Docstoc

3. FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAPAUDIT DELAY DI INDONESIA

Document Sample
3. FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAPAUDIT DELAY DI INDONESIA Powered By Docstoc
					                                                         SNA 7 | Shared at Ekydakka.com




         FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP
                  AUDIT DELAY DI INDONESIA

                                      Oleh
                      Imam Subekti & Novi Wulandari Widiyanti




                   Simposium Nasional Akuntansi VII
                              (SNA 7)

                                Downloaded At




Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                              SNA 7 | Shared at Ekydakka.com



         FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP
                  AUDIT DELAY DI INDONESIA

                                       Oleh
                       Imam Subekti & Novi Wulandari Widiyanti

                                       ABSTRACT

       Timeliness represent very important matter in determining financial
       statement value. This research is purposed to investigate influenced
       audit delay factors. That are level of firm profitability, firm size,
       industrial sector, audior’s opinion, and public accountant size.
               Samples are selected by mothod of purposive sampling.
       Regression analysis is used to investigate influenced audit delay factors.
       The result of this research show that level of firm profitability, firm size,
       industrial sector, audior’s opinion, and public accountant size influence
       to audit delay. This result is recommended for auditor to increase
       effectiveness of his audit perfomance. For company, this result can
       increase assisting to his auditor in running process of auditing.

       Keywords: audit delay, accuracy of reporting time, influencing factors,
                 time of finishing audit.

I Pengantar
        Perkembangan pasar modal di Indonesia berdampak peningkatan permintaan akan
audit laporan keuangan. Setiap perusahaan yang           go public diwajibkan untuk
menyampaikan laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan
dan telah diaudit oleh akuntan publik yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal.
Hasil audit atas perusahaan publik mempunyai konsekuensi dan tanggungjawab yang
besar. Adanya tanggungjwab yang besar ini memacu audit untuk bekerja secara lebih
profesional. Salah satu kriteria profesionalisma dari auditor adalah ketepatan waktu
penyampaian laporan auditnya. Ketepatan waktu perusahaan dalam mempublikasikan
laporan keuangan kepada masyarakat umum dan kepada BAPEPAM juga tergantung dari
ketepatan waktu auditor dalam menyelesaikan pekerjaan auditnya. Ketepatan waktu ini
terkait dengan manfaat dari laporan keuangan itu sendiri. Jika terdapat penundaan yang
tidak semestinya dalam pelaporan keuangan, maka informasi yang dihasilkan akan
kehilangan relevansinya.
        Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dari Ikatan Akuntan Indonesia (IAI,
2001) khususnya tentang standar pekerjaan lapangan mengatur tentang prosedur dalam
penyelesaian pekerjaan lapangan seperti perlu adanya perencanaan atas aktivitas yang
akan dilakukan, pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern dan
pengumpulan bukti-bukti kompeten yang diperoleh melalui inspeksi, pengamatan,
pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas
laporan keuangan. Pemenuhan standar audit oleh auditor dapat berdampak lamanya
penyelesaian laporan audit, tetapi juga berdampak peningkatan kualitas hasil auditnya.
Pelaksanaan audit yang semakin sesuai dengan standar membutuhkan waktu semakin




Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                           SNA 7 | Shared at Ekydakka.com


lama. Sebaliknya, semakin tidak sesuai dengan standar pekerjaan audit semakin pendek
waktu yang diperlukan. Kondisi ini dapat meninmbulkan suatu dilema bagi auditor.
        Lamanya waktu penyelesaian audit ini dapat mempengaruhi ketepatan waktu
informasi tersebut dipublikasikan. Dyer dan McHugh (1975) menyimpulkan bahwa
ketepatan waktu pelaporan keuangan merupakan elemen pokok bagi catatan laporan
keuangan yang memadai. Para pemakai informasi akuntansi tidak hanya perlu memiliki
informasi keuangan yang relevan dengan prediksi dan pembuatan keputusannya, tetapi
informasi harus bersifat baru. Ketepatan waktu mengimplikasikan bahwa laporan
keuangan seharusnya disajikan pada suatu interval waktu, untuk menjelaskan perubahan
dalam perusahaan yang mungkin mempengaruhi pemakai informasi dalam membuat
prediksi dan keputusan.
        Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan keuangan perusahaan
bisa berpengaruh pada nilai laporan keuangan tersebut. Keterlambatan informasi akan
menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar modal. Karena laporan keuangan auditan
yang di dalamnya memuat informasi laba yang dihasilkan oleh perusahaan bersangkutan
dijadikan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual
kepemilikan yang dimiliki oleh investor. Artinya informasi laba dari laporan keuangan
yang dipublikasikan akan menyebabkan kenaikan atau penurunan harga saham. Chambers
and Penman (1984) menunjukkan bahwa pengumuman laba yang terlambat menyebabkan
abnormal returns negatif sedangkan pengumuman laba yang lebih cepat menyebabkan hal
yang sebaliknya. Keterlambatan pelaporan, secara tidak langsung juga diartikan oleh
investor sebagai sinyal yang buruk bagi perusahaan.
        Perbedaan waktu antara tanggal laporan keuangan dengan tanggal opini audit
dalam laporan keuangan mengindikasikan tentang lamanya waktu penyelesaian audit yang
dilakukan oleh auditor. Perbedaan waktu ini dalam audit sering dinamai dengan audit
delay. Semakin panjang audit delay maka semakin lama auditor dalam menyelesaikan
pekerjaan auditnya. Penelitian ini akan menginvestigasi tentang faktor-faktor yang
menjadi penyebab panjang-pendeknya audit delay.
        Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya yang telah
dilakukan oleh Carslaw dan Kaplan (1991), Courtis (1976), Dyer dan McHugh (1975),
Halim (2000), Givoly (1982), dan Na’im (1999). Penelitian ini dilakukan dengan obyek
laporan keuangan auditan terjadi di Indonesia pada masa krisis ekonomi. Variabel yang
digunakan dalam penelitian ini mengacu pada sebelumnya dengan tambahan variabel jenis
industri manufaktur dan finansial. Penggunaan variabel jenis industri untuk penelitian
dengan topik audit delay masih belum banyak digunakan di Indonesia.

II Telaah Teori dan Perumusan Hipotesis
       Ketepatan waktu penerbitan laporan keuangan auditan merupakan hal yang sangat
penting khususnya untuk perusahaan-perusahaan publik yang menggunakan pasar modal
sebagai salah satu sumber pendanaan. Namun auditor memerlukan waktu yang cukup
untuk dapat mengumpulkan bukti-bukti kompeten yang dapat mendukung opininya.
Lamanya waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku hingga
tanggal ditandatanganinya laporan audit (tanggal opini) ini kemudian didefinisikan sebagai
audit delay (Halim, 2000).
       Beberapa faktor yang diperkirakan mempengaruhi audit delay telah dikaji dalam
beberapa penelitian sebelumnya. Faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Ukuran Perusahaan




Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                          SNA 7 | Shared at Ekydakka.com


        Penelitian-penelitian yang telah dilakukan seperti penelitian Courtis (1976),
Gilling (1977), Ashton dan Elliot (1987) menunjukkan bahwa faktor ukuran perusahaan
dengan indikator total aktiva memiliki pengaruh yang besar terhadap audit delay.
Pengaruh ini ditunjukkan dengan semakin besar nilai aktiva perusahaan maka semakin
pendek audit delay dan sebaliknya. Perusahaan besar diduga akan menyelesaikan proses
auditnya lebih cepat dibandingkan perusahaan kecil. Hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor yaitu manajemen perusahaan yang berskala besar cenderung diberikan insentif
untuk mengurangi audit delay dikarenakan perusahaan-perusahaan tersebut dimonitor
secara ketat oleh investor, pengawas permodalan dan pemerintah. Pihak-pihak ini sangat
berkepentingan terhadap informasi yang termuat dalam laporan keuangan. Oleh karena itu,
perusahaan-perusahaan berskala besar cenderung menghadapi tekanan eksternal yang
lebih tinggi untuk mengumumkan audit lebih awal (Dyer dan McHugh, 1975). Di samping
itu perusahaan besar pada umumnya telah memiliki sistem pengendalian internal yang
lebih baik sehingga memudahkan auditor menyelesaikan pekerjaannya.
2. Jenis Perusahaan
        Courtis (1976), Ashton dan Elliot (1987) menemukan bahwa jenis perusahan
finansial mengalami audit delay yang lebih pendek dibandingkan dengan perusahaan-
perusahaan dalam jenis industri lain. Hal ini dikarenakan perusahaan-perusahaan finansial
tidak memiliki saldo perusahaan yang cukup signifikan sehingga audit yang dilakukan
cenderung tidak membutuhkan waktu yang lama. Selain itu kebanyakan asset yang
dimiliki adalah berbentuk nilai moneter sehingga lebih mudah diukur bila dibandingkan
dengan asset yang berbentuk fisik seperti persediaan, aktiva tetap dan aktiva tidak
berwujud (Anthony dan Govindarajan, 1995).
3. Opini
        Hasil penelitian Whittred (1980) membuktikan bahwa audit delay yang lebih
panjang dialami oleh perusahaan yang menerima pendapat qualified opinion. Hal ini
terjadi karena proses pemberian pendapat qualified tersebut melibatkan negoisasi dengan
klien, konsultasi dengan partner audit yang lebih senior atau staf teknis dan perluasan
lingkup audit. Namun penelitian Na’im (1998) di Indonesia menunjukkan bahwa opini
yang dikeluarkan oleh auditor tidak berpengaruh terhadap ketidaktepatan pelaporan
keuangan.
4. Tingkat Profitabilitas
        Faktor lain yang diperkirakan berpengaruh adalah perusahaan yang
mengumumkan rugi atau tingkat profitabilitas yang rendah. Ini berkaitan dengan akibat
yang dapat ditimbulkan oleh pasar terhadap pengumuman rugi tersebut bagi perusahaan.
Penelitian Na’im (1998) juga menunjukkan bahwa tingkat profitabilitas yang lebih rendah
memacu kemunduran publikasi laporan keuangan. Ada beberapa alasan yang mendorong
terjadinya kemuduran laporan publikasi yaitu: pelaporan laba atau rugi sebagai indikator
good news atau bad news atas kinerja manajerial perusahaan dalam setahun (Ashton dan
and Elliot, 1987). Berdasarkan penelitian Carslaw and Kaplan (1991) perusahaan yang
melaporkan kerugian mungkin akan meminta auditor untuk mengatur waktu auditnya
lebih lama dibandingkan biasanya. Sebaliknya jika perusahaan melaporkan laba yang
tinggi maka perusahaan berharap laporan keuangan auditan dapat diselesaikan secepatnya,
sehingga good news tersebut segera dapat disampaikan kepada para investor dan pihak-
pihak yang berkepentingan lainnya.
5. Auditor
        Faktor auditor (ukuran KAP) yang mengaudit juga diperkirakan akan berpengaruh
terhadap audit delay. Imam (2001) melakukan penelitian tentang audit delay di



Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                            SNA 7 | Shared at Ekydakka.com


Bangladesh membagi auditor (ukuran KAP) manjadi KAP lokal-besar dan KAP lokal-
kecil berdasarkan:
a. Jumlah partner
b. Kualifikasi dari patner
c.Adanya ikatan/ hubungan dengan KAP yang memiliki reputasi internasional
Penelitian Gilling (1977) menunjukkan bahwa kantor akuntan publik internasional atau
yang lebih dikenal di Indonesia sebagai The Big Six membutuhkan waktu yang lebih
singkat dalam menyelesaikan audit, karena KAP tersebut dianggap dapat melaksanakan
audit secara lebih efisien dan memiliki tingkat fleksibilitas jadwal waktu yang lebih tinggi
untuk menyelesaikan audit tepat pada waktunya. Di samping itu KAP besar memperoleh
insentif yang lebih tinggi untuk menyelesaikan pekerjaan auditnya lebih cepat
dibandingkan KAP lainnya. Waktu audit yang lebih cepat juga merupakan cara KAP besar
untuk mempertahankan reputasi mereka. Jika tidak maka untuk tahun yang akan datang
mereka akan kehilangan kliennya. KAP yang besar biasanya juga didukung oleh kualitas
dan kuantitas sumber daya manusia yang lebih baik sehingga akan berpengaruh pada
kualitas jasa yang dihasilkan (Hossain, 1998).
        Hasil penelitian Courtis (1976) menunjukkan bahwa variabel yang paling
signifikan pengaruhnya terhadap audit delay adalah tingkat profitabilitas perusahaan. Jika
perusahaan menghasilkan tingkat profitabilitas yang lebih tinggi maka audit delay akan
lebih pendek dibandingkan perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang lebih rendah.
Perusahaan tambang dan eksplorasi lebih lambat pelaporannya daripada kelompok industri
tertentu. Sedangkan ukuran perusahaan (total aktiva), umur perusahaan, jumlah pemegang
saham dan jumlah halaman pelaporan tidak mempunyai pengaruh yang signifikan
terhadap audit delay. Rata-rata audit delay untuk perusahaan-perusahaan publik di New
Zealand adalah 83 hari
        Givoly and Palmon (1982) melakukan penelitian terhadap lima aspek yang
mempengaruhi ketepatan waktu pelaporan keuangan yang meliputi trend keterlambatan
laporan keuangan, bentuk pengumuman dalam industri, hubungan antara keterlambatan
pelaporan dengan isi laporan, hubungan antara keterlambatan dengan atribut perusahaan
dan hubungan antara ketepatan waktu pelaporan dengan informasi yang terkandung dalam
laporan keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keterlambatan yang
terjadi antara 41 hingga 63 hari. Tepat waktu dikaitkan dengan isi laporan adalah
kelambatan penerbitan laporan keuangan dikaitkan dengan berita baik (good news) dan
berita buruk (bad news). Berita baik dan buruk erat kaitannya dengan tingkat profitabilitas
perusahaan. Perusahaan yang tingkat labanya tinggi akan menerbitkan laporan keuangan
lebih cepat daripada perusahan yang tingkat profitabilitasnya rendah.
        Tepat waktu yang dikaitkan dengan atribut perusahaan, variabel bebas yang
dipakai adalah ukuran perusahaan, kualitas sistem pengendalian intern dan kompleksitas
operasi. Kompleksitas operasi diukur dengan perkembangan penjualan dan proporsi
persediaan terhadap aktiva. Tepat waktu dihubungkan dengan informasi yang terkandung
dalam laporan keuangan khususnya dikaitkan dengan reaksi pasar terhadap diterbitkannya
laporan keuangan dengan melihat harga saham sebelum dan sesudah diterbitkannya
laporan keuangan. Perusahaan yang menyampaikan laporan keuangannya terlambat lebih
sedikit informasi yang dikandungnya daripada perusahaan yang menyampaikan laporan
keuangannya lebih awal.
        Ashton dan Elliot (1987) meneliti hubungan antara audit delay dengan beberapa
variabel independen yang terdiri dari total pendapatan, kompleksitas perusahaan, jenis
industri, status perusahaan publik atau non publik, bulan penutupan tahun buku, kualitas



Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                           SNA 7 | Shared at Ekydakka.com


sistem pengendalian internal, kompleksitas operasional, kompleksitas keuangan,
kompleksitas pelaporan keuangan, EDP, campuran relatif antara waktu pemeriksaan pada
interim dan akhir tahun, lamanya perusahaan menjadi klien kantor akuntan publik,
besarnya laba atau rugi, tingkat profitabilitas dan jenis opini. Hasilnya menunjukkan
bahwa rata-rata interval waktu antara tanggal penutupan, tahun buku dan tanggal laporan
audit adalah 62,5 hari dengan variabel-variabel yang signifikan berpengaruh
memperpanjang audit delay adalah jenis opini qualified, jenis perusahaan industri
dibandingkan perusahaan finansial, status perusahaan bukan publik, bulan penutupan
tahun buku selain bulan Desember, SPI EDP yang lemah dan pekerjaan pemeriksaan
relatif lebih banyak dilakukan setelah berakhirnya penutupan tahun buku.
         Carslaw dan Kaplan (1991) melakukan penelitian mengenai audit delay pada
perusahaan-perusahaan publik di New Zealand. Variabel yang digunakan adalah ukuran
perusahaan, jeni industri (finansial dan non finansial), melaporkan laba atau rugi, adanya
extraordinary item, jenis opini akuntan publik, auditor, tahun buku perusahaan,
kepemilikan perusahaan dan proporsi hutang terhadap total asset. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa variabel yang signifikan berpengaruh adalah ukuran perusahaan
(total asset) dan perusahaan melaporkan kerugian. Sedangkan rata-rata audit delay di New
Zealand pada tahun 1987, 88 hari dan tahun 1988 sebesar 95 hari.
         Hossain (1998) melakukan penelitian pada perusahaan-perusahaan publik di
Pakistan, dengan menggunakan sampel 103 perusahaan yang terdaftar di Karachi Stock
Exchange pada tahun 1993. Variabel independen yang digunakan adalah ukuran
perusahaan (total asset), debt equity ratio, perusahaan melaporkan laba/ rugi, adanya
cabang perusahaan untuk perusahaan mulltinasional, dan auditor. Dari hasil uji korelasi
antar variabel independen menunjukkan adanya korelasi yang tinggi antara variabel
cabang dalam perusahaan multinasional dan auditor dibandingkan korelasi variabel-
variabel perusahaan lainnya. Sedangkan rata-rata audit delay-nya adalah 4,77 bulan.
         Halim (2000) melakukan penelitian tentang audit delay di Indonesia dengan
menggunakan sampel 287 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tahun
1997. Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini antara lain total revenue,
jenis industri, bulan penutupan buku tahunan, lamanya menjadi klien KAP, rugi/laba
operasi, tingkat profitabilitas, jenis opini. Dari hasil penelitian univariate diperoleh
indikasi bahwa audit delay cenderung panjang apabila perusahaan menggunakan tahun
buku 31 Desember, perusahaan telah lama menjadi klien KAP tertentu dan melaporkan
kerugian. Hasil penelitian multivariate menunjukkkan bahwa ketujuh faktor tersebut
secara serentak sangat berpengaruh terhadap audit delay, namun yang konsisten
berpengaruh terhadap audit delay adalah tahun buku dan pelaporan kerugian. Rata-rata
audit delay pada perusahaan-perusahaan publik di BEJ adalah 84,5 hari.
    Hanipah (2001) melakukan penelitan tentang rata-rata audit delay pda perusahaan
manufaktur yang terdaftar di BEJ pada tahun 1999. Variabel yang digunakan antara lain
ukuran perusahaan, jenis pendapat akuntan publik, tingkat profitabilitas, pelaporan laba/
rugi, dan auditor. Hasil penelitian menunjukkan waktu penyelesaian audit yang diukur
dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal ditandatanganinya laporan audit
untuk perusahaan manufaktur di BEJ adalah sebesar 89,96 hari. Waktu penyelesaian audit
cenderung panjang apabila ukuran perusahaan menjadi semakin besar, mendapatkan opini
unqualified opinion, tingkat profitabilitas yang rendah dan dan mengalami kerugian
Ha: Profitabilitas perusahaan, ukuran perusahaan, jenis industri, opini audittor, dan
       ukuran auditor berpengaruh signifikan terhadap audit delay.




Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                                SNA 7 | Shared at Ekydakka.com



III METODA PENELITIAN
3.1. Populasi dan Sampel
       Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEJ
pada tahun 2001. Sampel dipilih dengan metoda purposive sampling dengan menggunakan
kriteria sebagai berikut:
1. Perusahaan-perusahaan tersebut mulai terdaftar pada Bursa Efek Jakarta tahun 2001
    atau sebelumnya.
2. Perusahaan tersebut telah menerbitkan laporan keuangannya untuk periode yang
    berakhir 31 Desember.
3. Perusahaan tersebut masuk dalam kategori perusahaan manufaktur dan finansial.
4. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki total asset lebih dari 500 miliar rupiah.
5. Saham perusahaan-perusahaan tersebut aktif diperdagangkan di Bursa Efek Jakarta.
Alasan pemilihan sampel dengan kriteria tersebut bertujuan untuk menghindari bias yang
disebabkan oleh adanya perbedaan yang ekstrim. Berdasarkan kriteria ini maka
perusahaan yang terpilih sebagai sampel adalah 72 perusahaan dengan perincian 55
perusahaan manufaktur dan 17 perusahaan.
                           Tabel 1 Hasil Seleksi Sampel Penelitian
    ---------------------------------------------------------------------------------------------
    Jumlah perusahaan publik di BEJ tahun 2001                              323 perusahaan
    Jumlah perusahaan bukan jenis industri dan finansial                   (210)
    Jumlah perusahaan dengan total aktiva di bawah 500 M                    ( 27)
    Perusahaan yang sahamnya tidak aktif diperdagangkan                    ( 12)
    Perusahaan yang laporan keuangannya tidak 31 Desember ( 2)
                                                                             -------------------
    Jumlah Sampel Penelitian                                                  72 perusahaan
    ---------------------------------------------------------------------------------------------
3.2 Data dan Sumber Data
         Penelitian ini menggunakan sumber data sekunder berupa laporan keuangan dan
laporan auditor independen masing-masing perusahaan publik yang tersedia di Pojok BEJ-
UNIBRAW, dan akses internet melalui www.jsx.co.id.

3.3 Pengukuran Variabel Penelitian
3.3.1 Variabel Dependen (Y)
        Variabel dependen dalam penelitian ini adalah audit delay yaitu jangka waktu
antara tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal opini pada laporan auditor
independen. Variabel ini diukur secara kuantitatif dalam jumlah hari.
3.3.2 Variabel Independen (X)
        Variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Tingkat Profitabilitas (X1), tingkat profitabilitas diukur dari net income dibagi dengan
    total asset. Perusahaan yang tingkat profitabilitasnya tinggi diduga waktu yang
    diperlukan untuk menyelesaian audit akan lebih pendek.
   Profitabilitas = Net Income X 100%
                 Total Asset

2.   Ukuran Perusahaan (X2), ukuran perusahaan dinyatakan dalam total asset yang
     dimiliki perusahaan. Ukuran telah digunakan oleh Courtis (1976); Gilling (1977);
     Ashton dan Elliot (1987); Charslaw dan Kaplan (1991); Hossain (1998).




Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                           SNA 7 | Shared at Ekydakka.com


3. Jenis Industri Perusahaan (X3), variabel jenis industri perusahaan merupakan variabel
   dummy yang terbagi menjadi dua kelompok yaitu jenis industri manufaktur dan jenis
   industri finansial. Untuk perusahaan yang masuk kategori manufaktur diberi kode
   dummy 1, dan sebaliknya jika perusahaan masuk kategori non manufaktur diberi kode
   dummy 0.
4. Jenis Pendapat Akuntan Publik (X4), ada dua jenis pendapat akuntan publik yaitu
   qualified opinion dan unqualified opinion. Untuk jenis pendapat qualified opinion
   diberi kode dummy 1 dan pendapat unqualified opinion diberi kode dummy 0.
5. Ukuran Auditor-Kantor Akuntan Publik/ KAP (X5), KAP diklasifikasikan menjadi
   dua yaitu KAP The Big Five diberi kode 1 dan lainnya diberi kode 0. Diduga KAP
   besar akan lebih pendek waktu penyelesaian auditnya.

3.4 Pengujian Hipotesis
        Hipotesis penelitian akan diuji dengan analisis regresi. Model regresi dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
        Y =  0  1x1   2 x2   3x3   4 x4   5x5  e

Keterangan:
Y=      lamanya waktu penyelesaian audit (AUDIT DELAY)
 x1 = tingkat profitabilitas (net income/ total asset)
 x2 = total aktiva (AKTIVA)
 x3 = jenis industri (INDUS)
 x4 = jenis pendapat akuntan publik (OPINI)
 x5 = auditor (ukuran KAP)
 0 = konstanta
e=     kesalahan

3.5 Pengujian Asumsi Klasik
       Asumsi klasik yang akan diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Normalitas
       Distribusi normal merupakan distribusi teoritis dari variabel random yang kontinyu.
Kurva yang menggambarkan distribusi normal adalah kurva normal yang berbentuk
simetris. Untuk menguji apakah sampel penelitian merupakan jenis distribusi normal maka
digunakan pengujian Kolmogorov-Smirnov Goodness of Fit Test terhadap masing-masing
variabel. Jika probabilitas > 0,05 maka data berdistribusi normal. Sebaliknya, jika
probabilitas < 0,05 maka data tidak berdistribusi normal.
2. Uji Multikolinearitas
        Metode yang digunakan untuk mendeteksi adanya multikolinearitas, dalam
penelitian ini dengan menggunakan tolerance and value inflation factor atau VIF
(Aliman, 2000: 57). Jika VIF lebih besar dari 5, maka variabel tersebut mempunyai
persoalan multikolinearitas dengan variabel bebas yang lainnya.
3. Uji Autokorelasi.
                Untuk dapat mendeteksi adanya autokorelasi akan digunakan metoda
pengujian Durbin Watson. Model regresi tidak mengandung masalah autokorelasi jika
kriteria du  d  4-du ini dipenuhi
4. Uji Heteroskedastisitas.



Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                            SNA 7 | Shared at Ekydakka.com


        Pengujian adanya heterokedastisitas dilakukan dengan menggunakan uji Korelasi
Rank Spearman antara variabel independen dengan besarnya angka residual (kesalahan)
dari regresi. Jika nilai t-hitung atau korelasi tidak signifikan maka regresi tidak
menggandung gejala heterokedastisitas. Sebaliknya, jika korelasi atau t-hitung adalah
signifikan maka regresi mengandung heterokedastisitas.

IV Hasil Analisis dan Pembahasan
4.1 Statistik Deskriptif
        Statistik deskriptif dari variabel penelitian disajikan pada tabel 2. Tabel 2
menunjukkan bahwa rata-rata audit delay yang terjadi di Indonesia pada tahun 2001
adalah 98,38 hari. Rata-rata audit delay ini lebih panjang jika dibandingkan penelitian-
penelitian sebelumnya di Indonesia. Penelitian yang dilakukan oleh Ekowati (1996)
menunjukkan bahwa rata-rata audit delay pada tahun 1993 sebanyak 72 hari dan tahun
1994 sebanyak 78 hari. Sedangkan dalam penelitian Halim rata-rata audit delay yang
terjadi 84,45 hari (tahun 1997) dan penelitian Hanipah ( tahun 1999) rata-rata audit delay
89,96 hari. Peningkatan waktu audit delay dari tahun ke tahun ini mungkin disebabkan
karena adanya peningkatan jumlah perusahaan yang diaudit oleh auditor sejalan dengan
kenaikan jumlah perusahaan yang go public di Bursa Efek Jakarta dari tahun ke tahun.
Kenaikan jumlah perusahaan yang diaudit dapat menyebabkan proses pengauditan
memerlukan waktu yang lebih lama, karena auditor tidak hanya memeriksa satu
perusahaan saja, melainkan beberapa perusahaan sekaligus.
                                          Tabel 2
                                    Statistik Deskriptif
                       Variabel               Mean        Standar Deviasi
                AUDELAY                       98,38            32,16
                INDUS                          Na*              Na*
                OPINI                          Na*              Na*
                AUDITOR                        Na*              Na*
                PROFIT                       1,0093           11,8620
                AKTIVA *                    9,1E + 12       2,065E + 13
           *Variabel Dummy

        Rata-rata total aktiva untuk 72 sampel perusahaan publik yang diteliti adalah 9,1
trilyun Rupiah. Standar deviasi untuk total aktiva adalah 20,6 trilyun. Kenaikan total
aktiva ini dapat disebabkan oleh kenaikan laba yang ditahan, penambahan hutang, atau
pengeluaran saham baru melalui penawaran terbatas dan akuisisi. Untuk tingkat
profitabilitas rata-rata perusahaan sampel adalah 1,03 %. Tingkat profitabilitas ini relatif
kecil karena sepanjang tahun 2001 ada 25 perusahaan (34,72%) yang melaporkan
menderita kerugian. Di samping itu ada kemungkinan tingkat profitabilitas yang kecil ini
disebabkan aktiva yang terlalu besar, juga komposisi hutang yang besar sehingga biaya
bunga yang harus dibayar tinggi sehingga akan mengurangi jumlah laba yang diperoleh
perusahaan.
        Dari 72 sampel yang digunakan dalam penelitian ini, 76,4% bergerak di bidang
manufaktur dan sisanya (23,6%) bergerak di bidang jasa keuangan/ finansial. Perusahaan
yang mendapatkan opini wajar tanpa pengecualian (WTP) sebesar 88,9%, sisanya (11,1%)
memperoleh opini selain wajar tanpa pengecualian. Perusahaan yang diperiksa oleh
akuntan publik yang memiliki ikatan hubungan internasional atau yang lebih dikenal
sebagai the big five sebesar 79,2% dan sisanya (20,8%) diperiksa oleh non the big five.



Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                            SNA 7 | Shared at Ekydakka.com




4.2. Hasil Pengujian Hipotesis
      Hasil pengujian hipotesis dengan regresi disajikan pada tabel 3 berikut ini.
           Tabel 3 Hasil Pengujian Hipotesis dengan Analisis Regresi Berganda

               Koefisien                          F-value    Sign. F    R-Square
 Keterangan                  t-value    Sign. T
                  Beta
 Konstanta      179,511       6,580*     0,000 13,496        0,000     0,506
 Profit          -1,207     -5,041**     0,000
 Aktiva          -4,747      -2,357*     0,021
 Indus          -14,231      -2,034*     0,046
 Opini           21,034       2,127*     0,037
 Auditor        -15,606      -2,077*     0,042
** signifikan pada level 0,001 *signifikan pada level 5%

        Dari hasil uji F dapat diketahui bahwa nilai F-hitung yang dihasilkan adalah 13,496
dengan probabilitas sebesar 0,000. Dengan hasil maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis
didukung dalam penelitian. Ini berarti bahwa variabel dependen audit delay dipengaruhi
oleh kelima variabel independen yaitu profitabilitas perusahaan, aktiva perusahaan, sektor
industri, opini audit, dan ukuran auditor atau Kantor Akuntan Publik. Hasil ini konsisten
dengan penelitian sebelumnya seperti Halim (2000), Na’im (1999), Hanipah (2001).

4.3 Hasil Uji Asumsi Klasik
       Hasil uji normalitas dengan metode Kolmogorov Smirnov diperoleh nilai chi
square sebesar 0,102 dengan probabilitas 0,058 (lebih besar dari 0,05). Karena
probabilitas yang dihasilkan lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data
tersebut berdistribusi normal. Untuk mendeteksi adanya multikolinearitas, penelitian ini
menggunakan nilai VIF. Hasil uji multikolinearitas disajikan pada tabel 4 berikut ini.
                           Tabel 4 Hasil Uji Multikolinearitas

              Variabel Bebas           VIF                Keterangan
                  Profit              1,137           Non Multikolinearitas
                  Aktiva              1,094           Non Multikolinearitas
                  Indus               1,111           Non Multikolinearitas
                  Opini               1,216           Non Multikolinearitas
                 Auditor              1,171           Non Multikolinearitas

        Asumsi autokorelasi diuji dengan menggunakan uji Durbin Watson (DW).
Besarnya DW dibandingkan dengan nilai dU dan dL pada tabel Durbin Watson. Nilai DW
yang diperoleh dari hasil uji non autokorelasi sebesar 2,072. Sedangkan dari tabel Durbin
Watson, diperoleh nilai dL = 1,4732 dan nilai dU = 1,7688. Maka nilai DW yang
diperoleh terletak diantara dU <DW<(4 dU) atau 1,7688 < 2,072 < 2,2312. Hasil
pengujian menunjukkan bahwa model regresi tidak terjadi autokorelasi.
        Uji non herekedastisitas yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan
uji korelasi Rank Spearman. Hasil uji heterkedastisitas disajikan pada tabel 5 berikut ini.
Tabel 5 tersebut menyimpulkan bahwa data penelitian yang digunakan dalam analisis
regresi tidak mengandung masalah heteroskedastisitas.
                           Tabel 5 Hasil Uji Heteroskedastisitas



Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                           SNA 7 | Shared at Ekydakka.com



 Variabel bebas    Koefisien korelasi (r)   Probabilitas (p)     Keterangan
     Profit                 -0,212              0,073          Homoskedastisitas
    Aktiva                   0,137              0,251          Homoskedastisitas
     Indus                  -0,168              0,159          Homoskedastisitas
     Opini                   0,228              0,055          Homoskedastisitas
    Auditor                 -0,175              0,141          Homoskedastisitas



V Simpulan, Keterbatasan, dan Saran
5.1 Simpulan
        Hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa kelima variabel tingkat
profitabilitas, aktiva, jenis industri, opini dan auditor (ukuran KAP) berpengaruh
signifikan terhadap variabel audit delay. Hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya
telah dilakukan oleh Halim (2000), Na’im (1999), Hanipah (2001). Ini artinya bahwa
pelaksanaan audit oleh KAP di Indonesia tidak terpengaruh kondisi krisis ekonomi.
Pelaksanaan audit di Indonesia terhadap perusahaan publik terkait dengan peraturan
BAPEPAM tentang batas akhir publikasi dan penyampaian laporan keuangan auditan oleh
perusahaan pada publik, Bursa Efek Jakarta maupun pada BAPEPAM.

5.2 Keterbatasan dan Saran
        Terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Pertama, penelitian ini hanya
menggunakan 5 variabel saja dalam menguji audit delay. Beberapa faktor lain yang
mungkin memiliki pengaruh terhadap audit delay seperti faktor perusahaan publik dan non
publik, faktor luas audit yang dilakukan, faktor lamanya menjadi klien KAP yang
bersangkutan tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Kedua, penelitian ini hanya
menggunakan data sekunder, data-data primer yang tidak dipublikasikan seperti luas audit
yang dilakukan, tingkat pengendalian internal klien, kompleksitas EDP, risiko audit, yang
tidak dimasukkan dalam penelitian. Untuk penelitian berikutnya, sebaiknya menambah
variabel yang berasal dari dari primer yang tidak digunakan dalam penelitian ini. tingkat
pengendalian internal perusahaan, kategori perusahaan publik atau non publik, tingkat
kompleksitas EDP, faktor resiko audit.
        Ketiga, waktu penelitian juga terbatas hanya 1 tahun, menyebabkan penelitian ini
tidak dapat melihat trend/kecenderungan terjadinya audit delay sepanjang tahun. Hasil
trend/ kecenderungan audit delay ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk menentukan
apakah dari tahun ke tahun audit delay yang terjadi semakin meningkat jumlah harinya
atau justru laporan auditor independen yang dihasilkan semakin tepat waktu. Sebaiknya,
penelitian berikutnya juga menggunakan periode waktu yang lebih panjang.
        Kepada auditor, disarankan untuk merencanakan pekerjaan lapangan dengan
sebaik-baiknya sehingga pekerjaan dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Mengingat
jumlah klien yang diaudit dari tahun ke tahun semakin meningkat, maka auditor harus
merencanakan dengan seksama agar laporan keuangan auditan yang dihasilkan tepat
waktu. Untuk itu auditor dapat memulai pekerjaan lapangan sebelum tahun buku berakhir,
mengingat penunjukan auditor untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan publik
sudah dilakukan oleh manajemen sebelum tanggal penutupan buku, yaitu pada saat rapat
umum pemegang saham.
        Kepada perusahaan publik, disarankan untuk memberikan keleluasaan kepada
auditor untuk melakukan pekerjaan lapangan sebelum tanggal penutupan buku.



Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                         SNA 7 | Shared at Ekydakka.com


Perusahaan diharapkan dapat membantu pekerjaan auditor, dengan memberikan data-data
yang diperlukan selama proses pemeriksaan, memberikan jawaban-jawaban yang benar
dan wajar atas pertanyaan yang diajukan oleh auditor sehingga laporan keuangan auditan
dapat diterbitkan lebih awal.

                              DAFTAR PUSTAKA
Aliman, 2000, Modul Ekonometrika Terapan, PAU Studi Ekonomi UGM, Yogyakarta.
Anthony, R.N, and V. Govindarajan, 1995, Management Control Systems, Eight Edition,
      Irwin, Chicago.

Ashton R.H, and Willingham Elliot, 1987, An Empirical Analysis of Audit Delay,
      Journal of Accounting Research (Autumn), p. 275-292.

Carslaw, C. A. P. N., and S.E. Kaplan, 1991, An Examination of Audit Delay: Further
       Evidence from New Zealand, Accounting and Bussines Research (Winter), p. 21-
       32.

Chambers, A. E, and S. H. Penman, 1984, Timeliness of Reporting and The Stock Price
     Reaction to Earning Announcement, Journal of Accounting Research (Spring), p.
     21-47.

Courtis, J. K, 1976, Relationship Between Timeliness in Corporate Reporting and
       Corporate Atributes, Accounting and Bussiness Research (Winter), p. 45-56.

Dyer, J. D., and A. J. McHugh, 1975, The Timeliness of The Australian Reports, Journal
       of Accounting Research (Autumn), p. 204-219.

Ekowati, Wiwik Hidajah, 1996, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kelambatan
      Penerbitan Laporan Keuangan, Thesis, Program Pasca Sarjana, Universitas
      Gadjah Mada, Yogyakarta.

Gilling, D.M., 1977, Timeliness in Corporate Reporting : Some Further Comment,
        Accounting and Bussiness Research (Winter), p. 34-36.

Givoly, D, dan D. Palmon, 1982, Timeliness of Annual Earnings Announcement: Some
       Empirical Evidence, The Accounting Review (July), p. 486-508.

Halim, Varianada, 2000, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Audit Delay, Jurnal Bisnis
       dan Akuntansi, Vol. 2 No. 1, p. 63-75.

Hanipah, 2001, Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Lamanya Penyelesaian Audit
      (Studi Empiris pada Perusahaan-Perusahaan Manufaktur di BEJ), Skripsi,
      Universitas Brawijaya, Malang.

Hossain, Monirul Alam, 1998, An Examination of Audit Delay: Evidence from Pakistan,
       Diakses pada tanggal 16 Agustus 2003, www3.bus.osaka-cu.ap




Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                         SNA 7 | Shared at Ekydakka.com


IAI-Kompartemen Akuntan Publik, 2001, Standar Profesional Akuntan Publik, PT
      Salemba Empat, Jakarta.

Imam, Shahed, 2001, Association of Audit Delay and Audit Firms’ International Links:
      Evidence from Bangladesh, Managerial Auditing Journal 16/3, p. 129-133.

Na’im, Ainun, 1999, Nilai Informasi Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan:
       Analisis Empirik Regulasi Informasi di Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Bisnis
       Indonesia, Vol. 14, No. 2, hal. 85-100.

Whittred, G. P, 1980, Audit Qualification and The Timeliness of Corporate Annual
       Reports, The Accounting Review (October), p. 563-577.

Lampiran 1 Nama Kantor Akuntan Publik dan Jumlah Perusahaan yang Diaudit
           Tahun 2001

                                            Jumlah
 No.    Nama Kantor Akuntan Publik                         Bentuk Kepemilikan
                                          Perusahaan
 1.    Prasetio Utomo & Co                    26          The Big Five
 2.    HTM                                    22          The Big Five
 3.    Aryanto, Agus Mulyo                     1          Non The Big Five
 4.    Kusbandijah, Beddy Samsi                1          Non The Big Five
 5.    Hadi Sutanto                            5          The Big Five
 6.    Siddharta Siddharta, Harsono            4          The Big Five
 7.    RB. Tanubrata                           1          Non The Big Five
 8.    Edi Pianto                              2          Non The Big Five
 9.    Adi Wirawan                             1          Non The Big Five
 10.   Kanto S.,Tony & Co                      1          Non The Big Five
 11.   Razmal Muin                             1          Non The Big Five
 12.   Hariawan Pribadi                        1          Non Th Big Five
 13.   Trisno, Thomas Iguana                   1          Non The Big Five
 14.   VJH Boentaran Lesmana                   2          Non The Big Five
 15.   Robert Yogi                             1          Non The Big Five
 16.   Hanadi, Sarwoko                         1          The Big Five
 17.   Ronny, Wijata Dharma                    1          Non The Big Five
                                Total         72

       Lampiran 2 Jumlah Perusahaan yang Melaporkan Laba atau Rugi
         No               Laba/Rugi               Jumlah        Persentase
         1.    Perusahaan yang melaporkan laba       47            65,27
         2.    Perusahaan yang melaporkan rugi       25            34,73
                                          Total      72             100

Lampiran 3 Jumlah Perusahaan Menurut Opini yang Dihasilkan
 No.              Opini yang Dihasilkan               Jumlah         Persentase
       Perusahaan dengan opini wajar tanpa              64             88,88
  1.
       pengecualian



Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET
                                                         SNA 7 | Shared at Ekydakka.com



        Perusahaan dengan opini selain wajar tanpa            8       11,12
  2.
        pengecualian
                                             Total            72       100




Advertisement : Jasa Pembuatan Blog Wordpress => IndoWP.NET

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2363
posted:5/24/2011
language:Indonesian
pages:14
Description: FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP AUDIT DELAY DI INDONESIA | Simposium Nasional Akuntansi VII (SNA 7) = EKYDAKKA.COM