Docstoc

Bolehkah Sholat Memakai Celana Panjang

Document Sample
Bolehkah Sholat Memakai Celana Panjang Powered By Docstoc
					Bolehkah Sholat Memakai Celana Panjang?
625 views

Pertanyaan:

Ustadz, apa hukumnya shalat memakai celana panjang tanpa memakai
jubah/gamis/sarung? Apakah shalatnya tetap sah? Adakah batasan hukum celana yang
sehari-hari kita pakai selain membuang isbal? Jazakumullahu khairan katsira.

Abu Dzar
Alamat: Tangerang
Email: ibnustaxxxx@gmail.com

Al Akh Yulian Purnama menjawab:
Pada asalnya hukum memakai pakaian apapun dibolehkan dalam Islam, kecuali pakaian-
pakaian tertentu yang termasuk dalam dalil-dalil yang menunjukkan pelarangan. Selain
itu Islam tidak menetapkan model pakaian tertentu untuk shalat. Selama pakaian tersebut
memenuhi syarat maka boleh dipakai untuk shalat, apapun modelnya.

Dengan demikian, yang perlu kita pegang adalah bahwa hukum asal memakai celana
panjang adalah mubah. Namun para ulama memang membahas keabsahan shalat orang
yang saat shalat dengan memakai celana panjang pada 2 keadaan berikut:

1. Celana panjang yang dipakai masih menampakkan warna kulit dan
menampakkan bentuk tubuh (ketat)

Pada kondisi ini para ulama ijma (bersepakat) bahwa hukumnya haram dan shalatnya
tidak sah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam An Nawawi, ulama besar mahdzab
Syafi’i, beliau berkata:

  ‫ل و س خش ب عض عوسح ه ب شيء مه صجاج ب ح يث ح شى ال ب ششة م ىه ل م ح صح ص الح ه ب ال خ الف‬

“Jika sebagian aurat sudah tertutupi dengan sesuatu yang berbahan kaca, sehingga
masih terlihat warna kulitnya, maka tidak sah shalatnya tanpa ada perbedaan pendapat
di antara ulama” (Al Majmu’, 3/173)

Bahkan jika warna kulit hanya terlihat dengan samar, tetap tidak sah shalatnya.
Dijelaskan oleh Ibnu Qudamah, ulama besar mahdzab Hambali, beliau berkata:

  ‫وال واجب ال س خش ب ما ي س خش ل ون ال ب ششة ف إن ك ان خ ف ي فا ي ب يه ل ون ال ج لذ مه وسائ ه ف ي ع لم‬
                               ‫ب يا ضه أو حمشح ه ل م ح جض ال ص الة ف يه ألن ال س خش ال ي ح صل ب زل ك‬

“Menutup aurat sampai warna kulit tertutupi secara sempurna, hukumnya wajib. Jika
warna kulit masih tampak oleh orang dibelakangnya namun samar, yaitu masih bisa
diketahui warna kulitnya putih atau merah, maka tidak sah shalatnya. Karena pada
kondisi demikian belum dikatakan telah menutupi aurat” (Al Mughni, 1/651)

2. Celana panjang yang dipakai telah menutupi warna kulit secara sempurna
namun masih menampakkan bentuk tubuh (ketat)

Pada kondisi ini terjadi perbedaan pendapat diantara para ulama. Sebagian ulama
mengatakan shalatnya tidak sah. Diantaranya Ibnu Hajar Al Asqalani, ulama besar
mahdzab Syafi’i, beliau berkata:

                ‫يعيذ في الو ج ال ن كان صفي ا :عه أ ب فيمه ا خصش علي الصالة في السشاويل م ال ذسة‬

“Aku mendengar ini dari Asyhab, bahwa orang yang mencukupkan diri shalat dengan
memakai celana panjang padahal ia sanggup memakai pakaian yang tidak ketat, ia wajib
mengulang shalatnya pada saat itu juga, kecuali jika ia tidak tahu malu” (Fathul Bari,
1/476)

Tidak sahnya shalat orang yang memakai pakaian ketat juga merupakan pendapat Syaikh
Ibnu Baz, mantan ketua Komite Fatwa Saudi Arabia, ketika ditanya tentang hal ini beliau
menjawab: “Jika celana pantalon ini menutupi aurat dari pusar sampai seluruh paha laki-
laki, longgar dan tidak ketat, maka sah shalatnya. Namun lebih baik lagi jika di atasnya
dipakai gamis yang dapat menutupi hingga seluruh pahanya, atau lebih baik lagi sampai
setengah betis, karena yang demikian lebih sempurna dalam menutupi aurat. Shalat
memakai sarung lebih baik daripada memakai celana panjang jika tidak ditambah gamis.
Karena sarung lebih sempurna dalam menutupi aurat” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz , 1/68-
69, http://www.ibnbaz.org.sa/mat/2480 )

Dalam penjelasan Syaikh Ibnu Baz ini juga ditegaskan bolehnya shalat dengan memakai
celana panjang tanpa ditambah gamis atau sarung, asalkan tidak ketat.

Namun sebagian ulama berpendapat shalatnya tetap sah jika ia telah menutupi warna
kulit dengan sempurna walaupun bentuk tubuh masih terlihat (ketat). Sebagaimana
pendapat Imam An Nawawi, bahkan beliau membantah ulama yang berpendapat
shalatnya tidak sah:

                                          ‫ل لون وو صف حجم ال ب ششة ك ال شك بت واألل يت وو حوه‬
    ‫ما صحج ال ص الة ف يه ل وجود ف لو س خش ا‬
       ‫ال س خش وح كي ال ذاسمي و صاحب ال ب يان وج ا أو ه ال ي صح را و صف ال حجم وهو غ لط ظاهش‬

“Jika warna kulit telah tertutupi secara sempurna dan bentuk tubuh semisal paha dan
daging betis atau semacamnya masih nampak, shalatnya sah karena aurat telah
tertutupi. Memang Ad Darimi dan penulis kitab Al Bayan menyampaikan argumen yang
menyatakan tidak sahnya shalat memakai pakaian yang masih menampakkan bentuk
tubuh. Namun pendapat ini jelas-jelas sebuah kesalahan” (Al Majmu’, 3/173)

Demikian juga pendapat Ibnu Qudamah, beliau menyatakan sahnya shalat memakai
pakaian yang ketat namun beliau tidak menyukai orang yang melakukan hal tersebut:
‫وأن ك ان ي س خش ل وو ا وي صف ال خ ل ت جاصث ال ص الة ألن هزا ال ي م كه ال خحشص م ىه و ن ك ان ال ساح ش‬
                                                                                          ‫ص في ا‬

“Jika warna kulit sudah tertutupi dan bentuk tubuh masih nampak, shalatnya sah.
Karena hal tersebut tidak mungkin dihindari (secara sempurna). Namun orang yang
shalat memakai pakaian ketat adalah orang yang tidak tahu malu” (Al Mughni, 1/651)

Sebagian ulama juga berpendapat shalatnya sah namun pelakunya berdosa dikarenakan
memakai baju ketat. Sebagaimana pendapat Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan
hafizhahullah, ulama besar di Saudi Arabia saat ini, beliau berkata: “Baju ketat yang
masih menampakkan bentuk tubuh wanita, baju yang tipis dan terpotong pada beberapa
bagian, tidak boleh memakainya. Baju ketat tidak boleh digunakan oleh laki-laki maupun
wanita, terutama bagi wanita, karena fitnah wanita lebih dahsyat. Adapun keabsahan
shalatnya tergantung bagaimana pakaiannya. Jika pakaian ketat ini dipakai seseorang
untuk shalat, dan telah cukup untuk menutupi auratnya, maka shalatnya sah karena aurat
telah tertutup. Namun ia berdosa karena memakai pakaian ketat. Sebab pertama, karena
dengan pakaian ketatnya, ia telah meninggalkan hal yang disyariatkan dalam shalat, ini
terlarang. Sebab kedua, memakai baju ketat dapat mengundang fitnah karena membuat
orang lain memalingkan pandangan kepadanya, apalagi wanita.” (Muntaqa Fatawa
Shalih Fauzan, 3/308-309)

Dari beberapa penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa letak perbedaan pendapat di
antara para ulama adalah dalam memutuskan apakah memakai pakaian ketat dalam shalat
itu sudah termasuk menutup aurat atau tidak. Dengan demikian ini adalah perkara
khilafiyyah ijtihadiyyah, yang masing-masing pendapat dari ulama tersebut harus
dihormati.

Namun yang paling baik adalah menghindari hal yang diperselisihkan dan mengamalkan
hal yang sudah jelas bolehnya. Sehingga memakai pakaian yang longgar dan lebar hingga
tidak menampakkan warna kulit dan tidak menampakkan bentuk tubuh adalah lebih
utama.

Kemudian perlu digarisbawahi, seluruh penjelasan di atas berlaku bagi setiap orang yang
memiliki kemampuan dalam pakaian, ia berkecukupan dalam berpakaian dan mampu
mengusahakan untuk memiliki pakaian yang longgar dan tidak ketat. Adapun orang yang
tidak berkemampuan untuk berpakaian yang longgar, misalnya orang miskin yang hanya
memiliki sebuah pakaian saja, atau orang yang berada dalam kondisi darurat sehingga
tidak mendapatkan pakaian yang longgar, maka shalatnya sah dan ia tidak berdosa.
Berdasarkan hadits dari Jabir bin Abdillah yang menceritakan dirinya ketika hanya
memiliki sehelai kain untuk shalat, maka Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
bersabda:

                                                   ‫ن كان ال و واسعا فالخحف به و ن كان ضي ا ف حضس به‬

“Jika kainnya lebar maka gunakanlah seperti selimut, jika kainnya sempit maka
gunakanlah sebagai sarung” (HR. Bukhari no.361)
Allah Ta’ala juga berfirman:

                                                            ‫ما اسخ عخم‬   ‫فاح وا‬

“Bertakwalah kalian semampu kalian” (QS. At-Taghabun 16 )

Demikian penjelasan kami. Wallahu’alam.

Penulis: Yulian Purnama
Murajaah: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Sumber: UstadzKholid.Com

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:64
posted:5/27/2011
language:Indonesian
pages:4
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl