PENGERTIAN DAN PROSES
Document Sample


PENGERTIAN DAN PROSES PRODUKSI
PENGERTIAN DAN PROSES PRODUKSI
I.
1. Pengertian Proses Produksi
Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana
sesungguhnya sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah
untuk memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau
menambah kegunaan barang atau jasa (Assauri, 1995).
Proses juga diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi
itu dilaksanakan. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan danan menambah
kegunaan (Utility) suatu barang dan jasa. Menurut Ahyari (2002) proses produksi
adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah keguanaan suatu barang dan jasa
dengan menggunakan faktor produksi yang ada.
Melihat kedua definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses produksi
merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau
jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan
baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.
I.
1. Jenis-Jenis Proses Produksi
Jenis-jenis proses produksi ada berbagai macam bila ditinjau dari berbagai segi.
Proses produksi dilihat dari wujudnya terbagi menjadi proses kimiawi, proses
perubahan bentuk, proses assembling, proses transportasi dan proses penciptaan jasa-
jasa adminstrasi (Ahyari, 2002). Proses produksi dilihat dari arus atau flow bahan
mentah sampai menjadi produk akhir, terbagi menjadi dua yaitu proses produksi
terus-menerus (Continous processes) dan proses produksi terputus-putus (Intermettent
processes).
Perusahaan menggunakan proses produksi terus-menerus apabila di dalam
perusahaan terdapat urutan-urutan yang pasti sejak dari bahan mentah sampai proses
produksi akhir. Proses produksi terputus-putus apabila tidak terdapat urutan atau pola
yang pasti dari bahan baku sampai dengan menjadi produk akhir atau urutan selalu
berubah (Ahyari, 2002).
Penentuan tipe produksi didasarkan pada faktor-faktor seperti: (1) volume atau
jumlah produk yang akan dihasilkan, (2) kualitas produk yang diisyaratkan, (3)
peralatan yang tersedia untuk melaksanakan proses. Berdasarkan pertimbangan
cermat mengenai faktor-faktor tersebut ditetapkan tipe proses produksi yang paling
cocok untuk setiap situasi produksi. Macam tipe proses produksi dari berbagai
industri dapat dibedakan sebagai berikut (Yamit, 2002):
1.
1. Proses produksi terus-menerus
Proses produksi terus-menerus adalah proses produksi barang atas dasar aliran
produk dari satu operasi ke operasi berikutnya tanpa penumpukan disuatu titik dalam
proses. Pada umumnya industri yang cocok dengan tipe ini adalah yang memiliki
karakteristik yaitu output direncanakan dalam jumlah besar, variasi atau jenis produk
yang dihasilkan rendah dan produk bersifat standar.
1.
1. Proses produksi terputus-putus
Produk diproses dalam kumpulan produk bukan atas dasar aliran terus-menerus
dalam proses produk ini. Perusahaan yang menggunakan tipe ini biasanya terdapat
sekumpulan atau lebih komponen yang akan diproses atau menunggu untuk diproses,
sehingga lebih banyak memerlukan persediaan barang dalam proses.
1.
1. Proses produksi campuran
Proses produksi ini merupakan penggabungan dari proses produksi terus-
menerus dan terputus-putus. Penggabungan ini digunakan berdasarkan kenyataan
bahwa setiap perusahaan berusaha untuk memanfaatkan kapasitas secara penuh.
Persediaan Bahan Baku
1. Pengertian Fungsi dan Jenis-Jenis Persediaan.
Pengendalian persedian merupakan fungsi manajerial yang sangat penting
karena persediaan fisik banyak melibatkan investasi rupiah terbesar. Menurut
Handoko (2000), bila perusahaan menamankan terlalu banyak dananya dalam
persediaan, menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, dan mungkin
mempunyai “Opportunity Cost” (dana dapat ditanamkan dalam investasi yang lebih
menguntungkan”. Sebaliknya, bila perusahaan tidak mempunyai persediaan yang
cukup dapat mengakibatkan biaya-biaya karena kekurangan bahan.
Istilah persediaan (Inventory) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan
segala sesuatu atau sumberdaya-sumberdaya organisasi yang disimpan dalam
antisipasi pemenuhan permintaan. Permintaan akan sumberdaya internal ataupun
eksternal ini meliputi persediaan bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi atau
produk akhir, bahan-bahan pembantu atau pelengkap dan komponen-komponen lain
yang menjadi bagian keluaran produk perusahaan.
Fungsi-fungsi persediaan antara lain (Handoko, 2002) :
I.
1.
1.
1.
1. Fungsi Decoupling
Fungsi persediaan ini operasi-operasi perusahaan secara internal dan ekstrenal
sehingga perusahaan dapat memenuhi permintaan langanan tanpa tergantung pada
supplier. Persediaan barang jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan produk yang
tidak pasti dari langganan. Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi
permintaan yang tidak dapat diperkirakan atau diramalkan disebut Fluctuation Stock.
I.
1.
1.
1.
1. Fungsi Economis Lot Sizing
Persediaan berfungsi untuk mengurangi biaya-biaya per unit saat produksi dan
membeli sumberdaya-sumberdaya. Persediaan ini perlu mempertimbangkan
penghematan-penghematan (potongan pembelian, biaya pengangkutan lebih murah
dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih
besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan
(biaya sewa gudang, investasi, resiko kerusakan).
I.
1.
1.
1.
1. Fungsi Antisipasi
Persediaan berfungsi sebagai pengaman bagi perusahaan yang sering
menghadapi ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang-
barang. Persediaan ini penting agar kelancaran proses produksi tidak terganggu.
Persediaan ada berbagai jenis. Setiap jenisnya mempunyai karakteristik khusus
dan cara pengelolaannya juga berbeda. Menurut jenisnya, persediaan dapat dibedakan
atas (Handoko, 2002):
1.
1. Persediaan bahan mentah (raw materialis), yaitu persediaan barang-
barang berwujud mentah. Persediaan ini dapat diperoleh dari sumber-
sumber alam atau dibeli dari para Supplier atau dibuat sendiri oleh
perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
2. Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased paris), yaitu
persediaan barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang
diperoleh dari perusahaan lain, dimana secara langsung dapat dirakit
menjadi produk.
3. Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan
barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam
proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi
masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.
4. Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan
barang-barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak
merupakan bagian atau komponen barang jadi.
5. Persedian barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang
yang telah selesai diproses atau diolah dalam bentuk produk dan siap
untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan.
1. Peranan Persediaan
Pada dasarnya persediaan mempermudah atau memperlancar jalannya operasi
perusahaan yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang-
barang serta menyampaikan kepada pelanggan. Persediaan bagi perusahaan, antara
lain berguna untuk:
1.
1. Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-
bahan yang dibutuhkan perusahaan.
2. Menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga
dapat digunakan bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
3. Mempertahankan stabilitas atau kelancaran operasi perusahaan.
4. Mencapai penggunaan mesin yang optimal.
5. Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya.
6. Membuat produksi tidak perlu sesuai dengan pengunaan atau
penjualannya.
Persediaan sangat penting artinya bagi suatu perusahaan karena berfungsi
menggabungkan antara operasi yang berurutan dalam pembuatan suatu barang dan
menyampaikannya kepada konsumen. Adanya persediaan, dapat memungkinan bagi
perusahaan untuk melaksanakan operasi produksi, karena faktor waktu antara operasi
itu dapat dihilangkan sama sekali atau dimininumkan (Assauri, 1999).
1. Arti Penting Persediaan Produk Jadi
Setiap perusahaan mempunyai kebijaksanaan yang berbeda-beda dalam
menentukan tingkat persediaan produk jadi. Tujuan adanya persediaan produk jadi
adalah untuk meredam fluktuasi permintaan. Persediaan dapat difungsikan untuk
memenuhi kekurangan pasokan produk jadi di pasaran sebagai akibat permintaan
yang disimpan perusahaan. Oleh karena itu tingkat persediaan produk jadi yang
ditetapkan manajemen perusahaan memegang peran yang sangat penting dalam
menjaga kestabilan pemasokan produk ke pelanggan (Kusuma, 1999).
Fluktuasi permintaan dapat dipenuhi dengan persediaan barang yang diproduksi
pada saat sepi, dan persediaan tersebut digunakan pada saat permintaan ramai. Biaya
persediaan mencakup asuransi, beban bunga, kerusakan, serta pajak. Akumulai
persediaan dan produksi yang tidak memenuhi permintaan, akan menyebabkan biaya
sebagai akibat pembatalan pesanan dan ketidakpuasan pelanggan (Kusuma, 1999).
Tingkat Produksi Optimal
Tingkat produksi optimal atau Economic Production Quantity (EPQ) adalah
sejumlah produksi tertentu yang dihasilkan dengan meminimumkan total biaya
persediaan (Yamit, 2002). Metode EPQ dapat dicapai apabila besarnya biaya
persiapan (set up cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost) yang dikeluarkan
jumlahnya minimun. Artinya, tingkat produksi optimal akan memberikan total biaya
persediaan atau total inventori cost (TIC) minimum.
Metode EPQ mempertimbangkan tingkat persediaan barang jadi dan
permintaan produk jadi. Metode ini juga mempertimbangkan jumlah persiapan
produksi yang berpengaruh terhadap biaya persiapan. Metode EPQ menggunakan
asumsi-asumsi sebagai berikut:
1.
1.
1.
1.
i.
1. Barang yang diproduksi
mempunyai tingkat produksi
yang lebih besar dari tingkat
permintaan.
2. Selama produksi dilakukan,
tingkat pemenuhan persediaan
adalah sama dengan tingkat
produksi dikurangi tingkat
permintaan.
3. Selama berproduksi, besarnya
tingkat persediaan kurang dari Q
(EPQ) karena penggunaan selama
pemenuhan.
1. Penentuan Volume Produksi yang Optimal dengan Metode
Economic Production Quantity (EPQ)
Persediaan produk dalam suatu perusahaan berkaitan dengan volume produksi
dan besarnya permintaan pasar. Perusahaan harus mempunyai kebijakan untuk
menentukan volume produksi dengan disesuaikan besarnya permintaan pasar agar
jumlah persediaan pada tingkat biaya minimal. Menurut Yamit (2002), permasalahan
itu dapat diselesaikan dengan menggunakan metode Economic Production Quantity
(EPQ). Metode EPQ dimaksudkan untuk menentukan besarnya volume produksi yang
optimal, dalam artian cukup untuk memenuhi kebutuhan dengan biaya yang serendah-
rendahnya.
Menurut Riyanto (2001), penentuan jumlah produk optimal hanya
memperhatikan biaya variabel saja. Biaya variabel dalam persediaan pada prinsipnya
dapat digolongkan sebagai berikut:
I.
1.
1.
1.
1. Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan
frekuensi jumlah persiapan proses produksi yang
disebut biaya persiapan produksi (set-up cost).
2. Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan
besarnya persediaan rata-rata yang disebut biaya
penyimpanan (holding cost).
Menurut Handoko (2002), biaya persiapan produksi merupakan biaya yang
harus dikeluarkan sebelum produksi berlangsung. Biaya ini timbul karena perusahaan
memproduksi sendiri bahan baku yang akan digunakan. Biaya ini terdiri dari : (1)
biaya mesin-mesin menganggur, (2) biaya persiapan tenaga kerja langsung, (3) biaya
scheduling, (4) biaya ekspedisi dan sebagainya.
Biaya penyimpanan terdiri atas biaya yang-biaya yang bervariasi secara
langsung dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin
besar apabila rata-rata persediaan semakin tinggi. Biaya yang termasuk sebagai biaya
penyimpanan diantaranya :
1. Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pemanas atau
pendingin)
2. Biaya modal (opportunity cost of capital)
3. Biaya keusangan
4. Biaya perhitungan fisik dan konsiliasi laporan
5. Biaya asuransi persediaan
6. Biaya pajak persediaan
7. Biaya pencurian, pengrusakan atau perampokan
8. Biaya penanganan persediaan, dan sebagainya.
Kedua jenis biaya tersebut mempunyai hubungan dengan tingkat persediaan.
Biaya persiapan produksi berbanding terbalik dengan tingkat persediaan. Biaya
penyimpanan berbanding lurus dengan tingkat persediaan (Siagian, 1997). Semakin
banyak biaya yang dikeluarkan untuk persiapan produksi, tingkat persediaan semakin
kecil dan sebaliknya. Bila biaya penyimpanan semakin besar, tingkat persediaan
semakin besar atau sebaliknya. (http://yprawira.wordpress.com/pengertian-dan-
proses-produksi/)
Produksi adalah upaya atau kegiatan untuk menambah nilai pada suatu barang. Arah
kegiatan ditujukan kepada upaya-upaya pengaturan yang sifatnya dapat menambah
atau menciptakan kegunaan (utility) dari suatu barang atau mungkin jasa. untuk
melaksanakan kegiatan produksi tersebut tentu saja perlu dibuat suatu perencanaan
yang menyangkut apa yang akan diproduksi, berapa anggarannya dan bagaimana
pengendalian / pengawasannya. Bahkan harus perlu difikirkan, kemana hasil produksi
akan didistribusikan, karena pendistribusian dalam bentuk penjualan hasil produksi
pada akhirnya merupakan penunjang untuk kelanjutan produksi. Pada hakikatnya
kegiatan produksi akan dapat dilaksanakan bila tersedia faktor-faktor produksi, antara
lain yang paling pokok adalah berupa orang / tenaga kerja, uang / dana, bahan-bahan
baik bahan baku maupun bahan pembantu dan metode.
Sumber: http://id.shvoong.com/business-management/business-ideas-and-
opportunities/2041153-pengertian-produksi/#ixzz1Jb3VdGzr
Pengertian Proses Produksi & Jenis Proses Produksi
Proses Produksi
Proses produksi yaitu suatu kegiatan perbaikan terus-menerus (continuos
improvment), yang dimulai dari sederet siklus sejak adanya ide-ide untuk
menghasilkan suatu produk, pengembangan produk, proses produksi, sampai
distribusi kepada konsumen (V. Gaspersz, 2004).
Proses produksi terdiri dari dua kata, yaitu proses dan produksi yang memiliki makna
yang berbeda.Proses adalah cara, metode, dan teknik bagaimana sumber-sumber
(manusia, mesin, material dan uang) yang akan dirubah untuk memperoleh suatu
hasil. Sedangkan produksi adalah kegiatan menciptakan atau menambah kegunaan
suatu barang atau jasa. Jadi pengertian dari proses produksi adalah suatu cara, metode
dan teknik untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa
dengan menggunakan sumber-sumber (manusia, mesin, material, dan uang) yang
ada.
Jenis-Jenis Proses Produksi
Secara umum, proses produksi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu proses produksi
yang terus-menerus (countinous processes) dan proses produksi yang terputus-putus
(intermittent processes). Perbedaan pokok dari kedua proses produksi tersebut adalah
berdasarkan pada panjang tidaknya waktu persiapan untuk mengatur (set up) peralatan
produksi yang digunakan untuk memproduksi suatu produk atau beberapa produk
tanpa mengalami perubahan. Pada proses produksi yang terus-menerus, perusahaan
atau pabrik menggunakan mesin-mesin yang dipersiapkan (set up) dalam jangka
waktu yang lama dan tanpa mengalami perubahan. Sedangkan untuk proses produksi
yang terputus-putus menggunakan mesin-mesin yang dipersiapkan dalam jangka
waktu yang pendek, dan kemudian akan dirubah atau dipersiapkan kembali untuk
memproduksi produk lain. Adapun sifat-sifat atau ciri-ciri dari proses produksi
yang terus-menerus (countinous processes), yaitu :
1.Produk yang dihasilkan pada umumnya dalam jumlah besar dengan variasi yang
sangat kecil dan sudah distandarisasikan.
2.Sistem atau cara penyusunan peralatannya berdasarkan urutan pengerjaan dari
produk yang dihasilkan, yang biasa disebut product layout/departementation
by product.
3.Mesin-mesin yang digunakan untuk menghasilkan produk bersifat khusus
(Special Purpose Machines).
4.Pengaruh operator terhadap produk yang dihasilkan sangat kecil karena mesin
biasanya bekerja secara otomatis, sehingga seorang operator tidak perlu memiliki
keahlian tinggi untuk pengerjaan produk tersebut.
5.Apabila salah satu mesin/peralatan terhenti atau rusak, maka seluruh proses
akan terhenti.
6.Job strukturnya sedikit dan jumlah tenaga kerjanya tidak perlu banyak.
7. Persediaan bahan mentah dan bahan dalam proses lebih rendah dari padapersediaan
bahan mentah dan bahan dalam proses pada proses produksi yang terputus-putus.
8. Diperlukan perawatan khusus terhadap mesin-masin yang digunakan.
9. Biasanya bahan-bahan dipindahkan dengan peralatan yang tetap (fixed path
equipment) yang menggunakan tenaga mesin, seperti konveyor.
Sedangkan sifat-sifat atau ciri-ciri dari proses produksi yang terputus-putus
(intermetent processes) adalah :
1. Produk yang dihasilkan biasanya dalam jumlah kecil dengan variasi yang
sangat besar dan didasarkan pada pesanan.
2.Sistem atau cara penyusunan peralatan berdasarkan atas fungsi dalam proses
produksi atau peralatan yang sama dikelompokkan pada tempat yang sama, yang
disebut dengan process layout/departemantation by equipment.
3.Mesin-mesin yang digunakan bersifat umum dan dapat digunakan untuk
menghasilkan bermacam-macam produk dengan variasi yang hamper sama(General
Purpose Machines).
4. Pengaruh operator terhadap produk yang dihasilkan cukup besar, sehingga operator
memerlukan keahlian yang tinggi dalam pengerjaan produk serta terhadap pekerjaan
yang bermacam-macam yang menimbulkan pengawasan yang lebih sulit.
5. Proses produksi tidak akan berthenti walaupun terjadi kerusakan atau terhentinya
salah satu mesin/peralatan.
6. Persediaan bahan mentah pada umumnya tinggi karena tidak dapat ditentukan
pesanan apa yang harus dipesan oleh pembeli, dan persediaan bahan dalam proses
lebih tinggi dari proses produksi yang terus-menerus (countinous processes) karena
prosesnya putus-putus.
7. Biasanya bahan-bahan dipindahkan dengan peralatan handling yang dapat
berpindah secara bebas (Variable Path Equipment) yang menggunakan tenaga
manusia, seperti kereta dorong atau forklift.
8. Pemindahan bahan sering dilakukan bolak-balik sehingga perlu adanya ruang
gerak (aisle) yang besar dan ruang tempat bahan-bahan dalam proses (work in
process) yang besar.
Diposkan oleh bagus_coy di 04:08 (http://bagus-
coy.blogspot.com/2010/03/pengertian-proses-produksi-jenis-proses.html)
PENGERTIAN DAN PROSES PRODUKSI
PENGERTIAN DAN PROSES PRODUKSI
1.Pengertian Proses Produksi
Proses diartikan sebagai suatu cara, metode dan teknik bagaimana sesungguhnya
sumber-sumber (tenaga kerja, mesin, bahan dan dana) yang ada diubah untuk
memperoleh suatu hasil. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah
kegunaan barang atau jasa (Assauri, 1995).
Proses juga diartikan sebagai cara, metode ataupun teknik bagaimana produksi itu
dilaksanakan. Produksi adalah kegiatan untuk menciptakan danan menambah
kegunaan (Utility) suatu barang dan jasa. Menurut Ahyari (2002) proses produksi
adalah suatu cara, metode ataupun teknik menambah keguanaan suatu barang dan jasa
dengan menggunakan faktor produksi yang ada.
Melihat kedua definisi di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses produksi
merupakan kegiatan untuk menciptakan atau menambah kegunaan suatu barang atau
jasa dengan menggunakan faktor-faktor yang ada seperti tenaga kerja, mesin, bahan
baku dan dana agar lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.
2.Jenis-Jenis Proses Produksi
Jenis-jenis proses produksi ada berbagai macam bila ditinjau dari berbagai segi.
Proses produksi dilihat dari wujudnya terbagi menjadi proses kimiawi, proses
perubahan bentuk, proses assembling, proses transportasi dan proses penciptaan jasa-
jasa adminstrasi (Ahyari, 2002). Proses produksi dilihat dari arus atau flow bahan
mentah sampai menjadi produk akhir, terbagi menjadi dua yaitu proses produksi
terus-menerus (Continous processes) dan proses produksi terputus-putus (Intermettent
processes).
Perusahaan menggunakan proses produksi terus-menerus apabila di dalam perusahaan
terdapat urutan-urutan yang pasti sejak dari bahan mentah sampai proses produksi
akhir. Proses produksi terputus-putus apabila tidak terdapat urutan atau pola yang
pasti dari bahan baku sampai dengan menjadi produk akhir atau urutan selalu berubah
(Ahyari, 2002).
Penentuan tipe produksi didasarkan pada faktor-faktor seperti: (1) volume atau jumlah
produk yang akan dihasilkan, (2) kualitas produk yang diisyaratkan, (3) peralatan
yang tersedia untuk melaksanakan proses. Berdasarkan pertimbangan cermat
mengenai faktor-faktor tersebut ditetapkan tipe proses produksi yang paling cocok
untuk setiap situasi produksi. Macam tipe proses produksi dari berbagai industri dapat
dibedakan sebagai berikut (Yamit, 2002):
a.Proses produksi terus-menerus
Proses produksi terus-menerus adalah proses produksi barang atas dasar aliran produk
dari satu operasi ke operasi berikutnya tanpa penumpukan disuatu titik dalam proses.
Pada umumnya industri yang cocok dengan tipe ini adalah yang memiliki
karakteristik yaitu output direncanakan dalam jumlah besar, variasi atau jenis produk
yang dihasilkan rendah dan produk bersifat standar.
b.Proses produksi terputus-putus
Produk diproses dalam kumpulan produk bukan atas dasar aliran terus-menerus dalam
proses produk ini. Perusahaan yang menggunakan tipe ini biasanya terdapat
sekumpulan atau lebih komponen yang akan diproses atau menunggu untuk diproses,
sehingga lebih banyak memerlukan persediaan barang dalam proses.
c.Proses produksi campuran
Proses produksi ini merupakan penggabungan dari proses produksi terus-menerus dan
terputus-putus. Penggabungan ini digunakan berdasarkan kenyataan bahwa setiap
perusahaan berusaha untuk memanfaatkan kapasitas secara penuh.
Persediaan Bahan Baku
1.Pengertian Fungsi dan Jenis-Jenis Persediaan.
Pengendalian persedian merupakan fungsi manajerial yang sangat penting karena
persediaan fisik banyak melibatkan investasi rupiah terbesar. Menurut Handoko
(2000), bila perusahaan menamankan terlalu banyak dananya dalam persediaan,
menyebabkan biaya penyimpanan yang berlebihan, dan mungkin mempunyai
“Opportunity Cost” (dana dapat ditanamkan dalam investasi yang lebih
menguntungkan”. Sebaliknya, bila perusahaan tidak mempunyai persediaan yang
cukup dapat mengakibatkan biaya-biaya karena kekurangan bahan.
Istilah persediaan (Inventory) adalah suatu istilah umum yang menunjukkan segala
sesuatu atau sumberdaya-sumberdaya organisasi yang disimpan dalam antisipasi
pemenuhan permintaan. Permintaan akan sumberdaya internal ataupun eksternal ini
meliputi persediaan bahan mentah, barang dalam proses, barang jadi atau produk
akhir, bahan-bahan pembantu atau pelengkap dan komponen-komponen lain yang
menjadi bagian keluaran produk perusahaan.
Fungsi-fungsi persediaan antara lain (Handoko, 2002) :
a.Fungsi Decoupling
Fungsi persediaan ini operasi-operasi perusahaan secara internal dan ekstrenal
sehingga perusahaan dapat memenuhi permintaan langanan tanpa tergantung pada
supplier. Persediaan barang jadi diperlukan untuk memenuhi permintaan produk yang
tidak pasti dari langganan. Persediaan yang diadakan untuk menghadapi fluktuasi
permintaan yang tidak dapat diperkirakan atau diramalkan disebut Fluctuation Stock.
b.Fungsi Economis Lot Sizing
Persediaan berfungsi untuk mengurangi biaya-biaya per unit saat produksi dan
membeli sumberdaya-sumberdaya. Persediaan ini perlu mempertimbangkan
penghematan-penghematan (potongan pembelian, biaya pengangkutan lebih murah
dan sebagainya) karena perusahaan melakukan pembelian dalam kuantitas yang lebih
besar, dibandingkan dengan biaya-biaya yang timbul karena besarnya persediaan
(biaya sewa gudang, investasi, resiko kerusakan).
c.Fungsi Antisipasi
Persediaan berfungsi sebagai pengaman bagi perusahaan yang sering menghadapi
ketidakpastian jangka waktu pengiriman dan permintaan akan barang-barang.
Persediaan ini penting agar kelancaran proses produksi tidak terganggu.
Persediaan ada berbagai jenis. Setiap jenisnya mempunyai karakteristik khusus dan
cara pengelolaannya juga berbeda. Menurut jenisnya, persediaan dapat dibedakan atas
(Handoko, 2002):
a.Persediaan bahan mentah (raw materialis), yaitu persediaan barang-barang berwujud
mentah. Persediaan ini dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari para
Supplier atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi
selanjutnya.
b.Persediaan komponen-komponen rakitan (purchased paris), yaitu persediaan
barang-barang yang terdiri dari komponen-komponen yang diperoleh dari perusahaan
lain, dimana secara langsung dapat dirakit menjadi produk.
c.Persediaan barang dalam proses (work in process), yaitu persediaan barang-barang
yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah
diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut menjadi barang
jadi.
d.Persediaan bahan pembantu atau penolong (supplies), yaitu persediaan barang-
barang yang diperlukan dalam proses produksi, tetapi tidak merupakan bagian atau
komponen barang jadi.
e.Persedian barang jadi (finished goods), yaitu persediaan barang-barang yang telah
selesai diproses atau diolah dalam bentuk produk dan siap untuk dijual atau dikirim
kepada pelanggan.
2.Peranan Persediaan
Pada dasarnya persediaan mempermudah atau memperlancar jalannya operasi
perusahaan yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang-
barang serta menyampaikan kepada pelanggan. Persediaan bagi perusahaan, antara
lain berguna untuk:
a.Menghilangkan resiko keterlambatan datangnya barang atau bahan-bahan yang
dibutuhkan perusahaan.
b.Menumpuk bahan-bahan yang dihasilkan secara musiman sehingga dapat digunakan
bila bahan itu tidak ada dalam pasaran.
c.Mempertahankan stabilitas atau kelancaran operasi perusahaan.
d.Mencapai penggunaan mesin yang optimal.
e.Memberikan pelayanan kepada pelanggan dengan sebaik-baiknya.
f.Membuat produksi tidak perlu sesuai dengan pengunaan atau penjualannya.
Persediaan sangat penting artinya bagi suatu perusahaan karena berfungsi
menggabungkan antara operasi yang berurutan dalam pembuatan suatu barang dan
menyampaikannya kepada konsumen. Adanya persediaan, dapat memungkinan bagi
perusahaan untuk melaksanakan operasi produksi, karena faktor waktu antara operasi
itu dapat dihilangkan sama sekali atau dimininumkan (Assauri, 1999).
C.Arti Penting Persediaan Produk Jadi
Setiap perusahaan mempunyai kebijaksanaan yang berbeda-beda dalam menentukan
tingkat persediaan produk jadi. Tujuan adanya persediaan produk jadi adalah untuk
meredam fluktuasi permintaan. Persediaan dapat difungsikan untuk memenuhi
kekurangan pasokan produk jadi di pasaran sebagai akibat permintaan yang disimpan
perusahaan. Oleh karena itu tingkat persediaan produk jadi yang ditetapkan
manajemen perusahaan memegang peran yang sangat penting dalam menjaga
kestabilan pemasokan produk ke pelanggan (Kusuma, 1999).
Fluktuasi permintaan dapat dipenuhi dengan persediaan barang yang diproduksi pada
saat sepi, dan persediaan tersebut digunakan pada saat permintaan ramai. Biaya
persediaan mencakup asuransi, beban bunga, kerusakan, serta pajak. Akumulai
persediaan dan produksi yang tidak memenuhi permintaan, akan menyebabkan biaya
sebagai akibat pembatalan pesanan dan ketidakpuasan pelanggan (Kusuma, 1999).
Tingkat Produksi Optimal
Tingkat produksi optimal atau Economic Production Quantity (EPQ) adalah sejumlah
produksi tertentu yang dihasilkan dengan meminimumkan total biaya persediaan
(Yamit, 2002). Metode EPQ dapat dicapai apabila besarnya biaya persiapan (set up
cost) dan biaya penyimpanan (carrying cost) yang dikeluarkan jumlahnya minimun.
Artinya, tingkat produksi optimal akan memberikan total biaya persediaan atau total
inventori cost (TIC) minimum.
Metode EPQ mempertimbangkan tingkat persediaan barang jadi dan permintaan
produk jadi. Metode ini juga mempertimbangkan jumlah persiapan produksi yang
berpengaruh terhadap biaya persiapan. Metode EPQ menggunakan asumsi-asumsi
sebagai berikut:
1.Barang yang diproduksi mempunyai tingkat produksi yang lebih besar dari tingkat
permintaan.
2.Selama produksi dilakukan, tingkat pemenuhan persediaan adalah sama dengan
tingkat produksi dikurangi tingkat permintaan.
3.Selama berproduksi, besarnya tingkat persediaan kurang dari Q (EPQ) karena
penggunaan selama pemenuhan.
D.Penentuan Volume Produksi yang Optimal dengan Metode
Economic Production Quantity (EPQ)
Persediaan produk dalam suatu perusahaan berkaitan dengan volume produksi dan
besarnya permintaan pasar. Perusahaan harus mempunyai kebijakan untuk
menentukan volume produksi dengan disesuaikan besarnya permintaan pasar agar
jumlah persediaan pada tingkat biaya minimal. Menurut Yamit (2002), permasalahan
itu dapat diselesaikan dengan menggunakan metode Economic Production Quantity
(EPQ). Metode EPQ dimaksudkan untuk menentukan besarnya volume produksi yang
optimal, dalam artian cukup untuk memenuhi kebutuhan dengan biaya yang serendah-
rendahnya.
Menurut Riyanto (2001), penentuan jumlah produk optimal hanya memperhatikan
biaya variabel saja. Biaya variabel dalam persediaan pada prinsipnya dapat
digolongkan sebagai berikut:
a.Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi jumlah persiapan proses
produksi yang disebut biaya persiapan produksi (set-up cost).
b.Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya persediaan rata-rata yang
disebut biaya penyimpanan (holding cost).
Menurut Handoko (2002), biaya persiapan produksi merupakan biaya yang harus
dikeluarkan sebelum produksi berlangsung. Biaya ini timbul karena perusahaan
memproduksi sendiri bahan baku yang akan digunakan. Biaya ini terdiri dari : (1)
biaya mesin-mesin menganggur, (2) biaya persiapan tenaga kerja langsung, (3) biaya
scheduling, (4) biaya ekspedisi dan sebagainya.
Biaya penyimpanan terdiri atas biaya yang-biaya yang bervariasi secara langsung
dengan kuantitas persediaan. Biaya penyimpanan per periode akan semakin besar
apabila rata-rata persediaan semakin tinggi. Biaya yang termasuk sebagai biaya
penyimpanan diantaranya :
a.Biaya fasilitas-fasilitas penyimpanan (termasuk penerangan, pemanas atau
pendingin)
b.Biaya modal (opportunity cost of capital)
c.Biaya keusangan
d.Biaya perhitungan fisik dan konsiliasi laporan
e.Biaya asuransi persediaan
f.Biaya pajak persediaan
g.Biaya pencurian, pengrusakan atau perampokan
h.Biaya penanganan persediaan, dan sebagainya.
Kedua jenis biaya tersebut mempunyai hubungan dengan tingkat persediaan. Biaya
persiapan produksi berbanding terbalik dengan tingkat persediaan. Biaya
penyimpanan berbanding lurus dengan tingkat persediaan (Siagian, 1997). Semakin
banyak biaya yang dikeluarkan untuk persiapan produksi, tingkat persediaan semakin
kecil dan sebaliknya. Bila biaya penyimpanan semakin besar, tingkat persediaan
semakin besar atau sebaliknya. (http://yprawira01.blogspot.com/2008/10/pengertian-
dan-proses-produksi.html)