Nama saya Lily by anamaulida

VIEWS: 26 PAGES: 3

									Nama saya Lily, kini menetap di Vancouver Kanada. Saya anak terakhir
lahir dan besar di Jakarta dari keluarga yang sangat sederhana atau bisa
di bilang miskin. Bapak saya seorang supir taxi gelap di daerah Tanah
Abang -Jakarta dan ibu saya seorang penjual kue keliling kampung juga
saya mempunyai 3 abang laki-laki and 3 perempuan.

Sejak kecil, saya telah giat belajar karena saya ingin mempunyai masa
depan yang lebih cerah dari orang tua saya plus saya berjanjikepada ibu
saya (ketika saya umur 12 tahun) untuk memberangkatkan ibu saya naik
haji, walaupun beliau hanya tersenyum sambil membuat kue untuk di jual
esok harinya . Saya tidak pernah melihat ada tamu datang berkunjung ke
rumah selain pembeli kue di pagi hari, itupun kalau lagi beruntung.
Saking miskinnya, saya tidak mengetahui bibi,papan atau sepupu karena
mereka enggan datang ke rumah yang masih tanah lantainya alias gubuk.

Saya selalu ada di peringkat top 5 walaupun guru saya selalu bilang di
akhir bulan, "Lily, bilang ke orang tuamu, jika tidak punya uang, jangan
sekolah". Hati ku sangat hancur waktu itu.Singkat cerita, sewaktu saya
lulus SMA, saya dapat kerja diperusahaan asing Card Center located di Jl.
Sudirman-Jakarta sebagai Secretary because of my language skills.
Saya,setiap bulan selalu memberikan seluruh gaji saya ke ibu saya karena
saya telah berjanji to make her happy in every way.

Di tahun yang sama, ayah saya meninggal dunia. Unbelievable painful but
my life must go on. This caused me even more work harder and save every
penny to bring my mom for Hajj. Saya inginmemperbaiki kehidupan keluarga
saya. Saya selalu belajar untuk memperbaiki diri dengan the opportunity
to practice my newlyfound skills, loyalty dan team player di manapun
sayaberada.

In one fine day, saya melihat lowongan di surat kabaruntuk posisi sebagai
Pramugari. I applied a job at the airlines company based in Dubai-United
Arab Emirates as Flight Attendant. Saya di terima setelah passed such
very long interviewed dan ibu saya dengan berat hati merelakan saya
pergike negeri orang yang sangat asing bagi saya.

Food, culture and social plus the weather is trulybrutal but saya ikhlas
lahir batin karena saya ingin membantu beban kakak dan ibu saya. Hari,
bulan dan setahun kemudian saya telah meraih impian saya ketika saya bisa
membawa ibu saya untuk berangkat haji.

(Pembaca, walaupun saya di negeri orang, thanks to GOD that people always
nice to me). 10 years on, I am happy to say the job has really lived up
to my expectations. Meeting different people every day is both
interesting and challenging. I learn something new from the passengers or
crew every time I fly. I have learned that if you are happy, open and
professional, people tend to act in the sameway towards you.

I feel very lucky to have such an exciting job karena saya bisa terbang
tugas ke Jakarta setiap bulan namun Allah SWT memanggil ibu saya di bulan
Ramadhan 3 tahun yang lalu. Sangat sedih seperti meja kehilangan seluruh
penopangnya. Hati saya hancur karenasaya tidak bisa melihat ibu saya
karena saya tugas di Eropa. Namunsaya tidak bersedih untuk kepanjangan
karena saya telah membahagiakan ibu saya selama beliau masih hidup. In
fact, my mom have told me that,I am so proud of you.

Tiga bulan setelah ibu saya meninggal, saya bertemu suami saya diFirst
Class flight untuk penerbangan ke Dubai-German. David namanya,asal Kanada
bekerja sebagai consultant di oil company. Dua bulan kemudian dia melamar
saya di hadapan seluruh keluarga saya walaupun mereka tidak faham bahasa
Inggris tapi mereka sangat damai danpercaya setelah melihat tatap muka
secara langsung dan hari itu juga dia menjadi mualaf. 2 Minggu berikutnya
kami menikah di Indonesiadengan sederhana. Juga kami menikah lagi di
Kanada menurut hukum dan system yang berlaku di sini.

Setelah menikah 2 tahun, kami masih menetap di Dubai-United Arab
Emirates. Tapi sejak setahun lalu, kami pindah ke Vancouver-Kanada.
Walaupun saya telah berkunjung so many times here but completely
different when the day I landed as immigrant. Walaupun Vancouver is the
best place to live in Canada tapi saya telah terbiasa dengan social dan
culture timur tengah tapi sekali lagi saya coba untuk beradaptasi
danbelajar hal yang baru.

Seminggu setelah saya berada di Vancouver, saya membeli koran local untuk
mencari lowongan. Saya melamar via email and bersyukur,saya dapat
pekerjaan di hotel bintang lima sebagai Spa Coordinator within 2 weeks.
banyak orang Indonesia yang tinggal disini bilang bahwa saya sangat Lucky
alias Hoki dalam hal pekerjaan walaupun saya belum punya reference and
experience di Kanada. Bahkan ada yang bilang Loh..kok kamu yang hanya
lulusan SMA bisa keliling dunia plus dapat kerja di sini, ya? itu
statement hanyalah untuk orang yang pathetic. Banyak sekali orang
Indonesia yang lulus Master bahkan Phd yang masih bekerja part timebahkan
lebih sedihnya ada yang lahir dan sekolah disini masih belum dapat kerja.

Kini saya tinggal di apartment bintang lima located in theheart of
downtown Vancouver. Kini kami siap untuk mempunyai momongan karena secara
lahir batin telah siap. Semoga Allahmemberikan anak-anak yang sehat and
patuh pada orang tua. Sepertiibu saya bilang Air selalu jatuh ke bawah.
Bahkan kini banyak orang yang datang ke rumah orang tua tua saya (of
course,setelah saya renovasi) bahkan saya membelikan rumah baru untuk
ibusaya. Lucunya lagi, banyak yang mengakui bahwa saya adalah cucunya
atau keponakannya walaupun saya belum pernah melihat mereka sewaktu
miskin.

Hingga kini, saya masih membantu seluruh keluarga saya di Indonesia
dengan mengirimkan bantuan financial setiap bulan, sehingga seluruh
keponakan saya dapat pendidikan yang layak dan lebih tinggi di kemudian
hari. Beruntung, suami saya tidak keberatan dalam hal membantu keluarga
saya di Jakarta bahkan suami mendukung saya dalam hal ini. Bahkan kini
semenjak menikah, suami saya memberikan seluruh gaji nya ke saya dan gaji
saya, saya tabungkan untuk masa depan.

Pembaca yang budiman, saya lihat banyak wanita Indonesia yang menikahi
bule di sini, suaminya sangat perhitungan atau yang lebih pantasnya
perhitungan dalam hal expenses. Bahkan, banyak yang bekerja di fast food
hanya untuk men-support monthly expenses dikarenakan suami bule mereka
sangat pelit.
Kini, karma telah berbicara. Saya telah petik buah manis yang saya tanam
di masa lalu dengan patuh dan turut kepada ayah dan ibu.Para pembaca yang
budiman, saya hanya mohon untuk anda sekalian untuk selalu menyayangi
orang tua anda selama masih hidup karena jikalau anda mau hidup selamat
di manapun anda berada anda akan selamat .. dunia dan akhirat juga surga
berada di bawah telapak kaki ibu.

I am very proud of what I do and glad that I made the right choice years
ago. There will be many more new and exciting challenges waiting for me.
I am looking forward to many more experiences and adventures as a House
wife, a mother, a career woman and former Secretary and Flight attendant,
where the sky really isthe only limit!

Mohon maaf jika ada kata-kata saya kurang menyenangkan pembaca.

Wassalam,

Lily L.
Sheraton Wall Center,
VancouverBC
Canada.

								
To top