Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

bab 5 Kepemimpinan gender

VIEWS: 1,002 PAGES: 13

Modul Kepemimpinan Madrasah

More Info
									                            MODUL 5

   KEPEMIMPINAN MADRASAH YANG RESPONSIF GENDER
           ( KEPEMIMPINAN PEREMPUAN )

A. Pengantar
       UUD 1945 pasal 31 ayat 1: “Setiap warga negara, baik perempuan maupun
laki-laki, mendapatkan kesempatan setara untuk mendapatkan pendidikan”. Dan
dalam Inpres No. 9 th.2000 : keputusan untuk melakukan Gender Mainstreaming.
      Gender sebagai konstruksi budaya mudah dijumpai di banyak budaya etnis
di Indonesia. Kesemuanya rata-rata menempatkan perempuan pada pekerjaan-
pekerjaan di sektor domestik karena perempuan secaca fisik adalah lemah,
sementara laki-laki bekerja di sektor publik dan merupakan mahluk yang berfisik
kuat. Di sinilah adanya pembagian peran, perempuan lebih pantas di rumah dan
laki-laki di luar rumah. Yang terjadi kemudian adalah perempuan menjadi
tersubordinasi di hadapan laki-laki dan termarginalisasi dalam kehidupan publik
(Achmad Muthaliin: 2001).
      Di Indonesia perjuangan feminis dipelopori oleh RA Kartini yang kita kenal
dengan “emansipasi wanita’. Kartini menyadari adanya diskriminasi peran gender
yang memposisikan laki-laki menguasai public sphere (aktivitas luar rumah);
sedangkan perempuan kebagian domestic sphere (dalam rumah). Dalam rangka
melepaskan belenggu inilah Kartini mendirikan sekolah perempuan karena ia
percaya pendidikan sekolah memungkinkan untuk menetralisir perbedaan kelaki-
lakian dan keperempuanan yang merupakan rekayasa budaya.
       Dalam suratnya dia menyatakan: “bahwa kita dapat menjadi manusia
sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya’ (Surat Kartini pada Ny.
Abendanon: 1897). Sejalan dengan perjuangan Kartini, saat ini peran perempuan
dalam pendidikan sudah mengalami peningkatan, umpamanya jumlah perempuan
yang bersekolah semakin bertambah dan jenjang pendidikannyapun makin tinggi.
Dan sudah dipercaya menjadi pemimpin.




                                                                            140
B. Tujuan
     Memahami prinsip-prinsip manajemen kepemimpinan Madrasah            responsif
     gender sebagai bahan untuk pengembangan kepemimpinan inklusif gender di
     Madrasah
C. Bahan dan Alat
       Untuk kegiatan pelatihan perlu disediakan:
          •   Papan tulis
          •   Papan sandaran untuk flip-chart
          •   Kertas plano/ flipchart buram
          •   Kertas buram/kertas warna untuk menuliskan ide peserta, khususnya
              untuk diskusi kelompok
          •   Spidol atau kapur tulis
          •   Selotip double-sided
          •   Gunting/ cutter
          •   OHP, transparency dan pen
          •   LCD projector
          •   Laptop: 1 buah
D. Langkah-langkah Kegiatan

    1                                Pengantar                           5’
    2                 Diskusi kelompok I(bermain puzzle)                 5’
    3                    Presentasi Diskusi Kelompok 1                  10’
    4                              Penguatan I                          10’
    5                           Diskusi kelompok II                     10’
    6                    Presentasi Diskusi kelompok II                 10’
    7                              Penguatan II                         15’
    8                          Diskusi kelompok III                     10’
    9                       Belanja dan umpan balik                     10’
    10                                Refleksi                           5’




                                                                              141
1. PENGANTAR (5’)

 Pelatih/Trainer menjelaskan kompetensi dasar, indikator, dan langkah kegiatan
   dalam sesi.
   KOMPETENSI DASAR
    Peserta       memahami     masalah   kepemimpinan   perempuan   dan   strategi
      membangun kepemimpinan perempuan yang efektif
   INDIKATOR

   Setelah Pelatihan Peserta mampu:

    Menjelaskan konsep kepemimpinan responsif gender.

    Mengkritisi masalah kepemimpinan perempuan dalam perspektif sosial budaya
      dan interpretasi agama.

    Memecahkan masalah kepemimpinan perempuan dan menentukan alternatif
      solusinya.

    Memilih dan menentukan strategi kepemimpinan perempuan yang efektif.

2. DISKUSI KELOMPOK 1 ( Bermain Puzzle 10’ )

    Dalam diskusi kelompok peserta bermaian puzzle untuk mengidentifikasi tipe-
      tipe kepemimpinan dan indikatornya.

    Tiap kelompok dibagikan amplop yang berisi potongan tipe-tipe kepemimpinan
      yang diacak.

    Tugas kelompok adalah mengidentifikasi, dan menempelkan dilembar kerja
      seperti dibawah ini.




                                                                               142
   No.   Tipe Kepemimpinan                Indikator

   1     Karismatik

   2     Paternalistik

   3     Militeristik

   4     Otokratis

   5     Lisser Faire

   6     Populistik

   7     Eksekutif

   8     Demokratis



3. PRESENTASI DISKUSI KELOMPOK 1 (10’)

         Dua orang dari anggota kelompok yang berbeda menpresentasikan hasil
   diskusi kelompoknya, sedangkan peserta yang lain mengkritisi.

4. PENGUATAN I ( Presentasi Pelatih 10’)

            Tipe-tipe kepemimpinan
                                                   Kepemimpinan
                                                  perempuan yang
                                                      efektif.


           Materi Presentasi Pelatih
           ada di lampiran power point




                                                                         143
5. DISKUSI KELOMPOK 2 ( 10’ )
      Pelatih / trainer membagikan lembar kerja kepada Peserta dalam kelompok.
      Tugas kelompok adalah mengidentifikasi masalah kepemimpinan perempuan
       dan faktor-faktor penyebabnya .
      Lembar kerja sbb :
                                                            Faktor penyebab
                Masalah – masalah kepemimpinan
      No.
                            perempuan




6. PRESENTASI DISKUSI KELOMPOK 2 ( 15’ )

           Dua orang peserta diambil secara acak dari kelompok berbeda untuk
       mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya

                                                                                  144
         Peserta yang lain mengkritisi presentasi temannya.
7. PENGUATAN 2 ( presentasi pelatih / trainer )


           Faktor pendukung                           Materi presentasi
       kepemimpinan perempuan                      selengkapnya ada pada
                                                    lampiran power point




8. DISKUSI KELOMPOK 3 ( 10’ )




        Peserta dalam kelompok mengidentifikasi strategi untuk menjadi pemimpin
          perempuan yang efektif.
        Setiap kelompok mengambil 2 macam ketrampilan sebagai bahan diskusi.
          Misalnya:   Kelompok      1   membahas   ketrampilan    berkomunikasi   dan
          Ketrampilan mendelegasikan tugas. Dst
        Tugas kelompok menuliskan hasil identifikasinya dilembar kerja.
        Lembar kerja sbb :



         No.          Jenis Keterampilan                         Strategi


          1    Berkomunikasi


          2    Mendelegasikan Tugas


          3    Memecahkan masalah


          4    Dst



                                                                                  145
    9. Belanja danUmpan Balik ( 10 ’ )
              Setiap peserta diharapkan dapat mencermati dan mengkritisi hasil diskusi
               kelompok yang telah dipajang dipapan flipchart dan memberikan penilaian
               langsung di lembar kerja yang ditempel dengan memberikan skor antara 60
               - 90.
              Curah      pendapat    : Beberapa peserta diskusi kelompok memberikan
               komentar terhadap ide-ide yang ditemukan oleh kelompok lain, pada
               pajangan yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.


    10. Refleksi ( 5’ )
       Untuk mendapatkan hikmah dari kegiatan sesi ini diminta dua orang peserta dari
       unsur berbeda ( perwakilan peserta pria dan perempuan )          menyampaikan
       hikmahnya sesi ini.
    E. Lembar Kerja
    F. Bahan Tayangan Presentasi Pelatih/Trainer

                               Bahan presentasi lengkap ada
                                pada lampiran power point




    G. Bahan Bacaan Pelatih / Trainer



                          I.   Pengertian kepemimpinan

    Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung
  melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu
  (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).
    Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk
  mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).


                                                                                    146
       Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang
    diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).
       Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah
    kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.
       Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan)
    pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai
    tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).
       Banyak definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan
    dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat.
       Dalam kasus ini, dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam
    susunan aktivitasnya dan hubungan dalam kelompok atau organisasi.
       John C. Maxwell mengatakan bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi
    atau mendapatkan pengikut.
       Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana,
    mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai
    tujuan bersama-sama (Panji Anogara, Page 23).

                      II.   Syarat-syarat kepemimpinan

    Kekuasaan: Kekuatan, otoritas dan legalitas yang memberikan wewenang kepada
  pemimpin guna mempengaruhi & menggerakkan bawahan untuk berbuat sesuatu.
    Kewibawaan: Kelebihan, keunggulan, keutamaan, sehingga mampu mengatur dan
  dipatuhi orang lain.
    Kemampuan: Segala daya, kesanggupan, kekuatan dan kecakapan teknis maupun
  sosial, yang dianggap melebihi dari kemampuan anggota biasa.

                      III. TIPE-TIPE KEPEMIMPINAN
    1. Tipe kepemimpinan karismatik

    Memiliki kekuatan energi, daya tarik dan wibawa yang luar biasa untuk
  mempengaruhi orang lain
    Memiliki kekuatan supranatural, inspirasi keberanian dan keyakinan teguh pada
  pendirian
    Totalitas kepribadian pemimpin

    2. Tipe Kepemimpinan Paternalistik

      Menganggap dirinya sebagai bapak
      Terlalu protektif
      Pengambilan keputusan tanpa melibatkan bawahan
      Daya kreatifitas bawahan tidak tampak
      Merasa lebih tahu dan paling benar
    3. Tipe Maternalistik:


                                                                                 147
       Hampir sama dengan paternalistik tetapi lebih protektif dan kasih sayang yang
       berlebihan.
    4. Tipe Kepemimpinan Militeristik

             Lebih banyak memerintah, otoriter.
             Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan
             Menyenangi formalitas
             Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahan
             Komunikasi searah

5. Tipe Kepemimpinan Otokratis
       Kekuasaan dan paksaan yang mutlak harus dipatuhi
       Kebijakan diambil tanpa koordinasi dengan bawahan
       Pujian dan kritik diberikan atas pertimbangan pribadi
       Selalu jaga jarak dengan bawahan
       Menyukai bawahan yang patuh dan setia
6. Tipe Kepemimpinan Populistik
       Dapat membangun solidaritas rakyat
       Berpegang teguh pada nilai masyarakat yang tradisional
      Muncul dalam situasi tertentu, peran pemimpin diperlukan dan sesuai dengan
    kebutuhan
       Biasanya berhasil mengusung ideologi tertentu yang dapat diterima oleh khalayak
7. Tipe Kepemimpinan Eksekutif
       Mampu menyelenggarakan tugas-tugas administratif secara efektif
       Menggunakan manajemen modern
     Terdiri dari teknokrat dan administratur yang mampu menggerakkan dinamika
    modernisasi dan pembangunan
8. Tipe Kepemimpinan Demokratis
       Berorientasi pada manusia dan pembimbingan yang efisien pada bawahannya
      Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua                 bawahan   ditekankan   pada
    tanggungjawab internal dan kerjasama yang baik
       Mengakui keragaman potensi, dan memanfaatkannya dengan efektif
       Kekuatannya terletak pada partisipasi aktif dari setiap warga kelompok.




                                                                                        148
                 IV. Menurut  James A.F Stonen, tugas utama seorang
                      pemimpin adalah:

            Pemimpin bekerja dengan orang lain
            Pemimpin adalah penanggung jawab dan mempertanggungjawabkan
             (akuntabel).
            Pemimpin menyeimbangkan pencapaian tujuan dan prioritas
            Pemimpin harus berpikir secara analitis dan konseptual
            Manajer adalah seorang mediator
            Pemimpin adalah politisi dan diplomat
            Pemimpin membuat keputusan yang sulit
            Seorang pemimpin harus dapat memecahkan masalah.
–
                 V.   Menurut Henry Mintzberg, Peran Pemimpin adalah :

    1.   Peran hubungan antar perorangan, dalam kasus ini fungsinya sebagai
         pemimpin yang dicontoh, pembangun tim, pelatih, direktur, mentor
         konsultasi.
    2.   Fungsi Peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru
         bicara.
    3.   Peran Pembuat keputusan, berfungsi sebagai   pengusaha, penanganan
         gangguan, sumber alokasi, dan negosiator


                     VI. KARAKTERISTIK SEORANG PEMIMPIN DIDASARKAN
                                       KEPADA PRINSIP-PRINSIP
                                         (Stephen R. Coney)
             1. Seorang yang belajar seumur hidup
             2. Berorientasi pada pelayanan
             3. Membawa energi yang positif :
                3.1   Percaya pada orang lain
                3.2   Keseimbangan dalam kehidupan
                3.3   Melihat kehidupan sebagai tantangan
                3.4   Sinergi
                3.5   Latihan mengembangkan diri sendiri

                 VII. Faktor pendukung kepemimpinan perempuan

   Undang-undang telah menjamin laki-laki maupun perempuan mengakses dan
  berpartisipasi dalam kepemimpinan publik
   SDM perempuan semakin menunjukkan peningkatan kualitas maupun
  kuantitasnya
   Perempuan memiliki potensi untuk maju jika telah diberi akses dan lingkungan
  yang kondusif

                                                                             149
   Organisasi, kelompok perempuan ikut mendukung dalam pengembangan karier
  perempuan
   Isu-isu internasional seperti kuota bagi perempuan

                  VIII. Faktor Penghambat Kepemimpinan Perempuan
A. Faktor internal :
   1. Pencitraan diri perempuan sebagai makhluk yang lemah
   2. Merasa tidak mampu
   3. Merasa kurang bisa mandiri
   4. Kepemimpinan dianggap bukan peran perempuan
   5. Takut resiko
B. Faktor eksternal :
   1. Budaya patriarkhi yang menempatkan perempuan lebih rendah dari laki-laki
   2. Pandangan masyarakat bahwa laki-laki lebih pantas menjadi pemimpin dari
      pada perempuan
   3. Undang-undang telah menjamin, tetapi implementasinya tidak sesuai
   4. Kendatipun akses telah terbuka, tetapi hambatan budaya masih sangat kental
   5. Ketidaksiapan masyarakat untuk lapang dada menerima kepemimpinan
      perempuan
   6. Tingkat pendidikan perempuan relatif tidak setara dibandingkan laki-laki
   7. Interpretasi agama yang masih bias gender
C. SOLUSINYA :
   1. Membangun kapasitas perempuan dalam kepemimpinan
   2. Membangun citra perempuan pada dimensi publik
   3. Mempopulerkan figur perempuan yang sukses memimpin
   4. Membangun budaya ‘ramah’ perempuan
   5. Mendorong dan memastikan implementasi UU telah responsif gender
   6. Reinterpretasi agama yang bias gender

D. Bagaimanakah Islam memandang kepemimpinan perempuan ??
   1. Pandangan Ulama’ Tentang Kepemimpinan Perempuan
      Fatwa yang dikeluarkan oleh Universitas Al Azhar 1952:
      Syariat Islam melarang kaum perempuan menduduki jabatan yang meliputi
      kekuasaan umum (publik) yang berperan memutuskan/memaksa (al sulthah al
      mulzimah) baik wilayah eksekutif, legislatif maupun judikatif.

      Ulama’ membagi kekuasaan kepemimpinan menjadi 2:
       Kekuasaan kehakiman (wilayah al qadla’)
         Dengan persyaratan: Islam, berakal, dewasa, merdeka, sehat jasmani-rohani,
         adil dan memahami hukum syari’ah.
       Kekuasaan legislatif
         Dengan persyaratan sebagaimana ahl al hilli wa al aqdi yakni adil dengan
         kelengkapan kreterianya, kemampuan memilih calon kepala negara, dan
         keahlian memilik kepala negara.


                                                                               150
   Perdebatan Ulama’ diseputar kekuasaan kehakiman (wilayah al qadla’) Sumber
   bacaan/maraji’
    Asy Syarbini, Mughni al Muhtaj, juz IV hal 375
    Ibnu Rusy, Bidayah al Mujtahid juz II hal. 449.
    Al Mawardi, Al Ahkam al Sulthaniyah, hal. 65.
    Abu Ya’la Muhammad bin Husain al Farra’,
   Al Ahkam al Sulthaniyah, (ed) Muhammad Hamid al Faqiy, Beirut: Dar al Kutub al
   Ilmiyah, 1983, hal. 60
2. Pendapat kedua
   Madzhab Hanafi dan Ibnu Hazm al Dhahiri:
    Laki-laki bukan syarat mutlak untuk kekuasaan kehakiman, perempuan
       boleh menjadi hakim untuk perkara-perkara ringan (bukan hudud dan
       qishas).
    Hakim perkara ringan fungsinya sama dengan mufti (pemberi fatwa)
    Umar bin Khathab pernah mengangkat perempuan menjadi bendahara pasar
       di Madinah

      Sumber bacaan/maraji’:

      Al Kasani, Bada’ al Shana’i juz VII hal. 3. Ibnu Hazm al Mahalli juz IX hal. 429-
      430. Muhammad Musthafa al Zuhaili, Al Tanzim al Qadla’ fi al Fiqh al Islami,
      hal. 29.

3. Pendapat ketiga
   Ibnu Jarir al Thabari, Al Hasan al Bashri
    Perempuan boleh menjadi hakim untuk menangani berbagai perkara, baik
       perdata maupun pidana
    Laki-laki tidak menjadi syarat menjadi hakim.
    Jika peremuan boleh menjadi mufti maka ia boleh menjadi hakim
    Perdebatan Ulama’ Di Seputar Kekuasaan Legislatif
    Pendapat pertama :
    Al Mawardi dan Abu Ya’la tidak secara eksplisit menyatakan kebolehan
    perempuan dalam keanggotaan legislatif tetapi pendapatnya tentang jabatan
    publik di bawah kepala negara tidak dibolehkan.
    Pendapat ini didukung pula oleh Al Maududi dengan tegas mengatakan bahwa
    jabatan legislatif hanya untuk laki-laki saja.
    Dasar teologis larangan:
    QS. Al Nisa’ 34.
    Kekuasaan publik membuka peluang pergaulan laki-laki & perempuan.
    Lembaga ini tidak hanya membuat undang-undang tetapi juga keputusan
       politik seperti menyatakan perang
    Peran lembaga ini tidak sama dengan faqih atau mufti
   Pendapat kedua :
   Dr. Said Ramadlan Al Buthi, ulama’ Syiria menyatakan bahwa lembaga syura
   seperti legislatif mempunyai fungsi yang sama dengan lembaga fatwa. Karena itu
   perempuan boleh menjabat sebagai anggota legislatif.
                                                                                   151
4. Dasar-dasar teologis perempuan boleh menjadi pemimpin publik

      QS. An Nisa’ ayat 34 hanya untuk kepemimpinan keluarga bukan publik,
       itupun tidak bersifat kodrati.
      Tidak ada larangan perempuan sebagai pemimpin publik dalam al Qur’an.
       Larangan terdapat dalam kitab fiqh (pemahaman)
      Hadits yang diriwayatkan oleh Abi Bakrah:”Tidak akan beruntung bangsa
       yang diperintah perempuan” hanya dikhususkan pada Bauran binti Kisra,
       bukan pada seluruh perempuan.

         Hadits tersebut merupakan reaksi Rasulullah atas realitas dan informasi
         semata bukan legitimasi hukum.

         Pendekatan pemahaman hadits ini lebih tepat menggunakan “Al ibrat bi
         khusus al sabab la bi ulum al lafdhi”

         Ratu Balqis diabadikan dalam al qur’an tanpa ada kesan negatif, bahkan
         sukses dalam memimpin negara

5.       Kepemimpinan perempuan & kemaslahatan umat

      Perubahan sosial yang menuntut partisipasi dalam kepemimpinan publik
       sebagai amar ma’ruf nahi munkar
      Pendidikan perempuan memungkinkan peran publik perempuan lebih
       meningkat, sehingga perempuan dapat memberikan kontribusi positif di
       masyarakat.
      Pengambilan keputusan publik menuntut adanya keseimbangan gender agar
       pengalaman, kebutuhan berbeda antara laki-laki dan perempuan akibat
       konstruksi sosial di masyarakat dapat sikapi dengan adil.

6.       Macam-macam Ketrampilan Kepemimpinan

        Ketrampilan berkomunikasi
        Ketrampilan mendelegasikan tugas
        Ketrampilan memecahkan masalah
        Ketrampilan mengatasi konflik
        Ketrampilan mengelola waktu
        Ketrampilan interpersonal
        Ketrampilan memimpin rapat
        Ketrampilan memotivasi
        Ketrampilan mengatasi orang sulit
        Ketrampilan membangun Tim




                                                                             152

								
To top