Docstoc

Askep- Tumor

Document Sample
Askep- Tumor Powered By Docstoc
					                                 Askep Tumor
              (Asuhan Keperawatan pada Klien Tumor)
                   Disunting dari: onkologi/Askep Tumor _ NursingBegin.com.htm

Konsep Dasar Tumor

Tumor merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi berasal dari bahasa latin, yang
berarti bengkak.




Istilah Tumor ini digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan biologikal jaringan yang tidak
normal. Menurut Brooker, 2001 pertumbuhan tumor dapat digolongkan sebagai ganas
(malignant) atau jinak (benign).


Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya tidak
cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak sehingga
terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat).
Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak mudah dikeluarkan dengan cara operasi
(Robin dan Kumar, 1995).

Pengertian Kanker

Sedangkan kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak
teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan
pertumbuhan langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat
yang jauh (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA,
menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya (Tjakra,
1991).

Etiologi Tumor

1. Kelainan kongenital

   Kelainan kongenital adalah kelainan yang dibawa sejak lahir, benjolannya dapat berupa
   benjolan yang timbul sejak lahir atau timbul pada usia kanak-kanak bahkan terkadang
   muncul setelah usia dewasa. Pada kelainan ini ,benjolan yang paling sering terletak di leher
   samping bagian kiri atau kanan di sebelah atas , dan juga di tengah-tengah di bawah dagu.
   Ukuran benjolan bisa kecil beberapa cm tetapi bisa juga besar seperti bola tenis. Kelainan
   kongenital yang sering terjadi di daerah leher antara lain adalah hygroma colli , kista
   branchial , kista ductus thyroglosus.

2. Genetic
3. Gender / jenis kelamin
4. Usia
5. Rangsangan fisik berulang
   Gesekan atau benturan pada salah satu bagian tubuh yang berulang dalam waktu yang lama
   merupakan rangsangan yang dapat mengakibatkan terjadinya kanker pada bagian tubuh
   tersebut, karena luka atau cedera pada tempat tersebut tidak sempat sembuh dengan
   sempurna.
6. Hormon
   Hormon adalah zat yang dihasilkan kelenjar tubuh yang fungsinya adalah mengatur kegiatan
   alat-alat tubuh dan selaput tertentu. Pada beberapa penelitian diketahui bahwa pemberian
   hormon tertentu secara berlebihan dapat menyebabkan peningkatan terjadinya beberapa jenis
   kanker seperti payudara, rahim, indung telur dan prostat (kelenjar kelamin pria).
7. Infeksi
8. Gaya hidup
9. karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi)
   Zat yang terdapat pada asap rokok dapat menyebabkan kanker paru pada perokok dan
   perokok pasif (orang bukan perokok yang tidak sengaja menghirup asap rokok orang lain)
   dalam jangka waktu yang lama.Bahan kimia untuk industri serta asap yang mengandung
   senyawa karbon dapat meningkatkan kemungkinan seorang pekerja industri menderita
   kanker.
   Beberapa virus berhubungan erat dengan perubahan sel normal menjadi sel kanker. Jenis
   virus ini disebut virus penyebab kanker atau virus onkogenik.
   Sinar ultra-violet yang berasal dari matahari dapat menimbulkan kanker kulit. Sinar radio
   aktif sinar X yang berlebihan atau sinar radiasi dapat menimbulkan kanker kulit dan
   leukemia.

Patofisiologi Tumor

Kelainan congenital, Genetic, Gender / jenis kelamin, Usia, Rangsangan fisik berulang, Hormon,
Infeksi, Gaya hidup, karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi) dapat menimbulkan tumbuh atau
berkembangnya sel tumor. Sel tumor dapat bersifat benign (jinak) atau bersifat malignant
(ganas).

Sel tumor pada tumor jinak bersifat:

   -   tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya tidak cepat membesar.
   -   Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak sehingga terbentuk simpai
       (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat).
   -   Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak mudah dikeluarkan dengan cara
       operasi.


Sel tumor pada tumor ganas (kanker):

   -   tumbuh cepat, sehingga tumor ganas pada umumnya cepat menjadi besar.
   -   tumbuh menyusup ke jaringan sehat sekitarnya, sehingga digambarkan seperti kepiting
       dengan kaki-kakinya mencengkeram alat tubuh yang terkena.
   -   membuat anak sebar (metastasis) ke bagian alat tubuh lain yang jauh dari tempat
       asalnya melalui pembuluh darah (hematogen) dan pembuluh getah bening (limfogen) dan
       tumbuh kanker baru di tempat lain.
   -   Penyusupan sel kanker ke jaringan sehat pada alat tubuh lainnya dapat merusak alat
       tubuh    tersebut    sehingga      fungsi  alat   tersebut   menjadi     terganggu.


   Kanker adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan pembagian sel yang tidak teratur dan
   kemampuan sel-sel ini untuk menyerang jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan
   langsung di jaringan yang bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh
   (metastasis). Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA,
   menyebabkan mutasi di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya
   (Tjakra, Ahmad. 1991).


   Adapun siklus tumbuh sel kanker adalah membelah diri, membentuk RNA, berdiferensiasi /
   proliferasi, membentuk DNA baru, duplikasi kromosom sel, duplikasi DNA dari sel normal,
   menjalani fase mitosis, fase istirahat (pada saat ini sel tidak melakukan pembelahan).

Manifestasi Klinis Tumor

Ada tujuh gejala yang perlu diperhatikan dan diperiksakan lebih lanjut ke dokter untuk
memastikan ada atau tidaknya kanker, yaitu :
1) Waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan.
2) Alat pencernaan terganggu dan susah menelan.
3) Suara serak atau batuk yang tak sembuh-sembuh.
4) Payudara atau di tempat lain ada benjolan (tumor).
5) Andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya, mejadi makin besar dan gatal.
6) Darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh.
7) Adanya koreng atau borok yang tak mau sembuh-sembuh.

Klasifikasi Tumor

Berdasarkan asal jaringan, tumor dapat dibagi menjadi:

1) Tumor yang berasal dari epithelial

     Squamous epithelium : squamous cell papilloma, squamous cell carcinoma
     Transitional epithelium : transitional cell papilloma, transitional cell carcinoma.
     Basal cell (hanya di kulit): basal cell carcinoma.
     Glandular epithelium: adenoma, cystadenoma, adenocarcinoma.
     Tubules epithelium (ginjal): renal tubular adenoma, renal cell carcinoma (Grawitz
      tumor).
     Hepatocytes: hepatocellular adenoma, hepatocellular carcinoma
     Bile ducts epithelium: cholangiocellular adenoma, cholangiocellular carcinoma.
     Melanocytes: melanocytic nevus, malignant melanoma.
2) Tumor yang berasal dari mesenchymal
     Jaringan yang berhubungan:
      - fibroma, fibrosarcoma
      - myxoma, myxosarcoma
      - chondroma, chondrosarcoma
      - osteoma, osteosarcoma (osteogenic sarcoma)
      - lipoma, liposarcoma

      Otot:

       -   leiomyoma, leiomyosarcoma
       -   rhabdomyoma, rhabdomyosarcoma

      Endothelium:

       -   Hemangioma (capillary h., cavernous h.), glomus tumor, hemangiosarcoma, Kaposi
           sarcoma
       -   Lymphangiosarcoma

      Tumor sel darah:

       -   Hematopoetic cells: leukemia
       -   Lymphoid cells: non-Hodgkin lymphoma, Hodgkin lymphoma

      Tumor sel germ:

           -   Teratoma (mature teratoma, immature teratoma)
           -   Tumor epithelial dianggap ganas apabila telah menembus lamina basalis dan
               dianggap jinak bila tidak menembus lamina basalis.

2. Pemeriksaan Penunjang
    a. Skrining
    b. Laboratorium
    c. Teknik Pencitraan (Imaging)
    d. Pemeriksaan Rontgen Konvensional
    e. Radiografi Digital
    f. Tomografi Komputer (CT Scan)
    g. Ekhografi
    h. Resonansi magnetik nuklear
    i. Skintigrafi

3. Penatalaksanaan Medis

  Pengobatan kanker pada dasarnya sama, yaitu salah satu atau kombinasi dari beberapa
  prosedur berikut :
  1) Pembedahan (Operasi)
  2) Penyinaran (Radioterapi)
  3) Pemakaian obat-obatan pembunuh sel kanker ( sitostatika/khemoterapi)
  4) Peningkatan daya tahan tubuh (imunoterapi)
  5) Pengobatan dengan hormone

Manajemen Keperawatan Tumor
1. Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh
(Boedihartono, 1994 : 10).
Pengkajian pasien Pre operatif (Marilynn E. Doenges, 1999) meliputi :
 Sirkulasi
    Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular perifer, atau
    stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).
 Integritas ego
    Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple, misalnya
    financial, hubungan, gaya hidup.
    Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi simpatis.
 Makanan / cairan
    Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk hipoglikemia/ketoasidosis) ;
    malnutrisi (termasuk obesitas) ; membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan /
    periode puasa pra operasi).
 Pernapasan
    Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.
 Keamanan
    Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ; Defisiensi immune
    (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi
    kanker terbaru ; Riwayat keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat
    penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat mengubah koagulasi) ;
    Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.
    Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.
 Penyuluhan / Pembelajaran
    Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi, kardiotonik glokosid,
    antidisritmia, bronchodilator, diuretic, dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan
   atau tranquilizer dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional. Penggunaan
   alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia,
   dan juga potensial bagi penarikan diri pasca operasi).

Diagnosa Keperawatan Tumor

Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial
berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994 : 17).

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006)
meliputi :

1) Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap perubahan
   status kesehatan, ancaman terhadap pola interaksi dengan orang yang berarti, krisis situasi
   atau krisis maturasi.
2) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan pembedahan, efek samping penanganan, factor
   budaya atau spiritual yang berpengaruh pada perubahan penampilan.
3) Koping individu, ketidakefektifan berhubungan dengan perubahan penampilan, keluhan
   terhadap reaksi orang lain, kehilangan fungsi, diagnosis kanker.
4) Proses keluarga, perubahan berhubungan dengan terapi yang kompleks,
   hospitalisasi/perubahan lingkungan, reaksi orang lain terhadap perubahan penampilan.
5) Ketakutan berhubungan dengan proses penyakit/prognosis (misalnya kanker),
   ketidakberdayaan.
6) Mobilitas fisik, hambatan berhubungan dengan penurunan rentang gerak, kerusakan
   saraf/otot, dan nyeri.

Intervensi dan Implementasi Tumor

Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk
menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994:20)
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun
pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).
Intervensi dan implementasi keperawatan pasien Pre Operatif (Wilkinson, M. Judith, 2006)
adalah :

1) Ansietas adalah suatu keresahan, perasaan ketidaknyamanan yang tidak mudah atau dread
   yang disertai dengan respons autonomis ; sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak
   diketahui oleh individu ; perasaan khawatir yang disebabkan oleh antisipasi terhadap
   bahaya.ini merupakan tanda bahya yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan
   memampukan individu untuk membuat pengukuran untuk mengatasi ancaman.
   Tujuan : ansietas berkurang/terkontrol.
   Kriteria hasil :
   - klien mampu merencanakan strategi koping untuk situasi-situasi yang membuat stress.
   - klien mampu mempertahankan penampilan peran.
   - klien melaporkan tidak ada gangguan persepsi sensori.
   - klien melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan secara fisik.
   - tidak ada manifestasi perilaku akibat kecemasan.

      Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien.
       Rasional : memudahkan intervensi.
      Kaji mekanisme koping yang digunakan pasien untuk mengatasi ansietas di masa lalu.
       Rasional : mempertahankan mekanisme koping adaftif, meningkatkan kemampuan
       mengontrol ansietas.
      Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran
       dan perasaan.
       Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan
       kecemasan yang dirasakan.
      Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan
       yang positif terhadap terapy yang di jalani.
       Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk
       mengurangi kecemasan.
      Berikan penguatan yang positif untuk meneruskan aktivitas sehari-hari meskipun dalam
       keadaan cemas.
       Rasional : menciptakan rasa percaya dalam diri pasien bahwa dirinya mampu mengatasi
       masalahnya dan memberi keyakinan pada diri sendri yang dibuktikan dengan pengakuan
       orang lain atas kemampuannya.
      Anjurkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi.
       Rasional : menciptakan perasaan yang tenang dan nyaman.
      Sediakan informasi faktual (nyata dan benar) kepada pasien dan keluarga menyangkut
       diagnosis, perawatan dan prognosis.
       Rasional : meningkatkan pengetahuan, mengurangi kecemasan.
      Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.
       Rasional : mengurangi ansietas sesuai kebutuhan.

2) Gangguan citra tubuh adalah konfusi pada gaambaran mental dari fisik seseorang.
   Tujuan : pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
   Kriteria hasil :
   - pasien melaporkan kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
   - memiliki keinginan untuk menyentuh bagian tubuh yang mengalami gangguan.
   - menggambarkan perubahan actual pada fungsi tubuh.
     Kaji dan dokumentasikan respons verbal dan non verbal pasien tentang tubuhnya.
        Rasional : factor yang mengidentifikasikan adanya gangguan persepsi pada citra tubuh.
     Kaji harapan pasien tentang gambaran tubuh.
        Rasional : mungkin realita saat ini berbeda dengan yang diharapkan pasien sehingga
        pasien tidak menyukai keadaan fisiknya.
     Dengarkan pasien dan keluarga secara aktif, dan akui realitas adanya perhatian terhadap
        perawatan, kemajuan dan prognosis.
        Rasional : meningkatkan perasaan berarti, memudahkan saran koping, mengurangi
        kecemasan.
     Berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, jaga privasi dan martabat pasien.
        Rasional : menciptakan suasana saling percaya, meningkatkan harga diri dan perasaan
        berarti dalam diri pasien.

3) Koping individu, ketidakefektifan adalah ketidakmampuan membuat penilaian yang tepat
   terhadap stressor, pilihan respons untuk bertindak secara tidak adekuat, dan atau
   ketidakmampuan untuk menggunakan sumber yang tersedia.
   Tujuan : pasien menunjukkan koping yang efektif.
   Kriteria hasil :
   - pasien akan menunjukkan minat terhadap aktivitas untuk mengisi waktu luang.
   - mengidentifikasikan kekuatan personal yang dapat mengembangkan koping yang efektif.
   - menimbang serta memilih diantara alternative dan konsekuensinya.
   - berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS).
     Kaji pandangan pasien terhadap kondisinya dan kesesuaiannya dengan pandangan
        pemberi pelayanan kesehatan.
        Rasional : mengidentifikasi persepsi pasien terhadap kondisinya.
     Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
        Rasional : menghindari ketakutan dan menciptakan hubungan saling percaya,
        memudahkan intervensi
     Anjurkan pasien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran yang realitas.
        Rasional : memberikan arahan pada persepsi pasien tentang kondisi nyata yang ada saat
        ini.
     Bantu pasien dalam mengidentifikasi respons positif dari orang lain.
        Rasional : meningkatkan perasaan berarti, memberikan penguatan yang positif.
      Libatkan sumber-sumber yang ada di rumah sakit dalam memberikan dukungan
       emosional untuk pasien dan keluarga.
       Rasional : menciptakan suasana saling percaya, perasaan berarti, dan mengurangi
       kecemasan.

4) Proses keluarga, perubahan adalah suatu perubahan dalam hubungan dan/atau fungsi keluarga.
   Tujuan : pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga.
   Kriteria hasil :
   - pasien/keluarga mampu mengidentifikasi koping.
   - paien/keluarga berpartisipasi dalam proses membuat keputusan berhubungan dengan
     perawatan setelah rawat inap.
     Kaji interaksi antara pasien dan keluarga.
        Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
     Bantu keluarga dalam mengidentifikasi perilaku yang mungkin menghambat pengobatan.
        Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi.
     Diskusikan dengan anggota keluarga tentang tambahan ketrampilan koping yang
        digunakan.
        Rasional : membantu keluarga dalam memilih mekanisme koping adaptif yang tepat .
     Dukung kesempatan untuk mendapatkan pengalaman masa anak-anak yang normal pada
        anak yang berpenyakit kronis atau tidak mampu.
        Rasional : memudahkan keluarga dalam menciptakan/memelihara fungsi anggota
        keluarga.

5) Ketakutan adalah ansietas yang disebabkan oleh sesuatu yang dikenali secara sadar dan
   bahaya nyata dan dipersepsikan sebagai bahaya yang nyata.
   Tujuan : pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan.
   Kriteria hasil :
   - mencari informasi untuk menurunkan ketakutan.
   - menggunakan teknik relaksasi untuk menurnkan ketakutan.
   - mempertahankan penampilan peran dan hubungan social.
     Kaji respons takut subjektif dan objektif pasien.
        Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
     Berikan penguatan positif bila pasien mendemonstrasikan perilaku yang dapat
        menurunkan atau mengurangi takut.
        Rasional : mempertahankan perilaku koping yang efektif.
     Lakukan pendekatan dan berikan motivasi kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran
        dan perasaan.
        Rasional : pendekatan dan motivasi membantu pasien untuk mengeksternalisasikan
        kecemasan yang dirasakan.
     Motivasi pasien untuk memfokuskan diri pada realita yang ada saat ini, harapan-harapan
        yang positif terhadap terapy yang di jalani.
        Rasional : alat untuk mengidentifikasi mekanisme koping yang dibutuhkan untuk
        mengurangi kecemasan.
6) Mobilitas fisik, hambatan adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakkan fisik
   yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih.
   Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
   Kriteria hasil :
   - penampilan yang seimbang..
   - melakukan pergerakkan dan perpindahan.
   - mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :
      0 = mandiri penuh
      1 = memerlukan alat Bantu.
      2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran.
      3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
      4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
     Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.
        Rasional : mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
      Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
       Rasional : mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena
       ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
      Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
       Rasional : menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
      Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
       Rasional : mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
      Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
       Rasional : sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan
       mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.

Evaluasi

Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian
tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi
keperawatan ditetapkan (Brooker, Christine. 2001).

Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Pre Operasi Tumor adalah :
1) Ansietas berkurang/terkontrol.
2) Pasien memiliki persepsi yang positif terhadap penampilan dan fungsi tubuh.
3) Pasien menunjukkan koping yang efektif.
4) Pasien dan keluarga memahami perubahan perubahan dalam peran keluarga.
5) Pasien akan memperlihatkan pengendalian ketakutan.
6) Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.

Daftar Pustaka

Boedihartono. 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. Jakarta.
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. Jakarta : EGC.
Marilynn E. Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian pasien, ed.3. Jakarta : EGC.
Nasrul Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC : Jakarta.
Robin S.L. dan Kumar V. 1995. Buku Ajar Patologi I. Jakarta : EGC.
Tjakra, Ahmad. 1991. Patologi. Jakarta : Bagian Patologi FKUI
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:532
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:8
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl