Docstoc

Laporan Pendahuluan (juanda n wahyu)

Document Sample
Laporan Pendahuluan   (juanda n wahyu) Powered By Docstoc
					   Laporan Pendahuluan (Askep) Tuberculosis (TBC)
   Diposkan oleh _Ly_`s pageS di Sabtu, Agustus 21, 2010




A. DEFINSI

       Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikobakterium tuberkulosa tipe

   humanus ( jarang oleh tipe M. Bovinus). TB paru merupakan penyakit infeksi penting saluran

   napas bagian bawah. Basil mikobakterium tuberculosa tersebut masuk kedalam jaringan paru

   melalui saluran napas (droplet infeksion) sampai alveoli, terjadilah infeksi primer (ghon).

   Selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks

   (ranke). (ilmu penyakit paru, muhammad Amin).

       Tb paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan

   gejala yang sangat bervariasi.

B. ETIOLOGI

       Penyebabnya adalah kuman mycobacterium tuberculosa. Sejenis kuman yang berbentuk

   batang denagn ukuran panjang 1-4 /mm dan tebal 0,3-0,6 /mm. sebagian besar kuman terdiri

   atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih tahan terhadap gangguan

   kimia dan fisik.

       Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan-

   tahan dalam lemari es).

C. PROSES PENULARAN
      Tuberculosis tergolong airbone disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang

   dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiap kali penderita ini batuk

   dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi didalam ruangan

   dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar

   matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab

   dapat bertahan sampai beberapa jam.



D. ANATOMI FISIOLOGI




E. PATOFISIOLOGI

      Port de’entri kuman microbakterium tuberculosis adalah saluran pernapasan, saluran

   pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui

   udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil

   tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.

      Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi terdiri dari satu

   sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan disaluran hidung dan cabang

   besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus

   biasanya dibagian bawah lobus atau paru-paru atau dibagian atas lobus bawah atau paru-paru
    tau dibagian bawah atas lobus bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan.

    Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun

    tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh

    makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia

    akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh denagn sendirinya sehingga tidak ada sisa yang

    tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang

    biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening regional. Makrofag yang

    mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel

    epitolit yang dikelilingi leh fosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 1 sampai 10 hari.



F. MANIFESTASI KLINIS

   Batuk disertai dahak lebih dari 3 minggu

   Sesak napas dan nyeri dada

   Badan lemah, kurang enak badan

   Berkeringat pada malam hari walau tanpa kegiatan berat badan menurun (Penyakit infeksi

    TB paru dan ekstra paru, Misnadiarly)



G. JENIS-JENIS PENYAKIT TBC

    Penyakit tuberkulosis ( TBC ) terdiri atas 2 golongan besar,yaitu :

1. TB paru ( TB pada organ patu-paru )

2. TB ekstra paru (TB pada organ tubuh selain paru )

a. Tuberkulosis milier

b. Tuberkulosis sistem saraf pusat ( TB neningitis )

c. Tuberkulosis empyem dan Bronchopleural fistula

d. Tuberkulosis Pericarditis
e. Tuberkulosis Skelet / Tulang

f. Tuberkulosis Benitourinary / Saluran Kemih

g. Tuberkulosis Peritonitis

h. Tuberkulosis Gastriontestinal (Organ Cerna)

i. Tuberkulosis Iymphadenitis

j. Tuberkulosis Catan / Kulit

k. Tuberkulosis Laringitis

l. Tuberkulosis Otitis



H. KOMPLIKASI

1. Pembesaran kelenjar sevikalis yang superfisial

2. Pleuritis tuberkulosa

3. Efusi pleura

4. Tuberkulosa milier

5. Meningitis tuberkulosa



I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Kultur Sputum adalah Mikobakterium Tuberkulosis Positif pada tahap akhir penyakit

2. Tes Tuberkalin adalah Mantolix test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam)

3. Poto Thorak adalah Infiltrasi lesi awal pada area paru atas : pada tahap dini tampak gambaran

   bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas : pada kavitas bayangan, berupa cincin :

   pada klasifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi.

4. Bronchografi adalah untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena Tb paru

5. Darah adalah peningkatan leukosit dan laju Endap darah (LED)

6. Spirometri adalah Penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital menurun
J. PENATALAKSANAAN

        Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu : Fase Intensif (2-3 bulan) dan Fase

    Lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat

    tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah

    Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan

    adalah Kanamisin, Kulnolon, Makvolide, dan Amoksilin ditambah dengan asam klavulanat,

    derivat rifampisin / INH.



K. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah.



    Kriteria hasil :

   Mempertahankan jalan nafas pasien

   Mengeluarkan sekret tanpa bantuan




    Intervensi :

   Kaji fungsi pernapasan contoh : Bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan

    otot aksesori

    Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif : catat karakter, jumlah

    sputum, adanya emoptisis

    Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi. Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas

    dalam
   Bersihkan sekret dari mulut dan trakea : penghisapan sesuai keperluan

   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan



    Rasionalisasi :

   Penurunan bunyi napas dapat menunjukkan atelektasis

    Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. Sputum berdarah kental atau darah cerah

    diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronkal dan dapat memerlukan evaluasi

   Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan

   Mencegah obstruksi / aspirasi



2. Pertukaran gas, kerusakan dan resiko.

    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan sering batuk atau produksi sputum

    meningkat.



    Kriteria hasil :

   BB meningkat



    Intervensi :

   Catat status nutrisi pasien

   Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai / tidak disukai

   Berikan makanan sedikit tapi sering

   Anjurkan keluarga klien untuk membawa makanan dari rumah dan berikan pada klien kecuali

    kontra indikasi

   Kolaborasi dengan ahli gizi
    Rasionalisasi :

   Berguna dalam mendefinisikan derajat / luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat

   Pertimbangan keinginan dapat memperbaiki masukan diet

   Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan

   Membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural

3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan

    tidak akurat dan tidak lengkap informasi yang ada.

    Kriteria hasil :

   Menyatakan pemahaman proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan



    Intervensi :

   Kaji kemampuan pasien untuk belajar

   Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat

   Berikan instruksi dan informasi tertulis

   Anjurkan klien untuk tidak merokok

   Kaji bagaimana TB ditularkan



    Rasionalisasi :

   Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu

    Dapat menunjukkan kemajuan atu pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang

    memerlukan evaluasi lanjut

   Infomasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi
     Meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TB tetapi meningkatkan disfungsi

    pernapasan



4. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan untuk menghindari

    pemajanan patogen.



    Kriteria hasil :

   Menurunkan resiko penyebaran infeksi



    Intervensi :

   Kaji patologi penyakit

   Identifikasi orang lain yang berisiko

   Anjurkan pasien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah

   Kaji tindakan kontrol infeksi

   Awasi suhu sesuai indikasi

   Kolaborasi dengan tim medis



    Rasionalisasi :

   Membantu pasien menyadari / menerima perlunya mematuhi program pengobatan

    Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran /

    terjadinya infeksi

   Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien

   Reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut
    Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan penyebaran

    infeksi




    Label: askep (keperawatan), kePerawaTan mediKaL bedah, Kesehatan, News

    0 Comments:

       1.

    Post a Comment



    Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
    Subscribe to: Poskan Komentar (Atom)

    Sabtu, 21 Agustus 2010
    Laporan Pendahuluan (Askep) Tuberculosis (TBC)

    Diposkan oleh _Ly_`s pageS at Sabtu, Agustus 21, 2010
    Label: askep (keperawatan), kePerawaTan mediKaL bedah, Kesehatan, News




A. DEFINSI

       Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikobakterium tuberkulosa tipe

    humanus ( jarang oleh tipe M. Bovinus). TB paru merupakan penyakit infeksi penting saluran
   napas bagian bawah. Basil mikobakterium tuberculosa tersebut masuk kedalam jaringan paru

   melalui saluran napas (droplet infeksion) sampai alveoli, terjadilah infeksi primer (ghon).

   Selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah primer kompleks

   (ranke). (ilmu penyakit paru, muhammad Amin).

      Tb paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan

   gejala yang sangat bervariasi.

B. ETIOLOGI

      Penyebabnya adalah kuman mycobacterium tuberculosa. Sejenis kuman yang berbentuk

   batang denagn ukuran panjang 1-4 /mm dan tebal 0,3-0,6 /mm. sebagian besar kuman terdiri

   atas asam lemak (lipid). Lipid ini adalah yang membuat kuman lebih tahan terhadap gangguan

   kimia dan fisik.

      Kuman ini tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin (dapat bertahan-

   tahan dalam lemari es).

C. PROSES PENULARAN

      Tuberculosis tergolong airbone disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang

   dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiap kali penderita ini batuk

   dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi didalam ruangan

   dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar

   matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab

   dapat bertahan sampai beberapa jam.



D. ANATOMI FISIOLOGI
E. PATOFISIOLOGI

      Port de’entri kuman microbakterium tuberculosis adalah saluran pernapasan, saluran

   pencernaan, dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui

   udara (air borne), yaitu melalui inhalasi droplet yang mengandung kuman-kuman basil

   tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi.

      Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi terdiri dari satu

   sampai tiga gumpalan basil yang lebih besar cenderung tertahan disaluran hidung dan cabang

   besar bronkus dan tidak menyebabkan penyakit. Setelah berada dalam ruang alveolus

   biasanya dibagian bawah lobus atau paru-paru atau dibagian atas lobus bawah atau paru-paru

   tau dibagian bawah atas lobus bawah. Basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan.

   Leukosit polimorfonuklear tampak pada tempat tersebut dan memfagosit bacteria namun

   tidak membunuh organisme tersebut. Sesudah hari-hari pertama maka leukosit diganti oleh

   makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia

   akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh denagn sendirinya sehingga tidak ada sisa yang

   tertinggal, atau proses dapat juga berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang

   biak di dalam sel. Basil juga menyebar melalui getah bening regional. Makrofag yang
    mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu membentuk sel tuberkel

    epitolit yang dikelilingi leh fosit. Reaksi ini biasanya membutuhkan waktu 1 sampai 10 hari.



F. MANIFESTASI KLINIS

   Batuk disertai dahak lebih dari 3 minggu

   Sesak napas dan nyeri dada

   Badan lemah, kurang enak badan

   Berkeringat pada malam hari walau tanpa kegiatan berat badan menurun (Penyakit infeksi

    TB paru dan ekstra paru, Misnadiarly)



G. JENIS-JENIS PENYAKIT TBC

    Penyakit tuberkulosis ( TBC ) terdiri atas 2 golongan besar,yaitu :

1. TB paru ( TB pada organ patu-paru )

2. TB ekstra paru (TB pada organ tubuh selain paru )

a. Tuberkulosis milier

b. Tuberkulosis sistem saraf pusat ( TB neningitis )

c. Tuberkulosis empyem dan Bronchopleural fistula

d. Tuberkulosis Pericarditis

e. Tuberkulosis Skelet / Tulang

f. Tuberkulosis Benitourinary / Saluran Kemih

g. Tuberkulosis Peritonitis

h. Tuberkulosis Gastriontestinal (Organ Cerna)

i. Tuberkulosis Iymphadenitis

j. Tuberkulosis Catan / Kulit

k. Tuberkulosis Laringitis
l. Tuberkulosis Otitis



H. KOMPLIKASI

1. Pembesaran kelenjar sevikalis yang superfisial

2. Pleuritis tuberkulosa

3. Efusi pleura

4. Tuberkulosa milier

5. Meningitis tuberkulosa



I. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Kultur Sputum adalah Mikobakterium Tuberkulosis Positif pada tahap akhir penyakit

2. Tes Tuberkalin adalah Mantolix test reaksi positif (area indurasi 10-15 mm terjadi 48-72 jam)

3. Poto Thorak adalah Infiltrasi lesi awal pada area paru atas : pada tahap dini tampak gambaran

   bercak-bercak seperti awan dengan batas tidak jelas : pada kavitas bayangan, berupa cincin :

   pada klasifikasi tampak bayangan bercak-bercak padat dengan densitas tinggi.

4. Bronchografi adalah untuk melihat kerusakan bronkus atau kerusakan paru karena Tb paru

5. Darah adalah peningkatan leukosit dan laju Endap darah (LED)

6. Spirometri adalah Penurunan fungsi paru dengan kapasitas vital menurun



J. PENATALAKSANAAN

       Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu : Fase Intensif (2-3 bulan) dan Fase

   Lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat

   tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah

   Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedangkan jenis obat tambahan
    adalah Kanamisin, Kulnolon, Makvolide, dan Amoksilin ditambah dengan asam klavulanat,

    derivat rifampisin / INH.



K. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan sekret kental atau sekret darah.



    Kriteria hasil :

   Mempertahankan jalan nafas pasien

   Mengeluarkan sekret tanpa bantuan




    Intervensi :

   Kaji fungsi pernapasan contoh : Bunyi nafas, kecepatan, irama, kedalaman dan penggunaan

    otot aksesori

    Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa / batuk efektif : catat karakter, jumlah

    sputum, adanya emoptisis

    Berikan pasien posisi semi atau fowler tinggi. Bantu pasien untuk batuk dan latihan napas

    dalam

   Bersihkan sekret dari mulut dan trakea : penghisapan sesuai keperluan

   Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan



    Rasionalisasi :

   Penurunan bunyi napas dapat menunjukkan atelektasis
    Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal. Sputum berdarah kental atau darah cerah

    diakibatkan oleh kerusakan paru atau luka bronkal dan dapat memerlukan evaluasi

   Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernapasan

   Mencegah obstruksi / aspirasi



2. Pertukaran gas, kerusakan dan resiko.

    Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan sering batuk atau produksi sputum

    meningkat.



    Kriteria hasil :

   BB meningkat



    Intervensi :

   Catat status nutrisi pasien

   Pastikan pola diet biasa pasien, yang disukai / tidak disukai

   Berikan makanan sedikit tapi sering

   Anjurkan keluarga klien untuk membawa makanan dari rumah dan berikan pada klien kecuali

    kontra indikasi

   Kolaborasi dengan ahli gizi



    Rasionalisasi :

   Berguna dalam mendefinisikan derajat / luasnya masalah dan pilihan intervensi yang tepat

   Pertimbangan keinginan dapat memperbaiki masukan diet

   Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan
   Membantu memenuhi kebutuhan personal dan kultural

3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan tindakan dan pencegahan berhubungan dengan

    tidak akurat dan tidak lengkap informasi yang ada.

    Kriteria hasil :

   Menyatakan pemahaman proses penyakit / prognosis dan kebutuhan pengobatan



    Intervensi :

   Kaji kemampuan pasien untuk belajar

   Identifikasi gejala yang harus dilaporkan ke perawat

   Berikan instruksi dan informasi tertulis

   Anjurkan klien untuk tidak merokok

   Kaji bagaimana TB ditularkan



    Rasionalisasi :

   Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu

    Dapat menunjukkan kemajuan atu pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang

    memerlukan evaluasi lanjut

   Infomasi tertulis menurunkan hambatan pasien untuk mengingat sejumlah besar informasi

     Meskipun merokok tidak merangsang berulangnya TB tetapi meningkatkan disfungsi

    pernapasan



4. Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan kurang pengetahuan untuk menghindari

    pemajanan patogen.
    Kriteria hasil :

   Menurunkan resiko penyebaran infeksi



    Intervensi :

   Kaji patologi penyakit

   Identifikasi orang lain yang berisiko

   Anjurkan pasien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan menghindari meludah

   Kaji tindakan kontrol infeksi

   Awasi suhu sesuai indikasi

   Kolaborasi dengan tim medis



    Rasionalisasi :

   Membantu pasien menyadari / menerima perlunya mematuhi program pengobatan

    Orang-orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penyebaran /

    terjadinya infeksi

   Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi pasien

   Reaksi demam indikator adanya infeksi lanjut

    Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan penyebaran

    infeksi

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:185
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:17
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl