Askep Aritmia by anamaulida

VIEWS: 2,748 PAGES: 19

									                         LAPORAN PENDAHULUAN

      ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ARITMIA




1.Definisi
      Gangguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi
pada infark miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada frekuensi dan
irama jantung yang disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis
(Doenges, 1999). Aritmia timbul akibat perubahan elektrofisiologi sel-sel
miokardium. Perubahan elektrofisiologi ini bermanifestasi sebagai perubahan bentuk
potensial aksi yaitu rekaman grafik aktivitas listrik sel (Price, 1994). Gangguan irama
jantung tidak hanya terbatas pada iregularitas denyut jantung tapi juga termasuk
gangguan kecepatan denyut dan konduksi (Hanafi, 1996).




2.Etiologi
Etiologi aritmia jantung dalam garis besarnya dapat disebabkan oleh :

       1. Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard
           (miokarditis karena infeksi)
       2. Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri
           koroner), misalnya iskemia miokard, infark miokard.
       3. Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin dan obat-obat
           anti aritmia lainnya
       4. Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hipokalemia)
       5. Gangguan pada pengaturan susunan saraf autonom yang mempengaruhi
           kerja dan irama jantung
       6. Ganggguan psikoneurotik dan susunan saraf pusat.
       7. Gangguan metabolik (asidosis, alkalosis)
       8. Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme)
       9. Gangguan irama jantung karena kardiomiopati atau tumor jantung
       10. Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi (fibrosis sistem
             konduksi jantung)

 2.Pathofisiologi
 Terlampir




Manifestasi klinis
                1. Perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak
                    teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra,
                    denyut menurun; kulit pucat, sianosis, berkeringat; edema;
                    haluaran urin menurun bila curah jantung menurun berat.
                2. Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung,
                    letargi, perubahan pupil.
                3. Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan
                    obat antiangina, gelisah
                4. Nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan;
                    bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada
                    menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung
                    kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal;
                    hemoptisis.
                5. demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema
                    (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan
Pemeriksaan Penunjang
    2. EKG : menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi.
       Menyatakan tipe/sumber disritmia dan efek ketidakseimbangan elektrolit
       dan obat jantung.
    3. Monitor Holter : Gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk
       menentukan dimana disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien
       aktif (di rumah/kerja). Juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi
       pacu jantung/efek obat antidisritmia.
    4. Foto dada : Dapat menunjukkanpembesaran bayangan jantung
       sehubungan dengan disfungsi ventrikel atau katup
    5. Skan pencitraan miokardia : dapat menunjukkan aea iskemik/kerusakan
       miokard yang dapat mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu
       gerakan dinding dan kemampuan pompa.
    6. Tes stres latihan : dapat dilakukan utnnuk mendemonstrasikan latihan
       yang menyebabkan disritmia.
    7. Elektrolit : Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium
       dapat mnenyebabkan disritmia.
    8. Pemeriksaan obat : Dapat menyatakan toksisitas obat jantung, adanya obat
       jalanan atau dugaan interaksi obat contoh digitalis, quinidin.
    9. Pemeriksaan tiroid : peningkatan atau penururnan kadar tiroid serum
       dapat menyebabkan.meningkatkan disritmia.
    10. Laju sedimentasi : Penignggian dapat menunukkan proses inflamasi akut
       contoh endokarditis sebagai faktor pencetus disritmia.
    11. GDA/nadi oksimetri : Hipoksemia dapat menyebabkan/mengeksaserbasi
       disritmia.




Penatalaksanaan Medis
       12. Terapi medis

    Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas yaitu :

                1. Anti aritmia Kelas 1 : sodium channel blocker

   Kelas 1 A

        Quinidine adalah obat yang digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk
        mencegah berulangnya atrial fibrilasi atau flutter.

        Procainamide untuk ventrikel ekstra sistol atrial fibrilasi dan aritmi yang
        menyertai anestesi.

        Dysopiramide untuk SVT akut dan berulang

   Kelas 1 B

        Lignocain untuk aritmia ventrikel akibat iskemia miokard, ventrikel
        takikardia.

        Mexiletine untuk aritmia entrikel dan VT




   Kelas 1 C

        Flecainide untuk ventrikel ektopik dan takikardi

                2. Anti aritmia Kelas 2 (Beta adrenergik blokade)

      Atenolol, Metoprolol, Propanolol : indikasi aritmi jantung, angina pektoris dan
      hipertensi

                3. Anti aritmia kelas 3 (Prolong repolarisation)
       Amiodarone, indikasi VT, SVT berulang

                  4. Anti aritmia kelas 4 (calcium channel blocker)

       Verapamil, indikasi supraventrikular aritmia

        13. Terapi mekanis
                  1. Kardioversi : mencakup pemakaian arus listrik untuk
                     menghentikan disritmia yang memiliki kompleks GRS, biasanya
                     merupakan prosedur elektif.
                  2. Defibrilasi : kardioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan
                     gawat darurat.
                  3. Defibrilator kardioverter implantabel : suatu alat untuk
                     mendeteksi dan mengakhiri episode takikardi ventrikel yang
                     mengancam jiwa atau pada pasien yang resiko mengalami fibrilasi
                     ventrikel.
                  4. Terapi pacemaker : alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus
                     listrik berulang ke otot jantung untuk mengontrol frekuensi
                     jantung.




Pengkajian
        1. Riwayat penyakit

    Faktor resiko keluarga contoh penyakit jantung, stroke, hipertensi
    Riwayat IM sebelumnya (disritmia), kardiomiopati, GJK, penyakit katup jantung,
     hipertensi
    Penggunaan obat digitalis, quinidin dan obat anti aritmia lainnya kemungkinan
     untuk terjadinya intoksikasi
    Kondisi psikososial
    15. Pengkajian fisik
           1. Aktivitas : kelelahan umum
           2. Sirkulasi : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi
               mungkin tidak teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur,
               bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna dan kelembaban
               berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin
               menruun bila curah jantung menurun berat.
           3. Integritas ego : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut,
               menolak,marah, gelisah, menangis.
           4. Makanan/cairan : hilang nafsu makan, anoreksia, tidak toleran
               terhadap makanan, mual muntah, peryubahan berat badan,
               perubahan kelembaban kulit
           5. Neurosensori : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi,
               bingung, letargi, perubahan pupil.
           6. Nyeri/ketidaknyamanan : nyeri dada ringan sampai berat, dapat
               hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
           7. Pernafasan : penyakit paru kronis, nafas pendek, batuk, perubahan
               kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels,
               ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan
               seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena
               tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
           8. Keamanan : demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi,
               eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus
               otot/kekuatan


Diagnosa keperawatan dan Intervensi

Resiko tinggi penurunan curah jantung
berhubungan dengan gangguan konduksi
elektrikal, penurunan kontraktilitas
miokardia.
   Kriteria hasil :

              1. Mempertahankan/meningkatkan curah jantung adekuat yang
                  dibuktikan oleh TD/nadi dalam rentang normal, haluaran urin
                  adekuat, nadi teraba sama, status mental biasa
              2. Menunjukkan penurunan frekuensi/tak adanya disritmia
              3. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan kerja miokardia.

   Intervensi :

              4. Raba nadi (radial, femoral, dorsalis pedis) catat frekuensi,
                  keteraturan, amplitudo dan simetris.
              5. Auskultasi bunyi jantung, catat frekuensi, irama. Catat adanya
                  denyut jantung ekstra, penurunan nadi.
              6. Pantau tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung/perfusi
                  jaringan.
              7. Tentukan tipe disritmia dan catat irama : takikardi; bradikardi;
                  disritmia atrial; disritmia ventrikel; blok jantung
              8. Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktivitas
                  selama fase akut.
              9. Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres
                  misal relaksasi nafas dalam, bimbingan imajinasi
              10. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas dan faktor
                  penghilang/pemberat. Catat petunjuk nyeri non-verbal contoh
                  wajah mengkerut, menangis, perubahan TD
              11. Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi
              12. Kolaborasi :
               13. Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit
               14. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
               15. Berikan obat sesuai indikasi : kalium, antidisritmi
               16. Siapkan untuk bantu kardioversi elektif
               17. Bantu pemasangan/mempertahankan fungsi pacu jantung
               18. Masukkan/pertahankan masukan IV
               19. Siapkan untuk prosedur diagnostik invasif
               20. Siapkan untuk pemasangan otomatik kardioverter atau defibrilator




Kurang pengetahuan tentang penyebab
atau kondisi pengobatan berhubungan
dengan kurang informasi/salah
pengertian kondisi medis/kebutuhan
terapi.
   Kriteria hasil :

               1. menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
               2. Menyatakan tindakan yang diperlukan dan kemungkinan efek
                      samping obat

   Intervensi :

               3. Kaji ulang fungsi jantung normal/konduksi elektrikal
               4. Jelakan/tekankan masalah aritmia khusus dan tindakan terapeutik
                      pada pasien/keluarga
             5. Identifikasi efek merugikan/komplikasiaritmia khusus contoh
                 kelemahan, perubahan mental, vertigo.
             6. Anjurkan/catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat
                 diperlukan; bagaimana dan kapan minum obat; apa yang dilakukan
                 bila dosis terlupakan
             7. Dorong pengembangan latihan rutin, menghindari latihan
                 berlebihan
             8. Kaji ulang kebutuhan diet contoh kalium dan kafein
             9. Memberikan informasi dalam bentuk tulisan bagi pasien untuk
                 dibawa pulang
             10. Anjurkan psien melakukan pengukuran nadi dengan tepat
             11. Kaji ulang kewaspadaan keamanan, teknik mengevaluasi pacu
                 jantung dan gejala yang memerlukan intervensi medis
             12. Kaji ulang prosedur untuk menghilangkan PAT contoh pijatan
                 karotis/sinus, manuver Valsava bila perlu

DAFTAR PUSTAKA


  1. Price, Sylvia Anderson. Patofisiologi : konsep klinis
     proses-proses penyakit. Alih bahasa Peter
     Anugrah. Editor Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta :
     EGC ; 1994.
  2. Santoso Karo karo. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta :
     Balai Penerbit FKUI ; 1996
  3. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan
     Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa
      Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk.
      Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
   4. Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan
      Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
      pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I
      Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
   5. Hanafi B. Trisnohadi. Buku Ajar Ilmu Penyakit
      Dalam. Jilid I. Ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit
      FKUI ; 2001


Diposkan oleh Ners Semarang di 19:41 0 komentar   Link ke posting ini
Label: KARDIOVASKULER


PENYAKIT JANTUNG BAWAAN


ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN

PENYAKIT JANTUNG BAWAAN :

PATENT DUCTUS ARTERIOSUS (PDA)
Penyakit jantung kongenital atau penyakit jantung bawaan adalah sekumpulan
malformasi struktur jantung atau pembuluh darah besar yang telah ada sejak
lahir. Penyakit jantung bawaan yang kompleks terutama ditemukan pada bayi
dan anak. Apabila tidak dioperasi, kebanyakan akan meninggal waktu bayi.
Apabila penyakit jantung bawaan ditemukan pada orang dewasa, hal ini
menunjukkan bahwa pasien tersebut mampu melalui seleksi alam, atau telah
mengalami tindakan operasi dini pada usia muda.

(IPD FKUI,1996 ;1134)


   1. Pengertian

         Duktus Arteriosus adalah saluran yang berasal dari arkus aorta ke VI
   pada janin yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta desendens.
   Pada bayi normal duktus tersebut menutup secara fungsional 10 – 15 jam
   setelah lahir dan secara anatomis menjadi ligamentum arteriosum pada usia
   2 – 3 minggu. Bila tidak menutup disebut Duktus Arteriosus Persisten
   (Persistent Ductus Arteriosus : PDA). (Buku ajar kardiologi FKUI, 2001 ; 227)

         Patent Duktus Arteriosus adalah kegagalan menutupnya ductus
   arteriosus (arteri yang menghubungkan aorta dan arteri pulmonal) pada
   minggu pertama kehidupan, yang menyebabkan mengalirnya darah dari
   aorta tang bertekanan tinggi ke arteri pulmonal yang bertekanan rendah.
   (Suriadi, Rita Yuliani, 2001; 235)

         Patent Duktus Arteriosus (PDA) adalah tetap terbukanya duktus
   arteriosus setelah lahir, yang menyebabkan dialirkannya darah secara
   langsung dari aorta (tekanan lebih tinggi) ke dalam arteri pulmoner
   (tekanan lebih rendah). (Betz & Sowden, 2002 ; 375)




   2. Etiologi
       Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui
secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh
pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan :

       1. Faktor Prenatal :

   Ibu menderita penyakit infeksi : Rubella.
   Ibu alkoholisme.
   Umur ibu lebih dari 40 tahun.
   Ibu menderita penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang memerlukan insulin.
   Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu.

       2. Faktor Genetik :
                 Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit jantung
                  bawaan.
                 Ayah / Ibu menderita penyakit jantung bawaan.
                 Kelainan kromosom seperti Sindrom Down.
                 Lahir dengan kelainan bawaan yang lain.

       (Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Pusat Kesehatan Jantung
       dan Pembuluh Darah Nasional Harapan Kita, 2001 ; 109)


3. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis PDA pada bayi prematur sering disamarkan oleh masalah-
masalah lain yang berhubungan dengan prematur (misalnya sindrom gawat
nafas). Tanda-tanda kelebihan beban ventrikel tidak terlihat selama 4 – 6
jam sesudah lahir. Bayi dengan PDA kecil mungkin asimptomatik, bayi
dengan PDA lebih besar dapat menunjukkan tanda-tanda gagal jantung
kongestif (CHF)

                 Kadang-kadang terdapat tanda-tanda gagal jantung
                  Machinery mur-mur persisten (sistolik, kemudian menetap,
                   paling nyata terdengar di tepi sternum kiri atas)
                  Tekanan nadi besar (water hammer pulses) / Nadi
                   menonjol dan meloncat-loncat, Tekanan nadi yang lebar
                   (lebih dari 25 mm Hg)
                  Takhikardia (denyut apeks lebih dari 170), ujung jari
                   hiperemik
                  Resiko endokarditis dan obstruksi pembuluh darah
                   pulmonal.
                  Infeksi saluran nafas berulang, mudah lelah
                  Apnea
                  Tachypnea
                  Nasal flaring
                  Retraksi dada
                  Hipoksemia
                  Peningkatan kebutuhan ventilator (sehubungan dengan
                   masalah paru)

    (Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236, Betz & Sowden, 2002 ; 376)


4. Pathways

Terlampir




5. Komplikasi

   Endokarditis
   Obstruksi pembuluh darah pulmonal
   CHF
   Hepatomegali (jarang terjadi pada bayi prematur)
   Enterokolitis nekrosis
   Gangguan paru yang terjadi bersamaan (misalnya sindrom gawat nafas
    atau displasia bronkkopulmoner)
   Perdarahan gastrointestinal (GI), penurunan jumlah trombosit
   Hiperkalemia (penurunan keluaran urin.
   Aritmia
   Gagal tumbuh

    (Betz & Sowden, 2002 ; 376-377, Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)


6. Penatalaksanaan Medis

   Penatalaksanaan Konservatif : Restriksi cairan dan bemberian obat-
    obatan : Furosemid (lasix) diberikan bersama restriksi cairan untuk
    meningkatkan diuresis dan mengurangi efek kelebihan beban
    kardiovaskular, Pemberian indomethacin (inhibitor prostaglandin) untuk
    mempermudah penutupan duktus, pemberian antibiotik profilaktik untuk
    mencegah endokarditis bakterial.
   Pembedahan : Pemotongan atau pengikatan duktus.
   Non pembedahan : Penutupan dengan alat penutup dilakukan pada
    waktu kateterisasi jantung.

    (Betz & Sowden, 2002 ; 377-378, Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236)


7. Pemeriksaan Diagnostik
       1. Foto Thorak : Atrium dan ventrikel kiri membesar secara
          signifikan (kardiomegali), gambaran vaskuler paru meningkat
       2. Ekhokardiografi : Rasio atrium kiri tehadap pangkal aorta lebih
          dari 1,3:1 pada bayi cukup bulan atau lebih dari 1,0 pada bayi
          praterm (disebabkan oleh peningkatan volume atrium kiri sebagai
          akibat dari pirau kiri ke kanan)
       3. Pemeriksaan dengan Doppler berwarna : digunakan untuk
          mengevaluasi aliran darah dan arahnya.
       4. Elektrokardiografi (EKG) : bervariasi sesuai tingkat keparahan,
              pada PDA kecil tidak ada abnormalitas, hipertrofi ventrikel kiri
              pada PDA yang lebih besar.
       5. Kateterisasi jantung : hanya dilakukan untuk mengevaluasi lebih
              jauh hasil ECHO atau Doppler yang meragukan atau bila ada
              kecurigaan defek tambahan lainnya.

    (Betz & Sowden, 2002 ;377)


8. Pengkajian

   Riwayat keperawatan : respon fisiologis terhadap defek (sianosis,
    aktivitas terbatas)
   Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung, nafas cepat, sesak nafas,
    retraksi, bunyi jantung tambahan (machinery mur-mur), edera tungkai,
    hepatomegali.
   Kaji adanya hipoksia kronis : Clubbing finger
   Kaji adanya hiperemia pada ujung jari
   Kaji pola makan, pola pertambahan berat badan
   Pengkajian psikososial meliputi : usia anak, tugas perkembangan anak,
    koping yang digunakan, kebiasaan anak, respon keluarga terhadap
    penyakit anak, koping keluarga dan penyesuaian keluarga terhadap
    stress.


9. Diagnosa Keperawatan
       1. Penurunan Curah jantung b.d malformasi jantung.
       2. Gangguan pertukaran gas b.d kongesti pulmonal.
       3. Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan antara pemakaian
              oksigen oleh tubuh dan suplai oksigen ke sel.
       4. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan b.d tidak adekuatnya
              suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
       5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d kelelahan
          pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.
       6. Resiko infeksi b.d menurunnya status kesehatan.
       7. Perubahan peran orang tua b.d hospitalisasi anak, kekhawatiran
          terhadap penyakit anak.


10. Intervensi
       1. Mempertahankan curah jantung yang adekuat :

                 Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung, nadi
                  perifer, warna dan kehangatan kulit
                 Tegakkan derajat sianosis (sirkumoral, membran mukosa,
                  clubbing)
                 Monitor tanda-tanda CHF (gelisah, takikardi, tachypnea,
                  sesak, mudah lelah, periorbital edema, oliguria, dan
                  hepatomegali)
                 Kolaborasi pemberian digoxin sesuai order, dengan
                  menggunakan teknik pencegahan bahaya toksisitas.
                 Berikan pengobatan untuk menurunkan afterload
                 Berikan diuretik sesuai indikasi.

       1. Mengurangi adanya peningkatan resistensi pembuluh paru:

   Monitor kualitas dan irama pernafasan
   Atur posisi anak dengan posisi fowler
   Hindari anak dari orang yang terinfeksi
   Berikan istirahat yang cukup
   Berikan nutrisi yang optimal
   Berikan oksigen jika ada indikasi




       1. Mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat :
   Ijinkan anak untuk sering beristirahat, dan hindarkan gangguan pada saat
    tidur
   Anjurkan untuk melakukan permainan dan aktivitas ringan
   Bantu anak untuk memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi dan
    kemampuan anak.
   Hindarkan suhu lingkungan yang terlalu panas atau terlalu dingin
   Hindarkan hal-hal yang menyebabkan ketakutan / kecemasan pada anak




       1. Memberikan support untuk tumbuh kembang

   Kaji tingkat tumbuh kembang anak
   Berikan stimulasi tumbuh kembang, kativitas bermain, game, nonton TV,
    puzzle, nmenggambar, dan lain-lain sesuai kondisi dan usia anak.
   Libatkan keluarga agar tetap memberikan stimulasi selama dirawat




       1. Mempertahankan pertumbuhan berat badan dan tinggi badan yang
            sesuai

   Sediakan diit yang seimbang, tinggi zat-zat nutrisi untuk mencapai
    pertumbuhan yang adekuat
   Monitor tinggi badan dan berat badan, dokumentasikan dalam bentuk
    grafik untuk mengetahui kecenderungan pertumbuhan anak
   Timbang berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan
    waktu yang sama
   Catat intake dan output secara benar
   Berikan makanan dengan porsi kecil tapi sering untuk menghindari
    kelelahan pada saat makan
   Anak-anak yang mendapatkan diuretik biasanya sangat haus, oleh karena
    itu cairan tidak dibatasi.
       1. Anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi

   Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi
   Berikan istirahat yang adekuat
   Berikan kebutuhan nutrisi yang optimal




       1. Memberikan support pada orang tua

   Ajarkan keluarga / orang tua untuk mengekspresikan perasaannya karena
    memiliki anak dengan kelainan jantung, mendiskudikan rencana
    pengobatan, dan memiliki peranan penting dalam keberhasilan
    pengobatan
   Ekplorasi perasaan orang tua mengenai perasaan ketakutan, rasa
    bersalah, berduka, dan perasaan tidak mampu
   Mengurangi ketakutan dan kecemasan orang tua dengan memberikan
    informasi yang jelas
   Libatkan orang tua dalam perawatan anak selama di rumah sakit
   Memberikan dorongan kepada keluarga untuk melibatkan anggota
    keluarga lain dalama perawatan anak.




11. Hasil Yang Diharapkan
       1. Anak akan menunjukkan tanda-tanda membaiknya curah jantung
       2. Anak akan menunjukkan tanda-tanda tidak adanya peningkatan
          resistensi pembuluh paru
       3. Anaka akan mempertahankan tingkat aktivitas yang adekuat
       4. Anak akan tumbuh sesuai dengan kurva pertumbuhan berat dan
          tinggi badan
       5. Anaka akan mempertahankan intake makanan dan minuman untuk
           mempertahankan berat badan dan menopang pertumbuhan
       6. Anak tidak akan menunjukkan tanda-tanda infeksi
       7. Orang tua akan mengekspresikan perasaannya akibat memiliki
           anak dengan kelainan jantung, mendiskusikan rencana
           pengobatan, dan memiliki keyakinan bahwa orang tua memiliki
           peranan penting dalam keberhasilan pengobatan.




12. Perencanaan Pemulangan

   Kontrol sesuai waktu yang ditentukan
   Jelaskan kebutuhan aktiviotas yang dapat dilakukan anak sesuai dengan
    usia dan kondisi penyakit
   Mengajarkan ketrampilan yang diperlukan di rumah, yaitu :
       o   Teknik pemberian obat
       o   Teknik pemberian makanan
       o   Tindakan untuk mengatasi jika terjadi hal-hal yang mencemaskan
           tanda-tanda komplikasi, siapa yang akan dihubungi jika
           membutuhkan pertolongan.


                 DAFTAR PUSTAKA

								
To top