Pengolahan Limbah Kulit

Shared by: appli
Categories
-
Stats
views:
680
posted:
5/23/2011
language:
Indonesian
pages:
23
Document Sample
scope of work template
							                         BAB X
            PENGOLAHAN LIMBAH
                   INDUSTRI KULIT

10.1. Pendahuluan

     Kulit jadi adalah kulit hewan yang disamak (diawetkan) atau
kulit bebas bulu dan urat daging di bawah kulit. Pekerjaan
penyamakan kulit mempergunakan air dalam jumlah yang relatif
banyak dan beberapa jenis bahan kimia, sehingga usaha ini akan
menghasilkan limbah cair yang mengandung berbagai polutan
organik dari bahan baku dan polutan kimia dari bahan pembantu
proses. Disamping itu juga dihasilkan limbah padat berupa hasil
pembersihan daging, bulu dan gumpalan lemak. Limbah padat
juga banyak mengandung kapur, garam dan bahan kimia
pembantu dalam proses penyamakan.

    Sebagian besar industri kulit yang ada di Indonesia
merupakan industri rumah tangga dan industri kecil yang
berkembang di wilayah-wilayah tertentu, sehingga membentuk
sentra-sentra industri. Industri ini mempunyai ciri-ciri yang hampir
sama, yaitu berkembang dengan modal usaha kecil, teknik
produksi sederhana, belum mengutamakan faktor kelestarian
lingkungan, belum mampu mengolah limbah yang dihasilkan
sampai baku mutu yang berlaku, keselamatan dan kesehaan
kerja kurang mendapatkan perhatian, kegiatan riset dan
pengembangan usaha masih minim. Dengan kondisi demikian,
maka sebagian besar industri masih sangat memerlukan adanya
uluran tangan dari pemerintah untuk pengembangan usaha,
peningkatan teknik produksi untuk meningkatkan kualitas produk,
penggunaan teknik produksi yang ramah lingkungan dan usaha
pengolahan limbah guna melestarikan lingkungan.

   Salah satu sentra industri kulit yang memerlukan perhatian
khusus adalah sentra industri kecil (SIK) penyamakan kulit di
Sukaregang, Garut yang berdiri sejak 1920. SIK ini menempati

                                245
kawasan seluas  80 Ha dengan jumlah pengrajin sebanyak 330.
Kegiatan SIK ini sejak tahun 1998 mulai menurun karena krisis
ekonomi yang melanda Indonesia, sehingga para pengrajin
mengalami kesulitan untuk melakukan impor bahan baku dan
untuk pembelian bahan kimia pembantu proses produksi. Agar
SIK ini mampu bertahan dan berkembang diperlukan suatu upaya
yang terintregrasi yang bertujuan untuk menjadikan SIK unggulan
yang mampu menghasilkan kualitas kulit yang siap ekspor,
meningkatkan kesejahteraan pengrajinnya dan meningkatkan
kualitas lingkungan kawasan SIK.

     Berdasarkan hasil survei dan pengambilan sampel yang
dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) pada tanggal
4-6 Juli 2002, air sungai Ciwalen sudah tercemar limbah dan
melewati kadar maksimum baku mutu limbah cair menurut
Kepmen No. 51/1995, sedangkan tanah dan tanaman kubis di
sekitar sungai tersebut mengandung krom yang cukup tinggi.
Dikawatirkan kandungan krom tersebut dalam jangka panjang
akan membahayakan kesehatan masyarakat yang mengkonsum-
si air maupun tanaman yang tercemar di daerah tersebut. (KLH,
2002).

     Meskipun beberapa pengusaha telah membuat IPAL, namun
sampai saat ini belum ada perusahaan yang memiliki instalasi
pengolahan air limbah (IPAL) yang dapat beroperasi dengan baik.
IPAL terpadu juga telah dibangun oleh BAPEDAL dan Pemda
                                         3
dengan total kapasitas pengolahan 700 m /hari, tetapi belum ada
yang beroperasi dengan benar. Dengan berkembangnya usaha
penyamakan kulit di SIK Sukaregang jumlah perusahaan semakin
banyak. Sampai saat ini telah tercatat 330 usaha penyamakan
kulit di SIK Sukaregang, sehingga limbah yang dihasilkan juga
semakin besar. Dari data awal yang diperoleh, jumlah total limbah
cair dari SIK Sukaregang sebanyak 6.000 m3/hari, sehingga IPAL
yang telah ada tidak mampu lagi untuk mengolah limbah sampai
memenuhi baku mutu yang berlaku.

    Apabila kondisi ini dibiarkan dan dengan mulai diberlakukan-
nya perdagangan bebas dan ekolabeling produk-produk yang
dipasarkan, maka para pembeli dari luar negeri akan enggan
untuk membeli, bahkan dapat melakukan pemboikotan terhadap
produk kulit dari Sukaregang. Apabila hal ini sampai terjadi maka

                              246
tidak mustahil kegiatan usaha di SIK Sukaregang akan gulung
tikar. Untuk menghindari kekawatiran tersebut, maka salah satu
jalan terbaik saat ini yang dapat dilakukan adalah dengan
melakukan kegiatan produksi yang ramah lingkungan.


10.2. Proses Penyamakan Kulit Dan Sumber Limbah

    Proses penyamakan kulit adalah proses pengawetan
terhadap kulit binatang dengan menggunakan berbagai bahan
kimia pembantu proses. Bahan baku yang digunakan adalah kulit
binatang (sapi, kerbau, kambing dll) terutama hasil dari rumah
potong hewan (RPH). Secara garis besar proses penyamakan
dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1). Pra-penyamakan (beamhouse)

   Proses yang ada pada pra-penyamakan adalah sebagai
   berikut:

      Pencelupan kulit dalam air selama satu malam untuk
       menghilangkan darah, kotoran, larutan garam dan
       protein.
      Menghilangkan bulu dengan perendaman dalam kapur
       dan sodium sulfida,
      Pengolahan menggunakan larutan kapur kembali
       (reliming).
      Pencukuran dan penghilangan mekanis jaringan ekstra
       dari    sisi   daging   kulit, selanjutnya   pemisahan
                             2
       (menggunakan kapur) /3 lapisan atas dari bagian bawah.
      Penghilangan kapur dengan menggunakan asam lemah
       (latic acid) dan pemukulan/bating dengan menggunakan
       bahan kimia pembantu untuk menghilangkan sisa-sisa
       bulu dan protein yang hancur.
      Pengawetan menggunakan larutan garam dan asam
       sulfur untuk pengasaman sampai pH tertentu untuk
       mencegah pengendapan garam-garam krom pada serat
       kulit.




                             247
      Gambar 10.1. Pencukuran Dan Penghilangan Mekanis
             Jaringan Ekstra Dari Sisi Daging Kulit

(2). Penyamakan

   Penyamakan krom dilakukan dengan menggunakan krom
   sulfat. Proses ini untuk menstabilkan jaringan protein
   (collagen) dari kulit.




       Gambar 10.2. Tanin (Rotary Drum) Sebagai Reaktor
                         Penyamakan


                           248
(3). Pasca penyamakan

   Proses yang ada pada pasca penyamakan adalah sebagai
   berikut:

      Pressing (samming) untuk menghilangkan kelembaban
       kulit segar.
      Pencukuran,
      Pewarnaan dan pelembutan kulit yang sudah disamak
       menggunakan minyak-minyak emulsi (fatliquoring),
       didahului dengan sekali-sekali penyamakan sekunder
       menggunakan tanin sintesis (syntans) dan ekstrak
       penyamakan.
      Pengeringan dan pencukuran akhir,
      Pelapisan permukaan dan buffing (finishing)




   Gambar 10.3. Pressing (Samming) Untuk Menghilangkan
                       Kelembaban.




                          249
    Gambar 10.4. Pengeringan Kulit Dengan Panas Matahari

     Proses penyamakan banyak menggunakan air sebagai
pelarut maupun sebagai pembersih. Air bekas proses
penyamakan akan terbuang sebagai limbah cair. Kandungan
pulutan dalam limbah cair tersebut antara lain bahan kimia
pembantu proses, lemak, protein dan bahan organik lainnya dari
kulit dan daging, dan padatan (kotoran dari lokasi kerja, bulu,
serpihan kulit dan daging).

    Disamping menghasilkan limbah cair, usaha penyamakan
juga menghasilkan limbah padat. Limbah padat yang dihasilkan
banyak mengandung serpihan kulit dan daging, bulu, garam,
kotoran dll. Limbah cair dan padat pada usaha ini dihasilkan dari
berbagai sumber (unit proses) dan setiap sumber yang ada akan
menghasilkan limbah dengan karakteristik yang berlainnan.
Sumber dan jenis polutan yang ada pada setiap unit proses
tersebut dapat dilihat seperti pada diagram alir proses
penyamakan kulit di bawah ini :




                              250
     INPUT                  UNIT             OUTPUT/LIMBAH



      Kulit              Penggaram



Bakterisida, Abu         Perendama          Lb cair : garam, kotoran.



                                             Lb cair : garam, asam
                     Penghilangan bulu,
Kapur, Na2S, air                           Lb pdt : bulu, serpihan kulit
                        pemrosesan
                                                  Lb gas : H2S



                        Pencukuran,
                                             Lb padat : sisa cukuran
                     penghilangan daging
                                                    daging
                        & pemisahan



Asam laktit, bats,       Penghilangan       Lb cair : asam, amonium
   NH4Cl air            kapur & bating          Lb gas : amonia



 Garam, asam             Pengawetan          Lb cair : asam, garam
  sulfur, air


                       Persediaan yang     Lb padat : serpihan, bahan
                          diawetkan               pengawet.

  Krom sulfat,
 garam, syntan,                            Lb cair : mengandung Cr3+,
 sodium format,       Penyamakan krom       garam, syntan, bacterisit,
   abu soda,                                         Na format
    bacterisit

                                           Lb cair : mengandung Cr3+,
                          Pressing          garam, syntan, bacterisit,
                                                     Na format



                         Pencukuran          Lb padat: mengandung
                                                      Cr3+.




Gambar 10.5. Diagram Alir Skematis Operasi Penyamakan Kulit




                                     251
           INPUT                UNIT           OUTPUT/LIMBAH


   Ekstrak penyamakan,       Penyamakan
  syntan, kalsium format,                         Lb cair: mengandung
                               sekunder,
   tepung, lem, titanium                              Cr3+, ekstrak
                             pewarnaan,
   dioksida, minyak, air                          penyamakan, syntan,
                              fatliquoring
                                                    pewarna, gemuk.




                             Pengeringan,           Lb padat: sisa
                             pencukuran &            pencukuran
                              pensortiran          mengandung Cr3+.




  Pelapisan permukaan          Finishing          Lb gas: uap larutan.




                            PRODUK KULIT



   Gambar 10.6. Diagram Alir Skematis Operasi Penyamakan
                         Lanjutan


10.3. Teknologi Pengelolaan Lingkungan Industri Kulit

10.3.1. Produksi Bersih

    Teknologi Produksi Bersih mengupayakan suatu proses
produksi nir-limbah. Untuk mencapai teknologi ini dapat dilakukan
dengan menggantikan proses yang ada dengan teknik proses
produksi baru yang tidak menghasilkan limbah. Jalan lain adalah
dengan merecycle limbah yang dihasilkan atau memanfaatkan
kembali limbah dalam proses atau untuk bahan baku produk lain
sehingga praktis tidak ada limbah yang terbuang.




                              252
    Untuk mencapai proses produksi nir-limbah tidaklah mudah,
sehingga diperlukan alternatif lain yang bertujuan untuk
meminimalisasikan jumlah limbah yang dihasilkan/dibuang,
sehingga dapat mengurangi bahaya terhadap kesehatan manusia
dan lingkungan serta mahluk hidup lainnya. Sampai saat ini
reduksi limbah masih dianggap sebagai solusi yang paling tepat
untuk mencegah permasalahan limbah dimasa depan. Dengan
menggunakan bahan yang lebih effisien, industri dapat
mengurangi limbah yang dihasilkan dan melindungi kesehatan
manusia dan lingkungan yang diinginkan. Pada waktu yang
bersamaan, biaya pengelolaan limbah dapat diturunkan yang
berarti menghemat biaya operasional industri dan dalam jangka
panjang resiko dan pasiva dapat diminimalkan.

    Adanya pengolahan limbah merupakan suatu tambahan
proses pada industri, sedangkan minimisasi limbah melibatkan
semua aspek pada proses produksi yang rumit. Pendapat yang
menyatakan bahwa pengontrolan polusi dan minimisasi limbah
merupakan tujuan jangka panjang, tidak dapat dicapai dan tidak
sesuai untuk strategi jangka pendek telah mendesak para
penghasil limbah untuk mencari berbagai alternatif dalam upaya
minimisasi limbah, namun yang menjadi penghambat upaya
tersebut adalah resiko terjadinya perubahan kualitas produk
akibat pengerjaan minimisasi limbah yang dikerjakan dengan
merubah proses industri yang semata-mata hanya untuk
menurunkan jumlah limbah yang dihasilkan tanpa didasari oleh
keahlian khusus. Usaha minimisasi limbah yang berhasil
biasanya merupakan hasil dari peningkatan effisiensi operasional
industri tersebut, yang mana sebagian upaya tersebut akan
menghasilkan produk samping, tidak hanya difokuskan pada
pengubahan proses industri.

    Banyak industri yang ingin mengurangi jumlah limbahnya,
tetapi   tidak   mengetahui    bagaimana      memulai       dan
mengimplementasikan ke dalam permasalahan yang komplek.
Untuk mencapai sasaran tersebut perlu dilakukan prioritas dalam
pelaksanaannya. Gambar 10.7. merupakan urutan prioritas untuk
meminimalisasi limbah yang dihasilkan. Pada kondisi ideal
penghilangan limbah secara total adalah merupakan sesuatu
yang memungkinkan.


                              253
                     Penghilangan dari sumber


                       Pengurangan sumber


                             Recycle


                       Reuse dan Recovery


                           Pengolahan


                        Penimbunan residu



                   Gambar 10.7. Urutan Prioritas Untuk
                       Meminimalisasi Limbah

Model manajemen limbah seperti pada Gambar 10.8. dapat
didisain dengan menetapkan sumber dan kuantitas limbah dan
proses utama lainnya. Model ini akan menghasilkan neraca masa
yang mempunyai bentuk umum dan hubungan sebagai berikut:


  Input = produk + bahan yg terrecovery + limbah dikeluarkan
                     + limbah yg dibuang.



     Hubungan neraca masa akan dikembangkan untuk setiap
langkah proses dalam model menajeman limbah. Dengan
menggunakan hubungan proses ini, sistem minimisasi limbah
akan menjadi alat yang penting untuk pengumpulan data yang
dibutuhkan dalam pengembangan alternatif minimisasi limbah
berikutnya yang akan dipilih dan ditetapkan. Pemilihan alternatif
ini dapat dilihat seperti pada Gambar 10.9.




                              254
                            Bahan



                         Usaha untuk
                      mendapatkan bahan




         Recycle      Penggunaan bahan             Produk


                        Limbah            Reuse


                       Akumulasi limbah            Recovery



    Penyaluran     Pengelolaan limbah on-site      Pembuangan



                   Pengelolaan limbah off-site     Penyaluran



                         Pembuangan

 Gambar 10.8. Konsep Disain Model Pengelolaan Limbah

                   Alternatif minimisasi:
                      - Modifikasi proses
                      - Subtitusi bahan
                      - Recycle, reuse, recovery




                          Evaluasi ekonomi



                   Kriteria seleksi :
                      - Ekonomi
                      - Konservasi
                      - Regulasi
                      - Hubungan masyarakat



                         Prioritas alternatif



                      Pemilihan dan penerapan


Gambar 10.9. Proses Pemilihan Alternatif Minimisasi Limbah

                              255
Proses produksi bersih yang diajukan untuk SIK industri kulit
Sukaregang adalah sebagai berikut :
                 Pemantauan dan pengontrolan




                                              Analisis masalah secara
             Masalah             Ya                     detail



                                               Pemrosesan masalah



                                              Pengembangan metode
                                                    resolusi
             Tidak

                                                   Seleksi solusi



                                               Rencana Implementasi



                                                   Implementasi



                     Dokumentasi, pelaporan, dan komunikasi



 Gambar 10.10. Alur Proses Penerapan Konsep Produksi Bersih

Scope of work dari Produksi Bersih dalam industri penyamakan
kulit disini ditinjau dari dua segi yaitu : minimisasi limbah dan
recovery chrome.

A. Minimisasi limbah

    Langkah awal dari pelaksanaan produksi bersih adalah
    meminimisasi limbah, dapat dimulai dengan pengelolaan
    lingkungan yang menitinjau dari segi masukan (air, energi,
    maupun bahan baku dan penolong), proses produksi serta
    keluaran (produk, produk setengah jadi, maupun limbah).
    Langkah-langkah minimisasi diantaranya adalah :


                                      256
(1). Membuat neraca bahan : Input, Output dan Proses

(2). Sintesa, misalnya mengurangi penggunaan           air,
     penanganan bahan baku, manajemen organisasi.

(3). Pengambilan solusi dan analisa ekonomi

(4). Implementasi.

(5). Monitoring.

Biasanya industri di Indonesia penggunaan air sangat boros,
menurut data awal yang ada penggunaan air per ton kulit
             3
sekitar 100 m . Dengan penerapan produksi bersih perton
produk diharapkan dapat menghemat ¼ sampai ½ dari
penggunaan semula.

Disadari bahwa pemborosan air ini berasal dari berbagai
sumber, antara lain dari banyaknya slang/kran yang tidak
tertutup rapat oleh sebab itu perlu penekanan dengan
misalnya dengan menempatkan kran jenis pistol. Dengan
jumlah air yang berkurang maka beban pengolahan air
limbah juga akan berkurang.

Penanganan bahan baku, bahan setengah jadi maupun
produk dibuat suatu sistem FIFO (first in first out) agar
kualitas barang terjaga, serta dikendalikan ceceran yang
terjadi. Dari hal ini diperlukan managemen organisasi yang
solid dan fleksible.

Penggunaan energi listrik saat ini dirasakan mahal oleh
industri, hal ini diperlukan penghematan-penghematan
dengan jalan mematikan lampu waktu siang hari maupun
penggunaan yang tidak perlu. Pemanfaatan atau ekploitasi
cahaya matahari pada siang hari. Hal ini dilakukan dengan
menempatkan saklar-saklar yang mudah terjangkau, dan
memasang genting kaca di banyak tempat.




                         257
                   Banyak air yang tumbah keluar dari reaktor




     Gambar 10.11. Penggunaan Peralatan Yang Tidak Bagus
      Dapat Menambah Jumlah Limbah Dan Pemborosan Air
                           Proses

B. Recovery Chrome dari bekas air rendaman

   Pada proses perendaman menggunakan krom, 60% krom
   tersebut akan terserap ke dalam kulit, sedangkan 40%-nya
   akan tersisa di dalam limbah cair. 40% sisa krom dalam
   limbah tersebut dapat dilakukan proses recovery. Recovery
   krom dilakukan dengan melakukan tahapan-tahapan sebgai
   berikut :

   (1).   Penyaringan.    Penyaringan     dilakukan     untuk
          memisahkan kotoran-kotoran padat dengan cairan Cr.
   (2).   Cairan Cr yang bebas padatan tersebut diendapkan
          dengan menambahkan basa sehingga pH naik menjadi
          8-8,5.
   (3).   Pemisahan cairan dan padatan dilakukan setelah Cr
          mengendap kurang lebih 1 hari. Cairan dialirkan ke
          IPAL sementara padatan dipakai untuk penyamakan
          kembali tetapi sebelumnya dilarutkan dalam larutan
          asam.


                                258
     Gambar 10.12. Salah Satu Peralatan Recovery Crom.


10.3.2. Teknologi Pengolahan Limbah

    Ada beberapa cara untuk mencapai proses produksi yang
bersih (nir-limbah), namun sampai saat ini belum dapat dilakukan
proses produksi nir limbah di semua sektor industri. Jika langkah-
langkah menuju proses produksi bersih dan minimalisasi limbah
telah ditempuh tetapi limbah masih dihasilkan, maka langkah
terakhir adalah harus mengolah limbah (end-of-pipe) sampai
memenuhi baku mutu lingkungan. Pengolahan limbah, adalah
proses untuk mengubah jenis, jumlah dan karakteristik limbah
sehingga menjadi tidak berbahaya dan/atau tidak beracun
dan/atau immobilisasi. Dengan mengolah limbah, maka limbah
yang dibuang tidak akan menimbulkan pollusi dan tidak
membahayakan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

    Limbah yang dihasilkan di SIK Sukaregang berasal dari
berbagai sumber dengan karakteristik yang berlainan, dengan
demikian langkah modifikasi proses dan teknik pemilahan /
pengelompokan dan pencampuran limbah dapat dilakukan untuk
memodifikasi sistem pengolahan yang akan diterapkan agar
dapat mencapai hasil yang optimal dengan biaya pengolahan
yang minimal. Limbah dari berbagai sumber yang mempunyai
karakteristik hampir sama dapat dikelompokkan menjadi satu
untuk menentukan treatment awal, kemudian limbah dari sumber

                               259
lainnya dapat digabungkan untuk diolah bersama dalam satu
IPAL terpadu.

     Untuk meminimalisasi jumlah limbah yang diolah dan disain
IPAL, pemilahan terhadap limbah yang tidak mengandung
polutan sangat diperlukan. Disamping itu perlu juga dihindari
terjadinya pengenceran limbah oleh air hujan selama di saluran
menuju IPAL. Sistem pengolahan air limbah (IPAL) industri kulit
dapat dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1). Langkah pertama dilakukan pengelompokan limbah dari
     sumber yang mempunyai karakteristik berdekatan untuk pre-
     treatment terlebih dahulu (terutama limbah yang
     mengandung krom). Limbah ini disalurkan dalam satu saluran
     menuju sumur pengumpul limbah. Diujung depan dari saluran
     limbah harus dipasang screen, yang berfungsi untuk
     menahan limbah padat. Unit pre-treatment limbah di setiap
     industri diperlukan, hal ini untuk menjaga agar beban
     pengolahan di IPAL terpadu tidak trelalu berat. Unit pre-
     treatment di setiap industri pada dasarnya untuk
     menghilangkan kandungan krom, padatan, lemak/minyak dan
     untuk netralisasi limbah. Secara detail skema unit pre-
     treatment tersebut seperti gambar 10.13.

(2). Dari sumur pengumpul, limbah dipompa menuju pat-pit untuk
     pemisahan lemak dan minyak yang terkandung di dalam
     limbah. Minyak yang terpisah dikeluarkan dari sistem. Limbah
     cair yang mengandung krom dan telah bersih dari minyak
     ditreatment menggunakan fero sulfat untuk mengendapkan
     kandungan krom yang ada. Lumpur yang kaya endapan krom
     ini dipisahkan dengan menggunakan klarifier. Cairan dari
     klarifier (aliran atas) dimasukkan ke tangki equalisasi untuk
     dicampur dengan limbah lain yang tidak mengandung krom.
     Diharapkan setelah pre-treatment, kedua kelompok limbah ini
     akan mempunyai karakteristik yang tidak jauh berbeda, yaitu
     limbah yang kaya akan bahan organik. Namun karena kondisi
     keasaman tidak stablil, diperlukan unit netralisasi terlebih
     dahulu sebelum di salurkan ke IPAL terpadu.




                               260
                       Proses I                                Proses II



                    Limbah yang                             Limbah yang tdk
Re-use   Crom     mengandung krom                          mengandung krom




                       Screen             Padatan              Screen




                      Unit Crom
                      recovery




                                       Pemisah
                                     minyak /lemak
                  Tangki
                Asam/basa


                                           Proses
                                          netralisasi



                                                  Flow meter




                                          Ke IPAL
                                          terpadu

   Gambar 10.13. Diagram Alir Sistem Pre-Treatment Limbah
                       Industri Kulit

(3). Setiap industri diwajibkan mempunyai flow rate limbah yang
     akan disalurkan ke IPAL terpadu. Hal ini dimaksudkan untuk
     mengetahui jumlah limbah yang dihasilkan yang akan
     digunakan sebagai dasar pembayaran tarif ke pengelola IPAL
     terpadu.


                                    261
(4). Limbah dari industri sebelum masuk ke IPAL terpadu
     dikontrol karakteristiknya terlebih dahulu. Hal ini untuk
     menjaga agar limbah yang masuk ke IPAL mempunyai
     karakteristik yang stabil. Jika karakteristik limbah tersebut
     berfluktuasi terlampau besar akan menjadikan beban kerja
     IPAL berat, bahkan dapat mematikan mikroba yang bekerja
     di IPAL tersebut. Secara skematik limbah dari industri ke
     IPAL terpadu dapat dilihat sebagai berikut:


                                         Flow meter
  Industri I                     Pre-
                              treatmen


                Recovery Cr



                                         Flow meter
  Industri II                    Pre-
                              treatmen


                Recovery Cr
                                                      Quality    IPAL
                                                      control   Terpadu

                                         Flow meter
  Industri III                   Pre-
                              treatmen


                Recovery Cr



                                         Flow meter
  Industri IV                    Pre-
                              treatmen


                Recovery Cr




            Gambar 10.14. Diagram Alir Sistem Pengolahan Limbah
             Industri Kulit Dari Sumbernya Sampai IPAL Terpadu

(5). Setelah dilakukan kontrol karakteristik, limbah masuk ke IPAL
     terpadu.


                                         262
(6). Tahap pertama IPAL terpadu adalah tangki equalisasi.
     Tangki ini berfungsi untuk menstabilkan karakteristik limbah
     yang akan di proses. Disamping itu tangki ini juga berfungsi
     sebagai penampungan sementara, yang mana limbah dari
     tangki equalisasi di pompa ke unit-unit berikutnya agar aliran
     stabil. Hal ini untuk menjaga kestabilan proses kimia, fisika
     dan biologis dan untuk memudahkan dalam sistem kontrol
     IPAL.

(7). Dari tangki equalisasi limbah diproses kimia (flokulasi-
     koagulasi)    untuk    pembentukan     flok-flok. Setelah
     pembentukan flok selesai maka flok tersebut diendapkan
     secara fisika agar padatan dan suspended solid yang ada
     dalam limbah terpisahkan secara sempurna. Padatan yang
     terkumpul di bagaian dasar tangki pengendap dipompa untuk
     dipadatkan dan dikeringkan, sedangkan cairan bagian
     atasnya dilakukan proses biologis untuk menurunkan kadar
     COD dan BOD limbah.

(8). Proses biologis yang dapat diterapkan adalah dengan proses
     lumpur aktif yang sudah banyak diterapkan pada sistem-
     sistem pengolahan limbah. Dimana sebagain lumpur yang
     telah dipisahkan direcycle kembali ke tangki earasi untuk
     proses pengolahan limbah ini.

(9). Setelah proses bioligis lumpur aktif selesai, maka lumpur
     dipisahkan secara fisika dengan menggunakan tangki
     pengendapan. Cairan yang telah memenuhi baku mutu
     lingkungan dapat dibuang ke saluran limbah yang tersedia
     atau dapat juga ditambahkan satu unit alat filter air untuk
     meningkatkan kualitasnya yang selanjutnya air tersebut dapat
     digunakan sebagai air proses produksi lagi.

(10). Lumpur aktif yang terpisahkan dapat digunakan sebagai
      media tanam tumbuhan dengan dilakukan proses
      pengeringan terlebih dahulu.




                               263
264




      Gambar 10.15. Sistem IPAL Terpadu Industri Penyamakan Kulit
Foto-foto IPAL terpadu yang sudah dibangun untuk sentra
industri kulit.




       Gambar 10.16. Tangki Equalisasi IPAL Terpadu




Gambar 10.17. Tangki Kimia Untuk Proses Flokulasi- Koagulasi



                            265
Gambar 10.18. Sistem Pemipaan Pada Tanki Lumpur Aktif IPAL


10.4. Daftar Pustaka

(1). Eckenfelder W.W. Jr. (1989), Industrial Water Pollution
     Control, 2nd Edition, McGraw-Hill Series in Water Resources
     and Environmental Engineering.
(2). Raka, I G., Zen, M.T., Soemarwoto, O., Djajadiningrat, S.T.,
     and Saidi, Z. (1999). Paradigma Produksi Bersih:
     mendamaikan pembangunan ekonomi dan pelestarian
     lingkungan. Penerbit Nuansa, Bandung, Indonesia
(3). Kementrian Lingkungan Hidup (2002), Revitalisasi Sentra
     Industri Kecil Penyamakan Kulit Berwawasan Lingkungan di
     Sukaregang, Garut
(4). Said. N. I Cs (2002). Aplikasi Teknologi Biofilter Untuk
     Pengolahan Air Limbah Industri Kecil Tekstil. Pusat
     pengkajain dan Penerapan teknologi Lingkungan (P3TL),
     Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material dan
     Lingkungan, Badan Pengkajain dan Penerapan Teknologi
     (BPPT).

                              266
(5). Setiyono (2002). Sistem Pengelolaan Limbah B-3 di
     Indonesia. Kelompok Teknologi Air Bersih dan Limbah Cair,
     Pusat pengkajain dan Penerapan teknologi Lingkungan
     (P3TL), Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material
     dan Lingkungan, Badan Pengkajain dan Penerapan
     Teknologi (BPPT).
(6). Suffet, I.H. (1977). Fate of Pollutants in the Air and Water
     Environments. Volume 8, Part 1, “Mechanism of interaction
     between environments and mathematical modeling and the
     physical fate of pollutants. Advances in Environmental
     Science and Technology. John Wiley & Sons, A Wiley-
     Interscience Publications, New York, USA.
(7). ----------- (1977). Fate of Pollutants in the Air and Water
     Environments. Volume 8. Part 2, “Chemical and biological
     fate of pollutants in the environment”. Advances in
     Environmnetal Science and Technology. John Wiley & Sons,
     A Wiley-Interscience Publications, New York, USA.
(8). Wentz, Charles A. (1989). Hazardous Waste Manajement.
     Argonne National Laboratory.




                              267

						
Related docs
Other docs by appli
Pengolahan Limbah Kulit
Views: 1072  |  Downloads: 192