Docstoc

hadist tarbawi

Document Sample
hadist tarbawi Powered By Docstoc
					Hadits
ke 5
Ditulis Oleh Daud Rasyid
Wednesday, 28 April 2010
                                                   s ke 5

 ٍ‫عٍ أو ان ًؤي ُ ٍٛ أو ع ثذ اهلل عائ شح س ضٙ اهلل ع ُٓا ق ان د : ق ال س صٕل اهلل ص هٗ اهلل ع ه ّٛ ٔ ص هى : ( ي‬
    ‫أحذز ف ٙ أيشَ ا ْزا يا ن ٛش ي ُّ ف ٕٓ سد ) سٔاِ ان ثخاس٘ ٔي ض هى . ٔف ٙ سٔاٚ ح ي ض هى : ( يٍ عًم عً ال ن ٛش‬
                                                                                       ّٛ ‫أيشَ ا ف ٕٓ سد ). ع ه‬



Artinya :



Dari Ummul mukminin (ibunda orang-orang Mukmin), 'Aisyah –Radhiyallahu 'anha ia berkata,
Rasulullah Saw : "Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan (dien) ini yang tidak
termasuk di dalamnya, hal itu ditolak." Dilaporkan oleh Imam al-Bukhary dan Muslim.

Dalam riwayat Muslim : "Barangsiapa melakukan amalan, tanpa didasari perintah kami, maka
ditolak."



Tema Sentral :

Tema sentral dari hadits ini peringatan untuk menghindari perbuatan bid'ah, sebuah amalan atau
ajaran yang masuk dalam ruang lingkup dien, yaitu perkara yang memang telah diatur oleh
syara', tetapi tidak diwariskan oleh Rasulullah Saw, sahabatnya dan para Tabi'in. Adapun jika
perbuatan itu di luar lingkup dien, seperti urusan dunia, seperti managemen, teknologi, dan
sejenisnya yang tidak diatur secara eksplisit oleh syara', maka berinovasi di sini tidak masuk
perkara yang dilarang. Bahkan bisa jadi disuruh/diperintahkan.

Seperti kata Dr. Mushtafa al-Bugha, hadits ini menjadi barometer untuk mengukur suatu amalan
dari aspek luar/lahir (perform, prosedur, formal). Apakah praktik sebuah ritual yang dilakukan
seseorang diterima atau ditolak dari aspek zahir (formal), maka hadits ini yang menjadi
ukurannya. Sedang dari sisi motif (batin) melakukan amalan, sehingga suatu ritual diterima atau
ditolak, maka yang menjadi ukurannya adalah soal niat apakah karena Allah atau tidak, maka
yang menjadi barometernya adalah hadits ke 1 yang lalu.



Penjelasan :

Perbedaan antara kedua riwayat :

Apakah perbedaan antara dua riwayat di atas? Riwayat yang pertama menerangkan perbuatan
atau amalan yang sebelumnya tidak ada, lalu diada-adakan. Sedangkan riwayat kedua
menerangkan, bahwa amalan bid'ah itu sebelumnya sudah ada, lalu amalan itu dilanjutkan oleh
orang-orang sesudahnya, jadi orang itu bukan sebagai pemula yang mengada-adakan, tetapi
sebagai penerus atau pelanjut, maka status keduanya sama, yakni ditolak. Jadi sebuah amalan
yang tidak didasari oleh tuntunan dan petunjuk Rasulullah dalam ruang lingkup dien, baik
amalan itu baru diadakan oleh penemunya, ataupun sudah ada sebelumnya, belakangan
diteruskan oleh generasi berikutnya, sama-sama ditolak dan tidak diterima oleh Allah Swt.
Hadits ini memperingatkan kita –kaum Muslimin- agar memperhatikan ibadah dan ajaran yang
kita amalkan, atau yang kita yakini, apakah amalan/keyakinan itu mempunyai landasan (dalil)
baik secara langsung atau tidak langsung dari ayat al-Qur'an dan Hadits Nabi Saw. atau tidak.
Apabila amalan tersebut tidak memiliki landasan, pijakan atau dasar, maka perbuatan itu harus
ditinggalkan, siapapun yang menemukannya dahulu.




Definisi Bid'ah dan praktiknya:

Secara bahasa kata "bid'ah" berarti temuan baru. Makna yang dimaksud dalam hadits ini adalah
praktik dalam menjalankan dien Islam yang tidak ditemukan sumbernya dari Rasul Saw, sahabat
ataupun Tabi'in, tujuannya sebagai tandingan terhadap syari'at dan dalam rangka ibadah
(ta'abbudy).

Jadi dari definisi ini dapat kita pahami, apabila "temuan baru" itu bukan termasuk masalah dien
(perkara yang harus tunduk kepada aturan Syari'at), maka tidak ada salahnya membuat hal-hal
yang baru. Umpamanya teknologi, administrasi, bisnis dan masalah-masalah yang terkait dengan
teknik dalam menjalankan kehidupan yang bersifat eksperimental. Untuk bidang ini Islam justru
merangsang umatnya agar mengembangkan daya cipta (innovation), selama tidak bertabrakan
dengan ketentuan syari'at. Manusia diberi kebebasan untuk mengembangkan daya pikirnya di
luar masalah dien itu. Bahkan menjanjikan pahala bagi penemunya selama produk itu
mendatangkan manfaat bagi orang lain. Sesungguhnya ruang ini ruang yang amat sangat luas di
mana manusia dapat berkiprah di dalamnya.

Demikian inilah dahulu keadaan para pendahulu umat ini –generasi sahabat, tabi'in dan
sesudahnya. Untuk masalah ritual, keyakinan, dan dien, mereka hanya mengikut apa yang
dilakukan oleh Nabi Saw. Sementara dalam urusan dunia, mereka inovatif, berjuang, kerja keras
sehingga melahirkan peradaban Islam yang kental nuansa tawhidnya. Mereka berdakwah dan
memenangkan perjuangan sehingga menaklukkan Imperium Persia dan Romawi. Kekuasaan
Islam terbentang hingga ke Spanyol dan ke Nusantara sejak abad pertama Hijrah.

Tetapi kaum Muslimin di zaman sekarang justru mengambil sikap terbalik. Dalam masalah
dunia, mereka cenderung mengekor kepada produk bangsa lain, tidak menciptakan produk
sendiri. Sementara dalam masalah ibadah, ritual, pendekatan kepada Allah swt, mereka justru
berinovasi dan membuat hal-hal baru yang tidak diterima oleh syari'at.

Banyak praktik ibadah dan berbau ibadah yang mereka ada-adakan; seperti merayakan hari
kelahiran dan hari kematian. Apabila terjadi kematian, maka keluarga yang meninggal membuat
acara lebih dari apa yang disunnahkan oleh Nabi Saw tiga hari untuk berta'ziyah. Mereka
membuat acara makan-makan pada hari ke tujuh, hari ke empat puluh, hari ke seratus. Apalagi
kalau yang meninggal itu tokoh, orang 'Alim, pimpinan pesantren, keluarganya memperingati
hari kematian orang tersebut tiap tahun. Jadi sekian banyak tokoh, tiap tahun diperingati
kematiannya. Untuk memperingati kematian tokoh itu, mereka buat "pesta" dengan mengundang
masyarakatnya untuk makan-makan di kuburan sang tokoh. Hal-hal yang berkaitan dengan
kematian, orang mati, dan kuburan adalah perkara yang sarat dengan praktik amalan yang
tertolak itu, karena memang praktik itu tidak dikerjakan oleh Rasul dan sahabatnya, akan tetapi
dibuat-buat oleh orang yang datang belakangan.

Mereka ada-adakan cara-cara berzikir yang tidak diajarkan oleh Rasul Saw. Mereka menari dan
bergoyang. Mereka ciptakan lagu-lagu dan senandung berbau pujian kepada Nabi.
Mereka habiskan waktu dan energi untuk hal-hal yang tak berfaedah itu. Kapan mereka akan
menjadi maju?

Mindset inilah yang harus dirubah oleh umat Islam jika mereka ingin maju dan bersaing dengan
umat lain. Untuk masalah Ibadah dan pendekatan pada Allah, mereka harus ber-ittiba' (mengikut
apa adanya) kepada Rasulullah Saw.




Bid'ah perbuatan tercela :

Perbuatan Bid'ah sangat tercela karena pengaruhnya sangat buruk terhadap Islam dan pelakunya.
Bid'ah mengakibatkan hilangnya kemurnian dan pudarnya keaslian Islam sebagai dien yang
diturunkan oleh Allah dan diwariskan oleh NabiNya Saw. Hal itu karena bid'ah berarti
menambah atau mengurangi ajaran yang asli, sementara Islam adalah ajaran yang sempurna dari
Allah Swt yang tidak memerlukan tambahan atau modifikasi yang dibuat oleh manusia,
siapapun dia. Dengan adanya tambahan itu, seolah-olah manusia menganggap bahwa apa yang
diwariskan oleh Nabi belum sempurna yang masih memerlukan tambahan. Tentu konsep
berfikir seperti ini keliru besar. Karena Allah Swt telah menegaskan dalam firmanNya : "Pada
hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu…".

Dengan adanya bid'ah mengakibatkan Islam menjadi tidak seragam di seluruh dunia. Sehingga
ada embel-embel lain yang ditempelkan kepada Islam, seperti Islam Indonesia, Islam Timur
Tengah, Islam Turki, Islam Pakistan, Islam mana lagi. Hal ini tak diperkenankan dalam Islam.
Islam hanya satu. Kemanapun seseorang pergi dan ingin mengetahui tentang Islam, ia akan
menemukan keseragaman; rujukannya sama, informasinya sama dan ajarannya sama. Inilah
keistimewaan Islam.

Dengan keberadaan hadits ini, tidak seorangpun yang dapat merubah Islam dengan memberi
tambahan pada ajarannya. Bayangkan jika tidak ada ajaran tegas seperti isi hadits ini, akan
seperti apakah corak-corak Islam yang beraneka ragam, dan pasti akan membingungkan dalam
pengamalannya. Karena ia diserahkan pada inovasi dan inspirasi manusia, ingin menambahi atau
mengurangi yang sudah ada.

Islam harus dibiarkan apa adanya seperti diturunkan pertama kali oleh Allah Swt dan
dipraktikkan oleh Rasulullah dan sahabatnya. Islam tidak boleh dibumbui oleh budaya, adat
istiadat, kultur masyarakat, baik kultur masyarakat muslim sendiri apalagi yang bukan muslim.



Ahli Bid'ah Klasik :

Dalam literature Ilmu Hadits, kita sering jumpai sebutan "ahlul Ahwa' wal bida'" yang berarti
kelompok "pengikut hawa nafsu dan bid'ah". Mereka adalah segolongan umat Islam yang
mempunyai ajaran/pemahaman khusus (baca : aneh) yang tidak popular di kalangan umumnya
umat Islam. Mereka mengikuti hawa nafsunya dalam menafsirkan Islam dan ajarannya serta
melahirkan faham-faham baru yang asing. Misalnya Syi'ah, Khawarij, Mu'tazilah, Qadariyah
dan lainnya.

Syi'ah termasuk kelompok Ahli Bid'ah yang parah, karena menyimpang terlalu jauh dari garis
pemahaman Islam yang benar (al-Qur'an dan Sunnah). Dahulu, pada awalnya, "syi'ah"
merupakan kelompok yang bernuansa politik (hizb siyasi) yang membela blok 'Ali r.a yang
berhadapan dengan blok Mu'awiyah r.a. Sementara soal pemahaman keagamaan, mereka dulu
tidak berbeda dengan mayoritas umat Islam. Tetapi dalam perjalanannya, kelompok ini lama
kelamaan mempunyai ajaran sendiri yang menyimpang jauh dari ajaran Islam yang murni, baik
dalam soal 'aqidah, ibadah maupun sisi-sisi lainnya. Merekapun mencela, menista para sahabat
yang tidak berpihak kepada Ali, dan itu mayoritas sahabat Nabi, hingga mengkafirkan sahabat-
sahabat utama Nabi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, istrinya 'Aisyah, radhiyallahu anhum
ajma'in, Kelompok inilah yang dikenal dengan sebutan "Rafidhah", bentuk jama'nya
"Rawafidh", yaitu golongan yang menolak kekhalifahan Abu Bakr, 'Umar, dan 'Utsman r.a. Abu
Bakar dan Umar mereka tuduh sebagai perampas hak khalifah dari 'Ali.

Bid'ah syi'ah mencakup beberapa aspek, di antaranya : aspek 'aqidah, di mana mereka
mempunyai keyakinan bahwa 'Ali lah yang berhak menjadi khalifah pengganti Rasulullah
setelah beliau wafat. Dalam ajaran mereka, ada aqidah "al-washiyyah", yang artinya Nabi
pernah berpesan bahwa yang menggantikan beliau adalah 'Ali ibn Abi Thalib. Di antara mereka
ada yang berkeyakinan bahwa yang berhak menerima wahyu sebenarnya adalah 'Ali, bukan
Muhammad Saw., tapi Jibril keliru dalam menurunkan wahyu. Na'uzu billah min zalik.

Mereka mengkultuskan 'Ali dan keturunannya. Bahkan mereka lebih mengagungkan dan lebih
sering menyebut 'Ali daripada menyebut Rasulullah Saw. Mereka melaknat para Sahabat dan
mengkafirkannya. Dalam ajaran syi'ah, melaknat sahabat itu adalah .'ibadah, untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Aneh bukan? Agama yang didasari pada kebencian dan melaknat generasi
terbaik dari umat Islam.

Bid'ah mereka dalam soal Ibadah, cukup banyak. Jika kita hidup bersama mereka dan
mengamati cara mereka beribadah, kita akan mempunyai kesan, bahwa agama mereka sudah
terpisah dari Islam, saking jauhnya perbedaan-perbedaan itu, antara lain, dalam ajaran mereka,
tidak ada shalat Jama'ah, tidak ada shalat Jum'at, waktu Shalat hanya tiga kali, pagi, siang dan
malam. Puasa Ramadhan mereka mulai dari terbit fajar hingga malam. Mereka tak berbuka pada
waktu maghrib. Lain lagi praktik shalat mereka, cukup aneh dan kita tak mengerti darimana
sumbernya. Contohnya, mereka tak lupa membawa batu dan menaruhnya di tempat sujud. Kalau
tidak ada batu, kertas pun jadi. Dalam berdiri, mereka melepas tangannya, tidak bersedekap,
padahal hadits-hadits Shahih menyebutkan Rasul kalau shalat, menaruh tangan kanannya di atas
tangan kirinya. Waktu salam, mereka menepuk-nepuk kedua tangannya ke paha. Itulah bentuk
salam mereka. Bukan mengucapkan salam dengan menoleh ke sebelah kanan dan ke kiri,
sebagaimana yang dipraktikka oleh Rasul Saw di dalam kitab-kitab hadits. Berbohong atau
"tauriyah" dalam ajaran mereka merupakan "dien" (agama). Mut'ah (kawin kontrak) yang sudah
diharamkan oleh Rasulullah belakangan (setelah pernah membolehkannya dalam beberapa
keadaan), bagi mereka, boleh hingga sekarang. Mereka mengira secara keliru, bahwa yang
melarangnya adalah Umar r.a. Apa saja yang dilarang oleh 'Umar r.a adalah boleh, karena
kebencian mereka padanya.

Bila Anda amati cara mereka beribadah dan pemahaman mereka, anda akan heran dan bingung,
entah ajaran siapa yang mereka ikut, hadits mana yang mereka perpegangi. Itulah yang
menyebabkan para Ulama dari dulu memasukkan mereka dalam sebutan "Ahli Bid'ah dan ahli
Ahwa'" (pola beragama mengikuti hawa nafsu).

Jadi syi'ah yang ada sekarang ini adalah jenis Rafidhah, yang oleh para Ulama dari dulu
dihukumkan sebagai golongan yang telah keluar dari Islam.
Hadits
ke 3
Ditulis Oleh Daud Rasyid
Monday, 12 April 2010
ٗ‫اهلل عٍ أت ٙ ع ثذ ان شحًٍ ع ثذ اهلل ت ٍ عًش ت ٍ ان خطاب س ضٙ اهلل ع ًُٓا ق ال : صً عد س صٕل اهلل ص ه‬
        ‫ع ه ّٛ ٔ ص هى ٚ قٕل : ( ت ُٙ اإل ص الو ع هٗ خًش : شٓادج أٌ ال إن ّ إال اهلل ٔأٌ يحًذا س صٕل اهلل ، ٔإق او‬
                           .) ‫ان ص الج ٔإٚ راء ان زك اج ، ٔحج ان ث ٛد ، ٔ صٕو سي ضاٌ . (سٔاِ ان ثخاس٘ ٔي ض هى‬



Artinya :

Dari 'Abdullah ibn 'Umar, radhiyallahu 'anhuma, ia berkata : kudengar Rasulullah Saw bersabda
:"Islam dibangun di atas lima dasar : 1, Kesaksian bahwa tiada Ilaah (Tuhan) selain Allah, dan
Muhammad Rasul Allah, 2. melaksanakan Shalat, 3. membayar zakar, 4. haji ke Baitullah, dan
5. puasa Ramadhan. Dilaporkan oleh Imam al-Bukhory dan Muslim.



Tema Sentral Hadits ini :

Tema utama hadits ini menerangkan rukun Islam. Dikatakan rukun, karena ia adalah unsur asasi
dari Islam. Seseorang tidak dianggap Muslim pada hakikatnya apabila tidak menjalankan lima
rukun ini.


Hadits
ke 6
Ditulis Oleh Daud Rasyid
Friday, 30 April 2010
 ‫ٖ اهلل ع ه ّٛ ٔ ص هى عٍ أت ٙ ع ثذ اهلل ان ُ عًاٌ ت ٍ ت ش ٛش س ضٙ اهلل ع ًُٓا ق ال : صًً عد س صٕل اهلل صم‬
   ٗ‫ٚ قٕل : ( إٌ ان ح الل ت ٍٛ ٔإٌ ان حشاو ت ٍٛ ٔت ٛ ًُٓا ي ش ر ثٓاخ ال ٚ ع هًٍٓ ك ث ٛش يٍ ان ُاس ، ف ًٍ اذ ق‬
  ًٗ‫ان ش ثٓاخ ا ص ر ثشأ ن ذٚ ُّ ٔعش ضّ ، ٔيٍ ٔق ع ف ٙ ان ش ثٓاخ ٔق ع ف ٙ ان حشاو ك ان شاعٙ ٚ شعٗ حٕل ان ح‬
        ، ّ‫أال ٔإٌ ف ٙ ان ج ضذ ي ض غح إرا ٚ ٕ شك أٌ ٚ شذ ع ف ّٛ . أال ٔإٌ ن كم ي هك حًٗ أال ٔإٌ حًٗ اهلل يحاسي‬
       . ‫ص هحد ص هح ان ج ضذ كه ّ ، ٔإرا ف ضذخ ف ضذ ان ج ضذ كه ّ ، أال ْٔٙ ان ق هة ) سٔاِ ان ثخاس٘ ٔي ض هى‬



Artinya:



Diriwayatkan dari an-Nu'man ibn Basyir –radhiyallahu 'anhuma- ia berkata, aku pernah
mendengar Rasulullah bersabda : "Sungguh yang halal itu sudah jelas. Yang haram juga sudah
jelas. Tetapi antara keduanya ada perkara samar yang tidak diketahui banyak orang. Orang yang
menghindari perkara samar, berarti memelihara agama dan harga dirinya. Sedang orang yang
jatuh dalam perkara yang samar, berarti jatuh dalam perkara yang haram. Seperti penggembala
yang menggembala dekat kawasan terlarang, ia tidak sadari gembalanya sudah memasuki daerah
terlarang itu. Ketahuilah, setiap raja memiliki daerah terlarang. Ingatlah bahwa daerah larangan
Allah adalah apa yang diharamkanNya. Ketahuilah, di dalam tubuh manusia, ada segumpal
daging. Jika ia baik, seluruh tubuh menjadi baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuhpun ikut rusak.
Ketahuilah segumpal daging itu adalah hati. Dilaporkan oleh Imam al-Bukhary dan Muslim.
Tema Sentral Hadits ini :

Tema sentral hadits ini menerangkan tiga persoalan penting dalam kehidupan dunia, Segala
persoalan yang dihadapi manusia tidak lepas dari tiga kategori ini; pertama halal, kedua haram,
yang ketiga, wilayah remang-remang atau syubhat yang banyak menggelincirkan orang banyak,
karena terpedaya dan tidak hati-hati. Rasul memperingatkan umatnya agar hati-hati terhadap
masalah yang syubhat. Kehati-hatian ini biasa dikenal dengan sebutan "wara'". Hadits ini
mengarahkan orang mukmin untuk bersikap wara' dalam menghadapi setiap persoalan syubhat,
sebuah sikap yang tergolong langka untuk zaman ini.

Kemudian di ujung hadits, Rasul Saw menjelaskan persoalan hati, bahwa hati itu ada dua jenis.
Pertama hati yang sehat, yaitu hati yang sensitive terhadap hal-hal yang dilarang. Yang kedua,
hati yang sudah busuk atau rusak, yaitu hati yang sudah tak dapat membedakan mana yang halal
dan mana yang haram. Kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, apakah hati kita masih
tergolong sehat atau hati yang sudah rusak. Jawabannya ada pada diri kita sendiri.



Penjelasan:



1. Yang Halal sudah jelas.

2. Yang Haram sudah jelas

3. Syubhat.




Masalah syubhat memang masalah yang sangat riskan.




Memahami Ruang Lingkup Kajian Tafsir Hadis
Oleh M. Anwar Syarifuddin

Hal utama yang harus diketahui oleh pemerhati kajian Tafsir Hadis adalah upaya untuk
memahami lingkup akademik yang dicakup oleh istilah ―Tafsir Hadis‖. Dengan bekal
pemahaman yang baik tentang makna ―Tafsir‖ dan ―Hadis‖, maka seorang peneliti akan dengan
mudah mampu menentukan garis margin genre ―tafsir‖ dan ―hadis‖ dalam hubungannya dengan
cakupan kajian Islam secara umum. Dengan memahami ruang lingkup akademik seorang
peneliti juga akan mampu merumuskan tema permasalahan yang menjadi perhatian utamanya
untuk dibahas. Dalam memenuhi tujuan tersebut, pembahasan ini dimulai dengan ulasan seputar
definisi kata ―tafsir‖ dan ―hadis‖. Melalui dasar analisis harfiah dan terminologis makna ―tafsir‖
dan ―hadis‖, pembahasan akan diteruskan dengan membagi substansi materi kajian tafsir hadis
ini ke dalam beberapa kelompok besar kajian spesifik yang menjadi konsentrasinya.

Terkait dengan dua kata kunci yang membentuk nama Tafsir Hadis, maka pengertian kedua kata
itu akan diurai terlebih dahulu satu per satu secara terpisah, baru kemudian dilanjutkan dengan
analisis, atau paling tidak asumsi, yang mendasari penyebutannya sebagai dua karakter
menandai paralelisme maupun juktaposisinya yang sepadan. Kata tafsir secara umum dirujuk
sebagai upaya interpretasi, tidak melulu tentang al-Qur‘an, tetapi lebih merupakan padanan kata
―syarh‖ dalam bahasa Arab, yang berarti penjelasan. Meskipun akar kemunculan kata ini dalam
tradisi penafsiran al-Qur‘an tidak terlalu jelas, akan tetapi secara generik dapat dipahami bahwa
Tafsir al-Qur‘an adalah sebutan untuk karya yang menyajikan interpretasi ayat-ayat al-Qur‘an
dari teks bahasa Arabnya )A. Rippin, ―Tafsir‖ dalam The Encyclopaedia of Islam, vol. X, 84a).

Penelusuran terhadap makna kata ―tafsir‖ melalui analisis harfiah maupun terminologis seperti
yang diberikan oleh beberapa sarjana Islam menyajikan kompleksitas tersendiri yang semakin
melebarkan maknanya menjadi istilah bagi kajian al-Qur‘an secara umum yang tidak terbatas
pada aspek interpretasi saja. Secara bahasa, makna kata tafsir dapat ditelusuri dari susunan
morfologisnya, di mana akar kata ini bisa dirujuk baik melalui bentuk dasar f-s-r maupun bentuk
sungsang s-f-r, yang sama-sama merujuk pada makna ―penyingkapan‖ sesuatu dari
ketertutupannya (Ibn al-Manzhur, Lisan al-‘Arab, v, 3412-13; E.W. Lane, The Arabic English
Lexicon, 1, 1370). Gagasan primer yang mengusung pengertian harfiah kata ini nampaknya
mengacu kepada tradisi hermetik pada peradaban Yunani yang mencakup aktivitas yang
menandai fungsi Hermes baik dalam perannya sebagai pembawa wahyu dari Tuhan kepada
manusia, maupun juga dalam memberikan penjelasan tentang makna wahyu tadi (Abu Zayd,
Mafhum al-Nass, hal. 253). Kaitan konsep ini dalam tradisi keilmuan Islam, menurut Abu Zayd,
dapat dilihat pada sebutan malaikat pembawa wahyu sebagai safara yang memiliki karakter
mulia dan berbakti (al-kiram al-barara) (QS. 80:15-16).

Dengan semakin mapannya kajian keislaman, kata tafsir menemukan kompleksitasnya sebagai
sebuah istilah akademik yang tidak hanya mencakup makna dalam lingkup aspek penjelasan
terhadap al-Qur‘an, tetapi lebih merupakan istilah bagi disiplin keilmuan yang terkait dengan
kajian al-Qur‘an secara umum. Kesan akan kompleksitas makna tafsir secara terminologis dapat
dilihat dalam definisi yang Abu Hayyan, yang memaknai tafsir sebagai ―ilmu yang membahas
tentang tatacara melafalkan ayat-ayat al-Qur‘an, makna dan hukum-hukumnya baik yang berdiri
sendiri (ifrad) maupun yang terbentuk dalam sebuah struktur kalimat (tarkibiyyah), juga makna-
makna yang ditunjukkan oleh sebab bentukan sintaksis tadi serta segala kelengkapan yang
terkait dengan itu.‖ )Suyuti, Itqân, ii, 174) Oleh karenanya, bila kita berpijak pada definisi
makna ―tafsir‖ yang begitu kompleks, maka secara generik kita dapat mengatakan bahwa kata
―tafsir‖ sudah bisa mewakili kajian multi-disiplin terhadap al-Qur‘an seutuhnya, yang sebagai
konsekuensinya lingkup kajian ini tidak melulu dibatasi pada upaya untuk memberikan
penjelasan terhadap makna-makna yang dikandung oleh ayat-ayat al-Qur‘an, tetapi juga
termasuk tata cara melafalkannya dan aspek-aspek akademik lain yang berkenaan dengan al-
Qur‘an atau populer disebut dengan istilah ‗ulûm al-Qur‘ân )lihat Subhi al-Salih, Mabahis, 121).

Sementara itu, kata hadîst dipahami sebagai istilah yang merujuk pada segenap tradisi yang
berasal dari Nabi Muhammad SAW. Kata lain untuk istilah ini adalah sunnah, meskipun ada
beberapa perbedaan pemahaman tantang makna istilah yang terakhir dalam pandangan para
ulama muslim, seperti kata sunnah yang dipahami ahli fiqh sebagai karakter perbuatan yang
derajatnya berada diantara wajib dan mubah; sementara ahli hadis memaknainya sebagai tradisi
yang terkait dengan Nabi Muhammad, baik ucapan, perbuatan, ataupun ikrar dan sifat-sifatnya,
sementara ulama wa’d wa al-irsyad memahami sunnah sebagai lawan dari bid‘ah )lihat
Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-hadis wa al-Muhadditsun, 10). Secara literal hadis
berarti sesuatu yang baru, lawan dari kata qadîm (kekal). Kata hadis diberikan kepada setiap
percakapan manusia yang dihasilkan baik melalui proses mendengarkan maupun pewahyuan,
dalam keadaan terjaga ataupun bermimpi. Bersadarkan makna harfiah tersebut, Allah menantang
kaum Quraisy untuk mendatangkan ―hadis‖ yang sebanding dengan al-Qur‘an )QS. 52:34(.
Makna ini juga mencakup percakapan-percakapan tentang apa yang terjadi dalam mimpi (QS.
12:101), di mana Yusuf menjadi seorang ahli yang mampu menguaraikan maknanya.

Lepas dari ragam makna yang diberikan secara istilahi terhadap kata sunnah, istilah hadîts lebih
sepi dari kontradiksi. Menurut para muhadditsûn hadis didefinisikan sebagai ucapan, perbuatan,
ikrar, maupun sifat yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Bila kemudian ditilik
bahwa semua pernyataan Nabi Muhammad SAW tidak keluar dari wahyu, maka hadis juga
diyakini berasal dari wahyu Allah SWT. Secara kategoris, hadis merupakan wahyu yang
diterima oleh Nabi SAW di luar lingkup generik yang disebut dengan nama al-Qur‘an. Wahyu
yang dimanifestasikan dalam bentuk hadis diyakini maknanya berasal dari Allah, tetapi
redaksinya merupakan perkataan Nabi Muhammad sendiri. Begitupun ijtihad yang diambil oleh
Nabi SAW sebagai hasil pemahamannya atas al-Qur‘an, diyakini pula sebagai sebuah proses
yang menyertakan wahyu sebagai sumbernya (Lihat Qattan, Mabahis, hal. 27). Atas dasar
makna terakhir inilah hadis memiliki keterkaitan erat dengan tafsir sebagai penjelasan atas al-
Qur‘an. Dalam hal ini, kajian tentang hadis selain terkait dengan substansi pernyataan (matn)
baik dalam bentuk ungkapan, perbuatan, ikrar atau sifat yang disandarkan kepada Nabi SAW,
hadis juga terkait dengan aspek periwayatan (sanad), otoritas pribadi yang menyebutkan siapa-
siapa saja yang berpartisipasi menyampaikan berita tersebut sampai kepada perawi terakhir yang
menuliskannya di dalam kitab-kitab hadis. Untuk itu, kajian hadis selalu saja terkait dengan
dimensi keilmuan yang cukup beragam. Termasuk dalam ragam ilmu hadis ini adalah kajian
tafsir al-Qur‘an pada awal perkembangannya, di mana penjelasan Nabi SAW tentang ayat-ayat
al-Qur‘an yang tertuang baik dalam bentuk pernyataan lisan maupun perbuatan termasuk ke
dalam kategori hadis, sehingga penafsiran al-Qur‘an jenis ini —termasuk di dalamnya tafsir
yang dinilai sebagai hasil-hasil ijtihad Nabi SAW terhadap persoalan yang tidak ditemukan
jawabannya di dalam al-Qur‘an— banyak dituangkan dalam kitab-kitab hadis. Sebagai contoh,
lihat misalnya Bukhari dalam Sahih-nya memberi judul kitab pembahasan no.45 dengan tajuk
―kitab tafsir al-Qur‘an‖ yang memuat 394 bab. Dalam tiap babnya ia menyertakan satu atau
lebih hadis yang terkait dengan sebuah tema khusus. Muslim juga memasukkan pembahasan
tentang tafsir dalam kitab Sahih yang disusunnya pada kitab terakhir (no. 56), meski dengan
jumlah hadis yang lebih sedikit, yaitu 33 buah hadis saja. Tata urutan yang lebih sistematis
diberikan oleh Tirmidzi dalam kitab Sahih-nya. Pada urutan pembahasan (kitab) no. 44, ia
memberi judul ―Tafsir al-Qur‘an‖ yang memuat 93 bab. Bab-bab ini diurutkan berdasarkan tata
urutan surat-surat al-Qur‘an )kecuali beberapa surat pendek di juz terakhir(, dengan jumlah hadis
yang bervariasi: surat-surat panjang dibagi dalam sub-pembahasan yang cukup banyak,
sementara surat pendek menampilkan minimal satu sub-pembahasan. Selain Tafsir, Tirmidzi
dalam sahih-nya juga memuat kitab khusus tentang Qira‘at dan Keutamaan al-Qur‘an )kitab no.
42 dan 43). Sementara itu, pembahasan khusus tentang tafsir al-Qur‘an tidak ditemukan dalam
kitab-kitab sunan seperti karya Abu Dawud, al-Nasa‘i, dan Ibnu Majah, maupun kitab Musnad
Ahmad, dan Muwatta‗ Malik.

Di samping itu, masih pula didapati kenyataan bahwa dalam perkembangan penulisan kitab
tafsir al-Qur‘an, kemunculan kitab tafsir al-Qur‘an ditandai dengan munculnya corak interpretasi
dalam bentuk riwayat-riwayat hadis —dikenal dengan corak penafsiran bil ma’tsûr— yang tidak
saja disandarkan kepada Nabi SAW, tetapi juga riwayat yang berasal dari Sahabat dan Tabi‘in.
Di sini, posisi hadis tidak bisa dipisahkan sepenuhnya dari keberadaan dan perkembangan tafsir.
Oleh karena itu, nama ―Tafsir Hadis‖ sebagai sebutan untuk program kajian yang utamanya
memusatkan kajian ilmiah terhadap al-Qur‘an dan al-Sunnah yang merupakan sumber utama
ajaran Islam digolongkan sebagai kajian pokok (usûl) dalam pemikiran keislaman. Untuk alasan
inilah posisi program studi Tafsir Hadis pada fakultas Ushuluddin merupakan sebuah
keniscayaan bukan saja lantaran kajian tentang tafsir dan hadis menjadi kajian terhadap sumber-
sumber pokok ajaran Islam, tetapi kajian ini sudah semestinya pula merupakan kajian yang
mandiri secara akademik. Meskipun begitu, tidak juga dipungkiri bila kajian Tafsir Hadis juga
banyak diwarnai dengan kajian yang berdimensi fiqih, ketika makna yang didapatkan dari ayat-
ayat al-Qur‘an lebih bersinggungan dengan aspek hukum, sebagaimana kesan yang dapat
diambil melalui pengertian tafsîr yang diberikan oleh Badruddîn Zarkâsyî sebagai ―ilmu guna
memahami kitabullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bentuk penjelasan
makna-maknanya, dan istikhraj hukum-hukum serta hikmah yang dikandungnya.‖

Hal yang sama juga terjadi dalam kajian hadis, di mana penulisan kitab-kitab hadis, utamanya
kitab-kitab sunan, mendasarkan pola penulisan dan penyusunan bab-bab dan pembahasannya
berdasarkan bab-bab dalam pembahasan fiqh. Oleh karena itu, bukanlah sebuah kebetulan bila
jurusan Tafsir Hadis pada awal kemunculannya justru ditemukan sebagai salah satu jurusan pada
Fakultas Syari‘ah. Namun demikian, ketika dewasa ini penempatan jurusan Tafsir Hadis
diberikan kepada fakultas Ushuluddin penelitian dalam bidang Tafsir dan Hadis diharapkan
dapat memberikan kontribusinya secara essensial dalam mengembangkan bukan saja kajian al-
Qur‘an dan hadis secara umum, tetapi juga kajian khusus tentang tafsir dan metode penafsiran
al-Qur‘an, dan kajian interdisipliner )non Tafsir Hadis) sebagai konsekuensi keterbukaan kajian
al-Qur‘an dan hadis terhadap paradigma-paradigma yang bersumber dari ilmu-ilmu sosial dan
humaniora, bahkan filsafat, yang sudah barang tentu sangat lekat dengan disiplin ilmu
keushuluddinan.




                                  MENGENAL HAKIKAT BID'AH

Definisi bid’ah.

Pembaca yang budiman, para ulama ketika mendefinisikan sesuatu, mereka selalu
membawakan definisi dari sisi bahasa dan istilah. Karena makna syar’i bila bertentangan
dengan makna lughawi (bahasa), maka lebih didahulukan makna syar’I sebagaimana
disebutkan dalam kitab-kitab ushul fiqih.

Contohnya adalah sholat, secara bahasa artinya do’a, dan secara istilah syari’at artinya
perbuatan dan perkataan yang khusus yang dimulai dengan takbirotul ihram dan di akhiri
dengan salam.

Bila ada orang yang berpendapat bahwa orang yang berdo’a sudah mencukupinya sehingga
tidak perlu sholat lagi, dengan alasan bahwa sholat secara bahasa artinya do’a. tentu pendapat
ini sangat batil, karena yang dimaksud dengan sholat yang diperintahkan oleh Allah dan Rosul-
Nya adalah sholat dengan tata cara yang telah kita ketahui bersama.

Demikian pula bid’ah, makna bid’ah secara bahasa tidak boleh dibawa kepada makna bid’ah
secara istilah syari’at, namun ia berhubungan sebagaimana akan kita jelaskan.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata,” Bid’ah ada dua macam: bid’ah syari’at seperti sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam :




“Sesungguhnya setiap yang ada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Dan bid’ah lughowiyah (bahasa) seperti perkataan umar bin Khaththab ketika mengumpulkan
manusia untuk sholat tarawih :”Inilah sebaik-baiknya bid’ah”.

Dan yang harus difahami adalah bahwa Allah dan Rosul-Nya selalu menyampaikan syari’at ini
dengan makna syari’at, seperti bila Allah dan Rosul-Nya menyebutkan sholat, maka maknanya
adalah perbuatan dan perkataan yang dimulai dengan takbirotul ihram dan diakhiri dengan
salam. demikian pula kata bid’ah, bila diucapkan oleh pemilik syari’at maka harus dibawa
kepada makna syari’at, bukan makna bahasa.

Bid’ah secara bahasa.

Secara etimologi, bid’ah artinya setiap perkara baru yang diadakan atau diciptakan tanpa
adanya contoh terlebih dahulu. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :
                         .
“Allah pencipta langit dan bumi (tanpa contoh)”. (QS Al Baqarah : 117).

Makna secara bahasa ini mencakup perkara dunia dan akhirat, sehingga dapat kita katakan
bahwa mobil, kereta, pesawat, handphone, ilmu mushtolah hadits dan lain-lain adalah bid’ah
secara bahasa, karena tidak ada contoh sebelumnya. Namun sesuatu yang menurut bahasa
bid’ah, belum tentu secara istilah dianggap bid’ah.

Bid’ah secara istilah.

Memang tidak ada dalam Al Qur’an dan assunnah nash yang menyebutkan definisi bid’ah
secara istilah syari’at, akan tetapi para ulama memberikan definisi setelah mengumpulkan
nash-nash syari’at.

Para ulama berbeda-beda ungkapan dalam mendefinisikan bid’ah. Imam Asy Syafi’I
rahimahullah dalam riwayat Ar Rabie’ berkata :” Bid’ah adalah sesuatu yang menyelisihi al
qur’an, atau sunnah, atau atsar para shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “.

Asy Syathibi rahimahullah berkata,” Bid’ah adalah sebuah tata cara dalam agama yang dibuat-
buat yang menyerupai syari’at yang maksudnya adalah berlebih-lebihan dalam beribadah
kepada Allah Ta’ala”.

Ibnu Rajab rahimahullah berkata,” Yang dimaksud dengan bid’ah adalah setiap yang diadakan
dari apa-apa yang tidak ada asalnya dalam syariat yang menunjukkan kepadanya, adapun bila
ada asal (dalil) syari’at yang menunjukkan kepadanya maka bukanlah bid’ah secara syari’at
walaupun dianggap bid’ah secara bahasa”.

As suyuthi rahimahullah berkata,”Bid’ah adalah ungkapan tentang perbuatan yang bertabrakan
dengan syari’at dengan cara menyelisihinya atau melakukannya dengan cara menambah atau
mengurangi”.

Dari definisi para ulama di atas dapat kita simpulkan dalam beberapa poin :

1. Ruang lingkup bid’ah secara istilah hanya terbatas dalam masalah agama (ibadah), ini di
tunjukkan oleh definisi As Syathibi. Bid’ah inilah yang maksud oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bahwa setiap bid’ah adalah sesat.

Maka keluar dari batasan “agama” adalah masalah yang bersifat duniawi. Mengapa demikian ?
karena dalil-dalil syari’at menunjukkan bahwa pada asalnya segala sesuatu yang berhubungan
dengan masalah duniawi adalah halal dan suci, diantaranya adalah firman Allah Ta’ala QS Al
Baqarah ayat 29 :




“Dialah (Allah) yang menciptakan untukmu semua yang ada di bumi ini”.

Redaksi ayat ini dalam rangka imtinan (mengungkit kenikmatan) dan imtinan pastilah dengan
sesuatu yang mubah dan halal.

Dalam Hadits Muslim dari ‘Aisyah, Tsabit dan Anas, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan (bunga kurma), maka Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.” Kalau kamu tidak lakukan itu, ia tetap akan bagus”.
Maka pohon kurma itu mengeluarkan buah yang jelek. Suatu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam melewati mereka lagi dan bersabda,”Ada apa dengan pohon kurma kalian ? Mereka
berkata,” Engkau mengatakan begini dan begitu “. Beliau bersabda :

                     .
“Kamu lebih mengetahui urusan dunia kalian “.

Maka urusan menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, demikian juga
pensyari’atan ibadah, serta penjelasan jumlah, tata cara dan waktunya, dan peletakan kaidah-
kaidah umum dalam mu’amalat hanya berasal dari Allah dan Rosul-Nya, bukan urusan ulil amri
dari kalangan ulama ataupun umara’. Kita dan mereka setara dalam masalah ini, maka segala
perselisihan dalam urusan ini tidak boleh dikembalikan kepada mereka, namun harus
dikembalikan kepada Allah dan Rosul-Nya.

Adapun untuk urusan dunia mereka lebih faham dari kita, para ahli pertanian lebih mengetahui
apa yang dapat memperbaiki dan meningkatkan kwalitasnya, apabila mereka mengeluarkan
sebuah perintah yang berhubungan dengan pertanian, maka kewajiban umat adalah mentatati
mereka. Demikian juga ahli perniagaan dan ekonomi ditaati dalam urusan yang berhubungan
dengannya.

Kembali kepada ulil amri dalam kemashlahatan umum sama dengan kembali kepada para
dokter dalam mengetahui obat yang berbahaya agar tidak dikonsumsi dan obat yang
bermanfaat agar dapat digunakan.

Namun ini bukan berarti dokter yang menghalalkan kepada kita yang bermanfaat dan
mengharamkan yang berbahaya, akan tetapi ia hanya sebagai pembimbing saja. Yang
menghalalkan dan mengharamkan hanyalah Allah saja, sebagaimana firman-Nya :

                                          .
“(Allah) Yang menghalalkan untuk mereka segala yang baik dan mengharamkan atas mereka
segala yang buruk”. (QS Al A’raaf : 157).

Ini adalah madzhab jumhur ushuliyyin (ahli ushul fiqih) dan Muhaqqiqin, bahwa pada asalnya
segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan dunia ini adalah halal, maka kita boleh
memproduksi apa saja yang bermanfaat dalam kehidupan dunia ini, walaupun di zaman Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ada, seperti berbagai jenis perabotan, sarana transportasi,
pengeras suara, dan berbagai kemajuan tekhnologi lainnya. Walaupun ini semua dikatakan
bid’ah, namun hanya sebatas bid’ah secara bahasa saja dan bukan bid’ah secara istilah syari’at.

Sedangkan ibnu Abi Hurairah dari Syafi’iyyah dan mu’tazilah baghdad serta Rafidlah
berpendapat bahwa pada asalnya sesuatu yang berhubungan dengan dunia ini adalah haram,
alasan mereka yang paling kuat adalah bahwa bumi milik Allah, sedangkan pada asalnya milik
orang lain adalah terlarang kecuali dengan idzin pemiliknya.

Namun pendapat ini adalah pendapat yang lemah, karena Allah telah memberikan idzin kepada
manusia untuk mempergunakan apa yang ada di bumi ini selama tidak haram atau tidak
menimbulkan mudlarat yang besar, sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat dan hadits di atas.

Ketika ibnus Subki Asy Syafi’i menemukan sebagian syafi’iyah berpendapat bahwa pada asalnya
segala sesuatu itu haram, beliau berkata dalam (Al Ibhaj 1/138) :” Al Qadli Abu Bakar
menyebutkan dalam attalkhish bahwa mereka itu tidak mempunyai kekokohan dalam ilmu
kalam, dan barang kali mereka membaca kitab-kitab mu’tazilah dan menganggap baik kaidah
tersebut, sehingga mereka berpendapat dengan pendapat tersebut, dan lalai bahwa kaidah
tersebut adalah keluar dari pokok firqah Qodariyah”.

Kaidah dalam masalah ibadah.

Bila kita telah mengetahui bahwa masalah duniawi pada asalnya adalah halal, maka yang harus
kita ketahui juga adalah bahwa masalah ibadah pada asalnya adalah haram kecuali bila ada
dalil yang memerintahkan.

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata dalam I’lamul muwaqqi’in :” Telah diketahui bahwa tidak
ada yang haram kecuali yang diharamkan oleh Allah dan rosul-Nya, dan tidak ada dosa kecuali
yang dianggap dosa oleh Allah dan rosul-Nya. Sebagaimana tidak ada yang wajib kecuali yang
diwajibkan oleh Allah dan rosul-Nya, dan tidak ada agama kecuali yang Allah syari’atkan. Maka
pada asalnya dalam ibadah adalah terlarang sampai tegak dalil yang memerintahkannya.
Sedangkan dalam ‘aqad dan mu’amalat pada asalnya adalah sah sampai tegak dalil yang
membatalkannya.

Perbedaan antara keduanya adalah bahwa sesungguhnya Allah tidak diibadahi kecuali sesuai
dengan apa yang Dia syari’atkan melalui lisan para rosul-Nya, karena ibadah itu hak Allah atas
hamba-hambaNya, dan hak-Nya adalah yang Allah ridlai dan syari’atkan “.

Maka oleh karena ibadah itu adalah hak Allah semata, maka tidak mungkin tata caranya
diserahkan kepada selera manusia, karena yang menurut manusia baik belum tentu disisi Allah
baik. Maka sangat aneh ketika seseorang yang melakukan bid’ah diingkari, ia berkata,” Mana
dalilnya kalau perbuatan itu terlarang (bid’ah) ? padahal justru karena tidak ada dalilnya
perbuatan itu jadi terlarang, sebab pada asalnya ibadah itu terlarang sampai ada dalil yang
memerintahkannya.

2. bid’ah adalah sesuatu yang tidak ditunjukkan oleh dalil dalam syari’at, adapun yang
ditunjukkan oleh kaidah-kaidah syari’at maka bukanlah bid’ah secara istilah syari’at walaupun
dari sisi bahasa ia dikatakan bid’ah.

Ini ditunjukkan oleh definisi ibnu Rajab. Maka yang bersumber dari Al Qur’an dan sunnah
bukanlah bid’ah secara istilah syari’at walaupun dianggap bid’ah secara bahasa, contohnya
adalah mengumpulkan al qur’an, shalat tarawih berjama’ah dengan satu imam, mengadakan
adzan jum’at kedua, mengharokati dan memberi titik kepada Al Qur’an, dan menyusun ilmu-
ilmu syari’at seperti ilmu Nahwu, shorof, mustholah hadits, ushul fiqih dan lain-lain.

Dan inilah makna perkataan Umar bin Khaththab ketika mengumpulkan manusia untuk shalat
tarawih berjama’ah dengan satu imam :” Inilah sebaik-baik bid’ah “. Maksudnya adalah bid’ah
menurut bahasa bukan menurut istilah syari’at, karena bagaimana mungkin perkataan Umar
tersebut dibawa kepada bid’ah menurut istilah syari’at, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam sendiri yang mencontohkannya, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Abu Dawud
dalam sunannya no 1373 ia berkata haddatsana Al Qo’nabi dari Malik bin Anas dari ibnu Syihab
dari ‘Urwah bin Zubair dari Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa sesungguhnya
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah sholat (tarawih) di masjid, maka orang-orang
mengikuti sholatnya, kemudian di hari kedua beliau sholat lagi, maka manusia menjadi banyak
yang hadir, kemudian di malam yang ketiga manusia telah berkumpul, akan tetapi Rosulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam tidak keluar. Di pagi harinya beliau bersabda :

                                                                                     .
           .
“Aku telah melihat apa yang kalian lakukan, tidak ada yang menghalangiku keluar kepada
kalian kecuali karena aku takut diwajibkan atas kalian “. Dan itu terjadi pada bulan Ramadlan.

Sanad hadits ini tidak diragukan lagi keshahihannya, karena semua perawinya masyhur akan
ketsiqohannya.

Al Hafidz ibnu Rajab berkata,” Adapun yang ada pada perkataan ulama salaf terdahulu yang
menganggap baik sebagian bid’ah, maka ia adalah bid’ah menurut bahasa bukan bid’ah
menurut istilah syari’at, diantaranya adalah perkataan Umar bin Khaththab :” inilah sebaik-
baiknya bid’ah”. Maksud beliau adalah bahwa belum dilakukan dengan cara seperti itu
sebelum waktu tersebut. Akan tetapi ia mempunyai asal dalam syari’at yang menjadi rujukan,
diantaranya adalah anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk qiyam ramadlan, dan
adalah manusia di zamannya melakukan shalat (qiyamulail) di masjid menjadi beberapa
jama’ah yang terpencar dan ada juga yang melakukannya sendirian, kemudian Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam shalat bersama para shahabatnya di bulan Ramadlan lebih dari satu malam,
kemudian beliau berhenti dengan alasan takut diwajibkan kepada mereka, dan alasan ini telah
hilang setelah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam wafat”.

Ini pula yang diinginkan oleh imam Asy Syafi’I, beliau membagi bid’ah menjadi dua macam :
bid’ah mahmudah (yang terpuji), dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Beliau mendefinisikan
bid’ah yang terpuji sebagai bid’ah yang sesuai dengan sunnah atau tidak bertentangan dengan
Al Qur’an, Sunnah, Atsar maupun ijma’.

Sesuatu yang sesuai dengan sunnah tidak boleh disebut bid’ah menurut istilah syari’at,
walaupun dianggap bid’ah menurut bahasa. Sedangkan yang bertentangan dengan sunnah
maka itulah hakikat bid’ah yang sesat, sebuah contoh adalah bahwa imam Asy Syafi’I
menganggap tahlilan sebagai sesuatu yang diharamkan, beliau berkata :

‫ه‬                      ‫ج‬                     ‫ء‬                 ‫ج‬     ‫ز‬

“ Dan aku mengharamkan ma’tam yaitu berkumpul (di rumah keluarga mayit), meskipun disitu
tidak ada tangisan, karena hal itu malah akan menimbulkan kesedihan baru”.

Bahkan madzhab Asy Syafi’iyah sendiri mengharamkan tahlilan dan menganggapnya sebagai
bid’ah yang mungkar, sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anatu thalibin 2/165. Yang
anehnya sebagian orang berdalil dengan perkataan imam Syafi’I untuk menetapkan adanya
bid’ah hasanah diantaranya adalah tahlilan, padahal imam Syafi’I dan para pengikutnya
menganggapnya sebagai bid’ah yang mungkar.

3. setiap perkara yang menyelisihi Al Qur’an, atau sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau
atsar para shahabatnya adalah bid’ah yang sesat.

Ini ditunjukkan oleh definisi imam Asy Syafi’I dalam riwayat Rabie’ di atas. lalu apakah yang
dimaksud menyelisihi dalam perkataan beliau tersebut ? diantara maknanya adalah melakukan
suatu ibadah atau tata cara ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi
wasallam dan para shahabatnya. Oleh karena itu imam Asy Syafi’I mengharamkan ma’tam
(tahlilan) sebagaimana telah kita sebutkan diatas. Dan ini yang ditunjukkan oleh perkataan para
ulama setelahnya.

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan An Najm : 39, merajihkan tidak sampainya pahala
bacaan Al Qur’an kepada mayat, beliau beralasan,” Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
tidak pernah menyunnahkannya kepada umatnya, tidak pula menganjurkannya, dan tidak pula
membimbing untuk melakukannya baik dengan nash maupun dengan isyarat, dan perbuatan
itu juga tidak pernah dinukil dari para shahabat seorang pun, kalaulah itu baik tentu mereka
telah mendahului kita kepada perbuatan tersebut. Dan masalah qurubat (ibadah) hanya
terbatas dengan apa yang ada dalam nash dan tidak boleh dipergunakan pada qiyas tidak juga
ra’yu. Adapun do’a dan shodaqoh maka ia sampai kepada mayat dengan kesepakatan ulama
karena adanya nash dari Asy Syari’ (Allah)”.

Beliau beralasan karena hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam dan para shahabatnya.

Imam An Nawawi Rahimahullah ketika menganggap shalat raghaib dan nishfu Sya’ban sebagai
bid’ah yang mungkar beliau berkata,” Alhamdulillah, dua sholat tadi tidak pernah dilakukan
oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak juga seorangpun dari shahabat tidak pula imam
yang empat, tidak pernah juga dilaksanakan oleh ulama yang dijadikan panutan, dan tidak sah
satupun hadits mengenai hal itu, ia baru diadakan pada generasi-generasi terakhir, dan
mengerjakan dua sholat tersebut termasuk bid’ah yang mungkar…”.

Syaikh Abdul Qadir Jailani rahimahullah ketika menetapkan keyakinan bahwa Allah
bersemayam di atas ‘Arasy, beliau berkata,” Bersemayam dzat-Nya di atas ‘Arasy bukan
dengan makna duduk menyentuh sebagaimana yang dikatakan oleh mujassimah dan
karomiyah, bukan juga dengan makna berkuasa sebagaimana yang dikatakan oleh mu’tazilah,
karena syari’at ridak menyebutkan demikian, tidak pula ada nukilan dari para shahabat, tabi’in
dan salafusshalih dari kalangan ashhabul hadits seorang pun juga “.

Perkataan-perkataan para ulama di atas memberi pemahaman kepada kita, bahwa setiap
ibadah atau keyakinan yang tidak pernah dilakukan atau tidak pernah diyakini oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya adalah bid’ah yang mungkar, dan ini berlaku
kepada banyak amalan di zaman ini seperti perayaan maulud Nabi, perayaan isra mi’raj,
perayaan tahun baru dan lain-lain karena semua itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para
shahabatnya, walaupun diperbolehkan dengan dalih adanya fatwa sebagian ulama, karena
ulama dapat diterima perkataannya bila tidak menyelisihi Al Qur’an, sunnah dan atsar para
shahabat.

4. bahwa bid’ah (menurut makna syari’at) semuanya sesat, maka tidak ada bid’ah hasanah,
karena bid’ah bertentangan dengan syari’at sehingga semuanya tercela.

Kaidah ini ditunjukkan oleh sunnah dan ijma’ para shahabat. Jabir radliyallahu ‘anhu berkata,”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berkata di dalam khutbahnya : memuji Allah dan
menyanjung-Nya sesuai dengan keagungan-Nya, kemudian beliau bersabda :

       ‫ه‬
            ‫ى‬                       ‫س‬
                            .
“Siapa saja yang Allah tunjuki maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa saja yang
Dia sesatkan maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Sesungguhnya sebenar-benar
perkataan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam. Dan seburuk-buruknya perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap yang
diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan di dalam api
Neraka”. (HR An Nasai, ibnu Khuzaimah dan lainnya).

Dalam hadits ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa setiap bid’ah adalah
sesat, dan kata “kullu” adalah termasuk lafadz-lafadz yang umum sebagaimana termaktub
dalam kitab-kitab ilmu ushul fiqih dan bahasa arab. Dan ini dikuatkan oleh pemahaman para
shahabat sebagaimana yang dikeluarkan oleh Al laalikai dalam kitab syarah I’tiqad ahlissunnah
wal jama’ah dengan sanadnya kepada Abdullah bin Umar radliyallahu ‘anhuma ia berkata,”
Setiap bid’ah itu sesat walaupun dipandang baik oleh manusia”.

Di dalam kisah yang terkenal dari ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu ketika beliau melewati masjid
yang ada padanya suatu kaum yang sedang duduk berhalaqoh-halaqoh, mereka membaca
takbir, tahlil dan tasbih dengan tata cara yang tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. Ibnu Mas’ud mengingkari mereka dan
berkata :

        ‫س‬                      ‫, ء‬              ‫س‬
     ! åóÄõáÇÁö ÕóÍóÇÈóÉó äóÈöíøößõãú
ãõÊóæóÇÝöÑõæúäó æó åóÐöåö ËöíóÇÈõåõ áóãú ÊóÈúáó
æóÂäöíóÊõåõ áóãú ÊõßúÓóÑú. æóÇáøóÐöí äóÝúÓöíú
ÈöíóÏöåö Åöäøóßõãú áóÚóáóì ãöáøóÉò ÃóåúÏóì ãöäú
ãöáøóÉö ãõÍóãøóÏò Ãóæú ãõÝúÊóÊöÍõæÇ ÈóÇÈó
ÖóáÇóáóÉò. ÞóÇáõæÇ : íóÇ ÃóÈóÇ ÚóÈúÏö ÇáÑøóÍúãóäö
ãóÇ ÃóÑóÏúäóÇ ÅöáÇøó ÇáúÎóíúÑó. ÞóÇáó : æóßóãú ãöäú
ãõÑöíúÏò áöáúÎóíúÑö áóäú íõÕöíúÈóåõ.
“Hitung saja kesalahan-kesalahan kalian, aku jamin tidak akan sia-sia kebaikan kalian
sedikitpun. Celaka kalian wahai umat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian !
Mereka para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih banyak, dan ini bajunya belum
lusuh, dan bejananya pun belum pecah. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, apakah
kalian berada di atas hidayah lebih tertunjuki dari agama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam, ataukah kalian membuka pintu kesesatan ?

Mereka berkata,” Wahai Abu Abdirrahman, kami hanya menginginkan kebaikan”. Beliau
menjawab,”Berapa banyak orang yang menginginkan kebaikan namun ia tidak
mendapatkannya”.

Kisah ini diriwayatkan oleh Ad Darimi dalam sunannya : Akhbarona Al Hakam bin Al Mubarok
akhbarona ‘Umar bin Yahya aku mendengar ayahku menceritakan dari ayahnya :” Kami duduk-
duduk di depan rumah Abdullah bin Mas’ud sebelum sholat shubuh, apabila beliau telah
keluar, kamipun berjalan bersamanya menuju masjid, lalu Abu Musa Al Asy’ari mendatangi
kami dan berkata,” Apakah Abu Abdirrahman telah keluar ? setelah kami berkata tidak, ia pun
duduk bersama kami hingga beliau keluar, ketika beliau telah keluar, kami semua bangkit
kepadanya. Abu Musa Al Asy’ari berkata,” Wahai Abu Abdirrahman, tadi aku melihat di masjid
suatu perbuatan yang aneh, dan aku memandangnya sebagai sebuah kebaikan alhamdulillah”.
Ia berkata,” Apa itu ? ia menjawab,” Jika masih hidup, engkau akan melihatnya. Aku melihat di
masjid suatu kaum berhalaqoh-halaqoh duduk menunggu shalat, setiap halaqoh dipimpin satu
orang dan ditangan mereka terdapat batu kerikil, apabila pemimpinnya berkata,” bertakbirlah
seratus kali ! mereka pun bertakbir seratus kali. Tahlil 100 kali, merekapun bertahlil seratus
kali, bertatsbihlah 100 kali, merekapun melakukannya. Ibnu Mas’ud berkata,” Apa yang engkau
katakan kepada mereka ? ia menjawab,” Aku tidak mengatakan apa pun kepada mereka karena
menunggu pendapatmu atau menunggu perintahmu…dst.

Qultu : sanad hadits ini jayyid, Al Hakam bin Al mubarok di tsiqohkan oleh ibnu Mandah dan
ibnu hibban namun ibnu ‘Adi mengisyaratkan bahwa ia termasuk perawi yang mencuri hadits
sehingga Al Hafidz ibu Hajar mengatakan tentangnya : shoduq rubbama wahim, sementara Adz
Dzahabi dalam Al kasyif berkata,” Tsiqah”.
Sedangkan ‘Umar bin Yahya yang benar adalah Amru bin yahya yaitu bin Amru bin salamah,
ibnu Ma’in dalam riwayat Ahmad bin Abi Yahya berkata,” Laisa bisyai’ “. Namun Ahmad bin Abi
yahya ini adalah Al Anmathi ia kadzdzab sebagaimana yang dikatakan oleh Adz Dzahabi dalam
Al Mizan, dan dalam riwayat Al Laits bin ‘Abdah ibnu Ma’in berkata,” La yurdla (tidak diridlai) “.
(Al Kamil ibnu ‘Adi) Namun perawi dari Al Laits adalah Ahmad bin Ali yaitu Al Madaaini, ibnu
yunus berkata,” laisa bidzaaka”. (Mizanul I’tidal 1/122). Sementara dalam riwayat Ishaq bin
Manshur, ibnu Ma’in berkata,” Tsiqah “. (Al Jarhu watta’dil ibnu Abi Hatim 6/269). Dan ini
adalah riwayat yang paling kuat. Adapun perkataan ibnu Kharrasy mengenai ‘Amru :” Laisa
bimardliyy (tidak diridlai)”. Adalah jarh yang mubham tidak mufassar sehingga dapat kita
simpulkan bahwa ‘Amru bin yahya adalah perawi yang tsiqah, karena ibnu Ma’in seorang
ulama yang dikategorikan mutasyaddid dalam tautsiq, maka apabila beliau mentsiqohkan
seorang perawi maka gigitlah kuat-kuat, kecuali bila bertentangan degan jumhur. Wallahu
a’lam.

Kisah ini adalah praktek dari hadits Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bahwa semua bid’ah
adalah sesat. Dalam kisah tersebut mereka berhujjah dengan niat dan tujuan yang baik,
sehingga mereka memandang baik perbuatan tersebut, lebih-lebih yang mereka ucapkan
adalah dzikir-dzikir yang asalnya disyari’atkan.

Namun Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu tidak memandang dari asal hukum dzikir, beliau
memandang dari sisi tata caranya yang tidak pernah dilakukan oleh Rosulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. Beliau berkata,” Berapa banyak orang yang
menginginkan kebaikan namun ia tidak mendapatkannya”. Artinya sebatas niat yang baik
tidaklah cukup bila tata caranya tidak sesuai dengan praktek Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
dan para shahabatnya.

Inilah yang difahami oleh para shahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu bahwa
semua bid’ah adalah sesat, Dan pendapat mereka tidak diselisihi oleh shahabat lainnya
sehingga menjadi hujjah, imam Asy Syafi’I berkata,” dan jika salah seorang dari mereka (para
shahabat) berpendapat dan tidak diselisihi oleh shahabat lain, kamipun tetap mengambil
pendapatnya “. adapun perkataan Umar bin Khaththab :” Inilah sebaik-baiknya bid’ah”.
Maksudnya adalah bid’ah menurut bahasa bukan menurut istilah syari’at sebagaimana telah
kita bahas.

Bila ada yang bertanya, benarkah kata kullu selalu berarti semua ? jawabnya adalah benar,
karena semua ahli ushul fiqih menyatakan bahwa kullu adalah termasuk lafadz-lafadz umum.
Dalam kitab Nuzhatul khatir syarah kitab roudlatunnaadzir disebutkan :” Lafadz-lafadz umum
ada lima macam yaitu… macam keempat : Kullu dan jamii’. Dan lafadz yang umum tidak boleh
dikhususkan kecuali dengan dalil, dan tidak ada dalil yang memalingkan hadits kullu bid’ah
dlolalah (setiap bid’ah adalah sesat).

Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil ‘Adziem 1/223. Cet. Maktabah taufiqiyah, Tahqiq Hani Al Haaj.

Mana dalilnya, hal 13. Dan makna ini adalah benar sesuai dengan apa yang dikatakan oleh para
ulama dalam kitab-kitab mereka, namun sayang penulis kitab mana dalilnya tidak memahami
tujuan makna bid’ah secara bahasa dan istilah.

I’lamul muwaqqi’in 2/151, tahqiq Masyhur Hasan Salman.

Al I’tishom 1/50, tahqiq Salim bin ‘Ied Al Hilali.

Jami’ul ‘ulum wal hikam 2/127 tahqiq Syu’aib Al Arnauth.

Al Amru bil ittiba’ wan nahyu ‘anil ibtida’ hal 88.
Muslim 4/1836 no 2363. Tarqim Muhammad Fuad Abdul Baqi.

Muhammad Ahmad Al’Adawi, Ushul fil bida’ wassunan hal 94.

At Tahqiqat wattanqihat assalafiyat ‘ala matnil waraqat, karya Syaikh Masyhur Salman hal 588-
589.

Lihat ilmu ushul bida’ karya Syaikh Ali Hasan hal. 70.

Ibnu Rajab, Jami’ul ulum wal hikam 2/128. Tahqiq Syu’aib Al Arnauth.

Lihat buku mana dalilnya hal 14-15.

Al Umm 1/248.

Ibnu Katsir, Tafsir AlQur’anil ‘Adziem 7/356-357 cet. Maktabah Taufiqiyah ta’liq Hani Al Haaj.

Lihat kitab Al Bida’ al hauliyah 265-266.

Al Gunyah 1/56.

An Nasai 3/209 no 1577 cet. Ke III Darul ma’rifah Beirut, dan ibnu Khuzaimah dalam shahihnya
3/143 no 1785 cet. II Al Maktabul islami. Dari jalan Abdullah bin Mubarak dari Sufyan Ats Tsauri
dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Jabir bin Abdillah. Qultu : sanad hadits ini shahih,
Ja’far bin Muhammad yaitu Ash shodiq di tsiqohkan oleh ibnu Ma’in dan Abu Hatim serta imam
Asy Syafi’I rahimahumullah. Lihat Al Kasyif 1/295 tahqiq Muhammad ‘Awwamah.

1/104 no 126, dan ibnu Baththah no 205 dari jalan Syababah haddatsana Hisyam bin Al Ghaaz
dari Nafi’ dari ibnu ‘Umar. Qultu : sanad hadits ini shahih, Syababah yaitu bin Sawwaar Al
Madaaini, ia tsiqah sebagaimana yang dikatakan oleh Al Hafidz ibnu Hajar dalam attaqrib.

1/68-69 cet. daar ihya ussunnah annabawiyyah

I’lamul muwaqqi’in karya ibnu Qayyim 2/150 tahqiq Masyhur Hasan Salman.

2/108 cet. Pertama darul hadits beirut.




                             PENGERTIAN BID’AH
Bid‘ah menurut bahasa, diambil dari bida‘ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelum
Allah berfirman.

Badiiu‘ as-samaawaati wal ardli
―Arti: Allah pencipta langit dan bumi‖ [Al-Baqarah : 117]

Arti ialah Allah yg mengadakan tanpa ada contoh sebelumnya.
Juga firman Allah.

Qul maa kuntu bid‘an min ar-rusuli
―Arti: Katakanlah : ‗Aku bukanlah rasul yg pertama di antara rasul-rasul‖. [Al-Ahqaf : 9].

Maksud ialah: Aku bukanlah orang yang pertama kali datang dengan risalah ini dari Allah
Ta‘ala kepada hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yang telah
mendahuluiku.

Dan dikatakan juga : ―Fulan mengada-adakan bid‘ah‖, maksud : memulai satu cara yg belum
ada sebelumnya.

Dan peruntukan bid‘ah itu ada dua bagian :

[1] Peruntukan bid‘ah dalam adat istiadat )kebiasaan(; seperti ada penemuan-penemuan baru
dibidang IPTEK (juga termasuk didalam penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai
macam-macamnya). Ini ialah mubah (diperbolehkan); karena asal dari semua adat istiadat
(kebiasaan) ialah mubah.

[2] Peruntukan bid‘ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukum haram, karena yang ada dalam dien itu
ialah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah(; Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam bersabda:
―Arti : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru )beruntuk yang baru( didalam urusan kami
ini yang bukan dari urusan tersebut, maka peruntukan ditolak )tidak diterima(‖. Dan didalam
riwayat lain disebutkan : ―Arti : Barang siapa yang beruntuk suatu amalan yang bukan
didasarkan urusan kami, maka peruntukan ditolak‖.

                         MACAM-MACAM BID’AH
Bid‘ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :

[1] Bid‘ah qauliyah ‗itiqadiyah : Bid‘ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-
ucapan orang Jahmiyah, Mu‘tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-
kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.

[2] Bid‘ah fil ibadah: Bid‘ah dalam ibadah: seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang
tidak disyari‘atkan oleh Allah : dan bid‘ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :

[a]. Bid‘ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah
yang tidak ada dasar dalam syari‘at Allah Ta‘ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak
disyari‘atkan, shiyam yang tidak disyari‘atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak
disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.

[b]. Bid‘ah yang bentuk menambah-nambah terhadap ibadah yg disyariatkan, seperti menambah
rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.

[c]. Bid‘ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifat
tidak disyari‘atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama‘ah dan
suara yg keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari
batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam.

[d]. Bid‘ah yang bentuk mengkhususkan suatu ibadah yg disyari‘atkan, tapi tidak dikhususkan
oleh syari‘at yg ada. Seperti mengkhususkan hari dan malam nisfu Sya‘ban )tanggal 15 bulan
Sya‘ban( untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di
syari‘atkan, akan tetapi pengkhususan dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.

                 HUKUM BID’AH DALAM AD-DIEN
Segala bentuk bid‘ah dalam Ad-Dien hukum ialah haram dan sesat, sebagaimana sabda
Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam.

―Arti: Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yg baru, krn sesungguh
mengadakan hal yang baru ialah bid‘ah, dan setiap bid‘ah ialah sesat‖. [Hadits Riwayat Abdu
Daud, dan At-Tirmidzi; hadits hasan shahih]

Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam

―Arti : Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka peruntukan
tertolak‖.

Dan dalam riwayat lain disebutkan :

―Arti : Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalan
tertolak‖.

Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yg diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) ialah
bid‘ah, dan setiap bid‘ah ialah sesat dan tertolak.

Arti bahwa bid‘ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukum haram.

Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid‘ahnya, ada diantara yg menyebabkan
kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kepada ahli
kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar-nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo‘a
kepada ahli kubur dan minta pertolongan kepada mereka, dan seterusnya. Begitu juga bid‘ah
seperti bid‘ah perkataan-perkataan orang-orang yang melampaui batas dari golongan Jahmiyah
dan Mu‘tazilah. Ada juga bid‘ah yang merupakan sarana menuju kesyirikan, seperti membangun
bangunan di atas kubur, shalat berdo‘a disisinya. Ada juga bid‘ah yg merupakan fasiq secara
aqidah sebagaimana hal bid‘ah Khawarij, Qadariyah dan Murji‘ah dalam perkataan-perkataan
mereka dan keyakinan Al-Qur‘an dan As-Sunnah. Dan ada juga bid‘ah yang merupakan maksiat
seperti bid‘ah orang yang beribadah yang keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu
‗Alayhi wa Sallam dan shiyam yang dengan berdiri di terik matahari, juga memotong tempat
sperma dgn tujuan menghentikan syahwat jima‘ )bersetubuh(.

Catatan:
Orang yang membagi bid‘ah menjadi bid‘ah hasanah )baik( dan bid‘ah syayyiah )jelek( ialah
salah dan menyelisihi sabda Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam: ―Arti : Sesungguh setiap
bentuk bid‘ah ialah sesat‖.

Karena Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam telah menghukumi semua bentuk bid‘ah itu
ialah sesat; dan orang ini )yang membagi bid‘ah( mengatakan tidak setiap bid‘ah itu sesat, tapi
ada bid‘ah yang baik!

Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitab ―Syarh Arba‘in‖ mengenai sabda Rasulullah
Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam : ―Setiap bid‘ah ialah sesat‖, merupakan )perkataan yg mencakup
keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar
dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabda: ―Arti: Barangsiapa mengadakan hal baru yang
bukan dari urusan kami, maka peruntukan ditolak‖. Jadi setiap orang yg mengada-ada sesuatu
kemudian menisbahkan kpd Ad-Dien, padahal tidak ada dasar dalam Ad-Dien sebagai
rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri dari; baik pada masalah-masalah
aqidah, peruntukan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.

Dan mereka itu tidak mempunyai dalil atas apa yang mereka katakan bahwa bid‘ah itu ada yang
baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu ‗anhu pada shalat Tarawih : ―Sebaik-baik
bid‘ah ialah ini‖, juga mereka berkata: ―Sesungguh telah ada hal-hal baru )pada Islam ini(‖,
yang tidak diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qur‘an menjadi satu kitab, juga
penulisan hadits dan penyusunannya‖.

Adapun jawaban terhadap mereka ialah : bahwa sesungguh masalah-masalah ini ada rujukan
dalam syari‘at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu ‗anhu: ―Sebaik-baik
bid‘ah ialah ini‖, maksud ialah bid‘ah menurut bahasa dan bukan bid‘ah menurut syariat. Apa
saja yang ada dalil dalam syariat sebagai rujukan jika dikatakan ―itu bid‘ah‖ maksud ialah
bid‘ah menurut arti bahasa bukan menurut syari‘at, karena bid‘ah menurut syariat itu tdk ada
dasar dalam syariat sebagai rujukannya.

Dan pengumpulan Al-Qur‘an dalam satu kitab, ada rujukan dalam syariat karena Nabi
Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur‘an, tapi penulisan masih
terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf
(menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya.

Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam pernah shalat secara berjama‘ah
bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhir tidak bersama mereka (sahabat) khawatir
kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus shalat Tarawih secara
berkelompok-kelompok dimasa Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam MASIH HIDUP juga
setelah wafat Beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu ‗Anhu menjadikan mereka satu jama‘ah
di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini
bukan merupakan bid‘ah dalam Ad-Dien.

Begitu juga hal penulisan hadits itu ada rujukan dalam syariat. Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi
wa Sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kepada sebagian sahabat
karena ada permintaan kepada Beliau dan yang dikhawatirkan pada penulisan hadits masa
Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam secara umum ialah ditakutkan tercampur dgn
penulisan Al-Qur‘an. Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alayhi wa Sallam telah wafat, hilanglah
kekhawatiran tersebut; sebab Al-Qur‘an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat
Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan
hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar tidak
hilang; semoga Allah Ta‘ala memberi balasan yg baik kepada mereka semua, karena mereka
telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu ‗Alayhi wa Sallam agar tidak
kehilangan dan tidak rancu akibat ulah peruntukan orang-orang yang selalu tidak bertanggung
jawab.

[Disalin dari buku Al-Wala & Al-Bara Tentang Siapa Yang harus Dicintai & Harus Dimusuhi
oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-Tibyan
Solo, hal 47-55, penerjemah Endang Saefuddin].

Artikel ini telah mengalami sedikit editan tanpa merubah makna isi dari artikel asli, semoga
bermanfaat. Mohon ma'af tidak terima debat kusir
Tags: islam, bid'ah
Prev: Pendapat Imam Empat Mazhab
Next: Cover Skripsi
reply share
Hadist Tentang Bid’ah
Mei 3rd, 2010 by jalanku

1. Diriwayatkan dari Aisyah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda,
“Barangsiapa membuat perkara baru dalam agama kami yang bukan darinya, maka hal itu
tertolak.” Hadits shahih.

====================================================

2. Diriwayatkan oleh Muslim, bahwa Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak terdapat padanya perkara kami, maka hal itu
tertolak.”

Hadits ini oleh para ulama dikategorikan sebagai sepertiga dari ajaran Islam, karena mencakup
segi-segi pengingkaran terhadap perintah Nabi SAW, baik dalam masalah bid’ah maupun
kemaksiatan.

====================================================

3. Diriwayatkan oleh Muslim dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah SAW bersabda (dalam
khutbah beliau),
Amma ba’du, sesungguhnya perkataan yang paling baik adalah kitab Allah, sebaik-baik
petunjuk adalah petunjuk Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru (dibuat-
buat dalam agama) dan setiap bid’ah adalah sesat”

====================================================

4. Diriwayatkan oleh Muslim dari jalur yang lain, ia berkata: Rasulullah SAW pernah berkhutbah
dihadapan khalayak ramai, beliau memuji Allah dan mengagungkan-Nya sesuai keberadaan-
Nya, kemudian bersabda,
“Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan
barangsiapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk
kepadanya. Sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad, dan seburuk-buruk perkara adalah yang baru —dalam agama— dan setiap yang
baru adalah bid’ah.”

====================================================

5. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i, bahwa Rasulullah bersabda,
“Setiap yang baru adalah bid ah dan setiap yang bid’ah (tempatnya) di dalam neraka.”
Disebutkan bahwa Umar pernah berkhutbah dengan khutbah tersebut.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud —dengan riwayat yang mauquf dan marfu’—, bahwa ia
berkhutbah, “Sesungguhnya keduanya adalah dua perkara —perkataan dan petunjuk— maka
sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad. Ketahuilah, kamu hendaknya menjauhi perkara-perkara yang baru, karena
seburuk-buruk perkara adalah perkara yang baru dan setiap yang baru adalah bid’ah.”

====================================================

6. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah —secara marfu’— dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah SAW
bersabda,
” Berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang baru. Sesungguhnya seburuk-buruk
perkara adalah perkara yang baru, setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah
sesat.”
====================================================

7. Diriwayatkan dari Khudzaifah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah akan terjadi keburukan
setelah kebaikan sekarang ini?” Beliau menjawab,
” Ya, akan ada suatu kaum yang mengikuti sunnah yang bukan Sunnahku dan mengikuti
petunjuk yang bukan petunjukku.” la bertanya lagi, “Apakah setelah keburukan tersebut terjadi
keburukan yang lebih buruk lagi?” Beliau bersabda, ” Ya, seruan menuju neraka Jahanam, dan
barangsiapa yang mengikutinya pasti akan menceburkannya ke dalamnya (neraka Jahanam).”
Dia bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah sifat-sifat mereka untuk kami?” Beliau
bersabda, ” Tentu. Mereka berasal dari bangsa kita dan berbicara dengan bahasa kita.” Dia
bertanya kembali, “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapatkan perkara
tersebut?” Beliau menjawab, “Berpegang teguhlah pada jamaah kaum muslim dan imam
mereka.” Dia berkata, “Jika tidak ada seorang imam atau jamaah?” Beliau menjawab, ”
Tinggalkanlah kelompok-kelompok tersebut semuanya meskipun kamu harus menggigit akar
pohon hingga tiba ajalmu dan kamu tetap pada pendirianmu itu.” Hadits shahih.
Diriwayatkan oleh Al Bukhari dari jalur yang lain.

====================================================

8. Nabi SAW bersabda,
“Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu dengan mencabutnya secara langsung dari
manusia, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan ulama, sehingga apabila tidak
terdapat orang yang alim, maka manusia akan mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh.
Mereka ditanya serta memberikan fatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan”
Hadits shahih.

====================================================

9. Rasulullah SAW juga bersabda,
“Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat penting. Yang
pertama adalah kitab Allah, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya —dalam riwayat
lain; dalamnya ada petunjuk— orang yang berpegang teguh dan mengambilnya maka ia berada
di atas petunjuk, sedangkan orang yang menyimpang maka akan tersesat.”

====================================================

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2944
posted:5/20/2011
language:Arabic
pages:22
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl