Docstoc

Permainan anak

Document Sample
Permainan anak Powered By Docstoc
					                                          BAB I

                                   PENDAHULUAN




LATAR BELAKANG
           Menurut para pemerhati anak, bermain merupakan makanan pokok bagi anak.
Dunia anak identik dengan bermain. Aktivitas bermain merupakan salah satu
stimulus bagi perkembangan anak secara optimal. Sekarang ini, banyak sekali dijual
bermacam – macam alat permainan. Apabila orang tua tidak selektif dan kurang
memahami fungsinya, alat permainan yang dibelinya tidak dapat berfungsi secara
efektif.
           Ketika masa anak sudah memasuki masa bermain atau istilah lainya sebagai
masa toddler, maka anak selalu membutuhkan kesenangan pada dirinya. Disinilah
anak membutuhkan suatu permainan, maka tidak heran masa anak – anak sangat
identik dengan masa bermain, karena perkembangan anak mulai akan diasah sesuai
dengan kebutuhanya disaat tumbuh kembang. Akan tetapi, banyak orang yang
menganggap masa bermain pada anak tidaklah mendapat suatu perhatian secara
khusus sehingga banyak sekali orang tua yang membiarkan anak tanpa memberikan
pendidikan terhadap permainan yang dimiliki anak.
           Alat permainan pada anak hendaknya disesuaikan dengan jenis kelamin dan
usia anak sehingga dapat merangsang perkembangan anak secara optimal. Jenis
permainan tertentu hanya cocok pada usia anak tertentu pula.
           Dalam kondisi sakit atau anak dirawat di rumah sakit, aktivitas bermain anak
juga tetap perlu dilaksanakan, namun harus sesuai dengan kondisi anak. Untuk itu
kelompok akan menyajikan peran bermain anak dalam perkembangan.
           Dengan bermain tumbuh kembang anak akan akan terangsang secara optimal
dan otak anak akan diasah sesuai dengan kebutuhannya ( Markum,dkk,2001).




                                                                                     1
                                          BAB II
                                           ISI


  A. PENGERTIAN BERMAIN
            Bermain adalah cara alamiah bagi anak mengungkapkan konflik dalam
   dirinya yang tidak disadari (Wholey and Wong, 2003). Bermain adalah sesuatu
   kegiatan yang dilakukan sesuai dengan keinginan untuk memperoleh kesenangan
   (Foster and Humsberger, 2000). Bermain adalah kegiatan yang dilakukan untuk
   kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangnkan hasil akhir (Hurlock,
   2001).
            Bemain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau
  mempraktikan ketrampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi
  kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa. Bermain
  merupakan suatu kegiatan yang menyenangkan bagi anak, meskipun hal tersebut
  tidak menghasilkan komoditas tertentu misalnya keuntungan financial (uang).
            Jadi kesimpulan bermain anak adalah cara alamiah mengungkapkan konflik
  dan untuk memperoleh kesenangan, tanpa mempertimbangkan hasil.


B. KATEGORI PERMAINAN
            Menurut A. Azis Alimul Hidayat (2008) bermain dikategorikan menjadi 2
  yaitu :
  1. Bermain aktif
      Anak berperan aktif dalam permainan, selalu memberikan rangsangan dan
      melaksanakanya.
  2. Bermain pasif
      Energi yang dikeluarkan sedikit, anak akan memberi respon secara pasif terhadap
      permainan dan orang atau lingkungan yang memberikan respon secara aktif.

C. CIRI – CIRI BERMAIN
  Menurut Markum (2000) bermain mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Selalu bermain dengan sesuatu atau benda
  2. Selalu ada timbale balik interaksi
  3. Selalu dinamis
                                                                                   2
  4. Ada aturan tertentu
  5. Menuntut ruang tertentu


D. FUNGSI BERMAIN
  Fungsi bermain menurut Donna L Wong (2004) fungsi bermain yaitu:
     Perkembangan sesnsori motorik
      Membantu perkembangan gerak dengan memainkan obyek tertentu, misalnya
      meraih pensil.
     Perkembangan kognitif
      Membantu mengenal benda sekitar (warna, bentuk, kegunaan).
     Kreatifitas
      Mengembangkan kreatifitas mencoba ide baru, misalnya menyusun balok.
     Perkembangan sosial
      Diperoleh dengan cara berinteraksi dengan orang lain dan belajar dalam
      kelompok.
     Kesadaran diri
      Bermain belajar mengetahui kemampuan diri kelemahan dan tingkah laku
      terhadap orang lain.
     Perkembangan moral
      Interaksi dengan orang lain bertingkah laku sesuai harapan, teman menyesuaikan
      dengan aturan kelompok.
     Terapi
      Bermain kesempatan pada anak untuk mengekspresikan perasaan yang tidak
      enak, misalnya : marah, takut, benci.
     Komunikasi
      Bermain sebagai alat komunikasi terutamam bagi anak yang belum dapat
      mengatakan secara verbal, misalnya : melukis, menggambar, bermain peran.


E. KLASIFIKASI BERMAIN
  Menurut Nur Salam (2005) klasifikasi bermain di bagi menjadi:
  MENURUT ISI
  1. Social affective play



                                                                                  3
   Anak belajar memberi respon terhadap respin yang diberikan oleh lingkungan
   dalam bentuk permainanan, misalnya orang tua berbicara memanjakan anak
   tertawa senang, diharapkan anak dapat bersosialisasi dengan lingkungan.
2. Sense of pleasure play
   Anak memperoleh kesenangan dari satu obyek yang ada di sekitarnya, dengan
   bermain – main dapat merangsang peradapan alat, misalnya bermain air atau
   pasir.
3. Skill play
   Memberikan kesempatan bagi anak untuk memperoleh keterampilan tertentu dan
   anak akan melakukan secara berulang – ulang misalnya mengendarai sepeda.
4. Dramatika play role play
   Anak berfantasi menjalankan peran tertentu misalnya menjadi ayah atau ibu.


MENURUT KARAKTERISTIK SOSIAL
1. Solitary play
   Jenis permainan dimana anak bermain sendiri walaupun ada beberapa orang lain
   yang bermain disekitarnya. Biasanya dilakukan oleh anak balita Todler.
2. Parallel play
   Permainan sejenis dilakukan oleh suatu kelompok anak masing – masing
   mempunyai mainan yangn sama tetapi yang satu dengan yang lain tidak ada
   interaksi dan saling tergantung, biasanya dilakukan oleh anak preschool.
   Contohnya : bermain balok
3. Asosiatif play
   Permainan dimana anak bermain dalam keluarga dengan aktifitas yang sama
   tetapi belum terorganisasi dengan baik, belum ada pembagian tugas, dan anak
   bermain sesukanya.
4. Kooperatif play
   Anak bermain bersama dengan sejenis permainan yang terorganisir dan
   terencana. Ada juga aturan yang telah ditentukan. Biasanya dilakukan oleh anak
   usia sekolah adolesen.




                                                                                4
F. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AKTIVITAS BERMAIN
  Menurut Hurlock (2001) faktor yang mempengaruhi aktivitas bermain adalah:
  1. Tahap perkembangan
      Tiap tahap mempunyai potensi atau keterbatasan.
  2. Status kesehatan
      Anak yang sakit perkembangan psikomotori kognitif terganggu.
  3. Jenis kelamin
      Aktivitas bermain disesuaikan dengan jenis kelamin anak agar tidak terjadi salah
      pengasuhan secara untuk perkembangan seksual.
  4. Lingkungan
      Lingkungan menentukan aktivitas bermain anak. Misalnya lokasi, Negara, dan
      kultur.
  5. Alat permainan
      Alat permainan dipilih yang anak sukai dan dapatmempergunakanya.
  6. Intelegensia dan status social ekonomi
      Kepandaian dan status sosial ekonomi menentukan jenis permainanan yang
      dipilih anak.


G. PRINSIP – PRINSIP DALAM AKTIVITAS BERMAIN
       Soetjiningsih (2001) mengatakan bahwa ada beberapa hal yang perlu
  diperhatikan agar aktivitas bermain bias menjadi stimulus yang efektif sebagaimana
  berikut ini ;
  1. Perlu energy ekstra
      Bermain memerlukan energi yang cukup, sehingga anak memerlukan nutrisi
      yang memadai. Pada anak yang sakit, keingina bermain umumnya menurun
      karena energi yang ada digunakan untuk mengatasi penyakit.
  2. Waktu yang cukup
      Anak harus mempunyai waktu yang cukup untuk bermain sehingga stimulus
      yang diberikan dapat optimal. Selain itu, anak akan mempunyai kesempatan yang
      cukup untuk mengenal alat – alat permainan.




                                                                                    5
  3. Alat permainan
     Alat permainan yang digunakan harus sesuai dengan tahap perkembangan anak.
     Yang perlu diperhatikan adalah bahwa alat permianan tersebut harus aman dan
     mempunyai unsure edukatif bagi anak.
  4. Ruang untuk bermain
     Aktivitas bermain dapat dilakukan dimanan saja, diruang tamu, dihalaman,
     bahkan di tempat tidur.
  5. Pengetahuan cara bermain
     Anak belajar bermain – main dan mencoba – coba sendiri, meniru teman –
     temanya, atau diberi tahu oleh orang tuanya. Cra yang terakhir adalah yang
     terbaik karena anak lebih terarah dan lebih berkembang pengetahuanya dalam
     menggunakan alat permainan tersebut.
  6. Teman sepermainan
     Dalam bermain anak memerlukan teman, bisa teman sebaya, saudara atau orang
     tuanya.


H. ALAT PERMAIANAN EDUKATIF (APE)
      Alat     permainan   edukatif   (APE)   adalah   alat   permainan    yang   dapat
  mengoptimalkan perkembangan anak sesuai usia dan tingkat perkembangan dan
  yang berguna untuk mengembangkan aspek fisik, bahasa, kognitif, dan sosial anak
  (Soetjiningsih, 2001)
  1. Pengembangan aspek positif
     Belajar berjalan atau merangkak, naik turun tangga dan bersepeda.
     Contoh : permainan yang ditarik, permainan roda tiga atau roda dua.
  2. Pengembangan bahasa
     Dilakukan dengan melatih bicara dan menggunakan kalimat yang benar.
     Contoh : buku gambar, buku cerita, majalah, radio, tape, televise.
  3. Pengembangan aspek kognitif
     Dilakukan dengan cara pengenalan suara, ukuran, bentuk, warna obyek dll.
     Contoh : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio.




                                                                                     6
4. Pengembangan aspek sosial
   Dilakukan dengan cara berhubungan atau berinteraksi dengan orang tua, saudara,
   keluarga, dan masyarakat.
   Contoh : gelas plastic, sendok, baju, sepatu, kaos kaki, kotak, bola, tali


   Syarat – syarat alat permainan edukatif :
1. Keamanan
      Alat permainan anak dibawah 2 tahun hendaknya tidak terlalu kecil, catnya
   tidak beracun, tidak ada bagian yang tajam, dan tidak mudah pecah. Karena pada
   usia ini anak kadang – kadang suka memasukkan benda kedalam mulut.
2. Ukuran dan Berat
      Prinsipnya, mainan tidak membahayakan dan sesuai dengan usia anak.
   Apabila mainan terlalu besar dan berat maka anak akan sukar untuk
   menjangkaunya atau memindahkanya. Sebaliknya, bila terlalu kecil mainan akan
   mudah ditelan
3. Desain
      Alat permainan edukatif sebainya mempunyai desain yang sederhana dalam
   hal ukuran, susunan, dan warna serta jelas maksud dan tujuanya. Selain itu, alat
   permainan edukatif hendanya tidak rumit untuk menghindari kebingungan anak.
4. Fungsi yang jelas
      Alat permainan edukatif sebaiknya mempunyai fungsi yang jelas untuk
   menstimulus perkembangan anak.
5. Variasi APE
      Alat permainan edukatif sebaiknya dapat dimainkan secara bervariasi (dapat
   bongkara pasang) namun tidak terlalu sulit agar anak tidak frustasi dan tidak
   terlalu mudah, karena anak akan mudah cepat bisa.
6. Universal
      Alat permainan edukatif sebaiknya mudah diterima dan dikenali oleh semua
   budaya dan bangsa. Jadi, dalam mengggunakan alat permainan edukatif
   prinsipnya bisa dimengerti oleh semua orang.




                                                                                 7
  7. Tidak mudah rusak, mudah didapat, dan terjangkau oleh masyarakat luas
         Karena alat permainan edukatif sebagai stimulus untuk perkembangan anak,
     maka setiap lapisan masyarakat, baik yang tingkat sosial ekonomi tinggi maupun
     rendah hendaknya dapat menyediakanya. alat permainan edukatif bisa didesain
     sendiri asal memenuhi persyaratan.


I. TAHAP PERKEMBANGAN BERMAIN
  Menurut Soetjiningsih (2001) tahap perkembangan bermain dibagi menjadi :
  1. Tahap eksplorasi
     Merupakan tahapan menggali dengan melihat cara bermain.
  2. Tahap permainan
     Setelah tahu cara bermain anak mulai masuk tahap permainan.
  3. Tahap bermain sungguhan
     Anak sudah ikut dalam permainan.
  4. Tahap melamun
     Merupakan tahapan terakhir anak membayangkan permainan – permainan
     berikut.


J. KARAKTERISTIK BERMAIN SESUAI TAHAP PERKEMBANGAN
  Menurut Donna L Wong (2004) karateristik bermain sesuai tahap perkembangan
  sebagai berikut :
  USIA 0 – 3 BULAN
  VISUAL         : obyek warna terang diatas tempat tidur.
  AUDITIF        : mengajak bicara, mendengarkan musik.
  TAKTIL         : membelai, menyisir, menyelimuti.
  KINETIK        : berjalan – jalan.


  USIA 4 – 6 BULAN
  VISUAL         : mainan warna terang yang dapat dipegang.
  AUDITIF        : mengajak bicara, memanggil namanya.


                                                                                 8
  TAKTIL         : bermain air.
  KINETIK        : berdiri pada paha orang tua, membantu tengkurap dan duduk.


  USIA 7 – 9 BULAN
  VISUAL         : menonton TV, bermain ciluba.
  AUDITIF        : panggil namanya, ajari panggil nama orang tua, memberi
                 tahu apa yang sedang dilakukan.
  TAKTIL         : mengenal berbagai tekstur, bermain anak.
  KINETIK        : membantu tengkurap dilantai, latih berdiri, bermain tarik
                 dorong.


  USIA 10 – 12 BULAN
  VISUAL         : ajak keempat ramai, kenalkan gambar.
  AUDITIF        : suara binatang, menyebutkan bagian tubuh.
  TAKTIL         : merasakan hangat atau dingin, memegang makanan sendiri.
  KINETIK        : bermain tarik dorong, bermain sepeda.


K. MAINANAN YANG DIANJURKAN
  Menurut A. Azis Alimul Hidayat (2008) maianan yang dianjurkan untuk anak sesuai
  umur adalah sebagai berikut :
  1. MASA BAYI (0 – 1 TAHUN)
      Stimulus yang diberikan bertujuan untuk :
     Melatih dan mengevaluasi reflek – reflek fisiologis
     Melatih koordinasi mata dan tangan serta mata dan telinga
     Melatih untuk mencari obyek yang tidak kelihatan
     Melatih sumber asal suara
     Melatih kepekaan perabaan
      Mainan yang dianjurkan untuk bayi 0 – 1 tahun :
     Benda (permainan) yang aman jika dimasukan dalam mulut
     Gambar bentuk muka
     Boneka orang dan binatang
     Alat permainan yang dapat digoyang dan menimbulkan suara

                                                                                9
2. USIA 1 – 2 TAHUN
Jenis permainan yang dapat diberikan pada usia 1 – 2 tahun bertujuan untuk :
   Melatih anak melakukan gerakan mendorong atau menarik
   Melatih melakukan imajinasi
   Melatih anak melakukan kegiatan sehari – hari
   Memperkenalkan beberapa bunyi dan mampu membedakanya
    Mainan yang dianjurkan :
   Semua alat permainan yang dapat didorong dan ditarik, berupa alat rumah tangga
    balok – balokan, buku bergambar, pensil pewarna, dll.


3. USIA 2 – 3 TAHUN
Usia ini dianjurkan untuk bermain dengan tujuan
   Menyalurkan perasaan atau emosi
   Mengembangkan kertampilan berbahasa
   Melatih motorik kasar dan halus
   Mengembangkan kecerdasan
   Melatih daya imajinasi dan melatih kemampuan membedakan permukaan dan
    warna benda.
Mainan yang dianjurkan :
   Alat – alat untuk menggambar
   Puzzle sederhana
   Manic – manic ukuran besar
   Berbagai benda yang mempunyai permukaan dan warna yang berbeda – beda.


4. USIA 3 – 6 TAHUN
        Pada usia ini anak sudah mampu mengmbangkan kreativitasnya dan
    sosialisasi sehingga sangat diperlukan permainan yang dapat mengembangkan
    kemampuan       menyamakan        dan   membedakan,         kemampuan         berbahasa,
    mengembangkan       kecerdasan,    menumbuhkan          sportifitas,     mengembangkan
    koordinasi     motorik,   mengontrol       emosi,   motorik       kasar      dan     halus,
    memperkenalkan       pengertian     yang     bersifat     ilmu         pengetahuan     dan
    memperkenalkan suasana kompetisi.
                                                                                            10
          Mainan yang dianjurkan :
         Benda – benda sekitar rumah, buku gambar, majalah anak – anak, alat gambar,
          kertas untuk melipat, gunting dan air.


      5. USIA 6 – 8 TAHUN
          Pada usia ini anak – anak diharapkan :
         Bermain dengan kelompok yang sama jenis kelaminnya
         Dapat belajar dengan aturan kelompok
          Mainan yang dianjurkan :
         Kartu, robot, buku, alat tulis, sepeda.


      6. USIA 8 – 12 TAHUN
          Usia ini anak – anak diharapkan dapat :
         Belajar independent, kooperatif, kompetisi, menerima orang lain
         Karakteristik “cooperative play”
         Laki – laki : mechanil
         Perempuan : mother role
          Mainan yang dianjurkan adalah :
         Buku, sepatu roda, uang logam, pekerjaan tangan, kartu, olah raga, sepeda.


L. BERMAIN DI RUMAH SAKIT
      Menurut Nur Salam (2005) aspek bermain di rumah sakit meliputi sebagai berikut :
 I.       Tujuan
      a) Melanjutkan tugas tumbuh kembang selama perawatan
      b) Mengembangkan kreativitas anak
      c) Anak dapat beradaptasi secara lebih efektif terhadap strees


II.       Prinsip
      a) Tidak banyak energy, singkat dan sederhana
      b) Mempertimbangkan keamanan dan infeksi silang
      c) Kelompok semua umur
      d) Melibatkan keluarga atau orang tua
                                                                                       11
III.      Upaya perawatan dalam pelaksanaan bermain
       a) Lakukan saat tindakan keperawatan
       b) Sengaja mencari kesempatan khusus


IV.       Beberapa hal yang perlu diperhatikan
       a) Alat bermain
       b) Tempat bermain


V.        Pelaksanaan bermain di RS dipengaruhi oleh
          Pengetahuan perawat, fasilitas kebijakan RS, kerjasama tim dan keluarga.




                                                                                     12
                                      BAB III
                                     PENUTUP


KESIMPULAN
        Bemain merupakan suatu aktivitas dimana anak dapat melakukan atau
mempraktikan ketrampilan, memberikan ekspresi terhadap pemikiran, menjadi
kreatif, mempersiapkan diri untuk berperan dan berperilaku dewasa.
        Kategori bermain dibagi menjadi 2 yaitu bermain aktif dan pasif. Fungsi
bermain adalah :
   Perkembangan sesnsori motorik
   Perkembangan kognitif
   Kreatifitas
   Perkembangan sosial
   Kesadaran diri
   Perkembangan moral
   Terapi
   Komunikasi
        Prinsip – prinsip bermain adalah harus ada alat bermain, ruang bermain, cara
bermain, teman yang mau diajak bermain.
        Jadi bermain sangatlah penting karena juga termasuk salah satu stimulus bagi
perkembangan anak. Tetapi bermain juga harus sesuai dengan usia dan kemampuan
anak.




                                                                                 13
                               DAFTAR PUSTAKA


Foster and Humsberger, 2000, family Centered Care of Children. WB sauders
      Company, Philadelpia, USA.

Hidayat, A.Azis Alimul, 2008, Pengantar Ilmu Keperawatan, Salemba Medika,
     Jakarta.

Hurlock E B, 2001, Perkembangan Anak Jilid 1, Erlangga, Jakarta.

Markum dkk, 2000, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1, Erlangga, Jakarta.

Nur Salam dkk, 2005, Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (untuk pewatan dan
     bidan). Salemba Medika, Jakarta.

Soetjinngsih, 2001, Tumbuh Kembang Anak, EGC, Jakarta.

Whaley and Wong, 2003, Nursing Care infants and children. Fourth Edition, Mosby
    Year Book, Toronto Canada

Wong, Donna L, 2004, Pedoman Klinis Perawatan Pediatrik, EGC, Jakarta.


Hidayat,      Irvan,     2009,     Permainan     anak       di    waktu         luang,
     http://id.88db.com/id/Knowledge/Knowledge_Detail.page/Hobi-Waktu-
     Luang/?kid=8029, diakses 3 Maret 2010


Santoso,Edi,2010,         Peran       bermain       bagi        anak     http://www.e-
      dukasi.net/artikel/index.php?id=27 diakses 3 Maret 2010

Kurniawan, Fitri,2010 http://www.rileks.com/community/artikelmu/ceremonia/27983-ingin-
      anak-pintar-dan-    cerdas-ajak-mereka-bermain-peran-.html, diakses 3 Maret 2010




                                                                                   14

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:4439
posted:5/21/2011
language:Indonesian
pages:14