Sby boediono yesus lahir dari komplek pelacuran Alkitab Rahab ayat 5
Dea Cyndi Andika anggie Silsilah YESUS KRISTUS Pdt. Handoyo Santoso, M.Min. | Keb. III Minggu, 25 Desember 2005 Disadur oleh Yuyu | Tanggal Terbit : Minggu, 17/12/06 Lihat Video Streaming : Versi Hi | Versi Low Lima wanita yang disebut di dalam silsilah YESUS KRISTUS bukanlah superwoman, wanita yang cerdas, berpengaruh ataupun suci. Kalau begitu, apa rahasianya mereka mendapat kehormatan termasuk dalam “nenek moyang” YESUS? Simaklah cuplikan hidup kelima wanita ini. MATIUS 1:1-2 1 Inilah silsilah YESUS KRISTUS, anak Daud, anak Abraham. 2 Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya Sebagai orang Kristen, kita telah mempelajari bahwa YESUS adalah ANAK ALLAH; DIA lahir ke dunia ini sama sekali bukan dari benih Maria atau Yusuf. Tentu menyisakan tanda tanya besar bagi kita, apakah mempelajari silsilah YESUS KRISTUS ini perlu bagi kita? Silsilah di dalam Matius pasal satu ini adalah silsilah berdasarkan garis keturunan Yusuf, ayah jasmani YESUS. Benih Yusuf sama sekali tidak memiliki andil dalam kelahiran YESUS, namun mengapa silsilah ini ditulis dalam Alkitab dan perlu kita telaah?
Ayat kedua dalam Injil Matius pasal satu ini merunut silsilah YESUS yang dimulai dari Abraham. Mengapa tidak dimulai dengan Adam sebagai “nenek moyang” YESUS? Abraham adalah bapak orang beriman, yang terbukti dengan sepenuh hati mentaati perintah ALLAH untuk mempersembahkan Ishak di bukit Moria. Tatkala Abraham hendak menghujamkan pisaunya menyembelih Ishak yang terikat di atas mezbah korban bakaran, ALLAH berkata agar Abraham jangan menyembelih Ishak. Sebagai gantinya, ALLAH menyediakan anak domba yang tersangkut di semak duri. Domba yang menggantikan Ishak itu adalah lambang kelahiran YESUS, yang nantinya akan memakai mahkota duri untuk menebus dosa kita. Peristiwa ini menggambarkan iman Abraham kepada ALLAH yang menyediakan korban, sehingga Ishak selamat.
GALATIA 3:89
8 Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa ALLAH membenarkan orangorang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: "Olehmu segala bangsa akan diberkati." 9 Jadi mereka yang hidup dari iman, merekalah yang diberkati bersama-sama dengan Abraham yang beriman itu.
Walikota Lurah bajingan masak gua Aminah di suruh bugil bajingannn malu dong………………………………………….. Nita hhhh protess ani prostes juga………………………………………..RW ilyas bajingan tikus got Terdapat “keanehan” pada ayat di atas yang menyatakan, Injil telah diberitakan kepada Abraham, sebab Injil baru diberitakan dalam Perjanjian Baru. Abraham yang percaya, bahwa ALLAH telah menyediakan domba untuk menggantikan Ishak itu menggambarkan Abraham beriman kepada YESUS, Domba ALLAH yang menebus isi
dunia ini. Itu adalah Injil yang diberitakan. asap bajingan di rawa hitam gatal
TV Sarang tikus gott sapu lidi
Jika kita beriman seperti Abraham, bahwa YESUS datang ke dunia ini untuk mati menggantikan kita yang seharusnya mati karena dosa kita, maka kita juga masuk dalam generasi YESUS KRISTUS. Di dalam Alkitab versi American Standard, Matius 1:1 dituliskan, “The book of the generation of JESUS CHRIST...” Berarti nama-nama yang tercantum di dalamnya termasuk generasi YESUS KRISTUS, generasi orang-orang beriman. Yang menarik, ada lima orang wanita dalam silsilah YESUS KRISTUS ini. Lima wanita ini menggambarkan gereja TUHAN. Sebagai gereja TUHAN, kita harus masuk di dalam silsilah YESUS. MATIUS 1:3 3 Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram Di Alkitab ada beberapa Tamar, namun wanita pertama dalam silsilah YESUS adalah Tamar yang menjadi menantu Yehuda. Tamar bukanlah wanita yang cemerlang, justru hidupnya suram. Biografi Tamar yang berwarna kelabu ini dapat kita baca di dalam kitab Kejadian pasal 38. KEJADIAN 38:13-16 13 Ketika dikabarkan kepada Tamar: "Bapa mertuamu sedang di jalan ke Timna untuk menggunting bulu domba-dombanya," 14 maka ditanggalkannyalah pakaian kejandaannya, ia bertelekung dan berselubung, lalu pergi duduk di pintu masuk ke Enaim yang di jalan ke Timna, karena dilihatnya, bahwa Syela telah menjadi besar, dan dia tidak diberikan juga kepada Syela itu untuk menjadi isterinya. 15 Ketika Yehuda melihat dia, disangkanyalah dia seorang perempuan sundal, karena ia menutupi mukanya. 16 Lalu berpalinglah Yehuda mendapatkan perempuan yang di pinggir jalan itu serta berkata: "Marilah, aku mau menghampiri engkau," sebab ia tidak tahu, bahwa perempuan itu menantunya. Tanya perempuan itu: "Apakah yang akan kauberikan kepadaku, jika engkau menghampiri aku?" Tamar menikah dengan anak Yehuda, namun suaminya itu meninggal dunia. Suatu hari Tamar mendengar ayah mertuanya sedang dalam perjalanan untuk menggunting bulu domba, Tamar segera pasang aksi untuk menjerat mertuanya sendiri agar jatuh dalam pelukannya. Saat pertemuan terjadi, terjadi pulalah transaksi antara mertua dan menantu seperti yang direncanakan Tamar. Yehuda mengajak tidur Tamar sebab tidak mengetahui
itu adalah menantunya sendiri (sebab Tamar menyelubungi wajahnya) sedangkan Tamar bak wanita panggilan profesional yang menuntut bayaran sebelum memberikan jasanya. Episode Tamar-Yehuda ini menggambarkan potret keluarga porak poranda. Tapi justru YESUS mau lahir melalui Tamar. Gereja TUHAN jangan berkecil hati jika mengalami posisi rumah tangga yang sudah tidak karuan bentuknya lagi, sebab DIA lahir untuk memperbaiki rumah tangga yang sudah hampir roboh seperti ini. Mujizat pertama yang dibuat oleh YESUS adalah memberikan air anggur yang manis dalam perkawinan di Kana di dalam Yohanes 2:10-11. Dalam pelayanan, saya menjumpai banyak jemaat yang konseling mengenai masalah di dalam rumah tangga, baik hubungan antara orang tua-anak, suami-istri, mertua-menantu yang kurang harmonis. Inilah tujuan TUHAN YESUS lahir ke dunia. Memang dunia ini telah dirusak oleh setan mulai dari rumah tangga. YESUS mau memperbaiki rumah tangga yang rusak dengan memasukkan Tamar dalam silsilah TUHAN YESUS. Sudahkah kita menerima berkat Natal, masuk di dalam silsilah YESUS seperti Tamar? Marilah kita berdoa, agar kita masuk dalam silsilah TUHAN YESUS: menjadi Tamar yang rumah tangganya diperbaiki oleh TUHAN. MATIUS 1:5 5 Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai Wanita kedua yang berada dalam silsilah YESUS KRISTUS ini adalah Rahab, seorang yang berprofesi sungguh hitam: sebagai pelacur! Masuknya Rahab dalam silsilah YESUS ini menggambarkan YESUS mau lahir bagi semua orang, apapun juga profesinya. YOSUA 2:1 1 Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: "Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho." Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ. YESUS sudah lahir bagi kita; di pihak kita, maukah kita menerima keselamatan seperti Rahab? Pada saat Yosua mengirimkan dua pengintai ke Yerikho, maka Rahab meminta dia diperlakukan dengan baik, artinya tidak membunuhnya seperti yang akan dilakukannya terhadap penduduk Yerikho. Pertemuan antara pengintai yang dikirim Yosua ini adalah gambaran ALLAH yang mengutus Firman dan Kuasa-NYA, yaitu YESUS ke dunia ini. YOSUA 2:18 18 sesungguhnya, apabila kami memasuki negeri ini, haruslah tali dari benang kirmizi ini kauikatkan pada jendela tempat engkau menurunkan kami, dan ayahmu serta ibumu, saudara-saudaramu serta seluruh kaum keluargamu kaukumpulkan di rumahmu.
Kedua mata-mata ini mengatakan, bahwa Rahab akan selamat jika mengikatkan tali kirmizi (tali yang berwarna merah) di tempat pengintai itu diturunkan. Ini adalah gambaran YESUS lahir ke dunia untuk menebus dosa manusia. Tali kirmizi itu gambaran darah YESUS. Jika kita yakin YESUS, ALLAH yang lahir ke dunia untuk menebus dosa kita, DIA mau menyelamatkan kita apapun juga background dan profesi kita. Rahab tidak mengunci kamarnya, lalu diam-diam memasang tali kirmizi untuk keselamatan bagi dirinya sendiri. Tidak. Rahab memohon agar bukan saja dia, namun seluruh keluarganya juga menerima keselamatan. Orang yang masuk dalam generasi YESUS akan bertindak seperti Rahab yang membawa orang lain kepada Injil yang menyelamatkan. Jika kita telah menerima YESUS melalui “Rahab” yaitu anggota keluarga atau teman kita, kita juga harus menjadi “Rahab” bagi keluarga dan kerabat yang belum menerima berkat keselamatan. Kita bawa orang-orang itu supaya menjadi “Rahab”, menjadi generasi YESUS yang berikutnya. Kita tidak perlu minder karena kita memiliki masa lalu yang kelam. Rahab memiliki rasa percaya diri sehingga mampu membawa jiwa untuk diselamatkan bukan karena dia pengusaha sukses, intelek atau memiliki kehebatan lainnya, namun dia mengandalkan ALLAH. Perempuan Samaria yang dikisahkan di dalam Yohanes pasal 4 adalah orang yang seprofesi dengan Rahab, tapi diubahkan oleh TUHAN setelah dia bertemu dengan TUHAN di tepi sumur. Wanita ini sengaja mengambil air di siang hari supaya tidak bertemu wanita lain. Dia minder karena profesinya tidak patut dibanggakan. Di tepi perigi itulah YESUS lahir di hati perempuan itu. Saat menerima YESUS, perempuan ini diubahkan oleh TUHAN. Dia tidak lagi diliputi rasa minder; dengan percaya diri dia masuk ke kampung dan bersaksi. Perkataannya singkat dan sederhana, “Di sana ada SEORANG yang mengatakan kepadaku segala yang telah kuperbuat. Mungkinkah DIA KRISTUS itu?” (Yohanes 4:29). Namun efeknya luar biasa dahsyat: semua orang di kampung itu mencari YESUS (Yohanes 4:30). Ini adalah kuasa yang diberikan TUHAN. Terhisab dalam silsilah YESUS memberi kuasa yang luar biasa. Bahkan kita tidak pernah menyangka, bahwa kita mampu berbicara kepada seseorang dan hasilnya orang itu yakin. Bukan karena kita hebat, tetapi karena kita mengalami kelahiran YESUS di dalam hati kita. Hal itu saya alami sendiri. Saya tidak pernah membayangkan saya mampu berbicara membawakan Firman, karena tadinya untuk berbicara secara personal saja, saya mengalami hambatan. Tapi kalau YESUS menentukan saatnya saya untuk saya menyampaikan Firman dan saya menyerahkan diri dengan rendah hati, maka TUHAN memakai saya untuk membangun generasi-generasi berikutnya yang lahir dalam silsilah YESUS. Jika TUHAN memasukkan kita dalam garis silsilah-NYA, tentu kita akan menerima berkat yang berkelimpahan. RUT 3:8-9
8 Pada waktu tengah malam dengan terkejut terjagalah orang itu, lalu meraba-raba ke sekelilingnya, dan ternyata ada seorang perempuan berbaring di sebelah kakinya. 9 Bertanyalah ia: "Siapakah engkau ini?" Jawabnya: "Aku Rut, hambamu: kembangkanlah kiranya sayapmu melindungi hambamu ini, sebab engkaulah seorang kaum yang wajib menebus kami." Rut yang berasal dari Moab menjadi wanita urutan ketiga dalam silsilah YESUS. Orang Moab adalah orang kafir, gambaran kekejian di hadapan ALLAH. Kedatangan Rut di tengah malam itu ke tempat Boaz adalah gambaran malam di mana YESUS lahir. Boaz yang menggambarkan YESUS KRISTUS berkata, “Siapakah engkau? Kita sebagai Rut harus mengakui, “Aku Rut” artinya aku orang kafir, orang berdosa. “Kembangkan kiranya sayapmu melindungi hambamu” memiliki makna bahwa kita sebagai “Rut” memohon agar YESUS memberikan kain lampin-NYA, memberikan kebenaran-NYA bagi kita, orang kafir ini. Terlahir sebagai “Rut” di dalam keluarga yang sama sekali bukan Kristen, bahkan mungkin kita satu-satunya di dalam keluarga yang menjadi orang Kristen, kita tidak perlu kecil hati. Jika kita menerima kebenaran dari YESUS sehingga terhisab dalam silsilahNYA seperti Rut, kita akan mampu melahirkan YESUS di dalam hati generasi-generasi berikutnya. Artinya kita mampu bersaksi tentang kemurahan TUHAN yang telah menebus dosa kita. MATIUS 1:6 6 Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria Istri Uria yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Batsyeba. Wanita keempat dalam silsilah YESUS KRISTUS ini juga bukan orang yang berlatar belakang bersih. Tatkala statusnya masih sebagai istri Uria, Daud yang kepincut dengan moleknya tubuh telanjang Batsyeba, dengan sombong memerintahkan memanggilnya, kemudian tidur dengan dia. Tanpa mampu menolak apalagi melawan, Batsyeba meladeni kehendak rajanya itu. Mungkin ada di antara kita yang tergolong “Batsyeba” yang teraniaya, “Batsyeba” yang lemah dan tidak mampu berbuat apa-apa bagi TUHAN. Kami sekeluarga juga pernah mengalami sebagai “Batsyeba” yang tidak mampu berbuat apa-apa saat sekitar 30 tahun lalu. Saat itu jumlah jemaat yang dirintis Papa di daerah Cipanas, Puncak hanya segelintir orang. Kami sekeluarga saat itu merasa bukan apa-apa, tidak tahu bagaimana hari depan sebagai pelayan TUHAN. Tepat tanggal 25 Desember 1975, adik bungsu saya, Yusak, lahir. Papa tidak punya uang untuk membayar biaya kelahiran di bidan. Belum selesai masalah ini, adik saya, Sri, tertabrak sepeda motor dan harus disuntik tetanus. Seluruh uang terakhir yang kami miliki digunakan untuk membayar biaya suntik tetanus itu. Dari mana uang untuk membayar bidan? Karena kita berserah, TUHAN menolong justru melalui orang yang tidak kita sangka-sangka. Itu adalah mujizat Natal yang kita terima. “Batsyeba” yang tertindas mampu menjadi garis keturunan YESUS kalau mau bersandar kepada-NYA.
“Sebab IA tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas...” dalam Mazmur 22:25 merupakan ayat yang memberi kekuatan bagi orang yang tidak mampu berbuat apa-apa. Syaratnya adalah kita meminta pertolongan kepadaNYA. Kadang-kadang kita sibuk meminta tolong kepada pasangan, orang tua, orangorang lain dan lupa meminta tolong kepada TUHAN. Berteriaklah dengan lantang sampai ke tahta-NYA di Sorga, maka DIA akan menolong kita. Mungkin kita adalah istri yang tertindas, punya suami suka entertain sobat-sobatnya dengan royal namun sangat pelit kepada istrinya. Mungkin kita adalah suami yang tertindas karena istri sewenang-wenang menggunakan uang padahal gaji suami paspasan. Janji pembebasan bagi “Batsyeba” yang tertindas dikumandangkan dalam Lukas 4:19. Kita yang terbelenggu, yang tidak memiliki masa depan dibebaskan TUHAN di hari Natal ini, karena kita terhisab dalam silsilah-NYA. MATIUS 1:16 16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan YESUS yang disebut KRISTUS. Wanita terakhir yang disebut dalam silsilah YESUS KRISTUS juga hanya seorang wanita biasa. Maria bukan wanita tanpa dosa, namun dia disebut wanita yang berbahagia. Kuncinya yang perlu kita pelajari terletak di dalam Lukas 1:38, yaitu respon Maria “sesungguhnya aku ini adalah hamba TUHAN; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Itu adalah respon Maria atas pemberitaan malaikat bahwa dia dipilih untuk menjadi ibu jasmani YESUS. Jika kita bersikap seperti Maria dalam setiap tindakan kita untuk menurut perintah TUHAN, maka kita akan berhasil. Apapun juga background kita: keluarga berantakan, profesi yang memalukan, tidak kuasa berbuat apa-apa, tidak menjadi halangan untuk menjadi saksi TUHAN. Asalkan kita mengikatkan tali kirmizi, maka kita akan selamat. Marilah kita berkata, “Jadilah sesuai kehendak-MU”, maka kita akan disebut orang yang berbahagia. Amin.
Mengapa silsilah begitu penting? Kita tergoda melewati daftar silsilah Yesus yang begitu panjang. Dalam 17 ayat pertama Injil Matius ada 46 tokoh yang hidupnya tidak kurang dari 2000 tahun. Walaupun nenek moyang Yesus, tak satu pun yang sama: kepribadian, pengalaman maupun spiritualitasnya. Beberapa adalah pahlawan iman. Sebagian kelabu hidupnya. Sebagian lagi orang-orang biasa (Hezron, Ram, Nahason, Akhim). Sebagian lagi jahat (Abia, Manasye). Karya Allah dalam sejarah tidak dibatasi oleh kegagalan dan dosa manusia! Bukankah ini mendorong kita rendah hati dan berbesar harap? Keajaiban besar. Pernahkah merenungkan Tuhan Yesus? Bahwa Ia sungguh unik tiada dua? Satu-satunya manusia ber-Bapa di surga tanpa ibu, beribu di dunia tanpa bapa! Itu sebabnya Yusuf diperkenalkan sebagai suami Maria. Mengapa silsilah-Nya di Matius dan Lukas berbeda? Matius menelusuri sampai ke Abraham karena ditujukan kepada orang Yahudi, Lukas sampai ke Adam sebab tulisannya untuk orang non-Yahudi. Yesus adalah Juruselamat orang Yahudi maupun non-Yahudi
Renungkan: Jika Anda masuk rencana-Nya, Anda tidak terlalu kecil tanpa arti bagiNya. Doa: Aku rindu terlibat dalam rencana besar-Mu, ya Tuhan. Selasa, 23 Desember 1997
Silsilah Yesus.
Matius 1:1-17 Silsilah Yesus. Injil Matius dimulai dengan silsilah Yesus Kristus. Apa yang ingin Matius ungkapkan sebenarnya? Di dalam Septuaginta (Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani) istilah 'silsilah' hanya ditemukan dalam Kej. 1 dan 5. Ini menandakan bahwa penggunaan istilah 'silsilah' dimaksudkan Matius untuk mengungkapkan asal usul Yesus. Berarti sejak ayat pertama, Injil Matius telah membawa kita ke dalam pertanyaan yang sangat penting bagi setiap manusia yaitu: Siapakah Yesus? Apa peran-Nya dalam rencana Allah dan dalam kehidupan kita? Sebagai anak Daud, Yesus menggenapi janji Allah kepada Daud bahwa keturunannya akan tetap menduduki takhta Israel dan memerintah kerajaan di seluruh alam semesta (2Sam. 7:12-16; Yes. 9:6-7). Sebagai anak Abraham, Yesus menggenapi janji yang diberikan kepada nenek moyang bangsa Israel. Karena Dia, seluruh umat manusia akan diberkati (Kej. 12:1-3). Penggenapan tentang berkat universal kepada semua bangsa di dalam Yesus memang menjadi fokus utama Injil Matius. Karena berkat universal disebut dalam ayat pertama dan ayat terakhir Injil Matius. Sebagai anak Daud dan anak Abraham Yesus benar-benar telah lahir dan ada dalam sejarah manusia. Ini dibuktikan oleh Matius melalui silsilah Yesus Kristus (2-16).Silsilah Yesus Kristus ini berdasarkan data sejarah dalam Perjanjian Lama dan buku catatan di dalam Bait Allah di Yerusalem. Ini semakin menegaskan bahwa berkat universal itu telah tersedia bagi umat manusia. Renungkan: 17 ayat pertama Injil Matius kembali mengingatkan kita bahwa Yesus adalah fokus utama dalam firman Tuhan. Dialah Tuhan dan Juruselamat yang Allah berikan bagi seluruh umat manusia. Marilah di malam Natal ini kita panjatkan puji syukur yang paling agung atas berkat yang telah dilimpahkan bagi kita di dalam Yesus, sekaligus mengevaluasi apakah hidup kita sudah senantiasa terfokus kepadaNya. Bacaan untuk Minggu Advent 4 2Samuel 7:8-16 Roma 16:25-27 Lukas 1:26-38 Mazmur 89:1-4, 14-18 Lagu: Kidung Jemaat 122 Minggu, 24 Desember 2000
Wanita di balik rencana keselamatan Allah.
Matius 1:1-17 Wanita di balik rencana keselamatan Allah. Pada umumnya kedudukan seorang wanita dalam hak waris, hak belajar, hak bekerja, hak berpendapat, dll. dalam budaya dunia dianggap remeh. Akan tetapi, pandangan Allah terhadap wanita berbeda dengan dunia. Nas inilah buktinya. Injil Matius dibuka dengan penulisan garis keturunan Yesus yang terdiri dari empat puluh dua keturunan dari Abraham sampai Daud; keturunan Daud yang terbuang ke Babel; generasi yang lahir dari pembuangan ke Babel (ayat 17). Yang menarik dari nas ini ialah dituliskannya tiga nama wanita yang memiliki riwayat hidup yang "cacat" Mengapa? Cerita tentang mereka kurang baik dan tidak terhormat. Ketiga wanita tersebut yakni: Tamar (ayat 3); Rahab (ayat 5a); Batsyeba, istri Uria (ayat 6). Pertama, sebenarnya Tamar adalah menantu dari Yehuda (Kej. 38:6, 8-11). Janji Yehuda untuk memberikan Syela menjadi suami bagi Tamar ternyata bohong (ayat 14). Jadi, Tamar menyamar sebagai "wanita nakal" untuk menggoda Yehuda dan melahirkan Peres dan Zerah. Kedua, Rahab adalah seorang "wanita nakal" Kanaan yang melindungi pasukan pengintai Israel saat mereka hendak melarikan diri dari kota Yerikho (Yos. 2). Penyebab Rahab menolong mereka karena ia memercayai Allah Israel (ayat 9-13). Ketiga, Batsyeba adalah istri Uria yang menjadi korban keinginan nafsu Raja Daud, ketika suaminya berperang membela Israel melawan Amon. Batsyeba melahirkan seorang anak yang meninggal tidak lama setelah ia lahir. Barulah kemudian Salomo lahir (ayat 2 Sam. 11). Allah dalam kehendak-Nya dan kedaulatan-Nya memilih Tamar, Rahab, dan Batsyeba menjadi nenek moyang Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa penggenapan keselamatan Allah melalui Yesus bagi manusia, tidak berdasarkan "bersih" tidaknya maupun terhormat tidaknya status seseorang di masyarakat. Keselamatan bagi hidup kita pun tidak didasarkan pada siapakah kita, bagaimanakah masa lalu kita, apa pekerjaan kita, dll. Renungkan: Syarat menjadi bagian dari umat Allah bukan karena keberadaan kita melainkan hati dan iman yang tertuju kepada-Nya. Jumat, 24 Desember 2004
Pondok Renungan
Kapan Yesus Lahir? Di Mana Tempat Tinggal Keluarga Kudus?
Saya terbiasa membaca kisah kelahiran Yesus sebagai kombinasi kisah dari Lukas dan Mateus, seakan-akan kisah kelahiran Yesus yang melibatkan nama-nama seperti Herodes Agung, Quirinius, atau juga beberapa detail seperti para gembala serta tiga raja itu adalah satu kisah yang utuh. Namun ternyata bila kedua kisah kelahiran Yesus menurut Lukas dan Mateus ini dibaca dan diteliti secara terpisah
maka akan kelihatan betapa besar pertentangan antara keduanya. Pertentangan paling nyata adalah soal waktu kelahiran Yesus. Kapan Yesus lahir? Kadang kita berpikir, untuk apa bertanya tentang fakta sejarah, karena toh Kitab Suci bukan dokumen sejarah. Seorang teman dengan berapi-api mengatakan bahwa walaupun ada pertentangan dalam kisah kitab suci, imannya tak akan diganggu gugat. Saya kira iman saya juga tidak akan diganggu gugat juga. Tapi dia memberikan alasan mengapa imannya tidak terganggu; "Because biblical accoutns are not historical." Kalimat ini sangat berbahaya. Apa yang dimaksudkan dengan "historical?" Sebuah mithos adalah sesuatu yang historical, because it was (and is still being) told in a particular historical context. Karena itu mithos juga bersifat historis. Kisah kitab suci juga demikian....!!! Menurut kisah narratives di injil Lukas, Yesus lahir pada saat terjadinya sensus penduduk di masa Quirinius. Benar bahwa Quirinius menjadi magistrate di Syria dan ada evidence tentang sensus yang diadakan di masa Quirinius. Sensus tersebut menurut bukti-bukti arkelogis dan bukti tertulis lainnya, terjadi pada tahun 6 masehi. Jadi kalau kelahiran Yesus dihubungkan dengan sensus, maka Yesus seharusnya lahir pada tahun 6 Masehi. Dalam paragraph kedua dari "Arabic Gospel of The Infancy" dimasukan juga data tentang census penduduk yang dimulai oleh Kaisar Augustus.
"In the three hundred and ninth year of the era of Alexander, Augustus put forth an edict, that every man should be enrolled in his native place. Joseph therefore arose, and taking Mary his spouse, went away to Jerusalem, and came to Bethlehem, to be enrolled along with his family in his native city." Era pemerintahan Alexander dimulai sekitar tahun 336/335 BCE. Jadi tahun ke 309 dari masa pemerintahan Alexander sama dengan tahun 29/28 BCE. Benar bahwa dalam catatan sejarah Kaisar Augustus mengumumkan sensus dalam tahun tersebut. Lalu mengapa Lukas menyatakan bahwa sensus yang diadakan pada masa Quirinius (tahun 6 CE) merupakan sensus pertama di masa Augustus? Mungkin sensus yang diumumkan oleh Augustus di tahun 29/28 BCE tersebut baru direalisasikan ketika Quirinius menjadi magistrate di Sirya. Catatan sejarah menyatakan bahwa sensus di Yudea yang diadakan di masa Quirinius terjadi pada tahun 6 masehi. Dan bila kelahiran Yesus dihubungkan dengan peristiwa sensus ini, maka Yesus harus dilahirkan di tahun 6 CE.
Data ini berbeda dengan yang diberikan oleh Mateus. Dikatakan oleh Mateus bahwa Yesus lahir di masa Herodes Agung memerintah. Dan keluarga kudus harus hijrah ke Mesir selama 2 tahun hingga saat Herodes meninggal. Literary evidence mengatakan bahwa Herodes Agung meninggal tahun 4 sebelum masehi. Dan bila Yesus lahir dua tahun sebelum Herodes meninggal, maka Yesus harus sudah terlahir di tahun 6 sebelum Masehi. Biblical scholars memberikan perkiraan bahwa Yesus mungkin terlahir antara tahun 6-4 sebelum masehi. Jadi dari dua account ini nampak bahwa antara Lukas dan Mateus ada jarak tentang tahun kelahiran Yesus yang cukup jauh, perbedaannya antara 10 tahun sampai 12 tahun. Mana yang benar? Saya bisa memperkirakan jawaban yang akan diberikan pembaca yakni bahwa kita tidak usah berpusing dengan hal-hal seperti ini, karena hal ini tidak berhubungan dengan iman. Pernyataan seperti ini kini sudah lewat masanya ketika semua huruf yang tertulis dikitab suci dianggap benar dan tak usah dipertanyakan. Soal lain seputar kelahiran Yesus. Menurut Lukas, keluarga Yosef dan Maria tinggal di Nazareth dan datang ke Betlehem utk maksud sensus. setelah sesnsus dan setelah melaksanakan semua tuntutan hukum seputar kelahiran Yesus mereka kembali ke Nazareth. Namun Mateus memulai kisahnya di Betlehem dan setelah kematian Herodes mereka kembali lagi ke Betlehem, lalu pindah ke Nazareth. Kisah Mateus mengandaikan bahwa keluarga Yosef dan Maria tinggal di Betlehem sebelum kelahiran Yesus. Dan sangat natural bahwa setelah hijrah ke Mesir mereka kembali lagi ke Betlehem. It makes sense if Bethlehem was their hometown. Tentang pembunuhan massal kanak-kanak di Betlehem oleh Herodes. Josephus mendaftarkan begitu banyak kelaliman Herodes bahkan pembunuhan terhadap anaknya sendiri demi mempertahankan kekuasaannya. Ia memiliki sepuluh isteri (Doris, Mariamme I, Mariamme II, Malthace, Cleopatra, Pallas, Phaedra, Elpis, anak dari Salome sudarinya (Alexas), serta seorang lagi sepupunya sendiri (Mariamme III). Dari kesepuluh isterinya ini dia memiliki banyak anak yang masing-masingnya saling mencurigai serta berusaha untuk merebut kekuasaan dari tangannya sendiri. Karena itu Herodes memerintahkan seorang Judea, Othello untuk membunuh salah satu isterinya beserta kakek dan ibu dari isterinya. Dua suami saudarinyapun dibunuh Herodes. Tiga anaknya sendiripun harus mati karena kekejamannya. Tingkah laku Herodes seperti ini membuat Kaisar Augustus bergumam, "It is better to be Herod's pig than his son" (Kalimat ini dicatat oleh Josephus dalam Jewish Antiquities, Lihat catatan kaki). Saat ia dirundung penyakit di akhir hidupnya dan dari
ranjang sakitnya ia memerintahkan untuk membunuh ratusan laki-laki di Jericho di saat kematiannya, sehingga terdengar jeritan tangisan di hari kematiannya walau itu bukan untuk menangisi dirinya. Dari kejadian seperti ini bisa dibayangkan bahwa Herodes pasti tanpa merasa bersalah bisa membunuh ratusan bayi di Betlehem di saat Yesus lahir. Namun kejadian pembunuhan massal bayi di Betlehem ini tidak dicatat oleh Josephus. Bila jumlah bayi yang dibunuh di Betlehem begitu banyak, ini yakin akan dimasukan juga dalam daftar kelaliman Herodes oleh Josephus. Lagi pula, di masa Herodes ada begitu banyak revolt yang dilancarkan oleh orang Israel. Pembunuhan terhadap banyak anak kecil yang dilukiskan begitu kejam oleh Mateus ini pasti telah menjadi alasan pemberontakan dari kaum Israel. Namun hal ini tidak pernah terjadi, dan tidak dicatat oleh Josephus. Banyak scholars mengatakan "the christian image of Herod" sebagai pembunuh para bayi Betlehem ini mungkin gambaran yang salah. Peristiwa pembantaian anak-anak Betlehem mungkin tidak pernah terjadi. Mengapa ada perbedaan? Kedua penulis injil ini menulis kisah Yesus untuk memenuhi agenda theologies mereka masing-masing. Mateus dalam injilnya berkisah tentang Yesus sebagai figur yang menggenapi ramalan para nabi. Menurut para nabi, Mesias harus dilahirkan di kota nenek moyangnya Daud. Dan karena Daud berasal dari wilayah Betlehem, maka keluarga Yosef dan Maria digambarkan sebagai penghuni kota leluhur mereka, kota Betlehem. Yosef dan Maria berpindah ke utara (Nazareth) pada saat Yesus berumur 2 tahun karena merasa takut bahwa salah satu anak Herodes, Archelaus memerintah sebagai raja di Yudea (Yerusalem) sebagai pengganti ayahnya. Berbeda dengan Mateus, Lukas menggambarkan Yesus sebagai seorang yang menaruh perhatian terhadap orang-orang yang terbuang, para kaum kecil dan lemah, dan yang disisihkan dari kehidupan masyarakat. Karena agenda teologis ini, maka Lukas menggambarkan bagaimana Yosef dan Maria harus menempuh perjalanan panjang dari Nazareth menuju Yerusalem. Setelah tiba di Yerusalem, mereka ditolak di tempat-tempat penginapan. Dan karena itu mereka harus mengalami kehidupan kaum terbuang, kaum kecil dan miskin dengan menginap di kandang yang penuh kotoran hewan. Mereka harus menyingkir ke Betlehem, sekitar 4 km selatan Yerusalem. Perbedaan agenda teologis ini mewarnai bagaimana Mateus dan Lukas menyusus dan mempresentasikan kisah Yesus kepada pembaca atau kepada komunitas mereka masing-masing. Dan ini pulalah yang menjadi alasan mengapa dalam kitab suci ada begitu banyak kisah yang nampak bertolak belakang satu sama lain.
Selamat Pesta Natal 25 Desember 2008. Sekedar catatan: Kisah Herodes bisa dibaca dalam buku: The New Complete Works Of Josephus, translated by William Whiston (Michigan, Grand Rapids: Kregel Publications) 1999. Remarks Augustus tentang Herodes, p. 567.
Tarsis Sigho - Chicago Email: sighotarsi@yahoo.com
Mohon hubungi pembuat serta Pondok Renungan (pondokrenungan@gmail.com), jika anda ingin menyebarkan karya ini.
PERSPEKTIF ALKITAB TENTANG SEKS Yakub Tri Handoko, Th. M.
Orang percaya sepanjang jaman terus menghadapi pergumulan etis yang kompleks seputar masalah seks. Mereka terus-menerus hidup dalam dunia yang mengadopsi konsep seks yang berkontradiksi dengan Alkitab. Pada masa Perjanjian Lama sudah terjadi berbagai penyimpangan seksual, misalnya homoseksualitas (Kej 19:4-5; Im 18;22), incest (Im 20:17), hubungan seks dengan binatang (Im 18:23). Pada masa Perjanjian Baru orang percaya juga harus menghadapi praktek homoseksualitas (Rom 1:27), perzinahan dengan pelacur (1Kor 6:12-20), pelacuran bakti dalam konteks agama-agama misteri dan gerakan feminisme kuno (1Kor 11:2-16). Situasi pada jaman modern juga tidak jauh berbeda. Orang Kristen tetap berhadapan dengan isu penyimpangan seksual dari homoseksualitas, incest, feminisme maupun moralitas baru yang bebas dan relatif. Semua distorsi ini berasal dari natur manusia yang berdosa dan dipicu oleh kultur postmodernisme yang permisif. Untuk menghadapi hal ini, orang Kristen perlu memahami konsep Alkitab yang benar tentang seks, sehingga mereka bisa menghargai keagungan dan kesucian seks. Perbedaan seksualitas manusia merupakan bagian integral utama dari natur manusia sebagai gambar dan rupa Allah Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Bapa-bapa gereja abad pertama sampai teolog modern sekarang ini terus memperdebatkan arti frase “gambar dan rupa Allah” dalam Kejadian 1:26-27. Penjelasan yang paling objektif sebenarnya sudah disediakan oleh konteks ayat ini.
Segambar dan serupa dengan Allah menunjukkan dua hal. Pertama, manusia diberi potensi untuk menguasai alam semesta. Ayat 26 “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan Rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas...”. Kedua, manusia menyiratkan kejamakan dan ketunggalan Allah. Dalam teks ini kejamakan Allah yang dinyatakan dalam bentuk kata ganti orang pertama jamak “Kita” dipadukan dengan ketunggalan-Nya yang dinyatakan melalui bentuk kata kerja tunggal “menjadikan”. Hal ini sesuai dengan kejamakan dan ketunggalan dalam diri manusia. Ayat 27 “Maka Allah menciptakan manusia itu (tunggal) menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia (tunggal); lakilaki dan perempuan (jamak) diciptakan-Nya mereka (jamak)”. Penyebutan jenis kelamin yang berbeda untuk manusia di sini merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan, karena Alkitab tidak mencatat perbedaan jenis kelamin binatang di Kejadian 1, walaupun mereka tentu saja berjenis kelamin berbeda. Kejamakan dan ketunggalan ini juga terlihat dari narasi di Kejadian 2:18-25. Kesendirian Adam dianggap tidak baik oleh Allah (ayat 18). Allah selanjutnya memberikan Hawa bagi Adam. Menariknya, tujuan Hawa diciptakan dan diberikan kepada Adam adalah supaya mereka menjadi satu (ayat 24). Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia memang diciptakan jamak tetapi tunggal sebagaimana Allah juga jamak tetapi tunggal? Jadi, seksualitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari posisi manusia sebagai gambar dan rupa Allah di dunia. Seksualitas merupakan berkat dan sarana untuk melayani Allah, bukan tujuan hidup manusia Banyak orang menganggap Kejadian 1:28 sebagai amanat budaya. Teks ini dianggap sebagai perintah Allah yang tertinggi dalam kaitan dengan tanggung jawab kultural orang percaya. Walaupun isi dari istilah tersebut bisa dibenarkan, namun penggunaan istilah amanat budaya sebenarnya tidak tepat. Ayat ini bukanlah sebuah perintah, tetapi berkat. Hal ini terlihat dari awal ayat 28 “Allah memberkati mereka, lalu berfirman...”. Tidak heran, dalam bagian Alkitab selanjutnya, memiliki keturunan merupakan simbol/bukti bahwa seseorang diberkati oleh Allah. Hal lain yang penting yang diajarkan ayat ini adalah bahwa seks (dalam konteks ini memiliki keturunan) bukanlah tujuan hidup manusia. Sebaliknya, memiliki keturunan merupakan sarana bagi manusia untuk melayani Allah dalam bentuk menguasai alam. “Perintah” untuk memenuhi bumi sangat berhubungan dengan tugas manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang harus mengurusi alam ini. Begitu pentingnya hal ini, Allah bahkan memandang berdosa tindakan orangorang yang hendak membangun menara Babel supaya mereka tidak terserak ke seluruh bumi (Kej 11:4). Perbedaan seksualitas sebagai sarana untuk melayani Allah juga bisa dilihat dari
Kejadian 2:15-18. Dalam ayat 18 dikatakan bahwa Hawa dijadikan sebagai penolong Adam. Penolong dalam hal apa? Konteks menunjukkan bahwa penolong di sini berhubungan dengan perintah Allah di ayat 15-17. Terlepas dari terjemahan yang benar tentang ayat 15 (“beribadah dan memelihara perintah Allah” atau “mengusahakan dan memelihara taman”), keberadaan Hawa di sini dimaksudkan sebagai penolong Adam dalam melaksanakan tugas di ayat 15. Mereka pada akhirnya memang gagal menaati Allah, tetapi bukan berarti rencana Allah gagal atau seks merupakan sesuatu yang negatif. Hubungan seks merupakan hubungan yang paling intim Allah melihat bahwa kesendirian Adam merupakan sesuatu yang tidak baik (Kej 2:18). Penilaian ini pertama kali sangat mengejutkan, karena Allah sebelumnya selalu mengatakan “baik” untuk hal yang Ia lakukan. Setelah itu Allah menciptakan berbagai binatang sebagai kandidat pasangan manusia (Kej 19-20). Walaupun binatang-binatang tersebut diciptakan dari bahan yang sama dengan manusia dan disebut dengan istilah makhluk hidup, namun tidak satu pun yang cocok sebagai pasangan manusia. Allah akhirnya menciptakan Hawa bagi Adam. Yang menarik adalah Hawa tidak diciptakan dari tanah liat seperti Adam maupun binatang-binatang di ayat 19-20. Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam, yaitu tulang rusuk dan daging Adam (ayat 21-23). Proses penciptaan ini menunjukkan keintiman hubungan antara suami-istri (Adam dan Hawa). Keintiman tersebut juga terlihat dari superioritas relasi suami-istri dibandingkan orang tua-anak. Ayat 24 mengajarkan bahwa laki-laki harus meninggalkan ayahibunya dan bersatu dengan istrinya. Berdasarkan kultur Yahudi yang patrilokal (istri yang masuk ke dalam lingkungan keluarga suami) dan struktur kalimat Ibrani, ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa laki-laki akan meninggalkan rumah orang tuanya. Tidak ada kata “rumah” dalam ayat ini. Kata Ibrani “meninggalkan” (‘azab, Yer 1:16; 2:13, 17, 19; 5:7; 16:11; 17:13; 19:4; 22:9) dan “bersatu” (dabaq, Ul 4:4; 10:20; 11:22; 13:5; 30:20) dalam ayat ini biasanya dipakai dalam konteks perjanjian. Penggunaan dua kata tersebut dalam ayat ini menunjukkan bahwa perkawinan telah mengubah loyalitas dan komitmen seseorang dari orang tua ke pasangan masing-masing. Keintiman tersebut juga terlihat dari ayat 24b. Laki-laki dan perempuan harus menjadi satu. Menjadi satu di sini pasti tidak hanya merujuk pada satu rumah, tetapi kesatuan yang paling dalam. Kesatuan ini tidak boleh dipisahkan oleh manusia (Mat 19:4-6). Tidak heran, Paulus menganggap laki-laki yang mengikatkan diri dengan pelacur sebagai “menjadi satu tubuh” dengan pelacur itu (1Kor 6:16). Keintiman hubungan seks (suami-istri) ini pula yang selanjutnya dianggap paling cocok untuk menggambarkan kasih Allah kepada manusia. Hubungan Allah dengan umat-Nya seringkali digambarkan sebagai hubungan suami-istri. Penyembahan berhala dianggap sebagai perzinahan secara rohani. Paulus juga menggambarkan keintiman Kristus dengan gereja-Nya dalam konteks pernikahan
(Ef 5:31-32). Penyimpangan seksualitas merupakan akibat dari dosa Sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa, kehidupan seks merupakan berkat Allah yang sempurna. Keadaan ini berubah ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Memiliki keturunan harus disertai dengan berbagai kesakitan. Hubungan antara laki-laki dan perempuan pun mengalami perubahan. Mereka tidak lagi menjadi pasangan yang sepadan (Kej 3:16). Kerusakan ini terus berlanjut pada jaman Lamekh (Kej 4:19, 23-24), Nuh (Kej 9:21-29), Lot (Kej 19:4-5, 30-38), bahkan sampai hari ini. Pedoman praktis mengatasi kelemahan seksual Kemampuan seseorang untuk menang atas dosa memang tidak didasarkan pada kiat-kiat tertentu. Keberhasilan itu lebih bersumber dari kekuatan Allah yang supranatural (Flp 2:12-13), tetapi hal ini tidak berarti bahwa manusia hanya bersikap pasif saja. Keselamatan memang monergis (hanya Allah yang bekerja), tetapi pengudusan hidup merupakan sebuah sinergi (Ef 5:18). Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi maupun membebaskan diri dari dosa seks. (1) Perubahan paradigma tentang seks, yaitu seks hanya berlaku dalam konteks pernikahan, itu pun bukan yang terpenting dalam pernikahan. (2) Pikiran yang dipenuhi dengan hal-hal yang mulia (Flp 4:8). Secara praktis, kita perlu menempelkan ayat-ayat Alkitab tertentu di tempat-tempat yang strategis dan mudah kita lihat. Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengisi waktu luang kita dengan belajar firman Tuhan. (3) Kontrol sosial. Kita perlu memiliki partner rohani yang bisa dipercaya sebagai tempat untuk sharing dan saling menjaga diri. (4) Disiplin diri untuk menjauhi pencobaan, misalnya tidak berada di suatu tempat yang memungkinkan terjadinya perzinahan secara fisik. (5) Pergumulan yang intensif dan spesifik berkaitan dengan dosa seks, sambil terus mengarahkan diri pada anugerah Allah. Renungan: anugerah dalam kejatuhan seks Para ahli biasanya menganggap dosa seks merupakan dosa yang paling serius, karena dosa ini dilakukan dalam diri manusia. Mereka yang jatuh dalam dosa ini umumnya memiliki konsep diri yang rusak dan sulit melepaskan diri dari ikatan dosa ini. Ya, dosa ini merupakan dosa yang sangat serius, sebagaimana dosa-dosa yang lain. Bagaimanapun, anugerah Allah selalu cukup bagi mereka yang mau bertobat. Teks yang paling jelas mengungkapkan hal ini adalah silsilah Yesus Kristus di Matius 1:1-18. Yesus ternyata lahir dari keturunan yang rusak secara moral. Perzinahan Yehuda dengan menantunya, Tamar, mewarnai silsilah Yesus (ayat 3). Yesus juga berasal dari keturunan pelacur yang bernama Rahab (ayat 5). Skandal lain juga terlihat dari perzinahan Daud dengan Betsyeba, istri Uria (ayat 6). Anak
hasil perzinahan ini memang mati (2Sam 12), tetapi dari hubungan DaudBetsyebalah Salomo dan nenek moyang Yesus selanjutnya dilahirkan. #
Kembali Ke Index Versi Cetak Email ke Teman Home | Renungan | Cerita | Kesaksian | Diskusi | Kontak Kami
© 2000-2009 Pondok Renungan All Rights Reserved