Khutbah idul fitri by anamaulida

VIEWS: 457 PAGES: 8

									MENYONGSONG BABAK

FINAL AKHIR ZAMAN

Muhammad Ihsan Arlansyah Tandjung

Lapangan Kompleks Pelni, Cimanggis -Depok

01 Syawwal 1428 H/ Oktober 2007
‫اهلل أكجش اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬
‫اهلل أكجش كجٛشا ٔ انحًذ هلل كثٛشا ٔ عجحبٌ اهلل ثكشح ٔ أصٛال‬

ٌٔ‫ٜإنّ إال اهلل ٔ ال َعجذ إال إٚبِ يخهصٍٛ نّ انذٍٚ ٔنٕ كشِ انكبفش‬

ِ‫ٜإنّ إال اهلل ٔحذِ صذق ٔعذِ ٔ َصش عجذِ ٔ أعض جُذِ ٔ ْضو األحضاة ٔحذ‬
‫ٜإنّ إال اهلل اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬

‫انحًذ هلل انز٘ أنف ثٍٛ لهٕثُب فؤصجحُب ثُعًزّ إخٕاَب‬

ّ‫انحًذ هلل انز٘ أسعم سعٕنّ ثبنٓذٖ ٔ دٍٚ انحك نٛظٓشِ عهٗ انذٍٚ كه‬

ٌٕ‫ٔنٕ كشِ انًششك‬

‫أشٓذ أٌ ٜإنّ إال اهلل ٔ أشٓذ أٌ يحًذا سعٕل اهلل‬

ِ‫انهٓى صهٙ عهٗ يحًذ ٔ عهٗ آنّ ٔ أصحبثّ ٔ أَصبسِ ٔ جُٕد‬

ٍٚ‫ٔ يٍ رجعٓى ثئحغبٌ إنٗ ٕٚو انذ‬

‫:فمبل اهلل رعبنٗ فٙ كزبثّ انكشٚى‬

‫ٌ ي ل ذ نغ ذ‬          ْ ‫ٚ أٚٓ نز ٍ يُ رم هّ ٔ ز ظ‬
ٍ َ ِ ْ‫َب َ ُ َب اَ ِٚ َ آ َ ُٕا ا َ ُٕا انَ َ َنْ َُ ُش َفْظ َب َ َيَذ‬

      ٌ ‫ٔ رم ه َ َ هّ خج ٌ ثً ر ًه‬
﴾٨١﴿ َ َُٕ ْ‫َا َ ُٕا انَّ إٌِ انَ َ َ ِٛش ِ َب َع‬
‫اهلل أكجش اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata. Allah telah
melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni‟mat. Jauh lebih banyak ni‟mat yang telah kita
terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Di antaranya, marilah kita
ber-terimakasih kepada-Nya atas ni‟mat yang paling istimewa yang telah kita terima selama ini,
padahal tidak semua manusia memperolehnya. Dan terkadang kitapun bertanya-tanya mengapa
kita termasuk yang memperolehnya? Itulah ni‟mat iman dan Islam, yang dengannya hidup kita
menjadi jelas, terarah dan berma‟na.

Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta‟ala atas limpahan ni‟mat
sehat-wal‟aafiat. Ni‟mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia.
Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu ta‟ala. Dan semoga
saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit sanggup bersabar
menghadapi penderitaannya…bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu
mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan. Amien, amien ya rabbal
„aalamien.

Selanjutnya khotib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar Dia
melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan, yang biasa kita kenal dengan
istilah sholawat dan salam-sejahtera kepada pemimpin kita bersama, teladan kita bersama…
imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid
yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu „alaihi wa sallam, keluarganya, para
shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo‟a kepada Allah
swt, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah swt layak dihimpun bersama
mereka dalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal „aalaamien.
‫اهلل أكجش اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬

Kita baru saja meninggalkan suatu bulan amat mulia, bulan rahmat- keampunan yang
membuahkan taqwa dan mengembalikan fitrah. Bulan ujian kesabaran-ujian tenggang
rasa-solidaritas, bulan dosa diampuni, kesalahan dimaafkan dan kotoran dicuci. Bulan di
dalamnya terdapat suatu malam nilainya lebih baik dari seribu bulan. Bulan penuh berkah dan
janji dijauhkan dari api neraka. Bulan yang disebut oleh Ulama Yusuf al-Qardhawy hafizhohullah
sebagai madrasah mutamaiyyizah atau lembaga pendidikan istimewa bagi orang beriman.
Mudah-mudahan kita semua termasuk golongan hamba-hamba Allah yang berhasil lulus menjadi
muttaqin. Amiin…

Kaum muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah,

Bulan Ramadhan merupakan musim ketaatan atau maushimut-thoah. Setiap tahun di bulan
Ramadhan umat Islam di seantero dunia mengalami transformasi penampilan. Yang biasanya di
luar bulan Ramadhan jarang sholat ke masjid, tiba-tiba mendapati dirinya mengayunkan langkah
kaki dengan ringannya ke masjid, musholla atau surau. Itulah sebabnya kita temui masjid lebih
semarak di bulan suci tersebut.

Yang biasanya di luar bulan Ramadhan terasa berat untuk ber-infaq atau mengeluarkan sedekah,
tiba-tiba mendapati diri menjadi dermawan dengan merogoh kantong atau membuka dompet
membagi sebagian rizqi kepada fihak lain yang membutuhkan.

Muslimah yang biasanya di luar bulan Ramadhan tidak pernah peduli menutup aurat tubuhnya,
seketika dengan semangat menampilkan dirinya ber-jilbab tiap kali berjumpa dengan lelaki yang
bukan muhrimnya di bulan penuh rahmat tersebut.

Benarlah Rasulullah saw ketika bersabda

ٍ ‫إر ج َ سيض ُ فز ْ أ ُ جُ ِ ٔغه ْ أ ُ ُ س ٔصف ِ شٛ ط‬
ُ ِٛ ‫ِ َا َبء َ َ َبٌ ُ ِحَذ َثَْٕاة انْ َ َخ َ ُِمَذ َثَْٕاة ان َب ِ َ ُ ِذَد ان َ َب‬

“Bilamana tiba bulan Ramadhan pintu-pintu rahmat (surga) dibuka lebar-lebar, pintu-pintu
jahannam ditutup rapat-rapat

dan para syetan dibelenggu. ” (HR Bukhary-Muslim)

“Kami menjadi saksi, ya Allah, benarnya ucapan Nabi-Mu saw di akhir zaman ini. Kami
membukitikan bahwa setiap Ramadhan datang umat Islam mengalami peningkatan gairah
ketaatan, ketaqwaan dan perbuatan ma‟ruf. Dan sebaliknya terjadi penurunan kadar kemaksiatan,
kekufuran dan munkar. Pantaslah bilamana seorang mu‟min sejati sangat menginginkan andai
Ramadhan berlangsung sepanjang tahun. Ya Allah, saksikanlah, betapa sedihnya kami berpisah
dengan bulan agung lagi penuh berkah ini. Ya Allah, kami sangat ingin menyaksikan
masjid-masjid kami menjadi penuh dan semarak sepanjang tahun, diri-diri kami menjadi
dermawan dan cinta memberi kepada kaum dhuafa, fuqara wal-masaakin sepanjang tahun serta
saudara-saudara muslimat kami berjilbab dengan anggunnya sepanjang tahun. ”
‫اهلل أكجش اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Sepanjang perjalanan zaman Allah SWT senantiasa memperlihatkan sifat-sifat utamanya, yakni
Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Tidak pernah sesaatpun Allah
Ta‟ala biarkan umat manusia hidup di dunia dalam kegelapan dan ketidak-jelasan. Allah Ta‟ala
selalu memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada hamba-hambaNya. Allah Ta‟ala
mewujudkan hal ini melalui pengiriman para utusan-Nya di setiap kelompok umat manusia di
sepanjang zaman.

‫ٔنم ْ ع ُ ف ك ِ أيخ سع ن ِ ا جذ هّ ٔ زُج ّط غ د‬
َ ُٕ ‫ََ َذ ثَ َثْ َب ِٙ ُم ُ َ ٍ َ ًُٕب أٌَ ُعْ ُ ُٔا انَ َ َاجْ َ ِ ُٕا ان َب‬

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat

(untuk menyerukan), "Sembahlah Allah (semata),

dan jauhilah Thaghut (Syaithan) itu”(QS An-Nahl ayat 36)

Tidak ada seorang Nabi ataupun Rasul yang diutus Allah Ta‟ala kepada ummat manusia
bersuku-bangsa apapun sepanjang zaman kapanpun di negeri manapun, kecuali beliau pasti
menyampaikan seruan abadi yang seragam tersebut: “Sembahlah Allah (semata) dan jauhilah
Thaghut (Syaithan) itu. ” Demikianlah seruan yang disampaikan oleh Nabi Adam as kepada
ummatnya, Nabi Nuh as kepada umatnya, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as serta Nabi Isa as kepada
masing-masing ummat mereka. Bahkan segenap Nabiyullah -yang 25 namanya diperkenalkan
Allah Ta‟ala kepada kita di dalam Al-Qur‟an maupun yang lainnya yang kita tidak tahu nama-nama
mereka tetapi dikatakan oleh para ulama jumlah mereka mungkin mencapai 124. 000 itu-
semuanya juga telah menyampaikan seruan abadi tersebut.

Hingga tibalah giliran utusan Allah Ta‟ala yang terakhir yakni Nabiyullah Muhammad saw. Beliau
merupakan penutup dari rangkaian para Nabi dan Rasul „alaihimus-salaam.

 ‫ي ك ٌ يحً ٌ أث أحذ ْ سج ك ٔنك سع َ ه‬
َّ‫َب َب َ ُ َ َذ َ َب َ َ ٍ يٍِ ِ َبنِ ُىْ ََ ٍِْ َ ُٕل ان‬

 ً ‫ٔ خ َ ُ ج ٛ َ ك َ ه ُ ثك ِ ش ٍ ع ه‬
‫ِ َ َبرَى ان َ ِ ٍِٛ َٔ َبٌ انَّ ِ ُم َْٙء َ ِٛ ًب‬

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah ayah dari seorang lelaki di antara kalian, tetapi ia adalah
Rasul Allah dan Penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ” (QS
Al-Ahzab ayat 40)

Berarti kesimpulannya ialah:

   1. Karena Nabi Muhammad saw merupakan Penutup para Nabi, berarti tidak bakal ada lagi Nabi
setelahnya yang diutus Allah Ta‟ala untuk membawa ajaran baru bagi ummat manusia
   2. Barangsiapa yang lahir dan hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad saw (Penutup para
Nabi) pantas dijuluki sebagai Ummat Muhammad saw, baik ia muslim maupun kafir
   3. Ummat Muhammad saw merupakan Penutup Para Ummat atau Ummat Akhir Zaman yang
dipimpin oleh Nabi Akhir Zaman. So, we are the last of mankind living in the end of time. Kita
adalah sisa-sisa terakhir ummat manusia menjalani hidup di ujung parjalanan zaman.
   4. Kalaupun aqidah iman-Islam kita mengajarkan bahwa kelak di akhir zaman akan diturunkan
seorang Nabiyullah yang selama ini dipelihara Allah Ta‟ala di langit selama ribuan tahun, yakni
Nabi Isa Al-Masih putra Maryam as, maka itu bukan berarti ia akan datang membawa ajaran baru.
Bahkan kehadirannya kelak adalah sebagai pengikut & pengokoh ajaran Nabi Muhammad saw. Ia
akan mengajak ahli-kitab, kaum Yahudi dan Nasrani untuk memeluk ajaran Nabi Muhammad saw,
ajaran Islam. Sebab semua Nabi dan Rasul para utusan Allah pada hakikatnya selalu mengajak
manusia kepada ajaran Islam Tauhid, yaitu mengesakan Allah Ta‟ala semata.

‫اهلل أكجش اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Kesadaran bahwa kita merupakan Ummat Akhir Zaman atau The Last of Mankind Living in the End
of Time merupakan perkara penting. Sebab hal ini akan membawa kita pada keyakinan bahwa Hari
Akhir telah dekat kedatangannya. Bahkan Allah Ta‟ala berfirman sebagai berikut:
 ‫ٚ ؤن َ ُ ط ع ِ غ عخ ل ْ إ ً ع ًٓ ع َ ه‬
َّ‫َغَُْك ان َب ُ ٍَ ان َب َ ِ ُم ِ َ َب ِهْ ُ َب ُِذ ان‬

    ً ‫ٔ ي ٚ س ك ع َ غ ع َ رك ٌ لش‬
٣٦﴿ ‫ِ َ َب ُذْ ِٚ َ نَ َم ان َب َخ َ ُٕ ُ َ ِٚجب‬

"Manusia bertanya kepadamu tentang hari akhir. Katakanlah, "Sesungguhnya pengetahuan
tentang hari akhir itu hanya di sisi Allah." Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari
akhir itu sudah dekat waktunya. ”(QS Al-Ahzab 63)

Dan Rasulullah saw sendiri bersabda:

 ٓ‫ع ْ ُج ِ صه ه ُ عه ّ ٔعهى ل َ ثع ُ ف ف ِ غ عخ فغج ز‬
‫ٍَ ان َ ِٙ ََٗ انَّ ََْٛ ِ َ ََ َ َبل ُ ِثْذ ِٙ َ َظ ان َب َ ِ َ َ َمْ ُ َب‬

 ‫ْز ِ ْز ِ نؤ جع ِ غج ثخ ٔ ٕ ّط‬                     ‫كً ع‬
َٗ ْ‫َ َب َجَمَذْ َ ِِ َ ِِ ُِصْ ُ َّْٛ ان َ َب َ ِ َانْ ُع‬

“Aku diutus sebelum kedatangan Hari Akhir sebagaimana jari telunjuk ini mendahului jari
tengahku. ” (HR Muslim 4141)

Saudaraku, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya? Bila Hari Akhir sudah
dekat waktunya -bahkan semenjak diutusnya Nabi Muhammad saw 15 abad yang lalu- pantaslah
Allah Ta‟ala menyuruh kita mempersiapkan diri menghadapi hari esok yang perintahnya
diletakkan di antara dua kali penyebutan perintah bertaqwa kepadaNya:

‫ٌ ي ل ذ نغ ذ‬          ْ ‫ٚ أٚٓ نز َ يُ رم هّ ٔ ز ظ‬
ٍ َ ِ ْ‫َب َ ُ َب اَ ٍِٚ آ َ ُٕا ا َ ُٕا انَ َ َنْ َُ ُش َفْظ َب َ َيَذ‬

     ٌ ‫ٔ رم ه َ َ هّ خج ٌ ثً ر ًه‬
﴾٨١﴿ َ َُٕ ْ‫َا َ ُٕا انَّ إٌِ انَ َ َ ِٛش ِ َب َع‬

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. ” (QS AlHasyr ayat 18)

“Ya Allah, jadikanlah ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan kami benar-benar menghasilkan taqwa
yang memadai untuk membekali kami menghadapi tanda demi tanda Akhir Zaman yang terus
berdatangan. Kami sadar bahwa semakin mendekati Hari Akhir tentunya ujian dan fitnah yang
datang akan kian berat. Yaa muuqallibal-quluub tsabbit quluubanaa „ala diinika. Ya Allah Yang
membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ajaranMu. ”
‫اهلل أكجش اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Rasulullah saw menjelaskan kepada kita sejak 15 abad yang lalu bahwa Ummat Islam yang hidup
di Era Akhir Zaman ini akan mengalami perjalanan sejarah yang mengandung lima babak.

 ‫ك ُ جٕ ُ ف ك ْ ي ش َ ه ُ أ ْ رك َ ث َ ٚ فعٓ ه ُ إر ش ء أ ٚ فعٓ ث َ رك ُ خه فخ عه ي ٓ ِ جٕح ف ك ٌ ي ش َ ه ُ ْ ك َ ث َ ٚ فعٓ إر‬
‫رَ ٌُٕ ان ُ ُ َح ِٛ ُى َب َبء انَّ ٌَ َ ٌُٕ ُى َشْ َ ُ َب انَّ ِ َا َب َ ٌَْ َشْ َ َ َب ُى َ ٌُٕ َِب َ ٌ ََٗ ُِْ َبج ان ُ ُ َ ِ َزَ ُٕ ُ َب َبء انَّ أٌَ رَ ٌُٕ ُى َشْ َ ُ َب ِ َا‬
ٌ ‫ش َ ْ ٚ فعٓ ث َ رك ٌ ي ك ع ّض فٛك ُ ي ش َ ه ُ أ ْ ٚك َ ث َ ٚ فعٓ إر ش َ ه ُ ْ فعٓ ث َ ك ٌ ي ك ج شًٚ ف ك ٌ ي ش َ ه ُ أ ْ رك‬
َ ُٕ َ ٌَ َّ‫َبء أٌَ َشْ َ َ َب ُى َ ُٕ ُ ُهْ ًب َب ًب َ َ ٌُٕ َب َبء انَّ ٌَ َ ٌُٕ ُى َشْ َ ُ َب ِ َا َبء انَّ أٌَ َٚشْ َ َ َب ُى رَ ُٕ ُ ُهْ ًب َجْ ِ َب َزَ ُٕ ُ َب َبء ان‬
‫ث َ ٚ فعٓ إر ش ء ْ عٓ ث َ ك ٌ خه فخ عه ي ٓ ِ جٕ ِ ث َ عكذ‬
َ َ َ ‫ُى َشْ َ ُ َب ِ َا َب َ أٌَ َٚشْفَ َ َب ُى رَ ُٕ ُ ِ َب َ ً َ َٗ ُِْ َبج ان ُ ُ َح ُى‬

“(1) Babak Kenabian akan berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki
kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.

(2) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian berlangsung di tengah
kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki
untuk mencabutnya.

(3) Kemudian babak Raja-raja yang menggigit berlangsung di tengah kalian selama masa yang
Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.
(4) Kemudian babak Raja-raja yang memaksakan kehendak(para diktator) berlangsung di tengah
kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki
untuk mencabutnya.

(5) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian kemudian Nabi diam. ”
(HR Ahmad 17680)

Hadits ini menguraikan Ringkasan Perjalanan Sejarah Ummat Islam yang terdiri dari lima babak
sebagai berikut:

Babak I=> Kenabian

Babak II=> Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian

Babak III=> Raja-raja yang Menggigit

Babak IV=> Raja-raja yang Memaksakan kehendak (diktator)

Babak V=> Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian
‫اهلل أكجش اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

                                        ٕ‫ج‬
Babak pertama atau babak Kenabian ‫ ان ُ ُ َح‬adalah masa di mana ummat Islam langsung dipimpin
oleh Nabiyullah Muhammad saw secara langsung. Babak ini berlangsung singkat yaitu 23 tahun
(13 tahun Sebelum Hijrah hingga 10 Hijriah), tidak sampai seperempat abad lamanya. Tetapi ia
merupakan masa yang singkat namun diberkahi Allah Ta‟ala. Ketika Nabi saw baru diutus pada
usia 40 tahun jazirah Arab sedang tenggelam di dalam nilai-nilai zhulumat al-jaahiliyyah
(kegelapan nilai-nilai jahiliah). Sementara tatkala Nabi saw wafat pada usia 63 tahun telah terjadi
transformasi sosial secara total sehingga jazirah Arab menjadi bersinar di bawah naungan Nurul
Islam (Cahaya Ajaran Allah Ta‟ala Al-Islam). SubhaanAllah. Babak pertama sudah berlalu,
saudaraku.

                                                                            ‫خه ف ٌ عه ي ٓ ِ جٕح‬
Babak kedua atau babak Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian ِ َ ُ ُ ‫ ِ َب َخ ََٗ ُِْ َبج ان‬adalah
masa di mana setelah wafatnya Nabi Muhammad saw ummat dipimpin oleh para sahabat mulia
yang dijuluki Khulafaa Ar-Rasyidin (para khalifah yang jujur, adil dan istiqomah mengikuti Allah
dan RasulNya). Masa ini ditandai kepemimpinan sahabat-sahabat utama, yakni Abu Bakar
Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khattab, Ustman bin „Affan dan Ali bin Abi Tholib radhiyAllahu „anhum
ajmaa‟iin (semoga Allah meridhai keempatnya tanpa kecuali). Babak ini juga berlangsung singkat
yaitu 30 tahun (tahun 10 H hingga 40 H), seperempat abad lebih sebagaimana prediksi Nabiyullah
Muhammad saw:

‫ل ل سع ُ ه ِ صه هّ عه ّ ٔعهى‬
َ ََ َ ِ ََْٛ ُ َ‫َب َ َ ُٕل انَّ ََٗ ان‬

             َ ‫خه فخ ف أيز ثه ث َ عُ ً ث َ ي ٌ َ ر‬
2512٘‫) انْ َِب َ ُ ِٙ ُ َ ِٙ ََب ٌُٕ َ َخ ُى ُهْك ثَعْذ َنِك (انزشيز‬

“Era Al-Khilafah di dalam ummatku berlangsung tugapuluh tahun, kemudian sesudah itu
muncullah era kerajaan demi kerajaan. ”

(HR At-Tirmidzi 2152)

Babak kedua sudah berlalu, saudaraku.

                                                                                       ‫ي ك ع ّض‬
Kemudian muncullah babak ketiga atau babak kepemimpinan Raja-raja yang Menggigit ‫ . ُهْ ًب َب ًب‬Ia
adalah masa di mana ummat Islam dipimpin dengan pola kerajaan selama masa yang cukup lama
yaitu sejak tahun 40 H hingga tahun 1342 H atau sekitar 14 abad, tepatnya selama 1302 tahun.
Babak ini terutama ditandai dengan berdirinya tiga kerajaan Islam besar-besar yaitu Daulat Bani
Umayyah lalu Daulat Bani Abbasiyyah kemudian Kesultanan Utsmani Turki yang di dalam
berbagai kitab sejarah dunia (barat) lebih dikenal dengan The Ottoman Empire.

Mengapa pada masa ini para pemimpin ummat dijuluki oleh Nabiyullah Muhammad saw sebagai
“para raja yang menggigit”, padahal ummat masih menyebut mereka sebagai khalifah, institusi
negara Islam masih bernama khilafah dan Al-Qur‟an serta Sunnah Nabi saw masih dijunjung
tinggi? Karena ketika itu suksesi pergantian kepemimpinan seorang khalifah kepada khalifah
berikutnya menggunakan pola keturunan alias pola kerajaan. Sementara disebut “menggigit”
karena para raja tersebut “menggigit” Al-Qur‟an dan Sunnah, turun sedikit kualitasnya
dibandingkan babak sebelumnya di mana para Khulafaa Ar-Rasyidin “menggenggam” Al-Qur‟an
dan Sunnah secara kuat dan mantap. Oleh karenanya, babak ketiga ini jelas babak yang lebih
buruk daripada babak kedua. Namun ia masih jauh lebih baik daripada babak keempat, sebab
setidaknya ia masih mampu memelihara ummat Islam berada di dalam satu kesatuan Jama‟atul
Muslimin yang tunggal dengan wilayah geografis Daulah Islamiyyah yang tunggal serta
kepemimpinan yang memiliki otoritas tunggal. Pada masa ini tidak ditemukan kasus perbedaan
penetapan tanggal jatuhnya hari Raya Idul Fitri, karena masih ada Final Decision Maker yang
menyelesaikan berbagai perbedaan hasil ru‟yatul hilal yang muncul di tengah ummat. Laa haula
wa laa quwwata illa billah. Babak ketigapun sudah berlalu dan menjadi sejarah, saudaraku.
‫اهلل أكجش اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Setelah perjalanan sejarah Ummat Islam melalui babak pertama, kedua dan ketiga, maka
Nabiyullah Muhammad saw selanjutnya memberitakan akan datangnya babak keempat yaitu
                                                                         ‫ي ك ج شٚب‬
babak kepemimpinan Raja-raja yang memaksakan kehendak(para diktator) ً َ ِ ْ‫ . ُهْ ًب َج‬Ini adalah
babak yang diawali semenjak runtuhnya kekhalifahan kesultanan Ustmani Turki pada tahun 1924
atau 1342 H. Babak ini ditandai dengan runtuhnya kesatuan Ummat Islam dengan kesatuan
wilayah dan kepemimpinannya. Ummat Islam menjalani kehidupan laksana anak-anak ayam
kehilangan induk. Dunia Islam terurai menjadi kepingan-kepingan negeri yang memiliki arah dan
sistem beraneka jenis yang pada umumnya jauh dari arah dan sistem Islam. Mulailah dunia
memiliki para pemimpin dan penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan
kehendak Allah dan RasulNya. Nasionalisme dan sekularisme menjadi dominan pada tataran
kehidupan sosial-kemasyarakatan, sementara identitas dan ideologi Islam cenderung dilokalisasi
pada tataran kehidupan individual semata.

Pada babak keempat ummat Islam menjalani the darkest ages of the Islamic history (masa paling
kelam dalam sejarah Islam). Ini sudah merupakan skenario Ilahi dalam rangka menyadarkan kita
akan benarnya firman Allah Ta‟ala sebagai berikut:

ّ‫إ ٚ غ ك ْ ٌ ف م ي َ م َ ل ٌ ي ه‬
ُ ُْ‫ٌِ ًَْ َغْ ُى لَشْح َ َذْ َظ انْ َْٕو َشْح ِث‬

      ِ ُ َ ‫ٔر َ ٚ ُ َذ ٔنٓ ث‬
﴾٨٤١﴿ ‫َ ِهْك األ َبو ُ َا ِ ُ َب ٍَْٛ ان َبط‬

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada
perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami
pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali Imran ayat 140)

Ada harinya orang-orang beriman mengalami kejayaan dan memiliki peradaban yang kuat,
sementara ada harinya mereka merasakan kekalahan, keterpurukan dan ketidak-jelasan
peradaban. Ada pula harinya orang-orang kafir berjaya, memiliki peradaban bahkan berlaku
semena-mena dan ada harinya mereka keok, kalah serta tidak berdaya menyebarluaskan budaya
maksiat dan kekufurannya. Itulah sunnatullah yang mesti berlaku dalam kehidupan di dunia yang
fana ini.

Yang penting bagi kita adalah setelah menyadari kita berada pada posisi terpuruk sekarang ini
seyogyanya kita bersungguh-sungguh memelihara kesabaran dan konsistensi (istiqomah) dalam
menjalankan kehidupan berpandukan ajaran Islam. Kita tidak mungkin banyak berharap dalam
                     ‫ي ك ج شٚب‬
situasi di mana para ًَ ِ ْ‫ ُهْ ًب َج‬sedang merajalela menguasai dunia dewasa ini. Kondisi ini bahkan
telah dinubuwwahkan oleh Rasulullah saw melalui berbagai Tanda-tanda Akhir Zaman (‫اششاط انغبعخ‬
) yang begitu banyak bermunculan di era kita sekarang ini.

Bahkan jika kita cermati hadits mengenai perjalanan sejarah Ummat Islam riwayat Imam Ahmad di
atas sudah sepatutnya kita mengembangkan optimisme –selain sabar dan istiqomah- karena
babak keempat bukanlah babak final perjalanan nasib ummat Islam. Masih ada satu babak lagi
yang perlu dijemput oleh ummat Islam. Itulah babak kelima di mana bakal tegak kembali era
kepemimpinan orang-orang sekaliber Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, yaitu Kekhalifahan
                                          ‫خه فخ عه ي ٓ ِ جٕح‬
mengikuti pola (Manhaj) Kenabian ِ َ ُ ُ ‫ . ِ َب َ ٌ َ َٗ ُِْ َبج ان‬Suatu era yang barangkali tidak terbayangkan
bagi siapapun yang telah begitu dahsyat terperangkap dalam kesenangan menipu babak keempat
sekarang ini. Era yang sudah pasti dinantikan oleh setiap muslim-mu‟min yang merindukan
tegakknya keadilan dan kejujuran hakiki.
‫اهلل أكجش اهلل أكجش اهلل أكجش ٔ هلل انحًذ‬
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Marilah kita persiapkan diri seoptimal mungkin untuk menghadapi babak final, babak kelima
tersebut. Mari kita kenali, fahami dan persiapkan diri menghadapi Tanda-tanda Akhir Zaman yang
bakal memenuhi panggung sandiwara dunia di masa peralihan babak keempat menuju babak
kelima Ummat Akhir Zaman ini. Pastikan keberfihakan kita kepada Imam Mahdi dan Nabiyullah Isa
Al-Masih as. Pastikan penolakan kita masuk ke dalam pasukan para penguasa diktator babak
keempat apalagi ke dalam pasukan Dajjal, fitnah terbesar di Akhir Zaman kata Nabi saw.

Ibarat sebuah film, dunia saat ini telah berada pada episode menjelang The End. Bayangkan,
sudahlah kita dijuluki Ummat Akhir Zaman, lalu dari lima babak perjalanan Ummat Akhir Zaman
yang beriman ini, kita berada di babak keempat pula. Berarti, kita wajib mempersiapkan diri
menyongsong babak final Akhir Zaman. Masa transisi dari babak keempat menuju babak kelima
kata Nabi saw bakal diwarnai banyak ujian dan fitnah yang kian menghebat sehingga sebagian
ulama menyebutnya sebagai era Huru-hara Akhir Zaman.

Tidak ada sutradara manapun yang menulis skenario untuk mengecewakan para penonton.
Sutradara selalu memastikan bahwa jagoan atau the Good Guys keluar sebagai pemenang atas
para penjahat (the Bad Guys). SubhaanAllah, apalagi Allah Ta‟ala, sebaik-baiknya Penulis
Skenario. Pastilah Allah berrencana memenangkan tentaraNya atas tentara Dajjal atau
hizbusy-syaithan.

Namun, sebagaimana semua film pada umumnya, mustahil jagoan menang sebelum melalui
episode yang paling seru dan dahsyat. Artinya, mustahil babak kelima akan datang bila Ummat
Islam berharap mencapainya sekedar dengan berjalan melalui taman-taman bunga. Sudah
sewajarnya bilamana peralihan babak keempat menuju babak kelima melewati bukit-bukit berbatu
dan jurang-jurang curam diwarnai deraian airmata bahkan sangat mungkin bersimbah darah.
Sebab mustahil para penguasa diktator babak keempat akan menyerahkan begitu saja
kepemimpinan kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh kecuali melalui sebuah
perlawanan yang keras. Satu hal yang pasti, masa transisi itu mustahil sekedar melalui meja
perundingan, apalagi sekedar melalui permainan pertarungan “kotak suara”.
Wallahu „alam bish-shawwaab. -

DOA

 ‫سثُ ء رُ ْ نذ ك س ً ً ْٛ نُ ي ْ أ شَ سشذ‬
‫َ َ َب َا ِ َب يٍِ َ َُْ َ َحْ َخ َٔ َ ِئْ َ َب ٍِ َيْ ِ َب َ َ ًا‬

"Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami
petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." (QS 18:10)

    ‫سثُ ف ْ نُ ٔنئ ٕ َُ نز َ عجم َ ث ئ ً ٌ ٔن ر ع ف له ثُ غه نهز ٍ ء يُ سثُ إ ك سء ٌ سح‬
ٌ ‫َ َ َب اغْ ِش َ َب َ ِِخْ َا ِ َب اَ ٍِٚ َ َ ُٕ َب ِبنِْٚ َب ِ ََب َجْ َمْ ِٙ ُُٕ ِ َب ًِب َِ ِٚ َ َا َ ُٕا َ َ َب ِ َ َ َ ُٔف َ ِٛى‬
"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu
dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang
yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
(QS 59:10)
‫نذ َ س ً ً إ َ أ َ ْٕ ة‬                  ُ‫سثُ ن رض ْ له ثُ َ إ ْذ زُ ْ ْ ن‬
ُ ‫َ َ َب َب ُ ِغ ُ ُٕ َ َب ثَعْذ ِرْ َ َْٚ َ َب َٔ َت َ َب يٍِْ َ َُْك َحْ َخ ِ َك ََْذ انْ َ َب‬

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau
beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena
sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). " (QS 3:8)
 ‫سثُ ْ نُ ْ أ ٔ جُ ٔرسٚ رُ لش َ ٛ ٍ ٔ ع ُ ن ًزم َ إي ي‬
‫َ َ َب َْت َ َب يٍِ َصْ َا ِ َب َ ُ ِ َب ِ َب ُ َح أَعْ ٍُ َاجْ َهْ َب ِهْ ُ َ ٍِٛ ِ َب ًب‬

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai
penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. ” (QS 25:74)
ٍ ‫سثُ ف ْ نُ رَ ثُ ٔإ ش فُ ف أ شَ ٔثج ْ أ ذ يُ ٔ ص َ عه م ِ ك فش‬
َ ِٚ ِ ‫َ َ َب اغْ ِش َ َب ُ ُٕ َ َب َِعْ َا َ َب ِٙ َيْ ِ َب َ َ ِذ َلْ َا َ َب َاَْ ُشْ َب ََٗ انْ َْٕو انْ َب‬

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan
dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
” (QS 3:147)

 ُ‫سثُ ن رؤ خ َ إ ْ غ ُ أ ْ أ ّط َ سثُ ٔن ر ً عه ُ إ ش كً حً زّ عه نز ٍ ي ْ ل هُ سثُ ٔن رحً ُ ي ن ط لخ نُ ثّ ف عُ ٔ ف ْ ن‬
‫َ َ َب َب ُ َا ِزْ َب ٌِ َ ِٛ َب َٔ َخْ َؤْ َب َ َ َب َ َب َحْ ِمْ ََْٛ َب ِصْ ًا َ َب َ َهْ َ ُ َ َٗ اَ ِٚ َ ٍِ َجِْ َب َ َ َب ََب ُ َ ِهْ َب َب َب َب َ َ َ َب ِ ِ َٔاعْ ُ َ َب َاغْ ِش َ َب‬
ٍ ‫ح ُ أ ذ ي ن َ ف ص َ عه م ِ ك فش‬
َ ِٚ ِ ‫َٔاسْ ًَْ َب ََْ َ ََْٕب َب َبَْ ُشْ َب ََٗ انْ َْٕو انْ َب‬

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami,
janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan
kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami
apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah
kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. ” (QS 2:286)
‫سثُ إ َ ْ ر خ ِ ُ س م ْ أ ض زّ ٔي ن ظ نً َ ي ْ أ ص س‬
ٍ ‫َ َ َب ِ َك يٍَ ُذْ ِم ان َب َ فَ َذ َخْ َْٚ َ ُ َ َب ِه َب ِ ٍِٛ ٍِ ََْ َب‬

  ُ‫سثُ إ ُ ع ُ يُ دٚ ُٚ د ن ئ ً ٌ أ ء ي‬
‫َ َ َب ِ َ َب ًَِعْ َب ُ َب ِ ًب ُ َب ِ٘ ِهِْٚ َب ِ ٌَْ َا ِ ُٕا‬

ِ ‫ِ َ ِ ُى َآ َ َب َ َ َب َبغْفِش َ َب ُ ُٕ َ َب َٔكَ ِشْ َ َب َ ِ َب ِ َب َ َ َ َ َب َع انَْثْ َا‬
‫ثشثك ْ ف يُ سثُ ف ْ نُ رَ ثُ ف عُ عٛئ رُ ٔرٕفُ ي َ ؤ ش س‬
‫س ث ُ ٔء ر ُ ي ٔ ع ر ُ ع ه س ع ك ٔ ن ر ض َ ٚ َ م ٛ ي ِ إ ك ن ر ه ُ ً ع د‬
َ ‫َ َ َب َ َا ِ َب َب َ َذْ َ َب َ َٗ ُ ُهِ َ َ َب ُخْ ِ َب َْٕو انْ ِ َب َخ ِ َ َ َب ُخِْف انْ ِٛ َب‬

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka
sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang
penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada
iman (yaitu), "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami
ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan
wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau
hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji. ” (QS 3:192-194)

Muhammad Ihsan Tandjung. -

Cimanggis, Depok

1 Syawwal 1428/ Oktober 2007
Berita Sebelumnya

        * Fenomena Iran dan Hizbullah (Tamat)
        * Fenomena Iran dan Hizbullah (Bag.3)
        * Fenomena Iran dan Hizbullah (Bag.2)

Arsip

								
To top