Docstoc

Mengingat amin rais

Document Sample
Mengingat amin rais Powered By Docstoc
					Mengingat Amien Rais

"Ada alasan untuk cemas bahwa revolusi (baca: reformasi), seperti
Saturnus, pada gilirannya bisa menelan anaknya sendiri." Nubuat terkenal
dari seorang revolusioner Prancis, Pierre Vergniaud, itu mendekati
pembuktiannya di Indonesia.

Sembilan tahun setelah reformasi bergulir, anak-anak sejatinya telah
tersingkir. Orang-orang pengabdi yang bernyali, yang humanis, yang
cerdas, dan yang berkomitmen tampil sebagai pelopor. Tetapi reformasi itu
sendiri lepas dari mereka. Bahkan mereka menjadi korbannya ketika
kepemimpinan politik jatuh ke tangan para penumpang gratisan.

Sementara itu, kehidupan sosial pasca-Orde Baru menampilkan kekacauan
yang khas periode transisi. Seperti diisyaratkan Alexis de Tocqueville,
"Orde sosial yang dihancurkan oleh suatu revolusi (baca: reformasi)
selalu lebih baik ketimbang apa yang berlangsung pada situasi peralihan,
dan pengalaman menunjukkan bahwa momen yang paling berbahaya bagi suatu
pemerintahan yang buruk adalah pada tahap-tahap awal reformasi
digulirkan."

Pada momen-momen yang kritis seperti ini, demokrasi yang berkembang
justru melahirkan keputusasaan rakyat akibat kemarau kepahlawan di tampuk
kuasa. Pemimpin al-amien, penjaga amanah penderitaan rakyat, tak kunjung
hadir. Berlalunya rezim tiranik tak menghapus jejak-jejak kejahatannya.
"Kejatahan terbesar dari suatu tiran," ujar Abdul-Karim Soroush,
"tidaklah terletak pada seberapa banyak korban yang jatuh dan kekayaan
yang ia rampok. Melainkan pada cara-cara jahat dan kebiasaan korup yang
ia wariskan."

Tradisi korupsi bahkan lebih dipekuat pada era transisi. Studi Weyland
(1998) di sejumlah negara Amerika Latin menunjukkan bahwa korupsi
cenderung meningkat secara tajam justru ketika sejumlah negara beralih ke
sistem demokrasi. Ada beberapa alasan untuk itu.

Pertama, di bawah sistem demokrasi, terjadi penyebaran pusat-pusat
kekuasaan. Akibatnya, terdapat lebih banyak penentu keputusan ketimbang
di bawah rezim otoritarian, yang melipatgandakan sentra penyuapan.

Kedua, demokratisasi politik kerapkali merangsang kebijakan neoliberal
dalam perekonomian, ditandai oleh privatisasi perusahaan-perusahaan
negara yang membuka peluang bagi praktek-praktek penyuapan.

Ketiga, pentingnya dukungan pemilih dalam kontes demokrasi membuat ongkos
kampanye politik begitu mahal, yang mendorong transaksi-transaksi gelap
antara politisi dan pemilik modal.

Tibalah kita pada fase sejarah yang murung. Di negeri ini, korupsi dan
kebohongan bukan saja telah menjelma menjadi kategori moral tersendiri,
melainkan menjadi pilar utama negara. Yang lebih merisaukan lagi, seperti
kata Adolf Hitler dalam Mein Kampt (1925), "Sebuah massa besar dari
sebuah negara akan lebih mudah jatuh sebagai korban manipulasi citra para
pembohong besar ketimbang pembohong kecil."
Kini para pembohong ulung itu sedang beradu siasat menyembunyikan
perbuatan korupsinya. "Korupsi setiap pemerintahan," kata Montesquieu,
"selalu dimulai dengan korupsi terhadap prinsip dan aturan permainan."
Kelemahan prosedur, pengawasan, dan celah hukum dipakai untuk
memobilisasi dana gelap, lantas dengan cara serupa mereka mencoba
bersembunyi dan meloloskan diri dari jerat hukum.

Kuncup kebebasan demokrasi sedang dipertaruhkan. Sebab, di antara gugus
para pemimpin yang korup dan bohong, kebebasan tak bisa betahan lama.
Kejujuran dan tanggung jawab merupakan kunci penyelamatan. Di sinilah
signifikansi pengakuan Amien Rais tentang penerimaan dana dari DKP.

Ia hanyalah seorang dari gerombolan yang tersangkut di dalamnya. Ia pun
tak menggunakan uang itu untuk memperkaya dirinya sendiri. Tetapi toh dia
mengakui kekhilafannya dan bersedia memenuhi tuntutan hukum. Kejujuran
dan keberaniannya mengingatkan kembali perannya dalam gerakan reformasi.

Seorang cendekiawan muslim dengan integritas intelektual yang kuat
menampilkan diri sebagai anak jalang (crank) yang menyimpang dari arus
utama. Seakan memenuhi gambaran Heywood Broun bahwa setiap emansipator
mulai memasuki arena perjuangan sebagai seorang fanatik, Amien Rais
dengan asketisme keagamaannya memperjuangkan kompatibilitas prinsip-
prinsip keagamaan dengan prinsip-prinsip negara hukum.

Kali ini ia mengguncangkan publik dengan keterusterangannya untuk sesuatu
yang dicoba ditutupi dengan berbagai cara oleh pihak-pihak lain. Ia pun
tak lupa menyeru aktor-aktor terkait lainnya untuk melakukan pengakuan
yang sama demi keberkatan dan keselamatan negeri. Siapa yang memimpin
perjuangan reformasi, menghayati kandungan moral dan misi sejarah yang
diembannya, tak mungkin rela jika hasil perjuangannya hanyalah bahan
ejekan ketika moral reformasi dibunuh oleh perilaku penyerunya sendiri.
Dan untuk itu, ia siap menjadi martir.

Kisah reformasi masih belum jelas ujungnya. Hanya sejarah yang bisa
tentukan nilainya. Namun ada yang telah tuntas, tak bisa dimungkiri:
Amien Rais telah berjasa memulainya dan sebisa mungkin terus mengawalnya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Amien Rais
bukanlah seorang superman yang terbebas dari kesalahan dan kekurangan.
Tetapi jasa-jasanya kepada bangsa terlalu besar untuk dilupakan dan
ditenggelamkan oleh umpatan dan cemoohan

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:11
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:2
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl