Docstoc

AUTOPSI MAYAT

Document Sample
AUTOPSI MAYAT Powered By Docstoc
					AUTOPSI MAYAT

A. Fatwa Al-Irsyad

Pertanyaan : bagaimana hukumnya bedah mayat dengan mengambil organ tubuh tetentu untuk
menentukan apakah diagnose dan terapi dokter itu tepat atau salah yang dilakukan terhadap
orang yang itu sebelum ia meninggal?

Jawaban : sebelum kami menjawab pertanyaan di atas, perlu diketahui bahwa ilmu kedokteran
adalah wajib/fardlu kifayah dipelajari oleh umat Islam. Rasulullah sendiri juga berobat dan
member obat serta menganjurkan orang untuk berobat. Karena itu banyak ulama Islam yang
menghimpun keterangan dan pengalaman Nabi yang menyangkut masalah ketabiban ini, yang
dikenal dengan judul Ath Thibbuun Nabawi. Di antara hukum-hukum Islam terdapat hukum
yang ditentukan untuk menghindari atau untuk meringankan penyakit dan sebagainya.

Rasulullah SAW bersabda :

       “Berobatlah kamu, karena Allah tidak mengadakan penyakit melainkan sesudah Dia
       mengadakan (yang membawa) kesembuhan baginya”.

       “Sesungguhnya Allah SWT tidak menurunkan suatu penyakit kecuali Dia sudah
       menurunkan obat baginya, diketahui oleh siapa yang mengetahuinya dan tidak diketahui
       oleh siapa yang tidak mengetahuinya”.

Sejarah ilmu kedokteran sudah mencatat betapa pesatya kemajuan ilmu ketabiban Islam.

Di antara bagian-bagian ilmu kedokteran ada ilmu bedah. Pembedahan secara keseluruhan
dengan sendirinya termasuk ilmu kedokteran. Pembedahan untuk mempelajari anggota manusia
serta fungsi masing-masing dan pengaruh obat-obatan yang diberikan kepadanya adalah boleh
dan jaiz, bahkan menjadi wajib bila ilmu kedokteran memerlukannya secara mutlak.

Tentang pembedahan (autopsy) mayat untuk meneliti tepat-tidaknya terapi seorang dokter
terhadap pasien yang kemudian mati, hukumnya jaiz atau boleh, karena menyangkut kepentingan
ilmu kedokteran juga serta menyangkut penentuan keadilan dalam suatu hukum pidana.

Agama Islam menyuruh kita untuk menghormati mayat, tidak melakukan hal-hal yang dipandang
sebagai penghinaan (adza). Akan tetapi dalam batas-batas tertentu masih dibenarkan
pelanggarannya. Misalnya orang yang sebelum mati menelan batu permata, mayatnya boleh
dibedah untuk mengeluarkan batu permata itu. Ibu hamil yang mati tetapi kandungannya masih
hidup, boleh dibedah untuk menyelamatkan bayinya, demikian kitab Al I’anah, dengan alasan
keselamatan bayi itu lebih utama ketimbang memelihara kehormatan si mayat, maslahatnya pun
lebih besar.

Kalau dibanding dengan pembedahan untuk menyelamatkan sebutir batu permata dengan
pembedahan untuk kepentingan ilmu kedokteran atau guna menegakkan keadilan hukum,
kiranya logis bila pembelahan untuk kepentingan ilmu kedokteran dan guna menegakkan
keadilan hukum itu lebih jaiz hukumnya.

Assyaikh Yusuf Dajawi, seorang ulama besar Al Azhar, Kairo, juga membolehkan pembedahan
untuk kemaslahatan ilmu kedokteran dan kehakiman. Beliau menutup fatwanya dengan nasehat
agar kita berhati-hati dalam menggunakan hak boleh membedah ini. Hendaknya hak ini
dipergunakan sebatas kepentingan para dokter dan penegak keadilan dengan perasaan perasaan
taqwa dan tanggung jawab kepada Allah SWT yang tetap mengawasi dan Maha Mengetahui atas
segala apa yang nyata dan tersirat seta Pembalas setiap amal dengan balasan yang setara.

B. FIKRAH (Maqalat)

1. BEDAH MAYAT

   1. Pengertiannya

   Perkataan bedah mayat, dimaksudkan oleh dokter Arab dengan istilah “Tayriikhu jutsatsil
   mauta” selanjutnya, dapat dirumuskan definisinya sebagai berikut.

   Bedah mayat adalah suatu upaya tim dokter ahli untuk membedah mayat, karena dilandasi
   oleh suatu maksud atau kepentingan-kepentingan tertentu.

   1. Motivasi Pembedahan Mayat

   Ada beberapa motivasi yang melandasi, sehingga diadakan pembedahan mayat, antara lain :

   a. Untuk menyelamatkan janin yang masih hidup dalam rahim mayat.

      Pada prinsipnya ajaran Islam memberikan tuntunan kepada umatnya agar selalu brijtihad
      dalam suatu hal yang baik yang tidak ada nashnya, dengan memberikan pedoman dasar
      dalam Al Qur’an yang berbunyi :

      “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia
      telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu kesempitan dalam
      agama…”.(QS. Al-Hajj, ayat 78).

      Untuk mengatasi suatu kesulitan yang dialami oleh manusia, harus menggunakan akal
      pikiran yang disebut ijtihad dalam Islam, yang hasilnya selalu diperuntukkan kepada
      kemaslahatan umat, dengan ketentuan bahwa kemashlahatan perorangan. Begitu juga
      halnya kemashlahatan orang hidup lebih diutamakan daripada orang mati.

      Maka apabila terjadi suatu kasus, dimana tim dokter membedah perut mayat, yang di
      dalam rahimnya terdapat seorang bayi yang masih hidup, maka dapat dilihat ketentuan
      hukumnya pada uraian berikut.

   a. Untuk mengeluarkan benda yang berharga dari mayat
   Beberapa kasus yang sering terjadi di masyarakat, yang dapat mempengaruhi
   perkembangan hukum Islam, antara lain seseorang yang menelan permata orang lain,
   sehingga mengakibatkan ia meninggal. Selanjutnya, pemilik barang tersebut menuntut
   agar permata itu dapat dikembalikan kepadanya. Tetapi tidak ada cara lain. Kecuali
   dengan membedah mayat itu untuk mengeluarkan benda tersebut daripadanya.

a. Untuk kepentingan penegakkan hukum

   Dalam suatu Negara, diperlukan tegaknya hukum yang seadil-adilnya untuk digunakan
   mengatur umat. Dalam hal ini, penegak hukumlah yang lebih bertanggung jawab untuk
   menegakkan hukum dengan disertai kesadaran seluruh warga Negara tersebut.

   Tentang tegaknya hukum yang adil menurut islam, tentunya diserahkan kepada ahlinya,
   agar ia dapat menerapkannya dengan cara yang adil dan teratur, sebagaimana firman
   Allah yang bebunyi:

   “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak
   menerimanya, dan (menyuruh) kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia
   supaya kamumenetapkan dengan adil”.(QS. An Nisa, ayat 58).

a. Untuk keperluan penelitian ilmu kedokteran

   Islam sangat mementingkan pengembangan ilmu pengetahuan di segala bidang
   kehidupan. Oleh karena itu, kita tidak heran bila para Sarjana Muslim di abad
   pertengahan telah menemukan berbagai macam ilmu pengetahuan dengan melalui karya-
   karyanya di bidang filsafat, fisika, biologi, ilmu kedokteran, ilmu kesenian, matematika,
   astronomi dan sebagainya.

   Bertepatan dengan zaman kegelapan yang melanda benua Eropa pada waktu itu, maka
   bangkitlah pemikir-pemikir muslim yang terkemuka yang mengagumkan pecinta ilmu
   pengetahuan di Negara Barat, antara lain : Al-Kindy, Al Faraby, Ibnu Sina, Ibnu Rusydy,
   Ibnu Bajah, Al-Jabir, Al-Khawarizmi, Ar-Raazy, Al-Mas’uudy, Al-Wafaa, Al-Biruni dan
   Umar Hayyan.

   Pemikir tersebut inilah yang mula-mula membuka tabir untuk menerangi seluruh, penjuru
   dunia dengan membawa penemuan-penemuannya di berbagai cabang ilmu pengetahuan.
   Namun demikian, umat Islam di abad sesudahnya mengalami kemunduran, sedangkan
   bangsa-bangsa Barat bangkit mempelajari ilmu-ilmu yang telah dirintis oleh sarjana
   muslim, yang akhirnya membawa mereka kepada kemajuan di segala bidang kehidupan.

   Salah satu cabang ilmu pengetahuan yang ada relevansinya dengan pembedahan mayat,
   yatu ilmu anatomi, yang sebenarnya dasar-dasarnya sudah ada dalam Al-Qur’an sejak 14
   abad yang lalu. Dan konsepsi inilah yang dikembangkan oleh sarjana muslim pada abad
   pertengahan hingga dipelajari oleh bangsa barat lewat penelitian ilmiah. Konsepsi
   tersebut berbunyi :
   “Ia menciptakan kamu dalam perut ibumu, penciptaan demi penciptaan di dalam tiga
   kegelapan…”.(QS. Az-Zumar, ayat 6).

   Lafadz “Fii Dhulumaatin Tsalaatsin” ditafsirkan oleh mufassirin di masa lalu dengan
   tafsiran perut, rahim dan tulang belakang. Tetapi setelah ilmu pengetahuan mengalami
   kemajuan, maka sebenarnya yang dimaksud dengan lafadz tersebut adalah chorion,
   amnion dan dinding uterus.

   Ketiga bagian dalam tubuh tersebut, telah dipelajari oleh ahli anatomi, yang sebenarnya
   konsepsinya sudah ada sejak lahirnya agama Islam di bumi.

   Oleh karena orang Islam tidak mengembangkan konsepsi tersebut karena
   menganggapnya sudah cukup karena bersumber dari tuhan, maka kemudian orang Barat
   yang mengembangkannya dengan mengambil pedoman dari hasil studi mereka, melalui
   karya-karya sarjana Muslim tersebut di muka. Berarti orang Barat tidak langsung
   mempelajarinya lewat Al-Qur’an, tetapi melalui tulisan-tulisan pemikir Muslim yang
   hidup di abad pertengahan.

Hukumnya

a. Ketentuan hukum tentang pembedahan mayat untuk menyelamatkan janin.

   Dibolehkan dalam Islam membedah mayat yang di dalam rahimnya terdapat janin yang
   masih hidup untuk menyelamatkannya. Maka urusan tersebut diserahkan kepada tim
   dokter ahli untuk melaksanakannya, sekaligus merawat janin yang sempat diselamatkan
   itu. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa wajib hukumnya membedah mayat
   bila mengandung janin yang masih hidup. Karena janin tersebut tidak berdaya untuk
   menyelamatkan dirinya, maka orang hiduplah yang berkewajiban untuk menolongnya,
   meskipun dengan melalui pembedahan mayat. Tetapi perlu diketahui bahwa pembedahan
   tersebut, tidak boleh melewati batas-batas yang menjadi hajat diadakannya pembedahan
   itu. Dalam hal ini, Abdullah bin Sulaiman mengemukakan Qaidah Imam Al-Ghazaaly
   yang berbunyi :

   “Sesuatu yang melampaui batas dari ketentuannya, maka hal itu bertentangan dengan
   yang seharusnya”. (Al-Jarhariy, Al-Mawaahibus Saniyah, Daarul Ihyaa’il Kutubil
   Arabiyah, hal 113).

   Tentang kewajiban membedah mayat untuk menyelamatkan janin yang ada dalam
   rahimnya, diterangkan oleh Abu Ishaaq Asy-Syiraazy dengan mengatakan :

   “Dan apabila ada seorang perempuan yang meninggal, padahal dalam perutnya
   terdapat janin yang masih hidup, maka (wajib) dibedah perutnya. Karena cara
   mempertahankan kehidupan (janin itu), ia harus dipisahkan dari mayat (ibunya)”. (Abu
   Ishaaq Asy-Syiraazy, Al-Muhadzdzab, Juz I, Isa Al-Baabiy Al-Halabiy, mesir, hal 138).
a. Ketentuan hukum tentang pembedahan mayat untuk mengeluarkan benda yang berharga
   dari perutnya.

   Kalau pemiluk barang mengajukan tuntutannya agar barangnya yang telah ditelan mayat
   itu harus dikembalikan kepadanya, maka mayat itu wajib dibedah oleh tim dokter ahli.
   Karena hal itu berkaitan dengan hak milik orang lain, yang dapat mengganggu mayat di
   alam kubur, sebab menjadi pertanyaan yang harus dijawabnya di hadapan malaikat
   Munkar dan Nakir.

   Selama barang itu belum dikembalikan kepada pemiliknya, selama itu pula mayat selalu
   tersiksa di kubur. Oleh karena itu, orang hiduplah yang berkewajiban untuk
   menolongnya, terutama sekali keluarganya yang harus memprakarsai pembedahannya
   untuk mengeluarkan benda tersebut dari perutnya, guna mengembalikan kepada
   pemiliknya.

   Ketentuan hukum Islam tentang pembedahan mayat yang dalam perutnya terdapat benda
   berharga, diterangkan oleh Abu Ishaaq Asy-Syiraazy dengan mengatakan :

   “Dan apabila si mayat telah menelan batu permata orang lain (yang menyebabkan)
   kematiannya, lalu pemilik (barang itu) menuntut agar dikembalikannya, maka( wajib)
   membedah perutnya. Lalu dikembalikan batu permata itu. Dan apabila batu permata itu
   miliknya sendiri, maka terjadi dua macam ketetapan hukum. Pertama, diwajibkan
   membedahnya, karena barang itu menjadi mili pewarisnya. Maka disamakan keduanya
   dengan batu permata orang lain. Kedua, tidak wajib karena barng itu dianggap sudah
   hancur (habis) di masa hidupnya, maka tidak ada hubungannya dengan hak milik
   pewarisnya”. (Ibid, hal 138).

   Dari keterangan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa wajib hukumnya
   membedah mayat bila dalam perutnya terdapat batu permata orang lain. Dan tidak
   diwajibkan bila batu permata atas nama miliknya sendiri.

a. Ketentuan hukum tentang pembedahan mayat untuk kepentingan penegakan hukum

   Menjatuhkan sanksi hukum terhadap si terdakwa, tidak boleh dihalang-halangi oleh
   siapapun dan alasan apapun, misalnya pelaku terhadap si korban tidak diketahui,
   sedangkan tidak ada tanda-tanda yang dapat dijadikan bukti. Kalau hal itu sulit
   dibuktikan dengan melalui penyelidikan di luar badan mayat, maka dibolehkan dalam
   Islam untuk membedah mayat sebagai wahana untuk mencari data-data yang diperlukan
   untuk pengusutan lebih lanjut.

   Peralatan modern kadang-kadang sulit membuktikan sebab-sebab kematian seseorang
   denagn hanya penyelidikan dari luar tubuh mayat. Maka kesulitan tersebut menjadi alas
   an untuk membolehkan membedah mayat sebagai wahana penyelidikan, karena dianggap
   sangat dihajatkan dalam penegakkan hukum. Hajat inilah yang membolehkan hal-hal
   yang diharamkan, sebagaimana maksud Qaidah fiqhiyah yang berbunyi :
   “Tiada haram (bila) bersama darurat, dan tiada makruh (bila) bersama dengan hajat”.
   (Abdul Hamid Hakim. Op,cit hal 33).

   “hajat menempati kedudukan darurat, baik hajat umum maupun hajat perorangan”. (As-
   Suyuuthiy.op,cit, hal 62).

   Salah satu tujuan menjatuhkan sanksi hukum terhadap si terdakwa adalah memberikan
   didikan kepada mereka, dan menakut-nakuti orang lain yang masih mempunyai niat
   seperti si terdakwa. Karena itu, menjatuhkan sanksi hukum, tidak dapat dikatakan sebagai
   tindakan yang tidak manusiawi. Bahkan dalam Al-Qur’an memerintahkan menjatuhkan
   hukuman potong tangan bagi pencuri, karena Islam lebih mengutamakan ketenteraman
   orang banyak dari pada perorangan.

   Kalau penegak hukum tidak mau mengusut kejahatan karena yang dianiaya sudah mati,
   lalu takut mengadakan pengusutan dengan melalui pembedahan mayat, maka berarti ia
   member jalan kepada penjahat untuk tidak takut beraksi. Padahal perkataan Allah yang
   mengatakan :

   “Bermaksud menjatuhkan hukum sejauh mungkin, meskipun melalui pembedahan mayat
   dan pembongkaran kuburan untuk mencapai keadilan”.

   Untuk melaksanakan masalah tersebut di atas, maka seharusnya penegak hukum bekerja
   sama dengan dokter ahli bedah yang dapat dipercaya kejujurannya, agar mayat tersebut
   mendapatkan visum et repertum, sehingga dari hasil penyelidikan itu dapat memberi
   keterangan kepada penegak hukum untuk mngetahui pelaku tindak pidana itu.

a. Ketentuan hukum tentang pembedahan mayat untuk keperluan penelitian ilmu
   kedokteran.

   Wajib kifayah bagi orang muslim mempelajari ilmu-ilmu umum, antara lain ilmu
   kedokteran, biologi dan fisika, baik dengan melalui literature, maupun dengan literature,
   amupun dengan praktikum dan penelitian, termasuk bedah mayat sebagai sarananya.

   Kalau memang dibutuhkan mayat sebagai saraba penelitian untuk pengembangan Ilmu
   Kedokteran, maka dalam Islam dibolehkannya. Karena pengembangan Ilmu Kedokteran,
   bertujuan untuk mensejahterakan umat manusia, sedangkan misi Islam sejalan dengan
   tujuan tersebut.

   Begitu juga halnya, agama Islam membolehkan suntikan paru-paru atau limpa mayat
   yang disebut dengan istilah mitpunctie untuk mencegah berjangkitnya penyakit yang
   diderita mayat, karena dinyatakan darurat di tempat yang bersangkutan. Sedangkan
   darurat membolehkan hal-hal yang diharamkan, sebagaimana maksud Qaidah Fiqhiyah
   yang berbunyi :

   “Persoalan darurat itu membolehkan sesuatu yang diharamkannya”.
       Kebolehan membedah mayat dalam Islam, dilandasi oleh alasan bahwa memperbaiki
       nasib orang hidup lebih diutamakan daripada kepentingan oang yang sudah mati. (Masail
       Fiqhiyah, 98-107).

http://putuadityasetiawan.blog.com/2009/10/08/autopsi-mayat/

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:147
posted:5/27/2011
language:Indonesian
pages:7
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl