Docstoc

BAB II BARU

Document Sample
BAB II BARU Powered By Docstoc
					                                  BAB II

                         TINJAUAN TEORITIS



A. Konsep Dasar

   1. Pengertian

              Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah

     yang mengenai parenkim paru (Mansjoer, dkk. 2000).

              Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru,

     distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup brokiolus respiratorik,

     respira torius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru

     dan gangguan pertukaran gas setempat (Supardi, dkk. 2006).

              Pneumonia adalah infeksi saluran nafas bagian bawah (Corwin,

     2000).

              Pneumoia adalah proses inflamasi parenkim paru yang umumnya

     disebabkan oleh agens infeksius (Smeltzer and Bare, 2001).



  2. Klasifikasi Pneumonia berdasarkan inang dan lingkungan

     Menurut Supardi,dkk. (2006) klasikfikasi dari pneumonia adalah :

     a.) Pneumonia komunitas

         Sporadis atau endemik, muda atau orang tua

     b) Pneumonia nasotokomial

         Didahului perawatan di rumah sakit,
c) Pneumonia rekurens

   Terjadi berulang kali berdasarkan penyakit paru kronik

d) Pneumonia aspirasi

   Alkoholik, usia tua

e) Pneumonia pada gangguan imun

   Pada pasien transplantasi, onkolosi dan AIDS

   Menurut Kusuma (2009) www.blogfriendster.com klasifikasi dari

   pneumonia sesuai dengan hal-hal sebagai berikut :

   1. Agen penyebab

      a) Protozoa (pneumocytis carinii) bacterial, viral dan jamur

          pneumonia (jika dikarenakan agen infeksius tersebut).

      b) Pneumonia aspirasi-disebabkan oleh karena aspirasi isi gaster,

          makanan atau cairan.

      c) Pneumonia radiasi-disebabkan oleh terapi radiasi terhadap

          kanker struktur badan bagian atas seperti : kanker payudara,

          kanker paru atau esophagus.

      d) Pneumonia hipostatik-berkaitan dengan imobilisasi yang lama.

      e) Pneumonia inhalasi-berkaitan dengan inhalasi gas yang bersifat

          toksik asap dan zat kimia.

   2. Area paru-paru yang terkena :

      a) Pneumonia lobaris–area yang terkena meliputi satu lobus atau

          lebih.
          b) Bronkopneumonia-proses pneumonia yang dimulai di bronkus

                dan menyebar ke jaringan paru sekitarnya.



3. Etiologi

          Menurut Mansjoer, dkk (2000), penyebab dari pneumonia

   umumnnya adalah :

   a. Bakteri (streptokokus pneumonia dan haemophillus influenza)

   b. Pada bayi dan anak kecil (staphillococus aoreus) sebagai penyebab

      pneumonia yang berat, serius dan sangat progessif dengan mortalitas

      tinggi)

          Menurut Supardi, dkk. (2006), Etiologi dari pneumonia adalah

   dengan cara penularan berkaitan pula dengan jenis kuman, misalnya :

   a. Infeksi melalui deflet yang sering disebabkan streptococcus pneumonia

   b. Melalui selang infuse oleh staphylococcus aureus

   c. Pemekaran ventilator oleh P.Aerudinosa dan enterobacteri

   d. Gangguan kekebaland an penyakit kronik

   e. Evolusi lingkungan dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat hingga

      menimbulkan perubahan karakteristik kuman.
                4. Patofisiologi

Bakteri                                      Virus influenza             Penurunan imun              Aspirasi Isi lambung
-   Streptococus pneumonia
-   Staphylococcus auneus
-   Pseuclomonas aeruginosa




                                                      Mengikuti aliran darah

     Mk : resiko tinggi
    penyebaran infeksi



                                                                                  Masuk kegastro
                                                                                    intestinal
 Masuk ke parenkim paru


                                               Mk : Perubahan                        Keluhan
                                                    nutrisi                      gastro intestinal
    Proses peradangan                            kurang dari
                                              kebutuhan tubuh

                                                                                 Merangsang pusat            Gangguan
 Lumor, rubor, dolor, color                                                       mual muntah                menelan
       fungsi laesa

                                                                                                            Penurunan
   Iritasi gangguan lama                 Komplikasi            Penurunan              Ventilasi            suplay energy
                                         Abses paru            Suplay O2             berkurang

                                                                                                           Tidak mampu
   Meningkatkan mocus                                                                                          dalam
                                            Mk : Nyeri                              Mudah lelah             beraktifitas


      Batuk produktif                                                                 ansietas
                                           Mk : bersihan                                                   Mk : intoleransi
                                         jalan nafas tidak                                                    aktivitas
                                              efektif
       Suara krekels                                                 Pemaksaan pernafasan
                                                                                                           Mk : Pola nafas
                                                                       Reaksi dinding dada                  tidak efektif

                              Penumpukan
                                 cairan                         bradipnoe             takipnea               Komplikasi
                                                                                                             gagal nafas

                               empiema
                                                                                       dispnea
                                                                                                              Kematian

          Sumber : Corwin, (2000), Manjoer (2000), Doengoes (2000)
                                                                                       sianosis
5.   Manifestasi Klinis

           Menurut Kusuma, (2009) www.blogspotfriendster.com manifestasi

     pada pneumonia adalah sebagai berikut :

     a. Demam, biasanya demam tinggi

     b. Nyeri dada

     c. Batuk; batuk tidak produktif sampai produktif dengan sputum yang

        berwarna keputih-putihan.

     d. Takipnea, sianosis

     e. Suara nafas rales atau ronki

     f. Pada perkusi terdengar dullness

     g. Retraksi dinding torak

     h. Pernafasan cuping hidung

            Menurut Mansjoer, dkk. (2000) manifestasi klinis dari pneumonia

        secara umum dapat dibagi menjadi :

     a. Manifestasi non spesifik infeksi infeksi dan toksisitas berupa demam,

        sakit kepala, iritabel, gelisah, malaise, nafsu makan kurang, keluhan

        gastrointestinal.

     b. Gejala umum saluran pernafasan bawah berupa batuk, takipnea,

        ekspektorasi sputum, nafas cuping hidung, sesak nafas, air hunger,

        merintih dan sianosis.

     c. Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian

        bawah kedalam saat bernafas bersama dengan peningkatan frekuensi
         nafas), perkusi pekak, fremitus melemah, suara nafas melemah, dan

         ronchi.

     d. Tanda efusi pleura atau empema berupa gerak ekskursi dada tertinggal

         didaerah efusi, perkusi pekak, fremitus melemah, suara nafas melemah,

         suara nafas tubuler tepat diatas batas cairan, friction rub, nyeri dada

         karena iritasi pleura, kaku kuduk/ meningismus, nyeri abdomen.

     e. Tanda infeksi ekstra pulmonal.



6.   Komplikasi

                  Menurut Supardi, dkk. (2006) komplikasi pada pneumonia antara

     lain Demam, dapat terjadi komplikasi pneumonia ekstra pulmoner

     misalnya pada pneumonia pneumokokus dengan bakteri emi dijumpai

     pada 10 % kasus berupa :

     -   Meningitis

     -   Artritis

     -   Endokarditis

     -   Perikarditis

     -   Peritonoitis

     -   Empiema

         Terkadang dijumpai komplikasi ekstra pulmoner non infeksius bisa

         dijumpai yang memperlambat relusi gambaran radiologi paru antara

         lain :

         -    Gagal jantung
       -    Gagal ginjal

       -    Emboli paru atau infark paru

       -    Infark miocard akut

               Sedangkan menurut Nurmawaty (2009) www.blogspot.com

       komplikasi dari pneumonia adalah sebagai berikut :

       1. Empicema

       2. Gagal nafas

       3. Perikarditis

       4. Meningitis

       5. Hipotensi

       6. Deliriu

       7. Asidosis metabolic

       8. Dehidrasi



6.   Pemeriksaan Diagnostik

           Diagnosis pneumonia ditegakkan dengan pengumpulan riwayat

     kesehatan (terutama infeksi saluran pernafasan yang baru saja dialami),

     pemeriksaan fisik, rongent dada, kultur darah (infasi aliran darah, yang

     disebut bakteriemia, sering terjadi) dan pemeriksaan sputum. (Supardi,

     dkk. 2006).

           Menurut Mansjoer, dkk. (2000), pemeriksaan penunjang pada

     pneumonia antara lain :
     a. Pemeriksaan darah menunjukkan leukositosis dengan predominan PMN

        atau dapat ditemukan leucopenia yang menandakan prognosis buruk.

        Dapat ditemukan anemia ringan atau sedang.

     b. Pemeriksan radiologis memberi gambaran bervariasi :

         1. Bercak konsolidasi merata pada bronco pneumonia

         2. Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris

         3. Gambaran bronco pneumonia difus atau infiltrate intertisialis pada

            pneumonia staphillococus.

     c. Pemeriksaan cairan pleura

     d. Pemeriksaan     mikrobiologis,   specimen   usap   tenggorok,   sekresi

        nasofaring, bilasan bronkus atau sputum, darah, aspirasi trakea, fungsi

        pleura atau aspirasi paru.

            Menurut Corwin (2000) perangkat diagnostik pada pneumonia, ada

        dua anatara lain :

       1. Hitung sel darah putih biasanya meningkat kecuali apabila pasien

           mengalami imunodefisiensi. Hal ini terutama pneumonia bakterialis.

       2. Edema ruang interstisium sering tampak pada pemeriksaan sinar

           thorax.



7.   Penatalaksanaan

            Menurut Kusuma (2009) www.blogfriendster.com penatalaksaan

     medis umum yang diberikan pada penderita pneumonia adalah :

     a. Farmakoterapi :
    1. Antibiotik (diberikan secara intravena)

    2. Ekspektoran

    3. Antipiretik

    4. Analgetik

b. Terapi oksigen dan nebulisasi aerosol.

c. Fisioterapi dada dengan drainase postural

         Menurut Kusuma (2009) www.blogfriendster.com penatalaksaan

   yang dapat diberikan pada klien denga pneumonia adalah :

    a. Penisilin 50.000 IU/Kg BB/ hari ditambah kloramfenikol 50-70

       mg/ kg BB/ hari atau diberikan antibiotic yang mempunyai

       spectrum luas seperti ampicilin. Pengobatan ini diteruskan sampai

       bebas demam 4-5 hari.

    b. Pemberian oksigen dan cairan intravena : biasanya diperlukan

       campuran glucose 5% dan NaCL 0,9 % dengan perbandingan 3:1

       ditambah larutan KCL 10 mEq/500 ml/botol infus

             Menurut Mansjoer, dkk. (2000) penatalaksanaan pada

       pneumonia adalah sebagai berikut :

       a. Oksigen 1-2 liter/menit

        b. IVFD dekstrose 10 % : NACL 0,9 %, + KCL 10 mEq/ 500 ml

           cairan, jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu dan

           status hidrasi.

        c. Jika sesak tidak terlalu hebat dapat dimulai makanan enteral

           bertahap melalui selang nasogastik dengan feeding drip
              d. Jika sekresi lender berlebihan dapat diberikan inhalasi denganm

                  salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transport

                  mukosilier

              e. Koreksi ganggua keseimangan asam basa dan elektrolit

              f. Antibiotik sesuaiu hasil biakan atau berikan :

                  Untuk kasus pneumonia community base :

                  - Ampisilin 100 ng/ kg BB / hari dalam 2 x pemberian

                  - Kloram fenikol 75 mg/Kg BB/ hari dalam 4 x pemberian

                     Untuk kasus pneumonia hospital base :

                  - Cefotaksim 100 mg/kg BB/ hari dalam 2 x pemberian

                  - Amikasim 10-15 mg/kg BB/ hari dalam 2 x pemberian



B. Asuhan Keperawatan

  1. Pengkajian

         Menurut Doengoes, Moorhouse and Geissler (2000) data dasar

    pengkajian pada pneumonia meliputi :

    a.   Aktivitas / Istirahat

         Gejala       : Kelemahan, kelelahan

                        Insomnia

         Tanda        : Letargi

                        Penurunan toleransi terhadap aktivitas

    b.   Sirkulasi

         Gejala       : Riwayat adanya / GJK Kronis
     Tanda       : Takikardia

                      Penampilan kemerahan atau pucat

c.   Integritas ego

     Gejala      : Banyaknya stresor, masalah finansial

d.   Makanan / cairan

     Gejala      : Kehilangan nafsu makan, mual / muntah

                      Riwayat diabetes militus

     Tanda       : Distensi abdomen

                      Hiperaktif bunyi usus

                      Kulit kering dengan turgor buruk

                      Penampilan kakeksia (malnutrisi)

e.   Neorosensori

     Gejala      : Sakit kepala daerah frontal (influenza)

     Tanda       : Perubahan mental (bingung, samnolen)

f. Nyeri / kenyamanan

     Gejala      : Sakit kepala

                      Nyeri dada (Pleuritik), meningkat oleh batuk ; nyeri dada

                        substernal (influenza)

                      Mialgia, artralgia

       Tanda     : Melindungi area yang sakit (pasien umumnya tidur pada

                      sisi yang sakit untuk membatasi gerakan )
g. Pernafasan

   Gejala       : Riwayat adanya / ISK kronis, PPOM, merokok

                  Takipnea,     dispnea    progresif,   pernafasan   dangkal,

                  penggunaan otot asesori, pelebaran nasal.

   Tanda        : Sputum : merah muda, berkarat, atau purulen

                  Perkusi : pekak diatas area yang konsolidasi

                  Fremitus : taktil dan vocal bertahap meningkat dengan

                  konsolidasi

                  Gesekan friksi pleural

                  Bunyi nafas : menurun atasu tak ada diatas area yang

                  terlibat, atau nafas bronkial

                  Warna : pucat atau sianosis bibir / kuku

h. Keamanan

   Gejala       : Riwayat gangguan system imun, misalnya, SLE, AIDS,

                  penggunaan steroid atau kemoterapi, institusionalisasi,

                  ketidakmampuan umum

                  Demam (misalnya 38,5 – 39,6 0C)

   Tanda        : Berkeringat

                  Menggigil berulang, gemetar

                  Kemerahan mungkin ada pada kasus rubeola atau varisela

i. Penyuluhan / pembelajaran

   Gejala       : Riwayat mengalami pembedahan; penggunaan alcohol

                  kronis
       Pertimbangan           DRG menunjukkan rerata lama dirawat : 6,8 hari

       Rencana pemulangan          : bantuan    dengan       perawatan    diri,   tugas

                                     pemeliharaan rumah

                           Oksigen mungkin diperlukan, bia ada kondisi pencetus.



2.   Diagnosa keperawatan

              Menurut Doengoes, Marhouse and Geissler (2000) diagnosa

     keperawatan yang muncul pada pasien dengan pneumonia adalah :

     a) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi

        trakebronkia, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.

        Nyeri pleuritik.

        Penurunan energi, kelemahan

                Kemungkinan        dibuktikan   oleh     :    perubahan     frekuensi,

        kedalaman pernafasan.

        Bunyi nafas tak normal, penggunaan otot aksesori.

        Dipsnea, sianosis

        Batuk, efektif atau tidak efektif, dengan / tanpa produksi sputum

        Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi : mengidentifikasi /

        menunjukkan perilaku mencapai bersihan jalan nafas

        Menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih, tidak ada

        disnea, sianosis.

     b) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran

        alveolar kapiler (efek inflamasi)
     Gangguan kapasitas pembawa oksigen daran (demam, perpindahan

     kurva oksihemoglobin).

     Gangguan pengiriman oksigen (hipoventilasi)

     Kemugkinan dibuktikan oleh : disnea dan sianosis

     Takikardia

     Gelisah / perubahan mental

     Hipoksia

     Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi : menunjukkan perbaikan

     ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentangnormal

     dan tak ada gejala distress pernafasan.

     Berpartisipasi pada tindakan utuk memaksimalkan oksigenasi

c)   Resiko terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan ketidak

     adekuatan pertahanan utama (penurunan kerja silia, perlengketan

     sekret pernafasan)

     Tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi, penekanan imun)

     penyakit kronis, malnutrisi

     Hasil yang diharapkan mencapai waktu perbaikan infeksi berulang

     tanpa komplikasi

     Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah / menurunkan resiko

     infeksi

 d) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara

     suplai dan kebutuhan oksigen

     Kelemahan umum
  Kelelahan yang berhubungan dengan gangguan pola tidur yang

  berhubungan dengan ketidak nyamanan, batuk berlebihan dan dispnea

  Kemungkinan dibuktikan oleh : laporan verbal kelemahan, kelelahan,

  keletihan

  Dispnea karena kerja, takipnea

  Takikardia sebagai respons terhadap aktivitas.

  Terjadinya / memburuknya pucat / senosis

e) Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru

  Reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin

  Batuk menetap

  Kemungkinan dibuktikan oleh : nyeri dada pleuritik

  Sakit kepala, otot / nyeri sendi

  Melindugi area yang sakit

  Perilaku distraksi, gelisah

  Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi : menyatakan nyeri hilang /

  terkontrol

  Menunjukkan rileks, istirahat / tidur, dan peningkatan aktivitas dengan

  tepat

f) Resiko tinggi terhadap kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

  berhubungan dengan anoreksia yang berhubungan dengan toksin

  bakteri, bau dan rasa sputum dan pengobatan aerosol

  Peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses

  infeksi
  Distensi abdomen / gas yang berhubungan dengan menelan udara

  selama episode dispnea

  Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi : menunjukkan peningkatan

  nafsu makan

  Mempertahankan / meningkatkan berat badan

g) Resiko tinggi terhadap kekurangan cairan berhubungan dengan

  kehilangan cairan yang berlebihan (demam, berkeringat banyak, nafas

  mulut / hiperventilasi, muntah)

  Penurunan masukkan oral

  Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi : menunjukkan keseimbangan

  cairan dibuktikan dengan para meter individual yang tepat, misalnya :

  membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat,

  tanda vital stabil

h) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan

   Kesalahan interpretasi

   Kurang mengingat

   Kemungkinan dibuktikan oleh : permintaan informasi

   Pernyataan kesalahan konsep

   Kegagalan memperbaiki / beruang

   Hasil yangdiharapkan / criteria evaluasi : menyatakan pemahaman

   kondisi, proses penyakit, dan pengobatan.

   Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam program

   pegobatan
3. Rencana Keperawatan

        Menurut      Doengoes,   Marhouse    and      Geissler   (2000)   rencana

  keperawatan yang dapat dilakukan pada penyakit pneumonia adalah :

  a) Diagnosa Keperawatan I

     Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan inflamasi

     trakebronkia, pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.

     Nyeri pleuritik.

     Penurunan energi, kelemahan

     Kemungkinan dibuktikan oleh : perubahan frekuensi, kedalaman

     pernafasan.

     Bunyi nafas tak normal, penggunaan otot aksesori.

     Dipsnea, sianosis

     Batuk, efektif atau tidak efektif, dengan / tanpa produksi sputum

     1) Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan masalah bersihan

        jalan nafas dapat teratasi secara bertahap.

     2) kriteria evaluasi : mengidentifikasi / menunjukkan perilaku mencapai

        bersihan jalan nafas menunjukkan jalan nafas paten dengan bunyi

        nafas bersih, tidak ada disnea, sianosis.

     3) Intervensi

        (a) Mandiri

           (1) Kaji frekuensi / kedalaman pernafasan dan gerakan dada

               Rasional
   Takipnea, pernafasan dangkal, dan gerakan dada tidak simeteris

   sering terjadi karena ketidak nyamanan gerakan dinding dada

   dan cairan paru

(2). Auskultasi area paru, catat area penurunan / tidak ada aliran

    udara dan bunyi nafas adventisius,misalnya : krekels, mengik,

    Rasional

    Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan

    cairan. Bunyi nafas bronchial dapat terjadi pada area

    konsolidasi

(3). Bantu pasien latihan nafas sering, tunjukkan / bantu pasien

    mempelajari melakukan batuk

    Rasional

    Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru /

    jalan nafas lebih kecil

(4). Pengisapan sesuai indikasi

    Rasional

    Merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas secara

    mekanik pada pasien yang tak mampu melakukan karena

    batuk tidak efektif atau penurunan tingkat kesadaran.

 (5).Berikan      cairan      sedikitnya   2500   ml/hari   (kecuali

     kontraindikasi). Tawarkan air hangat, dari pada dingin

     Rasional
    Cairan     (khususnya   yang     hangat)   memobilisasi   dan

    mengeluarkan sekret.

    Kolaborasi

(6).Berikan obat sesuai indikasi : mukolitik, ekspetoran,

    bronkodilator, analgesic.

    Rasional

    Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi

    sekret.

(7).Berikan cairan tambahan, misalnya : IV, oksigen humidifikasi

    , dan ruangan humidifikasi

    Rasional

    Cairan diperlukan untuk menggantikan kehilangan (termasuk

    yang tak tampak) dan memobilisasikan secret.

(8). Bantu bronkoskopi / torasentesis bila diindikasikan

    Rasional

    Kadang-kadang diperlukan untuk membuang perlengkatan

    mukosa, mengeluarkan sekresi purulen dan / atau mencegah

    atelektasis.

(9). Bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi

    lain, misalnya spirometer insentif, IPPB,       tiupan botol,

    drainase postural. Lakukan tindakan diantara waktu makan

    dan batasi cairanbila mungkin.

    Rasional
      Memudahkan pengenceran dan pembuangan sekret. Drainase

      postural tidak efektif pada pneumonia interstisialat atau

      menyebabkan eksudat alveolar / kerusakan. Koordinasi

      pengobatan / jadwal dan masukan oral menurunkan muntah

      karena batuk, pengeluaran sputum.

b) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan

   membran alveolar kapiler (efek inflamasi)

   Gangguan     kapasitas   pembawa     oksigen   daran      (demam,

   perpindahan kurva oksihemoglobin).

   Gangguan pengiriman oksigen (hipoventilasi)

   Kemugkinan dibuktikan oleh : disnea dan sianosis

   Takikardia

   Gelisah / perubahan mental

   Hipoksia

   1) Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan kerusakan

      pertukaran gas dapat teratasi

   2) Kriteria hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi :

      menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan

      dengan GDA dalam rentangnormal dan tak ada gejala distress

      pernafasan.     Berpartisipasi    pada      tindakan      utuk

      memaksimalkan oksigenasi

   3) Intervensi

      (a) Mandiri
(1) Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernafas

   Rasional

   Manifestasi distress pernafasan tergantung pada /

   indikasi    derajar   keterlibatan   paruh       dan   status

   kesehatan umum.

(2) Observasi warna kulit, membrane mukosa, dan kuku,

   catat adanya sianosis purifier (kuku) atau sinosis

   sentral (sirkumoral)

   Rasional

   Sianosis kuku menunjukkkan vaso kontriksi atau

   respon tubuh terhadap demam / menggigil. Namun

   sianosis daun telinga, membrane mukosa, dan

   sekitarkulit mulut (membran hangat) menunjukkan

   hipoksemia sistemik.

(3) Kaji status mental

   Rasional

   Gelisah, mudah terangsang, bingung dan samnolen

   dapat      menunjukkan     hipoksemia        /    penurunan

   oksigenasi serebral

(4) Awasi frekuensi jantung / irama

   Rasional
   Takikardia biasanya ada sebagai akibat demam /

   dehidrasi tetapi dapat sebagai respon terhadap

   hipoksemia

(5) Awasi suhu tubuh sesuai indikasi

   Rasional

   Demam tinggi (umum pada pneumonia bacterial dan

   influenza) sangat meningkatkan kebutuhan metabolik

   dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi

   seluler

(6) Pertahankan istirahat tidur dorong menggunakan

   teknik relaksasi dan aktivitas senggang

   Rasional

   Mencegah terlalu lelah dan menurunkan kebutuhan /

   konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan

   infeksi

(7) Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi,

   nafas dalam, dan batuk efektif

   Rasional

   Tindakan ini meningkatkan, inspirasi maksimal,

   meningkatkan pengeluaran sekret untuk memperbaiki

   ventilasi

   Kolaborasi
                 (8) Berikan terapi oksigen dengan benar, misalnya :

                    dengan nasalprong, masker, masker venturing

                    Rasional

                    Tujuan terapi oksigen adalah mempertahankan PaO2

                    diatas 60 mmHg.

                 (9) Awasi GDA, nadi oksimetri

                    Rasioal

                    Mengevaluasi proses penyakit dan memudahkan

                    terapi paru



    c) Resiko terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan ketidak

       adekuatan pertahanan utama (penurunan kerja silia, perlengketan

       sekret pernafasan)

       Tidak adekuat pertahanan sekunder (adanya infeksi, penekanan

       imun) penyakit kronis, malnutrisi

       1) Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan resiko

           terhadap penyebaran infeksi tidak terjadi

2) Hasil yang diharapkan mencapai waktu perbaikan infeksi berulang

   tanpa komplikasi Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah /

   menurunkan resiko infeksi

3) Intervensi

   (a) Mandiri

       (1) Pantau tanda vital dengan ketat, khususnya selama awal terapi
   Rasional

   Selama periode waktu ini, potensial komplikasi vatal

   (hipotensi / syok) dapat terjadi

(2) Anjurkan pasien memperhatikan pengeluaran sekret (misalnya

   meningkatkan pengeluaran dari pada menelannya) dan

   melaporkan perubahan warna, jumlah dan bau sekret

   Rasional

   Meskipun pasien dapat menemukan pengeluaran dan upaya

   membatasi atau menghindarinya, peting bahwa sputum harus

   dikeluarkan secara aman

(3) Tunjukkan / dorong teknik mencuci tangan yang baik

   Rasional

   Efektif berarti menurunkan penyebaran / tambahan infeksi

(4) Ubah posisi dengan sering dan berikan pembuangan paru

   yang baik

   Rasional

   Meningkatkan pengeluaran, pembersihan infeksi

(5) Batasi pengunjung sesuai indikasi

   Rasional

   Menurunkan pemajangan terhadap patogen infeksi lain

(6) Lakukan isolasi pencegahan sesuai individual

   Rasional
      Tergantung pada tipe infeksi, respon terhadap anti biotik,

      kesehatan umum pasien, dan terjadinya komplikasi, teknik

      isolasi mungkin diperlukan untuk mencegah penyebaran /

      melindungi pasien dari proses infeksi lain

      Kolaborasi

  (7) Berikan anti microbial sesuai indikasi dengan hasil kultur

      sputum / darah, misalnya pensilin eritromisin, tetrasiklin,

      amikain, sefalosporin : amantadin

      Rasional

      Obat ini digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial

      pneumonia

d) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan

   antara suplai dan kebutuhan oksigen

   Kelemahan umum

   Kelelahan yang berhubungan dengan gangguan pola tidur yang

   berhubungan dengan ketidak nyamanan, batuk berlebihan dan

   dispnea

   Kemungkinan dibuktikan oleh : laporan verbal kelemahan,

   kelelahan, keletihan

   Dispnea karena kerja, takipnea

   Takikardia sebagai respons terhadap aktivitas.

   Terjadinya / memburuknya pucat / senosis
1) Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan klien dapat

   beraktivitas secara mandiri

2) Kriteria hasil : melaporkan / menunjukkan peningkatan

   toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak

   adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam

   rentang normal

3) Intervensi

   (a) Mandiri

      (1) Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas. Catat

          laporan dispnea, peningkatan kelemahan / kelelahan

          dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas

          Rasional

          Menetapkan kemampuan / kebutuhan pasien dan

          memudahkan pilihan intervensi

      (2) Berikan lingkungan tenang dan batasi pegunjung

          selama fase akut sesuai indikasi

          Rasional

          Menurunkan     stres     dan   rangsangan   berlebihan,

          meningkatkan istirahat

      (3) Jelaskan    pentingnya     istirahat   dalam   rencana

          pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan

          istirahat

          Rasional
              Tirah baring diperhatahankan selama fase akut untuk

              menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat energi

              untuk penyembuhan

          (4) Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat

              dan / atau tidur

              Rasional

              Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur

              dikursi, atau menunduk kedepan meja atau bantal

          (5) Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan.

              Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase

              penyembuhan

              Rasional

              Meminimalkan            kelelahan   dan   membantu

              keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen

e) Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru

   Reaksi seluler terhadap sirkulasi toksin

   Batuk menetap

   Kemungkinan dibuktikan oleh : nyeri dada pleuritik

   Sakit kepala, otot / nyeri sendi

   Melindugi area yang sakit

   Perilaku distraksi, gelisah

   1) Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan nyeri dapat

      teratasi secara bertahap
2) Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi : menyatakan nyeri

   hilang / terkontrol

3) Intervensi

   (a) Mandiri

      (1) Tentukan karakteristik nyeri, misalnya tajam, konstan,

          ditusuk. Selidiki perubahan karakteristik / lokasi /

          intensitas nyeri

          Rasional

          Nyeri dada, biasanya ada dalam beberapa derajat pada

          pneumonia, juga dapat timbul komplikasi pneumonia

          seperti perikarditis dan endokarditis

      (2) Pantau tanda vital

          Rasional

          Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukkan

          bahwa pasien mengalami nyeri, khususnya bila alasan

          lain untuk perubahan tanda vital telah terlihat

      (3) Berikan tindakan nyaman misalnya pijatan punggung,

          perubahan posisi, musik tenang / perbincangan,

          relaksasi / latihan nafas

          Rasional

          Tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan

          lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan

          memperbesar efek terapi analgesic
         (4) Tawarkan pembersihan mulut dengan sering

             Rasional

             Pernafasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi

             dan mengeringkan        membran mukosa, potensial

             ketidaknyamanan umum

         (5) Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan

             dada selama episode batuk

             Rasional

             Alat   untuk   mengontrol     ketidaknyamanan     dada

             sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk

             Kolaborasi

         (6) Berikan analgesik dan antitusif sesuai indikasi

             Rasional

             Obat ini dapat digunakan untuk menekan batuk non

             produktif / paroksisme atau menurunkan mukosa

             berlebihan, meningkatkan kenyamanan / istirahat

             umum



f) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpajan

   Kesalahan interpretasi

   Kurang mengingat

   Kemungkinan dibuktikan oleh : permintaan informasi

   Pernyataan kesalahan konsep
Kegagalan memperbaiki / beruang

1) Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan klien

   memahami tentang kondisi penyakit

2) Hasil yangdiharapkan / criteria evaluasi : menyatakan

   pemahaman kondisi, proses penyakit, dan pengobatan.

   Melakukan perubahan pola hidup dan berpartisipasi dalam

   program pegobatan

3) Intervensi

   (a) Mandiri

       (1) Kaji fungsi normal paru, patologi kondisi

          Rasional

          Meningkatkan pemahaman situasi yang ada dan

          penting    menghubungkannya        dengan     program

          pengobatan

       (2) Diskusikan aspek ketidakmampuan dari penyakit

          lamanya penyembuhan, dan harapan kesembuhan

          Rasional

          Informasi dapat meningkatkan kopling dan membantu

          menurunkan ansietas dan masalah berlebihan



       (3) Berikan informasi dalam betuk tertulis dan verbal

          Rasioal
   Kelemahan     dan    despresi   dapat    mempengaruhi

   kemampuan      untuk    mengasimilasi     informasi   /

   mengikuti program medic

(4) Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif /

   latihan pernafasan

   Rasional

   Selama awal 6-8 minggu setelah pulang pasien

   berisiko besar untuk kambuh dari pneumonia

(5) Tekankan perlunya melanjutkan terapi antibiotik

   selama periode yang dianjurkan

   Rasional

   Penghentian dini antibiotic dapat mengakibatkan

   iritasi mukosa bronkus, dan menghambat makrofag

   alveolar, mempengaruhi pertahanan alami tubuh

   melawan enfeksi

(6) Tekankan pentingnya melanjutkan evaluasi medic dan

   vaksin / imunisasi dengan cepat

   Rasional

   Dapat mencegah kambuhnya pneumonia dan / atau

   komplikasi yang berhubungan

(7) Identifikasi tanda / gejala yang memerlukan pelaporan

   pemberi perawatan kesehatan, misalnya peningkatan

   dispnea,    nyeri    dada,   kelemahan     memanjang,
               kehilangan       berat   badan,   demam   /   menggigil,

               menetapnya batu produktif, perubahan mental

               Rasional

               Upaya evaluasi dan intervensi tepat waktu dapat

               mencegah / meminimalkan konplikasi



g) Resiko tinggi terhadap kekurangan nutrisi kurang dari kebutuhan

   tubuh berhubungan dengan anoreksia yang berhubungan dengan

   toksin bakteri, bau dan rasa sputum dan pengobatan aerosol

   Peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan

   proses infeksi

   Distensi abdomen / gas yang berhubungan dengan menelan udara

   selama episode dispnea

   1) Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan kebutuhan

       nutrisi dapat teratasi

   2) Hasil yang diharapkan / criteria evaluasi : menunjukkan

       peningkatan nafsu makan. Mempertahankan / meningkatkan

       berat badan

   3) Intervensi

      (a) Mandiri

      (1) Identifikasi faktor yang menimbulkan mual / muntah

          misalnya : sputum banyak, pengobatan aeroso, dispnea

          berat, nyeri
Rsional

Pilihan intervensi tergantung pada menyebab masalah

(2) Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang sesering

   mungkin

Rasional

Menghingkan tanda bahaya, rasa, bau dari lingkungan pasien

   dana dapat menurunkan mual

(3) Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya satu jam

   sebelum makan

   Rasional

   Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan

    pengobatan ini

(4) Auskultasi bunyi usus. Opervasi / palpasi distensi

   abdomen

   Rasional

   Bunyi usus mungkin menurun / tidak ada bila proses

    infeksi berat / memanjang

(5) Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan

   kering dan / atau makanan yang menarik untuk pasien

   Rasional

   Tidakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu

   makan mungkin lambat untuk kembali

(6) Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar
          Rasional

          Adanya kondisi kronis (seperti PPOM atau alkoholisme)

          atau    keterbatasan    keuangan      dapat    menimbulkan

          malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap infeksi, dan / atau

          lambatnya respon terhadap terapi



h) Resiko tinggi terhadap kekurangan cairan berhubungan dengan

   kehilangan cairan yang berlebihan (demam, berkeringat banyak,

   nafas mulut / hiperventilasi, muntah)

   Penurunan masukkan oral

   1) Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan masalah

      kekurangan volume cairan dapat teratasi secara bertahap

   2) Hasil yang diharapkan / kriteria evaluasi : menunjukkan

      keseimbangan      cairan   dibuktikan    dengan     para   meter

      individual yang tepat, misalnya : membran mukosa lembab,

      turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, tanda vital stabil

  3) Intervensi

      (a) Mandiri

      (1) Kaji perubahan tanda vital, contoh peningkatan suhu /

          demam memanjang, takikardia, hipotensi ortostastik

          Rasional

          Peningkatan suhu / memanjangnya demam meningkatkan

          laju metabolic dan kehilangan cairan melalui evaporasi
(2) Kaji turgor kulit, kelembaban membrane mukosa (bibir,

   lidah)

   Rasional

   Indicator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun

   membrane mukosa mulut mungkin kering karena nafas

   mulut danoksigen tambahan

(3) Catat laporan mual / muntah

   Rasional

   Adanya gejala ini menurunkan masukan oral

(4) Pantau masukan dan haluaran, catat warna, karakteristik

   urine. Hitung keseimbangan cairan. Waspadai kehilangan

   yang tak tampak. Ukur berat badan sesuai indikasi

   Rasional

   Memberikan informasi tentang keadekuatan volume

   cairan dan kebutuhan penggantian

(5) Tekankan cairan sedikitnya 2500 ml/hari atau sesuai

   kondisi individual

   Rasional

   Pemenuhan kebutuhan dasar cairan, menurunkan resiko

   dehidrasi

   Kolaborasi

(6) Beri obat sesuai dengan indikasi misalnya : antipiretik,

   antiemetic.
   Rasional

   Berguna menurunkan kehilangan cairan

(7) Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan

   Rasional

   Pada adanya penurunan masukan / banyak kehilangan,

   penggunaan parenteral dapat memperbaiki / mencegah

   kekurangan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:296
posted:5/27/2011
language:Indonesian
pages:36
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl