MENARIK DIRI

Document Sample
MENARIK DIRI Powered By Docstoc
					PENDAHULUAN
Menarik diri (withdrawal) adalah suatu tindakan melepaskan diri, baik perhatian maupun
minatnya terhadap lingkungan sosial secara langsung ( isolasi diri ). Pada mulanya klien
merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman dalam berhubungan
dengan orang lain.
Pada klien dengan menarik diri diperlukan rangsangan/ stimulus yang adequat untuk
memulihkan keadaan yang stabil. Stimulus yang positif dan terus menerus dapat
dilakukan oleh perawat. Apabila stimulus tidak dilakukan / diberikan kepada klien tetap
menarik diri yang akhirnya dapat mengalami halusinasi, kebersihan diri kurang dan
kegiatan hidup se hari –hari kurang adequat.


TINJAUAN TEORI
PROSES TERJADINYA MASALAH KEPERAWATAN
Gangguan hubungan sosial adalah keadaan dimana individu kurang berpartisipasi dalam
jumlah berlebihan atau hubungan sosial yang tidak efektif (Rawlins, 1993). Sedangkan
definisi dari isolasi sosial adalah keadaan dimana individu/kelompok mengalami atau
merasakan kebutuhan atau keinginan untuk meningkatkan keterlibatannya dengan orang
lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontak.(Carpenito, 1998). Dari dua definisi
tersebut terlihat bahwa individu menarik diri mengalami gangguan dan kesulitan dalam
berhubungan dengan orang lain.
Salah satu gangguan berhubungan sosial diantaranya perilaku menarik diri atau isolasi
yang disebabkan oleh perasaan tidak berharga, yang biasanya dialami klien dengan latar
belakang lingkungan yang penuh dengan permasalahan, ketegangan,kekecewaan dan
kecemasan.
Menurut Stuart dan Sundeen (1995), faktor predisposisi dari gangguan hubungan sosial
adalah : 1) faktor perkembangan dimana setiap gangguan dalam pencapaian tugas
perkembangan akan menyebabkan seseorang mempunyai masalah respon sosial yang
maladaptif. Untuk faktor perkembangan, setiap tahap tumbuh kembang memiliki tugas
yang harus dilalui individu dengan baik. Bila tugas perkembangan ini tidak dapat dilalui
dengan baik maka akan menghambat tahap perkembangan selanjutnya, 2) faktor genetik
dimana salah satu faktor yang menunjang adalah adanya respon sosial yang maladaptif
dari orang tua atau garis keturunan diatas, 3) faktor komunikasi dalam keluarga dimana
masalah komunikasi dalam keluarga dapat menjadi kontributor untuk mengembangkan
gangguan tingkah laku. Masalah komunikasi tersebut antara lain sikap bermusuhan ,
selalu mengkritik, menyalahkan, kurang kehangatan, kurang memperhatikan anak, emosi
yang tinggi. Komunikasi dalam keluarga amatlah penting dengan memberikan
pujian,adanya tegur sapa dan komunikasi terbuka . Kurangnya stimulasi, kasih sayang
dan perhatian dari ibu/pengasuh pada bayi akan memberikan rasa tidak aman yang akan
menghambat terbentuknya rasa percaya diri. 4)faktor sosio kultural yaitu norma yang
tidak mendukung terhadap pendekatan orang lain atau norma yang salah yang dianut
keluarga, seperti anggota keluarga yang gagal diasinglan dari lingkungan sosial.
Perasaan tidak berharga menyebabkan klien makin sulit dalam mengembangkan
hubungan dengan orang lain, akibatnya klien menjadi regresi, mengalami penurunan
dalam aktivitas dan kurangnya perhatian terhadap penampilan dan kebersihan diri. Klien
semakin tenggelam dalam pengalaman dan pola tingkah laku masa lalu serta tingkah laku
primitif antara lain pembicaraan yang austik dan tingkah laku yang tidak sesuai dengan
kenyataan sehingga dapat berakibat lanjut terjadinya halusinasi dan gangguan
komunikkasi verbal karena klien tidak mau berinteraksi secara verbal dengan orang lain.
Halusinasi pada klien dapat menimbulkan resiko mencederai diri dan orang lain apabila
halusinasinya menyuruh klien untuk melakukan kekerasan pada diri maupun orang lain
dan lingkungan sekitarnya.
Klien dengan harga diri rendah akan membuat dirinya enggan berinteraksi dengan orang
lain di sekitarnya. Tidak adanya dukungan untuk berinteraksi membuat klien semakin
menarik diri dari lingkungannya. Akibat menarik diri, klien akan mengalami halusinasi.
Halusinasi pada akhirnya akan menguasai klien, pada tahapan lebih lanjut, sehingga
memunculkan resiko kekerasan. Harga diri rendah juga akan menimbulkan koping
mekanisme pada klien di mana ia mengkompensasikan perasaannya dengan waham
kebesaran untuk mengatasi harga dirinya yang rendah. Waham akan mempengaruhi
komunikasi klien dimana setiap berkomunikasi klien selalu terarah pada wahamnya
sendiri sehingga terjadi gangguan komunikasi verbal.
Pada kasus tuan S awal kejadiannya disebabkan karena adanya ancaman dari teman-
temannya bahwa klien tidak akan di ajak bergaul dengan teman group musiknya bila
tidak mengikuti aturan main, padahal teman-temannya bermaksud bergurau, tapi klien
merasa malu. Hal itu terjadi tahun 1995 ketika klien masih duduk di bangku STM kelas II
dan klien dirawat di Rumah sakit selama 9 hari. Selanjutnya klien berobat jalan, namun
sudah kurang lebih 1,5 tahun klien tidak pernah berobat. Kejadian yang menyebabkan
klien MRS yang kedua ini berawal dari keinginan klien dan keluarga agar klien melamar
pekerjaan di tempat kerja pamannya yang berada di Banjarmasin , tapi gagal. Akibat
kegagalanya ini klien merasa kecewa karena klien berangan angan bila bekerja dapat
membantu penghasilan keluarga. Sebagai anak tertua klien merasa harus dapat membantu
orangtuanya. Selanjutnya klien merasa tidak berguna, lalu menarik diri dengan
menyendiri dalam kamar sambil termenung, tidak mau merawat diri, tidak mau makan,
kadang-kadang bicara sendiri atau ngomel-ngomel tanpa sebab jelas. Bila diajak bicara
bicaranya ngelantur, tidsk terarah dan terkadang diam tidak mau menjawab, akhirnya
terjadi gangguan komunikasi verbal. Dalam kehidupan sehari hari klien tidak mau
bergaul dengan tetangga dan tidak pernah bercerita tentang masalah pribadinya.
Masalah klien yang biasa muncul pada klien menarik diri adalah koping individu tidak
efektif, koping keluarga tidak efektif, harga diri rendah,isolasi sosial menarik diri, resiko
tinggi halusinasi,kerusakan interaksi sosial, intoleransi aktivitas dan defisit perawatan diri
( Depkes 1995 ). Sedangkan masalah keperawatan yang terjadi pada Tn S adalah : Isolasi
sosial menerik diri, harga diri rendah, resiko halusinasi, , koping keluarga tidak efektif :
penatalaksanaan regimen teraupeutik in efektif, defisit perawatan diri. .
TINDAKAN KEPERAWATAN
Dalam menyusun tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan di atas
digunakan beberapa sumber antara lain : Carpenito (1998 ) , Stuart dan Sundeen (1995 ).
ISOLASI SOSIAL : Menarik diri
Prinsip tindakan
Bina hubungan saling percaya
Interaksi sering dan singkat
Dengarkan dengan sikap empati
Beri umpan balik yang positif
Ciptakan suasana yang ramah dan bersahabat
Jujur dan menepati semua janji
Susun dan tulis daftar kegiatan harian bersama klien sesuai dengan jadwal ruangan, minat
serta kemampuan klien
Bimbing klien untuk meningkatkan hubungan sosial secara bertahap mulai dari klien-
perawat, klien dua orang perawat, klien-dua perawat-dan klien lain, klien dengan
kelompok kecil, klien dengan kelompok besar
Bimbing klien untuk ikut ambil bagian dalam aktivitas kelompok seperti dalam terapi
aktivitas kelompok : sosialisasi
Berikan pujian saatklien mampu berinteraksi dengan orang lain
Diskusikan dengan keluarga untuk mengaktifkan support system yang ada
Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian obat anti depresan
HARGA DIRI RENDAH
Prinsip Tindakan :
Perluas kesadaran klien
Bina hubungan saling percaya
Berikan pekerjaan pada klien pada tingkat kemampuan yang dimiliki
Maksimalkan peran serta klien dalam hubungan terapeutik
Dukung ekplorasi diri klien
Bantu klien untuk menerima perasaan danpikiran- pikirannya
Bantu mengklarifikasi konsep diri dan hubungan denganorang lain melalui keterbukaan
Berikan respon empati bukan simpati dan tekankan bahwa kekuatan untuk berubah ada
pada diri klien
Bantu klien merumuskan perencanaan yang realistik
Bantu klien mengidentifikasi alternatif pemecahan masalah
Bantu mengkonseptualkan tujuan yang realistik.
PERUBAHAN PERSEPSI SENSORI ; Resiko halusinasi lihat dan dengar
Prinsip tindakan :
Tetapkan hubungan saling percaya dan lakukan dengan kontak sering dan singkat
Kaji gejala halusinasi
Fokus pada gejala dan minta klien untuk menjelaskan apa yang terjadi
Tidak mendukung atau menentang halusinasi
Bantu klien menjelaskan dan membandingkan halusinasi saat ini dan yang baru saja
dialami
Dorong klien untuk mengobservasi dan menjelaskan pikiran, perasaan dan tindakan yang
berhubungan dengan halusinasi ( saat ini maupun yang lalu )
Bantu klien menjelaskan kebutuhan yang mungkin direfleksikan dalam isi halusinasi
Hadirkan realitas
Gunakan bahasa yang jelas dan komunikasi secara langsung serta pertahankan kontak
mata
Diskusikan penyebab, isi, waktu terjadi dan cara untuk memutus halusinasi
Berikan tugas dan aktivitas yang dapat dilakukan
Diskusikan manfaat dari taerapi medis dengan klien
DEFISIT PERAWATAN DIRI
Prinsip Tindakan :
Ciptakan lingkungan yang tenang
Fasilitasi peralatan perawatan diri klien
Motivasi klien dalam melakukan perawatan diri
Dorong klien untuk mengungkapkan keuntungan dan manfaat dari perawatan diri
Beri reinforcemen positif atas tindakan klien yang mendukung ke arah perawatan diri.
PENATALAKSANAAN REGIMEN TERAPEUTIK IN EFEKTIF
Prinsip tindakan :
Tingkatkan pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit dan terapi yang diperlukan
Libatkan keluarga dalam rencana perawatan klien
Optimalkan penggunaan sumber dan sistem pendukung
BAB IV
PELAKSANAAN
Asuhan keperawatan terhadap Tn S dilaksanakan dalam 10 kali pertemuan. Di bawah ini
akan diuraikan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk setiap diagnosa, evaluasi
serta tindak lanjutnya.
Diagnose keperawatan
Perubahan sensori persepsi : Resiko halusinasi lihat dan dengar berhubungan dengan
menarik diri
Tujuan Umum :
Klien dapat berinteraksi dengan orang lain di lingkungannya sehingga halusinasi lihat
dan dengar tidakterjadi.
Implementasi :
Pada pertemuan pertama , perawat membina hubungan saling percaya dengan klien
dengan cara : mengucapkan salam dan menyapa klien dengan ramah, memperkenalkan
diri dan menjelaskan tujuan pertemuan, menunjukkan sikap tenang dan penuh perhatian
dengan menemani klien dan membuat kontrak yang jelas. Melakukan interaksi sering dan
singkat. Membicarakan dengan klien penyebab menarik diri. Mendiskusikan akibat
menarik diri,mendiskusikan keuntungan dalam berinteraksi dengan orang lain.
Memotivasi klien untuk bersosialisasi dengan perawatlain, klien lain secara bertahap.
Memberikan pujian saat klien mau berinteraksi dengan perawat lain dan klien lain.
Mendampingi klien saat memulai interaksidengan perawat lain atau klienlain, menyusun
aktivitas sehari -–ari klien sesuai kemampuannya, kesanggupannya serta dengan
perencanaandi ruangan.
Evaluasi :
Pada pertemuan ke 3 hubungan saling percaya sudah dapat terbina dengan lebih baik.
Tetapi klien masih belum bisa menyebutkan penyebab menarik dirinya. Klien juga belum
mampu menyebutkan keuntungan berinteraksi denganorang lain. Pada pertemuan ke 4
sudah bisa bersosialisasi dengan perawat lain dan klien lain., tapi masih belum bisa
menyebutkan penyebab tidak maubergaul dengan orang lain, Pada pertemuan ke 5 klien
dapat menjelaskan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan klien sudah mau
berinteraksi dengan klien lain,bahkan bergandengan tangan dengan klien lain.
Tindak lanjut
Mempertahankan implementasi yang telah diberikan. Melakukan kerja sama dengan
perawat ruangan untuk melatih aktifitas yang teratur dan mendiskusikan mengenai
partisipasi keluarga dalam merawat klien .
Isolasi sosial : menarik diri berhubungandengan harga diri rendah
Tujuan Umum :
Klien dapat meningkatkan harga dirinya, sehingga klien dapat berhubungan dengan orang
lain.
Implementasi :
Mempertahankan hubungan saling percaya antara perawat klien melalui cara : menyapa
klien dengan ramah dan mengucapkan salam., menjelaskan tujuan pertemuan,
menunjukkan sikap empati, membuat kontrak yang jelas untuk pertemuan selanjutnya .
Menunjukkan sikap penuh perhatian dan penghargaan dengan menemani klien walaupun
klien menolak untuk berinteraksi . Mendorongklien untuk menyebutkan aspek/
kemampuan positif yang dimiliki klien dan memberikan pujian terhadap kemampuan
positif klien yang menonjol. Mendiskusikan dan memotivasi klien untuk mengungkapkan
perasaan, pikiran dan mendengarkan klien dengan perhatian
Evaluasi
Pada pertemuan ke 5 klien mulai mau menyebutkan kemampuan yang dimilikinya dan
klien mau menunjukkan kemampuannya di depan perawat yaitu klien dapat menyanyi
dan pandai bermain gitar. Namun klien masih sulit untuk memulai pembicaraan.
Pertemuan ke 6 klien lebih dapat berinteraksi dengan klien lain dan dapat tersenyum
membalas sapaan perawat.
Tindak lanjut :
Mempertahankan interaksi yang sudah dicapai klien dan merencanakan untuk diikutkan
dalam terapi aktivitas kelompok.
Penatalaksanaan regimen teraupetik in efektif berhubungan dengan kopingkeluarga
inefektif
Tujuan Umum :
Penatalaksanaan regimen teraupetik efektif
Implementasi :
Mengajak keluarga untuk mengidentifikasi perilaku klien yang mal adaftif usaha
memberi perawatan pada klien,memberi pujian atas tindakan keluarga yang adaptif,
mendiskusikan dengan keluarga tindakan yang dapat dalakukan terhadap keluarga untuk
menunjang kesembuhan klien ( memberikan aktivitas, memotivasi melakukan hobinya
mengajak klien pada realitas ),mendiskusikan tentang pentingnya peran
keluarga,menganjurkan bersikap hangat, menghargai dan tidak memarahi klien, serta
memberi pujian terhadap perilaku klien yang adaptif , memberikan kesempatan kepada
keluarga untuk mengambil keputusan tentang koping yang efektif dalam merawat klien,
menanyakan kepada keluarga bagaimana persepsi dan penerimaan linkungan dengan
adanya anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, mendiskusikan dengan
keluarga cara penyampaian pada masyarakat tantang anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa,menganjurkan keluarga untuk konsultasi ke fasilitas bila menemukan
kesulitan, memotivasi klien dan keluarga untuk kontrol teratur
Evaluasi
Pada pertemuan ke 6 sampai ke 10 terlihat keluarga mencoba menerapkan apa yang telah
didiskusikan dengan perawat dan akan melaksanakannya ketika klien harus pulang.
Tindak lanjut
Memberikan dorongan kepada keluarga dan merencanakan untuk kunjungan rumah
Defisit Perawatan diri berhubungan dengan kurang motivasi dalam perawtan diri
Tujuan Umum :
Klien dapat meningkatkan motivasi tentang kebersihan diri, sehingga kebutuhan klien
terjaga dan terpelihara
Implementasi :
Mempertahankan hubungan saling percaya yang telah terbina, dengan cara mengucapkan
salam dan menunjukkan sikap ramah saat berinteraksi dengan klien. Menciptakan
lingkungan yang tenang saat berinteraksi. Memberikan kesempatan pada klien untuk
mengungkapkan perasaannya dan mendengarkan dengan penuh perhatian. Memotivasi
klien untuk mandi memakai sabun, menggosok gigi, mengganti pakaian setiap hari,
memotivasi klien untuk memotong kuku seminggu sekali bila terlihat kotor dan panjang,
mendorong klien untuk mengungkapkan perasaannya setelah melakukan perawatan diri,
memberikan pujian atas perilaku klien yang mendukung pada perawatan diri.
Evaluasi :
Pada pertemuan 1 dan 2 klien belum bersedia untuk melakukan perawatan diri, klien
selalu menunggu ayahnya untuk perawatan diri, klien terlihat kusam ,rambut acak-
acakan, baju lusuh karena klien menolak untuk perawtan diri.Pertemuan ke 3 klien sudah
bersedia ke kamar mandi di antar ayahnya, sudah bersedia mandi tetapi belum bersedia
memakai baju yang rapi dan menyisir rambut. Pertemuan ke 3, 4 ,5
Klien sudah mandi sendiri tapi tidak bersedia memakai handuk sehingga baju terlihat
basah. Sampai pertemuan terakhir klien bersedia mandi bila disuruh , bukan atas
kemauan sendiri, tapi klien sudah bisa melakukan sendiri dengan pengawasan
Tindak lanjut :
Mempertahankan pemberian motivasi kepada klien dalam melakukan perawatan diri,
membuat jadual kegiatan klien sehari-hari. Meningkatkan kualitas ADL klien dengsn
mendorong klien untuk melaksanakan semua ADL yang telah dibuat dan mengikut
sertakan keluarga dalam memonitor ADL klien.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:247
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:6
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl