Docstoc

seorang kakek di trotoar

Document Sample
seorang kakek di trotoar Powered By Docstoc
					SEORANG KAKEK DI TROTOAR
Seorang lelaki tua dengan rambut dikepang satu dan kepala yang selalu terkulai, telah menyita seluruh perhatianku. Bagaimana aku tidak tertarik? Lelali itu hampir setiap hari berdiri di pinggir gang sekolahku seakan tak peduli pada terik matahari yang garang atau pada hujan yang bisa membuat dirinya basah kuyup. Ia selalu dirinya basah kuyup. Ia selalu tegak disana, mengamati orang yang sibuk mengejar waktu dan mobil yang lalu lalang. Begitulah, aku selalu menemukannya bila melewati tempat itu menuju ke sekolah atau sepulang sekolah. Aku berangkat sekolah pukul 06.30 dan pulang sekolah pukul 13.30. Mengamati si kakek dari angkot walau sekilas-sekilas, kini seakan menjadi suatu pekerjaanyang mengasyikan. Jika sehari saja aku tak melihatnya, aku merasa kehilangan. Ia kerap memakai jaket warna hijau dan bercelana jeans kumel dan lusuh. Rambutnya gondrong beruban selalu ia kepang dan ia tutup dengan peci tentara. Ketertarikanku pada laki-laki itu bukan tanpa sebab. Aku teringat pada Ibu Titin guru sastra ku, seorang guru yang menjadi idolaki karena wawasannya luas dan selalu membuat pengajarannya menarik. Waktu itu Ibu Titin membawa seorang pemuda aneh ke kelas ia bernama Yanto, seorang pemain teater. Pakaiannya kumal, celananya boling disana sini, di lehernya terlilit syal, rambutnya ikal gondrong dan dibiarkanya terurai. Ia kelihatannya tidak risi dengan penampilannya yang seperti itu, karena ketika kami, murid-murid di kelas secara sepontan menertawakannya, ia nampak bisaa-bisaa saja, tidak memperlihatkan rasa tersinggung. Yanto berbicara banyak mengenai dunia teater dengan gaya yang ringan, bebas dan ceplas-ceplos. Ternyata bukan hanya penampilannya yang mengundang perhatian kami, tapi juga gaya bicaranya. Ia seniman, seniman memang cenderung begitu, cenderung eksentrik. Cenderung ingin bebas, kata guruku. Aku perhatikan kakek di trotoar itu. Apakah ia seorang seniman juga? Bu Titin pernah bercerita mengenai seorang pengarang terkenal, yang sering tidur di stasiun, sekadar untuk mencari inspirasi. Ada juga yang berlama-lama jongkok di kakus. Mungkin kakek itupun begitu, diam di sana berlama-lama sekadar mencari inspirasi. Waktu itu, Bu Titin bercerita banyak mengenai “kegilaan” seniman.

Tentang gaya hidupnya yang aneh, tentang penampilannya yang mengundang perhatian orang, meskipun menurut Bu Titin, semua itu dilakukan si seniman bukan tanpa alas an, tergantung penghayatan si seniman itu sendiri terhadap hidup. Andai ia seniman, seniman apa adanya? Pengarangkah dia seperti halnya Guy De Maupassant, cerpenis Francis yang kata Bu Titin hidupnya aneh? Aku juga ingin tahu apa sebenarnya yang dicoret-coretkan kakek itu diatas notesnya. Mungkinkah ia seorang penyair? Kesibukan ditempat itu bisa saja menjadi inspirasi buat syair-syairnya. Siapa tahu dengan berlama-lama di tempat itu, dengan penampilan aneh-aneh itu, syair-syairnya menjadi ampuh. Karena, toh adapula penyair yang bergaya hidup agak “gila” seperti Rabindranath Tagore, sastrawan dari India, atau seperti Arthur rimbaud, penyair terkemuka Francis, yang bahkan menurut Bu Titin, telah menjadikan hidupnya sebagai eksperimen. O, ya, guru seni budayaku, pernah bercerita tentang seorang pelukis surealis bernama Salvador Dali yang hidupnya “edan”. Jangan-jangan kakek itu seorang pelukis. Ia tampak sering mencoret-coret notesnya dengan skets-skets. Mungkinkah kakek itu seorang pematung, yang ingin menciptakan patung-patung seperti “thinker” buatan August Robin, atau seorang filsuf yang juga sastrawan seperti Nietzsdhe sengaja membuat hidupnya sengsara dan mengasingkan diri. Siapa tahu dia sebenarnya seorang seniman yang karya-karyanya dikenal orang, tetapi aku tidak mengetahuinya. Tapi, rasanya hanya aku yang memperhatikan dia, orang lin tak pernah peka pada keunikan kakek itu. Kepenasaranku kepada laki-laki itu semakin hari semakin memuncak. Dan ketika rasa penasaranku itu tak dapat dibendung lagi, aku nekat menghampiri kakek itu dan menyapanya. Ia sedang duduk dibawah di gapura gang dan mencoret-coret notesnya. Ia bergumam tak acuh menjawab sapaanku dan terus asyik dengan catatan dibuku kecilnya. Aku jadi ragu untuk menyapanya lagi. Barang kali ia merasa terganggu dengan kedatanganku. Jadi aku harus mengambil waktu yang tepat. Akhirnya aku perhatikan ia lebih jauh. Ia masih menulis. Tetapi, ketika beberapa anak kecil lewat didepannya, kakek, itu berhenti menulis menghadang anakanak itu, lalu ia mengulurkan tangannya kepada mereka. Anak-anak kecil yang dengan kaki telanjang dan berlari-lari kecil melewati si kakek itu, dengan cekikikan menyalami si kakek. Si kakek tersenyum-senyum dan mengamati keadaan sekeliling dengan wajah cerah. Rupanya ia dicintai dan mencintai anak-anak pula, pikirku.

Esok harinya aku mendapat kesempatan untuk mengobrol dengan dia. Seperti bisaa, mula-mula aku hanya menyapa. Si kakek yang sedang asik memperhatikan orang-orang yang menumpang mobil, menoleh padaku dan tiba-tiba tertawa riang. Ia menarik tanganku. “Sini kau! Ini lihat! Lihat!” “Apa, Kek?” “Ini gambar! Ini gambar!” katanya bersemangat sambil menunjuk coretan yang tak kumengerti di notesnya. Melihat gambar ini, yakinlah aku sekarang, bahwa ia seorang pelukis. Bukan pengarang, penyair atau pematung seperti dugaanku semula. Aku mengamati coretan di notes itu sejenak. “Ganbar apa, Kek? Aku tak mengerti?” Tanya ku ingin tahu. Si kakek tertawatawa lagi. “Ini gambar, ini gambar!” aku semakin tak mengerti. Tetapi kakek itu tiba-tiba berteriak, “Ada bom! Bom! Tiaraaapppp!!” ia memegang lenganku dan menariku untuk tiarap. Meskipun tak mengerti apa maksudnya, aku tiarap juga. Setelah agak lama, si kakek mengajakku bangun lagi. Tetapi kemudian aku merasakan keganjilan. Orangorang yang lewat, menatapku dan si kakek secara bergantian dengan mimik heran. Ada juga diantara mereka yang tertawa cekikikan. Dalam keadaan begitu, aku merasa bahuku ditepuk seseorang dengan keras. “Hei, kik!” teriak orang yang menepuk bahuku. Aku menoleh, ternyata temanku. “Sedang apa kau disini?” ternyata belum sempat aku menjawab, Indah sudah menyahut tinggi sambil terbahak, “Main dengan orang gini?” Aku terperangah ketika melihat temanku menyilangkan telunjuknya di atas dahinya. Ternyata dia bukanlah seorang seniman melainkan orang gila.

Nama Kelas No. Absen

: Shofwin Rizqiyatie :X2 : 33


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: cerpen
Stats:
views:409
posted:7/2/2009
language:Indonesian
pages:3