Docstoc

makalah

Document Sample
makalah Powered By Docstoc
					             TUGAS MAKALAH
           ILMU BUDAYA DASAR
                  JUDUL
MEMBERI PENILAIAN YANG ADIL TERHADAP SISWA




                 Disusun oleh :

                 KELOMPOK
                                 KATA PENGANTAR

       Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Memberi penilaian yang
adil terhadap siswa”.

       Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk
menyelesaikan tugas mata pelajaran Ilmu Budaya Dasar Fakultas Keilmuan Ilmu Pendidikan
Universitas Mulawarman.

       Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan
baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki
penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi
penyempurnaan pembuatan makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini, khususnya kepada :

   1. Ibu Nesaci Selaku Kepala Sekolah SMP Negeri Nesaci Ciawi Tasikmalaya serta
       segenap jajarannya yang telah memberikan kemudahan-kemudahan baik berupa moril
       maupun materiil selama mengikuti pendidikan di SMP Nesaci Ciawi Tasikmalaya.
   2. Bapak Nesaci, Ph.D., selaku Wali Kelas X SMPN Nesaci Ciawi Tasikmalaya
   3. Ibu Nesaci, S.Pd. selaku Guru Mata Pelajaran yang telah meluangkan waktu, tenaga
       dan pkiran dalam pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka
       penyelesaian penyusunan makalah ini
   4. Rekan-rekan Mahasiswa kelompok 5
   5. Secara khusus penulis menyampaikan terima kasih kepada keluarga tercinta yang
       telah memberikan dorongan dan bantuan serta pengertian yang besar kepada penulis,
       baik selama mengikuti perkuliahan maupun dalam menyelesaikan makalah ini
   6. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberikan
       bantuan dalam penulisan makalah ini.

       Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada
mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai
ibadah, Amiin Yaa Robbal „Alamiin.
                                 DAFTAR ISI



HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR        ……………………………………………………………………………………………………….         i

DAFTAR ISI            ……………………………………………………………………………………………………….         iii

BAB. 1. PENDAHULUAN

       1.1. Latar Belakang Masalah……………………………………………………………………………………..   1
       1.2. Perumusan Masalah…………………………………………………………………………………………..      3

BAB. II. PEMBAHASAN

       2.1. Fenomena Nilai…………………………………………………………………………………………………..      4

       2.2. Konsep Nilai………………………………………………………………………………………………………..      6

DAFTAR PUSTAKA
                                         BAB I
                                   PENDAHULUAN


1.1    Latar Belakang Masalah

       Banyak guru yang belum mampu mengukur dan menilai siswa secara terbuka, valid,
dan autentik sehingga tidak dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasinya.
Bahkan, banyak guru yang hanya menilai sambil lalu, mengarang skor, dan menggunakan
ilmu asal tulis skor. Seharusnya guru dapat akurat dan adil dalam memberikan penilaian
dengan cara(a) Memanfaatkan berbagai bukti hasil kerja siswa dari sejumlah penilaian yang
dilakukan dengan berbagai strategi dan cara, dan (b) Membuat keputusan yang adil terhadap
penguasaan yang adil terhadap penguasaan kemampuan siswa dengan mempertimbangkan
hasil kerja yang dikumpulkan.

       Penilaian kelas mempunyai pengaruh langsung pada pembelajaran. Hasil penilain
yang digunakan oleh guru guru dapat dijadikan dasar bagi pengambil keputusan mengenai
keefektifan program pendidikan secara umum. Ini merupakan kemampuan dan keterampilan
guru sebagai individu. Kualitas keputusan guru ditentukan oleh bagaimana mereka dapat
menyimpulkan apa yang dibutuhkan peserta didik.

       Untuk melaksanakan KTSP, guru sebaiknya menggunakan penilaian berbasis kelas
yang memandu keterlaksanaan pembelajaran di kelas. Authentik assessment (penilaian yang
sebenarnya) menjadi acuan dalam penilaian di kelas, artinya penilaian tentang kemajuan
belajar siswa diperoleh di sepanjang proses pembelajaran. Oleh karena itu penilaian tidak
hanya dilakukan pada akhir periode tetapi dilakukan secara terintregrasi dari kegiatan
pembelajaran dalam arti kemajuan belajar dinilai dari proses bukan semata-mata hasil.

        Asesmen kelas suatu istilah umum yang meliputi prosedur prosedur yang digunakan
untuk memperoleh informasi tentang pembelajaran peserta didik (pengamatan, tingkat
performans,   tes   tertulis)   untuk   dijadikan   pertimbangan   pemberian   nilai    dengan
memperhatikan kemajuan belajarnya (Linn dkk., 1995: 5).

        Penilaian harus mencakup tiga aspek kemampuan, yaitu kognitif, afektif, dan
psikomotor yang dapat berbentuk tes tertulis, performance, penugasan, atau proyek, dan
portofolio. Penilaian kognitif semata-mata menilai sejauh mana seorang siswa memiliki
pengetahuan terhadap fakta, konsep, dan teori. Penilaian ketrampilan mengukur kemampuan
motorik siswa dalam ”bekerja ilmiah” mengikuti langkah-langkah yang harus dilakukan
dalam melakukan kegiatan.

        Tujuan dari penilaian adalah untuk mengukur seberapa jauh tingkat keberhasilan
proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, dikembangkan dan ditanamkan di sekolah
serta dapat dihayati, diamalkan/diterapkan, dan dipertahankan oleh siswa dalam kehidupan
sehari-hari. Di samping itu penilaian juga bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh
keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, yang digunakan sebagai
feedback/umpan balik bagi guru dalam merencanakan proses pembelajaran selanjutnya. Hal
ini dimaksudkan untuk mempertahankan, memperbaiki dan menyempurnakan proses
pembelajaran yang dilaksanakan (Sudjana, 2002: 2). Penilaian ini harus dilakukan secara
jujur, dan transparan agar dapat mengungkap informasi yang sebenarnya (Mulyasa, 2002:
183).

        Bahwa nilai tak merangkum objek-objek seni, barang-barang berharga atau pribadi
langka ampuh terbatas, atau tokoh-tokoh dunia politis terbatas, atau pula terkait dengan
agama, kebudayaan dan seterusnya serta transenden. Namun, ternyata kategori ilmu itu
merangkum semuanya meliputi sehala hal, tindak, pribadi, harta ekonomi, harta rohani dan
seterusnya untuk apa yang ada tersebut, secara fenomologis bias dikatakan bahwa semuanya
bernilai ( ingat Thomas yang menggunakan term Aristoteles : “yang baik” itu adalah yang
diinginkan oleh semuanya karena punya alas an baik (Summa The ologie I,6,2 ad 2 m)).
Misalnya, bagi seorang analis rumah sakit, yang “bernilai” adalah sepercik urin atau darah
yang sedang diperiksa dibawah mikroskop; bagi seorang kolektor lukisan yang bernilai
adalah lukisan, dst. Dari pengamatan tersebut, bahwa nilai itu berkategori transenden artinya
nilai mampu dikerangkakan pada bermacam-macam objek. Ada sebuah “ super kategori”
didalam nilai. Karena itu, jalan terbaik untuk sampai ke unsur-unsur esensial nilai hanya bias
ditempuh melalui jalan “verficare”(verfikasi), artinya secara formal dan mendasar bertanya
apa itu unsur-unsur esensi nilai, apa yang sedalam-dalamnya member “sesuatu hasil itu” nilai
sehingga layak dikagumi




1.2    Perumusan Masalah
       1. Nilai-nilai pra manusiawi ( pra-hukum )
           Yang berlaku untuk manusia tetapi yang membuatnya manusiawi (nilai-nilai
           hedonis dan biologis)
       2. Nilai-nilai manusiawi pra-moral (human value pra-moral)
           Berkaitan dengan kepentingan social atau cultural yaitu : nilai-nilai ekonomis,
           intelektual,nilai-nilai estetis.
       3. Nilai-nilai moral (moral values)
           Meliputi nilai-nilai yang merupakan tindak pelaksanaan kebebasan dalam
           realisasinya terhadap kewajiban (duty) dan kebaikan.
                                           BAB II
                                        PEMBAHASAN


2.1       Fenomena Nilai
Fenomena nilai banyak dikaji oleh para filosof seperti filsuf A. Lalande (lih, Dizionario
Critico Di Filosofia, ISEDI Milano, 1971, hlm. 966-967) membagi arti nilai dalam dua garis
besar :
a. Arti objektif, disini nilai berarti sifat khas, watak khusus hal, benda atau apasaja yang
      membuat hal tersebut lebih atau kurang layak dihargai, dinilai dan dimuliakan (stimare).
b. Arti subjektif nilai : cirri khas tersebut yang membuatnya lebih atau kurang dihargai oleh
      si subjek atau sekelompok ( yang sedang menilai hal tersebut ).
Selanjutnya Lalande menjelaskan ada kesulitan dalam merumuskan arti dan nilai , hal ini
terjadi karena sering ungkapan katanya sudah menunjukan proses “penilaian” dan cirri khas
yang ada pada hal/benda tersebut dengan apa yang diharapkan, disita-citakan oleh subjek
penilai ( dari fakta ke yang seharusnya, dari what is ought to be dan seterusnya ). Sulitnya ,
banyak filsuf-filsuf kini mencampurkan ukuran fakta “bernilai secara objektif sebagai yang
factual melekat pada hal tersebut dengan fenomena-fenomena penilai subjektif ( perasaa,
keninginan, sublimasi naluri, cita-cita dan seterusnya ). Dari situ sebenanya nilai-nilai itu
memang disatu pihak punya dasar-dasar objektif ( dari cirinya sendiri sebagai “ yang Indah”
yang muncul sebagai baik) seperti yang diperjuangkan kaum realistis. Di pihak lain, ada pula
unsure-unsur dasar subjektifnya, seperti para fenomolog. Inilah fenomena-fenomena yang
sampai kini bias dipaparkan bila orang berbicara tentang NILAI ( Sutrisno, 1993:83).
1. Selanjutnya Sutrisno ( 1993 : 84-89 ) melakukan eksplorasi fenomena-fenomena nilai
   sebagai berikut :
   a. Unsur konstruktif yang membuat sesuatu itu bernilai
   b. Unsur berasal dari objek, yaitu :
       1.) Factor unsure kegunaan/manfaat
       2.) factor unsure kepentingan (importance)
   c. Unsur berasal/bersumber dari subjek yaitu :
       1.) unsure kebutuhan (need)
       2.) unsure penilaian,penafsiran,penghargaan (estimasi)
Kesimpulan diatas ditunjuk dari contoh fenomena :
Kasus A :
“anjing pemburu” sebagai objek material dari unsure objek (si anjing). Kita punya
sasaran :
ad.a) Kegunaan. Si anjing tidak dipandang bernilai dari dirinya sendiri, tetapi bernilai karena
ada kaitan dengan “manfaat memelihara anjing” yaitu misalnya : untuk memburu kelinci (
penjagaan rumah dan seterusnya). Jadi , nilai diukur dari kategori objek kegunaan di anjing
sebagai alat yang berguna untuk mencapai sesuatu.
Ad.b) dari segi si subjek (pemilik anjing), ada kebutuhan untuk berburu, menjaga rumah, dan
menuruti hobi.
Ad.c) Dari segi subjek,ada penilaian apakan si objek (anjing) sungguh “bernilai” positif
dalam memenuhi kebutuhan si subjek.


Kasus B :
Kegiatan (yang bernilai) misalnya: memainkan piano, melukis. Menyuarakan atau
memainkan alat music merupakan kegiatan yang dihargai dan dinilai, baik oleh siswa music
aaupun musikus lain. Mereka tiap hari mengembangkannya, berusaha makin memahirkan diri
dengan latihan terus, dengan ujian tes bertanya pada guru dst. Juga disini : dari objek (music)
bias ditemukan objektif “manfaat”, kepuasan memainkan piano dan si subjek membutuhkan (
demi memenuhi bakat musiknya), serta ada “penilaian” pas tidaknya hasil “permainan piano”
itu dengan semua yang ingin dia penuhi.


Kasus C :
Ideal atau cita-cita tinggi misalnya, kebaikan. Semua orang ingin menjadi baik mulai dari
bayi,remaja,dewasa sampai orang tua, mereka berusaha hidup dan menjadi lebih baik. Untuk
mereka “kebaikan” itu kemudian menjadi nilai penting dan utama dimana mereka mau
mendapatnkannya, merangkulnya.
Untuk kasus C ini, nilai muncul dalam unsure nilai “asioligis” tingkat spiritual, moral. Dan
disinipun empat factor penyusun nilai tetap berlaku yaitu : ada unsure kegunaannya ( untuk
menjadi baik lalu disukai dst) ada unsure keinginan, kebutuhan, kehendak dari subjek (untuk
menjadi baik, untuk menjadi makin sempurna, makin teliti sebagai orang) dan ada unsure
penilaiaan si subjek: tersapaikah atau sudah tepatkah langkah-langkahnya, masih jauhkah dari
“baik” dst.
Jadi, untuk berbicara tentang fenomena NILAI, kita sudah melihat empat unsure poko
penyusunnya yang saling berkait, yaitu :
a.   Manfaat (utility)
b.   Keperluan/pentingnya (importance)
c.   Penilaian/kebutuhan (estimation)
d.   Kebutuhan (need)


Selanjutnya Sutrisno (1993:87) menjelaskan pembagian nilai (the division of values) sebagai
berikut :
Pembagian NILAI-NILAI (klasifikasi). Klasifikasi pertama,antara hakiki :
1.   Nilai intrinsic (ontologis)
     Yaitu harga yang dipandang vital,penting demi “adanya” si benda/hal tersebut.
     Misalnya, dynamo untuk mobil.
2.   Nilai ekstrinsik
     Adalah kualitas bagi suatu hal yang dipandang berguna, perlu , menarik, demi
     kelangsungan adanya yang lain. Misalnya obatmerupakan nilai ekstrinsik bagi orang
     yang sakit
(Catatan)
Nilai ontologism yang hanya berharga demi dan untuk kodrat adanya hal tersebut
Nilai logis yang berkait dengan kesesuaian antara ide (pengertian) dengan hal yang
mewakilinya.
Ad.1) Nilai intrinsic :
        Di dalam ada unsure utilitas (kegunaan), kepentingan dan penilaian hal yang
        mewakilinya.
Ad.2) Nilai Ekstrinsik
          Dimensial ekstensial hal-hal untukku (subjek). Adanya benda-benda itu untukku.
          Misalnya, obat untuk orang yang sehat tidak bernilai. Orang sakit yang tau kegunaan
          obat itu juga memandang tak bernilai. Obat itu hanya berharga bila diketahui dengan
          pasti bahwa obat untuk si pasien X itu akan berguna untuk menyembuhkan
          penyakitnya.


2.2       Konsep Nilai
Batasan nilai dapat mengacu pada berbagai hal seperti minat,kesukaan, pilihan, kewajiban
agama, kebutuhan,keamanan,hasrat,keengganan,atraksi (daya tarik), dan hal-hal lain yang
berhubungan dengan perasaan dari orientasi seleksinya (Pepper, 1958:7). AKan tetapi, segala
sesuatu yang sifatnya merupakan manifestasi perilaku reflex atau hasil proses kimia di dalam
tubuh, itu bukan nilai. Rumusan nilai dapat diperluas atau dipersempit. Rumusan nilai yang
luas dapat meliputi selutruh perkembangan dan kemungkinan unsure-unsur nilai, perilaku
yang sempit diperoleh dari bidang keahlian tertentu, seperti dari satu disiplin kajian ilmu
social.
Sebagai bahan perbandingan dan untuk menambah wawasan pengertian tentang nilai,ada
beberapa pendapat debagai berikut :
1. Pepper (1958 :7) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau
      yang buruk.
2. Perry (1954) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia
      sebagai subjek
3. Kohler (1938) mengatakan bahwa manusia tidak berbeda didunia ini, semua tidak dapat
      berhenti hanya dengan sebuah pandangan (maksud) factual dari pengalaman yang
      berlaku.
4. Kluckhohn (1951:399) mengatakan bahwa definisi nilai yang diterima sebagai konsep
      yang diinginkan dalam literature ilmu social adalah hasil pengaruh seleksi perilaku.
      Batasan nilai yang sempit adalah adanya suatu perbedaan penyusunan antara apa yang
      dibutuhkan dan apa yang diinginkan dengan apa yang seharusnya dibutuhkan ; nilai-nilai
      tersusun secara hierarkis dan mengatur rangsangan kepuasan hati dalam mencapai tujuan
      kepribadiannya. Kepribadian dari system sosio-budaya merupakan syarat dalam susunan
      kebutuhan rasa hormat terhadap keinginan yang lain autau sekelompok sebagai suatu
      kehidupan social yang besar.
Untuk mendapat rumusan yang jelas, Robin M.Williams (1972) mengemukakan bahwa ada
empat buah kualitas tentang nilai-nilai yaitu:
1.   Nilai-nilai mempunyai sebuah elemen konsepsi yang lebih mendalam dibandingkan
     dengan hanya sekedar sensasi, emosi atau kebutuhan. Dalam hal ini nilai dianggap
     sebagai abstraksi yang ditarik dari pengalaman-pengalaman seseorang.
2.   Nilai-nilai menyangkut atau penuh dengan semacam pengertian yang memiliki suatu
     aspek emosi. Emosi disini mungkin diungkapkan sebenarnya atau merupakan potensi.
3.   Nilai-nilai bukan merupakan tujuan kongkret dari tindakan , tetapi mempunyai hubungan
     dengan tujuan, sebab nilai-nilai berfungsi sebagai criteria dalammeiliki tujuan-tujuan.
     Seseorang akan berusaha mencapai segala sesuatu yang menurut pandangannya
     mempunyai nilai-nilai.
4.   Nilai-nilai merupakan unsure penting dan tidak disepelekan bagi orang yang
     bersangkutan. Dalam kenyataan, nilai-nilai berhubungan dengan pilihan dan pilihan
     merupakan prasyarat untuk mengambil suatu tindakan.


Nilai-nilai yang domain artinya nilai-nilai yang lebih diutamakan daripada nilai-nilai lain.
Fungsi nilai domain ialah sebagai suatu latar belakang atau kerangka patokan bagi tingkah
laku sehari-hari. Kriteria apakah suatu nilai itu dominan,ditentukan oleh hal-hal sebagai
berikut :
1. Luas-tidaknya ruang lingkup pengaruh nilai tersebut dalam aktivitas total dari system
     social
2. Lama tidaknya pengaruh nilai itu dirasakan oleh kelompok masyarakat
3. Gigih tidaknya (intensitas) nilai tersebut diperjuangkan atau dipertahankan
4. Prestise orang-orang yang menganut nilai, yaitu orang atau organisasi-organisasi yang
     dipancang sebagai pembawa nilai.


Pertanyaan :
Tuliskan secara jelas system pembagian nilai menurut Erich Fromm ?
Jawab:
Erich Fromm membagi nilai dalah dua ringkasan padat yaitu :
1. Nilai-nilai ekonois,
     Yang menyangkut dunia/lingkup “having” (pemilikan) : keberadaan didunia dengan
     kecenderungan mau memiliki semua.
2. Nilai-nilai entitatif
   Yang menyangkut dunia being. Nilai ini didasari demi eksistensi sama dengan being
   sebagai ruang keberadaan didunia dengan nilai-nilai yang mengembangkan pribadi (Erich
   Fromm,Having or Being, 1977)
       .




                                  DAFTAR PUSTAKA

http://garduguru.blogspot.com/2009/10/penilaian-berbasis-kelas.html

M. Munandar soelaeman, 1987. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung : reflika
       ADITAMA