Sejarah Penemuan Vitamin

Document Sample
Sejarah Penemuan Vitamin Powered By Docstoc
					Sejarah Penemuan Vitamin

Era pertama dimulai pada sekitar tahun 1500-1570 sebelum masehi. Pada masa itu, banyak ahli pengobatan dari
berbagai bangsa, seperti Mesir, Cina, Jepang, Yunani, Roma, Persia, dan Arab, telah menggunakan ekstrak senyawa
(diduga vitamin) dari hati yang kemudian digunakan untuk menyembuhkan penyakit kerabunan pada malam hari.
Penyakit ini kemudian diketahui disebabkan oleh defisiensi vitamin A. Walau pada masa tersebut ekstrak hati
tersebut banyak digunakan, para ahli pengobatan masih belum dapat mengidentifikasi senyawa yang dapat
menyembuhkan penyakit kerabunan tersebut. Oleh karena itu, era ini dikenal dengan era penyembuhan empiris
(berdasarkan pengalaman).

Perkembangan besar berikutnya mengenai vitamin baru kembali muncul pada tahun 1890-an. Penemuan ini
diprakarsai oleh Lunin dan Christiaan Eijkman yang melakukan penelitian mengenai penyakit defisiensi pada
hewan. Penemuan inilah yang kemudian memulai era kedua dari lima garis besar sejarah vitamin di
dunia.Penelitian mereka terfokus pada pengamatan penyakit akibat defisiensi senyawa tertentu. Beberapa tahun
berselang, ilmuwan Sir Frederick G. Hopkins yang sedang melakukan analisis penyakit beri-beri pada hewan
menemukan bahwa hal ini disebabkan oleh kekurangan suatu senyawa faktor pertumbuhan (growth factor).

Pada tahun 1911, seorang ilmuwan kelahiran Amerika bernama Dr. Casimir Funk berhasil mengisolasi suatu
senyawa yang telah dibuktikan dapat mencegah peradangan saraf (neuritis) untuk pertama kalinya. Dr. Casimir juga
berhasil mengisolasi senyawa aktif dari sekam beras yang diyakini memiliki aktivitas antiberi-beri pada tahun
berikutnya. Pada saat itulah (dan untuk pertama kalinya), Dr Funk mempublikasikan senyawa aktif hasil temuannya
tersebut dengan istilah vitamine (vital dan amines). Pemberian nama amines pada senyawa vitamin ini karena
diduga semua jenis senyawa aktif ini memiliki gugus amina (amine). Hal tersebut kemudian segera disanggah dan
diganti menjadi vitamin (dengan penghilangan akhiran huruf "e") pada tahun 1920 (Sejarah Penemuan
Vitamin)Sejarah penemuan vitamin Vitamin (bahasa Inggris: vital amine, vitamin) sejarah penemuan vitamin
adalah sekelompok sejarah penemuan vitamin senyawa organik amina berbobot molekul kecil yang memiliki fungsi
vital dalam metabolisme setiap organisme,yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh. Nama ini berasal dari gabungan
kata bahasa Latin vita yang artinya "hidup" dan amina (amine) yang mengacu pada suatu gugus organik yang
memiliki atom nitrogen (N), karena pada awalnya vitamin dianggap demikian. Kelak diketahui bahwa banyak
vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N. Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin
adalah kofaktor dalam reaksi kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan
tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.

Terdapat 13 jenis vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik.
Vitamin tersebut antara lain vitamin A, C, D, E, K, dan B (tiamin, riboflavin, niasin, asam pantotenat, biotin,
vitamin B6, vitamin B12, dan folat). Walau memiliki peranan yang sangat penting, tubuh hanya dapat memproduksi
vitamin D dan vitamin K dalam bentuk provitamin yang tidak aktif. Oleh karena itu, tubuh memerlukan asupan
vitamin yang berasal dari makanan yang kita konsumsi. Buah-buahan dan sayuran terkenal memiliki kandungan
vitamin yang tinggi dan hal tersebut sangatlah baik untuk tubuh. Asupan vitamin lain dapat diperoleh melalui
suplemen makanan.

Vitamin memiliki peranan spesifik di dalam tubuh dan dapat pula memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar
senyawa ini tidak mencukupi, tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh hanya memerlukan vitamin dalam
jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini diabaikan maka metabolisme di dalam tubuh kita akan terganggu karena
fungsinya tidak dapat digantikan oleh senyawa lain. Gangguan kesehatan ini dikenal dengan istilah
avitaminosis.Contohnya adalah bila kita kekurangan vitamin A maka kita akan mengalami kerabunan. Di samping
itu, asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan karena dapat menyebabkan gangguan metabolisme pada tubuh.

Vitamin merupakan suatu senyawa yang telah lama dikenal oleh peradaban manusia. Sudah sejak ribuan tahun lalu,
manusia telah mengenal vitamin sebagai salah satu senyawa yang dapat memberikan efek kesehatan bagi tubuh.
Seiring dengan berkembangnya zaman dan ilmu pengetahuan, berbagai hal dan penelusuran lebih mendalam
mengenai vitamin pun turut diperbaharui. Garis besar sejarah vitamin dapat dibagi menjadi 5 era penting. Disetiap
era tersebut, terjadi suatu kemajuan besar terhadap senyawa vitamin ini yang diakibatkan oleh adanya kemajuan
teknologi dan ilmu pengetahuan.

Sejarah Penemuan Vitamin
Era pertama dimulai pada sekitar tahun 1500-1570 sebelum masehi. Pada masa itu, banyak ahli pengobatan dari
berbagai bangsa, seperti Mesir, Cina, Jepang, Yunani, Roma, Persia, dan Arab, telah menggunakan ekstrak senyawa
(diduga vitamin) dari hati yang kemudian digunakan untuk menyembuhkan penyakit kerabunan pada malam hari.
Penyakit ini kemudian diketahui disebabkan oleh defisiensi vitamin A. Walau pada masa tersebut ekstrak hati
tersebut banyak digunakan, para ahli pengobatan masih belum dapat mengidentifikasi senyawa yang dapat
menyembuhkan penyakit kerabunan tersebut. Oleh karena itu, era ini dikenal dengan era penyembuhan empiris
(berdasarkan pengalaman).

Perkembangan besar berikutnya mengenai vitamin baru kembali muncul pada tahun 1890-an. Penemuan ini
diprakarsai oleh Lunin dan Christiaan Eijkman yang melakukan penelitian mengenai penyakit defisiensi pada
hewan. Penemuan inilah yang kemudian memulai era kedua dari lima garis besar sejarah vitamin di
dunia.Penelitian mereka terfokus pada pengamatan penyakit akibat defisiensi senyawa tertentu. Beberapa tahun
berselang, ilmuwan Sir Frederick G. Hopkins yang sedang melakukan analisis penyakit beri-beri pada hewan
menemukan bahwa hal ini disebabkan oleh kekurangan suatu senyawa faktor pertumbuhan (growth factor).

Pada tahun 1911, seorang ilmuwan kelahiran Amerika bernama Dr. Casimir Funk berhasil mengisolasi suatu
senyawa yang telah dibuktikan dapat mencegah peradangan saraf (neuritis) untuk pertama kalinya. Dr. Casimir juga
berhasil mengisolasi senyawa aktif dari sekam beras yang diyakini memiliki aktivitas antiberi-beri pada tahun
berikutnya. Pada saat itulah (dan untuk pertama kalinya), Dr Funk mempublikasikan senyawa aktif hasil temuannya
tersebut dengan istilah vitamine (vital dan amines). Pemberian nama amines pada senyawa vitamin ini karena
diduga semua jenis senyawa aktif ini memiliki gugus amina (amine). Hal tersebut kemudian segera disanggah dan
diganti menjadi vitamin (dengan penghilangan akhiran huruf "e") pada tahun 1920 (Sejarah Penemuan Vitamin)


HATI-HATI nasi putih mengandung racun. Kesimpulan salah inilah yang pernah dicetuskan Christiaan Eijkman
pada tahun 1896 setelah selama 10 tahun melakukan penelitian tentang penyakit beri-beri.

Penderita beri-beri ternyata akibat kekurangan vitamin B1 yang biasa terdapat pada bagian terluar beras tumbuk
atau bagian dedaknya. Pada beras giling yang berwarna putih bersih, bagian dedak yang berwarna kecokelatan dan
kaya vitamin B1 tersebut jadi hilang.

Christiaan merupakan ilmuwan Belanda yang memelopori penemuan vitamin B1 yang pada saat itu belum
diketahui namanya. Istimewanya, penemuan yang berbuah Nobel tersebut berawal dari penelitian yang
dilakukannya di Indonesia, yang pada saat itu masih bernama Hindia Belanda.

Kini, vitamin merupakan bahan yang tidak asing lagi bagi kita. Vitamin selalu ditambahkan pada makanan-
makanan kesehatan atau produk pengobatan yang dijual terpisah untuk memelihara kesehatan.

Christiaan Eijkman lahir pada tanggal 11 Agustus 1858 di Kota Nijkerk, Belanda. Ia merupakan anak ketujuh dari
seorang ayah yang berprofesi sebagai kepala sekolah lokal. Eijkman kecil bercita-cita menjadi seorang dokter.
Namun ketika ia beranjak dewasa, keluarganya tidak mempunyai cukup dana untuk mengirimnya ke sekolah
kedokteran. Beruntung pada saat itu sedang dibuka pendidikan dokter gratis dari tentara kolonial Belanda. Mereka
membutuhkan banyak dokter untuk ditempatkan di daerah koloni.

Eijkman mendapatkan latihan medis, kemudian dikirim ke Hindia Belanda sebagai ahli bedah militer. Pada saat itu
ia ditempatkan di daerah Semarang, Cilacap, dan Padang Sidempuan. Malang baginya, karena ketika berada di
Cilacap ia terkena penyakit malaria. Setelah selama dua tahun penyakitnya tak kunjung sembuh, ia pun dipulangkan
kembali ke Belanda.

Sekembalinya ke Eropa, ia pergi ke Berlin (Jerman) untuk mempelajari sebuah penelitian medis mutakhir. Tahun
1882 di tempat tersebut, Robert Koch telah berhasil menemukan bakteri penyebab penyakit tuberkolosis. Pada saat
itu, penemuan ini merupakan sesuatu yang spektakuler, karena sebelumnya para dokter dibuat bingung oleh
penyakit-penyakit seperti tuberkolosis dan malaria. Dengan penemuan Koch tersebut diharapkan lebih mudah untuk
mengobati penyakit, karena penyebabnya telah diketahui. Selama satu tahun Eijkman bergabung dengan Koch
dalam penelitian tentang penularan penyakit tuberkolosis melalui metode penumbuhan bakteri dan penginfeksian
pada binatang.

                                                                                                   Penyakit beri-beri

Pada tahun 1880-an penyakit beri-beri mencapai tingkat endemis di daerah koloni Belanda. Di Asia, beri-beri telah
dikenal sejak ribuan tahun sebelumnya. Secara tiba-tiba, setelah ditemukannya metode pengolahan nasi putih yang
diproyeksikan menjadi makanan pokok, penyakit tersebut berkembang menjadi salah satu penyakit yang paling
banyak diderita masyarakat di wilayah tersebut.

Pemerintah Belanda memutuskan untuk membuat sebuah lembaga penelitian di Batavia (sekarang Jakarta) pada
tahun 1886. Eijkman yang telah mendapat ilmu tentang penanganan penyakit dari Robert Koch, bersikeras untuk
bergabung di lembaga tersebut, meskipun ia belum sembuh benar dari penyakitnya. Ia sangat bersemangat untuk
menemukan penyebab penyakit beri-beri, sekaligus mencari cara untuk menyembuhkannya. Selain itu, ia telah
mendapat banyak gambaran tentang penyakit beri-beri.

Pada kunjungannya yang pertama ke wilayah Hindia Belanda, Eijkman telah banyak memperhatikan korban beri-
beri. Gejalanya dimulai dengan rasa lemas, letih, kehilangan nafsu makan dan rasa tidak enak pada perut. Pada
tahap selanjutnya, penderita mengalami perasaan seperti terbakar, gatal-gatal pada kaki dan tangan, serta mati rasa.
Banyak penderita yang kemudian meninggal karena gagal jantung. Hasil autopsi menunjukkan, serabut syaraf dan
otot jantungnya mengalami degenerasi.

Bersama A.C. Pekelhering dan C. Winkler, Eijkman berangkat ke Batavia dan mulai melakukan penelitian sebagai
pejabat medis. Pada tahun pertama penelitiannya, Pekelhering dan Winkler berhasil mengisolasi mikroorganisme
dari korban-korban penyakit beri-beri. Namun sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, keduanya dipanggil
pulang ke Belanda. Eijkman akhirnya ditunjuk sebagai direktur laboratorium penelitian mereka di Rumah Sakit
Batavia. Pada saat yang sama, Eijkman juga diangkat sebagai kepala di “Dokter Djawa School“, sebuah sekolah
kedokteran untuk orang Jawa.

                                                                                                 Percobaan Eijkman

Meskipun Eijkman banyak berkutat di bidang penelitian lain, percobaannya untuk menyingkap penyebab penyakit
beri-beri merupakan objek yang mengangkatnya ke jenjang kesuksesan. Pada awalnya ia mencoba menginfeksikan
mikroorganisme hasil temuan rekannya terhadap kelinci dan monyet. Kedua jenis hewan tersebut ternyata tidak
menderita sakit sama sekali.

Eijkman beranggapan, beri-beri merupakan jenis penyakit yang membutuhkan waktu yang lama untuk menginfeksi
korbannya. Untuk menunggu sampai monyet atau kelinci tersebut terinfeksi dibutuhkan waktu yang lama. Dalam
rentang waktu tersebut sangat besar kemungkinan kedua hewan percobaannya terserang penyakit lain yang bisa
mengacaukan penelitiannya. Ia membutuhkan hewan lain yang lebih mudah terserang beri-beri dalam waktu yang
singkat.

Eijkman kemudian memilih ayam sebagai bahan percobaannya. Selain lebih kecil, pemeliharaan ayam ia pandang
lebih mudah dan murah. Dalam waktu sebulan setelah proses penginfeksian, semua ayamnya menunjukkan gejala
terserang beri-beri. Padahal ia hanya menyuntikkan mikroorganisme pembawa penyakit pada beberapa ekor ayam
saja. Ia menduga ayam-ayam yang lain tertular dari ayam pembawa kuman penyakit tersebut. Eijkman kemudian
membawa ayam-ayam baru dan ditempatkan dalam kandang yang terpisah. Namun ternyata ayam-ayam ini pun
ikut terserang penyakit.

Eijkman khawatir penyakit ayam itu menular kepada manusia, ia kemudian memindahkan ayam-ayamnya tersebut
ke tempat lain. Namun baru saja hal ini dilakukan, semua ayam-ayamnya berangsur pulih. Eijkman tidak mengerti
apa yang terjadi, karena ia merasa tidak melakukan terapi apa pun untuk proses penyembuhan itu.

Eijkman menemukan titik terang melalui pegawai yang biasa memberi makan ayam-ayamnya. Pegawai tersebut
menceritakan kepadanya, sebelumnya ia memberi nasi putih sisa dari rumah sebelah sebagai pakan ayam. Pada saat
itulah semua ayamnya jatuh sakit. Namun tukang masak baru di rumah tersebut tidak bersedia memberikan nasi
putih sisa, sehingga ia kembali memberi makan ayam-ayamnya dengan butir-butir beras yang belum dibersihkan.
Pada saat itulah semua ayamnya berangsur sembuh.

Eijkman menyadari, penyakit beri-beri ini ada hubungannya dengan jenis pakan yang diberikan. Ia merancang
percobaan-percobaan lanjutan untuk mengetahui secara pasti bahan apa yang menyebabkan ayam lebih mudah
terserang beri-beri. Pada akhirnya ia berkesimpulan, pada nasi putih terdapat zat yang bisa bersifat racun atau
menyebabkan mikroorganisme penyebab penyakit berkembang biak, dan pada kulit beras terdapat zat
penangkalnya. Ia menyebut zat tersebut sebagai faktor antiberi-beri. Penelitiannya tersebut ditulisnya dalam bentuk
laporan. Ia juga menuliskannya dalam Jurnal Sains Belanda dengan tujuan untuk memberikan gambaran bagi ahli-
ahli lain yang ingin menggeluti atau mendalami bidang yang sama.

Pada tahun 1895, sembilan tahun setelah penelitian “ayam”, Eijkman ingin mencoba hasil penelitiannya tersebut
terhadap manusia. Ia meminta Dr. A.G. Vorderman untuk melakukan penelitian di sebuah penjara. Alasannya
memilih penjara sebagai tempat percobaan karena lebih mudah mengontrol pemberian jenis makanan dan objek
penelitian dapat berada pada satu tempat untuk waktu yang lama. Tidak lama kemudian terbukti, tahanan yang
diberi makanan nasi putih masak lebih mudah terserang beri-beri.

                                                                                                         Vitamin B1

Berdasarkan hasil penelitiannya, pada tahun 1906 seorang ahli biokimia Inggris, Frederick Hopkins menyatakan,
dalam makanan terdapat bahan lain selain protein, karbohidrat, lemak, garam, dan air. Tahun 1912, seorang ahli
kimia Casimir Funk menyatakan telah menemukan zat yang disebut Eijkman sebagai faktor antiberi-beri. Ia
menamakannya vitamine (gabungan dari vital dan amine) yang kemudian umum disebut vitamin. Namun Funk
belum berhasil menyintesis zat yang tepat sampai tahun 1926.

Struktur Thiamin atau vitamin B1 baru dapat disintesis sepenuhnya pada tahun 1936. Dan sejak tahun 1940, jenis-
jenis makanan seperti nasi, tepung, pasta dan sereal telah diperkaya dengan vitamin B1. Sejak itu, penyakit beri-beri
tidak lagi menjadi masalah besar dan praktik makanan bervariasi yang diperkaya dengan vitamin telah
menyelamatkan jutaan nyawa.

Berkat penemuannya tersebut, Eijkman diangkat menjadi anggota Royal Academy of Sciences (Belanda).
Pemerintah Belanda juga memberinya beberapa gelar kebangsawanan. Namun penghargaan yang paling tinggi
adalah penganugerahan hadiah Nobel untuk Bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1920. Christiaan Eijkman
meninggal di Utrech pada tanggal 5 November 1950.***
Rudi Haryanto, S.Si.,

Alumnus Departemen Biologi ITB. Pengajar di MA dan MTs Asih Putera Cimahi.



Sejarah penemuan

Vitamin C berhasil diisolasi untuk pertama kalinya pada tahun 1928 dan pada tahun 1932 ditemukan bahwa vitamin
ini merupakan agen yang dapat mencegah sariawan.[rujukan?] Albert Szent-Györgyi menerima penghargaan Nobel
dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1937 untuk penemuan ini.[4] Selama ini vitamin C atau asam askorbat
dikenal perananny dalam menjaga dan memperkuat imunitas terhadap infeksi.[3] Pada beberapa penelitian lanjutan
ternyata vitamin C juga telah terbukti berperan penting dalam meningkatkan kerja otak. [1] Dua peneliti di Texas
Woman's University menemukan bahwa murid SMTP yang tingkat vitamin C-nya dalam darah lebih tinggi ternyata
menghasilkan tes IQ lebih baik daripada yang jumlah vitamin C-nya lebih rendah.[5]




Pengertian dan Definisi Vitamin - Fungsi, Guna, Sumber, Akibat Kekurangan, Macam dan Jenis
Vitamin
Sun, 14/05/2006 - 10:45pm — godam64

Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita yang berfungsi untuk
mambantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh. Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak
akan dapat melakukan aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan memperbesar peluang terkena
penyakit pada tubuh kita.

Vitamin berdasarkan kelarutannya di dalam air :
- Vitamin yang larut di dalam air : Vitamin B dan Vitamin C
- Vitamin yang tidak larut di dalam air : Vitamin A, D, E, dan K atau disingkat Vitamin ADEK.

1. Vitamin A
- sumber vitamin A =
susu, ikan, sayuran berwarna hijau dan kuning, hati, buah-buahan warna merah dan kuning (cabe merah, wortel,
pisang, pepaya, dan lain-lain)
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin A =
rabun senja, katarak, infeksi saluran pernapasan, menurunnya daya tahan tubuh, kulit yang tidak sehat, dan lain-
lain.

2. Vitamin B1
- sumber yang mengandung vitamin B1 =
gandum, daging, susu, kacang hijau, ragi, beras, telur, dan sebagainya
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B1 =
kulit kering/kusik/busik, kulit bersisik, daya tahan tubuh berkurang.

3. Vitamin B2
- sumber yang mengandung vitamin B2 =
sayur-sayuran segar, kacang kedelai, kuning telur, susu, dan banyak lagi lainnya.
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B2 =
turunnya daya tahan tubuh, kilit kering bersisik, mulut kering, bibir pecah-pecah, sariawan, dan sebagainya.

4. Vitamin B3
- sumber yang mengandung vitamin B3 =
buah-buahan, gandum, ragi, hati, ikan, ginjal, kentang manis, daging unggas dan sebagainya
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B3 =
terganggunya sistem pencernaan, otot mudah keram dan kejang, insomnia, bedan lemas, mudah muntah dan mual-
mual, dan lain-lain

5. Vitamin B5
- sumber yang mengandung vitamin B5 =
daging, susu, sayur mayur hijau, ginjal, hati, kacang ijo, dan banyak lagi yang lain.
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B5 =
otot mudah menjadi kram, sulit tidur, kulit pecah-pecah dan bersisik, dan lain-lain
6. Vitamin B6
- sumber yang mengandung vitamin B6 =
kacang-kacangan, jagung, beras, hati, ikan, beras tumbuk, ragi, daging, dan lain-lain.
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B6 =
pelagra alias kulit pecah-pecah, keram pada otot, insomnia atau sulit tidur, dan banyak lagi lainnya.

7. Vitamin B12
- sumber yang mengandung vitamin B12 =
telur, hati, daging, dan lainnya
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin B12 =
kurang darah atau anemia, gampang capek/lelah/lesu/lemes/lemas, penyakit pada kulit, dan sebagainya

8. Vitamin C
- sumber yang mengandung vitamin C =
jambu klutuk atau jambu batu, jeruk, tomat, nanas, sayur segar, dan lain sebagainya
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin C =
mudah infeksi pada luka, gusi berdarah, rasa nyeri pada persendian, dan lain-lain

9. Vitamin D
- sumber yang mengandung vitamin D =
minyak ikan, susu, telur, keju, dan lain-lain
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin D =
gigi akan lebih mudah rusak, otok bisa mengalami kejang-kejang, pertumbuhan tulang tidak normal yang biasanya
betis kaki akan membentuk huruf O atau X.

10. Vitamin E
- sumber yang mengandung vitamin E =
ikan, ayam, kuning telur, kecambah, ragi, minyak tumbuh-tumbuhan, havermut, dsb
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin E =
bisa mandul baik pria maupun wanita, gangguan syaraf dan otot, dll

11. Vitamin K
- sumber yang mengandung vitamin K =
susu, kuning telur, sayuran segar, dkk
- Penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan vitamin K =
darah sulit membeku bila terluka/berdarah/luka/pendarahan, pendarahan di dalam tubuh, dan sebagainya

        biologi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1307
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:5
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl