arisman efendi

Document Sample
arisman efendi Powered By Docstoc
					                 MAKALAH
             HADITS TARBAWI
    “Hadits Tentang Hukuman Dan Larangan Berzina”
                 Dosen pembimbing:




                    Disusun oleh
                  1. Ari irawan
                  2. Arisman efendi
                  3. Atmam M




       FAKULTAS TARBIYAH
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
  SULTHAN THAHA SYAIFUDDIN
                     JAMBI
                           KATA PENGANTAR


Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Puji syukur kepada allah SWT yang telah memberikan limpahan hidayah dan
inayahnya kepada semua. Sehingga kita masih diberi kesempatan untuk
membahas pendidikan gender.
    Shalawat dan salam kita panjatkan kepada junjungan kita nabi besar
Muhammad SAW yang membawa perubahan zaman dan sebagai suri tauladan
yang baik.
    Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran untuk
menyelesaikan makalah selanjutnya.
    Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan isi makalah ini menjadi
penambah wawasan bagi kita semua.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb




                                                      Jambi, April 2011




                                                         Penulis
                                  PENDAHULUAN

    Dari Ibnu Mas’ud radiallahuanhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda : Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada
Ilah selain Allah dan bahwa saya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) adalah utusan
Allah kecuali dengan tiga sebab : Orang tua yang berzina, membunuh orang lain (dengan
sengaja), dan meninggalkan agamanya berpisah dari jamaahnya.
    Dalam pandangan Islam, zina merupakan perbuatan kriminal (jarimah) yang
dikatagorikan hukuman hudud. Yakni sebuah jenis hukuman atas perbuatan maksiat yang
menjadi hak Allah SWT, sehingga tidak ada seorang pun yang berhak memaafkan
kemaksiatan tersebut, baik oleh penguasa atau pihak berkaitan dengannya. Berdasarkan
Qs. an-Nuur [24]: 2, pelaku perzinaan, baik laki-laki maupun perempuan harus dihukum
jilid (cambuk) sebanyak 100 kali. Namun, jika pelaku perzinaan itu sudah muhson
(pernah menikah), sebagaimana ketentuan hadits Nabi saw maka diterapkan hukuman
rajam
    Berzina termasuk perbuatan kriminal yang harus dihukum. Jenis hukumannya hanya
ada dua, yakni jilid dan rajam. Bagi pezina ghaoiru muhson yang dijatuhi hukuman jilid,
bisa saja mereka dinikahkan setelah menjalani hukuman. Al-Qur?an dalam Qs. an-Nuur
[24]: 3 memberikan kebolehan bagi pezina untuk menikah dengan sesama pezina. Tentu
saja, ini berbeda dengan pezina muhson yang dijatuhi hukuman rajam hingga mati,
kesempatan untuk menikah bisa dikatakan hampir tidak ada.
        allah swt juga melarang agar tidak menuduh wanita baik-baik melikan zina Allah
berfirman, "Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat
zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang
menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat
selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik," (an-Nuur: 4).
Allah Ta'ala juga berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang
baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan
akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki
mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari
itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah
mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesutatu menurut
hakikat yang sebenarnya)," (an-Nuur: 23-25).
                                   DAFTAR ISI
BAB I

Kata pengantar

Pendahuluan

Daftar isi

BAB II Pembahsan

    a. Hadits Tentang Hukuman Dan Larangan Berzina

    b. Hukum Orang Berbuat Zina

    c. Larangan Menuduh Wanita Baik-Baik Lagi Mukminah Berbuat Zina

    d. Hadits-hadits mengenai larangan berbuat zina

BAB II Penutup

    a. Kesimpulan
                                 BAB II
                             PEMBAHASAN
Hadits Tentang Hukuman Dan Larangan Berzina




      Dari Ibnu Mas’ud radiallahuanhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda : Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada
Ilah selain Allah dan bahwa saya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) adalah
utusan Allah kecuali dengan tiga sebab : Orang tua yang berzina, membunuh orang lain
(dengan sengaja), dan meninggalkan agamanya berpisah dari jamaahnya.
(Riwayat Bukhori dan Muslim)
Hukum Orang Berbuat Zina
  1. Dalam pandangan Islam, zina merupakan perbuatan kriminal (jarimah) yang
     dikatagorikan hukuman hudud. Yakni sebuah jenis hukuman atas perbuatan maksiat
     yang menjadi hak Allah SWT, sehingga tidak ada seorang pun yang berhak
     memaafkan kemaksiatan tersebut, baik oleh penguasa atau pihak berkaitan
     dengannya. Berdasarkan Qs. an-Nuur [24]: 2, pelaku perzinaan, baik laki-laki
     maupun perempuan harus dihukum jilid (cambuk) sebanyak 100 kali. Namun, jika
     pelaku perzinaan itu sudah muhson (pernah menikah), sebagaimana ketentuan
     hadits Nabi saw maka diterapkan hukuman rajam.
  2. Yang memiliki hak untuk menerapkan hukuman tersebut hanya khalifah (kepala
     negara Khilafah Islamiyyah) atau orang-orang yang ditugasi olehnya. Jika sekarang
     tidak ada khalifah, yang dilakukan bukan menghukum pelaku perzinaan itu, namun
     harus berjuang menegakkan Daulah Khilafah terlebih dahulu.
  3. Yang berhak memutuskan perkara-perkara pelanggaran hukum adalah qadhi
     (hakim) dalam mahkamah (pengadilan). Tentu saja, dalam memutuskan perkara
     tersebut qadhi itu harus merujuk dan mengacu kepada ketetapan syara?. Yang harus
     dilakukan pertama kali oleh qadhi adalah melakukan pembuktian: benarkah
     pelanggaran hukum itu benar-benar telah terjadi. Dalam Islam, ada empat hal yang
     dapat dijadikan sebagai bukti, yakni: (1) saksi, (2) sumpah, (3) pengakuan, dan (4)
     dokumen atau bukti tulisan. Dalam kasus perzinaan, pembuktian perzinaan ada dua,
     yakni saksi yang berjumlah empat orang dan pengakuan pelaku. Tentang kesaksian
     empat orang, didasarkan Qs. an-Nuur [24]: 4.
  4. Karena syaratnya harus ada empat orang saksi, seseorang tidak dapat dijatuhi
     hukuman. Pengakuan dari salah satu pihak tidak dapat menyeret pihak lainnya
     untuk dihukum. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah
     diceritakan bahwa ada seorang budak laki-laki yang masih bujang mengaku telah
     berzina dengan tuannya perempuan. Kepada dia, Rasulullah menetapkan hukuman
     seratus camnukan dan diasingkan selama satu tahun. Namun demikian Rasulullah
     Saw tidak secara otomatis juga menghukum wanitanya. Rasulullah Saw
     memerintahkan Unais (salah seorang sahabat) untuk menemui wanita tersebut, jika
     ia mengaku ia baru diterapkan hukuman rajam (lihat Bulugh al-Maram bab Hudud).
     Hasil visum dokter juga tidak dapat dijadikan sebagai bukti perbuatan zina. Hasil
     visum itu dapat dijadikan sebagai petunjuk saja.
  5. Tuduhan perzinaan harus dapat dibuktikan dengan bukti-bukti di atas. Tidak boleh
     menuduh seseorang melakukan zina, tanpa dapat mendatangkan empat orang saksi.
  6. Berzina termasuk perbuatan kriminal yang harus dihukum. Jenis hukumannya
       hanya ada dua, yakni jilid dan rajam. Bagi pezina ghaoiru muhson yang dijatuhi
       hukuman jilid, bisa saja mereka dinikahkan setelah menjalani hukuman. Al-Qur?an
       dalam Qs. an-Nuur [24]: 3 memberikan kebolehan bagi pezina untuk menikah
       dengan sesama pezina. Tentu saja, ini berbeda dengan pezina muhson yang dijatuhi
       hukuman rajam hingga mati, kesempatan untuk menikah bisa dikatakan hampir
       tidak ada.
Larangan Menuduh Wanita Baik-Baik Lagi Mukminah Berbuat Zina
        Allah berfirman, "Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik
(berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka
(yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian
mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik," (an-Nuur: 4).
        Allah Ta'ala juga berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita
yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia
dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki
mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari
itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah
mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesutatu menurut
hakikat yang sebenarnya)," (an-Nuur: 23-25).
        Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, dari Rasulullah saw., bahwa beliau
bersabda, "Jauhilah tujuh perkara yang mendatangkan kebinasaan." Para sahbat
bertanya, "Apakah ketujuh perkara itu, wahai Rasulullah?" Rasulullah saw. menjawab,
"Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan
alasan yang dibenarkan syari'at, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan
diri dari medan pertempuran, dan melontarkan tuduhan zina terhadap wanita-wanita
mukminah yang terjaga dari perbuatan dosa dan tidak tahu menahu dengannya," (telah
disebutkan takhrijnya).
Kandungan hadits:
        Kerasnya pengharaman menuduh berzina wanita mukminah yang terjaga dari
perbuatan dosa dan tidak tahu menahu dengannya. Dan penjelasan bahwasanya perbuatan
itu termasuk dosa besar dan terdapat di dalamnya laknat, adzab, dan disyari'atkannya
hukuman.
        Hukum menuduh laki-laki baik sama dengan menuduh wanita baik-baik. Para
ulama tidak membedakan antara keduanya. Hukuman bagi pelaku perbuatan ini
mengandung tiga hukuman: dicambuk sebanyak delapan puluh kali, tidak diterima
persaksiannya, dan pelakunya dihukumi fasik.
        Para ulama berselisih pendapat tentang hukum menuduh budak berbuat zina,
apakah wajib dijatuhkan hukuman ataukah tidak? Dan telah disebutkan pendapat yang
rajih yakni wajibnya dijatuhkan hukuman dalam kitab al-'itqu.
        Terangkatnya hukuman bagi palaku jika ia mendatangkan empat orang saksi.
        Barangsiapa menuduh seseorang melakukan liwath (homosek) atau mengeluarkan
seorang dari nasabnya yang ma'ruf, maka ia dicambuk sebagaimana hukuman menuduh
zina.1
        2.
           Dalam suatu kasus seperti yang dikemukakan warga. “Di daerah tempat saya
tinggal, ada orang (Mukhson) yang pernah berbuat maksiyat perzinaan, namun waktu
disidang di tingkat RT/RW, dia mengaku salah dan ingin bertobat dan sekarang ia rajin
sekali ibadah di masjid. Namun ternyata perzinaan itu diulang lagi, konon menurut
pengakuan korban beberapa kali. Orang itu tidak mengakui perbuatannya, sebelumnya -
1.   Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau
     Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 3/453-463
2.   BP4 nasehat perkawinan
pernah tanda tangan berjanji untuk tidak mengulanginya. Tapi sang korban (familinya
sendiri yang sejak kecil dinafkahi si pelaku) bersaksi dan membeberkan bukti visum
dokter. Saat ini orang tersebut dianggap cukup meresahkan warga walaupun aktif di
masjid tapi oleh warga dikucilkan bahkan hampir diusir”.
    a. Bagaimana solusi Islami terhadap kasus ini?
    b. Bagaimana menghukumi seorang pezina dizaman sekarang yang tidak ada
        Kholifah (Daulah Islam yang berwenang)?
    c. Bagaimana kaifiyat menghakimi pezina dalam peradilan Islam?
    d. Bagaimana bila saksi tidak ada atau kurang dari 4 orang, tapi ada pengakuan
        korban?
    e. Bagaimana menurut Syariah, kalau warga masyarakat memberikan hukuman
        dengan mengucilkan (tidak ditanya/tidak dilibatkan di masyarakat) atau
        mengusirnya?
    f. Bagaimana hukumnya kalau pelaku zina kemudian dinikahkan?
Jawab:
       1. Dalam pandangan Islam, zina merupakan perbuatan kriminal (jarimah) yang
dikatagorikan hukuman hudud. Yakni sebuah jenis hukuman atas perbuatan maksiat yang
menjadi hak Allah SWT, sehingga tidak ada seorang pun yang berhak memaafkan
kemaksiatan tersebut, baik oleh penguasa atau pihak berkaitan dengannya. Berdasarkan
Qs. an-Nuur [24]: 2, pelaku perzinaan, baik laki-laki maupun perempuan harus dihukum
jilid (cambuk) sebanyak 100 kali. Namun, jika pelaku perzinaan itu sudah muhson
(pernah menikah), sebagaimana ketentuan hadits Nabi saw maka diterapkan hukuman
rajam.
       2. Yang memiliki hak untuk menerapkan hukuman tersebut hanya khalifah (kepala
negara Khilafah Islamiyyah) atau orang-orang yang ditugasi olehnya. Jika sekarang tidak
ada khalifah, yang dilakukan bukan menghukum pelaku perzinaan itu, namun harus
berjuang menegakkan Daulah Khilafah terlebih dahulu.
       3. Yang berhak memutuskan perkara-perkara pelanggaran hukum adalah qadhi
(hakim) dalam mahkamah (pengadilan). Tentu saja, dalam memutuskan perkara tersebut
qadhi itu harus merujuk dan mengacu kepada ketetapan syara’. Yang harus dilakukan
pertama kali oleh qadhi adalah melakukan pembuktian: benarkah pelanggaran hukum itu
benar-benar telah terjadi. Dalam Islam, ada empat hal yang dapat dijadikan sebagai bukti,
yakni: (1) saksi, (2) sumpah, (3) pengakuan, dan (4) dokumen atau bukti tulisan. Dalam
kasus perzinaan, pembuktian perzinaan ada dua, yakni saksi yang berjumlah empat orang
dan pengakuan pelaku. Tentang kesaksian empat orang, didasarkan Qs. an-Nuur [24]: 4.
       Sedangkan pengakuan pelaku, didasarkan beberapa hadits Nabi saw. Ma’iz bin al-
Aslami, sahabat Rasulullah Saw dan seorang wanita dari al-Ghamidiyyah dijatuhi
hukuman rajam ketika keduanya mengaku telah berzina. Di samping kedua bukti tersebut,
berdasarkan Qs. an-Nuur: 6-10, ada hukum khusus bagi suami yang menuduh isterinya
berzina. Menurut ketetapan ayat tersebut seorang suami yang menuduh isterinya berzina
sementara ia tidak dapat mendatangkan empat orang saksi, ia dapat menggunakan
sumpah sebagai buktinya. Jika ia berani bersumpah sebanyak empat kali yang
menyatakan bahwa dia termasuk orang-orang yang benar, dan pada sumpah kelima ia
menyatakan bahwa lanat Allah SWT atas dirinya jika ia termasuk yang berdusta, maka
ucapan sumpah itu dapat mengharuskan isterinya dijatuhi hukuman rajam. Namun
demikian, jika isterinya juga berani bersumpah sebanyak empat kali yang isinya bahwa
suaminya termasuk orang-orang yang berdusta, dan pada sumpah kelima ia menyatakan
bahwa bahwa lanat Allah SWT atas dirinya jika suaminya termasuk orang-orang yang
benar, dapat menghindarkan dirinya dari hukuman rajam. Jika ini terjadi, keduanya
dipisahkan dari status suami isteri, dan tidak boleh menikah selamanya. Inilah yang
dikenal dengan li’an.
        4. Karena syaratnya harus ada empat orang saksi, seseorang tidak dapat dijatuhi
hukuman. Pengakuan dari salah satu pihak tidak dapat menyeret pihak lainnya untuk
dihukum. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah diceritakan
bahwa ada seorang budak laki-laki yang masih bujang mengaku telah berzina dengan
tuannya perempuan. Kepada dia, Rasulullah menetapkan hukuman seratus camnukan dan
diasingkan selama satu tahun. Namun demikian Rasulullah Saw tidak secara otomatis
juga menghukum wanitanya. Rasulullah Saw memerintahkan Unais (salah seorang
sahabat) untuk menemui wanita tersebut, jika ia mengaku ia baru diterapkan hukuman
rajam (lihat Bulugh al-Maram bab Hudud). Hasil visum dokter juga tidak dapat dijadikan
sebagai bukti perbuatan zina. Hasil visum itu dapat dijadikan sebagai petunjuk saja.
        5. Tuduhan perzinaan harus dapat dibuktikan dengan bukti-bukti di atas. Tidak
boleh menuduh seseorang melakukan zina, tanpa dapat mendatangkan empat orang saksi.
        6. Berzina termasuk perbuatan kriminal yang harus dihukum. Jenis hukumannya
hanya ada dua, yakni jilid dan rajam. Bagi pezina ghaoiru muhson yang dijatuhi hukuman
jilid, bisa saja mereka dinikahkan setelah menjalani hukuman. Al-Qur’an dalam Qs. an-
Nuur [24]: 3 memberikan kebolehan bagi pezina untuk menikah dengan sesama pezina.
Tentu saja, ini berbeda dengan pezina muhson yang dijatuhi hukuman rajam hingga mati,
kesempatan untuk menikah bisa dikatakan hampir tidak ada
        Secara Syariatnya hukuman Bagi Orang yang berbuat Zina yang belum pernah
menikah agar syah dalam pernikahannya adalah, harus terpenuhi dulu hukum - hukumnya
secara syariatnya :
        1. Laki - laki dan perempuan itu harus dihukum DERA ( Cambuk ) masing -
masing 100X
        2. Setelah menjalani hukuma dera itu ke duanya harus di kurung ( dalam penjara
sekurang - kurangnya 100 hari ) kemudian diasingkan keduanya agar tidak bertemu
sebelum bayi itu lahir dan berusia 3 bulan.
        3. Keduaanya harus melaksanakan sholat TOBAT NASUHA ( Sholat dua rokaat
pada waktu malam hari kemudian meminta ampun kepada ALLOH SWT atas perbuatan
Zina yang telah dilakukannya.
        4. Setelah 3 bulan Bayi itu lahir Baru mereka boleh bertemu untuk kemudian
dinikahkan.
                                         PENUTUP


         Kesimpulan
    Dalam pandangan Islam, zina merupakan perbuatan kriminal (jarimah) yang
dikatagorikan hukuman hudud. Yakni sebuah jenis hukuman atas perbuatan maksiat yang
menjadi hak Allah SWT, sehingga tidak ada seorang pun yang berhak memaafkan
kemaksiatan tersebut, baik oleh penguasa atau pihak berkaitan dengannya.
    Allah berfirman, "Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik
(berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka
(yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian
mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik," (an-Nuur: 4).
    Dalam pandangan Islam, zina merupakan perbuatan kriminal (jarimah) yang
dikatagorikan hukuman hudud. Yakni sebuah jenis hukuman atas perbuatan maksiat yang
menjadi hak Allah SWT, sehingga tidak ada seorang pun yang berhak memaafkan
kemaksiatan tersebut, baik oleh penguasa atau pihak berkaitan dengannya. Berdasarkan
Qs. an-Nuur [24]: 2, pelaku perzinaan, baik laki-laki maupun perempuan harus dihukum
jilid (cambuk) sebanyak 100 kali. Namun, jika pelaku perzinaan itu sudah muhson
(pernah menikah), sebagaimana ketentuan hadits Nabi saw maka diterapkan hukuman
rajam.
    Hukum menuduh laki-laki baik sama dengan menuduh wanita baik-baik. Para ulama
tidak membedakan antara keduanya. Hukuman bagi pelaku perbuatan ini mengandung
tiga hukuman: dicambuk sebanyak delapan puluh kali, tidak diterima persaksiannya, dan
pelakunya dihukumi fasik.
                             DAFTAR PUSTAKA

   [Tim Konsultan Ahli Hayatul Islam (TKAHI)] http://konsultasi.wordpress.com
   Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy
    Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan
    menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam
    Syafi'i, 2006), hlm. 3/453-463
   BP4 Nasehat Perkawinan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:127
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:10