Upacara Adat Perkawinan Aceh

Document Sample
Upacara Adat Perkawinan Aceh Powered By Docstoc
					Upacara Adat
Perkawinan Aceh

Written by Administrator
Friday, 24 April 2009 16:10
Upacara Adat Perkawinan Aceh terdiri dari beberapa tahapan-tahapan yaitu:
Tahapan melamar (Ba Ranup)


Ba Ranup merupakan suatu tradisi turun temurun yang tidak asing lagi dilakukan dimana pun
oleh masyarakat Aceh, saat seorang pria melamar seorang perempuan. Untuk mencarikan jodoh
bagi anak lelaki yang sudah dianggap dewasa maka pihak keluarga akan mengirim seorang yang
dirasa bijak dalam berbicara (disebut theulangke) untuk mengurusi perjodohan ini. Jika
theulangke telah mendapatkan gadis yang dimaksud maka terlebih dahulu dia akan meninjau
status sang gadis. Jika belum ada yang punya, maka dia akan menyampaikan maksud melamar
gadis itu.


Pada hari yang telah disepakati datanglah rombongan orang-orang yang dituakan dari pihak pria
ke rumah orangtua gadis dengan membawa sirih sebagai penguat ikatan berikut isinya. Setelah
acara lamaran selesai, pihak pria akan mohon pamit untuk pulang dan keluarga pihak wanita
meminta waktu untuk bermusyawarah dengan anak gadisnya mengenai diterima-tidaknya
lamaran tersebut.


Tahapan Pertunangan (Jakba Tanda)


Bila lamaran diterima, keluarga pihak pria akan datang kembali untuk melakukan peukeong haba
yaitu membicarakan kapan hari perkawinan akan dilangsungkan, termasuk menetapkan berapa
besar uang mahar yang diterima (disebut jeunamee) yang diminta dan berapa banyak tamu yang
akan diundang. Biasanya pada acara ini sekaligus diadakan upacara pertunangan (disebut jakba
tanda).


Pada acara ini pihak pria akan mengantarkan berbagai makanan khas daerah Aceh, buleukat
kuneeng dengan tumphou, aneka buah-buahan, seperangkat pakaian wanita dan perhiasan yang
disesuaikan dengan kemampuan keluarga pria. Namun bila ikatan ini putus di tengah jalan yang
disebabkan oleh pihak pria yang memutuskan maka tanda emas tersebut akan dianggap hilang.
Tetapi kalau penyebabnya adalah pihak wanita maka tanda emas tersebut harus dikembalikan
sebesar dua kali lipat.


Pesta Pelaminan


Pesta pelaminan dilakukan setelah melangsungkan pernikahan antara sang calon pengantin laki-
laki dengan pengantin perempuan, hal ini suatu tradisi atau kebiasaan yang tidak pernah hilang di
dalam kultur budaya Aceh Pidie.


Tueng Dara Baroe


Tueng dara baroe adalah suatu hal yang dilakukan oleh pihak laki-laki dengan kata lain adalah
penjemputan secara hukum adat atau dalam tradisi Aceh.


Tueng Lintoe Baroe


Tueng Linto baroe adalah suatu hal yang dilakukan oleh pihak perempuan dengan kata lain
adalah penjemputan secara hukum adat atau dalam tradisi Aceh.
Referensi: www.acehpedia.org

Upacara Meunineum

Written by Administrator
Friday, 24 April 2009 16:02
Upacara Meunineum atau biasa di sebut juga upacara Keumaweueh adalah upacara adat dari
Aceh. Nama yang cukup aneh saya rasa. Pada waktu hamil pertama seorang istri, yang
dinamakan Meutijeuem, sampai pada waktu hamil 5 bulan, oleh pihak orang tua perempuan yang
hamil tersebut diadakan sedikit kenduri dengan disertai nasi ketan dan dipanggil ahli famili dari
pihak istri yang hamil. Setelah ahli famili dari pihak istri berkumpul, maka diadakan upacara
basuh Kepala (Rhah Ulee). Kedua-dua laki istri, dengan sedingin-setawarkan (Peusijuek) dengan
beras padi, yang dilakukan oleh ibu dan ahli famili dari perempuan yang sedang hamil.


Selanjutnya oleh pihak ibu perempuan yang hamil tersebut diantarkan nasi ketan tadi kepada
pihak orang tua suami dari perempuan yang sedang hamil tersebut, sebagai pertanda atau sebagai
ganti membari kabar, bahwa anak perempuannya telah berada dalam keadaan hamil 5 bulan.
Oleh pihak ibu (orang tua) si suami, nasi ketan yang diterima dari orang tua perempuan
(besannya) dibagi-bagikan kepada ahli famili dari pidak si suami, untuk menyatakan bahwa
menantunya yang perempuan telah hamil 5 bulan, yaitu suapaya diketahui oleh ahli famili.
Barulah setelah itu, pihak orang tua dari si suami beserta ahli famili mengantarkan makanan dan
buah-buahan kerumah menantunya yang sedang hamil, yang disebut Meunieum.


Upacara meunieum ini ada juga dilakukan sewaktu seorang istri hamil setelah 7 bulan. Bahan
makanan yang dibawa oleh pihak orang tua si suami ialah Bu Kulah yaitu nasi putih yang
dibungkus dengan daun pisang berbentuk Piramid di dalam hidang, bu leukat (nasi ketan) untuk
peusunting meunantu yang sedang hamil, disertai Ayam Panggang dan Tumpou. Lauk pauk nasi
ialah Ikan, Daging yang dimasak berbagai macam, Telur Ayam dan Telur Itik rebus, Jreuk dan
lain-lain masakan yang disusun di dalam hindang berlapis-lapis (hiding meulampoh).


Buah-buahan yang dibawa ialah segala macam buah-buahan yang ada, termasuk buah-buahan
untuk rujak (seunicah) sebanyak satu keranjang besar. Selain itu juga ada dibawa kue-kue
(Peunajoh) basah dan kering. Maksud tujuan dari upacara adat Meunineum ini pada mulanya
ialah lebih menguatkan rasa persaudaraan antara kedua belah pihak (suami-istri) dan utnuk lebih
menguatkan silaturrahmi antara sesame ahli famili. Makanan yang dibawa ini dibagi-bagikan
juga kepada famili pihak istri.
Pakaian Adat Aceh

Written by Administrator
Tuesday, 21 April 2009 19:57
Aceh sebagai salah satu Daerah Istimewa di Indonesia ternyata memiliki banyak keunikan
budaya. Salah satunya adalah pada pakaian tradisional. Aceh memiliki banyak jenis pakaian
                                            tradisional yang cukup unik saya rasa. Jenis-jinis
                                            pakaian adat Aceh dibagi berdasarkan status sosial
                                            dalam masyarakat. Duh, sadis juga yah… Ok, kita
                                            bahas aja langsung.
                                            Jenis-jenis pakaian adat Aceh Barat
                                            Pada masa larnpau pelapisan status sosial yang ada di
                                            masyarakat menyebabkan busana-busana adat Aceh
                                            Barat tampil dalam beberapa variasi yaitu pakaian :
                                            1.        Ulee Balang untuk raja beserta keluarganya
                                            2.        Ulee Balang Cut dan Ulama
                                            3.        Patut-patut (pejabat negara), tokoh
                                            masyarakat clan cerdik pandai
                                            4.        Rakyat jelata
                                             Dimasa kini walaupun masih ada aspresiasi dari
                                            masyarakat , khususnya terhadap para pemegang gelar
kebangsawanan atau jabatan masa lalu, pelapisan sosial berikut- tatabusananya sudah amat
jarang ditemui. Busana yang menonjol dewasa ini adalah yang dikenakan pada upacara adat
perkawinan, khususnya akibat munculnya kembali apresiasi terhadap budaya ash daerah akhir-
akhir ini.
Busana adat perkawinan - Linto Baro
Linto Baro, mempelai pria mengenakan perangkat busana yang pada hakekatnya terdiri.dari
tutup kepala, baju, celana, kain sarung, senjata, sepatu clan hiasan-hiasan aksesoris lain.
Tutup kepala adalah meukutop dililit oleh tengkulok clan tompok dari emas. Tangkulok terbuat
dari kain tenunan, sedangkan tampok (tampuk) berupa hiasan berbentuk binatang persegi 8,
bertingkat clan terbuat dari logam mulia atau sepuhannya.
Baju, atau dalam bahasa daerah baje, berupa jas terbuka berkancing dua, disebut baje kot dengan
hiasan-hiasan kecemasan pada krah yakni sulu bayung. Disaku baju disematkan rantai emas
berujung arloji. Dibagian dalam baju dikenakan kemeja tangan panjang berwarna putih. Gaya
baje lainnya adalah berbentuk jas tutup berkancing lima. Hiasan sulu bayung tersemat di dada
membentuk huruf v, lengkap dengan rantai arloji. Gaya baje ini tidak berbaju dalam putih
sebagaimana pada baje jas terbuka.
Celana dalam bahasa daerah disebut siluweue, berbentuk runcing kebawah, terbuat dari kain wol
                                                  serupa dengan baju (jas). Sarung, istilah
                                                  daerahnya adalah ija krong, terbuat dari sutera
                                                  dalam teknik songket, umumnya dengan warna
                                                  dasar gelap.
                                                  Senjata yang disandang adalah rencong atau
                                                  siwah berkepala emas atau perak yang berukir
                                                  clan bertahtakan permata.
                                                  Sepatu, berwarna hitam sedangkan aneka
                                                  aksesoris terbuat dari emas antara lain talo
                                                  takue, sejenis kalung pada leher.


                                                  Perhiasan pada bagian kepala meliputi sunting-
                                                  sunting keemasan yang amat dekoratif clan
                                                  terdiri atas berbagai bentuk flora yang disebut
                                                  culok. Culok Dara Baro, mempelai wanita,
                                                  memakai perangkat busana yang lebih rumit
                                                  dari mempelai pria, mulai dari berbagai
perhiasan kepala, baju, celana, kain sarung, selendang, tali pinggang serta aksesoris aksesoris
lainnya pada leher dan jari ini memiliki namanya masing-masing seperti culok ok bungong, got-
got, bungong sunting clan sisir. Selain itu ada juga hiasan bunga-bungaan asli, bungong pekan,
seperti bungan jeumpa, bungong seulango clan sebagainya. Pada telinga terpasang subang
subang besar yang bertatahkan permata subang meukundam walaupun dewasa ini sudah amat
jarang dipakai dan diganti dengan kerabu.
Dahi dihiasi phatam doi, berbentuk mahkota melingkar dari kiri kekanan terbuat dari emas
berukir.
Baju terbuat dari kain bermutu, biasanya sutera, berlengan panjang dalam pilihan warna kuning,
merah, hijau atau lembayung. Warna kuning biasanya dikenakan oleh keturunan bangsawan.
Kancing baju terbuat dari emas atau perak, terletak pada lengan clan bagian dada. Kalung
tergantung pada leher yaitu talo taku boh aron, talo gulee clan lain-lainnya, terbuat dari emas.
Selain itu terdapat pula simplah,sejenis perhiasan
berbentuk bintang yang terangkai oleh rantai dan digantung pada kedua pundak dalam posisi
tersilang didada dan kebelakang. Celana terbuat dari sutera, berwarna hitam atau lembayung
tidak serupa dengan warna baju. Istilah Aceh Barat untuk celana ini adalah siluweue
meutunyong, berbentuk lurus dengan sulaman terbuat dari kain berwarna merah.
Kain sarung yang dipakai ada kain ija plang dan ija lunggi, yang dililit di luar baju dari pinggang
sampai sejengkal di atas ujung celana sehingga hiasan pada celana masih tampak. Tali pinggang,
sebagai pengikat kain sarung disebut talo kiing mue ulee terbuat dari emas atau perak.
Hiasan pada lengan dan dahi adalah gelang meupeuta, pucok, puta awe, berbentuk bulat, dari
emas, perak atau suasa. Sedang jari-jemari tangan dihiasi cincin emas berbagai jenis bertatahkan
intan berlian.
BUSANA ADAT GAYO
Wilayah "asal" sukubangsa Gayo terletak di bagian tengah daerah propinsi Daerah Istimewa
Aceh. Mereka pendukung suatu kebudayaan yakni kebudayaan Gayo. Kebudayaan ini masih bisa
dilihat dalam tiga variasi, yakni variasi kebudayaan Gayo Lut, Gayo Deret (Gayo Luwes), dan
Gayo Serbejadi. Dewasa ini jumlah keseluruhan pendukung kebudayaan ini diperkirakan sekitar
300 ribu jiwa.
Di masa silam orang Gayo pernah mengenal bahasan busana dari kulit kayu nanit, hasil tenunan
sendiri dari bahan kapas, dan bahan kain yang didatangkan dari luar daerah Gayo. Periode
pemakaian nanit sudah jauh dari ingatan orang sekarang, yang konon dipakai pada masa-masa
sulit di zaman kolonial Belanda atau masa sebelumnya. Kegiatan bertenun pun sudah lama tak
tampak dalam kehidupan mereka, kecuali pada masa pendudukan balatentara Jepang di mana
kehidupan serba sulit. Busana yang diperkenalkan di sini dibatasi pada busana sub kelompok
Gayo Lut yang berdiam di Kabupaten Aceh Tengah. Uraian tentang busana atau pakaian ini
termasuk unsur perhiasan atau assesorisnya yang dikenakan dalam rangka upacara perkawinan,
karena di luar upacara itu tidak tampak . adanya ciri busana khas Gayo, lebih-lebih pada zaman
masa belakangan ini.
Unsur-unsur pakaian pengantin wanita adalah baju, kain sarung pawak, dan ikat pinggang
ketawak. Unsur-unsur perhiasan adalah mahkota sunting, sanggul sempol gampang, cemara,
lelayang yang menggantung di bawah sanggul, ilung-ilung, anting-anting subang gener clan
subang ilang, yang semuanya itu ada di seputar kepala. Di bagian leher tergantung kalung
tangang terbuat dari perak atau uang perak tangang ringit dan tangang birah-mani; clan belgong
yang merupakan untaian manik-manik. Kedua lengan sampai ujung jari dihiasi dengan
bermacam-macam gelang seperti ikel, gelang iok, gelang puntu, gelang berapit, gelang bulet,
gelang beramur, topong, dan beberapa macam cincin sensim belah keramil, sensim genta, sensim
patah paku, sensim belilit, sensim keselan, sensim ku I. Bagian pinggang selain ikat pinggang
dari kain ketawak, masih ada tali pinggang berupa rantai genit rante; clan di bagian pergelangan
kaki ada gelang kaki. Unsur busana lain yang sangat penting adalah upuh ulen-ulen selendang
dengan ukuran relatif lebar.
Pengantin pria mengenakan bulang pengkah, yang sekaligus berfungsi tempat menancapkan
sunting. Unsur lain adalah baju putih, tangang, untaian gelang pada lengan, cincin, kain sarung,
genit rante, celana, ponok yakni semacam keris yang diselipkan di pinggang.
Sanggul sempol gampang dengan bentuk tertentu sempol gampang bulet dipakai pada saat akad
nikah, dan ada bentuk lain sempol gampang kemang yang dipakai selama 10 hari setelah akad
nikah. Sunting yang semacam mahkota itu merupakan susunan perca kertas minyak warna-warni
sebagai simbol kebesaran atau keanggunan. Baju pria dan wanita clan celana pria biasanya
berwarna hitam. Sedangkan kain sarung adalah semacam songket yang disebut upuh kerung
bakasap.
Unsur pakaian yang diberi hiasan adalah upuh ulen-ulen, baju wanita baju kerawang, clan
ketawak. Motif-motif hiasan yang selalu muncul pada ketiga unsur pakaian ini adalah: mun
berangkat atau mun beriring (awan berarak), pucuk rebung (pucuk rebung), puter tali (pilin
berganda), peger (pagar), matan lo (matahari), Wen (bulan). Motif mun berangkat merupakan
simbol kesatuan atau kesepakatan; pucuk rebung bermakna ikatan yang teguh; puter tali
bermakna kerukunan atau saling tenggang; peger bermakna ketahanan clan ketertiban; matan lo
dan ulen adalah kekuatan yang menyinari alam semesta termasuk manusia itu sendiri.
Motif-motif di atas dijahitkan dengan benang berwarna putih, merah, kuning, dan hijau pada
latar warna hitam pada selendang upuh ulen-ulen. Kecuali motif matahari clan bulan, motif-motif
lainnya dituangkan pula pada baju wanita dengan latar hitam. Motif pada stagen ketawak berlatar
kain warna merah muda atau merah bata. Belakangan latar kain tempat menuangkan motif tadi
menjadi sangat bervariasi, tergantung pada selera penjahitnya, misalnya biru, kuning, merah,
coklat clan lain-lain. Unsur pakaian itu bukan lagi untuk suatu upacara adat seperti perkawinan,
tetapi dipakai dalam upacara yang bersifat resmi lainnya. Perkembangan ini ada kecenderungan
sebagai memperkuat identitas atau kebanggaan etnik. Pakaian semacam itu dipakai para pejabat
dalam menerima tamu terhormat yang datang dari luar daerah, misalnya menteri. Tamu
terhormat itu pun disambut penari yang menggunakan "baju adat" baju ketawang dengan
berselimut upuh ulen-ulen tadi. Biasanya tamu terhormat atau tamu - agung itu diselimutkan pula
dengan kain adat upuh ulen-ulen berkualitas terbaik. Pemberian ini sebagai simbol rasa hormat
yang tinggi sekaligus sebagai ungkapan penerimaan yang ikhlas dari masyarakat.
Pada masa yang lebih akhir ini industri kerajinan kain bernuansa adat ini digalakkan oleh
pemerintah setempat clan berkembang menjadi industri kerajinan rumah tangga. Motif-motif tadi
tidak hanya dituangkan pada busana, tetapi sudah muncul pada kopiah, tas, dompet, taplak meja,
bantalan kursi, clan lain-lain. Perkembangan ini dirasakan semakin memantapkan identitas
budaya.
Hasil-hasil kerajinan yang muncul dalam berbagai item tadi, yang dikenal dengan kerawang
Gayo kebetulan mendapat perhatian pada di luar Gayo. Hal itu menyebabkan tumbuhnya industri
"Kerawang Gayo" di luar daerah Gayo, misalnya di Banda Aceh, Medan, Jakarta dan hasilnya
muncul di berbagai toko cenderamata di berbagai kota di Indonesia.
Referensi: www.tamanmini.com

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1057
posted:5/27/2011
language:Indonesian
pages:8
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl