Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

MENGHARAPKAN GURU YANG KREATIF DAN INOVATIF DALAM PEMBELAJARAN by anamaulida

VIEWS: 721 PAGES: 12

									MENGHARAPKAN GURU YANG KREATIF DAN INOVATIF DALAM
PEMBELAJARAN

    Sering dijumpai kekhawatiran guru dalam proses pembelajaran siswa bahwa untuk
mencapai kompetensi standar dan kompetensi dasar serta indikator yang ditetapkan guru
(KTSP) diperlukan ketersediaan alat dan media belajar siswa yang cukup bahkan yang
ideal disamping ketrampilan guru dalam memilih startegi dan sumber belajar siswa yang
sesuai indicator kompetensi
    Siapa yang paling bertanggung jawab untuk menyediakan alat dan media serta
sumber belajar siswa dalam pembelajaran di kelas ? Jawaban rasional adalah guru itu
sendiri karena guru yang menetapkan indikator kompetensi kurikulum, merencanakan,
melaksanakan pembelajaran serta menilai hasil belajar siswa bahkan menindaklanjuti
hasil belajar siswa baik dengan remedial atau richment program.
    Alat, media dan sumber belajar siswa yang sesuai dan yang mendukung ketercapaian
indikator KTSP memang sangat diperlukan dalam proses belajar siswa. Jika dihitung
jumlah indikator KTSP pada setiap sekolah maka untuk satu mata pelajaran pada tingkat
kelas tertentu dalam 1 semester minimal ada 3 indikator X 6 kompetensi = 18 indikator.
Jumlah mata pelajaran pokok dan mata pelajaran muatan lokal KTSP minimal ada 15,
berarti jumlah indikator dalam 1 semester ada minimal 18 X 15 = 270. Jika dihitung
untuk 3 tingkat kelas (I, II dan III) dalam 1 semester = 3 X 270 = 810 indikator, maka
untuk 1 tahun ajaran jumlah indikator masing-masing sekolah ada 2 X 810 = 1.620
indikator KTSP. Kurikulum KTSP di SMP, SMA dan SMK masing-masing mempunyai
1.620 indikator KTSP yang memuanya memerlukan alat, media dan sumber belajar yang
berbeda dalam proses belajar siswa.
    Kompetensi sosial guru sangat diharapkan dapat memenuhi semua alat, media dan
sumber belajar siswa yang dibutuhkan dalam proses belajar siswa. Guru melakukan
networking dengan intern dan ekstern sekolah dengan mengharapkan komitmen dan
prioritas program manajemen sekolah untuk menyediakan alat, media dan sumber belajar
siswa dalam proses belajar siswa yang sedang dimanage guru di dalam kelas. Akses guru
netwoking ke ekstern sekolah kiranya perlu dipertimbangkan lebih mendalam karena
akan berakibat adanya tambahan pembiayaan dari unsur ekstern sekolah.

Solusinya adalah kreativitas dan inovasi guru dalam proses pembelajaran siswa selalu
diharapkan agar tingkat ketercapaian kompetensi KTSP tetap terjaga dan dapat
diwujudkan dalam batas waktu yang ideal. Kekawatiran guru akan berkurang secara
perlahan apabila guru dapat menemukan dan mengembangkan kreativitas dan inovasinya
dalam                   proses                  pembelajaran                  siswa.

Berikut beberapa pembiasaan guru kiranya dapat dijadikan bahan renungan untuk
mengimprov kreativitas dan inovasi guru dalam mengelola pembelajaran di dalam kelas:

1. Mengaplikasi pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan, siswa bisa diajak ke luar
kelas dengan tujuan memaksimalkan lingkungan sekolah sebagai alat, media dan sumber
belajar                                 yang                                   sesuai.
2. Mengoptimalkan proses pembelajaran dengan memanfaatkan potensi sekolah yang
ada, terutama sekolah yang siswanya banyak berasal dari lapisan masyarakat margin
proses pembelajarannya disetting yang kreatif inovavatif mampu beradaptasi berbagai
macam                                                                           situasi.
3. Mendisain pembelajaran oleh “guru kreator” yang dapat menumbuhsuburkan
kreativitas dan inovasi pembelajaran dengan analisis dan evaluasi untuk penyempurnaan
disain                                                                       beikutnya.
4. Hindari ketegangan semua pelaku proses pembelajaran. Baik guru maupun siswa
diharapkan mampu memnghindari ketegangan sebaliknya nikmati situasi dan kondisi
pembelajaran       menuju     tercapainya   kompetensi       siswa    sesuai     KTSP.
5. Biasakan selalu mengamati lingkungan sekolah sehingga dapat menemukan area yang
dapat       dijadikan     alat,     media      dan      sumber       belajar     siswa.
6. Mengimprovisasi daya kreatif dan inovsi dengan sedikit humor sehat dan seperlunya
saja untuk mempertahankan dan mengembangkan semangat inovasinya. 7. Keluar dari
dunia sempit menuju dunia luas dengan banyak baca buku bidang seni dan teknologi
dapat menambah daya peka berfikir efektif dan efisien.




PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU
MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA


              Abstrak

               Akhir-akhir ini ada keluhan sebagianguru PKn di Tulungagung yang
       mengatakan bahwa para siswa telah tampak kurangmotivasi belajar pada
       pembelajaran mata pelajaran PKn karena mata pelajarantersebut tidak diUANkan.
       Perhatian siswa sudah banyak focus pada mata pelajaranyang diUANkan. Kondisi
       yang demikian ini telah dirasakan oleh guru PKn yangmengajar kelas III. Guru
       PKn yang mengajar kelas I dan II juga merasakan adanyapenurunan motivasi
       siswa pada pembelajaran PKn karena siswa telah memastikandirinya bisa lulus
       ujian. Penulisan bertujuan mengetahui adanya peningkatan kemampuanguru PKn
       dalam membangkitkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaranPendidikan
       Kewarganegaraan di sekolah binaan melalui sharing pengalaman.Prosedur
       penelitian menggunakan dua siklus yang diawali penyusunan instrumenobservasi
       dan evaluasi sharing, pengondisiantempat, mengundang peserta dan menyusun
       acara sharing pertama dan ke dua meliputi 30 menit arahan pembukaan, 120menit
       sharing pengalaman guru PKn dan 30 menit penutupan evaluasi hasil
       sharingdengan jumlah peserta sharing 20orang guru PKn. Temuan hasil sharing
       siklus pertama menunjukkan kemampuan guru PKn membangkitkan
       motivasibelajar siswa pada mata pelajaran PKn rata-rata sebesar 73.86 meningkat
       menjadi 80.13 pada siklus kedua. Ada perngembangan pada acara arahan
       pembukaan pada siklus pertama arahanlisan dan siklus ke dua arahan dilengkapi
       tulisan dan chart.
       Kata kunci: kemampuan guru PKn,motivasi belajar siswa, sharing
             engalaman



       Proses terjadinyabelajar sulit diamati karena mencakup semua variable yang
mempengaruhibelajar antara lain: 1) Kondisipembelajaran, 2) metode pembelajaran, dan
3) hasil pembelajaran. Karena ituguru cenderung mengamati tingkah laku siswa untuk
memilih metode yang paling tepat dalam pembelajaran (Degeng:1997).Pengelolaan
motivasi siswa dimaksudkan sebagai usaha yang dilakukan guru untukmenumbuhkan
gairah rasa senang dan semangat belajar siswa. Cara guru memotivasisiswa dapat
dilakukan dengan memberitahukan hasil pekerjaan kepada siswasehingga siswa lebih giat
berusaha mencapai lebih baik, memberikan pujiansebagai reinforcement positif sekaligus
memberikan motivasi dari luar(Sardiman, 1986).     Kenyataan di lapangan terkait
kondisi guru antara lain: (1)adanya keberagaman kemampuan guru dalam proses
pembelajaran dan penguasaanpengetahuan (2) belum ada alat ukur yang akuran untuk
mengetahui kemampuan guru(3) pembinaan yang dilakukan belum mencerminkan
kebutuhan dan (4) kesejahteraanguru yang belum memadahi. Jika kondisi tersebut di atas
tidak segera diatasimaka akan berdampak pada rendahnya kualitas pendidikan.
(Depdiknas 2004).

       Guru yang profesional dapatmerancang dan melaksanakan penataan interaksi
siswa dalam strategipengorganisasian, penyampaian dan pengelolaan pembelajaran.
Interaksi siswadalam pengelolaan pembelajaran siswa aktif adalah proses kegiatan belajar
siswayang dihasilkan oleh guru profesional. Peningkatan kemampuan guru
dalammembangkitkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn dapat
dilakukandengan sharing pengalaman guru PKn.




Reposisi Keberadaan Guru dalam Perspektif Global
                Oleh: Prof. Drs. Sutrisno, M.Sc., Ph.D*

              UNDANG - undang Guru dan Dosen mengamanatkan kepada tenaga
              pendidik untuk meningkatkan profesionalitas dalam melaksanakan tugas
              dan fungsinya. Payung hukum tersebut untuk menjamin keberadaan guru
              dan dosen. Tuntutan agar selalu mengembangkan diri yang diharapkan
              guru dan dosen dapat menjawab persoalan-persoalan pendidikan yang
muncul dan cenderung menggelobal.

Namun sayangnya, jaminan itu belum diimbangi oleh pemberian kesejahteraan yang
memadai untuk guru dan dosen. Sertifikasi guru dan dosen telah diluncurkan, bahkan
untuk guru telah berjalan selama tiga periode. Angkatan pertama sudah dibayarkan
setelah itu, hingga saat ini belum ada kabar lebih lanjut kapan sertifikasi guru dan dosen
akan dibayarkan.

Harapan besar juga terjadi bagi para dosen yang telah tersertifikasi dan para guru besar
(profesor) yang secara otomatis mendapatkan sertifikat itu akan mendapatkan
pembayaran tunjangan profesi. Bahkan, pertemuan para guru besar dengan presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada forum guru besar di Surabaya beberapa minggu
yang lalu juga belum membuahkan hasil terkait dengan kapan peraturan pemerintah (PP)
dosen akan ditanda tangani.

Kondisi ini diperparah oleh pernyataan Menteri Keuangan jika bulan Juni 2009 ini PPnya
belum ditanda tangani oleh Presiden maka tunjangan yang telah dibayarkan diminta
untuk mengembalikan kepada negara. Kenapa pemerintah begitu pelit kepada para guru
dan dosen yang notabene sebagai fasilisator, motivator bagi peserta belajar untuk
kemajuan bangsa?

Sementara itu khusus untuk guru, tuntutan untuk meningkatkan profesionalisme yang
ditopang oleh inovasi secara memadai dihadapkan oleh dua persoalan utama. Pertama,
sebagain guru kita ditopang oleh pemahaman yang minim terkait dengan metodologi
penelitian pendidikan. Kedua terkait kebijakan peningkatan kualitas guru yang terkesan
tambal sulam serta tidak komprehensif oleh pemerintah.

Dalam ranah penelitian pendidikan atau terkait berbagai persoalan pendidikan yang
begitu luas, belum sepenuhnya dirambah oleh guru. Misalnya, bagaimana guru dapat
merancang pembelajaran inovatif, pengembangan metoda/alat bantu, model-model
pembelajaran sistem penilaian yang up to date belum banyak dihasilkan.

Dalam konteks ini, guru terkendala oleh referensi penelitian sehingga guru sangat miskin
sumber informasi baik berupa buku maupun jurnal ilmiah. Padahal referensi tersebut
adalah sumber inspirasi untuk menumbuhkan inovasi dan kreatifitas. Hal ini dapat
dibuktikan oleh partisipasinya dalam kegiatan lomba karya tulis ilmiah guru sangat
rendah.

Pengalaman dari beberapa guru yang kreatif menunjukkan bahwa mereka selalu mencari
sumber informasi baru melalui berbagai kegiatan yakni seminar, lokakarya dan mengikuti
lomba kreativitas guru yang diselenggarakan oleh sponsor. Persoalan pembelajaran di
kelas sebagai ladang penelitian yang ditunjang oleh teknologi informasi dan komunikasi
(TIK). Hasilnya, disamping penelitian yang didanai oleh pihak sponsor juga berbagai
bentuk hadiah lainnya berupa buku, laptop dan alat bantu pembelajaran lainnya. Tentu
hal ini sangat membanggakan bagi yang bersangkutan dan diharapkan dapat memberi
semangat dan memotivasi teman sejawat.

Dalam ranah kebijakan, sejatinya pemerintah dalam hal ini direktorat peningkatan mutu
pendidik telah berupaya keras untuk meningkatkan profesionalisme guru. Misalnya,
memberikan bantuan block grant karya tulis ilmiah (KTI) penelitian bagi guru. Dalam
konteks lokal, tahun 2008 tidak kurang 300 orang mendapatkan dana itu. Hasilnya,
sungguh sangat menprihatinkan.

Hanya 10% saja guru yang sanggup menyelesaikan penelitian sesuai batas waktu yang
ditetapkan. Bahkan, dalam hal substansi penelitian yang dihasilkan kurang memadai
sebagai hasil penelitian inovatif.

Tidak kalah ketinggalan, pemerintah daerah provinsi Jambi telah melaksanakan
workshop dan pelatian tentang karya tulis ilmiah guru. Tidak kurang dari 1000 guru telah
dilatih. Namun, benih-benih yang ditabur itu belum juga tumbuh hingga saat ini. Padahal,
guru membuat karya tulis ilmiah adalah wajib hukumnya demi kariernya. Faktanya, tidak
kurang dari 2200 guru masih senang menduduki pangkat IVA, bahkan ada yang lebih
dari 10 tahun tidak beranjak dari golongan/pangkat itu. Lantas, ada apa dengan kreativitas
guru?

Tentu, tidak mudah untuk menjawab persoalan itu, pihak Diknas perlu
mempertimbangkan sekaligus mengkaji berbagai persoalan dimaksud. Namun, aspek
manajemen pengelolaan, tingkat kesiapan guru dan kebiasaan dalam penelitian serta
kreativitas yang dimiliki selama ini hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan.

Tidak kalah peliknya, kondisi ini juga dialami oleh para dosen kita. Bagi dosen
kelemahan utama dalam kegiatan penelitian adalah root map penelitian dan kedangkalan
akan penggalian persoalan yang diteliti. Kurang menarik, bahkan topik yang diajukan
cenderung daur ulang dan persoalan yang diusulkan kurang didukung oleh data-data
secara memadai.

Hal ini dibuktikan bahwa baik PTN mapun PTS tidak lebih dari 10% yang dapat
memperoleh dana hibah kompetitif dari direktorat jenderal penelitian dan pengabdian
Diknas.

Persoalan ini mencuat disebabkan oleh para dosen yang hanya disibukan dalam
pengajaran. Kurang punya ruang gerak untuk menggali persoalan penelitian secara
memadai. Cukup rasional bahwa dengan mengajar dosen memperoleh honor secara cash
sehingga tidak perlu repot-repot memeras otak untuk berpikir keras.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah akibat referensi yang digunakan sebagai
rujukan sudah usang. Semua persoalan bermuara kepada faktor utama yakni guru dan
dosen tidak sanggup untuk berlangganan jurnal ilmiah yang memang dirasa sangat mahal.

Untuk mengembalikan citra guru dan dosen secara profesional, hendaknya guru dan
dosen memiliki cukup energi untuk melakukan perbaikan internal maupun perbaikan
eksternal akibat pengaruh dari globalisasi pendidikan. Untuk menggapai ke arah itu, di
Inggris Raya telah memformulasikan kebijakan tentang standarisasi kualitas guru yang
tercantum dalam professional standards for qualified teacher (2008) yang dilengkapi
dengan berbagai atributnya.

Dalam jangka panjang perbaikan kualitas input guru di lembaga pendidikan dan tenaga
kependidikan (LPTK) sangat dibutuhkan. Di negera-negera maju, telah dikembangkan
dalam model recruitment calon mahasiswa melalui program beasiswa dan pemberian
biaya hidup kepada calon guru. Harapannya, kualitas input akan meningkat serta profesi
guru bukan menjadi pilihan yang ke dua.

Pembenahan kurikulum di LPTK sangat diperlukan. Perumusan unit-unit kompetensi,
kompetensi utama dan pendukung adalah modal utama untuk merumuskan profil lulusan.
Keleluasaan KBK hendaknya dapat dijadikan suatu upaya untuk mengembangkan
kearifan lokal. Untuk itulah, komitmen dan konsistensi para pengambil kebijakan sangat
diharapkan.

Dalam konteks, pengembangan profesi, improvisasi dan inovasi guru dan dosen sesuai
dengan tuntutan global akan menjamin eksistensinya. Misalnya, mengintegrasikan
teknologi dan informasi (TIK) dalam kurikulum, pembelajaran, pengembangan alat
bantu/multimedia serta pengembangan personal terkait dengan aspek pedagogi, teknologi
dan isi pembelajaran adalah trend pembelajaran dewasa ini.

Hendaknya fenomena itu secara cepat direspon oleh para guru dan dosen demi kualitas
dan daya saing pendidikan. Bukankah kita selalu mengharapkan peningkatan mutu
pendidikan yang diimbangi oleh peningkatan mutu guru? (*)

*Guru Besar Universitas Jambi, kini menjadi Visiting Scholar pada The University
of Sydney, Australia




      PENERAPAN E- LEARNING DALAM
   PEMBELAJARAN SUATU LANGKAH INOVASI
Judul: PENERAPAN E- LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SUATU
LANGKAH INOVASI
Bahan ini cocok untuk Sekolah Dasar bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): MOHAMAD JURI,S.Pd,MMPd
Saya Guru di SDN Omben II Sampang Madura
Topik: Strategi Pembelajaran
Tanggal: 14 Januari 2008

Judul : PENERAPAN E- LEARNING DALAM PEMBELAJARAN SUATU
LANGKAH INOVASI .

Oleh : Mohamad Juri, S.Pd,MMPd

I. Pendahuluan

Kemajuan suatu bangsa salah satu indikatornya, dapat dilihat dari perkembangan
dunia pendidikan pada bangsa tersebut. Kemajuan pendidikan juga
menggambarkan tingkat tingginya kebudayaan suatu bangsa. Kemajuan sektor
pendidikan akan berpengaruh cukup signifikan terhadap kemajuan suatu bangsa,
khususnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula sebaliknya
kemajuan suatu bangsa berpengaruh yang cukup signifikan pula terhadap sektor
pendidikannya.

Sekarang bagaimana halnya dengan perkembangan kemajuan pendidikan di
negara kita. Kalau kita amati secara kasustik perkembangan pendidikan di negara
kita sebenarnya cukup menggembirakan, seperti telah diraihnya prestasi juara I
Olympiade Fisika Internasional beberapa kali oleh putera - puteri Indonesia.
Hanya saja prestasi ataupun tingkat kemajuan pendidikan di negara kita justru
menggambarkan hal yang sebaliknya. Ini terungkap dari hasil penelitian yang oleh
lembaga-lembaga internasional yang berkompeten mengadakan penelitian di
bidang pendidikan. Bahkan kita berada jauh di bawah Malaysia, dan Singapura,
dan yang sangat mengagetkan kita justru berada di bawah Vietnam.

Terlepas dari kriteria - kriteria yang dijadikan acuan dari penelitian tersebut, yang
jelas dari hasil penelitian itu, sudah menggambarkan kondisi pendidikan di negara
kita saat ini. Hal ini tentunya akan menjadi pemicu bagi kita semua yang
kerkecimpung dalam dunia pendidikan untuk lebih meningkatkan kinerja dan
inovasi -inovasi dalam dunia pendidikan .

Salah satu inovasi yang perlu dilakukan menurut penulis adalah model dari
pelaksanaan pembelajaran. Hal ini perlu dilakukan sebab dalam kegiatan
pembelajaran inilah transfer berbagai kompetensi berlangsung.

Sesuai dengan kondisi saat ini dimana perkembangan teknologi sangat pesat,
khususnya di bidang teknologi informasi. Jadi sudah merupakan keharusan untuk
memanfaatkan teknologi informasi tersebut ke dalam dunia pendidikan khususnya
di Sekolah Dasar.

Artikel ini sengaja ditulis untuk memberikan masukan dan sumbang saran agar
model pembelajaran di Sekolah Dasar terjadi perubahan ke arah peningkatan
yang lebih signifikan dibandingkan kondisi yang ada saat ini. Menurut penulis
eksistensi pembelajaran yang ada di sekolah dasar saat ini pada umumnya masih
teacher sentris, dan belum memanfaatkan media pembelajaran secara optimal,
khususnya belum memanfaatkan media teknologi informasi, khususnya internet.
II. Dasar Pemikiran Strategi Penerapan E-Learning dalam Pembelajaran.

a. Tinjauan Kondisi Pembelajaran di Sekolah Dasar Saat ini.

E. Mulyasa, 2005 menyatakan bahwa guru, kreatif, profesional, dan
menyenangkan harus memiliki berbagai konsep dan cara untuk mendongkrak
kualitas pembelajaran. Langkah untuk mendongkarak kualitas pembelajaran
antara lain dengan mengembangkan kecerdasan emosi, mengembangkan
kreatifitas

dalam pembelajaran, mendisiplinkan peserta didik dengan kasih sayang,
membangkitkan nafsu belajar, memecahkan masalah, mendayagunakan sumber
belajar, dan melibatkan masyarakat dalam pembelajaran.

Sesuai dengan pendapat di atas ada satu hal yang menarik perhatian penulis yaitu
mendayagunakan sumber belajar. Disini sesuai benar dengan harapan penulis
bahwa sumber belajar untuk kegiatan pembelajaran harus lebih variatif, hal ini
untuk meningkatkan kualitas dari mutu pembelajaran itu sendiri. Salah satu
sumber belajar yang sangat sedikit disentuh adalah sumber belajar yang
memanfaatkan media elektronika atau komputer. Hal ini tidak terlepas dari
minimnya penguasaan guru-guru di Sekolah Dasar terhadap media ini,
disebabkan pula kerena adanya beberapa sekolah di tanah air kita yang belum
memliliki alat tersebut dengan berbagai alasan, tidak ada dana, tidak ada tenaga
yang mampu mengoperasikan dan lain-lain. Sebagai akibatnya kegiatan
pembelajaran berlangsung dengan memanfaatkan sumber belajar yang itu- itu
saja, yaitu guru dan buku. Sebagai akibat dari kondisi ini siswa akan belajar
dengan situasi yang monoton dari hari ke hari.

Dan sudah umum yang terjadi di lapangan saat ini yaitu bahwa pembelajaran
terjadi dengan dominansi dari guru. Artinya pembelajaran berlangsung dengan
peranan guru yang sangat dominan, dan umumnya metode yang sering digunakan
adalah metode ceramah. Dengan kondisi seperti ini pembelajaran berlangsung
secara teacher centrys.

b. Kondisi Pembelajaran yang Berkualitas

Istilah pembelajaran sendiri, mengacu pada segala daya dan upaya yang sengaja
dikondisikan untuk terjadinya proses belajar pada diri siswa. Sedangkan istilah
belajar sendiri memeliki pengertian, suatu proses fisik dan psikis pada diri siswa.
Dimana seseorang yang menagalami peristiwa belajar akan berbeda keadaannya
dengan kondisi sebelum dia mengalami belajar, seperti dia akan semakin memiliki
banyak pengetahuan ( kognitif ), memiliki sikap yang semakin dewasa ( afektif ),
dan memiki beberapa keterampilan gerak, yang juga semakin bertambah (
psikomotor ).

Oemar Hamalik, 2001 menyatakan bahwa Belajar adalah suatu proses perubahan
tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Di dalam interaksi inilah
terjadi serangkaian pengalaman belajar. Sedangkan William Burton,
mengemukakan bahwa A good learning situation consist of a rich and varied
series of learning experiences unified around a vigorrous purpose and carried on
in interaction with a rich, varied and propocative environment.

Sudjana, 1991 menyatakan bahwa kondisi pembelajaran yang berkualitas
dipengaruhi oleh faktor-faktor : Tujuan pengajaran yang jelas, bahan pengajaran
yang memadahi, metodelogi pengajaran yang tepat, dan cara penilaian yang baik.
Bahan pengajaran adalah seperangkat materi keilmuan yang terdiri atas fakta,
konsep, prinsip, generalisasi suatu ilmu pengetahuan yang bersumber dari
kurikulum. Saat ini hal-hal tersebut akan merupakan suatu kompetensi yang harus
dimiliki oleh siswa.

Di dalam metodelogi pengajaran ada dua aspek yang paling menunjol yaitu
metode mengajar dan media pengajaran, sebagai alat bantu mengajar, dimana
media pengajaran ini merupakan salah satu lingkungan belajar yang dikonsikan
oleh guru.

Salah satu ciri dari pelaksanaan pembelajaran yang berkualitas adalah
dimanfaatkannya media pembelajaran, dalam proses pembelajaran. Di zaman
yang serba canggih seperti kondisi saat ini dimana teknologi berkembang
sedemikian pesatnya, komputer sudah bukan merupakan barang yang langka dan
mewah. Dengan adanya media komputer sebagai pengolah informasi sudah
selayaknyalah apabila di tiap- tiap sekolah dasar minimal memiliki satu unit
komputer. Baik komputer sebagai sarana pengolah administrsi sekolah, dan akan
lebih baik lagi apabila komputer dapat berfungsi sebagai media pembelajaran bagi
siswa.

c. Tinjauan tentang E- Learning

Istilah E - learning tergolong hal baru dan hal aktual dalam khasanah
perkekembangan Ilmu pengetahuan. Istilah ini muncul seiring dengan
perkembangan kemajuan dunia elektronika yang berkembang saat ini. Artinya
mencari literatur yang membahas tentang e - learning ini untuk saat ini tergolong
sulit.

Dalam hal ini penulis berupaya menganalis e - learning dari susunan kata - kata e-
learning itu sendiri. Istilah e-learning muncul seiring dengan dimanfaatkannya alat-
alat elektronika dalam kehidupan manusia, terutama teknologi yang berbasiskan
komputer sebagai alat pengolah data dan informasi. Dan terlebih lagi dengan
dimanfaatkan atau munculnya internet dalam kehidupan manusia. Istilah e-
learning muncul seiring dengan munculnya istilah e-e yang lain, seperti: E-
Goverment ( strategi pembangunan dan pengembangan sistem pelayanan publik
berbasis teknologi digital), E-Tendering, dan lain-lain.

Istilah E-Learning sebenarnya merupakan frase yang tersusun dari dua kata yaitu
kata Electronic disingkat E, dan kata Learning yang dalam bahasa Indonesia
berarti pembelajaran. Dengan demikian e-learning memiliki pengertian "
Pembelajaran dengan memakai atau memanfaatkan teknologi komunikasi dan
informasi ".

Perkembangan teknologi komonikasi saat ini semakin canggih. Kalau pada
awalnaya jaringan sarana komonikasi masih memanfaatkan kabel, maka saat ini
jaringan komunikasi sudah memanfaatkan gelombang elektromagnetik atau
gelombang radio yang tanpa kabel. Saat ini kebanyakan orang sudah
memanfaatkan informasi dengan memanfaatkan jaringan data pada komputer
dengan cara mengadakan koneksi ke komputer lain, hal ini dikenal dengan istilah
internet. Dengan adanya jaringan internet ini seseorang dapat mengakses data
apa saja dengan melakukan browsing ke berbegai penyelia data ( server ) di
berbegai belahan bumi ini. Artinya dengan adanya internet ini masalah ruang tidak
menjadi halangan. Sebagai misal kita dapat mengakses data dari berbagai tempat
di Amerika dengan memanfaatkan layanan Yahoo, hanya dalam hitungan detik,
berbagai data berhasil kita akses.
Data-data tersebut sebenarnya dapat kita manfaatkan sebagai materi
pembelajaran ( learning ) di sekolah dasar. Tentunya dalam hal ini diperlukan
suatu keterampilan khusus, yang pertama keterampilan memanfaatkan atau
mengoperasikan komputer, dan yang terutama penguasaan dalam menggunakan
fasilitas internet. Disini dibutuhkan guru yang terampil, yang pertama terampil
mengeperasikan komputer, dan yang selanjutnya harus terampil pula
memanfaatkan internet. Jika hal ini terpenuhi maka teknologi komunikasi dan
informasi yang ada pada internet dapat digunakan dalam pembelajaran.

d. Upaya Memanfaatkan E-learning untuk Meningkatkan kualitas Pembelajaran di
Sekolah Dasar

Tidak dapat dipungkiri bahwa eksistensi sekolah-sekolah dasar di negara kita
sangat beragam. Hal ini tidak terlepas dari faktor giografis dan topografis di negara
kita yang beragam pula. Ditambah pula adanya faktor kultural yang ada pada
berbagai suku juga beragam.

Terlepas dari hal diatas telah kita ketahui bersama bahwa keberadaan
seperangkat komputer pada suatu sekolah sampai saat ini secara garis besar
masih cukup jarang, artinya sekolah yang memiliki fasilitas komputer dengan
sekolah yang belum memiliki fasilitas komputer masih banyak yang belum memiliki
fasilitas komputer. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu (1) faktor dana,
artinya sekolah tidak cukup dana untuk membeli seperangkat komputer, (2) faktor
kemampuan penguasaan teknologi, maksudnya masih banyak guru di sekolah
dasar belum mampu mengoperasikan komputer ( GAPTEK = Gagap Teknologi ),
(3) Faktor lain, misalnya faktor keamanan. Sekolah yang tidak aman enggan untuk
membeli komputer.

Penulisan artikel ini mengacu pada sekolah-sekolah yang telah memiliki dan
memanfaatkan komputer. Syarat sebuah komputer agar dapat dimanfaatkan
sebagai media pembelajaran yang memanfaatkan teknologi komunikasi dan
informasi, adalah komputer tersebut harus dapat dikoneksikan ke internet. Tidak
semua komputer dapat dikoneksikan ke internet. Sebagai mana yang dijelaskan
Mico Pardosi 2000, komputer akan dapat dikoneksikan ke internet apabila memiliki
persaratan berikut:

1) Komputer tersebut harus dilengkapi dengan modem, baik modem internal
maupun modem eksternal.

2) Komputer dengan prosessor Pentium 100 Mhz (minimal), lebih tinggi lebih baik.

3) Memiliki jaringan telepon, atau wareless .

4) Meng- install program Internet ( browser) ke dalam komputer, misalnya Internet
Explorer.

5) Mendaftarkan diri ke ISP ( Perusahaan Penyelia Jasa Internet) yang ada,
misalnya RADNET, INDONET, MEGANET, atau TELKOMNET ).

Fasilitas internet dapat dimanfaatkan sebagai media dalam pembelajaran atau e-
learning yaitu dengan memanfaatkan menu search, yaitu:

1) Hubungkan komputer ke ISP
2) Setelah komputer terhubung ke ISP, klik ganda Internet Explorer,

3) Klik menu search,

4) Ketik web atau data yang akan dicari pada kotak yang tersedia misalnya kata"
habitat " , maka kita akan kita dapatkan data -data yang berhubungan dengan
habitat. Demikian pula apabila kita mengetikkan kata-kata yang lain tentu kita akan
memperoleh data -data yang kita inginkan.

Disinilah letak essensialnya internet sebagai teknologi komonikasi dan informasi
yang dapat dimanfaatkan dalam dunia pembelajaran, atau E-learning.

Dengan kecanggihan internet, apabila dapat dimanfaatkan dengan tepat, maka
akan menjadi sumber belajar yang sangat lengkap, ibarat sebuah perpustakaan
yang menyediakan berbagai referensi.

III. Penutup

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari uraian di atas adalah:

1) Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan dengan pemanfaatan E-learning (
Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam pembelajaran ).

2) E- learning merupakan merupakan inovasi yang sangat tepat untuk
dikembangkan di sekolah dasar saat ini sesuai dengan perkembangan teknologi
yang sedemikian pesat, demikian pula dengan perkembangan informasi yang tak
kalah pesatnya.

Ada beberapa hal yang perlu penulis sarankan, agar e-learning ( Pemanfaatan
Internet ), di sekolah Dasar berjalan optimal :

1) Seharusnya tiap sekolah memiliki komputer yang dapat diakseskan ke internet (
langkah ini perlu difasilitasi oleh pemerintah ).

2) Seluruh sekolah harus memeliki jaringan telepon.

3) Perlu Diklat yang dapat melatih guru SD agar terampil menggunakan Komputer,
seperti Diklat KKPI JARDIKNAS, salah satunya.

4) Dan yang tak kalah pentingnya lagi sebagai langkah " Pre Sercvice Training "
seorang mahasiswa calon guru SD sudah selayaknya menerima mata kuliah
tentang IT

Information teknologi dari bangku kuliah Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan.

Penulis adalah Guru SDN Omben II Sampang, meraih gelar Magister Manajemen
Pendidikan pada Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Manajemen IMNI
Jakarta ( 22 April 2007 ).

E - mail : madjury@yahoo.co.id.

PUSTAKA ACUAN

E Mulyasa. 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
http://en.wikipedia.org/wiki/ E-learning.

Indrajit, Richardus Eko. 2002. Electronic Goverment. Yokyakarta : Penerbit Andi.

Mico Pardosi. 2001. Sistem Operasi Windows dan Internet Secara Cepat dan
Mudah. Surabaya: Penerbit Indah.

Oemar Hamalik. 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

								
To top