Docstoc

PERANAN GURU DALAM PEMBELAJARAN di SMP

Document Sample
PERANAN GURU DALAM PEMBELAJARAN di SMP Powered By Docstoc
					PERANAN GURU DALAM PEMBELAJARAN
BAHASA INDONESIA DI SMP
Pendahuluan.
Guru merupakan factor penting dalam pendidikan formal, karena itu harus
memiliki perilaku dan kemampuan untuk mengembangkan siswanya secara optimal.
Guru juga dituntut mampu menyajikan pembelajaran yang bukan semata-mata
menstranfer pengetahuan, ketrampilan, dan sikap, tetapi juga memiliki kemampuan
meningkatkan kemandirian siswa. Oleh karena itu guru dituntut sanggup menciptakan
kondisi proses pembelajaran yang memberikan kebebasan kepada siswa untuk berpikir
dan berpendapat sesuai perkembangan yang dimiliki, untuk itu guru dituntut
meningkatkan kompetensi dirinya.
Dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, peranan guru amatlah
diharapkan, sehingga kegiatan belajar mengajar siswa dapat tercapai. Jadi guru
diharapkan dapat melaksanakan tugasnya secara baik sesuai profesinya. Guru sebagai
sebuah profesi untuk itu penguasaan berbagai hal sebagai kompetensi dalam
melaksanakan tugas harus ditingkatkan. Peningkatan kompentensi itu yaitu dalam proses
belajar mengajar antara lain memilih dan memanfaatkan metode belajar mengajar yang
tepat.
Guru yang dapat memilih dan memanfaatkan metode mengajar dengan baik
merupakan salah satu cirri guru yang efektif sehingga mampu mengembangkan siswa
secara professional. Pengembangan siswa dengan mengutamakan siswa yang aktif
dengan cara menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa tentu sangat
diharapkan suasana itu dengan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
(PAKEM) berarti peranan guru sangatlah besar. Metode yang berfariasi dapatlah kiranya
untuk menunjang kegiatan ini.
Tidak heran setiap akhir tahun pembelajaran selalu terdengar berita tentang
masyarakat yang selalu mempermasalahkan rendahnya mutu pendidikan pada semua
jenis dan jenjang pendidikan, khususnya pada pendidikan dasar dan menengah. Tuntutan
standar kelulusan yang harus dicapai siswa menjadi masalah bagi guru maupun

lingkungan pendidikan, bahkan sangat mengkhawatirkan bila pada tahun ini peristiwa
pengumuman kelulusan seperti tahun lalu. Siswa yang tidak lulus berjumlah tidak sedikit.
Pada umumnya masyarakat kurang menyadari bahwa siswa SMP merupakan
siswa yang baru memulai perubahan dari masa kanak-kanak menuju usia remaja. Orang
tua menyerahkan pendidikan anaknya sepenuhnya pada sekolah. Mereka hendaknya
mendapat pendidikan tidak hanya dari sekolah (guru) saja, tetapi juga masing-masing
orang tua berperan besar untuk membentuk potensi diri anak. Hal ini tidak dapat hanya
menyalahkan guru, tetapi merupakan kerja sama antara pendidik (guru) dan orang tua.
Namun sebagai guru untuk melayani pendidikan sesuai usia remaja, maka
diperlukan pelayanan guru dengan merancang suatu program pembelajaran yang dapat
meningkatkan kompetensi siswanya, misalnya dengan merancang program pembelajaran
yang menyenangkan karena belajar yang menyenangkan tidak ada lagi batasan dalam diri
siswa. Kecerdasan siswa dapat berkembang sehingga kompetensi yang telah dimiliki
dapat meningkatkan nilai-nilai prestasi yang diharapkan. Selain itu juga dapat
meningkatkan kehormatan diri dan motivasi mereka.
Menciptakan suatu program pembelajaran yang menyenangkan adalah salah satu
cara dengan menempatkan peranan guru sebagai fasilitator, motivator, konselor, dan
evaluator. Diharapkan peranan itu dapat dimanfaatkan oleh guru agar dapat mewujudkan
“Sumber Daya Manusia Unggul dan Bermartabat”. Agar sumber daya manusia itu dapat
diwujudkan maka seorang guru diharapkan dapat sebagai fasilitator, konselor, motivator,
dan evaluator, maka perubahan paradigma dalam pembelajar baru harus diciptakan.
Pembelajaran Paradigma Baru.
Belajar itu adalah proses, maka yang paling berharga dalam belajar adalah
“Bagaimana Cara Belajar”. Dalam pembelajaran paradigma baru kegiatan belajar pada
minggu pertama, kegiatan menekankan pada upaya menciptakan susasana belajar aman
dan penuh kepercayaan di antara siswa. Dengan cara demikian memungkinkan siswa
belajar lebih efektif dan menyerap serta mengingat materi pelajaran. “Belajar untuk
menambah informasi maka saya tahu, menyimpan informasi maka saya hafal,
memperoleh informasi saya bisa menjawab semua pertanyaan, memahami informasi saya
mengerti, dan memahami kenyataan yang ada dan saya dapat melihat kejadian itu dari
sisi lain”. (Bahan Diklat Guru Bahasa Indonesia, 2005). Proses belajar tersebut,
merupakan proses belajar dalam arti yang dangkal menuju proses belajar dalam arti yang
dalam.
Belajar dalam arti yang dalam adalah salah satu proses usaha individu untuk aktif
mengkonstruksi/membangun pengetahuan serta senantiasa mengkonstruksinya kembali
dengan sejumlah pengetahuan baru. Upaya menciptakan suasana belajar yang aman dan
penuh kepercayaan, agar pemelajaran belajar dalam proses aktif sehingga pemelajaran
mampu dikembangkan untuk menjadi individu yang mandiri dalam belajar. Untuk
mewujudkan suasana itu, maka diperlukan lingkungan sehingga semua siswa merasa
penting, aman dan nyaman dengan demikian ketrampilan akademis dan ketrampilan
dalam hidup dapat dicapai.
Pergeseran Paradigma / Perubahan Sikap.
Perubahan paradigma / perubahan sikap guru yang harus dipersiapkan adalah
konsep belajar, peran guru dan teknik mengajar, teknik belajar serta sikap mengajar. Oleh
karena pelajaran bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajar pokok, maka
konsep belajar pun diciptakan sesuai fungsinya yaitu bahasa sebagai alat komunikasi,
maka diharapkan ketrampilan berbahasa tetap pada tatanan empat aspek ketrampilan
berbahasa. Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, pada pembelajaran bahasa
Indonesia kegiatan berbahasa mencakup empat aspek ketrampilan yaitu : mendengarkan,
berbicara, membaca, dan menulis. Keempat aspek itu haruslah diajarkan secara terpadu,
bersinergi satu sama lainnya, seimbang dan saling mendukung. Selain keempat aspek
penguasaan ketrampilan berbahasa itu, juga harus dapat meningkatkan kemampuan siswa
dalam bernalar, berpikir, memperluas wawasan serta mampu mendukung kegiatan
bersastra. Kegiatan ketrampilan berbahasa diharapkan dapat menunjang ketrampilan
akademis lainnya.
Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, belajar adalah mempelajari berbagai hal
secara terus menerus dalam pengalaman hidupnya. Siswa adalah peserta yang aktif.

Sehingga siswa belajar adalah siswa mempelajari berbagai hal secara terus menerus
sedangkan sekolah merupakan tempat untuk belajar. Kegiatan belajar adalah kegiatan
sepanjang hayat, kegiatan yang tidak berhenti pada siswa tamat atau selesai sekolah,
maka peran guru dan teknik mengajar perlu diperhatikan.
Di dalam proses belajar, menurut Bruner (2001) dapat dibedakan menjadi tiga
fase/episode, yaitu (1) Informasi, (2) Tranformasi, (3) Evaluasi. Dalam tiap pelajaran
diperoleh sejumlah informasi, baik yang menambah pengetahuan, memperluas, dan
memperdalamnya maupun informasi yang bertentangan dengan apa yang telah kita
ketahui sebelumnya.
Setelah informasi diperoleh, maka harus dianalisis, diubah dan ditranspormasi ke
dalam bentuk yang lebih abstrak atau konseptual, agar dapat digunakan untuk hal-hal
yang lebih luas. Dalam hal ini peran guru sangat diperlukan. Untuk itu guru perlu
memiliki kemampuan yang professional. Perlunya kemampuan guru dalam proses belajar
mengajar karena uru merupakan pendidik dan pengajar yang menyentuh kehidupan
pribadi siswa. Teknik mengajar untuk mengembangkan potensi yang dimiliki siswa dapat
dirancang dengan memperhatikan materi, cara belajar siswa disesuaikan dengan usia
siswa SMP.
Peran Guru Dan Teknik Mengajar.
Peran guru sebagai fasilitator, peranannya adalah sebagai penyedia yang bersifat
sebagai pendukung kebutuhan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan konsep
belajar di atas bahwa belajar adalah suatu proses, maka dalam proses ketrampilan
mendengarkan dipersiapkan terlebih dahulu adalah siswanya, selain itu materi yang
sangat penting untuk menjadi suatu proses belajar berlangsung, guru dapat menyiapkan
teks / wacana yang dibacakan atau menyediakan rekaman teks dalam kaset maka Tape
Recorder dipersiapkan.
Teknik dalam kegiatan pembelajaran dapat dilakukan secara bervariasi, misalnya
sebelum pelaksanaan pembelajaran, guru terlebih dahulu memutar lagu atau bernyanyi
bersama. Hal ini dilakukan agar siswa menyiapkan diri dalam pembelajaran sehingga
tidak stres.
Mendengarkan (menyimak) merupakan ketrampilan berbahasa yang sangat
penting dalam kehidupan manusia. Hal ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia
untuk mendapatkan suatu informasi. Pada masa sekarang bahwa mendengarkan
(menyimak) lebih banyak dilakukan manusia sebagai bentuk penyerapan informasi dari
pada ketrampilan berbahasa lainnya. Hal ini disadari karena banyaknya informasi melalui
media elektronik maka membutuhkan kecepatan dan kecermatan menyimak.
Dalam ketrampilan berbicara, guru dapat merancang pembelajaran sesuai
kompetensi yang harus dikuasai. Berbicara merupakan ketrampilan berbahasa lisan maka
materi pelajaran diarahkan pada pembelajaran yang bermanfaat bagi siswa, memberikan
pengetahuan dan ketrampilan yang perlukan oleh siswa untuk mengembangkan potensi
dirinya baik secara individu maupun kelompok sesuai kebutuhan siswa. Teknik
pelaksanaannya dapat dilakukan dengan belajar mengucapkan kata-kata dengan vocal
dan
intonasi yang benar kemudian kegiatan intinya sesuai indikator yang harus dicapai.
Materi disesuaikan dengan tuntutan kecakapan hidup sesuai kurikulum.
Ketrampilan membaca dan menulis merupakan ketrampilan yang sangat erat
hubungannya karena setiap kegiatan membaca dihubungkan dengan kegiatan menulis.
Peran guru harus dapat memfasilitasi sesuai dengan kebutuhan. Menciptakan lingkungan
belajar yang kondusip sangat diharapkan. Khusus dalam hal ketrampilan menulis,
pembelajaran diarahkan agar mampu menuangkan segala pikiran, pengalaman, pesan
perasaan, gagasan, pendapat imajinasi dalam bentuk bahasa tulisan secara benar.
Kebenaran itu dapat dilihat dari segi kebahasaan, isi dan makna. Tulisan dapat
didokumentasikan dan dapat dilihat dan dibaca ulang. Oleh karena itu pembelajaran
menulis bagi siswa harus dianggap penting.
Pentingnya pembelajaran menulis, maka guru harus sering melatih siswa dengan
berbagai cara. Untuk mengaktifkan kegiatan menulis, berarti mengaktifkan otak kiri dan
otak kanan dalam pembelajaran. Hal ini tidaklah mudah, persiapan kegiatan harus
dirancang sebaik mungkin. Menurut Sudjana dan Suwariyah (1999) ada beberapa kondisi
dan persyaratan yang harus diciptakan guru dalam pembelajaran menulis, antara lain :
aspek psikologi anak, lingkungan dan suasana belajar, bantuan atau bimbingan dari guru
sangat diperlukan.

A. Aspek Psikologi Aanak.
Yang dimaksud aspek psikologi anak adalah kondisi mental, sosial dan emosional
siswa pada saat ia mengikuti proses pembelajaran (Sudjana dan Suwariyah, 1991).
Aspek ini harus dikembangkan dengan baik agar siswa beraktifitas dengan kreatif,
dan mengembangkan daya nalar dengan baik. Aspek social dan emosional juga
penting, karena hubungan interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru
atau siswa dengan lingkungan belajar lainnya. Kesetiakawanan dan kebersamaan
harus ditumbuhkan sehingga menjadi manusia yang kokoh dan harmonis.
B. Lingkungan dan Suasana Belajar.
Yang dimaksud dengan suasana dan lingkungan belajar adalah keadaan atau
suasana pada saat pembelajaran berlangsung (Sudjana dan Suwariyah, 1991). Akan
berlangsung baik bila lingkungan dan suasana belajar nyaman, tidak membosankan
dan diharapkan siswa berkeinginan untuk kembali belajar. Dalam hal ini guru dapat
mempersiapkan kelas atau ruangan lain yang dapat menunjang pembelajaran,
misalnya : halaman (taman sekolah, perpustakaan).
C. Bimbingan dan Bantuan Belajar Dari Guru.
Peran guru sebagai pembimbing adalah menjadi tempat bertanya bagi siswa yang
mengalami kesulitan dalam belajar, memberi bantuan dengan menunjukkan jalan
untuk memecahkan masalah, memperbaiki kesalahan yang dilakukan siswa, memberi
dorongan dan motivasi belajar. Dalam kegiatan tersebut, berarti guru harus berada
dalam lingkungan proses pembelajaran.
Peran Guru Sebagai Motivator.
Dari keempat aspek ketrampilan berbahasa di atas yang telah diuraikan, maka
peran untuk memotivasi siswa tetaplah diharapkan, misalnya mendorong siswa agar tetap
berkonsentrasi pada kegiatan belajar. Selain itu juga mengajak siswa untuk melakukan
refleksi diri, misalnya menyisihkan waktu untuk memikirkan siapa sebenarnya diri siswa,
apa yang menyebabkan rasa puas, dll.
Peran Guru Sebagai Konselor.
Peran ini seperti yang telah diuraikan pada aspek bimbingan dan bantuan belajar
guru. Hal ibi, guru dapat memberi bantuan pada setiap pembelajaran sewaktu-waktu
siswa membutuhkan maka bantuan nasehat untuk siswa dapat diberikan. Jadi, selain guru
memegang mata pelajaran sebagai guru, juga bertugas melayani konseling.
Peran Guru Sebagai Evaluator.
Peran sebagai evaluator, bahwa setiap pembelajaran melakukan evaluasi sesuai
indikator yang harus dicapai. Dalam mengevaluasi guru hendaknya kreatif dengan
berbagai cara mengevaluasi dan memberikan penguatan agar keberhasilan belajar siswa
dapat dirasakan. Dalam memberikan penilaian, guru dapat berkreatifitas membuat nilai
dengan memberikan tanda bintang yang dibuat atau ditempal pada sebuah karton yang
berbentuk buah atau bunga, lalu ditutup. Pada sisi luar digambar raut wajah sesuai isi
bintang, misalnya bintang satu wajah sedih, bintang dua wajah tersenyum, bintang tiga
senyum agak lebar, dan bintang empat senyum lebar, sedangkan gambar bintang lima
tertawa sambil mengangkat tangan.
Cara menyampaikan penilaiannya yaitu setelah para siswa mempresentasikan
hasil kerja kelompoknya dan telah ditanggapi oleh kelompok lain. Selanjutnya guru akan
menguji keberhasilan anggota kelompok dengan pertanyaan sehubungan dengan materi.
Apabila siswa dapat menjawab benar, maka siswa tersebut berhak membuka nilai yang
telah ditempel atau digantung pada papan tulis.
Teknik Belajar.
Dalam teknik belajar terbagi menjadi enam tipe utama, yaitu (1) Visual Internal,
(2) Visual Eksternal, (3) Auditory Internal, (4) Auditory Eksternal, (5) Kinestetik
Internal, (6) Kinestetik Eksternal. (Ramly, 2004).
1. Teknik belajar Visual Internal yaitu proses belajar dengan mengoptimalkan
penglihatan dan mengeksplorasikan imajinasinya. Cara yang praktis adalah
dengan menghidupkan imjinasi tentang hal yang akan dipelajari (Ramly, 2004).
2. Teknik belajar Visual Eksternal yaitu proses belajar dengan mengoptimalkan
penglihatan dengan mengeksplorasikan dunia luar dirinya. Cara yang praktis
adalah membaca buku dengan tampilan yang menarik, menggunakan grafik dan
gambar, pemanfaatan computer, poster, pembubuhan warna-warna yang menarik
(Ramly, 2004).
3. Teknik belajar Auditory Internal adalah cara belajar dengan menyukai
lingkungan yang tenang. Dalam proses belajar, mengoptimalkan pendengaran dan
mengekspolrasikan dunia dalam dirinya. Cara praktis dalam proses belajar ini
adalah meluangkan waktu yang tenang untuk memulai belajar dan merenungkan
apa yang sudah diketahui (Ramly, 2004).
4. Teknik belajar Auditory Eksternal adalah cara belajar dengan mengoptimalkan
pendengarannya dengan mengeksplorasikan dunia luar dirinya. Cara yang praktis
dalam proses pembelajarannya adalah membaca dengan suara keras,
menggunakan sesi Tanya jawab, diskusi, kerja kelompok (Ramly, 2004).
5. Teknik Kinestetik Internal adalah cara belajar dengan menyentuh rasa. Agar
belajar efektif proses belajar dengan pemahaman terlebih dahulu, temukan faedah
dari aktivitas siswa, gunakan alat Bantu atau dalam bentuk demo. Proses belajar
seperti ini cenderung bergantung pada lingkungan (Ramly, 2004).
6. Teknik Kinestetik Eksternal adalah proses belajar dengan mengoptimalkan emosi
yaitu dengan beradabtasi terlebih dahulu dengan dunia luar dirinya. Proses belajar
yang efektif yaitu dengan kemampuan panca indra, misalnya dengan
menggunakan model, memainkan peran dengan membuat peta pikiran.
Berdasarkan teknik atau cara belajar yang bermacam-macam, maka guru
dituntut merancang program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan
perkembangan talenta siswa. Guru diharapkan dapat mengembangkan
kemampuannya untuk bersikap mengajar dengan baik. Sikap mengajar tersebut
antara lain bersikap demokratis, kreatif, dan inovatif.
Guru bersikap demokratis adalah sikap guru yang memberikan persamaan
hak dan kewajiban yang sama bagi siswa. Guru yang kreatif adalah guru yang
mampu mengembangkan kreatifitas dalam program pembelajaran misalnya
menciptakan program pembelajaran baru dengan media yang mutakhir sesuai
dengan perkembangan jaman, sedangkan guru yang bersifat inovatif adalah guru
yang mampu melakukan pembaharuan dengan kreasi baru, mencoba memecahkan
masalah pendidikan dengan cara-cara baru.
Apabila sikap guru dapat terwujud, maka akan berimbas pada keberhasilan
siswa dalam belajar, siswa aktif, mandiri, kritis dan kompetitif.
Kesimpulan dan Saran.
Guru merupakan faktor penting dalam pendidikan formal, karena itu harus
memiliki perilaku dan kemampuan mengembangkan dirinya. Pengembangan itu melalui
paradigma baru yaitu melakukan perubahan sikap dan peran sebagai guru yaitu berperan
sebagai fasilitator, motivator, konselor, dan evaluator. Selain itu juga memiliki perubahan
sikap, agar siswa aktif, mandiri, kritis dan kompetitif. Dalam pembelajaran bahasa
Indonesia hendaknya mampu merancang program pembelajaran yang menyenangkan
dengan menerapakan empat aspek ketrampilan secara terpadu.
Karena guru harus memiliki kemampuan yang optimal untuk mengembangkan
potensi siswa, maka perlu “Pemantapan Profesi Guru Untuk mewujudkan Sumber Daya
manusia Unggul dan Bermartabat”, hal ini dapat dicapai melalui pelatihan-pelatihan guru
atau pendidikan untuk meningkatkan kompetensi atau kemampuannya.
Daftar Pustaka
Athdias, Subarti, 1996. Pembinaan Kemampuan menulis Bahasa Indonesia, Jakarta :
IKPI
De Parter, Bobbi dkk, 2005. Quantum Teaching. Bandung : Kaifa.
De Parter, Bobbi dan Mike Hernacki, 2005. Quantum Learning. Bandung : Kaifa
Depdiknas, 2005. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia,
Jakarta : Depdiknas.
Guntur, Hendri Tarigan, 1985. Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan. Bandung :
Angkasa.
Nasution, S. 1995. Berbabagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta :
Bumi Aksara.
Ramli, Amir Tengku, 2005. Pumping Talent. Jakarta : Pustaka Inti.
Sudjana dan Suwariyah, 1991. Model-Model Mengajar CBSA, Bandung : Sinar Baru.
Sertifikasi dan
Profesionalisme Guru
Written by Administrator
Monday, 09 August 2004
Sunyono

Dosen FKIP Unila, 'Assessor' Sertifikasi Guru

Guru memegang peranan yang sangat penting dan strategis dalam upaya membentuk
watak bangsa dan mengembangkan potensi siswa dalam kerangka pembangunan
pendidikan di Indonesia. Tampaknya kehadiran guru hingga saat ini bahkan sampai akhir
hayat nanti tidak akan pernah dapat digantikan oleh yang lain, terlebih pada masyarakat
Indonesia yang multikultural dan multibudaya, kehadiran teknologi tidak dapat
menggantikan tugas-tugas guru yang cukup kompleks dan unik.

Oleh sebab itu, diperlukan guru yang memiliki kemampuan yang maksimal untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan diharapkan secara berkesinambungan
mereka dapat meningkatkan kompetensinya, baik kompetensi pedagogik, kepribadian,
sosial, maupun profesional. Untuk menguji kompetensi tersebut, pemerintah menerapkan
sertifikasi bagi guru khususnya guru dalam jabatan. Penilaian sertifikasi dilakukan secara
portofolio.

Di Provinsi Lampung, penilaian sertifikasi guru dalam jabatan melalui berkas portofolio
tersebut telah dilakukan oleh assessor di bawah koordinasi FKIP Unila untuk sebanyak
425 berkas (dari 425 orang guru). Hasilnya, mungkin anda sudah tahu. Bahkan, dalam
waktu dekat akan dilakukan lagi penilaian portofolio sertifikasi guru untuk sekitar tujuh
ribuan guru se-Provinsi Lampung yang diharapkan sampai akhir Desember 2007 nanti,
assessor telah menyelesaikan penilaian untuk sebanyak tujuh ribu lebih berkas portofolio
tersebut.
Nah, apakah dari tujuh ribu lebih guru tersebut dapat memenuhi standar skor minimal
850 untuk lulus sertifikasi? Kita tunggu saja hasilnya, yang pasti hasil penilaian
portofolio tersebut mesti transparan/terbuka.

Bagi mereka (guru) yang dinyatakan belum lulus dan mereka yang belum mendapatkan
kesempatan mengikuti sertifikasi jangan berkecil hati. Anda diberi kesempatan untuk
lebih banyak berkarya dan berinovasi dalam pembelajaran, yang pada akhirnya Anda
tidak saja akan mampu lulus sertifikasi tetapi Anda juga akan lebih berkembang secara
profesional.

Bagi mereka yang lulus, tentu saja patut berbangga hati karena mereka telah dianggap
memiliki kompetensi minimal yang dipersyaratkan sebagai guru yang profesional, dan
akan mendapatkan tambahan tunjangan profesi yang katanya sebesar 100% dari gaji
pokok.

Dengan tambahan tunjangan yang diterima guru tersebut diharapkan guru dapat lebih
profesional, lebih inovatif, kreatif, dan produktif, serta mampu menjalankan perannya
sebagai catalytic agent secara maksimal. Ingat...! Kompetensi guru bukan sesuatu yang
statis, melainkan dinamis sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pertanyaan yang muncul adalah "apakah dengan sertifikasi guru seperti ini mampu
merubah guru kearah yang lebih profesional?" Mengingat, apa yang dinyatakan oleh
Dedi Supriyadi (1999) dalam bukunya yang berjudul Mengangkat Citra dan Martabat
Guru bahwa profesionalisme guru di Indonesia baru dalam taraf sedang tumbuh
(emerging profession) yang tingkat kematangannya belum sampai pada apa yang telah
dicapai oleh profesi-profesi lainnya (seperti: dokter dan arsitek), sehingga guru sering
dikatakan sebagai profesi yang setengah-setengah atau semiprofesional.

Terlebih lagi, UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 39
Ayat (2) menyatakan bahwa tugas guru sebagai pendidik yang profesional adalah
merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat, terutama bagi pendidik di perguruan tinggi.

Dengan demikian, guru sebagai profesi selain memiliki peran dan tugas sebagai pendidik,
juga memiliki tugas melayani masyarakat dalam bidang pendidikan. Tuntutan
profesionalnya adalah memberikan layanan yang optimal dalam bidang pendidikan
kepada masyarakat. Lebih khusus, guru dituntut memberikan layanan profesional kepada
peserta didik agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Usman (2002) dalam bukunya yang berjudul Menjadi Guru Profesional halaman 15,
menyatakan bahwa guru yang profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan
keahlian khusus dalam bidang keguruan, sehingga ia mampu melakukan tugas dan
fungsinya sebagai guru dengan kemampuan yang maksimal.

Terhadap pertanyaan di atas, tampaknya kita perlu membuktikannya terlebih dahulu,
setelah mereka (guru) yang lulus sertifikasi menjalankan peran dan tugasnya di sekolah
masing-masing. Apakah mereka menjadi lebih baik?, menjadi contoh guru lain?, atau
stagnan tanpa ada perubahan apa pun pada guru tersebut baik dalam proses pembelajaran
maupun dalam pengembangan diri secara profesional.

Tentu saja, sesuai uraian di atas, kata "sertifikasi" dan "profesionalisme" haruslah
berkorelasi, artinya guru yang tersertifikasi adalah guru yang profesional, atau guru yang
profesional sudah tentu akan tersertifikasi.

Jika korelasi tersebut cukup signifikan, dapat diprediksikan bahwa dalam kurun waktu
tiga sampai lima tahun mendatang mutu pendidikan kita tidak perlu diragukan lagi.
Indikatornya dapat dilihat dari dua unsur, yaitu guru dan siswa. Dari unsur guru, indikator
yang dapat dilihat adalah produktivitas dan kreativitas guru dalam pembelajaran.

Hal ini terkait dengan tuntutan terhadap guru untuk terus selalu berpikir kreatif dan
inovatif dalam mengembangkan pembelajaran sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Guru yang kreatif adalah guru yang selalu mencari dan
menemukan hal-hal yang baru dan mutakhir untuk kepentingan peningkatan kualitas
pembelajaran.

Sedangkan dari unsur siswa, indikatornya adalah nilai ujian nasional (UN) yang tinggi,
dan mampu bersaing pada lomba-lomba mulai tingkat kabupaten, propinsi, nasional,
bahkan internasional. Guru yang profesional diharapkan mampu membina siswa dan
menghasilkan lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing dalam setiap kompetisi.

Korelasi tersebut akan signifikan, jika berkas portofolio yang dikumpulkan benar-benar
hasil karya dan prestasi yang dicapai oleh guru tersebut selama menjalankan tugasnya,
bukan hasil duplikasi milik orang lain atau aspal (asli tapi palsu). Oleh sebab itu, agar
sertifikasi yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan penilaiannya dapat memenuhi
harapan di atas, semua pihak terkait terutama Dinas Pendidikan dan LPTK penyedia
assessor perlu secara cermat memperhatikan kebenaran dan keaslian dari berkas
portofolio dari guru sesuai dengan kewenangannya masing-masing.

Dengan demikian, untuk membuktikan ada tidaknya korelasi antara sertifikasi dengan
profesionalisme guru, perlu ada pembuktian secara akurat dan akuntabel. Dalam hal ini,
perlu dilakukan survei atau penelitian secara komprehensif terhadap guru-guru yang telah
lulus sertifikasi untuk melihat pengaruh sertifikasi terhadap mutu pendidikan.

Jika hasil survei nantinya membuktikan adanya korelasi di atas, maka tujuan sertifikasi
guru melalui portofolio untuk menguji kompetensi guru secara profesional dapat dicapai.

Sebaliknya, jika hasil survei menunjukkan tidak ada korelasi atau korelasinya tidak
signifikan, maka sertifikasi guru yang dilakukan seperti sekarang adalah sia-sia, hanya
mampu meningkatkan kesejahteraan guru tetapi tidak berkorelasi dengan peningkatan
mutu pendidikan.
Oleh sebab itu, pemerintah perlu mencari formula baru dalam melakukan sertifikasi guru.
Sertifikasi ini sebenarnya merupakan upaya pemerintah tidak saja untuk meningkatkan
kesejahteraan guru, tetapi yang lebih penting adalah peningkatan kompetensi guru
sebagai pendidik, mediator dan fasilitator pendidikan, seniman antarhubungan manusia,
petugas kesehatan mental, dan juga sebagai catalytic agent yang mampu memberikan
pengaruh besar terhadap pembaharuan pendidikan ke arah yang lebih kompetitif.

Ini memberikan pemahaman bahwa profesi guru di dalam masyarakat adalah suatu
profesi yang kompetitif karena profesionalisme guru harus berhadapan dan bersaingan
dengan profesi-profesi lainnya dalam kehidupan masyarakat luas. Oleh sebab itu,
pelaksanaan penilaiannya perlu ketelitian, kecermatan, dan kehati-hatian dari assessor




'Candikala' Demokrasi
Pemimpin
Written by Administrator
Monday, 09 August 2004
                 Prof.Dr. Sudjarwo, M.S

                 Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial, Dekan FKIP Unila

                    Perjalanan pulang menuju rumah sore itu dari kantor disambut warna merah
                    merona langit, yang oleh sebagian masyarakat Jawa disebut candikala (dibaca:
                    candikolo). Sebagian masyarakat Jawa memercayai untuk tidak memandang
warna itu karena banyak dedemit (sebangsa setan) sedang lewat, terutama anak kecil jangan
sekali-kali memandang karena bakal sakit mata. Walaupun di sisi lain pemandangan temaram ini
enak dinikmati di tepi laut, yang sering semua orang dewasa terpesona. Memang antara mitos dan
realita sering tidak ketemu (baca: jumbuh).

Di tengah meronanya warna merah jingga itu saya terkenang akan cerita panjang seorang
teman yang siang tadi bertandang ke kantor. Sahabat ini bekerja di suatu kantor swasta
terkenal. Menceritakan perjalanannya belajar demokrasi di provinsi tetangga. Pada saat
pemilihan ketua organisasi; ada seseorang yang berperan aktif, menunjuk satu per satu
anggota yang hadir dengan sekaligus menyebutkan jabatan yang akan dipangku. Si Badu
jadi bendahara, Si Minah jadi sekretaris, Si Ponijan jadi wakil ketua dan seterusnya hingga
yang hadir kebagian jabatan semua. Sepintas tampak sekali "keadilan"-nya.

Namun giliran anggota yang hadir bertanya secara aklamasi "Siapa jadi ketua?" Yang
bersangkutan dengan dingin mengatakan, "Siapa lagi kalau bukan aku. Aku kan sudah
bagi habis semua jabatan buat kalian."

Ternyata rasa demokrasi kita banyak belum menyentuh aspek konasi yang merupakan
unsur perilaku sehingga jika ada autokritik yang datang dari dalam diri kita (baca:
Organisasi), saraf penolakan langsung bekerja.

Persoalan pendidikan perilaku ini memang tidak mudah. Teori-teori yang berkaitan dengan
perilaku sudah banyak kita lakukan. Zaman Orde Baru kita kenal dengan penataran P4.
Semua orang dari rakyat kecil sampai pejabat negara harus mengikuti pendidikan perilaku
ini. Bahkan menjadi suatu kewajiban utama. Harapan yang akan dicapai adalah semua
orang tanpa kecuali harus berperilaku seperti yang dipatronkan. Ternyata arang habis besi
binasa. Hari ini harapan itu tinggal puing. Sekarang orang bisa seenaknya untuk berbuat
apa saja. Termasuk memecat orang yang tidak sejalan dengan kita, jika kita jadi pemimpin.

Aroma reformasi begitu menyengat, tidak jarang menjadikan orang mabuk karena banyak
menghirup udara reformasi sehingga dadanya sesak. Akibatnya yang bersangkutan
menjadi lupa diri, kemudian mengatasnamakan reformasi dapat berbuat apa saja. Padahal
makna dari reformasi itu adalah perubahan secara bertahap atau gradual untuk menuju
kepada sesuatu yang lebih baik. Hakikat maknawi ini menjadi hilang karena pemahaman
yang dangkal terhadap sesuatu.

Sama dengan candikala yang sebenarnya adalah karunia Illahi yang sangat indah jika kita
dapat menempatkannya pada spektrum yang benar. Candikala adalah fenomena alam
yang menakjubkan dan merupakan bukti keabadian dari perputaran waktu. Namun menjadi
buruk karena tata nilai yang kita bangun bertentangan dengan kaidah kealaman yang ada.

Demikian juga dengan fenomena alam lainnya jika kita tidak mampu meletakkannya pada
posisi dan waktu yang tepat, jadilah semua itu bencana. Sebagai contoh pada waktu yang
bersamaan dengan kondisi letak geografis yang berbeda peristiwanya menjadi berbeda.
Jawa pada umumnya, wabilkhusus Jakarta dan Pantura, saat sekarang diguyur hujan
terus-menerus. Sementara itu, Riau, Aceh dan sekitarnya yang juga biasa kering kerontang
dan hujan asap. Mendadak diguyur air bah. Dari ketidakarifan kita mengelola alam dengan
benar, maka rakyat jelatalah yang menjadi korbannya.

Kearifan lokal yang selama berabad lalu terjaga dengan baik, kini di tangan pemiliki modal
besar semua menjadi bubrah. Faktor ekonomi menjadi panglima selama setengah abad,
sekarang menunjukkan bagaimana raksasa ekonomi itu tega memakan anaknya. Ironisnya
anak-anaknya itu adalah kaum duafa, yang makin hari makin papa dan terpinggirkan.
Minyak goreng antre, minyak tanah antre, gizi buruk dan masih banyak lagi.

Raksasa ganas ini bak candikala, dia tampak indah jika hanya muncul sesekali di tepi
pantai, orang modern menyebutnya sunset, pemandangan ini diabadikan juru foto terkenal
dengan kamera mahal. Tujuannya mendapatkan detail yang bagus. Namun bayangkan jika
separo langit yang ada ini berwarna merah, tidak satu pun mata mampu menahan kilauan
sinar merona seperti itu.
Untuk itu mari kita mau memosisikan diri pada alam ini secara arif agar kita menemukan
keteduhan. Seyogianya kita menyadari bahwa akibat penanggung pertama beban
kegagalan dari suatu kebijakan adalah rakyat kecil, bukan mereka yang memiliki
kedudukan adiluhung.

Si miskinlah yang akan mendapatkan tekanan pertama jika suatu langkah salah diambil.
Kelangkaan pupuk rakyat yang kena, kelangkaan BBM rakyat yang kena, kelangkaan apa
pun yang menyentuh hajat hidup orang banyak, maka rakyat kecil sebagai lapis pertama
yang akan terkena.

Mari kita menjaga alam ini dengan melihat dengan kacamata kearifan lokal karena melalui
medan ini semua rakyat dapat berpartisipasi sekaligus dapat menikmati sebagaimana
adanya.

Rakyat kecil sudah bosan dengan janji, mereka perlu bukti. Justru bukti itu sekarang sering
dikelabui atau paling tidak dibohongi. Semoga sebelum alam ini makin marah melalui
candikala-nya, maka belum terlambat rasanya kita memperbaiki diri dan perilaku untuk
berbuat arif kepada sesama, termasuk kepada alam tercinta ini. Amin.

				
DOCUMENT INFO
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl