Docstoc

bab1 - Download as DOC

Document Sample
bab1 - Download as DOC Powered By Docstoc
					BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah Dalam hidup manusia, kebudayaan adalah suatu hal yang tak terpisahkan. Kebudayaan adalah suatu kegiatan total dari diri manusia yang melibatkan kegiatan akal, yaitu pemikiran dan dzikir serta kesatuannya dalam perbuatan atau amal, sebab amal bukanlah kegiatan fisik saja akan tetapi juga melibatkan rasio dan bahkan ini adalah yang utama. Orang yang mampu menggunakan akalnya pada dasarnya adalah orang yang mampu mengikat hawa nafsunya, sehingga hawa nafsu tidak dapat menguasai dirinya, ia mampu mengendalikan diri dan akan dapat memahami kebenaran, karena seseorang yang dikuasai hawa nafsu akan mengakibatkan terhalang untuk memahami kebenaran.1 Manusia ditetapkan berpredikat khusus sebagai “al-hayawan al-nathiq” (hewan rasional atau makhluk berakal). Dengan akalnya manusia ditempatkan dalam status istimewa, selaku pengatur jagad raya. Akal yang menjadi simbol keistimewaan manusia, ketika dianugerahkan bukanlah suatu bahan jadi yang siap pakai. Ketika manusia dilahirkan akal yang menyertainya masih berupa potensi dasar yang termasuk dalam kategori dan belum aktual.2 Untuk mengaktualkan akal yang merupakan potensi dasar ini diperlukan proses yang panjang, yakni dengan pendidikan yang memadai, agar tidak terjadi kesalahan dalam mengarahkan potensi ini, Islam memberikan konsep tentang pendidikan akal agar manusia dapat mencapai kehidupan di dunia dan akherat dengan baik dan benar.3

Musa Asy’arie, Manusia Pembentuk Kebudayan dalam Al-Qur'an, Lembaga Studi Filsafat Islam, Yogyakarta, 1992, hlm. 98-99. Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan (Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan), Pustaka Al-Husna, Jakarta, 1982, hlm. 74.
3 2

1

Imam Bawani, Segi-segi Pendidikan Islam, Al-Ikhlas, Surabaya, 1987, hlm.

203. 1

2

Al-Qur’an sebagai sumber pengetahuan telah memuat dimensi baru terhadap studi mengenai fenomena jagad raya dan mengajak manusia untuk menyelidikinya, mengungkapkan keajaiban dan kegaiban serta memanfaatkannya untuk kesejahteraan hidup manusia sendiri.4 Manusia tidak akan berhasil menuju ke arah taqwa, jika belum mengetahui apa itu arti taqwa yang sebenarnya. Maka jelaslah, peranan akal mutlak diperlukan dalam upaya mencapai ketaqwaan
5

yang merupakan kunci

kebahagiaan dunia dan akhirat. Dari sinilah Al-Qur'an membawa manusia kepada pengenalan terhadap adanya Tuhan dan qadrat-Nya, yaitu dengan realita yang ada di bumi dan di langit. Inilah yang sebenarnya terjadi pada pembentukan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan melalui observasi dan eksperimennya akan dapat mencapai hakekat Allah yang sebenarnya. 6 Manusia yang diciptakan sempurna dalam kehidupannya selalu dihadapkan pada berbagai permasalahan. Dan tiada manusia yang hidup di dunia ini yang lepas dari permasalahan tersebut. Manusia yang memperhatikan hidup secara sungguh-sungguh akan menemukan bahwa dirinya berhadapan dengan masalah yang sangat asasi, yaitu tentang dirinya, tentang alam dan tentang Tuhan.7 Dengan akal dan kecerdasannya manusia akan mampu menguak tabir yang menyelimuti dirinya, kecerdasan merupakan salah satu fungsi dari akal yang bertugas memberi sumbangan dalam perkembangan makhluk hidup (manusia) dan membawanya ke arah keseimbangan. Dengan demikian manusia yang hidup tidak boleh melepaskan diri dari akal dan kecerdasannya.8

4

Hasan Langgulung, Op.cit, hlm. 57.

Hanna Djumhana Bustaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997, hlm. 57. Muhaimin Abdul Mujib, Pemikiran Pendidikan Islam (Kajian Filosofis dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya), Trigenda Karya, Bandung, 1993, hlm. 19.
7 6

5

Paryana Suryadipura, Alam Pikiran, Cet. IV, Bumi Aksara, Jakarta, hlm. 276.

Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996, hlm. 121.

8

3

Dengan akal dan kecerdasannya pula manusia dapat menemukan zat yang adikodrati, melalui penyelidikan Islam, bagaimana langit diangkat, bumi dibentangkan dan gunung-gunung ditegakkan. Ini menjadi pertanda kekuasaan sumber wujud yang dipaparkan pada manusia.9 Sebagaimana disinyalir dalam Al-Qur'an surat An-Nahl ayat 12 :

ً‫وسخرىنٌ اىيو واىْهار واىشَس واهقَرقيً واىْجىً ٍسخرات باٍرٓ قيً اُ ف‬ }12 :‫ذىل اليت ىقىً يعقيىُ {اىْحو‬
Artinya : “Dan Dia menundukkan malam dan siang untukmu, matahari dan bulan, semua bintang-bintang tunduk di bawah perintah-Nya. sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda kaum yang berakal”. (QS. An-Nahl : 12)10 Dari ayat di atas, menjadi jelas bahwa akal adalah harta kekayaan manusia, dengan akal manusia dapat mengentaskan dirinya dari lembah kehinaan ke tempat yang mulia, dapat memandu jika ia tersesat, dapat memberikan keteguhan iman yang tertanam dalam sanubari yang dapat menuntunnya pada perilaku sopan dalam bertindak dan bertingkah laku yang baik. Akal melambangkan kekuatan manusia. Karena akalnyalah, maka manusia mempunyai kesanggupan untuk menakukkan kekuatan makhluk lain di sekitarnya. Bertambah tinggi akal manusia bertambah tinggi kesanggupannya untuk mengalahkan kekuatan-kekuatan makhluk lain itu. Bertambah lemah kekuatan akal bertambah rendah kesanggupannya menghadapi kekuatankekuatan lain tersebut.11 Dengan demikian, akal hendak ditarik relevansinya bagi kepentingan kerja ilmiah, yang memang Islam memandangnya sebagai tugas mulia manusia, si pemilik akal itu sendiri. Sementara itu, akal juga diartikan sebagai substansi rohaniah, yang dengan manusia dapat memahami dan membedakan kebenaran
9

Ibid, hlm. 122.

Al-Qur’an, Surat An-Nahl Ayat 12, Yayasan Penyelenggara Penterjemah AlQur'an, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Depag. RI, Jakarta, 1989, hlm. 403. Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 1986, hlm. 80.
11

10

4

dari kepalsuan. Kebenaran dan kepalsuan, di samping mempunyai konotasi ilmu, sekaligus juga mengarah kepada aspek kesucian menurut bahasa agama.12 Untuk memastikan bahwa akal itu bermanfaat, bisa ditempuh melalui pemahman deduktif. Sebagai ciptaan seperti halnya ciptaan yang lain, akal pastilah bermanfaat bagi manusia. Karena Allah Swt tidak menciptakan sesuatu, demikian menurut Al-Qur'an kecuali ciptaan itu bermanfaat. Berdasarkan atas pemikiran tersebut, maka penulis bermaksud menganalisis lebih mendalam mengenai kandungan Surat Ali Imran : 190-195 untuk menemukan konsep alQur’an tentang pendidikan akal.

A. Penegasan Istilah Dengan judul skripsi Konsep Al-Qur'an tentang Pendidikan Akal (Studi Analisis terhadap Surat Ali Imran : 190-195), maka perlu ditegaskan penggunaan istilah kata-kata tersebut sebagai berikut: 1. Konsep Konsep adalah “pengertian”.13 Dalam Encyclopedia konsep dapat diartikan sebagai “A general nation or idea, an idea of something formed by mentally combining all its characterics of particular”.14 Artinya: “Konsep adalah suatu paham atau ide umum, sebuah ide tentang yang dibentuk oleh gabungan secara mental, yang itu semua merupakan karakteristik ataupun bagianbagiannya”. 2. Al-Qur’an Al-Qur'an adalah kalam (diktum) Allah SWT yang diturunkan oleh-Nya dengan perantaraan malaikat Jibril ke dalam hati Rasulullah Muhammad bin Abdullah dengan lafadz bahasa Arab dengan makna yang benar, agar menjadi

12

Imam Bawani, Op.cit, hlm. 205. Hasan Shadly, Kamus Inggris Indonesia, Gramedia, Jakarta, 1983, hlm. 856.

13 14

David Yerkes, Webster’s, Encyclopedic Unabridge Dictionary of the English Language, Portlang House, New York, 1989, hlm. 304.

5

hujjah dalam pengakuannya sebagai Rasulullah, juga sebagai undang-undang yang dijadikan pedoman umat manusia sebagai amal ibadah bila dibacanya.15 3. Pendidikan berasal dari kata dasar didik yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran dan perbuatan.16 4. Akal berarti alat berpikir, daya pikiran (untuk mengerti), pikiran, ingatan.17 Luowis Ma’luf dalam karyanya menyatakan :

‫أىعقو ّىر روحاّي بٔ تدرك اىْفس ٍاال تدرمٔ باىحىاشً وقد سَي‬ 18 .ٔ‫اىعقو عقال الّٔ يعقو صاحبٔ عِ اىتىرط فً اىَهاىل اي يحبس‬
Artinya : “Akal adalah nur ruhaniyah yang dengannya jiwa atau nafsu akan menemukan sesuatu tanpa adanya keraguan, akal dikatakan akal karena memikirkan pemiliknya dari kekacauan dan keresahan.” 5. Studi adalah kata serapan dari bahasa Inggris Study, yang artinya mempelajari. Dalam bahasa Indonesia pelajaran diartikan penggunaan waktu dan pikiran untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Dapat juga dikatakan penyelidikan yaitu untuk mendapatkan suatu hal dengan akurat.19 Dengan demikian dari penjelasan judul “Konsep Al-Qur'an tentang Pendidikan Akal (Studi Analisis terhadap Surat Ali-Imran : 190-195)” maksudnya adalah mengkaji dengan seksama untuk memahami dan mengerti akan kandungan ayat 190-195 Surat Ali Imran tentang konsep untuk menemukan pendidikan akal.

Abdul Wahab Khallaf, Kaidah-Kaidah Hukum Islam, Rajawali Press, Jakarta, 1976, hlm. 22. WJS. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1991, hlm. 40.
17 16

15

Ibid, hlm. 23.

Louwis Ma’luf, Kamus Munjid, Al-Matba’an, Al-Katsuliyah, Beirut, 1956, hlm. 520. M. Sastrapraja, Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, Usaha Nasional, Surabaya, 1978, hlm. 457.
19

18

6

B. Rumusan Masalah Agar pembahasan yang terdapat dalam skripsi tidak meluas pada masalah lain, maka permasalahan penulis merumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana konsep akal dalam Al-Qur'an ? 2. Bagaimana pemanfaatan akal dalam pendidikan ? 3. Bagaimana unsur-unsur dominan pendidikan akal dalam AlQur'an Surat Ali Imran : 190-195 ?

C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengembangkan potensi akal agar dapat menyelidiki tentang kejadian alam dan keajaiban-keajaiban alam yang terdapat di langit dan di bumi. 2. Untuk mencapai ilmu dan kesucian guna meraih kepentingan duniawi maupun ukhrawi. 3. Untuk mengetahui aspek-aspek pendidikan yang terkandung dalam Surat Ali Imran : 190-195.

D. Metode Penelitian Jenis penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian kualitatif. 1. Fokus dan Ruang Lingkup Penelitian Fokus dan ruang lingkup penelitian kualitatif ini, yaitu tentang Konsep Al-Qur'an tentang Pendidikan Akal (Studi Analisis terhadap Surat Ali Imran : 190-195) :

190 191 192 193

7

194

(195
Artinya : “Sesungguhnya dalam ciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orangorang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguuhnya barang siapa yang Engkau masukkan ke dalam nereka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia dan tidak ada bagi orang-orang yang dzalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu) berimanlah kamu kepada Tuhanmu maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan Rasul-rasul Engkau dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat, sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. Maka Tuhan merekapun memperkenankan permohonan-nya (dengan berfirman) sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu baik laki-laki atau perempuan (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh pastilah akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah akan Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan di sisi Allah pahala yang baik.”20 2. Sumber Data a. Sumber Primer

Al-Qur’an, Surat Ali Imran Ayat 190-195, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Depag. RI, Jakarta, 1989, hlm. 129.

20

8

Yang dimaksud sumber data primer adalah bahan utama yang dijadikan referensi. Dalam pembahasan ini sumber primernya adalah AlQur'an Surat Ali Imran: 190-195 beserta tafsirnya.

b. Sumber Sekunder Sumber sekunder adalah sumber penunjang sebagai bahan pendukung dalam pembahasan proposal skripsi ini. Dalam proposal penelitian ini sumber sekundernya adalah tafsir, hadits dan buku-buku kependidikan yang menunjang. 3. Metode Pengumpulan Data Dalam mengumpulkan data penelitian di atas penulis menggunakan atau melalui studi kepustakaan (library research) dengan mengamati bukubuku yang menjadi sumber. Dalam penelitian ini dilakukan pengkajian bukubuku tentang pendidikan, tafsir dan buku-buku yang menunjang. 4. Metode Analisa Data Adapun metode dalam menganilis pokok bahasan dengan menggunakan tafsir maudhu’i tematik. Sebagaimana dinyatakan oleh Quraish Shihab bahwa metode tafsir maudhu’i yaitu jalan yang menghimpun seluruh dan sebagian ayat-ayat dari beberapa surat yang berbicara tentang topik tersebut, untuk kemudian dikaitkan satu dengan yang lainnnya. Sehingga pada akhirnya diambil kesimpulan meyeluruh tentang masalah tersebut menurut pandangan Al Qur’an.21 Maksudnya, ayat-ayat dipandang memiliki keterkaitan dengan topik yang akan dibahas dikumpulkan terlebih dahulu, selanjutnya ayat-ayat tersebut disusun sebagai rupa sehingga dihasilkan kesatuan pandangan sesuai dengan topiknya.22

21 22

Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, Mizan, Bandung, hlm. 144.

Untuk mengelompokkan ayat-ayat digunakan kamus ayat-ayat Al-Qur’an, lihat Muhammad Fuad Abd. al Baqi, al Mu’jam al Mufahras al Fasha al Qur’annul Karim Dar ar Fikr, Beirut, 1981.

9

E. Sistematika Penulisan Skripsi Untuk mengetahui keseluruhan isi atau materi-materi skripsi ini secara global, maka penulis perlu mengemukakan sistematika skripsi ini yang terdiri dari tiga bagian yaitu : 1. Bagian Muka Bagian muka ini terdiri dari : halaman judul, halaman nota persetujuan pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, dan halaman daftar isi. 2. Bagian Isi/ Batang Tubuh Pada Bagian ini, terdiri dari lima bab yaitu sebagai berikut : Bab satu pendahuluan, dalam bab ini meliputi sub bab yaitu latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penulisan skripsi, metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi. Bab dua membahas tentang pendidikan akal menurut konsep Islam, meliputi pengertian akal dan pendidikan akal, tujuan pendidikan akal, kedudukan akal dalam Islam, keterbatasan akal serta perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam atas pengaruh ajaran pemakaian akal. Bab tiga membahas tentang sekilas tentang Ahmad Mushtafha AlMaraghi, yang terdiri dari biografi Al-Maraghi, jabatan, guru-guru dan karyakaryanya, karakteristik dan metode tafsir Al-Maraghi, tentang kebenaran akal dan wahyu. Bab empat membahas tentang unsur-unsur pendidikan akal dalam surat Ali-Imran ayat 190-195, meliputi sekilas tentang surat Ali Imran : 190-195, kandungan ayat 190-195 surat Ali Imran dan aspek pendidikan akal dalam Surat Ali Imran : 190-195. Bab lima penutup, dalam bab ini berisi uraian tentang kesimpulan, saran-saran dan kata penutup. 3. Bagian Akhir Dalam bagian ini terdiri dari daftar kepustakaan, daftar riwayat pendidikan penulis dan daftar lampiran-lampiran.

10


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:3216
posted:7/1/2009
language:Indonesian
pages:10
Description: skripsi boss