makalah Pancasila by anamaulida

VIEWS: 4,343 PAGES: 10

									                                 Kata Pengantar


     Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat, karunia
terutama kesempatan yang diberikan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan makalah ini dengan baik. Tanpa adanya kesempatan, mustahil penulis dapat
menyelasaikan penulisan makalah ini secara tuntas, walaupun masih banyak terdapat
kekurangan.Makalah ini membahas tentang “Pancasila dan Keamanan Nasional”.


     Selama penulisan makalah ini, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai
pihak, baik secara langsung maupun secara tidak langsung dalam penulisan makalah
ini. Untuk itu dari hati yang paling dalam penulis menyampaikan ucapan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu penulisan makalah ini


     Sebagai manusia biasa penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini
masih banyak terdapat kekurangan dan kekeliruan, baik dari segi isi maupun dari segi
penulisanya. Segala kritikan dan masukan dari semua pihak, akan menjadi pengalaman
yang sangat berharga bagi penulis demi kesempurnaan makalah ini.




                                                             Wassalam Penulis




                                                                Puji Pribadi
                                        BAB II
                                          ISI


2.1. Trilogi Pancasila


          Trilogi Pancasila Berdasarkan kenyataan sejarah, budaya dan filsafat
     Pancasila mempunyai tiga fungsi seperti berikut : 1. Sebagai pandangan
     dunia/pandangan hidup, 2. Sebagai dasar negara NKRI dan 3. Sebagai ideologi
     nasional (Pranarka, 1985). Fungsi pertama sebagai pandangan dunia/pandangan
     hidup Pancasila memberi alas dan orientasi sistem kepengetahuan dan sistem nilai
     bagi kebutuhan proses membangsa dan menegara atau to be keindonesiaan
     sepanjang masa.


          Fungsi ke dua adalah sebagai dasar negara yang berkenaan dengan sistem
     dan dasar hukum nasional, di antaranya guna mengantisipasi kehadiran sistem
     hukum “pra-nasional” yang bersumber ajaran keagamaan dan etnisitas eksklusif
     dalam tata hukum nasional yang sering kontroversial.


          Adapun fungsi ke tiga Pancasila sebagai ideologi nasional adalah fungsi
     “pragmatis” di mana laku tindak keindonesiaan menjadi keniscayaan komunitas
     kebangsaan. Aktualitas Pancasila sebagai Ideologi Nasional Aktualitas wacana
     Pancasila sebagai ideologi nasional pertama-tama adalah mengungkit kemudian
     perlu menggugat kesadaran dan penyadaran diri kita selaku nasion; sebab
     “nasional” itu adalah istilah yang kata dasarnya nasion.


2.2. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

          Bangsa Indonesia yang sedang sibuk membangun dan berupaya
     memecahkan masalah kemiskinan dan kesenjangan social, mau tidak mau harus
     terlibat dalam jaringan politik dunia yang semakin dipengaruhi oleh kekuatan-
     kekuatan ekonomi raksasa. Hal itu menunjukkan bahwa bangsa Indonesia
     dihadapkan pada tantangan, yaitu tantangan untuk memiliki cara hidup serta
     tingkat kehidupan yang wajar secara manusiawi dan adil. Tantangan hanya bisa
     diatasi jika bangsa Indonesia tetap mempertahanakn identitasnya dalam ikatan
persatuan dan mampu mengembangkan dinamikanya agar mampu bersaing
dengan bangsa-bangsa lain. Dalam menjawab tantangan tersebut, Pancasila
perlu tampil sebagai ideologi terbuka karena ketertutupan hanya akan membawa
kepada kemandegan.

      Gagasan mengenai pancasila sebagai ideologi terbuka mulai berkembang
sejak tahun 1985. tetapi semangatnya sudah tumbuh sejak Pancasila itu sendiri
ditetapkan sebagai dasar Negara (Emran, 1994:38). Sebagai idedologi, Pancasila
menjadi edoman dan acuan kita dalam menjalankan aktivitas di segala bidang,
sehingga sifatnya haurs terbuka, luwes dan fleksibel dan tidak tertutup, kaku yang
akan membuatnya ketinggalan jaman. Sebagaimana yang dikemukakan oleh
Alfian, Pancasila telah memenuhi syarat sebagai ideologi terbuka. Hal ini
dibuktikan dari adanya sifat-sifat yang melekat pada Pancasila maupun kekuatan
yang terkandung di dalamnya, yaitu pemenuhan persyaratan kualitas tiga dimensi.


      Yang dimaksud dengan Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah Pancasila
merupakan ideologi yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembagan jaman
tanpa pengubahan nilai dasarnya. Ini bukan berarti bahwa nilai dasar Pancasila
dapat diubah dengan nilai dasar yang lain yang sama artnya dengan meniadakan
Pancasila atau meniadakan identitas/jati diri bangsa Indonesia (AL Marsudi,
2000:62). Pancasila sebagai ideologi terbuka mengandung makna bahwa nilai-
nilai dasar Pancasila itu dapat dikembangkan sesuai dengan dinamika kehidupan
bangsa Indonesia dan tuntutan perkembangan zaman secara kreatif dengan
memperhatikan tingkat kebutuhan dan perkembangan masyarakat Indonesia
sendiri.


      Sebagai Ideologi terbuka, Pancasila memberikan orientasi ke depan,
mengharuskan bangsanya untuk selalu menyadari situasi kehidupan yang sedang
dan akan dihadapinya, terutama menghadapi globalisasi dan era keterbukaan
dunia dalam segala bidang. Ideologi Pancasila menghendaki agar bangsa
Indonesia tetap bertahan dalam jiwa dan budaya bangsa Indonesia dalam ikatan
Negara kesatuan Republik Indonesia.
          Beberapa faktor yang mendorong pemikiran Pancasila sebagai ideologi
     terbuka.
     1.   Dalam proses pembangunan nasional berencana, dinamika masyarakat kita
          berkembang amat cepat. Dengan demikian tidak semua persoalan kehidupan
          dapat ditemukan jawabannya secara ideologis dalam pemikiran ideologi-
          ideologi sebelumnya.
     2.   Kenyataan           bangkrutnya      ideologi       tertutup        seperti
          marxismeleninisme/komunisme. Dewasa ini kubu komunisme dihadapkan
          pada pilihan yang amat berat, menjadi suatu ideologi terbuka atau tetap
          mempertahankan ideologi lainnya.
     3.   Pengalaman sejarah politik kita sendiri dengan pengaruh komunisme sangat
          penting. Karena pengaruh ideologi komunisme yang pada dasarnya bersifat
          tertutup, Pancasila pernah merosot menjadi semacam dogma yang kaku.
          Pancasila tidak lagi tampil sebagai acuan bersama, tetapi sebagai senjata
          konseptual     untuk    menyerang   lawan-lawan   politik.   Kebijaksanaan
          pemerintah di saat itu menjadi absolute. Konsekuensinya, perbedaan-
          perbedaan menjadi alas an untuk secara langsung dicap sebagai anti
          pancasila.
     4.   Tekad kita untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam
          kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Sebagai catatan, istilah
          Pancasila sebagai satu-satunya asas telah dicabut berdasarkan ketetapan
          MPR tahun 1999, namun pencabutan ini kita artikan sebagai pengembalian
          fungsi utama Pancasila sebagai dasar Negara. Dalam kedudukannya sebagai
          dasar Negara, Pancasila harus dijadikan jiwa (volkgeits) bangsa Indonesia
          dalam kehidupan berbangsa dan bernegara terutama dalam pengembangan
          Pancasila sebagai Ideologi terbuka. Di samping itu, ada factor lain, yaitu
          adanya tekad bangsa Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai
          alternative ideologi dunia.

2.3. Pancasila Sebagai Ideologi Tertutup

          Ideologi tertutup, merupakan suatu sistem pemikiran tertutup. Ideologi ini
     mempunyai cirri sebagai berikut.
    •     Merupakan cita-cita suatu kelompok orang untuk mengubah dan memperbaharui
          masyarakat. Atas Nama Ideologi dibenarkan pengorbanan-pengorbanan yang
          dibebankan kepada masyarakat.


    •     Isinya bukan hanya nilai-nilai dan cita-cita tertentu, melainkan terdiri tuntutan-
          tuntutan   konkret   dan   oprasional   yang    keras   dan    diajukan   mutlak.
          Pancasila sebagai sebuah pemikiran memenuhi ciri sebagai ideoloi terbuka. Nilai
          yang terkandung dalam ideologi Pancasila bukanlah nilai-nilai luar tetapi
          bersumber dari kekayaan rohani bangsa, serta diterimanya nilai bersama itu adalah
          hasil kesepakatan warga bangsa bukan paksaan atau tekanan pihak lain.


          Ciri lain dari suatu ideologi tertutup adalah tidak bersumber dari
    masyarakat, melainkan dari pikiran elit yang harus dipropagandakan kepada
    masyarakat. Sebaliknya, baik-buruknya pandangan yang muncul dan berkembang
    dalam masyarakat dinilai sesuai tidaknya dengan ideologi tersebut. Dengan
    sendirinya ideologi tertutup tersebut harus dipaksakan berlaku dan dipatuhi
    masyarakat oleh elit tertentu, yang berarti bersifat otoriter dan dijalankan dengan
    cara yang totaliter.

          Contoh paling baik dari ideologi tertutup adalah Marxisme-Leninisme.
    Ideologi yang dikembangkan dari pemikiran Karl Marx yang dilanjutkan oleh
    Vladimir Ilianov Lenin ini berisi sistem berpikir mulai dari tataran nilai dan
    prinsip dasar dan dikembangkan hingga praktis operasional dalam kehidupan
    bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ideologi Marxisme-Leninisme meliputi
    ajaran dan paham tentang (a) hakikat realitas alam berupa ajaran materialisme
    dialektis dan ateisme; (b) ajaran makna sejarah sebagai materialisme historis; (c)
    norma-norma rigid bagaimana masyarakat harus ditata, bahkan tentang
    bagaimana individu harus hidup; dan (d) legitimasi monopoli kekuasaan oleh
    sekelompok orang atas nama kaum proletar.

2.4. Pancasila dan Pragmatisme

          Berkembangnya paham pragmatisme yang bisa jadi berbahaya kalau
    orientasi seseorang menjadi kepada kebendaan semata karena harta benda (uang)
    yang paling berguna untuk menunjang kehidupan yang bisa menimbulkan
    kemunduran kehidupan spirituil keagamaan seseorang. Ini bisa menjadikan
    seseorang bertuhankan harta benda (uang) dan menghalalkan segala cara untuk
    mencari harta benda (uang) yang menimbulkan meluasnya tingkah laku korupsi di
    Indonesia.

         Paham ini juga sangat berbahaya apabila para pragmatis menganggap
    keberadaan Pancasila tidak ada gunanya jadi tidak perlu dipedulikan. Paham
    pragmatisme ini mula mencuat pada awal orde baru ketika pengaruh model
    perekonomian Amerika atau kapitalisme mulai merebak di Indonesia.

         Seorang pakar politik LIPI Siti Zuhro menyatakan, politisasi telah masuk
    ke hampir seluruh sendi kehidupan bernegara dan berbangsa. Akibatnya,
    muncullah sikap pragmatisme dan oportunisme yang tidak bisa dikendalikan
    oleh kultur bangsa Indonesia.

         Lebih jauh politisasi itu mengakibatkan orientasi yang dangkal dan
    terbatas untuk mencapai kekuasaan dan uang. “ Ini sudah terjadi dan merugikan,
    kehidupan bernegara dan berbangsa dalam membangun Indonesia ke depan
    yang lebih demokratis dan sejahtera,” katanya.

         Kaum muda, menurutnya, harus belajar dari para pemimpin sebelumnya.
    “Generasi muda harus memiliki reaktualisasi sumpah pemuda di tengah
    perkembangan dinamika politik yang sangat semarak. Selain itu, kaum muda
    harus menghidupkan kembali kecintaan kepada Pancasila, NKRI, dan
    Kebhinekaan. Sebab, jika sudah mengabaikan Pancasila maka uang menjadi
    panglima. Dampaknya, sampai saat ini belum ada kaum muda dan kader muda
    partai yang memiliki jiwa kenegaraan dan bervisi kebangsaan,” katanya.

2.5. Wawasan Kebangsaan dan Peranan Kecendikiawanan

         Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam kasus mempertahankan
    kebangsaan adalah wawasan kebangsaan. Wawasan kebangsaan merupakan salah
    satu wahana membangun cinta tanah air karena wawasan kebangsaan merupakan
    cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya yang di dasari
    oleh falsafat cita-cita dan tujuan nasional, namun sampai saat ini pemahanan
    wawasan kebangsaan dalam diri masyarakat masih kurang oleh karena itu perlu
    adanya pemberian pemahaman akan wawasan kebangsaan sejak usia dini.
     Nasionalisme Indonesia adalah masa depan bangsa Indonesia. Menurut
Soekarno, kebangsaan adalah inti dari Pancasila yang membentuk bangsa
Indonesia. Namun, sayangnya kendala yang sering kita temukan adalah
kemiskinan yang terbukti skarang 40% dari seluruh bangsa indonesia adalah
dalam kategori berekonomi rendah / miskin. KPK juga terus menemukan kasus –
kasus korupsi. Teringat kembali pemuda – pemudi Indonesia bersumpah saat 28
Oktober untuk terus bersatu dalam negara Indonesia, namun tetap saja masih
banyak egoisme serta kepicikan yang mencekik kemajuan Indonesia. Indonesia
bukanlah Uni Soviet ataupun Yugoslavia yang pernah membuat nama baik dalam
sejarah. Oleh karena itu, untuk menyatukan bangsa Indonesia dibutuhkan
nasionalisme yang kuat dan bangsa Indonesia yang tidak dipengaruhi ras, agama,
dan lain – lain. Indonesia itu lebih mirip India, Afganistan, dan sejenisnya, bukan
seperti Korea, Jepang, dan Taiwan, karena Indonesia berjuang berdasarkan tekad
yang kuat.

       Belajar dari masa sejarah, kita menemukan bahwa proses pembentukan
Pancasila begitu dipikirkan, dirundingkan dan dimufakati bersama oleh para
tokoh cendekiawan yang berjuang tempo itu; merekalah Mr. Soepomo,
Muhammad Yamin dan Ir. Soekarno. Betapa keberadaan Pancasila begitu
diagungkan dan diperjuangkan tatkala pada tanggal 30 September 1965 G 30
S/PKI melakukan pemberontakan lantaran tergiur untuk mengubah ideologi
Pancasila    menjadi   ideologi   komunis.   Namun     berkat   kesadaran    untuk
mempertahankan Pancasila, maka upaya tersebut mengalami kegagalan. Lihatlah
betapa mengagumkannya gelora jiwa patriotisme dan nasionalisme bangsa
Indonesia kala itu. Hidup dan mati mereka, dipersembahkan bagi keutuhan moral
bangsa yang terbentuk mendasar dalam kelima butir azas negara.

       Menilik perjalanannya, terkuak nyata bahwa Pancasila bukan semata
sebagai simbol ideologi bangsa, namun juga menjadi yang merasuk dalam jiwa
sekalian insan di Indonesia. Pancasila menjadi identitas kebanggaan bangsa dan
menjadi penyelaras keberadaan Indonesia di mata dunia. Pancasila sungguh-
sungguh menjadi pedoman yang dipegang dalam melaksanakan kehidupan dan
pengabdian kepada tanah air. Perjalanan Pancasila tak mudah untuk sampai di
    hari ini. Tak dapat dipungkiri pula bahwa Pancasila akan selalu relevan terhadap
    jaman yang terus berkembang.

2.6. Kapasitas Ideologi Pancasila Mau Dibuang

         Menyikapi berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa belakangan ini,
    banyak yang mengkhawatirkan Pancasila tidak lagi mampu menunjukkan taksu
    sebagai sebuah ideologi bangsa. Bagaimana tidak, dalam implementasi di
    masyarakat, Pancasila tak lebih dari slogan, kata-kata spanduk, atau lima butir
    kalimat yang hanya dihafal oleh anak TK dan sekolah pada umunya. Lebih ironis
    lagi tidak sedikit generasi muda yang tidak mengetahui butir – butir Pancasila,
    padahal fungsi dan makna Pancasila semestinya mencakup segala aspek yang
    benar- benar menjiwai kehidupan masyarakat.

         Lalu,   apa   ancaman     terbesar   bagi   Bangsa   Indonesia   saat   ini??
    Berbicara mengenai Pancasila, maka kita harus membuka mata bahwa Pancasila
    kini tengah digerogoti oleh berbagai kepentingan yang mengatasnamakan
    ideologi bangsa. Kecenderungan pemerintah untuk mengadopsi sistem – sitem
    luar negeri menjadikan benih – benih kapitalis mulai muncul. di bidang ekonomi
    adalah contoh yang paling nyata. Kita bisa melihat bagaimana kepentingan asing
    lebih banyak menunggangi berbagai kebijakan ekonomi terutama dalam hal
    investasi.
    Tidak hanya dari luar, ancaman terhadap keberadaan ideologi Pancasila juga
    terjadi dari dalam negeri. Sejak beberapa tahun lalu telah muncul gerakan –
    gerakan separatisme yang ingin keluar dari NKRI. Alasan pun beragam.
    Kurangnya perhatian pemerintah terhadap daerah tersebut bahkan menyalahkan
    Pancasila karena mereka memiliki pemikiran yang berbeda dalam menentukan
    pijakan hidupnya. Di lain pihak ada pula beberapa golongan yang secara terang-
    terangan ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain yang bernuansa
    agama?? sadarkah mereka dengan apa yang hendak dilakukan? MENGGANTI
    PANCASILA..!!!

         Bayangkan saja apabila pancasila harus tergantikan oleh ideologi agama
    tertentu, akan ada lebih banyak perpecahan di Indonesia. Sungguh sesuatu yang
    tidak diharapkan untuk terjadi. Indonesia tetaplah Indonesia. karena Indonesia
adalah sebuah bangsa yang majemuk yang memiliki keanekaragaman. itulah
keindahan Indonesia.

     Satu – satunya cara menjaga keutuhan NKRI adalah menjaga Pancasila, dan
hal tersebut adalah tugas dari generasi muda. Pancasila merupakan sebuah
ideologi. sebuah asas yang dijadikan pijakan dalam kehidupan bermasyarakat.
Maka dari itu Pancasila harus benar- benar meresap dalam benak generasi muda.
Sedikit hiperbola memang. tapi itulah kenyataan. Pancasila memang merupakan
kunci keberagaman Indonesia. Hal tersebut rasanya tidaklah berlebihan karena
generasi muda harus memegang peranan dalam mempertahankan Pancasila
sebagai ideologi bangsa…
                                  Daftar Pustaka

Aim Abdul Karim.2008. Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung: GRAVINDO

Anthony Hadi Wibowo . Wawasan Kebangsaan – Pancasila dan Kewarganegaraan.
            2010.

I Komang Edy Mulyawan. (artikel) Peringatan hari kelahiran pancasila

http://www.suarapembaruan.com/politikdanhukum/politisasi-lahirkan-
pragmatisme/670

http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/03/ideologi-terbuka-dan-ideologi-
tertutup/

http://idhulaw.wordpress.com/2010/06/01/peringatan-hari-kelahiran-pancasila-
mampukah-pancasila-bertahan-sebagai-sebuah-ideologi-bangsa/

								
To top