Docstoc

MAKALAH ULUMUL QUR AN ASYARI

Document Sample
MAKALAH ULUMUL QUR AN ASYARI Powered By Docstoc
					                          AL-QUR’AN DAN ULUM AL-QUR’AN
                                   Oleh : Asy’ari

A.   Pendahuluan
     Agama Islam, agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta kaum
Muslim di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup
pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang
esensial yaitu berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik -baiknya. Allah
berfirman, ―Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk menuju jalan yang
sebaik-baiknya‖ (QS, Al Isra : 9).
     Al-Qur'an merupakan sebuah dokumen tunggal yang merepresentasikan
sumber tunggal dan hanya bergantung pada wahyu-wahyu yang diterima oleh
Muhammad. Tidak ada kompilasi yang tambal-sulam dan pelapisan dari pelbagai
bahan dari zaman-zaman yang berbeda, juga tidak ada penulisan-ulang editorial
atau revisi-revisi reduksionistik atas Al-Qur'an. Berkaitan dengan hal ini, sumber
Al-Qur'an yang ditelusuri kembali hingga pada Nabi Muhammad, secara historik
tidak bisa dibantah. Baik ungkapan-ungkapan Muhammad mengenai wahyu yang
diterima, baik dilihat atau tidak oleh para pembaca kontemporer sebagai wahyu-
wahyu ilahi melalui malaikat Jibril, ia tetap merupakan sebuah ketetapan religius.
Namun demikian, ketetapan historis yang ketat itu sudah sangat jelas. Sumber Al-
Qur'an seluruhnya mengacu pada wahyu yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad1
     Al-Quran memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariah,
dan akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip mengenai persoalan-
persoalan tersebut; dan Allah SWT menugaskan Rasul untuk memberikan
keterangan yang lengkap mengenai dasar -dasar itu: ―Kami telah turunkan
kepadamu Al -Dzikr (Al-Quran) untuk kamu terangkan kepada manusia apa-apa
yang diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir ‖ (QS An Nahl : 44).
     Disamping keterangan yang diberikan oleh Rasulullah SAW, Allah SWT
memerintahkan pula kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan
mempelajari Al-Quran: ―Tidaklah mereka memperhatikan isi Al -Quran, bahkan
ataukah hati mereka tertutup‖ (QS Muhammad :24). Mempelajari Al-Quran adalah

1
, Jerald F. Dirks, Salib di Bulan Sabit, 2003.

                                                 1
kewajiban. Ada beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi
hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan. Atau, dengan kata lain, mengenai
―memahami Al-Quran dalam Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan.‖(Persoalan
ini   sangat      penting,   terutama     pada     masa-masa         sekarang   ini,   dimana
perkembangan ilmu pengetahuan demikian pesat dan meliputi seluruh aspek
kehidupan).


B.    Pengertian Wahyu, Al-Qur’an Dan Ulum Al-Qur’an
      a. Pengertian Wahyu
                 Wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang
            khusus diberikan kepada orang tertentu tanpa diketahui orang lain.
            Etimologinya berasal dari kata kerja bahasa Arab (waḥā) yang berarti
            memberi wangsit, mengungkap, atau memberi inspirasi.
                 Dalam syariat Islam, wahyu adalah qalam atau pengetahuan dari
            Allah, yang diturunkan kepada seorang nabi atau rasul dengan perantara
            malaikat ataupun secara langsung. Prosesnya datangnya wahyu bisa
            melalui suara, berupa firman dan melalui visi/mimpi. 2Berdasarkan salah
            satu ayat dalam Al-Qur'an: ―Sesungguhnya Kami telah memberikan
            wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada
            Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan
            wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya,
            Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulayman. Dan Kami berikan Zabur kepada
            Daud”.(QS. Al-Baqarah :163)
      b. Pengertian Al-Qur‟an
                 Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur‘an berasal dari bahasa Arab
            yang berarti "bacaan" atau "sesuatu yang dibaca berulang-ulang". Kata
            Al-Qur‘an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara'a yang
            artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada
            salah satu surat Al-Qur'an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-
            Qiyamah



      2
          Yusuf Qaradhawi ―Bagaimana berinteraksi dengan Al-Quran‖

                                               2
               Sementara secara Istilah Al-Qur‘an adalah Al-Qur'an adalah firman
          Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW
          penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan
          ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita
          secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan
          ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat
          An-Nas"
               Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim,
          firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW,
          tidak dinamakan Al-Qur‘an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada
          umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi
          Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi
          Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah,
          seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur‘an.3
               Al-Qur‘an      adalah     mu‘jizat    terbesar      Nabi    Muhammad             saw.
          Kemu‘jizatannya itu diantaranya terletak pada fashahah dan balaghah-
          nya, keindahan susunan dan gaya bahasanya yang tidak ada
          tandingannya. Karena gaya bahasa yang demikian itulah Umar bin
          Khatthab masuk Islam setelah mendengar Al-Qur‘an awal surat Thaha
          yang dibaca oleh adiknya Fathimah.4
                 Al-Qur‘an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan
           dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah,
           etika, mu‘amalah dan sebagainya.




           Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan
           segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi
           orang-orang yang berserah diri.(Q.S.An-Nahl : 89)
                 Mempelajari isi Al-qur‘an akan menambah perbendaharaan baru,
           memperluas pandangan dan pengetahuan, meningkatkan perspektif
           baru dan selalu menemui hal-hal yang selalu baru. Lebih jauh lagi, kita
      3
        Al-A'zami, M.M., (2005), Sejarah Teks Al-Qur'an dari Wahyu sampai Kompilasi, (terj.),
Jakarta: Gema Insani Press
      4
       , Miftah Faridl, Pokok-pokok Ajaran Islam, Pustaka Bandung hal. 9
                                                3
       akan lebih yakin akan keunikan isinya yang menunjukan Maha Besarnya
       Allah sebagai penciptanya. Firman Allah :




       Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran)
       kepada     mereka      yang     Kami    telah    menjelaskannya   atas   dasar
       pengetahuan Kami[546]; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang
       yang beriman.(Q.S.Al-A‟raf : 52)
             Al-Qur‘an diturunkan dalam bahasa Arab. Karena itu, ada
       anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab dapat
       mengerti isi Al-qur‘an. Lebih dari itu, ada orang yang merasa telah dapat
       memahami dan menafsirkan Al-qur‘an dengan bantuan terjemahnya
       sekalipun tidak mengerti bahasa Arab. Padahal orang Arab sendiri
       banyak yang tidak mengerti kandungan Al-Qur‘an. Bahkan di antara para
       sahabat dan tabi‘in ada yang salah memahami Al-Qur‘an karena tidak
       memiliki kemampuan untuk memahaminya. Oleh karena itu, untuk dapat
       mengetahui isi kandungan Al-Qur‘an diperlukanlah sebuah ilmu yang
       mempelajari bagaimana, tata cara menafsiri Al-Qur‘an. Yaitu Ulumul
       Qur‘an atau Ulum at tafsir. Pembahasan mengenai ulumul Qur‘an ini
       insya Allah akan dibahas secara rinci pada bab-bab selanjutnya.5
c. Pengertian Ulum Al-Qur‟an
             Kata ‗Uluum jamak dari kata ‗ilmu. ‗Ilmu berarti al-fahmu walidraak
      (paham dan menguasai). Kemudian arti kata ini berubah menjadi
      masalah-masalah yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiah.
      Jadi; yang dimaksud dengan ‘Uluumul Qur’an ialah yang membahas
      masalah-masalah yang berhubungan dengan Qur‘an dari segi asbaabun
      nuzuul, an-Nasikh wal mansukh, al-muhkam wal mutasyaabih, al-Makki
      wal Madani, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan Qur‘an.
      Terkadang ilmu ini dinamakan juga Usuulut Tafsiir (dasar-dasar tafsir),
      karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus



5
    http://rud1.abatasa.com/post/kategori/796/ulumul-qurrsquo;an

                                           4
           diketahui oleh seorang mufasir sebagai sandaran dalam menafsirkan
           Qur‘an.6
                  Terdapat berbagai defenisi tentang yang dimaksud dengan Ulumul
           Qur‘an (ilmu ilmu al-qur‘an) contohnya yaitu : Imam Al-Zarqani dalam
           kitabnya manahil al-irfan fi ulum al-qur‘an merumuskan Ulumul Qur‘an
           sebagai berikut : ―Pembahasan-pembahasan masalah yang berhubungan
           dengan al-qur‘an, dari segi turunnya, urut-urutannya, pengumpulannya,
           penulisannya,     bacaannya,      mukjizatnya,     nasikh    mansukhnya,      dan
           bantahan terhadap hal-hal yang dapat menimbulkan keragu-raguan
           terhadap al-qur‘an dan sebagainya‖.
                  Imam Al-Suyuthi dalam kitab itmamu al-dirayah mengatakan,
           Ulumul Qur‘an adalah : ―ilmu yang membahas tentang keadaan al-qur‘an
           dari segi turunnya, sanadnya, adabnya, makna – maknanya, baik yang
           berhubungan dengan lafal-lafalnya maupun yang berhubungan dengan
           hukum-hukumnya, dan sebagainya‖.


C.   Ruang Lingkup Ulum Al-Qur’an
      Dari uraian diatas tersebut tergambar bahwa Ulumul Qur‘an adalah ilmu ilmu
yang berhubungan dengan berbagai aspek yang terkait dengan keperluan
membahas al-qur‘an. Subhi al-shalih lebih lanjut menjelaskan bahwa para perintis
ilmu al-qur‘an adalah sebagai berikut : Dari kalangan sahabat nabi Dari kalangan
tabi‘in di madinah. Dari kalangan tabi‘ut tabi‘in (generasi ketiga kaum muslimin)
Dan dari generasi-generasi setelah itu.
      Para ulama mufasir dari semua kalangan dan generasi-generasi yang
tercakup dalam lingkup Uluumul Qur‘an menafsirkan Qur‘an selalu berpegang
pada :
         1). Al-Qur‘anul Karim
            Sebab apa yang yang dikemukakan secara global di satu tempat/ayat
            dijelaskan secara terperinci ditempat/ayat yang lain. Terkadang pula
            sebuah ayat datang dalam bentuk mutlaq atau umum namun kemudian



     6
         Syadali, Ahmad, dan Ahmad Rofi'i, Ulumul Qur'an I, Bandung1997, Pustaka Setia

                                               5
            disusul oleh ayat lain yang membatasi atau mengkhususkannya. Inilah
            yang dinamakan ―Tafsir Qur‘an dengan Qur‘an‖.
         2). Nabi S.A.W
            Mengingat beliaulah yang bertugas untuk menjelaskan Qur‘an. Karena
            itu wajarlah kalau para sahabat bertanya kepada beliau ketika
            mendapatkan kesulitan dalam memahami sesuatu ayat. Diantara
            kandungan Qur‘an terdapat ayat ayat yang tidak dapat diketahui
            ta‘wilnya kecuali melalui penjelasan Rasulullah . misalnya rincian tentang
            perintah dan larangan-Nya serta ketentuan mengenai hukum-hukum
            yang difardhukan-Nya.
         3). Para Sahabat
            Mengingat para sahabatlah yang paling dekat dan tahu dengan apa yang
            diajarkan oleh Rasulullah SAW. Riwayat dari para sahabat yang berasal
            dari Rasulullah SAW cukup menjadi acuan dalam mengembangkan ilmu-
            ilmu Qur‘an. Dan yang cukup banyak menafsirkan Qur‘an seperti empat
            orang khalifah dan para sahabat lainnya.7


D.   Cabang-cabang Ulum Al-Qur’an
     Secara garis besar Ulumul Qur‘an terbagi dua, yaitu: Ilmu yang berhubungan
dengan riwayat semata mata, seperti ilmu qira‘at, tempat turunnya ayat-ayat al-
qur‘an, waktu turunnya, dan sebab-sebabnya. Ilmu yang berhubungan dirayah,
yakni ilmu yang diperoleh dengan jalan penelaahan secara mendalam seperti
memahami lafal yang gharib (asing pengertiannya) serta mengetahui makna ayat
yang berhubungan dengan hukum.
     Tujuan mempelajari ulumul qur‘an ini adalah untuk memperoleh keahlian
dalam mengistimbath hukum syara, baik mengenai keyakinan atau I‘tiqad,
amalan, budi pekerti, maupun lainnya.
     Cabang-cabang dari Ulumul Qur‘an adalah sebagai berikut :
     1.       Ilmu Mawathin al-nuzul yaitu : ilmu yang menerangkan tempat tempat
              turunnya ayat, masanya, awal dan akhirnya.



     7
         Khalil, Sayyid Kamal, Dirasah fi al-Qur'an, Mesir 1961, Dar al-Ma'rifah,.

                                                   6
2.   Ilmu Tawarikh al-nuzul yaitu : ilmu yang menerangkan dan menjelaskan
     masa turun ayat dan tertib turunnya, satu demi satu dari awal turun
     hingga akhirnya, dan tertib turun surat dengan sempurna.
3.   Ilmu Asbab al-nuzul yaitu : ilmu yang menerangkan sebab sebab
     turunnya ayat.
4.   Ilmu Qira‘at yaitu : ilmu yang menerangkan rupa-rupa Qira‘at ( bacaan
     Al-Qur‘an yang diterima dari Rasulullah SAW ).
5.   Ilmu tajwid yaitu : ilmu yang menerangkan cara membaca al-qur‘an,
     tempat mulai dan pemberhentiannya.
6.   Ilmu Gharib al-qur‘an yaitu : ilmu yang menerangkan makna kata-kata
     yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biasa, atau tidak
     terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini menerangkan makna-
     makna kata yang halus, tinggi, dan pelik.
7.   Ilmu I‘rabil qur‘an yaitu : ilmu yang menerangkan baris al-qur‘an dan
     kedudukan lafal dalam ta‘bir ( susunan kalimat ).
8.   Ilmu Wujuh wa al-nazhair yaitu : ilmu yang menerangkan kata-kata al-
     qur‘an yang banyak arti, menerangkan makna yang dimaksud pada
     satu-satu tempat.
9.   Ilmu Ma‘rifat al-muhkam wa al-mutasyabih yaitu : ilmu yang
     menyatakan ayat ayat yang dipandang muhkam dan ayat ayat yang
     dianggap mutasyabih.
10. Ilmu Al-Nasikh wa al-Mansukh yaitu : ilmu yang menerangkan ayat ayat
     yang dianggap mansukh oleh sebagian mufasir.
11. Ilmu Bada‘I al-qur‘an yaitu : ilmu yang membahas keindahan keindahan
     al-qur‘an. ilmu ini menerangkan kesusastraan al-qur‘an, kepelikan, dan
     ketinggian balaghahnya.
12. Ilmu I‘daz al-qur‘an yaitu : ilmu yang menerangkan kekuatan susunan
     tutur al-qur‘an, sehingga ia dipandang sebagai mukjizat.
13. Ilmu Tanasub ayat al-qur‘an yaitu : ilmu yang menerangkan
     persesuaian antara suatu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya.
14. Ilmu Aqsam al-qur‘an yaitu : ilmu yang menerangkan arti dan maksud-
     maksud sumpah tuhan atau sumpah-sumpah lainnya yang terdapat di
     al-qur‘an.
                                   7
         15. Ilmu Amtsal al-qur‘an yaitu : ilmu yang menerangkan segala
                 perumpamaan yang ada dalam al-qur‘an.
         16. Ilmu Jidal al-qur‘an yaitu : ilmu untuk mengetahui rupa rupa debat yang
                 dihadapkan al-qur‘an kepada kaum musyrikin dan lainnya.
         17. Ilmu Adab al-tilawah al-qur‘an yaitu : ilmu yang mempelajari segala
                 bentuk aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan didalam membaca
                 al-qur‘an. Segala kesusilaan, kesopanan, dan ketentuan yang harus
                 dijaga ketika membaca al-qur‘an. Dan ilmu-ilmu lain yang membahas
                 tentang Al-Qur‘an. 8


E.       Nama-Nama Al-Qur’an
         Al Qur'an, kitab suci agama Islam memiliki banyak nama. Nama-nama ini
berasal dari ayat-ayat tertentu dalam Al Qur'an itu sendiri yang memakai istilah
tertentu untuk merujuk kepada Al Qur'an itu sendiri.9
         Nama-nama tersebut adalah:
            Al-Kitab (buku)
             Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
             yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]:2)
            Al-Furqan (pembeda benar salah)
             Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur'an) kepada
             hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.
             (QS. Al Furqaan [25]:1)
            Adz-Dzikr (pemberi peringatan)
             Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan
             sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr [15]:9)
            Al-Mau'idhah (pelajaran/nasihat)
             Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
             Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam



         8
       Hasbi Ash-Shiddieqy, , Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, Jakarta 1997
Bulan Bintang.
         9
             http://id.wikipedia.org/wiki/Nama_lain_Al-Quran

                                                     8
    dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.
    Yunus [10]:57)
   Asy-Syifa' (obat/penyembuh)
    Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari
    Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam
    dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS.
    Yunus [10]:57)
   Al-Hukm (peraturan/hukum)
    Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur'an itu sebagai peraturan
    (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa
    nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali
    tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. Ar
    Ra'd [13]:37)
   Al-Hikmah (kebijaksanaan)
    Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan
    janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang
    menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela
    lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS. Al Israa' [17]:39)
   Al-Huda (petunjuk)
    Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur'an), kami
    beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak
    takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan
    dosa dan kesalahan. (QS. Al Jin [72]:13)
   At-Tanzil (yang diturunkan)
    Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan
    semesta alam, QS. Asy Syu‘araa‘ [26]:192)
   Ar-Rahmat (karunia)
    Dan sesungguhnya Al Qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat
    bagi orang-orang yang beriman. (QS. An Naml [27]:77)
   Ar-Ruh (ruh)
    Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur'an) dengan
    perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-
    Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan
                                       9
     Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami
     kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-
     benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy Syuura [42]:52)
    Al-Bayan (penerang)
     (Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta
     pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]:138)
    Al-Kalam (ucapan/firman)
     Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan
     kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah,
     kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu
     disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At Taubah [9]:6)
    Al-Busyra (kabar gembira)
     Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu
     dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman,
     dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah
     diri (kepada Allah)". (QS. An Nahl [16]:102)
    An-Nur (cahaya)
     Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari
     Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan
     kepadamu cahaya yang terang benderang. (Al-Qur'an). (QS. An Nisaa'
     [4]:174)
    Al-Basha'ir (pedoman)
     Al-Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi
     kaum yang meyakini. (QS. Al Jaatsiyah [45]:20)
    Al-Balagh (penyampaian/kabar)
     (Al-Qur'an) ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia, dan supaya
     mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui
     bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang
     berakal mengambil pelajaran. (QS. Ibrahim [14]:52)
    Al-Qaul (perkataan/ucapan)
    Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al-
    Qur'an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. (QS. Al Qashash
    [28]:51)
                                       10
F.   Cara-Cara Allah Mewahyukan Kalam-Nya kepada Para Nabi-Nya
     Para ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur‘an berdasarkan
dalil ayat Al-Qur‘an dan riwayat Hadits shahih melalui tiga tahap yaitu :
     Tahap Pertama, Al-Qur‘an berada di Lauh Mahfuzh, sebagaimana firman
Allah: “padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan yang
didustakan mereka itu ialah Al Qur'an yang mulia, yang (tersimpan) dalam Lauh
Mahfuzh.” (Q.S. Al-Buruuj: 20-22)
     Ketika Al-Qur‘an berada di Lauh Mahfuzh tidak diketahui bagaimana
keadaannya, kecuali Allah yang mengetahuinya, karena waktu itu Al-Qur‘an
berada di alam ghaib, kemudian Allah menampakkan atau menurunkannya ke
Baitul ‗Izzah di langit bumi. Secara umum, demikian itu menunjukkan adanya Lauh
Mahfuzh, yaitu yang merekam segala qadha dan takdir Allah SWT, segala
sesuatu yang sudah, sedang, atau yang akan terjadi di alam semesta ini.
Demikian ini merupakan bukti nyata akan mengagungkan kehendak dan
kebijaksanaan Allah SWT yang Maha Kuasa.
     Jika keberadaan Al-Qur‘an di Lauh Mahfuzh itu merupakan Qadha
(ketentuan) dari Allah SWT, maka ketika itu Al-Qur‘an adanya persis sama dengan
keadaannya sekarang. Namun demikian hakekatnya tidak dapat diketahui, kecuali
oleh seorang Nabi yang diperlihatkan oleh Allah kepadanya. Dan segala sesuatu
yang terjadi di bumi ini telah tertulis dalam Lauh Mahfuzh sebagaimana firman
Allah : “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada
dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
(Q.S. Al Hadiid: 22)
     Tahap Kedua, Al-Qur‘an dari Lauh Mahfuzh diturunkan ke langit bumi (Baitul
‗Izzah)
     Berdasarkan kepada beberapa ayat dalam Al-Qur‘an dan Hadits berkah yang
dinamakan malam Al-Qadar (Lailatul Qadar) dalam bulan suci Ramadhan.
Sebagaimana firman Allah :
     1. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur'an) pada malam
          kemuliaan.”(Q.S Al-Qadr: 1)


                                         11
     2.   “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang
          di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi
          manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
          (antara yang hak dan yang bathil”. (Q.S. Al Baqarah: 185)
     3. “sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi
          dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (Q.S. Ad-
          Dukhaan: 3)
     Tiga ayat tersebut di atas menegaskan bahwa Al-Qur‘an, diturunkan pada
suatu malam bulan Ramadhan yang dinamakna malam Lailatul Qadar yang penuh
berkah. Demikian juga berdasarkan beberapa riwayat sebagai berikut :
     “Riwayat dari Ibn Abbas ra. berkata : Al-Qur'an dipisahkan dari Adz Dzikir
lalu Al-Qur'an itu diletakkan di Baitul Izzah dari langit dunia, lalu Jibril mulai
menurunkannya kepada Nabi.”
     Dan hadis riwayat Ibnu Abbas :
     “Riwayat dari Ibnu Abbas berkata : Al-Qur'an diturunkan sekaligus langit
bumi (Bait Al-Izzah) berada di Mawaqi‟a Al-Nujum (tempat bintang-bintang) dan
kemudian Allah menurukan kepada Rasul-Nya dengan berangsur-angsur.”
     Dan hadits riwayat Imam Thabrani :
     “Riwayat dari Ibnu Abbas ra. berkata : Al-Qur'an diturunkan pada malam Al-
Qadar pada bulan Ramadhan di langit bumi sekaligus kemudian diturunkan
secara berangsur-angsur.”
     Ketiga riwayat tersebut dijelaskan di dalam Al-Iqam bahwa ketiganya adalah
sahih sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Suyuthy riwayat dari Ibn Abbas,
dimana dia ditanya oleh Athiyah bin Aswad dia berkata : ―Dalam hatiku terdapat
keraguan tentang firman Allah dalam surah Al - baqarah ayat 185 :
     “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran…….”
     dan firman Allah dalam surah Al – Qadr ayat 1:
     “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam
kemuliaan”
     Sedangkan Al-Qur‘an ada yang diturunkan pada bulan Syawal, Zulkaidah,
Zulhijjah, Muharram, Safar dan bulan Rabi‘ul Awwal dan Rabi‘ul Akhir. Ibnu Abbas
menjawab bahwa Al-Qur‘an itu diturunkan pada bulan Ramadhan malam Lailatul
                                        12
Qadar secara sekaligus yang kemudian diturunkan kepada Nabi secara
berangsur-angsur di sepanjang bulan dan hari.
     Yang dimaksud dengan nujum (bertahap) adalah diturunkan sedikit demi
sedikit dan terpisah-pisah, sebagiannya menjelaskan bagian yang lain sesuai
dengan fungsi dan kedudukannya.
     Al-Suyuthy mengemukakan bahwa Al-Qurthuby telah menukilkan hikayat
Ijma‘ bahwa turunnya Al-Qur‘an secara sekaligus adalah dari Lauh Al-Mahfuzh ke
Baitul ‗Izzah di langit pertama.
     Barangkali hikmah dari penurunan ini adalah untuk menyatakan keagungan
Al-Qur‘an dan kebesaran bagi orang yang diturunkannya dengan cara
memberitahukan kepada penghuni langit yang tujuh bahwa kitab yang paling
terakhir yang disampaikan kepada Rasul penutup dari umat pilihan sungguh telah
diambang pintu dan niscaya akan segera diturunkan kepadanya.
     As-Suyuthy berpendapat andaikata tidak ada hikmah Ilahiyah yang
menyatakan turunnya kepada umat secara bertahap sesuai dengan keadaan
niscaya akan sampai ke muka bumi secara sekaligus sebagaimana halnya kitab-
kitab yang diturunkan sebelumnya. Tetapi karena Allah SWT membedakan antara
Al-Qur‘an dan kitab-kitab sebelumnya, maka Al-Qur‘an diturunkan dalam dua
tahap, turun secara sekaligus kemudian diturunkan secara berangsur sebagai
penghormatan terhadap orang yang akan menerimanya.
     Tahap Ketiga : Al-Qur‘an diturunkan dari Baitul-‗Izzah kepada Nabi
Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari
dengan cara sebagai berikut :
a.   Malaikat memasukkan wahyu itu ke dalam hatinya. Dalam hal ini Nabi SAW
     tidak ada melihat sesuatu apapun, hanya beliau merasa bahwa itu (wahyu)
     sudah ada dalam kalbunya. Mengenai hal ini Nabi mengatakan: ―Ruhul
     Qudus mewahyukan ke dalam qalbuku.‖
     Firman Allah SWT :
           “Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata
     dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau
     dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya
     dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi
     lagi Maha Bijaksana.‖(Q.S. Asy Syuuraa : 51).
                                      13
b.   Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi berupa seorang laki-laki yang
     mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal
     benar akan kata-kata itu.
c.   Wahyu datang kepadanya seperti gemerincingnya lonceng. Cara inilah yang
     amat   berat   dirasakan    oleh   Nabi.   Kadang-kadang    pada   keningnya
     berpancaran keringat, meskipun turunnya wahyu itu di musim dingin yang
     sangat. Kadang-kadang unta beliau terpaksa berhenti dan duduk karena
     merasa amat berat, bila wahyu itu turun ketika beliau sedang mengendarai
     unta. Diriwayatkan oleh Zaid bin Tsabit : ―Aku adalah penulis wahyu yang
     diturunkan kepada Rasulullah. Aku lihat Rasulullah ketika turunnya wahyu itu
     seakan-akan diserang oleh demam yang keras dan keringatnya bercucuran
     seperti permata. Kemudian setelah selesai turunnya wahyu, barulah beliau
     kembali seperti biasa.‖
d.   Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki
     seperti keadaan point b, tetapi benar-benar seperti rupanya yang asli. Hal ini
     tersebut dalam Al-Qur‘an : “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat
     Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil
     Muntaha.” (Q.S. An-Najm: 13-14)


G.   Sejarah Turunnya Al-qur’an: Awal dan Akhir Turunnya
     Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114 surah dan susunannya ditentukan
oleh Allah SWT. dengan cara tawqifi, tidak menggunakan metode sebagaimana
metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas
satu masalah, selalu menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam bab-
bab dan pasal-pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran Al-Karim, yang
di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti diterangkan.
     Persoalan akidah terkadang bergandengan dengan persoalan hukum dan
kritik; sejarah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasihat, ultimatum, dorongan
atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Terkadang pula,
ada suatu persoalan atau hukum yang sedang diterangkan tiba-tiba timbul
persoalan lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungan antara satu
dengan yang lainnya. Misalnya, apa yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat
216-221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur al-hurum berurutan dengan
                                         14
hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan perkawinan dengan
orang-orang musyrik.
         Yang demikian itu dimaksudkan agar memberikan kesan bahwa ajaran-
ajaran Al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup didalamnya merupakan satu
kesatuan yang harus ditaati oleh penganut-penganutnya secara keseluruhan
tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya. Dalam menerangkan
masalah-masalah filsafat dan metafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah
filsafat dan logika. Juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.
Yang demikian ini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat dipersamakan
dengan kitab-kitab yang dikenal manusia.10
         Tujuan Al-Quran juga berbeda dengan tujuan kitab-kitab ilmiah. Untuk
memahaminya, terlebih dahulu harus diketahui periode turunnya Al-Quran.
Dengan mengetahui periode-periode tersebut, tujuan-tujuan Al-Quran akan lebih
jelas.
         Para ulama ‗Ulum Al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua
periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah. Ayat-ayat
yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat
yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah. Tetapi, di sini,
akan dibagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun pada
hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut adalah
kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat
Madaniyyah. Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok
Al-Quran.
         Periode Pertama
         Diketahui bahwa Muhammad saw., pada awal turunnya wahyu pertama
(iqra‘), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru
merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yang
diterima.      Baru   setelah    turun   wahyu     kedualah     beliau   ditugaskan   untuk
menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah:
“Wahai yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan‖ (QS 74:1-2).



10
     Shaleh K.H, Asbabun Nuzul, C.V Diponegoro, Bandung, 1992

                                              15
     Kemudian, setelah itu, kandungan wahyu Ilahi berkisar dalam tiga hal.
Pertama, pendidikan bagi Rasulullah saw., dalam membentuk kepribadiannya.
Perhatikan     firman-Nya:    Wahai       orang   yang    berselimut,    bangunlah   dan
sampaikanlah.         Dan    Tuhanmu       agungkanlah.     Bersihkanlah     pakaianmu.
Tinggalkanlah     kotoran     (syirik).   Janganlah   memberikan        sesuatu   dengan
mengharap menerima lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan
perintah-perintah Tuhanmu (QS 74:1-7).
     Dalam wahyu ketiga terdapat pula bimbingan untuknya: Wahai orang yang
berselimut, bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu
separuh malam, kuranq sedikit dari itu atau lebih, dan bacalah Al-Quran dengan
tartil (QS 73:1-4).
     Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan
kepadamu wahyu yang sangat berat (QS 73:5).
     Ada lagi ayat-ayat lain, umpamanya: ―Berilah peringatan kepada keluargamu
yang terdekat. Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat sombong kepada orang-
orang yang beriman yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu) enggan
mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian kerjakan” (QS
26:214-216).
     Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan bagi beliau demi suksesnya
dakwah.
     Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af‘al Allah,
misalnya surah Al-A‘la (surah ketujuh yang diturunkan) atau surah Al-Ikhlash,
yang menurut hadis Rasulullah ―sebanding dengan sepertiga Al-Quran‖, karena
yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-
persoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah SWT.
     Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiah, serta bantahan-
bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah ketika itu.
Ini dapat dibaca, misalnya, dalam surah Al-Takatsur, satu surah yang mengecam
mereka yang menumpuk-numpuk harta; dan surah Al-Ma‘un yang menerangkan
kewajiban terhadap fakir miskin dan anak yatim serta pandangan agama
mengenai hidup bergotong-royong.




                                             16
     Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-
macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut
nyata dalam tiga hal pokok:
1.   Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran Al-
     Quran.
2.   Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran, karena
     kebodohan mereka (QS 21:24), keteguhan mereka mempertahankan adat
     istiadat dan tradisi nenek moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya
     maksud-maksud tertentu dari satu golongan seperti yang digambarkan oleh
     Abu Sufyan: ―Kalau sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan
     nubuwwah, kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk kami.‖
3.   Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju
     daerah-daerah sekitarnya.
     Periode Kedua
     Periode kedua dari sejarah turunnya Al-Quran berlangsung selama 8-9
tahun, dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah.
Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk
menghalangi kemajuan dakwah Islamiah.
     Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para
penganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para
akhirnya mereka semua –termasuk Rasulullah saw.– berhijrah ke Madinah.
     Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran, di satu pihak, silih berganti turun
menerangkan kewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi
dakwah ketika itu, seperti: ―Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan
hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang
sebaik-baiknya” (QS 16:125).
     Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan ancaman yang pedas terus
mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, seperti: ―Bila
mereka berpaling maka katakanlah wahai Muhammad: “Aku pertakuti kamu
sekalian dengan siksaan, seperti siksaan yang menimpa kaum „Ad dan Tsamud‖
(QS 41:13).
     Selain itu, turun juga ayat-ayat yang mengandung argumentasi-argumentasi
mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan tanda-tanda
                                      17
yang dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: ―Manusia
memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa akan kejadiannya, mereka
berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan
hancur?” Katakanlah, wahai Muhammad: “Yang menghidupkannya ialah Tuhan
yang menjadikan ia pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian.
Dia yang menjadikan untukmu, wahai manusia, api dari kayu yang hijau (basah)
lalu dengannya kamu sekalian membakar.” Tidaklah yang menciptakan langit dan
bumi sanggup untuk menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha
Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu
Ia hanya memerintahkan: “Jadilah!”Maka jadilah ia” (QS 36:78-82).
      Ayat ini merupakan salah satu argumentasi terkuat dalam membuktikan
kepastian hari kiamat. Dalam hal ini, Al-Kindi berkata: ―Siapakah di antara
manusia dan filsafat yang sanggup mengumpulkan dalam satu susunan kata-kata
sebanyak huruf ayat-ayat tersebut, sebagaimana yang telah disimpulkan Tuhan
kepada Rasul-Nya saw., dimana diterangkan bahwa tulang-tulang dapat hidup
setelah menjadi lapuk dan hancur; bahwa qudrah-Nya menciptakan seperti langit
dan bumi; dan bahwa sesuatu dapat mewujud dari sesuatu yang berlawanan
dengannya.‖11
      Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran telah sanggup memblokade paham-
paham jahiliah dari segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai arti dan
kedudukan dalam rasio dan alam pikiran sehat.
      Periode Ketiga
      Selama masa periode ketiga ini, dakwah Al-Quran telah dapat mewujudkan
suatu prestasi besar karena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas
melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama Al-
Madinah Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama sepuluh tahun, di
mana timbul bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan, seperti: Prinsip-
prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai kebahagiaan?
Bagaimanakah sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab, orang-orang




      11
         Abdul Halim Mahmud, Al-Tafsir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kitab Al-Lubnaniy, Beirut,
1982, h. 73-74

                                                18
kafir dan lain-lain, yang semua itu diterangkan Al-Quran dengan cara yang
berbeda-beda?
     Dengan satu susunan kata-kata yang membangkitkan semangat seperti
berikut ini, Al-Quran menyarankan: ―Tidakkah sepatutnya kamu sekalian
memerangi golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusir Rasul,
sedangkan merekalah yang memulai peperangan. Apakah kamu takut kepada
mereka? Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian
benar-benar orang yang beriman. Perangilah! Allah akan menyiksa mereka
dengan perantaraan kamu sekalian serta menghina-rendahkan mereka; dan Allah
akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang
beriman” (QS 9:13-14).
     Adakalanya pula merupakan perintah-perintah yang tegas disertai dengan
konsiderannya, seperti: ―Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman
keras, perjudian, berhala-berhala, bertenung adalah perbuatan keji dari perbuatan
setan. Oleh karena itu hindarilah semua itu agar kamu sekalian mendapat
kemenangan.     Sesungguhnya     setan    tiada   lain   yang   diinginkan   kecuali
menanamkan permusuhan dan kebencian diantara kamu disebabkan oleh
minuman keras dan perjudian tersebut, serta memalingkan kamu dari dzikrullah
dan sembahyang, maka karenanya hentikanlah pekerjaan-pekerjaan tersebut”
(QS 5:90-91).
     Disamping itu, secara silih-berganti, terdapat juga ayat yang menerangkan
akhlak dan suluk yang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam kehidupannya
sehari-hari, seperti: ―Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki
satu rumah selain rumahmu kecuali setelah minta izin dan mengucapkan salam
kepada penghuninya. Demikian ini lebih baik bagimu. Semoga kamu sekalian
mendapat peringatan” (QS 24:27).
     Semua ayat ini memberikan bimbingan kepada kaum Muslim menuju jalan
yang diridhai Tuhan disamping mendorong mereka untuk berjihad di jalan Allah,
sambil memberikan didikan akhlak dan suluk yang sesuai dengan keadaan
mereka dalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara,
aman dan takut). Dalam perang Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderita
tujuh puluh orang korban, turunlah ayat-ayat penenang yang berbunyi: ―Janganlah
kamu sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamu adalah orang-orang yang
                                         19
tinggi (menang) selama kamu sekalian beriman. Jika kamu mendapat luka, maka
golongan mereka juga mendapat luka serupa. Demikianlah hari-hari kemenangan
Kami perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah membuktikan orang-
orang beriman dan agar Allah mengangkat dari mereka syuhada, sesungguhnya
Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya” (QS 3:139-140).
        Selain ayat-ayat yang turun mengajak berdialog dengan orang-orang
Mukmin, banyak juga ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafik, Ahli Kitab
dan orang-orang musyrik. Ayat-ayat tersebut mengajak mereka ke jalan yang
benar, sesuai dengan sikap mereka terhadap dakwah. Salah satu ayat yang
ditujukan kepada ahli Kitab ialah: ―Katakanlah (Muhammad): “Wahai ahli kitab
(golongan Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara
kita yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat sebagian dari kita tuhan yang
bukan Allah.” Maka bila mereka berpaling katakanlah: “Saksikanlah bahwa kami
adalah orang-orang Muslim‖ (QS 3:64).
        Pada tahun ke 10 Hijriyah, Rasulullah Saw melaksanakan ibadah haji yang
terakhir dengan diikuti oleh 124,000 (seratus dua puluh empat ribu) Mukmin.
Beliau menyampaikan khutbah bersejarah di padang Arafah pada hari ke-9 bulan
Dzulhijah, sambil berdiri di Jabal Rahmah, menjelang waktu shalat Dzuhur. Bilal
dan Rabiah bin Khalaf mengulangi kalimat-kalimat Rasulullah untuk para jamaah
yang berada jauh dari tempat berdiri Rasulullah (SAW).
        Rasulullah menutup khutbah beliau dengan Assalaamu‘alaikum (semoga
Allah     melimpahkan keselamatan, kedamaian, kesejahteraan atas diri kamu
sekalian). Sesudah Rasulullah menutup khutbah beliau, Allah pun menurunkan
wahyu-Nya. Wahyu itu adalah ayat ke-3 dari Surah Al-Ma'idah,




Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan
kepadamu ni‟mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
        Ibnu Umar ra. meriwayatkan bahwa, manakala Umar bin Khattab
mendengarkan ayat ini, ia langsung bercucuran air-mata. Hadirin yang lainpun
bertanya kepadanya, ―Apa yang membuatmu menangis? Umar                    menjawab,
"Setelah     puncak    dilalui,   niscaya    lembah   akan   didapati."    (Bukhari)
                                            20
Kaum Yahudi berkata kepada Umar , "Andaikan Al-Ma'idah ayat-3 telah
diturunkan kepada Yahudi, niscaya pada hari itu Yahudi pasti telah merayakan
sebuah Hari Raya."Maka, berkata Umar kepada mereka,"Aku mengetahui bahwa
ayat itu diwahyukan kepada Muhammad pada hari Arafah di Padang Arafah, yang
juga bertepatan dengan hari Jum‘at.12


H.   Hikmah Turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
     Al-Qur‘an tidak diturunkan kepada Rasulullah Shallahu ‗Alaihi wa Sallam
sekaligus satu kitab. Tetapi secara berangsur-angsur, surat-persurat, ayat-perayat
menurut tuntutan peristiwa yang melatarinya.13 Lantas apa hikmahnya? Hikmah
atau tujuannya ialah:
1.   Pengokohan hati Nabi shallallahu „alaihi wa sallam. Berdasarkan firman Allah
     ‗Azza         wa       Jalla     pada       surat      Al-Furqan,        ayat   32—33,
     “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Qur‟an itu tidak diturunkan
     kepadanya sekali turun saja?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu
     dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Tidaklah
     orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil,
     melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling
     baik penjelasannya.”
2.   Memberi kemudahan bagi manusia untuk menghapal, memahami serta
     mengamalkannya, karena Al-Quran dibacakan kepadanya secara bertahap.
     Berdasarkan firman Allah ‗Azza wa Jalla dalam surat Al-Isra`, ayat 106, “Dan
     Al Qur‟an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
     membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya
     bagian demi bagian.”
3.   Memberikan semangat untuk menerima dan melaksanakan apa yang telah
     diturunkan di dalam Al-Quran karena manusia rindu dan mengharapkan
     turunnya ayat, terlebih lagi ketika mereka sangat membutuhkannya. Seperti
     dalam ayat-ayat ‘ifk (berita dusta yang disebarkan sebagian orang tentang
     Aisyah radhiyallahu ‗anha) dan li’an.


     12
          Imtiaz Ahmad ―Historical Events Of Makkah‖ (London)
     13
          Nata Abuddin, Al-Qur‘an dan Hadits, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1992

                                                21
4.   Penetapan syariat secara bertahap sampai kepada tingkatan yang
     sempurna. Seperti yang terdapat dalam ayat khamr, yang mana manusia
     pada masa itu hidup dengan khamr dan terbiasa dengan hal tersebut,
     sehingga sulit jika mereka diperintahkan secara spontan meninggalkannya
     secara total.
     1.   Maka untuk pertama kali turunlah firman Allah ‗Azza wa Jalla (yaitu,
          surat Al-Baqarah ayat 219) yang menerangkan keadaan khamr. Ayat ini
          membentuk kesiapan jiwa-jiwa manusia untuk pada akhirnya mau
          menerima pengharaman khamr, di mana akal menuntut untuk tidak
          membiasakan diri dengan sesuatu yang dosanya lebih besar daripada
          manfaatnya. “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi.
          Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa
          manfa‟at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari
          manfa‟atnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka
          nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah
          menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”
     2.   Kemudian yang kedua turun firman Allah ‗Azza wa Jalla (yaitu surat An-
          Nisaa` ayat 43). dalam ayat tersebut terdapat perintah untuk
          membiasakan meninggalkan khamr pada keadaan-keadaan tertentu
          yaitu waktu shalat. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
          shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti
          apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu
          dalam keadaan junub , terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu
          mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari
          tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian
          kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah
          yang baik (suci). sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah
          Maha Pema‟af lagi Maha Pengampun.”
     3.   Kemudian tahap ketiga turun firman Allah ‗Azza wa Jalla (yaitu surat Al-
          Ma-idah ayat 90–92). Dalam ayat tersebut terdapat larangan meminum
          khamr dalam semua keadaan, hal itu sempurna setelah melalui tahap
          pembentukan kesiapan jiwa-jiwa manusia, kemudian diperintah untuk
          membiasakan diri meninggalkan khamr pada keadaan tertentu. “Hai
                                       22
            orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi,
            (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah
            termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar
            kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud
            hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu
            lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu
            dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari
            mengerjakan pekerjaan itu). Dan ta‟atlah kamu kepada Allah dan
            ta‟atlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu
            berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul
            Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”


I.   Kesimpulan
     Dari pembahasan yang telah disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa
kata Ulumul Qur‘an secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari
dua kata, yaitu ―ulum‖ dan ―Al-Qur‘an‖. Kata ulum adalah bentuk jama‘ dari kata
―ilmu‖ yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al-Qur‘an
telah memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu
yang berhubungan dengan Al-Qur‘an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al-
Qur‘an maupun dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di
dalamnya. Sedangkan secara terminologi dapat disimpulkan bahwa ulumul qur‘an
adalah ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur‘an, baik
dari aspek keberadaanya sebagai Al-Qur‘an maupun aspek pemahaman
kandunganya sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia.
     Ulumul Qur‘an merupakan suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup
pembahasan yang luas. Ulumul Qur‘an meliputi semua ilmu yang ada kaitanya
dengan Al-Qur‘an, baik berupa ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tafsir maupun ilmu-
ilmu bahasa Arab. Disamping itu, masih banyak lagi ilmu-ilmu yang tercakup di
dalamnya.
     Secara garis besar Ilmu alQur‘an terbagi dua pokok bahasan yaitu :
     1. Ilmu yang berhubungan dengan riwayat semata-mata, seperti ilmu yang
        membahas tentang macam-macam qira‘at, tempat turun ayat-ayat Al-
        Qur‘an, waktu-waktu turunnya dan sebab-sebabnya.
                                       23
    2.   Ilmu yang berhubungan dengan dirayah, yakni ilmu yang diperoleh
         dengan jalan penelaahan secara mendalam seperti memahami lafadz
         yang   gharib   (asing)   serta    mengetahui   makna   ayat-ayat   yang
         berhubungan dengan hukum.
    Pertumbuhan dan perkembangan Ulumul Qur‘an menjelma menjadi suatu
disiplin ilmu melalui proses secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan dan
kesempatan untuk membenahi Al-Qur‘an dari segi keberadaanya dan segi
pemahamanya
.




                                           24
                                DAFTAR PUSTAKA


Jerald F. Dirks ―Salib di Bulan Sabit‖, 2003
Yusuf Qaradhawi ―Bagaimana berinteraksi dengan Al-Quran‖
Al-A'zami, M.M.,Sejarah Teks Al-Qur'an dari Wahyu sampai Kompilasi, (terj.),
     Jakarta 2005: Gema Insani Press
Miftah Faridl, Pokok-pokok Ajaran Islam, , Pustaka Bandung
Syadali, Ahmad, dan Ahmad Rofi'i, Ulumul Qur'an I, Bandung, Pustaka Setia,
     1997
Khalil, Sayyid Kamal, Dirasah fi al-Qur'an, Mesir, Dar al-Ma'rifah, 1961.
Hasbi Ash-Shiddieqy, , Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Quran/Tafsir, Jakarta1997:
     Bulan Bintang
Shaleh K.H, Asbabun Nuzul, C.V Diponegoro, Bandung, 1992
Abdul Halim Mahmud, Al-Tafsir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kitab Al-Lubnaniy,
     Beirut, 1982
Nata Abuddin, Al-Qur‘an dan Hadits, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1992




                                         25
   AL-QUR’AN DAN ULUM AL-QUR’AN
   Pengertian Wahyu I Pengertian Al-Qur’an I Pengertian Ulum Al-Qur’an I Nama-nama Al-Qur’an
   Cara-cara Allah mewahyukan Kalam-Nya kepada para Nabi-Nya I Sejarah Turunnya
   Al-Qur’an : awal dan akhIr turunnya I Hikmah turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur


   OLEH : ASY’ARI - PROGRAM STUDI : EKONOMI ISLAM




Diajukan untuk Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah

                           AL-QUR’AN




                   DOSEN PEMBIMBING:

                DR. FAISAR ANANDA, MA




                PROGRAM PASCA SARJANA
                      26
 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
                            MEDAN 2011

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2858
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:26
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl