PTK Quantum TIK

Document Sample
PTK Quantum TIK Powered By Docstoc
					                                            BAB I


I. Latar Belakang masalah


  Perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sekarang
  ini, menyebabkan semakin berkembangnya dunia pendidikan. Pendidikan memegang peranan
  yang sangat penting dalam menciptakan manusia berkualitas. Sesuai dengan fungsi Pendidikan
  Nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
  yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
  peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
  berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
  demokratis serta bertanggungjawab.

  Mata pelajaran TIK merupakan mata pelajaran yang mengajarkan siswa pengetahuan dan cara
  pengaplikasiannya terhadap Teknologi pada umumnya dan Teknologi Informasi dan
  Komunikasi khususnya. Dalam pelajaran TIK para siswa diajarkan pengetahuan dasar tentang
  Komputer dan perangkatnya baik Hardware maupun Software, sehingga siswa dapat mengenal
  berbagai macam peralatan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik dan dapat
  menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  Pada pelajaran TIK khususnya pokok bahasan fungsi dan proses kerja berbagai peralatan
  teknologi informasi dan komunikasi siswa diajarkan berbagai macam alat teknologi infornasi
  diantaranya computer, telepon, handphone dan lain-lain. Secara khusus juga diajarkan tentang
  fungsi dan proses kerjanya dalam hal ini pemahaman terhadap peralatan computer dan alat
  telekomunikasi.

  Menyadari banyak factor yang menjadi penyebab terjadinya kekurang berhasilan siswa atau
  murid dalam pembelajaran materi tersebut, maka perlu dikaji faktor-faktor yang menjadi
  penyebab kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Melalui penelitian ini dapat kiranya diketahui
  penyebab dan dapat ditentukan langkah-langkah untuk membantu siswa dalam mempelajari
  materi tersebut dengan baik. Atas dasar tersebut maka perlu dilakukan inovasi-inovasi baik itu
  dalam hal penyampaian maupun memaksimalkan penggunaan fasilitas laboratrium semaksimal
  mungkin untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan siswa dalam materi pembelajaran
  tersebut.
Dalam penelitian ini penulis tertarik untuk mengaplikasikan pembelajaran kuantum (Quantum
Learning) dimana sistem pembelajaran yang meriah dengan segala nuansanya serta segala
kaitannya, interaksi dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar serta berfokus pada
hubungan dinamis dalam lingkungan laboratrium yang saling berinteraksi dalam mendirikan
landasan untuk kerangka belajar “interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya”.
Pelaksanaan pembelajaran melalui pembelajaran Quantum Learning diharapkan kemampuan
siswa dalam minat dan hasil belajar TIK khususnya pokok bahasan fungsi dan proses kerja
berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi menjadi meningkat.

Dalam Pembukaan UUD ’45 pada alenia ke IV disebutkan “…untuk mencerdaskan kehidupan
Bangsa….”, diperkuat lagi dalam UUD 1945           Pasal 29 mengenai Pendidikan kemudian
diperkuat lagi UU No. 20 tahun 2003 guru disebut sebagai pendidik. Dalam UU tersebut
dikatakan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen,
konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lainnya yang
sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan. (UU
Sisdiknas no 20 tahun 2003; 5). Selanjutnya dalam BAB XI, pasal 39 disebutkan
bahwa Pendidik    merupakan     tenaga    professional   yang   bertugas   merencanakan   dan
melaksanakan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Hal ini dipertegas lagi dalam pasal
40 UU Sisdiknas dan dalam UU no 14; 2005 pasal 20 ayat a. dikatakan bahwa dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban untuk merencanakan, melaksanakan
proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran.
Kemudian dipertegas lagi dalam Luasnya cakupan pengetahuan yang harus dikuasai guru
tertuang dalam PP Mendiknas RI N0. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik
Dan Kompetensi Guru. Dalam PP tersebut dikatakan ada empat kompetensi utama guru
yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.


Berdasarkan fakta dilapangan hasil belajar TIK siswa Kelas X5 di SMAN 13 Banjarmasin
masih rendah (berdasarkan hasil ulangan harian semester I dan II selama ini).

Selama ini penerapan Strategi Pembelajaran Quantum Learning belum pernah diterapkan pada
siswa Kelas X5 SMAN 13 Banjarmasin.

Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya
  1.    Bobbi DePorter, Reardon & Nourie, 2001 (SuperCamp, Kirkwood Meadows - California)
        selama bertahun-tahun telah teruji dan terukur berhasil melatih ribuan siswa dengan hasil
        yang sangat memuaskan, melalui Strategi Pembelajaran Quantum mampu meningkatkan
        68% motivasi belajar, 73% skor / nilai, 81% rasa percaya diri, 84% harga diri dan 98%
        melanjutkan penggunaan keterampilan.
  2.    Omaha Boy (Universitas Rutgers) “Bahwa melalui pembelajaran kuantum bisa
        menyediakan landasan bagi pengajar untuk menciptakan lingkungan, sikap dan struktur
        menuju kesuksesan belajar”
  3.    Sutrisno dan Setyawan, 2004 (Universitas Negeri Malang – Fakultas Teknik)
        “Pembelajaran kuantum dapat meningkatkan (1) hasil belajar mahasiswa (2) kreatifitas dan
        motivasi belajar mahasiswa (3) efektivitas pembelajaran.

  Dari hasil penelitian dan pelaksaan dilapangan bahwa Strategi Pembelajaran Quantum
  Learning dapat meningkatkan Proses dan Hasil belajar Siswa.




II. Ruang lingkup dan Batasan Masalah

      1. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X5 SMAN 13 Banjarmasin pada pokok bahasan
        fungsi dan proses kerja berbagai peralatan teknologi informasi dan komunikasi
      2. Aspek yang diamati adalah peningkatan Kompetensi Siswa yang mencakup Kognitif,
        Afektif dan Psikomotor.
      3. Strategi yang digunakan adalah Strategi Pembelajaran Quantum Learning.



III. Rumusan Masalah

       Bagaimanakah meningkatkan hasil belajar TIK pada pokok bahasan fungsi dan proses
       kerja   berbagai    peralatan   teknologi    informasi dan komunikasi melalui Strategi
       Pembelajaran Quantum Learning pada Siswa Kelas X5 SMAN 13 Banjarmasin ?


IV.    Tujuan Penelitian

       Untuk meningkatkan hasil belajar TIK pada pokok bahasan fungsi dan proses kerja
       berbagai peralatan teknologi     informasi dan komunikasi melalui Strategi Pembelajaran
       Quantum Learning pada Siswa Kelas X5 SMAN 13 Banjarmasin
V.   Manfaat Hasil Penelitian

     1. Teoritis
        Hasil Penelitian ini diharapkan dapat menunjang atau memperkaya Teori belajar pada
        umumnya dan khususnya hasil belajar TIK


     2. Manfaat Praktis
        a. Guru mata pelajaran TIK
            Guru dapat meningkatkan kualitas KBM di kelas maupun di Laboratrium TIK,
            sehingga Motivasi, Minat serta Hasil Belajar Siswa meningkat.
        b. Murid atau Siswa
            Kualitas Kegiatan Belajat siswa atau murid khususnya Minat dan Disiplin Belajar
            serta Hasil Belajar lebih meningkat
        c. Sekolah
            Kualitas KBM baik untuk Guru maupun Murid menjadi lebih baik dengan adanya
            penelitian penggunaan Strategi Pembelajaran Quantum Learning.
        d. Dinas Pendidikan
            Meningkatnya Kualitas lulusan pada Sekolah di Kota Banjarmasin
        e. Fakultas FKIP
            Strategi Pembelajaran Quantum Learning dijadikan dapat dijadikan acuan
            pembelajaran untuk mahasiswa setelah mereka bekerja nanti.
                                            BAB II
                                  DAFTAR PUSTAKA


A. Teori Belajar


          Belajar dapat diartikan sebagai upaya perubahan tingkah laku pada diri individu
   berkat adanya interaksi antar individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih
   mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Sesuatu yang dimaksud adalah objek atau
   materi atau informasi yang dipelajari.

          Menurut Bagne seperti yang dikutip oleh M. Purwanto ( 1990 : 84 ) menyatakan
   bahwa: “ Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan
   mempengaruhi siswa sedemikian rupa hingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia
   mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi “, sementara itu Edward
   Thorndike (1973) berpendapat, bahwa belajar adalah proses orang memperoleh berbagai
   kecakapan, keterampilan, dan sikap.

          Belajar mencakup semua aspek tingkah laku dan dapat dilihat dengan nyata, proses
   yang tidak dapat dilihat dengan nyata, proses itu terjadi dalam diri seseorang yang sedang
   mengalami belajar. Jadi belajar bukan merupakan tingkah laku yang nampak tetapi
   merupakan proses yang terjadi secara internal dalam diri individu dalam usahanya
   memperoleh hubungan yang baru. Hubungan baru dapat berupa antara reaksi-reaksi,
   perangsangan-perangansangan dan reaksi. Dari uraian tentang belajar di atas, dapat kita
   ambil kesimpulan betapa pentingnya proses belajar dan kehidupan manusia. Untuk itu
   perlu kiranya kita menyusun sendiri prinsip-prinsip belajar. Dalam hal ini Slameto
   (19991:27-28) mengemukakan prinsip-prinsip belajar, sebagai berikut:

   1. Dalam belajar setiap siswa harus diusahakan berpartisipasi aktif meningkatkan minat
      dan membimbing untuk mencapai tujuan instruksional.
   2. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu memiliki struktur, penyajian yang sederhana
      sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
   3. Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa
      untuk mencapai tujuan instruksional.
   4. Belajar itu proses kontinyu maka harus tahap demi tahap menurut discovery.
5. Belajar adalah proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery.
6. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan
   intruksional yang harus dicapai.
7. Belajar memerlukan saran yang cukup,sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
8. Belajar perlu lingkungan yang menantang, dimana anak dapat mengembangkan
   kemampuannya ber-eksplorasi dan belajar dengan efektif.
9. Belajar perlu ada interaksi siswa dengan lingkungannya



         Belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai normatif. Belajar mengajar
adalah      suatu     proses   yang     dilakukan     secara    sadar      dan   bertujuan.
Dalam interaksi pembelajaran unsur guru dan siswa harus aktif, karena tidak mungkin
terjadi proses interaksi bila hanya satu unsur yang aktif. Aktif dalam sikap, mental, dan
perbuatan. Dalam sistem pengajaran dengan pendekatan keterampilan proses, siswa harus
lebih aktif daripada guru. Guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan pembimbing. Inilah
yang disebut dengan interaksi edukatif sebagimana yang dikemukakan Abu Achmadi dan
Shuyadi, 1985:47), interaksi edukatif adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah
antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan.

         Ada tiga pola komunikasi antara guru dan anak didik dalam proses interaksi
edukatif, yakni komunikasi sebagai aksi, komunikasi sebagai interaksi, dan komunikasi
sebagai transaksi.

        Komunikasi sebagai aksi atau komunikasi satu arah menempatkan guru sebagai
         pemberi aksi dan anak didik sebagai penerima aksi. Guru aktif, dan anak didik
         pasif. Mengajar dipandang sebagai kegiatan menyampaikan bahan pelajaran.
        Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah, guru berperan sebagai
         pemberi aksi atau penerima aksi. Demikian pula halnya anak didik, bisa sebagai
         penerima aksi, bisa pula sebagai pemberi aksi. Antara guru dan anak didik akan
         terjadi dialog.
        Komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah, komunikasi tidak
         hanya terjadi antara guru dan anak didik. Anak didik dituntut lebih aktif daripada
         guru, seperti halnya guru, dapat berfungsi sebagai sumber belajar bagi anak didik
         lain.
              Penggunaan variasi pola interaksi mutlak dilakukan oleh guru. Hal ini dimaksudkan
   agar tidak menimbulkan kebosanan, kejenuhan, serta untuk menghidupkan suasana kelas
   demi keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan.

              Salah satu prinsip dalam mengaktifkan siswa dalam belajar adalah “menemukan”.
   Prinsip yang dimaksud adalah guru sebenarnya tak perlu menjejalkan seluruh informasi
   kepada siswa. Berilah kesempatan pada mereka untuk mencari dan menemukan informasi
   tersebut. Informasi yang disampaikan guru hendaknya yang bersifat mendasar dan
   memancing siswa untuk menggali informasi selanjutnya, sehingga suasana kelas tidak
   membosankan bahkan sebaliknya akan menjadi bergairah.

              Menurut Universitas Malang (2000:43), hakikat belajar atau learning adalah
   bagaimana mengarahkan para siswa memperoleh informasi, ide, keterampilan, nilai, cara
   berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya dan cara-cara bagaimana belajar. Dengan
   demikian fungsi guru disini adalah menanamkan aktivitas siswa agar memiliki
   keterampilan untuk terbiasa menemukan sumber informasi secara mandiri atau kelompok.



B. Hasil Belajar


              Keberhasilan dalam belajar menurut Hakim (2005) dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu
   faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang bersumber dari dalam individu itu sendiri
   meliputi faktor fisik (panca indra, kondisi fisik umum) dan faktor psikologis baik kognitif,
   maupun non-kognitif. Kognitif meliputi kemampuan khusus (bakat) dan kemampuan
   umum (intelegensi), sedangkan kemampuan non-kognitif, yakni :minat, motivasi, dan
   variabel-variabel kepribadian. Faktor eksternal yang bersumber dari luar individu meliputi
   faktor fisik (kondisi tempat belajar, sarana, dan perlengkapan belajar, materi pelajaran, dan
   kondisi lingkungan belajar), dan faktor sosial (dukungan sosial dan pengaruh budaya).
   Sedangkan menurut Syah (2004), pencapaian hasil belajar pada umumnya dipengaruhi oleh
   kecerdasan, kepribadian, motivasi berprestasi, kesehatan jasmani dan rohani, dan kebiasaan
   belajar.

              Salah satu faktor yang juga turut mempengaruhi keberhasilan belajar adalah metode
   atau strategi belajar yang digunakan oleh individu (Sukadji, 2001). Banyak sekali metode
   dalam pembelajaran yang diterapkan saat ini, baik oleh individu, maupun oleh lembaga
pendidikan. Salah satu metode pembelajaran yang saat ini banyak diterapkan oleh individu
dalam proses belajarnya, yaitu metode Quantum Learning. Model pembelajaran ini pertama
kali diterapkan di Amerika Serikat, berakar dari upaya Dr.Georgi Lozanov, seorang
pendidik berkebangsaan Bulgaria, yang bereksperimen dengan apa yang disebutnya
”suggestology” atau “suggestopedia”. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti
mempengaruhi hasil situasi belajar, dan setiap detail apapun memberikan sugesti positif
ataupun negatif. Beberapa teknik yang digunakannya untuk memberikan sugesti positif
adalah mendudukkan murid secara nyaman, memasang musik latar di dalam kelas,
meningkatkan partisipasi individu, menggunakan poster-poster untuk memberi kesan besar
sambil menonjolkan informasi, dan menyediakan guru-guru yang terlatih baik dalam seni
pengajaran sugestif (DePorter, 2001)

       Berbagai hasil penelitian menunjukkan, bahwa hasil belajar mempunyai korelasi
positif dengan kebiasaan belajar. Kebiasaan merupakan cara bertindak yang diperoleh
melalui belajar secara berulangan-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat
otomatis. Perbuatan kebiasaan tidak memerlukan konsentrasi perhatian dan pikiran dalam
melakukannya. Kebiasaan dapat berjalan terus, sementara individu memikirkan atau
memperhatikan hal-hal lain.

       Kebiasaan belajar dapat diartikan sebagai cara atau teknik yang menetap pada diri
siswa pada waktu menerima pelajaran, membaca buku, mengerjakan tugas, dan pengaturan
waktu untuk menyelesaikan kegiatan. Kebiasaan belajar dibagi ke dalam dua bagian, yaitu
Delay Avoidance (DA), dan Work Methods (WM). DA menunjuk pada ketetapan waktu
penyelesaian tugas-tugas akademis, menghindarkan diri dari hal-hal yang memungkinkan
tertundanya penyelesaian tugas, dan menghilangkan rangsangan yang akan mengganggu
konsentrasi belajar. Sedangkan WM menunjukkan kepada pengguna cara (prosedur) belajar
yang efesien dalam mengerjakan akademik dan keterampilan belajar.

       Kebiasaan belajar cenderung menguasai perilaku siswa pada setiap kali mereka
melakukan kegiatan belajar, sebabnya ialah karena kebiasaan mengandung motivasi yang
kuat. Pada umumnya setiap orang bertindak berdasarkan force of habit sekalipun ia tahu,
bahwa ada cara lain yang mungkin lebih menguntungkan. Hal itu disebabkan kebiasaan
sebagai cara yang mudah dan tidak memerlukan konsentrasi dan perhatian yang besar.
       Rustiyah (2001:21) sesuai dengan Law of effect dalam belajar, perbuatan yang
menimbulkan kesenangan cenderung untuk diulang. Oleh karena itu tindakkan kebiasaan
bersifat mengukuhkan (reinforching).

       Sumadi Suryabrata (1990:35) mengatakan hasil belajar yang efesien dalah dengan
usaha yang sekecil-kecil memberikan hasil yang sebesar-besarnya bagi perkembangan
individu yang belajar. Mengenai cara belajar yang efesien, belum menjamin keberhasilan
dalam belajar. Yang paling penting siswa mempraktikkannya dalam belajar sehari-hari,
sehingga lama-kelamaan menjadi kebiasaan, baik di dalam maupun diluar kelas.

       Gagne (1985) dan Bandura (1986) (dalam Bambang (2004:117) mengatakan bahwa
hasil belajar siswa (the out come of learning) yang berupa perkembangan kemampuan dan
keterampilan siswa akan ditentukan oleh hasil interaksi anatara kondisi internal belajar
(internal conditions of learning) siswa yang berupa kondisi dan proses kognitif (the larner’s
internal states and coqnitive processe) dengan kondisi eksternal belajar (external conditions
of learning) yang berupa stimulus lingkungan (stimuli from the environment).

       Prestasi belajar rendah akan dapat ditingkatkan apabila proses belajar yang
dilakukan guru mampu meningkatkan motivasi, kemauan, daya serap dan tingkat
konsentrasi siswa. Ini akan terjadi apabila dalam proses belajar siswa memperoleh
pengetahuan secara bertahap sebagaimana halnya model stuktur pengetahuan itu terbentuk,
yaitu mulai dari fakta, konsep dan akhirnya ke generalisasi dan atau teori (Savege and
Amstrong, 1996; Numan Sumantri, 2001:132). Dengan cara ini memungkinkan siswa
belajar dengan lebih mudah dan bermakna karena ia akan belajar mulai demikian melaui
pendekatan cooperative learning dengan teknik group investigation ini para siswa akan
mengalami proses belajar dari melihat fakta, mengamati fakta, mengumpulkan fakta,
menganalisa fakta, mengkonstruksi fakta menjadi konsep.

       Paradigma baru pendidikan lebih menekankan pada peserta didik sebagai manusia
yang memiliki potensi untuk belajar dan berkembang. Siswa harus aktif dalam pencarian
dan pengembangan pengetahuan. Kebenaran ilmu tidak terbatas pada apa yang
disampaikan oleh guru. Guru harus mengubah perannya, tidak lagi sebagai pemegang
otoritas tertinggi keilmuan dan indoktriner, tetapi menjadi fasilitator yang membimbing
siswa ke arah pembentukan pengetahuan oleh diri mereka sendiri. Melalui paradigma baru
tersebut diharapkan di kelas siswa aktif dalam belajar, aktif berdiskusi, berani
   menyampaikan gagasan dan menerima gagasan dari orang lain, dan memiliki kepercayaan
   diri yang tinggi (Zamroni, 2000:24).




C. Pembelajaran Model

             Quantum learning ialah kiat, petunjuk, strategi, dan seluruh proses belajar yang
   dapat mempertajam pemahaman dan daya ingat, serta membuat belajar sebagai suatu
   proses yang menyenangkan dan bermanfaat. Beberapa teknik yang dikemukakan
   merupakan teknik meningkatkan kemampuan diri yang sudah populer dan umum
   digunakan. Namun, Bobbi DePorter mengembangkan teknik-teknik yang sasaran akhirnya
   ditujukan untuk membantu para siswa menjadi responsif dan bergairah dalam menghadapi
   tantangan dan perubahan realitas (yang terkait dengan sifat jurnalisme). Quantum learning
   berakar dari upaya Georgi Lozanov, pendidik berkebangsaan Bulgaria.

             Ia melakukan eksperimen yang disebutnya suggestology (suggestopedia).
   Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar, dan
   setiap detil apa pun memberikan sugesti positif atau negatif. Untuk mendapatkan sugesti
   positif, beberapa teknik digunakan. Para murid di dalam kelas dibuat menjadi nyaman.
   Musik dipasang, partisipasi mereka didorong lebih jauh. Poster-poster besar, yang
   menonjolkan informasi, ditempel. Guru-guru yang terampil dalam seni pengajaran sugestif
   bermunculan.

             Selanjutnya Porter dkk mendefinisikan quantum learning sebagai “interaksi-
   interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.” Mereka mengamsalkan kekuatan energi
   sebagai bagian penting dari tiap interaksi manusia. Dengan mengutip rumus klasik
   E = mc2, mereka alihkan ihwal energi itu ke dalam analogi tubuh manusia yang “secara
   fisik adalah materi”. “Sebagai pelajar, tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya:
   interaksi, hubungan, inspirasi agar menghasilkan energi cahaya”. Pada kaitan inilah,
   quantum learning menggabungkan sugestologi, teknik pemercepatan belajar, dan NLP
   dengan teori, keyakinan, dan metode tertentu. Termasuk konsep-konsep kunci dari teori
   dan strategi belajar, seperti: teori otak kanan/kiri, teori otak triune (3 in 1), pilihan
   modalitas (visual, auditorial, dan kinestik), teori kecerdasan ganda, pendidikan holistik,
   belajar    berdasarkan   pengalaman,    belajar   dengan   simbol   (metaphoric   learning),
   simulasi/permainan.
       Beberapa hal yang penting dicatat dalam quantum learning adalah sebagai berikut.
Para siswa dikenali tentang “kekuatan pikiran” yang tak terbatas. Ditegaskan bahwa otak
manusia mempunyai potensi yang sama dengan yang dimilliki oleh Albert Einstein. Selain
itu, dipaparkan tentang bukti fisik dan ilmiah yang memerikan bagaimana proses otak itu
bekerja. Melalui hasil penelitian Global Learning, dikenalkan bahwa proses belajar itu
mirip bekerjanya otak seorang anak 6-7 tahun yang seperti spons menyerap berbagai fakta,
sifat-sifat fisik, dan kerumitan bahasa yang kacau dengan “cara yang menyenangkan dan
bebas stres”. Bagaimana faktor-faktor umpan balik dan rangsangan dari lingkungan telah
menciptakan kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja. Hal ini menegaskan bahwa
kegagalan, dalam belajar, bukan merupakan rintangan. Keyakinan untuk terus berusaha
merupakan alat pendamping dan pendorong bagi keberhasilan dalam proses belajar. Setiap
keberhasilan perlu diakhiri dengan “kegembiraan dan tepukan.”

       Berdasarkan penjelasan mengenai apa dan bagaimana unsur-unsur dan struktur otak
manusia bekerja, dibuat model pembelajaran yang dapat mendorong peningkatan
kecerdasan linguistik, matematika, visual/spasial, kinestetik/perasa, musikal, interpersonal,
intarpersonal, dan intuisi. Bagaimana mengembangkan fungsi motor sensorik (melalui
kontak langsung dengan lingkungan), sistem emosional-kognitif (melalui bermain, meniru,
dan pembacaan cerita), dan kecerdasan yang lebih tinggi (melalui perawatan yang benar
dan pengondisian emosional yang sehat). Bagaimana memanfaatkan cara berpikir dua
belahan otak “kiri dan kanan”. Proses berpikir otak kiri (yang bersifat logis, sekuensial,
linear dan rasional), misalnya, dikenakan dengan proses pembelajaran melalui tugas-tugas
teratur yang bersifat ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan
detil dan fakta, fonetik, serta simbolisme. Proses berpikir otak kanan (yang bersifat acak,
tidak teratur, intuitif, dan holistik), dikenakan dengan proses pembelajaran yang terkait
dengan pengetahuan nonverbal (seperti perasaan dan emosi), kesadaran akan perasaan
tertentu (merasakan kehadiran orang atau suatu benda), kesadaran spasial, pengenalan
bentuk dan pola, musik, seni, kepekaan warna, kreatifitas dan visualisasi.

       Dalam kaitan itu pula, antara lain, quantum learning mengonsep tentang “menata
pentas: lingkungan belajar yang tepat.” Penataan lingkungan ditujukan kepada upaya
membangun dan mempertahankan sikap positif. Sikap positif merupakan aset penting
untuk belajar. Peserta didik quantum dikondisikan ke dalam lingkungan belajar yang
optimal baik secara fisik maupun mental. Dengan mengatur lingkungan belajar demikian
rupa, para pelajar diharapkan mendapat langkah pertama yang efektif untuk mengatur
pengalaman belajar.

       Penataan lingkungan belajar ini dibagi dua yaitu: lingkungan mikro dan lingkungan
makro. Lingkungan mikro ialah tempat peserta didik melakukan proses belajar (bekerja dan
berkreasi). Quantum learning menekankan penataan cahaya, musik, dan desain ruang,
karena semua itu dinilai mempengaruhi peserta didik dalam menerima, menyerap, dan
mengolah informasi. Ini tampaknya yang menjadi kekuatan orisinalitas quantum learning.
Akan tetapi, dalam kaitan pengajaran umumnya di ruang-ruang pendidikan di Indonesia,
lebih baik memfokuskan perhatian kepada penataan lingkungan formal dan terstruktur
seperti: meja, kursi, tempat khusus, dan tempat belajar yang teratur. Target penataannya
ialah menciptakan suasana yang menimbulkan kenyamanan dan rasa santai. Keadaan santai
mendorong siswa untuk dapat berkonsentrasi dengan sangat baik dan mampu belajar
dengan sangat mudah. Keadaan tegang menghambat aliran darah dan proses otak bekerja
serta akhirnya konsentrasi siswa.

       Aspek-aspek dalam model pembelajaran Quantum Learning ini meliputi:
Lingkungan belajar, Memiliki sikap positif, Gaya Belajar, Teknik Mencatat, Teknik
Menulis, Kekuatan Ingatan, Kekuatan Membaca, dan Berpikir Kreatif (Deporter, 2002).

Prinsip-prinsip Quantum Learning adalah :

1. Segalanya berbicara.
    Segalanya dari lingkungan kelas, laboratrium dan sekolah hingga bahasa tubuh guru,
    dari kertas yang dibagikan hingga rancangan pembelajaran semuanya mengirim pesan
    tentang belajar.
2. Segalanya Bertujuan
    Semuanya yang terjadi dalam KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) mempunyai tujuan
    untuk pembelajaran dan harus dijelaskan kepada siswa.
3. Pengalaman sebelum pemberian nama
    Proses belajar paling baik terjadi ketika siswa telah mengalami informasi sebelum
    mereka memperoleh nama (materi) untuk bahan pembelajaran mereka.
4. Akui setiap Usaha
    Dalam proses KBM siswa patut mendapat pengakuan atas prestasi dan kepercayaan
    dirinya, jangan mematikan semangat siswa untuk belajar.
5. Jika layak dipelajari maka layak pula dirayakan
    Perayaan dapat memberi umpan balik mengenai kemajuan dan meningkatkan asosiasi
    dengan belajar, baik secara berkelompok maupun secara individu.

Model Quantum Learning terbagi atas 2 (dua) kategori, yaitu Konteks dan Isi (DePorter,
Reardon & Nourie, 2001). Konteks meliputi
   1.   Lingkungan.
        Semua yang ada dalam lingkungan kelas harus ditata sedemikian rupa sehingga
        mampu menumbuhkan dan merangsang suasana belajar yang menyenangkan dan
        kondusif
   2. Suasana
        Seorang guru harus mampumenciptakan suasana kelas yang menyenangkan dengan
        berbagai cara seperti simpatik, ramah, kasih saying, humoris, suara yang lembut
        tapi jelas dan sebagainya.
   3. Landasan
        Merupakan kerangka kerja yang harus dibangun dan disepakati bersama antara
        guru dan murid yang mencakup (1) Tujuan, (2) Prinsip dan Nilai-nilai yang sama
        (3) Keyakinan yang kuat mengenai KBM dan (4) Kesepakatan, kebijakan, prosedur
        dan peraturan yang jelas.
   4. Rancangan
        Hal ini terkait dengan kemampuan guru untuk mampu menumbuhkan dan
        meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa dengan berbagai cara penggunaan
        media dalam pembelajaran.

        Dalam pelaksanaannya komponen rancangan Quantum Learning dikenal dengan
singkatan “TANDUR” yang merupaka kepanjangan dari “ Tumbuhkan, Alami, Namai,
Demontrasikan, Ulangi dan Rayakan”. (DePorter, Reardon & Nourie, 2001).

        Pada awal penerapannya, model pembelajaran ini pertama kali dilakukan pada
tahun 1982, yang dikenal dengan nama Supercamp. Dalam program menginap selama dua
belas hari ini, siswa-siswa mulai dari usia sembilan hingga dua puluh empat tahun
memperoleh kiat-kiat yang membantu mereka dalam mencatat, menghafal dan membaca
cepat, menulis, berkreasi, berkomunikasi, dan melakukan kiat-kiat untuk meningkatkan
kemampuan mereka menguasai berbagai hal dalam kehidupan. Hasilnya menunjukkan
bahwa murid-murid yang mengikuti program tersebut mendapatkan nilai yang lebih baik,
   lebih banyak berpartisipasi dan merasa lebih bangga akan diri mereka sendiri (DePorter,
   2002).

            Penerapan model Quantum Learning ini telah memberikan hasil-hasil sebagai
   berikut 68% meningkatkan motivasi, 73% meningkatkan nilai, 81% meningkatkan rasa
   percaya diri, 84% meningkatkan harga diri dan 98% melanjutkan penggunaan
   keterampilan. (DePorter, 2002). Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model
   Quantum Learning terbukti sangat berhasil dan harus dipertimbangkan sebagai salah satu
   model pembelajaran yang perlu untuk diterapkan.

D. Tinjauan Materi


            Standar Kompetensinya adalah “Memahami fungsi dan proses kerja berbagai
   peralatan teknologi informasi dan komunikasi”, bisa digambarkan dalam bagan dibawah



                   Teknologi Informasi dan Komunikasi



                  Definisi                         Peralatan




                               Komputer                              Jaringan


                                       Input                               Topologi

                                      Proses                           Media Transmisi

                                      Storage

                                      Output




            Kata informasi memiliki arti tersendiri dan dalam penerapannya membutuhkan alat
   atau hardware yang spesifik. Begitu juga dengan kata komunikasi. Sekarang kita
   mengenal begitu banyak alat komunikasi yang membuat jarak tidak lagi menjadi masalah
   selama alat komunikasi     tersebut     tersedia.   Teknologi    informasi    dan     komunikasi
   adalah pengembangan teknologi dan aplikasi komputer maupun teknologi berbasis
   komunikasi    untuk   memproses,     menyajikan,    dan mengelola data serta informasi. Teknologi
informasi dan komunikasi mencakup pembuatan perangkat           keras     (hardware)      komputer     dan
komponen-komponennya,          pengembangan perangkat        lunak      (software)       komputer     serta
berbagai jasa yang berhubungan dengan komputer, dan pembuatan komponen dan jasa
yang   berkaitan   dengan   perlengkapan komunikasi. Informasi            dapat ditayangkan            atau
disampaikan ke suatu tujuan yang jauh menggunakan peralatan-peralatan di bawah ini.


            Komputer, yaitu alat yang berguna untuk mengolah data menjadi informasi
             menurut prosedur yang telah dirumuskan sebelumnya.
            Proyektor LCD (Liquid Crystal Display), yaitu alat untuk menayangkan
             informasi yang berasal dari komputer atau media informasi lain seperti DVD
             Player. Alat ini memiliki keunggulan karena mampu menayangkan informasi
             berformat video. Proyektor LCD sering digunakan sebagai alat presentasi atau
             media pembelajaran di kelas.
            OHP        (Over      Head       Projector),    yaitu    alat      untuk      menayangkan
             informasi statis yang tertulis pada plastik transparansi. Tidak seperti
             proyektor LCD, OHP hanya dapat menayangkan gambar diam. Alat
             ini muncul lebih dulu sebelum proyektor LCD ditemukan.
            Radio,    yaitu     alat    penerima      informasi     yang      berasal     dari     stasiun
             pemancar berupa gelombang elektromagnet yang membawa informasi suara.
             Gelombang ini melintas dan merambat melalui udara, bahkan merambat
             melalui ruang angkasa yang hampa udara.
            Televisi, yaitu alat penerima informasi yang berupa gambar dan suara. Televisi
             berasal dari kata tele (jauh) dan vision (tampak/visual). Artinya, informasi
             dapat dipancarkan dari jarak jauh dan penerima informasi membutuhkan
             sebuah alat yang disebut televisi untuk menerima informasi dalam bentuk
             suara dan visual.
            Internet, yaitu hubungan antar komputer dalam suatu jaringan global
             yang memungkinkan setiap komputer saling bertukar informasi. Hubungan
             antar komputer ini menggunakan apa yang disebut protokol Internet
             (Internet Protocol). Internet menghubungkan komputer di seluruh dunia
             yang jumlahnya dapat mencapai ratusan juta buah.
            GPS      (Global     Positioning     System),    yaitu     alat    informasi         berfungsi
             menentukan         letak, arah     atau    kecepatan       benda     yang       berada      di
             permukaan      bumi.       Umumnya,       GPS ditempatkan di mobil atau kendaraan
            lainnya. Dengan GPS, pengendara mobil dapat mengetahui posisinya setiap
            saat.




           Faximile, yaitu alat untuk mengirim dan menerima dokumen melalui jalur
            telepon. Dokumen     yang    dikirim   dengan     faximile   sama   persis   dengan
            dokumen asli. Secara sederhana, cara kerja faximile mirip dengan mesin fotokopi
            atau scanner, hanya saja outputnya keluar di tempat yang jarak jauh. Tentu saja,
            pengirim dan penerima harus sama-sama memiliki mesin faximile agar dapat
            mengirim informasi dengan cara ini.
           Satelit komunikasi, yaitu benda buatan manusia yang diletakkan di ruang angkasa
            untuk keperluan    telekomunikasi.     Ada      bermacam-macam      fungsi   satelit,
            misalnya     untuk memancarkan sinyal dari stasiun televisi. Gelombang yang
            dipancarkan stasiun televisi dipancarkan ke ruang angkasa terlebih dahulu dan
            diterima oleh satelit, kemudian baru diteruskan ke wilayah yang sulit dijangkau oleh
            antena pemancar di permukaan bumi. Selain untuk siaran televisi, satelit juga
            digunakan untuk keperluan militer dan navigasi.




       Ada beberapa cara untuk menggolongkan komputer. Berdasarkan kegunaannya, komputer
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1. general purpose computer, yaitu komputer yang digunakan secara umum untuk kegiatan
    sehari-hari, misalnya untuk mengetik dokumen, menghitung, membuat desain grafis,
    atau mengolah data statistik.
   2. special purpose computer, yaitu komputer yang didesain untuk pekerjaan khusus,
       contohnya komputer yang digunakan untuk mengendalikan mesin-mesin di pabrik.
       Komputer semacam ini biasanya digunakan untuk menghandle sistem berskala besar.


            Pengelompokkan komputer yang kedua adalah pengelompokan berdasarkan
   kapasitasnya. Menurut pengelompokkan ini, komputer dibedakan menjadi empat golongan,
   yaitu:
            a. komputer mikro atau personal computer
            b. komputer mini
            c. komputer mainframe
            d. superkomputer.


            Di samping kedua pengelompokkan di atas, komputer dapat dikelompokkan
   berdasarkan jenis sinyal yang diolahnya. Menurut pengelompokkan ini, komputer dibedakan
   menjadi tiga jenis, yaitu:
            a. komputer digital (komputer yang bekerja dengan sinyal digital)
            b. komputer analog (komputer yang bekerja dengan sinyal analog)
            c. komputer hibrid (komputer yang bekerja dengan sinyal digital maupun sinyal
              analog).


Perangkat keras computer
            Jika    dipilah   berdasarkan    fungsinya,      perangkat-perangkat    yang    terdapat    pada
   sistem komputer dapat dibedakan menjadi lima jenis sebagai berikut :
   1. Peralatan Input
       Alat input atau input device adalah perangkat keras yang berguna untuk memasukan data ke
       komputer. Data itulah yang selanjutnya akan diproses. Di dalam perangkat ini terdapat sinyal
       input maupun sinyal maintenance. Sinyal input berupa data-data, baik yang berupa huruf,
       angka, gambar, maupun suara yang dimasukkan ke dalam sistem komputer. Sinyal
       maintenance berupa program untuk mengolah data yang dimasukkan. Dengan
       demikian, alat input berfungsi untuk memasukkan data dan memasukkan program.
       Contohnya : Keyboard, Mouse, Joystick, Microphone, Touchsrceen, Barcode reader, Kamera
       video dan kamera Photo.
   2. Peralatan Proses
      Proses       kerja   komputer    merupakan      satu     rangkaian     kerjasama     antar   beberapa
      komponen. Kinerja         komputer    tidak   ditentukan    atau     didominasi    oleh   suatu   alat,
      namun paduan dari sejumah komponen. Di bawah ini adalah alat-alat proses yang digunakan
      oleh komputer untuk mengolah data : Processor, RAM (Memory), Mainboards, VGA Card dan
      Sound Card.
  3. Storage (Media Penyimpanan)
      Merupakan media penyimpanan hasil dari pengolahan data pada computer dapat disimpan pada
      Harddisk, FlasDisk, CD/DVD Room, Disket dan Oftikal Disk
  4. Peralatan Output
      Informasi yang telah diproses oleh komputer ditampilkan kepada pengguna melalui alat output.
      Beberapa alat output yang banyak digunakan dalam sistem komputer adalah sebagai
      berikut : Monitor, Printer, Speaker, LCD Proyektor
  5. Peralatan Periperal
      Merupakan peralatan lain yang terhubung ke computer seperti : NIC atau Network Interface
      Card (Kartu jaringan Komputer), Modem, HUB dan UPS.


Jaringan komputer
            Jaringan    komputer adalah    kumpulan dua atau     lebih    komputer   yang    saling
   berhubungan untuk melakukan komunikasi data. Hubungan antara dua komputer atau
   lebih tersebut dapat terjadi melalui media kabel maupun nirkabel (tanpa kabel).
   Adapun data yang dikomunikasikan dapat berupa data teks, suara, gambar, atau video.
            Sejarah jaringan komputer dimulai pada tahun 1940 di Amerika Serikat melalui proyek
   pengembangan komputer Model I di laboratorium Bell dan kelompok riset Harvard
   University yang dipimpin oleh Howard Aiken. Saat itu, proyek tersebut hanya bertujuan untuk
   memanfaatkan sebuah perangkat komputer sehingga dapat dipakai bersama. Pada tahun         1950,
   saat komputer mulai berkembang dan superkomputer lahir, muncullah kebutuhan akan
   sebuah    komputer    yang   mampu     melayani   banyak   terminal.   Kemudian ditemukanlah
   konsep TSS (Time Sharing System) atau sistem antrian. Pada tahun 1969, terbentuklah
   jaringan komputer pertama yang disebut ARPANET.


       Manfaat atau keuntungan dibangunnya jaringan komputer adalah:
       a. komputer-komputer yang saling terhubung dapat melakukan sharing file
            maupun sharing folder, yaitu pemakaian file atau direktori secara bersama-sama
       b. dengan adanya penyimpanan file terpusat (file server), file atau data yang ada di
            server dapat saling dibagi.
       c. memungkinkan pemakaian aplikasi secara bersama-sama oleh multiuser
       d. memudahkan kita membackup data (membuat data cadangan).
e. memungkinkan kita untuk mendapatkan data terbaru/terkini secara cepat.


Ada cara untuk mengelompokkan jenis jaringan komputer, yaitu:
(a.) jaringan komputer berdasarkan area atau luas wilayah (b) jaringan komputer
berdasarkan topologi (bentuk) jaringan (c) jaringan komputer berdasarkan media
transmisi.


a.   Jaringan komputer berdasarkan area atau luas wilayah
     Berdasarkan area atau luas wilayah, jaringan komputer dibedakan menjadi tiga,
     yaitu:
             LAN (Local Area Network)
             MAN (Metropolitan Area Network)
             WAN (Wide Area Network)


b. jaringan komputer berdasarkan topologi (bentuk) jaringan
            a. topologi bus atau linier
            b. topologi ring (cincin)
            c. topologi star (bintang)
            d. topologi tree (pohon)
            e. topologi mash (web)


c.    jaringan komputer berdasarkan media transmisi.
            1. Kabel
            2. Wireless
            3. Satelit
E. Kerangka Pemikiran

           Keberhasilan siswa dalam proses KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) dapat terlihat jelas
   secara kasat mata pada saat evaluasi belajar dengan hasil belajar yang memuaskan. Kebanyakan
   siswa yang belajarnya berhasil memiliki ciri-ciri seperti : Memiliki motivasi dalam kegiatan belajar,
   suka pada tantangan, rileks sewaktu pembelajaran, selalu aktif dalam proses KBM baik didalam
   kelas maupun diluar kelas dan memiliki inisiatif.


   Dalam proses KBM, sebagai guru kita harus selalu memperhatikan perkembangan anak didik kita
   secara keseluruhan tanpa membedakan murid yang pintar dengan yang biasa saja prestasi
   akademiknya. Untuk itu perlu digunakan berbagai macam strategi yang bisa memacu kreativitas,
   proses dan hasil belajar yang maksimal, untuk mencapai semua itu penulis menerapkan strategi
   pembelajaran Quantum Learning yang mengaplikasikan metode pembelajaran meliputi
   1. Lingkungan.
        Semua yang ada dalam lingkungan kelas harus ditata sedemikian rupa sehingga
        mampu menumbuhkan dan merangsang suasana belajar yang menyenangkan dan
        kondusif
   2. Suasana
        Seorang guru harus mampu menciptakan suasana kelas yang menyenangkan dengan
        berbagai cara seperti simpatik, ramah, kasih saying, humoris, suara yang lembut tapi
        jelas dan sebagainya.
   3.   Landasan
        Merupakan kerangka kerja yang harus dibangun dan disepakati bersama antara guru
        dan murid yang mencakup (1) Tujuan, (2) Prinsip dan Nilai-nilai yang sama (3)
        Keyakinan yang kuat mengenai KBM dan (4) Kesepakatan, kebijakan, prosedur dan
        peraturan yang jelas.
   4.   Rancangan
        Hal ini terkait dengan kemampuan guru untuk mampu menumbuhkan dan
        meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa dengan berbagai cara penggunaan
        media dalam pembelajaran.

           Dalam pelaksanaannya komponen rancangan Quantum Learning dikenal dengan
   singkatan “TANDUR” yang merupaka kepanjangan dari “ Tumbuhkan, Alami, Namai,
   Demontrasikan, Ulangi dan Rayakan”.
Dengan penerapannya dalam KBM sebagai berikut :
   1. Tumbuhkan
      Pada awal kegiatan pembelajaran pengajar harus berusaha menumbuhkan atau
      mengembangakan minat siswa untuk belajar, sehingga siswa sadar manfaaatnya
      kegiatan pembelajaran bagi dirinya atau bagi kehidupannya.
   2. Alami
      Mengandung makna bahwa proses pembelajaran akan lebih bermakna jika siswa
      mengalami secara langsung atau nyata materi yang diajarkan, sehingga menciptakan
      ikatan emosional, menciptakan peluang pemberian makna dan membangun
      keingintahuan siswa.
   3. Namai
      Dalam hal ini mengandung makna penamaan adalah saatnya untuk mengajarkan
      konsep, keterampilan berpikir dan strategi belajar, sehingga mampu memuaskan hasrat
      alami otak untuk memberikan identitas, mengurutkan dan mendefinisikan.
   4. Demontrasikan
      Disini guru harus memberikan peluang pada siswa untuk menterjemahkan dan
      menerapkan pengetahuan mereka kedalam pembelajaran lain atau kedalam kehidupan
      mereka.
   5. Ulangi
      Berarti proses pengulangan dalam kegiatan pembelajaran dapat memperkuat koneksi
      saraf dan menumbuhkan rasa tahu atau yakin terhadap kemampuan siswa. Pengulangan
      harus dilakukan secara multimodalitas dan multi kecerdasan.
   6. Rayakan
      Maknanya adalah penghormatan pada siswa atas usaha, ketekunan dan kesuksesannya,
      dengan kata lain memberikan umpan balik yang positif pada siswa atas keberhasilannya
      baik berupa pujian, pemberian hadiah atau bentuk lainnya. Sehingga hasil akhirnya
      dapat memperkuat proses belajar selanjutnya.


          Dengan menerapkan Strategi pembelajaran Quantum Learning diduga ada
   hubungannya dengan peningkatan hasil belajar siswa SMAN 13 Banjarmasin khususnya
   siswa kelas X dalam pembelajaran TIK.
         Bagan pembelajaran Quantum Learning



                           Rendahanya Hasil Belajar




                  Lingkungan                               Sumber
                                                           Interaksi
                    Lingkungan
                                                           Metode
                          Fisik      Quantum
                                                           Belajar Keterampilan
                       Suasana       Learning



                              Nilai-nilai dan Keyakinan




                                  Meningkatnya Hasil
                                       Belajar




F. Kerangka Pemikiran


   Memperhatikan kerangka pemikiran maka didapat kesimpulan sementara bahwa
   “ Jika proses pembelajaran TIK pada pokok bahasan fungsi dan proses kerja berbagai
   peralatan   teknologi    informasi dan komunikasi menggunakan strategi pembelajaran
   Quantum Learning, maka hasil belajar akan meningkat”.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:821
posted:5/25/2011
language:Malay
pages:22