Docstoc

Teori

Document Sample
Teori Powered By Docstoc
					Teori-Teori Belajar Proses Perubahan Tingkahlaku & Belajar




Oleh:



Arie Asnaldi, S.Pd




Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-
aliran psikologi.Namun dalam kesempatan ini hanya akan dikemukakan lima jenis teori belajar saja,
yaitu: (a) teori behaviorisme; (b) teori belajar kognitif menurut Piaget; (4) teori pemrosesan informasi
dari Gagne, dan (5) teori belajar gestalt.



1.   Teori Behaviorisme



Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan
untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena
jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui
adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-
mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.



Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya :



1.   Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.



Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya:
a. Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka
hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang
dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.



b. Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu
berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan
kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.



c. Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin
bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.



2.   Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov



Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar,
diantaranya :



a. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus
dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus
lainnya akan meningkat.



b. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah
diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer,
maka kekuatannya akan menurun.



3.   Operant Conditioning menurut B.F. Skinner



Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati
menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
a. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka
kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.



b. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses
conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan
musnah.



Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah
perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning
terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer
itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah
respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam
classical conditioning.



4.   Social Learning menurut Albert Bandura



Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif
masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme
lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R
Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema
kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu
terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh
perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian
reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang
perlu dilakukan.



Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik ini, seperti :
Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang
disebut Contiguity Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode
meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response
Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.



2.   Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget
yaitu tahap (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan        (4) formal
operational. Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap
perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan
eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh
pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik
agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari
lingkungan.




Implikasi teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :



a. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar
dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.



b. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus
membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.



c.   Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.



d.   Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.



e. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan
teman-temanya.



3.   Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting
dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne
bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga
menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi
antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan
dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam
individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu
dalam proses pembelajaran.



Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2)
pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan
dan (8) umpan balik.



4.   Teori Belajar Gestalt



Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”.
Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu
keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang
terpenting yaitu :



a. Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang
pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti
ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar
bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.



b. Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang)
dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.



c. Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai
suatu obyek yang saling memiliki.



d. Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam
arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
e. Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang
sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan
simetris dan keteraturan; dan



f.  Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau
pengamatan yang tidak lengkap.



Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:



a. Perilaku “Molar“ hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”. Perilaku
“Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku
“Molar” adalah perilaku dalam keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah,
bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar” lebih mempunyai makna
dibanding dengan perilaku “Molecular”.



b. Hal yang penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis
dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang sebenarnya ada, sedangkan
lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh
seolah-olah sesuatu yang indah. (lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu
lingkungan yang penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).



c. Organisme tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian peristiwa, akan
tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa. Misalnya, adanya penamaan kumpulan
bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces, gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh
lain, gumpalan awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.



d. Pemberian makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang
dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu proses yang
dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang diterima.



Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a. Pengalaman tilikan (insight); bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku. Dalam
proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal
keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.



b. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning); kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan
menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur
akan makin efektif sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah,
khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang
dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.



c. Perilaku bertujuan (pusposive behavior); bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku bukan hanya
terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin
dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin
dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan
membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.



d. Prinsip ruang hidup (life space); bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan
dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi
dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.



e. Transfer dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran tertentu
ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian
obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi
konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-
prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan umum
(generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok
dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan
masalah dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk
menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
2.1 Pengertian Belajar

Menurut Anita E.Wool Folk dalam Kartadinata, dkk (1999: 57) belajar adalah proses perubahan
pengetahuan atau perilaku sebagai hasil dari pengalaman. Pengalaman ini terjadi melalui interaksi
individu dengan lingkungannya. Berdasarkan defenisi belajar ini dapat diambil pengertian bahwa
interaksi individu dengan lingkungannya yang membutuhkan pengalaman yang merupakan salah satu
proses belajar. Proses interaksi tersebut yang disebut belajar haruslah menghasilkan suatu perubahan
dalam diri individu, baik perubahasn pengetahuan maupun perubahan perilaku.

Senada dengan apa yang dikemukakan Anita E. Wool Folk diatas, Garry dan Kingsley dalam Kartadinata,
dkk (1997: 57) merumuskan defenisi belajar, yaitu:

"Belajar adalah proses tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek dan
latihan". Dalam defenisi belajar ini sudah lebih spesifik, sebab bentuk interaksi individu dengan
lingkungannya dalam proses belajar adalah praktek dan latihan. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak
semua interaksi dengan lingkungannya merupakan proses belajar.



Menurut Syah (1997: 94) belajar pada hakikatnya merupakan proses kognitif yang mendapat dukungan
dari fungsi ranah psikomotor. Fungsi psikomotor dalam hal ini meliputi: mendengar, melihat,
mengucapkan. Bila dikaitkan dengan defenisi belajar yang dikemukakan oleh Garry dan Kingsley,
perubahan aspek behavioristik berupa keterampilan actual yang konkrit. Akan tetapi, belajar juga
merupakan proses kognitif yang melibatkan proses psiko-mental.

Selain itu, perubahan tingkah laku yang terjadi secara kebetulan, reflex, kematangan dan perilaku
sementara tidaklah dapat dikatakan sebagai proses belajar. Hal ini sesuai dengan apa yang didefenisikan
Kartadinata, dkk (1999: 57-59) bahwa perilaku yang berupa (a) kecenderungan perilaku instinktif, (b)
kematangan dan (c) perilaku keadaan sementara bukan merupakan perilaku belajar.

Defenisi belajar yang cukup relevan dengan uraian diatas dikemukakan oleh Hilgard dan Bower dalam
Purwanto (1990: 84) yaitu:

"Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang
disebabkan oleh pengalamannya yang terulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku
itu tidak dapat dijelaskan atas dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-
keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat dan sebagainya)".




Berdasarkan defenisi belajar yang dikemukakan ahli diatas, ternyata belajar yang mengandung
pengertian yang sangat luas dan kompleks. Dikatakan kompleks karena aktivitas belajar melibatkan
banyak faktor dan dipandang luas karena belajar dapat dilihat dalam arti luas dan sempit.
Menurut Gagne dalam Dimyati dan Mudjiono (1994: 9) bahwa belajar merupakan kegiatan yang
kompleks. Hasil belajar merupakan kapabilitas. Kapabilitas yang ditimbulkan oleh aktivitas belajar
merupakan hasil interaksi individu dengan lingkungan. Stimulus yang berasal dari lingkungan direspon
oleh individu melalui proses kognitif sehingga menghasilkan kapabiliatas baru pada din' individu yang
belajar.

Sardinian (2000: 20-21) mengemukakan pengertian belajar dalam arti luas sebagai kegiatan psiko-fisik
menuju perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam arti sempit belajar dimaksudkan sebagai
usaha penguasaan materi ilmu pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya
kepribadian seutuhnya. Pengertian belajar yang dikemukakan Sardinian ini identik dengan aktivitas
belaar yang dilakuakn siswa disekolah. Pada umumnya siswa disekolah dikondisikan dalam proses
pembelajaran untuk menguasai berbagai ilmu pengetahuan, keterampilan dan skap menuju
perkembangan kepribadiannya yang optimal.

Berdasarkan beberapa defenisi belajar yang dikemukakan ahli diatas, memang terdapat perbedaan.
Namun dapat diambil hal-hal pokok dari pengertian belajar bahwa belajar adalah suatu proses
perubahan tingkah laku dalam arti luas yang ditandai dengan diperolehnya kecakapan baru yang bersifat
permanen. Kecakapan baru tersebut merupakan hasil usaha. Hal ini senada dengan apa yang
dikemukakan Suryabrata (1984: 249) tentang hal-hal pokok yang disebut belajar, yaitu: (a) bahwa
belajar itu membawa perubahan dalam arti behavioral changes, actual maupun potensiaol, (b) bahwa
perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru (dalam arti Kentnis dan
Fertingkeit), dan (c) bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).

Nasution (1998: 1) juga mengidentifikasikan ciri-ciri kegiatan yang disebut "Belajar", yaitu (1) belajar
adalah aktivitas yang menghasilkan perubahan pada din' individu yang belajar, baik yang aktual maupun
yang potensial, (2) perubahan itu pada dasarnya berupa didapatkannya kemampuan baru, yang berlaku
dalam waktu yang relatif lama dan (3) perubahan itu terjadi karena usaha.

Ciri-ciri kegiatan atau aktivitas yang disebut belajar yang dikemukakan oleh Nasution, Suryabrata dan
Kartadinata diatas merupakan batasan belajar yang jelas yang membedakan belajar dengan aktivitas
bukan belajar. Bila ditarik kesimpulan dan ciri, defenisi maupun pengertian belajar yang dikemukakan
oleh para ahli diatas, ternyata ada beberapa kesamaan dari pendapat para ahli tersebut tentang belajar
yaitu: pertama, belajar merupakan suatu proses.

Proses yang dimaksudkan adalah proses sadar dan disengaja. Dalam proses tersebut tidak semata-mata
bersifat behavioristik, akan tetapi juga bersifat proses kognitif. Proses sadar dan disengaja memisahkan
proses pengembangan belajar dengan perkembangan atau perubaan yang bersifat sementara, instinktif
maupun kematangan.

Kedua, proses perubahan tesebut merupakan proses perubahan tingkah laku dalam arti luas. Artinya
perubahan pada ranah kognitif, efektif dan psikomotor. Selain itu perwujudan perilaku hasil belajar
lainnya dapat berupa kebiasaan, keterampilan, pengamatan, berpikir rasional, berpikir asosiatif, sikap,
inhibisi, tingkah laku efekti dan sebagainya. Bila dikaitkan dengan penelitian ini bahwa perwujudan hasil
belajar yang paling dekat yang akan dicapai adalah kebiasaan dan keterampilan bertanya pada diri
siswa.

Seperti diuraikan dimuka, materi pembelajaran (bahan ajar) merupakan salah satu komponen sistem
pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai standar kompetensi
dan kompetens dasar. Secara garis besar, bahan ajar atau materi pembelajaran berisikan pengetahuan,
keterampilan dan skap atau nilai yang harus dipelajari siswa.

Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar
kompetensi yang telah ditentukan. Secara terperinci, jenis jenis materi pembelajaran terdiri dari
pengetahuan (fakta, konsep, prinsip, prosedur), keterampila.n dan sikap atau nilai.

Ditinjau dari pihak guru, materi pembelajaran itu harus diajarkan atau disampaikan dalam kegiatan
pembelajaran. Ditinjau dari pihak siswa, bahan ajar itu harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai
standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunkaan instrumen penilaian
yang disusun berdasar indikator pencapaian belajar. (Depdiknas, 2006: 6)



2.2 Pembelajaran Matematika di SD

Beberapa pendekatan dalam pembelajaran Matematika di SD adalah antara lain berikut ini menurut
Nasution, dkk (2005: 54) yaitu 1) Pendekatan lingkungan, 2) Pendekatan Konsep, 3) Pendekatan Nilai, 4)
Pendekatan

Pemecahan Masalah, 5) Pendekatan Penemuan, 6) Pendekatan Inkuiri, 7) Pendekatan Keterampilan
Proses, 8) Pendekatan Sejarah, 9) Pendekatan Deduktif atau Induktif, 10) Pendekatan Belajar Tuntas.

Kesemua pendekatan itu memungkinkan guru sebagai perancang pembelajaran untuk menggunakan
berbagai pendekatan yang bervariasi dan berganti-ganti sesuai dengan karakteristik tujuan dan materi
pembelajaran. Untuk pilihan metode pembelajaran Matematika di SD menurut Nasution, dkk (2005: 55)
yaitu metode penugasan, diskusi, tanya jawab, latihan, metode ceramah, simulasi, proyek, studi
lapangan, metode demonstrasi dan metode eksperimen.

Dalam perbaikan pembelajaran ini akan digunakan metode Demontrasi. Dalam melaksanakan
Demontrasi sebaiknya murid sendiri yang melakukannya. Berikut ini karekateristk metode Demontrasi
menurut Winataputra, dkk (1994: 18) sebagai berikut:

1. Mempertunjukkan objek yang sebenarnya

2. Ada proses peniruan

3. Ada alat bantu yang digunakan

4. Memerlukan tempat yang strategis
5. Guru atau siswa dapat melakukannya



Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode demonstrasi:

1. Mengamati sesuatu pada objek sebenarnya

2. Berpikir sistematis

3. Pemahaman terhadap proses sesuatu

4. Menerapkan suatu cara secara proses

5. Menganalisis kegiatan secara proses



Keunggulan metode demonstrasi :

1. Siswa dapat memahami sesuai objek sebenarnya

2. Dapat mengembangkan rasa ingin tahu siswa

3. Siswa dibiasakan untuk kerja secara sistematis

4. Siswa dapat mengamati sesuatu secara proses

5. Siswa dapat mengetahui hubungan struktural atau urutan objek

6. Siswa dapat membandingkan pada beberapa objek



Kelemahan metode demonstrasi :

1. Dapat menimbulkan berpikir konkrit saja

2. Bila jumlah siswa banyak efektifitas demonstasi sulit dicapai

3. Bergantung pada alat bantu

4. Bila demonstrasi guru tidak sistematis, demonstrasi tidak berhasil

5. Banyak siswa yang kurang berani.



2.3 Pembelajaran PKN di SD
Strategi membimbing anak yang mengalami kesulitan dalam belajar bahasa adalah sebagai berikut
(Mulyati: 2004: 9.23) :

a. Tanya jawab

Tanya jawab dapat dilakukan secara individu atau kelompok. Dengan pendekatan bimbingan yang
menggunakan metode tanya jawab memungkinkan guru untuk menjalin hubungan yang lebih akrab
dengan siswa. Pendekatan ini akan memudahkan guru untuk memahami kelemahan dan kendala siswa
dalam belajar bahasa.

b. Diskusi

Diskusi digunakan untuk memanfaatkan interaksi antar individu dalam kelompok untuk mengatasi
kesulitan belajar bahasa yang dialami oleh kelompok siswa. Dengan berdiskusi, individu dapat mengenali
diri mereka sendiri dan kesulitan yang mereka rasakan sehingga mereka mampu untuk mencari jalan
pemecahan yang lebih tepat untuk dirinya. Tugas guru adalah membimbing siswa agar tidak putus asa
setelah menemukan kelemahan dirinya.

c. Penugasan

Pemberian tugas tertentu kepada siswa secara individu ataupun kelompok akan sangat membantu siswa
dalam mengatasi kesulitan belajar yang dialaminya. Selain itu siswa lebih terbantu untuk

memahami dirinya dan untuk memperbaiki cara belajar yang salah yang pernah dilakukannya.

d. Kerja Kelompok

Dengan kerja kelompok, diharapkan interaksi kelompok dapat memperbaiki diri siswa yang mengalami
kesulitan belajar bahasa. Sebab adanya pengaruh dari anggota kelompok lainnya. Kegiatan kelompok
akan dapat meningkatkan minat belajar siswa secara lebih optimal.

e. Tutor sebaya

Yang bertugas sebagai tutor adalah siswa yang ditunjuk guru berdasarkan kriteria tertentu, antara lain
berprestasi lebih baik, hubungan sosialnya baik, disegani teman-teman. Tugas tutor membantu teman
sekelasnya yang mengalami kesulitan belajar bahasa. Dalam melaksanakan tugasnya tutor selalu
mendapat petunjuk dari guru.



2.4 Hasil Bimbingan

Dengan dilakukan bimbingan belajar tersebut diatas, penulis yakin upaya meningkatkan hasil belajar ini
akan berhasil adanya, asal dengan melakukan bimbingan ini dengan sistematis, teratur dan disimplin
adanya.
2.5 Hipotesis

Hasil Belajar Anak mengenai pokok bahasan Pecahan pada Mata Pelajaran Matematika dan Mengenal
Pemerintahan Pusat pada Mata Pelajaran PKN akan dapat ditingkatkan dengan menggunakan beberapa
metode mengajar seperti yang dicantumkan diatas.




                                   KARAKTERISTIK PBM


1. Prinsip-prinsip Belajar


       Menurut Nana Syaodih Sukmadinata prinsip-prinsip belajar meliputi beberapa hal berikut

   yaitu diantaranya:


   a. Belajar merupakan bagian dari perkembangan.


   b. Belajar merupakan kegiatan seumur hidup.


   c. Keberhasilan belajar sering dipengaruhi factor-faktor bawaan, lingkungan, kematangan

      serta usaha sendiri.


   d. Belajar itu mencakup semua aspek kehidupan.


   e. Belajar berlaku pada semua tempat dan waktu.


   f. Belajar dapat dilakukan dengan atau tanpa guru.


   g. Belajar itu memerlukan motivasi yang tinggi.
h. Kegiatan belajar merupakan kegiatan menguasai dari hal yang sederhana hingga pada

   masalah yang komplek.


i. Dalam belajar sering ditemui hambatan-hambatan.


j. Belajar itu memerlukan adanya bantuan dan bimbingan orang lain.


(Landasan Psikologi Proses Pendidikan, 2005 : 165 – 166)


    Dalam tulisannya David Kolb yang berjudul Contextual Natural Learning, dikemukakan

bahwa belajar yang paling efektif harus berdasarkan konteks atau ilustrasi nyata. Dalam ilmu

Experienced Learning atau teori belajar berbasis pengalaman ada dua inti pembelajaran yakni

penerimaan/preceiving (garis vertikal), adalah bagaimana seseorang menyerap informasi yang

ada di lingkungannya. Dan pemrosesan / processing (garis horisontal), adalah bagaimana

tindak lanjut seseorang untuk memahami lebih dari informasi yang telah ia serap.


    Pertama adalah Concrete Experimentation (CE), adalah proses dimana seseorang

berkeinginan untuk mempelajari sesuatu yang memiliki makna pribadi bagi dirinya. Pada

tahap ini motivasi belajar akan tumbuh bila sesuatu tersebut berguna bagi situasi yang ia

hadapi pada saat ini.


    Kedua adalah Learning Observation (LO), adalah proses dimana seseorang bersedia

untuk menyisihkan waktunya untuk berpikir dan merefleksikan sesuatu yang telah/akan ia

pelajari. Pada tahap ini ia akan lebih konsentrasi dalam mengambil informasi yang ia

butuhkan agar ia dapat melakukannya.
    Ketiga adalah Abstract Conceptualization (AC), adalah proses dimana seseorang akan

mencoba melaksanakan informasi yang ia terima saat tahapan LO dan mengidentifikasi teori

atau konsep yang diterima berdasarkan fakta/praktek. Pada tahap ini pengetahuan yang ia

terima        dikondisikan        di        sebuah         situasi      yang         nyata.

Keempat adalah Active Experimentation (AE), adalah proses dimana pengalaman belajar

sesorang pada tahap AC sepenuhnya menjadi tindakan dan prilaku di pekerjaan / dunia nyata.

Pada tahap ini besar kemungkinan akan muncul kebutuhan yang lebih baru, dengan

pengetahuan dan ketrampilan yang telah dikuasai ia akan memasuki rasa ingin tahu pada

tingkatan                                                                       selanjutnya.

Seterusnya     proses    dari    tahap     1     –     4     akan    berulang      kembali.

Beberapa teori tentang belajar lainnya yang mungkin bermanfat bagi kita diantaranya dibuat

oleh Kirkpatrick dengan konsep yang hampir sama, terdiri dari proses Reaction, Learning,

Behavior, dan Result. Masing-masing tahapan bertujuan mengukur tingkat motivasi seseorang

untuk belajar, kapasitas pengetahuan yang dapat diserap, perubahan prilaku yang telah

dibuktikan, dan hasil kinerja secara kuantitatif yang berhasil diperoleh. Sedang Dave Meier

pada bukunya Accelerated Learning memberi sebuah panduan bagi para pengajar agar proses

pembelajarannya sukses dengan menggunakan teori SAVI (Somatis; belajar dengan bergerak

dan berbuat, Auditori; belajar dengan berbicara dan mendengar, Visual; belajar dengan

mengamati dan menggambarkan, intelektual; belajar dengan memecahkan masalah dan

merenung).


    Setelah memahami beberapa teori tentang proses belajar yang efektif, maka kita akan

memiliki tingkat kesadaran yang lebih baik agar mampu menyesuaikan diri pada lingkungan
  yang akan terus berubah, serta senantiasa menjunjung sifat dasar manusia yang mulia yakni

  untuk selalu mencari ilmu dan kebenaran baik di dunia maupun akhirat.


2. Prinsip-Prinsip Mengajar


  a. Menguasai Isi Pengajaran


     Hukum yang pertama dalam teori “Tujuh Hukum Mengajar” dari John Milton Gregory

     berbunyi: “Guru harus mengetahui apa yang diajarkan.” Jika guru sendiri mengetahui

     dengan jelas inti pelajaran yang akan disampaikan, ia dapat meyakinkan murid dengan

     wibawanya, sehingga murid percaya apa yang dikatakan guru, bahkan merasa tertarik

     terhadap pelajaran.


  b. Mengetahui dengan jelas sasaran pengajaran


     Pengajaran yang jelas sasarannya membuat murid melihat dengan jelas inti dari pokok

     pelajaran itu. Mereka dapat menangkap seluruh liputan pelajaran, bahkan mengalami

     kemajuan dalam proses belajar. Empat macam ciri khas yang harus diperhatikan pada saat

     memilih dan menuliskan sasaran pengajaran: 1. Inti dari sasaran harus disebutkan dengan

     jelas. 2. Ungkapan penting dari sasaran harus bertitik tolak dari konsep murid. 3. Sasaran

     harus meliputi hasil belajar. 4. Hasil sasaran yang dapat dicapai. Contoh: Contoh-contoh di

     atas telah menjelaskan empat macam hasil belajar yang berbeda: pengetahuan, pengertian,

     sikap, dan ketrampilan.


  c. Utamakan Susunan yang Sistematis
  Pengajaran yang tidak bersistem bagaikan sebuah lukisan yang semrawut, tidak

  memberikan kesan yang jelas bagi orang lain. Tidak adanya inti, tidak tersusun, tidak

  sistematis, akan sulit dipahami dan sulit diingat. Oleh sebab itu inti pengajaran harus

  disusun dengan teratur dan sistematis.


d. Banyak Gunakan Contoh Kehidupan


  Pada saat mengajar, seringlah menggunakan contoh atau perumpamaan kehidupan sehari-

  hari atau yang pernah dialami misalnya dalam perdagangan, rental, nilai uts / uas, dan lain

  sebagainya Contoh kehidupan adalah jembatan antara kebenaran ilmu dan dunia nyata


e. Cakap Menggunakan Bentuk Cerita


  Bentuk cerita tidak hanya diutarakan dengan kata-kata, namun juga boleh dicoba dengan

  menambahkan gerakan-gerakan, yang memperdalam kesan murid. Bentuk yang paling

  lazim adalah menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan kebenaran.


f. Menggunakan Panca Indera Murid


  Penggunaan bahan pengajaran yang berbentuk audio visual berarti menggunakan panca

  indera murid. Bahan pengajaran audio visual bukan saja cocok untuk Sekolah Minggu

  anak-anak, juga untuk Sekolah Minggu pelbagai usia. Ensiklopedia adalah buku yang

  sering dipakai oleh para ilmuwan, namun di dalamnya terdapat banyak penjelasan yang

  menggunakan gambar-gambar. Itu berarti bahwa para ilmuwan pun perlu bantuan gambar

  untuk mengadakan penelitian. Para ahli pernah mengadakan catatan statistik selama 15

  bulan, sebagai hasilnya mereka mendapatkan persentase dari isi pelajaran yang masih
  dapat diingat oleh murid: bagi murid yang hanya tergantung pada indera pendengaran saja

  masih dapat mengingat 28%, sedangkan bagi murid yang menggunakan indera

  pendengaran ditambah dengan indra penglihatan dapat mengingat 78%.


g. Melibatkan Murid dalam Pelajaran


  Melibatkan murid dalam pelajaran dapat menambah ingatan mereka, juga motivasi dan

  kegemaran mereka. Cara itu dapat menghilangkan kesalahpahaman yang mungkin terjadi

  ditengah pertukaran pikiran antara guru dan murid, selain mengurangi tingkah laku yang

  mengacau. Misalnya: biarkan murid menggunakan kata-katanya sendiri untuk menjelaskan

  argumentasi atau pendapatnya; biarlah murid menggali dan menemukan hubungan antar

  konsep yang berbeda, biarlah murid bergerak sebentar. Jika murid sibuk melibatkan diri

  dengan pelajaran, maka tidak ada peluang lagi untuk mengacau atau membuat ulah.


h. Menguasai Kejiwaan Murid


  Guru yang ingin memberikan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid, tentu harus

  memahami perkembangan jiwa murid pada setiap usia. Ia juga harus mengetahui dengan

  jelas kebutuhan dan masalah pribadi mereka. Pengertian antara guru dan murid adalah

  syarat utama untuk komunikasi timbal balik. Komunikasi yang baik dapat membuat

  penyaluran pengetahuan menjadi lebih efektif.


i. Gunakanlah Cara Mengajar yang Hidup


  Sekalipun memiliki cara mengajar yang paling baik, namun jika terus digunakan dengan

  tidak pernah diubah, maka cara itu akan hilang kegunaannya dan membuat murid merasa
      jemu. Cara yang terbaik adalah menggunakan cara mengajar yang bervariasi dan fleksibel,

      untuk menambah kesegaran.


   j. Menjadikan Diri Sendiri Sebagai Teladan


      Masalah umum para guru adalah dapat berbicara, namun tidak dapat melaksanakan.

      Pengajarannya ketat sekali, namun kehidupannya sendiri banyak cacat cela. Cara mengajar

      yang efektif adalah guru sendiri menjadikan diri sebagai teladan hidup untuk

      menyampaikan kebenaran, dan itu merupakan cara yang paling berpengaruh. Kewibawaan

      seseorang terletak pada keselarasan antara teori dan praktek. Jikalau guru dapat

      menerapkan kebenaran yang diajarkan pada kehidupan pribadinya, maka ia pun memiliki

      wibawa untuk mengajar.


      Mempelajari tentang teori belajar tidak sama dengan bagaimana mengaplikasikan teori

tersebut dalam proses belajar mengajar. Pada tahun 1884, John Milton Gregory memperkenalkan

suatu hukum mengajar yang sekarang menjadi sangat terkenal dengan nama "The Seven Laws of

Teaching" (Tujuh Hukum Mengajar). Karya klasik ini hingga sekarang masih tetap kontemporer,

karena dalam hukum-hukum tersebut terkandung prinsip-prinsip yang akan terus penting bagi

pengajaran yang efektif di kelas. Inti dari Tujuh Hukum Mengajar tersebut adalah sebagai

berikut :


Hukum Guru:


Kenali dan kuasailah dengan baik pelajaran yang akan Anda ajarkan -- ajarkanlah dengan

sungguh-sungguh dan dengan pengertian yang jelas.
Hukum Murid:


Berusahalah untuk menarik perhatian dan minat anak-anak terhadap pelajaran yang diberikan.

Jangan pernah mengajar tanpa perhatian mereka.


Hukum Bahasa:


Gunakan bahasa yang mudah dipahami baik oleh murid-murid Anda maupun Anda sendiri --

bahasa yang jelas dan tepat bagi Anda dan murid Anda.


Hukum Pelajaran:


Mulailah dengan pokok pelajaran yang sudah diketahui benar oleh murid-murid Anda dan yang

telah mereka sendiri alami -- lalu lanjutkan dengan materi baru, dengan langkah satu per satu,

mudah dan alami, biarkan hal-hal yang belum diketahui dijelaskan dengan menggunakan hal-hal

yang sudah diketahui.


Hukum Proses Mengajar:


Doronglah agar dengan keinginan sendiri anak-anak bertindak ....


Hukum Proses Belajar:


Mintalah murid-murid untuk mengungkapkan kembali dalam pikiran mereka pelajaran yang

sudah ia pelajari.


Hukum Review dan Penerapan:
Jangan pernah bosan untuk terus mengulang, mengulang dan mengulang ....


Howard Hendricks, dalam bukunya yang berjudul "Teaching to Change Lives", telah melakukan

satu langkah maju dengan menyempurnakan "Tujuh Hukum Mengajar" karya Gregory di atas

untuk memberikan panduan mengajar bagi para guru maka kini. Hendricks menekankan bahwa

pertama-tama Tuhan memakai orang-orang yang dipanggil-Nya, yaitu para guru, untuk

mempengaruhi hidup orang lain. Namun, ada prinsip-prinsip yang mendasar, yang jika

dipraktekkan, akan memberikan suatu dinamika baru bagi pengajaran dan akan membuka pintu

bagi Roh Kudus untuk bekerja dalam hidup anak-anak didik.


Bagaimana Howard Hendricks menjelaskan hukum-hukumnya itu?


1. Hukum Guru:


"Berhentilah bertumbuh hari ini, maka Anda akan berhenti mengajar besok." Para guru harus

membiarkan Firman Allah mengubah hidup mereka dan memberi kesempatan pada murid-murid

mereka untuk melihat bahwa Allah bekerja dalam diri mereka. Dengan kata lain, seorang guru

harus menjadi contoh kebenaran.


2. Hukum Pendidikan:


"Bagaimana Anda belajar menentukan bagaimana Anda mengajar." Oleh karena itu, guru yang

efektif akan terus menyediakan metode- metode tepat yang dikembangkan secara variatif

sehingga dapat mempertahankan minat yang tinggi dan mencegah kebosanan murid.


3. Hukum Aktivitas:
"Belajar yang maksimal adalah hasil dari keterlibatan yang maksimal." Bercerita tidak sama

dengan mengajar. Keanekaragaman metode-metode yang aktif harus digunakan untuk

melibatkan para murid supaya mereka dapat menemukan apa yang Tuhan katakan kepada

mereka melalui Firman-Nya.


4. Hukum Komunikasi:


"Untuk benar-benar mengimpartasi informasi perlu dibangun jembatan-jembatan." Jembatan-

jembatan itu perlu dibangun baik di dalam maupun di luar kelas. Dengan meluangkan waktu

bersama para murid di luar jam pelajaran, para guru akan mengenal muridnya dan mengetahui

kebutuhan mereka. Di dalam kelas, guru merangsang keingintahuan para murid, menarik

perhatian mereka, dan memotivasi para murid sebelum mengimpartasi informasi.


5. Hukum Hati:


"Pengajaran yang berhasil tidak hanya dari kepala ke kepala, tetapi dari hati ke hati." Hubungan

merupakan suatu hal yang penting dalam proses belajar mengajar yang efektif.


6. Hukum Dorongan Semangat:


"Pengajaran cenderung paling efektif jika orang yang belajar termotivasi dengan tepat." Tidak

ada hal yang lebih memotivasi daripada kesadaran akan adanya kebutuhan dan melihat harapan

bahwa kebutuhan itu akan terpenuhi. Guru yang efektif memberikan dorongan belajar dengan

memfokuskan pada relevansi kebenaran dan kehidupan para muridnya.


7. Hukum Kesiapan:
"Proses belajar mengajar akan paling efektif jika murid maupun guru cukup dipersiapkan."

Kesiapan para murid meliputi faktor- faktor, fisik, kognitif dan perkembangan rohani, latar

belakang, pengalaman, dan motivasi. Para guru harus menggunakan apa yang mereka ketahui

tentang murid-muridnya untuk menyiapkan mereka menerima kebenaran yang baru. Kesiapan

seorang guru bergantung pada persiapannya.



                                       PEMBAHASAN

Untuk menjawab bagaimana mewujudkan proses belajar mengajar (PBM) yang efektif, maka

perlulah mengetahui terlebih daulu permasalahan mendasar yang mempengaruhi PBM yang

efektif. Biasanya PBM dipengaruhi oleh factor-faktor berikut:


1. Guru


  Guru berperan sebagai agen of change dalam melakukan PBM yang efektif. Sebagai user guru

  dituntut untuk inovatif dan kreatif dalam merancang pembelajaran. Dengan demikian potensi

  SDM ini harus berkualitas, penuh motivasi, serta memiliki komitmen yang kuat terhadap

  perubahan kea rah yang lebih baik.


2. Siswa


  Siswa sebagai subjek atau pelaku PBM merupakan komponen penting dalam system

  pembelajaran. Dengan adanya karakter siswa yang beragam mengharuskan perancang

  program pembelajaran memiliki pengetahuan, pengalaman dan pemahaman yang baik tentang

  kondisi siswa. Keunikan pribadi siswa serta kemampuan awal siswa sangat berpengaruh

  terhadap proses belajar mengajar yang efektif.
3. Metode dan Media Pembelajaran


  Model-model dalam strategi pembelajaran memungkinkan siswa dapat menguasai kompetensi

  yang diharapkan secara efektif. Berbagai pendekatan atau strategi pembelajaran sudah

  merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan PBM yang efektif. Metode

  pembelajaran merupakan upaya guru dalam memfasilitasi siswa untuk mampu belajar secara

  baik.


4. Lingkungan


  Kondisi social ekonomi siswa serta keadaan lingkungan di sekitar sekolah dapat

  mempengaruhi PBM menjadi efektif. Suasana yang panas, dingin, ramai, sepi, atau sejuk

  dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran. Dalam hal ini termasuk kultur masyarakat sekitar

  juga mempengaruhi PBM dapat diwujudkan secara efektif.


5. Manajemen Sekolah


  Pengelolaan pendidikan yang bersandar pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang tepat

  akan mendorong domain PBM menjadi efektif. Dalam hal ini system penyelenggaraan

  pendidikan di sekolah dikelola secara professional dan berorientasi pada pelayanan siswa

  menjadi factor yang mempengaruhi PBM dapat efektif.


6. Pembiayaan


  Didukung dengan dana yang cukup, serta dukungan luas dari masyarakat dapatlah menjadi

  factor yang cukup signifikan dalam mewujudkan PBM yang efektif.
Pada kenyataannya, proses belajar mengajar merupakan sebuah pola yang harus dilakukan secara

sistematis dan kontinyu. Pola sistematis yang dimaksud adalah adanya grand design yang jelas

bagi guru dalam mengendalikan dan menjalankan proses belajar mengajar yang efektif. Berikut

pola yang harus dipahami dalam PBM agar pelaksanaannya dapat efektif.


                                        Perencanaan

                                        Indikator :?

                                        Pelaksanaan

                                        Indikator :?

                                     Evaluasi/Feedback

                                        Indikator :?



                                                                                    Pola
                                                                                  merancan
                                                                                   g PBM
                                        yang efektif

A. Perencanaan


Indikator yang harus diwujudkan dalam perencanaan adalah sebagai berikut :


1. Menetapkan tujuan pembelajaran. Pada tahap ini guru harus menetapkan kompetensi apa yang

  harus dikuasai oleh siswa setelah dilakukan pembelajaran.


2. Merancang metode pembelajaran. Pada langkah ini, guru melakukan inovasi yang kreatif cara

  atau metode apa yang harus dilakukan saat PBM berlangsung
3. Merancang media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan pendukung yang penting

  dalam memudahkan siswa untuk belajar.


4. Setelah dilakukan penetapan tersebut di atas tuangkanlah dalam adminsitrasi rencana

  pelaksanaan pembelajaran (RPP)


B. Pelaksanaan


Indikator yang harus diwujudkan dalam pelaksanaan adalah sebagai berikut :


1. Adanya peran aktif siswa (active participation)


2. Adanya wujud latihan yang untuk mengasah keterampilan siswa (practice)


3. Adanya umpan balik (feed back). Indikator ini dapat dilihat dari interaksi siswa dalam

  mengkritisi hasil belajar yang diperolehnya.


4. Adanya interaksi social (social interaction). Untuk mengetahui adanya interaksi social, dalam

  pembelajaran siswa berkomunikasi dan bekerjasama dengan siswa lain untuk saling menukar

  informasi dari hasil belajar.


C. Evaluasi/ Penilaian


Indikator yang harus diwujudkan dalam evaluasi adalah sebagai berikut :


1. Perilaku siswa berubah menjadi semangat dalam belajar


2. Hasil belajar menunjukkan kemampuan di atas KKM
3. Guru termotivasi untuk merancang metode pembelajaran yang baru


CARA BELAJAR YANG EFEKTIF

Ada salah satu cara dalam mengembangkan sistem belajar yang efektif dan efisien.

Sistem belajar ini dikenal dengan “ASPIRE”, yang terdiri dari :


Mood – Suasana Hati:


Ciptakan selalu mood yang positif untuk belajar. Ini bisa dilakukan dengan menentukan waktu,

lingkungan dan sikap belajar yang sesuai dengan pribadi kita masing-masing.


Understand – Pemahaman:


Tandai informasi bahan pelajaran yang tidak kita mengerti dalam satu unit. Fokuskan pada unit

tersebut atau melakukan beberapa kelompok latihan untuk unit itu.


Recall – Ulang:


Setelah belajar satu unit, berhentilah dan ulang bahan dari unit tersebut dengan kata-kata yang

kamu buat sendiri.


Digest – Telaah:


Kembalilah pada unit yang tidak kita mengerti dan pelajari kembali keterangan yang ada.

Lihatlah informasi yang terkait pada artikel, buku teks atau sumber lainnya, atau diskusikan

dengan teman atau guru.
Expand – Kembangkan:

Pada langkah ini, tanyakan tiga persoalan berikut terhadap materi yang telah kamu pelajari:


      Andaikan saya bertemu dengan penulis materi tersebut, pertanyaan atau kritik apa yang
       hendak saya ajukan?
      Bagaimana saya bisa mengaplikasikan materi tersebut ke dalam hal yang saya sukai?
      Bagaimana saya bisa membuat informasi ini menjadi menarik dan mudah dipahami oleh
       siswa/mahasiswa lainnya?

Review – Pelajari Kembali:


Pelajari kembali materi pelajaran yang sudah dipelajari. Ingatlah strategi yang telah membantu

kamu mengerti dan/atau mengingat informasi. Jadi, terapkan strategi tersebut untuk cara

belajarmu berikutnya.


CARA MENGAJAR YANG EFEKTIF

Cara mengajar yang efektif terletak pada kunci – kunci di bawah ini, yaitu :

a. Proses belajar mengajar yang menyenangkan


  Belajar yang menyenangkan tentu saja akan membuat anak tertarik dan tidak akan membuat

  mereka jenuh. Terutama bagi anak usia dini. Lebih baik untuk menunda kegiatan belajar

  apabila kita belum bisa menciptakan suasana menyenangkan bagi anak. Karena apabila kita

  memaksa anak untuk belajar dalam situasi yang menegangkan, hal itu dapat membuat anak

  frustasi dan menjadi tidak mau belajar, karena merasa trauma dan ketakutan.


  Pemaksaan bahkan bisa melumpuhkan sel syaraf yang terdapat di otak anak.

  Setiap pendidik pasti mengharapkan agar anak mendapatkan hasil belajar yang optimal, dan

  hal itu hanya akan didapatkan apabila anak mempunyai ketertarikan pada apa yang kita
   ajarkan. Caranya yaitu dengan belajar sambil bermain, bercerita, bernyanyi dan lain

   sebagainya. Alat peraga : coklat warna warni.


b. Kasih Sayang


   “Kasih sayang melahirkan kecerdasan”, hasil dari sebuah penelitian telah membuktikan

   bahwa pembentukan otak dan perasaan sangat terikat erat pada kasih sayang yang diberikan

   kepadanya semasa ia berada di dalam kandungan sampai kasih sayang yang ia dapatkan

   setelah            ia            lahir           dan            tumbuh              dewasa.

   “Autis” adalah salah satu contoh sebagai akibat dari kurangnya kasih sayang. (Autis terjadi

   akibat kurang terhubungkannya syaraf –syaraf di pusat otak yang berisi emosi yang mengisi

   gerakan rasional dan pikiran logis). Hilangnya perasaan cinta pada awal kehidupan juga dapat

   melemahkan kekuatannya dan membuat pengaruh yang fatal pada otak. Pernyataan ini

   diperkuat oleh hasil penelitian bahwa ukuran otak anak yang jarang tersiram kasih sayang dan

   jarang diajak bermain lebih kecil 30% daripada anak normal pada usia yang sama.


c. Disiplin


   Disiplin merupakan salah satu elemen penting agar terciptanya efektifitas belajar. Namun

   disiplin juga harus diterapkan secara konsisten dan ber”sinergi”. Konsisten atau istiqomah

   diperlukan dalam proses penerapan disiplin. Hilangnya konsistensi akan menghancurkan

   upaya kita dalam menegakkan disiplin.Satu contoh ,misalnya kita menginginkan satu bentuk

   tertentu pada sebuah pohon. Kita dapat membentuknya dengan mengikat dahan pohon

   tersebut dengan tali atau kawat. Namun bayangkan apa yang akan terjadi apabila dalam waktu

   yang singkat kita telah membuka ikatan itu ? tentu dahan pohon yang diikat tadi akan kembali
  seperti keadaan semula, bahkan mungkin akan bergerak lebih jauh dari posisi semula. Akan

  tetapi dengan kesabaran dan ketelatenan kita akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan

  keinginan kita. Itulah sebabnya kenapa pendidikan harus dilakukan secara bertahap, sedikit

  demi sedikit sampai anak memahami apa yang kita ajarkan. Karena pendidikan adalah sebuah

  proses yang sangat panjang dan tak berujung. Alat peraga : tanaman.


d. Hukuman dan Ganjaran


  Hukuman dapat diterapkan apabila anak tidak mematuhi aturan yang telah disepakati / tidak

  disiplin,    dengan     tujuan     agar      anak    tidak    mengulangi      perbuatannya.

  Ganjaran / hadiah diberikan kepada anak ketika anak berhasil melakukan perbuatan yang baik

  (menurut norma agama ataupun norma yang berlaku di masyrakat), dengan tujuan untuk

  memotivasi anak agar mereka mempertahankan bahkan meningkatkan perilaku baiknya

  menjadi lebih baik.




                                       KESIMPULAN

Proses belajar mengajar yang efektif harus dilakukan dengan memanfaatkan hal-hal berikut :


1. Memahami perencanaan dalam PBM berupa penanaman tujuan pembelajaran yang harus

  dikuasai sebagai kompetensi hasil belajar.


2. Menguasai pelaksanaan PBM berupa terampil mengaplikasikan desain sistem pembelajaran

  dengan berbagai metode dan pertimbangan penguasaan psikologi pembelajaran.
3. Menguasai system evaluasi untuk menghasilkan feed back dan refleksi bagi kegiatan

  pembelajaran selanjutnya.


Faktor yang paling dominan dalam mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif itu berada

pada sumber daya manusia (guru) yang berkualitas, memiliki motivasi yang tinggi, serta

komitmen yang kuat untuk membangun pendidikan yang bermutu. Selain itu penyebab lain

dalam PBM yang efektif itu adalah kesiapan dan input siswa, factor lingkungan sekolah, serta

pembiayaan dan dukungan masyarakat yang cukup siginifikan.


Proses belajar mengajar dengan melakukan proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi

pembelajaran serta memahami faktor yang mempengaruhi PBM akan efektif karena proses

belajar mengajar yang efektif tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan

secara mikro. Disamping itu, PBM yang efektif bermanfaat bagi standar pelayanan pendidikan

tempat dimana penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan.
       Dalam keseluruhan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah berlanglsung

interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar yang merupakan kegiatan

paling pokok. Jadi proses belajar mengajar merupakan proses kegiatan interaksi antara

dua unsur manusiawi yakni siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak

yang mengajar. Dalam proses interaksi tersebut dibutuhkan komponen pendukung (ciri-

ciri interaksi edukatif) yaitu (1) Interaksi belajar mengajar memiliki tujuan : yakni untuk

membantu anak dalam suatu perkembangan tertentu. Interaksi belajar mengajar sadar

tujuan, dengan menempatkan siswa sebagai pusat perhatian siswa mempunyai tujuan,

(2) Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk

mencapai tujuan yang telah dilaksanakan. Dalam melakukan interaksi perlu adanya

prosedur, atau langkah-langkah sistematik yang relevan, (3) Interaksi belajar mengajar

ditandai dengan satu penggarapan materi yang khusus. Materi didesain sehingga dapat

mencapai tujuan dan dipersiapkan sebelum berlangsungnya interaksi belajar mengajar,

(4) Ditandai dengan adanya aktivitas siswa. Siswa sebagai pusat pembelajaran, maka

aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya interaksi belajar

mengajar, (5) Dalam interaksi belajar mengajar guru berperan sebagai pembimbing.

Guru memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi dan sebagai mediator dan

proses belajar mengajar, (6) dalam interaksi belajar mengajar membutuhkan disiplin.

Langkah-langkah yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah ditentukan, (7)

Ada batas waktu. Setiap tujuan diberi waktu tertentu, kapan tujuan itu harus dicapai, (8)
Unsur penilaian. Untuk mengetahui apakah tujuan sudah tercapai melalui interaksi

belajar mengajar.( Titin, 2003:10)

      Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam mengelola interaksi belajar mengajar guru

harus memiliki kemampuan mendesain program, menguasai materi pelajaran, mampu

menciptakan kondisi kelas yang kondusif, terampil memanfaatkan media dan memilih

sumber, memahami cara atau metode yang digunakan, memiliki keterampilan

mengkomunikasikan program serta memahami landasan-landasan pendidikan sebagai

dasar bertindak.

      Ketika sedang mengajar di depan kelas, terjadi dua proses yang terpadu yaitu

proses belajar mengajar. Seorang pengajar dapat mengartikan belajar sebagai kegiatan

pengumpulan fakta atau juga dapat dikatakan bahwa belajar merupakan suatu proses

penerapan prinsip.

      Gagne (dalam Abdillah dan Abdul,1988 :17) mengatakan bahwa belajar

merupakan suatu proses yang dapat dilakukan oleh makhluk hidup yang

memungkinkan makhluk hidup ini merubah perilakunya cukup cepat dalam cara kurang

lebih sama, sehingga perubahan yang sama tidak harus pada setiap situasi baru.

Sedangkan Dahar (1988 :11) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses dimana

organisme perilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar bukanlah menghafalkan

fakta-fakta yang terlepas-lepas, melainkan mengaitkan konsep yang baru dengan konsep

yang telah ada dalam struktur kognitif, atau mengaitkan konsep pada umumnya menjadi

proposisi yang bermakna.

      Merujuk pada kaum kontruktivis bahwa belajar merupakan proses aktif dalam

mengkonstruksi arti teks, dialog, pengalaman fisik, dll. Lebih lanjut dikemukakan bahwa
belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman

atau apa yang dipelajari dengan apa yang sudah dipunyai seseorang. (Suparno P , 1997

:61)

       Berdasarkan beberapa pendapat tentang belajar tersebut dapat disimpulkan

bahwa belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu secara sadar

untuk memperoleh perubahan tingkah laku tertentu baik yang dapat diamati secara

langsung maupun yang tidak dapat diamati secara langsung sebagai pengalaman

(latihan) dalam interaksinya dengan lingkungan. Atau dapat dikatakan bahwa belajar

sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif

dengan lingkungan dan menghasilkan perubahan dalam pengetahuan dan pemahaman,

keterampilan serta nilai-nilai dan sikap.

       Belajar IPA dalam kerangka pengajaran dan pendidikan di sekolah adalah proses

aktivitas siswa arahan dan bimbingan untuk mempelajari materi mata pelajaran IPA.

Melalui kegiatan belajar IPA siswa diharapkan memperoleh pengertian tentang fakta-

fakta, konsep IPA, prinsip, hukum, metode ilmiah dan sikap ilmiah serta saling

keterkaitan antar komponen-komponen itu. Selanjutnya semua hal yang dipelajari

tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata dan dapat digunakan

untuk mempelajari perkembangan sains dan teknologi.

       Mengajar bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa,

melainkan    suatu   kegiatan    yang       memungkinkan   siswa   membangun   sendiri

pengetahuannya. Mengajar berarti partisipasi dengan siswa dalam membentuk

pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan
justifikasi. Jadi mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri (Bettencournt, 1989 dalam

Suparno P,1997 :65).

       Proses belajar harus tumbuh dan berkembang dari diri anak sendiri, dengan kata

lain anak-anak yang harus aktif belajar sedangkan guru bertindak sebagai pembimbing.

Pandangan ini pada dasarnya mengemukakan bahwa mengajar adalah membimbing

kegiatan belajar anak. ”Teaching is the guidance of learning activities, teaching is for the

purpose of aiding the pupil learn” ……. ( Hamalik ,2002:58).

       Sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar mengajar merupakan proses kegiatan

komunikasi dua arah. Proses belajar mengajar merupakan kegiatan yang integral

(terpadu) antara siswa sebagai pelajar yang sedang belajar dengan guru sebagai

pengajar yang sedang mengajar. Selanjutnya proses belajar mengajar merupakan aspek

dari proses pendidikan.

       Berdasarkan orientasi proses belajar mengajar siswa harus ditempatkan sebagai

sujek belajar yang sifatnya aktif dan melibatkan banyak faktor yang mempengaruhi,

maka keseluruhan proses belajar yang harus dialami siswa dalam kerangka pendidikan

di sekolah dapat dipandang sebagai suatu sistem, yang mana sistem tersebut merupakan

kesatuan dari berbagai komponen (input) yang saling berinteraksi (proses) untuk

menghasilkan sesuatu dengan tujuan yang telah ditetapkan (output).

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:1095
posted:5/24/2011
language:Indonesian
pages:35