Penatalaksanaan Medis
Tidak ada pengobatan yang berhasil menangani carsinoma lambung
kecuali mengangkat tumornya. Bila tumor dapat diangkat ketika masih
terlokalisasi di lambung pasien cepat sembuh. Bila tumor telah menyebar ke area
1
http://khaidirmuhaj.tk
lain yang dapat di eksisi secara bedah, penyembuhan tidak dapat dipengaruhi.
Pada kebanyakan pasien ini, paliasi efektif untuk menyegah gejala seperti
obstruksi dapat diperoleh dengan reseksi tumor.
Bila gastrektomi sub total radikal dilakukan puntung lambung di
anastomosiskan pada jejenum. Seperti pada gastrektomi untuk ulkus. Bila ada
metastasis pada organ vital lain, seperti hepar, pembedahan dilakukan terutama
untuk tujuan paliatif dan bukan radikal. Pembedahan paliatif dilakukan untuk
menghilangkan gejala obstruksi atau disfagia.
Proses Keperawatan
Pra Operatif
- Riwayat diet dari pasien.
- Penurunan berat badan.
- Apakah pasien merokok?
- Apakah pasien mengeluh ketidaknyamanan lambung selama atau setelah
merokok?
- Apakah pasien minum alkohol?
- Riwayat keluarga.
- Observasi adanya asites, nyeri tekan atau massa pada organ lain.
Diagnosa Keperawatan
- Ansietas berhubungan dengan penyakit dan pengobatan yang diantisipasi.
- Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan
anoreksia.
- Nyeri, berhubungan dengan adanya sel epitel abnormal.
- Berduka dianisipasi berhubungan dengan diagnosis kanker.
- Kurang pengetahuan tentang aktivitas perawatan diri.
Intervensi Keperawatan
- Menurunkan ansietas
- Meningkatkan nutrisi optimal
- Mengurangi nyeri
- Emberikan dorongan psikososial
- Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah.
2
http://khaidirmuhaj.tk
Evaluasi
1. Sedikit mengalami ansietas.
a. mengekspresikan rasa takut dan asalah tentang pembedahan.
b. Mencari dukungan emosi.
2. Mendapatkan nutrisi yang optimal
a. Makan makanan porsi kecil dan sering yang tinggi kalori, besi dan vitamin
A dan C.
b. Mendapatkan nutrisi enteral dan parenteral sesuai kebutuhan.
3. Sedikit mengalami nyeri.
4. Melakukan aktivitas perawatan diri dan menyesuaikan dengan perubahan gaya
hidup.
a. Melakukan kembali aktivitas normal dalam 3 bulan.
b. Mengubah periode istirahat dan aktivitas.
c. Mengatur pemberian makan per selang.
Pasca Opratif
Diagnosa dan Intervensi Keperawatan:
1. Nyeri berhubungan dengan insisi bedah.
Intervensi:
- Berikan analgesik sesuai program.
- Tingkatkan tindakan mengubah posisi dengan sering untuk kenyamanan
dan mencegah komplikasi paru dan vaskuler.
- Tunda cairan oral sampai diprogramkan.
- Gunakan penghisap lambung untuk menghilangkan cairan, darah, dan gas
dari lambung.
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan syok atau hemoragi.
Intervensi:
- Pantau terhadap adanya tanda-tanda hemoragi.
- Kaji pasien terhadap tanda-tanda syok.
3. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan prosedur
bedah.
3
http://khaidirmuhaj.tk
Intervensi:
- Berikan cairan intravena sesuai program.
- Berikan cairan oral sesuai program.
- Tingkatkan cairan sesuai toleransi pasien.
- Pertahankan suplemen besi dan terapi vitamin sesuai program.
- Hindari makanan yang dapat menimbulkan sindrom dumping; dorong
jumlah lemak sedang, rendah karbohidrat.
- Berikan suplemen enteral atau nutrisi parenteral sesuai program.
4. Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan insisi bedah.
Intervensi:
- Kaji luka terhadap tanda dan gejala infeksi.
- Kaji abdomen terhadap tanda peritonitis: nyeri tekan, kekakuan, distensi.
- Berikan antibiotik profilaktik sesuai program.
5. Potensial ketidakpatuhan dengan program pengobatan berhubungan dengan
menyangkal.
Intervensi:
- Bantu pasien untuk mengubah adanya strees lingkungan.
- Dorong pasien untuk tetap dalam pengawasan perawatan kesehatan.
- Hubungkan dengan sumber-sumber untuk membantu pasien mengahadapi:
petugas kesehatan di rumah, rohaniawan, psikiater, praktisi perawat.
Evaluasi Hasil:
1. Mengalami sedikit ansietas-mengekspresikan rasatakut dan keprihatianan
tentang pembedahan.
2. Mendemonstrasikan pengetahuan tentang program pasca operatif dengan
mendiskusikan prosedur pembedahan dan program pasca operatif.
3. Mendapatkan nutrisi yang optimal:
a. Mempertahankan berat badan pada batas normal.
b. Tidak mengalami diare berlebihan.
4. Mendapatkan tingkat kenyamanan yang optimal.
5. Mematuhi kebutuhan perawatan dirumah.
4
http://khaidirmuhaj.tk
Pencegahan Dini Untuk Kanker Lambung
Kanker menjadi penyakit yang jamak didengar saat ini. Salah satuynya kanker lambung atau
gastric cancer yang menyerang orang pada usia 50-60 tahun dengan perbandingan antara pria
dan wanita 3:1.
Kanker lambung disebabkan oleh dua hal,karena faktor keturunan dan pola hidup yang tidak
sehat seperti ,stress,
serta mengkonsumsi mengkonsumsi makanan yang diawetkan
dan tidak sadar bahwa makanan tersebut dapat berjamur dalam jangka waktu yang lama.
Untuk orang yang riwayat keluarganya menderita penyakit lambung atau kanker
lambung,disarankan untuk medical chek up secara rutin. Atrophic gastritis,polip di lambung dan
penyakit kronis lambung menjadi hal yang patut diwaspadai karena itu merupakan tanda awal
perubahan kanker. Jadi yang sudah mengetahui pola hidupnya tidak sehat , sebaiknya mulai rutin
mengkonsumsi makanan dengan gisi berimbang serta berusaha meminimalkan stress. Salah satu
sifat penyakit ini adalah mudah menyebar dan kambuh kembali.Untuk itu,pencegahan dini
dengan diagnosa sedini mungkin menjadi langkah yang tepat untuk mencegah penyebaran sel
kanker.
Pada stadium awal,gejala kanker lambung adalah perut bagian atas tidak sehat,sakit perut,
tidak ada selera makan,
mual,muntah. Sementara gejala dari kanker lambung stadium akhir adalah berat badan menurun,
anemia dan pendarahan.
Diagnosa untuk kanker lambung diantaranya dengan USG,CT-scan untuk melihat area
penyebaran ke organ lain, pemeriksaan darah dengan tumor marker seperti CEA,FSA,dan GCA.
Adapula diagnosa lain seperti fiber endoscopy yang dibarengi dengan pemeriksaan biopsi, yang
dapat mendiagnosa kanker lambung.
Dokter akan mempertimbangkan penyakit ini berdasarkan posisi letak tumor.pathology jenis
tumor,pembagian stadium, dan kondisi stamina pasien untuk memutuskan rencana pengobatan.
Metode pengobatan yang biasa dipakai untuk membantu mengatasi kanker lambung adalah
dengan operasi dan kemoterapi. Operasi bisa diterapkan apabila pasien bisa memiliki daya tahan
yang baik terhadap efek operasi,umumnya untuk penderita di stadium awal atau sedang.
Untuk mengatasi kanker lambung,yang mutlak dilakukan adalah pencegahan dan diagnosa
dini,menerapkan metode pengobatan gabungan ilmiah,serta tak lupa usaha dari dokter danpasien.
KANKER LAMBUNG: TAK DAPAT DIOPERASI, BAGAIMANA TERAPINYA?
Untuk kanker lambung stadium awal yang hanya terbatas
pada mukosa atau submukosa, operasi hasilnya baik
sekali, angka survival 5 tahun mencapai 80% lebih.
Tapi untuk kanker lambung stadium sedang dan lanjut
progresif, angka survival 5 tahun dengan operasi hanya
11,5%. Dengan kata lain, untuk kanker lambung stadium
sedang dan lanjut terapi operasi belum tentu berguna.
Bagaimana terapi kanker lambung yang tidak dapat atau
tidak sesuai dioperasi? Terutama adalah: (1) kanker
lambung stadium sedang dan lanjut progresif, kanker
sudah menginfiltrasi lapisan otot dinding lambung,
berlekatan atau menginvasi organ sekitarnya, terdapat
metastasis ke kelenjar limfe regional; (2) walaupun
lesinya kecil, tapi terdapat metastasis jauh; (3)
kekambuhan pasca operasi kanker lambung; (4) kakeksia,
sudah metastasis luas; (5) pasien yang tidak
menghendaki dioperasi.
Terhadap pasien kanker lambung yang tidak dapat atau
tidak ingin dioperasi, selain kemoterapi konvensional,
dapat diambil tindakan berikut:
1. Terapi endoskopik: sering kali dengan endoskopi
disuntikkan obat kemoterapi, atau dengan gelombang
mikro, laser membakar kanker. Obat kemoterapi yang
disuntikkan dapat dipilih FU, MMC, BLM, CCNU, dll.
2. Terapi fotodinamik: untuk sebagian pasien kanker
lambung stadium dini yang karena usia lanjut,
komplikasi penyakit lain hingga tidak dapat atau tidak
ingin dioperasi, metode ini merupakan pilihan pertama.
Dari Jepang dilaporkan 19 pasien diterapi dengan cara
ini, 60% pasien sembuh. Amerika Serikat melaporkan 13
kasus kanker lambung dini diterapi dengan cara ini, 11
kasus (85%) dalam 6 tahun tidak kambuh. Jepang
melaporkan lagi 8 kasus kanker lambung dini dengan
terapi ini, 7 kasus kankernya bersih total. Terhadap
kanker lambung progresif metode ini juga memiliki
nilai tertentu. 39 kasus kanker lambung yang tidak
dapat dioperasi atau kambuh, setelah diterapi 52%
pasien lesinya mengecil, keluhan membaik.
3. Injeksi obat kemoterapi atau/dan embolisasi ke
dalam arteri gastrika: kateterisasi arteri gastrika
dan injeksi satu atau beberapa jenis obat antitumor,
serta dengan minyak iodisasi mengoklusi arteri pemasok
jaringan kanker, dapat membuat lesi kanker nekrosis.
4. Imunoterapi kanker lambung: pasien kanker lambung
memiliki cacat fungsi imunitas, kemampuan membunuh sel
kanker berkurang, maka kondisi imunitas pasien harus
diperbaiki. Obat yang sering digunakan adalah
interleukin-2, struktur dinding sel aktinomises Rubra
(N-CWS), OK-432, Sizofilan (APG), sediaan filtrat S.
aureus, polisakarid Polystictin, lentinan, polisakarid
Polyporus, levamisol, 汐-interferon, faktor nekrosis
tumor dll. juga dapat menggunakan sel pembunuh yang
diaktivasi limfokin (LAK) dan limfosit infiltrasi
tumor (TIL) untuk imunoterapi sekunder; vaksen tumor
sel dendritik dinilai memiliki prospek yang baik.
5. Herba China: pengalaman empiris membuktikan terapi
herba China dapat memperpanjang survival pasien. Pakar
China memakai herba yang bersifat &jianpiyiqi*
(penguat limpa dan energi), &fuzhengguben* (penguat
daya tahan tubuh), &qingrejiedu* (pembersih panas
penawar racun), membentuk sediaan &fuzhengkangai*
(penguat ketahanan tubuh antikanker). Herba yang
digunakan mencakup dangshen (radiks Codonopsitis
pilosulae), baizhu (rizoma Atractylodis
macrocephalae),
xianhecao (herba Agrimoniae pilosae),
buguzhi (fruktus Psoraleae corylifoliae), shenghuangqi
(radiks Astragali membranaceus), shengmiren (semen
Coicis), sheshicao (herba Hedyotis diffusae), baiying
(herba Solani lyrati), tufuling (sklerotium Poria
cocos), shijianchuan (herba Salviae chinensis), zaoxiu
(rizoma Paridis), gancao (radiks Glycyrrhizae
uralensis), dll. Obat-obatan itu dikombinasikan dengan
kemoterapi untuk terapi 249 pasien kanker lambung
stadium lanjut, 161 di antaranya sudah dioperasi
paliatif, 88 pasien tidak dapat dioperasi. Hasilnya
ternyata pasien yang belum pernah dioperasi setelah
mendapat terapi gabungan medis Barat-China memiliki
angka survival 1, 2, 3 tahun masing-masing 73,33%,
53,33% dan 23,33%, sedangkan pada kelompok kemoterapi
saja survival 1, 2, 3 tahun adalah masing-masing
40,6%, 23,33% dan 3,33%, maka terapi gabungan medis
Barat-China lebih unggul dari kemoterapi semata.
6. Terapi antiangiogenesis: Avastin dapat menghambat
neovaskularisasi tumor. Kami memakainya mengobati 7
kasus kanker lambung stadium lanjut, 5 kasus efektif,
di antaranya satu kasus dengan metastasis luas ke hati
setelah mendapat terapi sebagian besar tumornya
lenyap.
7. Terapi kombinasi: sesuai kondisi pasien, beberapa
jenis terapi di atas digunakan secara kombinasi,
efektivitas dapat ditingkatkan. Pada pasien kanker
lambung dengan metastasis ke hati, dapat dikerjakan
dulu kemoembolisasi arteri gastrika dan/ atau terapi
fotodinamik, setelah lesi di lambung mengecil barulah
dioperasi. Sedangkan metastasis di hati dapat diterapi
dengan krioablasi argon-helium. Kami telah menggunakan
terapi kombinasi ini atas 12 pasien, 9 pasien hasilnya
memuaskan.
C. APENDISITIS
Apendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm
(4 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Apendiks berisi
makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena
pengosongannya tidak efektif, dan lumennya kecil, apendiks cenderung tersumbat
dan terutama rentan terhadap infeksi (apendisitis).
Apendisitis adalah inflamasi apendiks vermiformis yang disebabkan oleh
obstruksi akibat infeksi, struktur massa fekal, benda asing atau tumor. Apendisitis
dapat mengenai semua kelompok usia, tetapi paling umum pada pria usia 10 sampai
30 tahun.
Patofisiologi
Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat terlipat
atau tersumbat, kemungkinan oleh fekalit (massa keras dari feses), tumor, atau
benda asing. Proses inflamasi meningkatkan intraluminal, menimbulkan nyeri
abdomen atas atau menyebar hebat secara progresif, dalam beberapa jam,
terlokalisasi di kuadran kanan bawah dari abdomen. Akhirnya, apendiks yang
terinflamasi berisi pus.
Manifestasi Klinis
Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam ringan,
mual,dan hilang nafsu makan. Nyeri tekan lokal pada titik McBuney bila
dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari yeri bila
tekanan dilepaskan) mungkin dijumpai. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan
apakah terdapat konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan
lokasi apendiks.
Bila apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri dapat
terasa di daerah lumbar; bilaujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini dapat
diketahui hanya pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan
ujung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan pada
bagian bawah otot rektus kanan dapat terjadi.
Tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi kuadran
bawah kiri, yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran
5
http://khaidirmuhaj.tk
kanan bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi lebih menyebar;
distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik, dan kondisi pasien memburuk.
Penyebab
Penyebab apendisitis belum sepenuhnya dimengerti. Pada kebanyakan
kasus, peradangan dan infeksi usus buntu mungkin didahului oleh adanya
penyumbatan di dalam usus buntu. Bila peradangan berlanjut tanpa pengobatan,
usus buntu bisa pecah Usus buntu yang pecah bisa menyebabkan:
- Masuknya kuman usus ke dalam perut, menyebabkan peritonitis, yang bisa
berakibat fatal.
- Terbentuknya abses.
- Pada wanita, indung telur dan salurannya bisa terinfeksi dan menyebabkan
penyumbatan pada saluran yang bisa menyebabkan kemandulan
- Masuknya kuman ke dalam pembuluh darah (septikemia), yang bisa berakibat
fatal.
Evaluasi Diagnostik
Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan fisik lengkap dan tes
laboratorium dan sinar-x. Hitung darah lengkap, akan menunjukkan peningkatan
jumlah sel darah putih, jumlah leukosit mungkin lebih besar dari 10.000/mm3.
Dan pemeriksaan ultrason dapat menunjukkan densitas kuadran kanan bawah atau
kadar aliran-udara terlokalisasi.
Penatalaksanaan Medis
Pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis telah ditegakkan.
Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai pembedahan dilakukan. Analgesik
dapat diberikan setelah diagnosa ditegakkan.
Intervensi Perawatan
Tujuan keperawatan mencakup menghilangkan nyeri, mencegah
kehilangan volume cairan, mengurangi anxietas, menghilangkan infeksi karena
potensial atau gangguan aktual saluran gastrointestinal. Mempertahankan
integritas kulit dan mendapatkan nutrisi yang optimum.
1. Pada praoperatif
- Perawat menyiapkan pasien untuk pembedahan.
6
http://khaidirmuhaj.tk
- Pemasangan infus IV untuk meningkatkan fungsi ginjal yang adekuat dan
menggantikan cairan yang hilang.
- Aspirin diberikan untuk mengurangi peningkatan suhu.
- Terapi antibiotik dapat diberikan untuk mencegah infeksi.
- Selang nasogasrtik dapat dibasang jika terdapat bukti atau kemungkinan
terjadi ileus paralitik.
- Enema tidak diberikan karena dapat menimbulkan perforasi.
2. Pada Pasca Operatif
- Pasien ditempatkan pada posisi semi fowler.
- Opioid, biasanya sulfat morfin diberikan untuk menghilangkan nyeri.
- Cairan peroral biasanya diberikan bila mereka dapat mentoleransi.
- Pasien yang mengalami dehidrasi sebelum pembedahan diberikan cairan
secara intravena.
- Makanan dapat diberikan sesuai keinginan pada hari pembedahan bila
dapat ditoleransi.
- Penyuluhan saat pulang untuk pasien dan keluarga sangat penting.
- Rawat jalan.
- Apabila terdapat kemungkinan peritonitis, drain diibiarkan ditempat insisi.
- Pemantauan ketet terhadap pasien pasca operasi.
- Perawatan luka operasi.
7
http://khaidirmuhaj.tk
DAFTAR PUSTAKA
Nettina M. Sandra, 2001, “Pedoman Praktik Keperawatan”. Jakarta.
Smeltzer and Brenda, 2002,”Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”. Penerbit Buku
Kedokteran:EGC.
8