Docstoc

HIKMAH DAN KEUTAMAAN WUDHU

Document Sample
HIKMAH DAN KEUTAMAAN WUDHU Powered By Docstoc
					HIKMAH DAN KEUTAMAAN WUDHU’
Oleh: admin : Di: Fiqih
19 Shofar 1428 H / 07 March 2007 /     Print /   Kirim / dibaca 2,725 kali


Para pembaca yang mulia, wudhu‟ merupakan suatu amalan yang kerap kali kita lakukan.
Tata caranya cukup ringkas dan praktis. Namun mengandung keutamaan yang besar.
Sehingga tidak boleh kita memandangnya dengan sebelah mata. Karena seluruh syari‟at yang
dibawa oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam terkandung padanya hikmah dan
manfa‟at. Allah subhanahu wata‟ala berfirman (artinya):
“Sesungguhnya Allah tidak akan menganiaya (siapa pun) walau menzhalimi sekecil dzarrah
(sekecil apapun), dan jika ada kebajikan walau sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipat
gandakannya dan memberikan pahala yang besar.” (An Nisaa‟: 40)

Seperti halnya dengan wudhu‟, meski amalan ini terkesan ringan dan ringkas, tetapi memiliki
keutamaan yang besar tiada tara. Sebagaimana yang Allah subhanahu wata‟ala janjikan pada
ayat diatas. Berikut ini kami sebutkan beberapa keutamaan wudhu‟, diantaranya:

1. Pembersih dari Noda-Noda Dosa dan Penambah Amal Kebajikan
Perlu kita sadari, bahwa manusia itu bukanlah makhluk yang sempurna, bahkan Allah
subhanahu wata‟ala sebagai Sang Khaliq (Pencipta) mensifati manusia dengan sifat yang
sering lalai dan bodoh, sehingga sering terjatuh dalam perbuatan dosa dan kezhaliman.
Sebagaimana firman Allah subhanahu wata‟ala (artinya):
“Sesungguhnya manusia itu amat aniaya (zhalim) dan amat bodoh.” (Al Ahzab: 72)
Ditegaskan pula dalam hadits Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam, dari sahabat Anas bin
Malik:




“Setiap anak cucu Adam pasti selalu melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik mereka yang
melakukan kesalahan adalah yang selalu bertaubat kepada-Nya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah,
dan Ad Darimi)

Akan tetapi, dengan rahmat Allah subhanahu wata‟ala yang amat luas, Allah subhanahu
wata‟ala memberikan solusi yang mudah untuk membersihkan diri dari noda-noda dosa
diantaranya dengan wudhu‟. Hingga ketika seseorang selesai dari wudhu‟ maka ia akan
bersih dari noda-noda dosa tersebut.
Dari shahabat Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda:
“Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu‟ kemudian mencuci wajahnya, maka akan
keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama
air wudhu‟ atau bersama akhir tetesan air wudhu‟. Apabila ia mencuci kedua tangannya,
maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu‟
atau bersama akhir tetesan air wudhu‟. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar
setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu‟ atau bersama tetesan
akhir air wudhu‟, hingga ia selesai dari wudhu‟nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-
dosa.” (HR Muslim no. 244).
Subhanallah… sebuah rahmat dan kasih sayang yang sangat besar tiada tara yang diberikan
Sang Rabbul „Alamin kepada para hamba-Nya.

2. Anggota Wudhu’ Akan Bercahaya Pada Hari Kiamat
Pada hari kiamat nanti, umat Nabi Muhammad Nabi shalallahu „alaihi wasallam akan
terbedakan dengan umat yang lainnya dengan cahaya yang nampak pada anggota wudhu‟.
Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda:




“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat nanti dalam keadaan dahi, kedua
tangan dan kaki mereka bercahaya, karena bekas wudhu‟.” (HR. Al Bukhari no. 136 dan
Muslim no. 246)
dalam riwayat yang lain:
Bagaimana engkau mengenali umatmu setelah sepeninggalmu, wahai Rasulullah shalallahu
„alaihi wasallam Seraya Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam menjawab: “Tahukah kalian
bila seseorang memilki kuda yang berwarna putih pada dahi dan kakinya diantara kuda-kuda
yang yang berwarna hitam yang tidak ada warna selainnya, bukankah dia akan mengenali
kudanya? Para shahabat menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Rasulullah berkata: “Mereka
(umatku) nanti akan datang dalam keadaan bercahaya pada dahi dan kedua tangan dan kaki,
karena bekas wudhu‟ mereka.” (HR. Mslim no. 249)

Dalam hadits diatas menjelaskan bahwa umat Nabi Muhammad shalallahu „alaihi wasallam
yang akan bercahaya nanti pada hari kiamat itu disebabkan karena amalan wudhu‟. Tentunya,
siapa yang tidak pernah berwudhu‟, maka bagaimana mungkin dia akan bercahaya yang
dengan tanda itu Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam akan mengenali sebagai umatnya?

3. Mengangkat Derajat Disisi Allah subhanahu wata’ala
Semulia-mulia derajat adalah derajat yang tinggi disisi Allah subhanahu wata‟ala. Adapun
seseorang yang meraih derajat tinggi dihadapan manusia itu belum tentu ia berada pada
derajat tinggi disisi Allah subhanahu wata‟ala. Maka dengan wudhu‟ yang sempurna akan
dapat mengangkat derajat yang tinggi disisi Allah subhanahu wata‟ala. Rasulullah shalallahu
„alaihi wasallam bersabda:
“Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang dengannya Allah akan menghapus dosa-
dosa dan mengangkat derajatnya! Para shahabat berkata: “Tentu, wahai Rasulullah.
Kemudian Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Menyempurnakan wudhu‟
walaupun dalam kondisi sulit, memperbanyak jalan ke masjid, dan menunggu shalat setelah
shalat, maka itulah yang disebut dengan ar ribath.” (HR. Muslim no. 251)

Selain wudhu‟ memiliki keutamaan yang besar, wudhu‟ juga memilki peranan dan pengaruh
penting pada amalan yang lainnya.
Coba perhatikan pada shalat lima waktu atau shalat sunnah lainnya yang kita kerjakan! Tidak
akan sah shalat jika tanpa berwudhu‟ terlebih dahulu. Karena wudhu‟ merupakan salah satu
syarat sahnya shalat. Sebagaiamana Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda:




“Tidaklah Allah menerima shalat seseorang apabila ia berhadats hingga dia berwudhu‟.” (HR
Al Bukhari no 135 dan Muslim no 225 dari sahabat Abu Hurairah)
Demikian pula ijma‟ (kesepakatan) para „ulama bahwasanya shalat tidak boleh ditegakkan
kecuali dengan berwudhu‟ terlebih dahulu, selama tidak ada udzur untuk meninggalkan
wudhu‟ tersebut (Al Ausath 1/107).

Berikut ini akan kami paparkan beberapa waktu disunnahkan (dianjurkan) untuk berwudhu‟.
Dengan ini kita akan mengetahui betapa tinggi peranan dan pengaruh dari sebuah amalan
wudhu‟. Sehingga kita tidak menganggapnya enteng. Diantara waktu yang disunnahkan
untuk berwudhu‟, yaitu:

1. Berwudhu’ Ketika Hendak Pergi ke Masjid
Termasuk sunnah Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam berwudhu‟ sebelum berangkat
shalat berjama‟ah ke masjid. Yang memiliki pengaruh (nilai) yang lebih dibanding tidak
berwudhu‟ sebelumnya. Yaitu Allah subhanahu wata‟ala menjadikan barakah pada setiap
langkah kaki kanan maupun kiri berupa pengahusan dosa dan penambahan pahala.
Sebagaimana Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda:
“Apabila seorang dari kalian berwudhu‟, lalu ia menyempurnakan wudhu‟nya, kemudian ia
pergi ke masjid karena semata-mata hanya untuk melakukan shalat, maka tidaklah ia
melangkahkan kaki kirinya melainkan terhapus kejelekan darinya dan dituliskan kebaikan
bersama langkah kaki kanannya hingga masuk masjid.” (HR. Ath Thabrani dalam Al Mu‟jam
Al Kabir dari shahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al
Jami‟ no. 454)

2. Menyentuh Mushaf Al Qur’an
Al Qur‟an adalah kalamullah (firman Allah) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
shalallahu „alaihi wasallam sebagai kitab suci umat Islam. Dalam rangka memulikan Al
Qur‟an sebagai kalamullah (firman Allah) maka disunnhakan berwudhu‟ sebelum memegang
kitab suci Al Qur‟an ini. Al Imam Ath Thabrani dan Al Imam Ad Daraquthni meriwayatkan
hadits Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam dari shahabat Hakim bin Hizam radhiallahu
„anhu:




“Janganlah kamu menyentuh Al Qur‟an kecuali dalam keadaan suci”.
Bagaimana jika hanya membacanya saja tanpa menyentuhnya, apakah hal ini juga
disunnahkan (dianjurkan) oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam? Ya, hal itu
disunnahkan oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. Sebagaimana sabdanya:
“Sesungguhnya aku tidak menyukai berdzikir kepada Allah kecuali dalam keadaan suci.”
(HR. Abu Daud dan An Nasa‟i dari sahabat Ibnu Umar dan dishahihkan Asy Syaikh Al
Albani).
Tentunya, membaca Al Qur‟an adalah semulia-mulia dzikir kepada Allah subhanahu
wata‟ala.

3. Berwudhu’ Ketika Hendak Tidur
Termasuk sunnah Rasulullah adalah berwudhu‟ sebelum tidur. Hal ini bertujuan agar setiap
muslim dalam kondisi suci pada setiap kedaannya, walaupun ia dalam keadaan tidur. Hingga
bila memang ajalnya datang menjemput, maka diapun kembali kehadapan Rabb-Nya dalam
keadaan suci.
Dan sunnah ini pun akan mengarahkan pada mimpi yang baik dan terjauhkan diri dari
permainan setan yang selalu mengincarnya. (Lihat Fathul Bari 11/125 dan Syarah Shahih
Muslim 17/27)
Tentang sunnah ini, Rasulullah telah menjelaskan dalam sabda beliau yang diriwayatkan dari
sahabat Al Barra‟ bin „Azib, bahwasanya beliau berkata:
“Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu, maka berwudhu‟lah sebagaimana wudhu‟mu
untuk shalat.” (HR. Al Bukhari no. 6311 dan Muslim no. 2710)
Lebih jelas lagi, dari riwayat shahabat Mu‟adz bin Jabal, bahwasanya Rasulullah shalallahu
„alaihi wasallam bersabda:
“Tidaklah seorang muslim tidur di malam hari dalam keadaan dengan berdzikir dan bersuci,
kemudian ketika telah terbangun dari tidurnya lalu meminta kepada Allah kebaikan dunia dan
akhirat, melainkan pasti Allah akan mengabulkannya.” (Fathul Bari juz 11/124)

Demikianlah sunnah yang selalu dijaga oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam ketika
hendak tidur, yang semestinya kita sebagai muslim meneladaninya. Bahkan ketika beliau
terbangun dari tidurnya untuk buang hajat, maka setelah itu beliau berwudhu‟ lagi sebelum
kembali ke tempat tidurnya. Sebagaimana yang diceritakan Abdullah Bin Abbas radhiallahu
„anhuma:
“Bahwasanya pada suatu malam Rasulullah pernah terbangun dari tidurnya untuk
menunaikan hajat. Kemudian beliau membasuh wajah dan tangannya (berwudhu‟) lalu
kembali tidur.” (HR. Al Bukhari no. 6316 dan Abu Dawud no. 5043 dan dishahihkan Asy
Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 4217)

4. Berwudhu’ Ketika Hendak Berhubungan Dengan Istri
Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam juga memberikan bimbingan bagi para pasutri
(pasangan suami istri) ketika hendak bersetubuh. Hendaknya bagi pasutri berdo‟a sebelum
melakukannya, dengan doa‟ yang telah diajarkan oleh Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam:




“Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkan
(gangguan) setan terhadap apa yang Engkau rezikan kepada kami.” (HR. Al Bukhari no. 141)
Kemudian ketika sudah usai dan ingin mengulanginya lagi maka hendaknya keduanya
berwudhu‟ terlebih dahulu. Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam bersabda: “Apabila
seseorang telah berhubungan denga istrinya, kemudia ingin mengulanginya lagi maka
hendaklah berwudhu‟ terlebih dahulu.” (HR. Muslim no 308, At Tirmidzi, Ahmad dari Abu
Sa‟id Al Khudri dan dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Ats Tsamarul Mustathob
hal.5)
Dengan tujuan agar setan tidak ikut campur dalam acara yang sakral ini dan bila dikarunia
anak, maka setan tidak mampu memudharatkannya.

Para pembaca, bila kita baca biografi para „ulama, maka kita dapati mereka amat bersungguh-
sungguh menjaga wudhu‟nya dalam setiap keadaan. Sebagai contoh, Al Imam Asy Syathibi.
Beliau adalah seorang yang buta, akan tetapi tidaklah beliau duduk disuatu majlis ilmu,
kecuali beliau selalu dalam keadaan suci. Bahkan diantara „ulama ada yang tidak mau
membaca hadits-hadits Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam hingga mereka berwudhu‟
terlebih dahulu. Bukan karena mereka berpendapat wajibnya berwudhu‟ ketika hendak
membaca hadits, akan tetapi yang mendasari hal itu adalah kesungguhan mereka untuk
memuliakan ilmu dan untuk mendapatkan keutamaan yang besar dalam wudhu‟.
Akhir kata, wudhu‟ bukanlah amalan yang remeh bahkan amalan yang besar disisi Allah
subhanahu wata‟ala. Sehingga mendorong kita untuk selalu dalam kondisi suci (berwudhu‟)
dan berupaya bagaimana berwudhu‟ dengan sempurna yang sesuai dengan tuntunan
Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam. Maka ikutilah pada edisi-edisi mendatang yang insya
Allah akan menampilkan sebuah tema menarik tentang taca cara wudhu‟ yang sesuai dengan
sunnah Rasulullah shalallahu „alaihi wasallam.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:266
posted:5/27/2011
language:Indonesian
pages:5
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl