Docstoc

Konsep Dasar Ipa (Cara mengajar dikelas tinggi)

Document Sample
Konsep Dasar Ipa (Cara mengajar dikelas tinggi) Powered By Docstoc
					CARA MENGAJAR DI KELAS TINGGI


       Dalam proses belajar mengajar guru dan siswa sangat berperan dalam mencapai

Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan. Guru memegang peran yang dominan dalam proses

belajar mengajar, sebab gurulah yang membudayakan atau mentransferkan ilmu pengetahuan

kepada siswa. Aktifitas siswa di sekolah dasar juga berperan sangat penting pula untuk mencapai

keberhasilan pendidikannya. Keaktifan belajar dapat mengaktifkan fungsi interaksi siswa dengan

tugas sehari-hari untuk belajar. Guru sebagai pendidik berperan penting dalam menentukan

kualitas dan kuantitas pengajaran yang dilaksanakannya. Pengelolaan proses belajar mengajar

yang kondusif bagi perkembangan siswa atau peserta didik perlu dilaksanakan sebaik-baiknya.

(Soediyanto, 1993: 82). Perencanaan pengajaran dalam pembelajaran yang dilaksanakan dengan

baik dan sungguh-sungguh dapat memberikan kesempatan kepada siswanya untuk meningkatkan

kualitas hasil belajarnya dan juga dapat meningkatkan kualitas mengajarnya.


b. Motivasi belajar


       Motivasi adalah dorongan dalam diri seseorang yang kuat untuk mencapai tujuan.

Motivasi berkaitan erat dengan kajian yang intensif (Zainal Aqib 2002 : 50). Motivasi adalah

keseluruhan penggerak psikis di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar dan

memberikan arah kegiatan belajar demi tercapainya tujuan (Winskel dalam Abdul Ratman Abror,

1993 : 115) Siswa perlu diberi rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya yang berfungsi

sebagai pendorong usaha pencapaian prestasi (Sardikan AM, 1996 : 85)


Pendorong motivasi belajar adalah : Penguatan, pujian, kepuasan psikologis, penalaran

pemahaman tujuan, tugas yang dibebankan oleh diri sendiri, ganjaran/ hadiah, pembelajaran yang
bervariasi, minat khusus siswa, menghindari kecemasan, tingkat kesulitan tugas, kadar emosi,

pengaruh kelompok dan kreatifitas siswa (Zainal Aqib, 2002 : 50) Belajar merupakan proses

mental dan emosional atau aktivitas pikiran dan perasaan (Zainal Aqib, 2002:57)


       Belajar bertujuan menumbuhkembangkan dan mengumpulkan pengetahuan untuk

mengembangkan intelektualitas. Ahli pendidikan merdeka merumuskan pebuatan belajar yaitu

“Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara

bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan”. Perubahan tidak laku menurut Zainal

Aqib meliputi perubahan tidak tahu menjadi tahu, timbul pengertian baru sifat sosial dan

emosional.


       Belajar tidak sekedar merubah kemampuan intelektual, tetapi juga merubah seluruh

pribadi anak-anak jadi belajar adalah berpengaruh terhadap proses perubahan didalam diri anak /

manusia yang ditimbulkan adanya motivasi/ dorongan dari dalam diri anak sendiri, maupuan dari

luar. Motivasi pembelajaran gurulah yang berperan penting mempengaruhi hasil belajar anak

dengan metode pembelajaran yang bervariasi menyenangkan dan tidak membosankan.


Berdasarkan tujuan pendidikan ini kemandirianlah sangat penting diupayakan. Kemandirian tidak

mungkin datang dengan sendirinya, tanpa diupayakan dan diaktifkan ke dalam diri kita masing-

masing sejak dini.


       Kemandirian harus dimiliki setiap siswa tanpa diperintah dan diatur atau menunggu

perintah. Kemandirian dan keprofesionalan harus terwujud dalam setiap individu siswa.

Kemandirian perlu dibiasakan dan dilatihkan serta dioptimalkan sejak dini dengan berbagai cara.
Semua kegiatan katif ,baik dalam berfikir, pisik maupun mental dapat mengembangkan rasa

percaya diri kemandirian.


       Belajar aktif dari teori John Diewey “Learning by Doing” (1859 – 1952). Siswa harus

terlibat belajar yang spontan aktif. Belajar aktif menurut Yulaelawati (1992) dapat menghasilkan

belajar yang bermakna. Belajar aktif merupakan sistem belajar dengan pendekatan pengeloaan

melalui cara belajar siswa yang aktif menuju belajar mandiri.


       Dalam pembelajaran guru berperan sebagai fasilitator, motivator, konselor dan evaluator

yang dapat menumbuhkan kemampuan siswa aktif daya kemampuan dan kreasinya. Guru sebagai

pengelola pembelajaran di kelas harus mampu merancang, melaksanakan, kegiatan belajar yang

bermakna dan dapat mengelola sumber belajar yang diperlukan.


       Melalui aktifitas belajar aktif siswa akan mampu mengenal dan mengembangkan

kapasitas potensi belajar yang dimilikinya, sehinggadengan sadar siswa dapat memanfaatkan

sumber belajar yang ada di alam sekitarnya. Dengan belajar aktif dapat melatih siswa untuk

berprakarsa, berfikir yang sistematis, kritis dan tanggap terhadap penyelesaian permasalahan

yang dihadapinya.


       Untuk mengaktifkan siswa guru harus dapat menjabarkan program satuan pengajaran,

yang dapat mengembangkan gagasan baru dan memperjelas kondisi dan situasi lingkungan

terhadap permasalahannya. Guru harus dapat mengembangkan pengetahuan, ketrampilan,

perilaku secara utuh.


       Aktifitas siswa harus tumbuh sikap sosial, sehingga perlu adanya tugas kelompok yang

dikerjakan bersama. Kegiatan kebersanaan sangat penting bagi masyarakat untuk memahami
kehidupan    masyarakat.   Kemandirian     merupakan     kesempatan     kepada    siswa      untuk

mengembangkan potensinya yang optimal dirinya masing-masing.


a. Aktifitas Siswa


       Dalam UU Pendidikan 1994 tujuan pendidikan adalah “Mencerdaskan kehidupan bangsa

dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan

Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan, ketrampilan, sehat jasmani dan

rohani, kepribadian yang mantap, serta tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Duta

Nasindo, 1994 :1).


       Sebagai guru harus mampu menanamkan pengembangan sifat profesionalisme siswa

untuk mengaktifkan diri, walaupun ada perbedaan aktifitas kemampuan siswa yang tidak sama,

hal ini harus dideteksi oleh guru. Dengan adanya perbedaaan individual siswa dapat

menunjukkan jati dirinya yang menunjukkan kreatifitas, daya pikir yang sangat profesional.


       Di samping guru dapat mengembangkan proses belajar mengajar juga harus mampu

mengevaluasi, menganalisis serta menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan

pengayaan pembelajaran.


b. Optimalisasi Mengajarkan Pekerjaan Rumah


       Faktor perbedaaan individu-individu siswa merupakan hal yang wajar, karena setiap

individu manusia mempunyai keunikan diri yang tidak sama.


Walaupun ada perbedaan penulis peneliti berkeyakinan bahwa setiap anak dapat berkembang

atau dikembangkan cipta, rasa, dan karsanya sejak kelahirannya sampai mati. Namun penulis
juga percaya ada kelemahan yang sangat melekat padanya. Hal inilah yang perlu

ditumbuhkembangkan kemampuan minat dan motivasinya.


       Salah   satu   upaya    menumbuhkembangkan          minat   dan   motivasi   ini   melalui

mengoptimalsiasi pekerjaan rumah. Pekerjaan rumah sebagai usaha melatih kedisiplinan siswa

untuk mengatur waktu dan bertanggungjawab terhadap tugas dengan membiasakan untuk berfikir

kreatif. Agar siswa kreatif mengerjakan PR, guru atau peneliti menerapkan cara-cara aktif sebagai

berikut :


1. Menanamkan pemahaman arti pentingnya pekerjaan rumah. PR tidaklah asing di bidang

pendidikan, karena PR merupakan jilmaan dari metode tegas (resitasi). Metode tegas mempunyai

arti dan ruang lingkup yang lebih luas daripada PR. Namun metode tegas prinsipnya adalah salah

satu metode mengajar yang dapat diterapkan guru selama pembelajaran/ pendidikan berlangsung

dengan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan baik oleh individu atau kelompok.


PR mempunyai arti penting bagi siswa, dengan PR dapat mengikat dan merangsang siswa untuk

belajar karena kalau tidak mengerjakan PR takut untuk mendapatkan hukuman guru.


2. Menciptakan kondisi mengajar bagi siswa di rumah,. Tujuan pemberian tugas PR dapat

mengembangkan ketrampilan siswa dalam memecahkan masalah dengan berkomunikasi dengan

orang lain selain guru, hal ini diharapkan siswa mampu mengembangkan daya nalarnya

melakukan pertukaran pengertian pengetahuan guru dengan setara dan sebaliknya, juga antar

siswa bahkan juga antar orang tua dan anatar masyarakat.


3. Memberikan motivasi siswa untuk optimal dalam mengerjakan PR matematika, maka

ditularkan cara-cara mengoptimalisasi PR yaitu :
a. Memberikan tugas materi yang esensial dan pelajaran matematika


b. Masing-masing soal diberi langkah-langkah pengerjaannya.


c. Hasil pekerjaan dinilai dan diberi umpan balik.


d. Diberi reward atau hadiah bagi siswa yang rajin mengerjakan PR atau memberikan penguatan

pembelajaran.




                                   KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb


       Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat

rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “bagaimana cara mengajarkan IPA

di kelas tinggi”, Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Konsep Dasar IPA.

       Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga

makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh

karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan

makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk

pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.


Wassalamu’alaikum Wr. Wb




TUGAS KELOMPOK
       “KONSEP DASAR IPA”


           DISUSUN OLEH:
            SANDI MUHAMMAD
           ALBERTUS TRI MULYANTO
         ERI HERMANSYAH
        DOSEN: CARTONO M.pd, S.pd,

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
   “PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR”
    UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:347
posted:5/24/2011
language:Indonesian
pages:8