Pengaruh Iklim Pada Pembentukan Tanah
Document Sample


TUGAS TERSTRUKTUR
DASAR ILMU TANAH
IKLIM
Disusun oleh
Nama : Gusti Alif Prassojo
NIM : A1C010102
Kementrian Pendidikan Nasional
Universitas Jendral Soedirman
Universitas Pertanian
2010
BAB I
PENDAHULUAN
Pedosfer atau lapisan tanah terdapat pada litosfer ( lapisan paling luar bumi ). Proses
pembentukan tanah beserta faktor-faktor pembentuknya, klasifikasi tanah, survei tanah dan cara
pengamatan tanah disebut dengan ilmu Pedologi
• Menurut Dokuchaiev
Tanah adalah bentukan mineral dan organik di permukaan bumi, sedikit atau
banyakdiwarnai oleh humus, secara tetap menyatakan diri sebagai hasil kegiatan kombinasi
bahan seperti jasad, bahan induk, iklim dan relief.
• Menurut Sprengel
Tanah adalah suatu masa bahan yang berasal darimineral yang mengandunghasil
dikomposisis (penghancuran) hewan dat tumbuhan.
• Menurut Fredrich Fallou
Tanah dianggap sebagai hasil pelapukan oleh yang menggerogoti batuan keras planet kita
dan lambat laun mengadakan bikomposisi massa tanah yang kompak.
• Menurut M. Isa Darmawijaya
Tanah adalah akumulasi alam bebas, menduduki sebagian besar permukaan planet
bumiyang mampu menumbuhkan tanaman dan memiliki sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan
jasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk, dalam keadaan relief tertentu selama jangka
waktu tertentu pula.
Kebanyakan tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral (kuarsa, feldspar, mika,
hornblende, kalsit, dan gipsum), meskipun ada yang berasal dari tumbuhan (gambut/peat;
Histosol)
Tanah adalah material yang tidak padat yang terletak di permukaan bumi, sebagai media
untuk menumbuhkan tanaman (SSSA, Glossary of Soil Science Term) Jenny, H (1941) dalam
buku Factors of Soil Formation : tanah terbentuk dari interaksi banyak faktor, dan yang
terpenting adalah : bahan induk (parent material); iklim (climate), organisme (organism)’;
topografi (Relief); waktu (time).
s = f (cl, o, r, p, t, ….)
Jika 1 faktor saja yang mempengaruhi sedang yang lain konstan, misal iklim yang
mempengaruhi pembentukan tanah maka fungsi tersebut dapat ditulis :
S atau s = f (cl) o,r,p,t,…..
1. Iklim
Unsur-unsur iklim yang mempengaruhi proses pembentukan tanah terutama ada dua,
yaitu suhu dan curah hujan.
a. Suhu/Temperatur
Suhu akan berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk. Apabila suhu tinggi,
maka proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah akan
cepat pula.
b. Curah hujan
Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah,
sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah
menjadi rendah).
2. Organisme (Vegetasi, Jasad renik/mikroorganisme)
Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam hal:
a. Membuat proses pelapukan baik pelapukan organik maupun pelapukan kimiawi.
Pelapukan organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan
tumbuhan), sedangkan pelapukan kimiawi adalah pelapukan yang terjadi oleh proses
kimia seperti batu kapur larut oleh air.
b. Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan menghasilkan dan
menyisakan daun-daunan dan ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah.
Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan jasad renik/mikroorganisme
yang ada di dalam tanah.
c. Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah
beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan dapat membentuk
tanah. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan
vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak kandungan bahan
organis yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.
d. Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap
sifat-sifat tanah. Contoh, jenis cemara akan memberi unsur-unsur kimia seperti Ca,
Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara derajat
keasamannya lebih tinggi daripada tanah di bawah pohon jati.
3. Bahan Induk
Bahan induk terdiri dari batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen (endapan), dan
batuan metamorf.
Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan mengalami
pelapukan dan menjadi tanah.
Tanah yang terdapat di permukaan bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat
kimia) yang sama dengan bahan induknya. Bahan induknya masih terlihat misalnya tanah
berstuktur pasir berasal dari bahan induk yang kandungan pasirnya tinggi. Susunan kimia
dan mineral bahan induk akan mempengaruhi intensitas tingkat pelapukan dan vegetasi
diatasnya. Bahan induk yang banyak mengandung unsur Ca akan membentuk tanah
dengan kadar ion Ca yang banyak pula sehingga dapat menghindari pencucian asam
silikat dan sebagian lagi dapat membentuk tanah yang berwarna kelabu. Sebaliknya
bahan induk yang kurang kandungan kapurnya membentuk tanah yang warnanya lebih
merah.
4. Topografi/Relief
Keadaan relief suatu daerah akan mempengaruhi:
a. Tebal atau tipisnya lapisan tanah
Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit lapisan tanahnya lebih tipis
karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi
sedimentasi.
b. Sistem drainase/pengaliran
Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya
menjadi asam
5. Waktu
Tanah merupakan benda alam yang terus menerus berubah, akibat pelapukan dan
pencucian yang terus menerus. Oleh karena itu tanah akan menjadi semakin tua dan
kurus. Mineral yang banyak mengandung unsur hara telah habis mengalami pelapukan
sehingga tinggal mineral yang sukar lapuk seperti kuarsa.
BAB II
IKLIM
Iklim adalah rata-rata cuaca semua energi untuk membentuk tanah datang dari matahari
berupa penghancuran secara radio aktif yang menghasilkan gaya dan panas. Enegi matahari
menyebabka terjadinya fotosintesis (asimilasi) pada tumbuhan dan gerakan angin menyebabkan
transfirasi dan evaforasi (keduanya disebut evafotranspirasi). Akibat langsung dari gerakan angin
terhadap pembentukan tanah yaitu berupa erosi angin dan secara tidak langsung berupa
pemindahan panas. Komponen iklim yang utama adalah curah hujan dan suhu (temperatur).
Faktor pembentukan tanah melalui iklim meliputi curah hujan dan suhu.
• Curah Hujan
Pada umumnya makin banyak curah hujan maka keasaman tanah makin tinggi atau pH
tanah makin rendah, karena banyak unsur-unsur logam alkali tanah yang terlindi misalnya, Na,
Ca, Mg, dan K, dan sebaliknya makin rendah curah hujan maka makin rendah tingkat keasaman
tanah dan makin tinggi pH tanah. Makin lembab suatu tanah maka makin jelek aerasinya dan
juga sebaliknya, hal ini desebabkan karena adanya pergantian antara air dan udara dalam tanah.
• Suhu (temperatur)
Suhu sangat berpengaruh bagi proses pembentukan tanah meliputi evapotranspirasi yang
meliputi gerak air di dalam tanah, juga meliputi reaksi kimia bilamana suhu makin besar maka
makin cepat pula reaksi kimia berlangsung.
Climosequence : pembentukan tanah yang hanya dipengaruhi oleh faktor iklim, sedang
faktor yang lain konstan. Istilah yang sama untuk Biosequences, toposequences, lithosequences,
dan chronosequences. Tanah dapat terbentuk dari pelapukan batuan padat (insitu) atau
merupakan deposit dari material/partikel yang terbawa oleh air, angin, glasier (es), atau gravitasi.
Apabila material yang terbawa tersebut masuk ke lahan (land), maka disebut landform.
Penamaan landform berdasar pada cara transport maupun bentuk akhir. Contoh : Alluvial
berasal dari aliran air; morain berasal dari gerakan es dan membeku; dunes berasal dari gerakan
angin thd pasir; colluvium berasal dari gravitasi.
Batuan akan terlapukkan secara fisik disebut : disintegrasi (disintegration), maupun secara
kimia disebut : dekomposisi (decomposition/decayed) dan diubah menjadi material yang lebih
halus. Secara fisik misalnya pengaruh suhu, tekanan, akar tanaman. Secara kimia yang sangat
berperan adalah keberadaan air, misal hidrolisis, oksidasi, reduksi, dehidrasi, dll.
Laju pelapukan tergantung pada : (1) temperatur; (2) laju air perkolasi; (3) status oksidasi
dari zona pelapukan; (4) luas permukaan bahan induk yang terekspose; (5) jenis mineral.
Mineral adalah substansi inorganik yang homogen dengan komposisi tertentu, dan
mempunyai ciri fisik berupa ukuran, warna, titik leleh, dan kekerasan. Mineral dapat
digolongkan sebagai mineral primer maupun mineral sekunder.
Tipe batuan ada 3 yaitu : (1) batuan beku (igneous rock), (2) batuan sedimen (sedimentary
rock), (3) batuan metamorfosis (metamorphic rock)
Batuan beku berasal dari pemadatan magma yang membeku. Dibagi menjadi batuan asam
(acidic rock) : relatif tinggi kandungan kuarsa; mineral silikat warna terang Ca atau K/Na dan
batuan basa (basic rock) : rendah kandungan kuarsa; kandungan mineral ferromagnesium warna
gelap (hornblende, mika, piroksin) tinggi.
BAB III
DAFTAR PUSTAKA
Foth, D.H. 1998. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press :
Yogyakarta.
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah Cetakan 1. Mediyatama Sarana Perkasa :
Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1993. Klasifikasi Tanah Dan Redogenesis. Akedemika
Presindo : Jakarta.
Rachim, Djunaedi A. 2002. Morfologi Dan Klasifikasi Tanah. IPB : Bogor
Get documents about "