KEBUTUHAN NUTRISI PADA BALITA

Document Sample
KEBUTUHAN NUTRISI PADA BALITA Powered By Docstoc
					           KEBUTUHAN NUTRISI PADA BALITA



      Usia dibawah 5 tahun atau balita merupakan usia penting dalam pertumbuhan
dan perkembangan fisik anak. Pada usia ini, anak masih rawan dengan berbagai
gangguan kesehatan, baik jasmani maupun rohani. Secara psikologis, rentang usia ini
sangat menentukan karakter anak. Jika anak sering diejek atau dicemooh,
kemungkinan besar akan tumbuh menjadi anak yang tidak mempunyai kepercayaan
diri. Anak yang selalu dimanja akan tumbuh menjadi anak yang selalu bergantung
kepada orang lain. Demikian juga anak yang selalu ditekan dengan ancaman, anak
akan tumbuh dengan ketakutan bahkan sampai depresi. Sebaliknya, anak yang
dididik dengan pujian dan arahan yang benar, akan tumbuh menjadi anak yang
percaya diri karena sejak kecil dia merasa dihargai oleh lingkungan terdekatnya,
yaitukeluarga.

     Demikian pula dengan cara orang tua memberi makan kepada anak. Jika
dengan paksaan, anak semakin tidak menyukai makanan tersebut dan cenderung
semakin menolak. Selain itu, jika melarang makanan tertentu yang tidak baik seperti
permen tetapi tidak diikuti dengan memberi pemahaman jelas, juga akan
menimbulkan rasa untuk memberontak. Pemberontakan tersebut biasanya
diwujudkan dengan semakin menyukai makanan tersebut, dan dengan sembunyi-
sembunyi makan dalam jumlah yang banyak karena takut ketahuan.

      Salah satu faktor yang menentukan daya tahan tubuh seorang anak adalah
keadaan gizinya. Pertumbuhan anak pasa masa balita sangat pesat, sehingga
membutuhkan zat gizi yang relatif lebih tinggi daripada orang dewasa. Disisi lain,
alat pencernakan usia ini belum berkembang sempurna. Selain itu, anak balita sangat
rentan terhadap penyakit gigi sehingga menyulitkan makannya. Gigi susu telah
lengkap pada umur 2-2,5 tahun, tetapi belum dapat digunakan untuk mengerat dan
mengunyah makanan yang keras. Karena itu, pengaturan makanan dan perencanaan
menu harus hati-hati dan sesuai dengan kebutuhan kesehatannya.

     Makanan yang tidak disukai anak juga tidak perlu dipaksakan. Namun, sayuran
tetap dianjurkan untuk selalu diberikan meskipun si anak sering tidak menyukainya.
Pemberian sayuran juga disiasati dengan cara dibuat jus yang dikombinasikan
dengan buah-buahan sehingga rasanya lebih enak. Misalnya, sawi hijau bisa
dikombinasikan dengan nanas yang sudah direbus. Anak usia balita belum dianjurkan
diberi sayuran mentah karena enzim pencernaannya belum berkembang sempurna.
   Rasa dan cara penyajian makanan sangat mempengaruhi kemauan anak untuk makan.
   Jika rasa jus tidak enak dan anak menolak, kita bisa membuat variasi jus lain yang
   lebih disukai anak. Namun, ada beberapa jenis buah berserat tinggi dan mengandung
   zat-zat berbahaya bagi saluran pencernakan balita yang sebaiknya tidak diberikan.
   Misalnya rambutan, manggis, nangka, sawo, dan durian.


           Balita tidak bertumbuh sepesat saat masa bayi, tetapi kebutuhan nutrisi mereka
   tetap merupakan prioritas utama. Di masa balita ini nutrisi memegang peranan penting
   dalam perkembangan seorang anak. Masa balita adalah masa transisi, terutama di usia 1-2
   tahun, dimana seorang anak akan mulai makan makanan padat dan menerima rasa dan
   tekstur makanan yang baru. Di masa balita, anak Anda membutuhkan nutrisi dari berbagai
   sumber dan makanan.

           Tergantung dari usia, besar tubuh dan tingkat aktivitas mereka, balita biasanya
   membutuhkan sekitar 1000 – 1400 kalori per hari. Di bawah ini adalah tabel untuk
   mengukur secara rata-rata jumlah makanan yang dibutuhkan balita per-hari. Tetapi Anda
   harus ingat bahwa setiap anak berbeda, dan jangan khawatir jika Anda tidak selalu persis
   mengikuti tabel ini setiap hari. Yang penting Anda terus berusaha untuk memberikan
   variasi nutrisi yang tepat setiap hari dalam makanan anak Anda.

   Tabel dibawah ini berdasarkan Piramida Panduan Makanan untuk balita usia 2 – 3 tahun.

              Jumlah        per
                                Jumlah per Hari
Kelompok      Hari       untuk
                                untuk anak usia Cara Menyajikan dan contoh Makanan
Makanan       anak usia 2
                                3 tahun
              tahun
                                                Satu ons sama dengan 1 potong roti, 1
Biji    Padi-                   4-5 ons (110-
              3 ons (85gram)                    gelas takar sereal siap saji, atau 1/2 gelas
padian                          140gram)
                                                takar nasi atau pasta matang.
                                                Gunakan gelas takar untuk memastikan
                                                jumlahnya. Sajikan sayuran yang halus,
Sayuran       1 gelas takar     1,5 gelas takar
                                                dipotong sampai kecil dan dimasak sampai
                                                matang untuk mencegah anak tersedak.
                                                Gunakan gelas takar untuk memastikan
Buah-buahan 1 gelas takar       1,5 gelas takar jumlahnya. Pisang sepanjang 20-23cm
                                                sama dengan 1 gelas takar.
                                                Satu gelas sama dengan: 1 gelas susu atau
Susu          2 gelas (400ml) 2 gelas (400ml) yogurt, 1 1/2 ons (45gram) keju alami, atau
                                                2 ons (60gram) keju yang sudah diproses.
Daging dan                                      Satu ons sama dengan: 1 ons (30gram)
                                3-4 ons (85-
Kacang-       2 ons (65gram)                    daging ayam atau ikan, 1/4 gelas takar
                                115gram)
kacangan                                        kacang-kacangan matang, atau 1 butir telur.
     Selain itu,anak balita membutuhkan 500 miligram kalsium per hari. Jumlah ini mudah
untuk dipenuhi jika anak anda mendapatkan sedikitnya dua gelas susu per hari. Kalsium
adalah bagian penting dari kebutuhan nutrisi balita, dan susu menyediakan kalsium dan
Vitamin D untuk membangun tulang yang kuat. Anak balita juga membutuhkan 7 miligram
zat besi setiap hari. Ia bisa mendapatkan ini dari makanan kaya zat besi seperti daging,
ayam, ikan, nasi, kacang-kacangan, tahu dan juga makanan yang kaya Vitamin C seperti
tomat, brokoli, jeruk dan strawberi yang meningkatkan serapan zat besi di dalam tubuh.

      Frisian Flag 123 dan 456 mempunyai semua nutrisi penting yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan optimal balita Anda. Selain itu, Frisian Flag 123 dan 456 juga dilengkapi
dengan nutrisi kunci pembuka potensi anak: Tyrosine + Tryptophan, Sphingomyelin, DHA,
AA dan SA, dan tentunya kalsium, zat besi, zinc dan berbagai macam vitamin lainnya
untuk memastikan anak Anda mendapatkan nutrisi yang lengkap dan seimbang untuk
pertumbuhannya.



 A.TUJUAN PEMBERIAN MAKANAN PADA BALITA




    meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi
                                                            getahuan tentang makan dan
   makanan yang baik pada anak

B.PENTINGNYA BAGI ORANG TUA: FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN ANAK BALITA


         Setiap individu dilahirkan di dunia dengan membawa hereditas tertentu yang
 diperoleh melalui warisan dari pihak orang tuanya yang menyangkut karakteristik fisik
 dan psikis atau sifat-sifat mental. Lingkungan (environment) merupakan factor penting di
 samping hereditas yang menentukan perkembangan individu yang meliputi fisik, psikis,
 social dan relegius.


 a. Faktor Hereditas
        Merupakan factor utama yang mempengaruhi perkembangan individu yang
 diwariskan orang tua kepada anak atau segala potensi berupa fisik maupun psikis yang
 dimiliki individu sejak masa konsepsi sebagai warisan dari pihak orang tua melalui gen-
 gen. Pembuahan kembar yang berasal dari satu sel telur disebut “identical twins” (kembar
 identik) yang memiliki sifat-sifat yang sama, jenis kelamin yang sama. Sedangkan
 kembar yang berasal bukan dari satu sel telur tetapi dari dua sel telur yang sama kuat
 yang keduanya dibuahi sperma yang disebut kembar saudara (fraternal twins) yang
berbeda jenis kelamin tetapi juga sama. Mengenai proses pembuahan ada dua yaitu
proses pembuahan biasa (normal) dan proses pembuahan kembar.


b.Faktor Lingkungan
        Lingkungan perkembangan menurut Urie Bronfren Brenner dan Crouter
merupakan berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar orgenisme yang diduga
mempengaruhi / atau dipengaruhi oleh perkembangan individu yang terdiri atas fisik dan
social. Lingkungan perkembangan siswa adalah keseluruhan fenomena fisik/social yang
mempengaruhi perkembangan siswa.


1. Lingkungan keluarga
       Menurut F.G Brown dari segi biologis keluarga diartikan dalam arti luas meliputi
semua pihak yang berhubungan darah / keturunan yang dibandingkan dengan marga,
sedangkan dalam arti sempit meliputi orang tua dan anak. Sedangkan sudut pandang
sosialis dapat dikelompokkan yaitu : fungsi biologis, fungis ekonomis, fungsi pendidikan,
fungsi sosialisasi, fungsi protektif, fungsi rekreatif, fungsi agama.


2. Lingkungan sekolah
      Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal secara sistematis melaksanakan
program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu
mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral spiritual, intelektual,
emosional maupun social. Menurut Hur Lock sekolah merupakan factor penentu bagi
perkembangan kepribadian anak baik dalam cara berfikir maupun cara berperilaku.
Sekolah sebagai substansi keluarga dan guru sebagai orang tua.


3. Lingkungan kelompok teman sebaya
     Mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak.
Peranan kelompok teman sebaya bagi remaja adalah memberikan kesempatan untuk
belajar tentang :
Bagaimana interaksi dengan orang lain
Mengontrol tingkah laku orang social
Mengembangkan keterampilan dan minat sesuai usianya
Saling bertukar perasaan dan masalah
Peter dan Anna Freud mengemukakan bahwa teman sebaya telah memberikan
kesempatan penting untuk memperbaiki bencana kerusakan psikologis semasa anak dan
dapat mengembangkan hubugan baru yang lebih baik antara satu dengan yang lainnya
Prinsip Kecukupan Gizi Balita

1. Energi

   lingkungan, serta kesehatannya. Kebutuhan energi bisa dilihat dalam AKG,atau
   dihitung berdasarkan rumus. Penyediaan energi yang cukup membantu agar tidak
   terjadi pemecahan protein menjadi sumber energi.
                         – 60% dari KH, 10 – 15 % dari protein, 25-
   35% dari lemak.

 kelamin yang sama, tergantung pada aktivitas tubuhnya. Anak yang aktif memerlukan
 energi yang lebih banyak dibanding sebayanya yangkurang aktif

2. Protein
                         – 15%
                    – 2,0 g/kgBB (Poedjiadi, 1997).
                                                              terjadi gangguan
 pertumbuhan. Pada usia 1–3 tahun resiko anemia defisiensi meningkat, karena
 diperlukan hemoglobin yang cukup banyak sedangkan pada usia yang sama nafsu
 makan anak pada umumnya menurun dan pola makan yang kurang mengandung zat
 besi.


         HUBUNGAN ANTARA POLA PEMBERIAN NUTRISI DENGAN
            PERTUMBUHAN ANAK BALITA (USIA 1-5 TAHUN)


Pola Pemberian Nutrisi, Pertumbuhan Anak Balita.

        Penelitian ini dilakukan dengan latar belakang tingginya angka kematian balita
merupakan ciri yang sangat umum dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang
termasuk Indonesia. Salah satu sebab menonjol diantaranya adalah keadaan gizi yang
kurang atau bahkan buruk. Oleh karena nutrisi merupakan unsur yang sangat penting bagi
pembentukan tubuh manusia yang berkwalitas maka perlu dipelajari tentang cara
pemberian makanan pada balita, agar balita dapat tumbuh secara normal maka diperlukan
nutrisi dan zat gizi yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya
hubungan antara pola pemberian nutrisi dengan pertumbuhan anak balita (usia 1-5) tahun.
Penelitian ini bermanfaat bagi para keluarga khususnya Ibu-ibu yang memiliki anak
balita (usia 1-5 tahun) agar selalu memberikan makanan dengan gizi yang seimbang
sesuai dengan usia anak.



       Kategori penelitian ini termasuk dalam penelitian observasional yang dilakukan
untuk menemukan ada tidaknya hubungan. Yang menjadi populasi dan sampel adalah
keluarga (Ayah/Ibu) yang memiliki anak balita (usia 1-5 tahun) dengan jumlah 25 orang
di daerah Puskesmas Pandan Wangi. Pengambilan data atau pengumpulan data dilakukan
melalui questioner (penyebaran angket) kepada responden dengan karakteristik keluarga
yang mempunyai anak balita (usia 1-5) tahun untuk menentukan pola pemberian nutrisi
yang sesuai atau tidak sesuai, sedangkan untuk mengukur pertumbuhannya yaitu dengan
menimbang berat badan dan membandingkannya dengan berat badan sebelumnya (1
bulan terakhir) untuk menentukan naik atau turun. Dari hasil analisa data yang diperoleh
dengan Uji C-Square ditemukan bahwa X2 hitung (11,54) lebih besar dari X2 tabel
(3,48). Sehingga dapat disimpulkan “bahwa ada hubungan antara pola pemberian nutrisi
dengan pertumbuhan anak balita (usia 1-5 tahun)”. Maka diharapkan pada seluruh
keluarga khususnya Ibu untuk selalu memberikan ASI dan makanan yang mengandung
gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan anak.

Deskripsi Alternatif :

        Penelitian ini dilakukan dengan latar belakang tingginya angka kematian balita
merupakan ciri yang sangat umum dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang
termasuk Indonesia. Salah satu sebab menonjol diantaranya adalah keadaan gizi yang
kurang atau bahkan buruk. Oleh karena nutrisi merupakan unsur yang sangat penting bagi
pembentukan tubuh manusia yang berkwalitas maka perlu dipelajari tentang cara
pemberian makanan pada balita, agar balita dapat tumbuh secara normal maka diperlukan
nutrisi dan zat gizi yang sesuai. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya
hubungan antara pola pemberian nutrisi dengan pertumbuhan anak balita (usia 1-5) tahun.
Penelitian ini bermanfaat bagi para keluarga khususnya Ibu-ibu yang memiliki anak
balita (usia 1-5 tahun) agar selalu memberikan makanan dengan gizi yang seimbang
sesuai dengan usia anak.

       Kategori penelitian ini termasuk dalam penelitian observasional yang dilakukan
untuk menemukan ada tidaknya hubungan. Yang menjadi populasi dan sampel adalah
keluarga (Ayah/Ibu) yang memiliki anak balita (usia 1-5 tahun) dengan jumlah 25 orang
di daerah Puskesmas Pandan Wangi. Pengambilan data atau pengumpulan data dilakukan
melalui questioner (penyebaran angket) kepada responden dengan karakteristik keluarga
yang mempunyai anak balita (usia 1-5) tahun untuk menentukan pola pemberian nutrisi
yang sesuai atau tidak sesuai, sedangkan untuk mengukur pertumbuhannya yaitu dengan
menimbang berat badan dan membandingkannya dengan berat badan sebelumnya (1
bulan terakhir) untuk menentukan naik atau turun. Dari hasil analisa data yang diperoleh
dengan Uji C-Square ditemukan bahwa X2 hitung (11,54) lebih besar dari X2 tabel
(3,48). Sehingga dapat disimpulkan “bahwa ada hubungan antara pola pemberian nutrisi
dengan pertumbuhan anak balita (usia 1-5 tahun)”. Maka diharapkan pada seluruh
keluarga khususnya Ibu untuk selalu memberikan ASI dan makanan yang mengandung
gizi yang seimbang sesuai dengan kebutuhan anak.
C.KEBUTUHAN ENERGI DAN ZAT-ZAT GIZI BALITA

       Anak balita juga merupakan kelompok yang menunjukkan pertumbuhan badan
yang pesat,sehingga memerlukan zat-zat gizi yang tinggi setiap kg berat badan. Anak
BALITA ini justru merupakan kelompok umur yang paling sering menderita akibat
kekurangan gizi(KKP).

Beberapa kondisi dan anggapan orang tua dan masyarakat justru merugikan penyediaan
makanan bagi kelompok BALITA ini:

a. Anak BALITA masih dalam periode transisi dari makanan bayi kemakanan orang
dewasa, jadi masih memerlukan adaptasi

b. Anak BALITA dianggap kelompok umur yang paling belum berguna bagi keluarga,
karena belum sanggup ikut dalam membantu menambah kebutuhan keluarga,baik
tenaga maupun kesanggupan kerja menambah keuangan.. Anak itu sudah tidak begitu
diperhatikan dan pengurusannya sering diserahkan kepada saudaranya yang lebih tua,
tetapi sering belum cukup umur untuk mempunyai pengalaman dan keterampilan untuk
mengurus anak dengan baik.

c. Ibu sering sudah mempunyai anak kecil lagi atau sudah bekerja penuh, sehingga tidak
lagi dapat memberikan perhatian kepada anak BALITA, apalagi mengurusnya.

d. Anak BALITA masih belum dapat mengurus sendiri dengan baik, dan belum dapat
berusaha mendapatkan sendiri apa yang diperlukannya untuk makanannya. Kalau
makan bersama dalam keluarga, anak BALITA masih diberi jatah makanannya dan
kalau pun tidak mencukupi, sering tidak diberi kesempatan untuk minta lagi atau
mengambil sendiri tambahannya.

e. Anak BALITA mulai turun ke tanah dan berkenalan dengan berbagai kondisi yang
memberikan infeksi atau penyakit lain, padahal tubuhnya belum cukup mempunyai
immunitas atau daya tahan untuk melawan penyakit atau menghindarkan kondisi lain
yang memberikan bahaya kepada dirinya.

         Di Indonesia anak kelompok BALITA menunjukkan prevalensi paling tinggi
untuk penyakit KKP dan defisiensi vitamin A serta anemia defisiensi Fe. Kelompok umur
ini sulit di jangkau oleh berbagai upaya kegiatan perbaikan gizi dan kesehatan lainnya,
karena tidak dapat datang sendiri ke tempat berkumpul yang ditentukan tanpa diantar,
padahal yang mengantar sedang sibuk semua.

       Penerapan gizi kelompok BALITA dicoba dijangkau melalui Taman BALITA,
Program PMT(Pemberian Makanan Tambahan) dan UPGK(Usaha Perbaikan Gizi
keluarga). Di Taman BALITA di adakan upaya rehabilitasi para penderita KKP dan
melatih para ibu dan mereka yang bertanggung jawab atas pengurus BALITA di dalam
keluarga, bagaimana mengurus dan memasak serta menyediakan makanan bergizi bagi
anak-anak BALITA.
       Proyek PMT berupa pemberian makanan bergizi suplemen pada makanan anak
BALITA yang biasa dikonsumsi untuk terapi dan rehabilitasi anak-anak yang kondisi
gizinya tidak memuaskan. Kegiatan-kegiatan di atas terutama di tujukan kepada
masyarakat lapisan yang kurang mampu, baik di kota, tetapi terutama daerah pedesaan.
Program UPGK merupakan upaya pendidikan terpadu untuk meningkatakan produksi
bahan makanan bergizi di lahan pekarangan sekitar rumah, dipergunakan untuk konsumsi
meningkatkan kondisi kesehata n gizi keluarga.



1.PERHITUNGAN BB IDEAL

1. Berat Badan Ideal (BBI) bayi (anak 0-12 bulan)
   BBI = (umur (bln) / 2 ) + 4

2. BBI untuk anak (1-10 tahun)
   BBI = (umur (thn) x 2 ) + 8

3. Remaja dan dewasa
  BBI = (TB – 100) – (TB – 100) x 10% atau
  BBI = (TB – 100) x 90%

[Ket:]
 TB = Tinggi badan (cm)



RUMUS UNTUK MENGHITUNG BERAT BADAN IDEAL



Ternyata, rumus untuk menghitung berat badan ideal telah ada sejak lebih dari seabad
lalu. Rumus berat badan ideal yang pertama dibuat oleh seorang ahli bedah Perancis
bernama Dr. P.P. Broca pada tahun 1897 (Halls, 2005).

Seiring dengan berjalannya waktu, Rumus Broca telah mengalami berbagai modifikasi.
Hal ini setidaknya dapat dilihat dari tiga kutipan berikut.

Rumus Broca seperti yang dikutip dari tulisan Steven B. Halls (2005) adalah :

Wanita : Berat Badan Ideal (kg) = Tinggi Badan (cm) – 100 ± 15%
Pria: Berat Badan Ideal (kg) = Tinggi Badan (cm) – 100 ± 10%

Sedangkan Rumus Broca yang dikutip dari publikasi di Website Depkes RI adalah :

Bobot badan ideal (kg) = 90% x {tinggi badan (cm) - 100} x 1 kg
Khusus untuk pria dengan tinggi badan kurang dari 160 cm dan wanita kurang dari 150
cm, digunakan rumus : Bobot badan ideal (kg) = {tinggi badan (cm) - 100} x 1 kg
Interpretasi : seseorang dikatakan underweight bila bobot badannya kurang dari 90%
bobot badan ideal.

Lain lagi yang dipublikasikan di Pikiran Rakyat (2004) :

(Tinggi Badan - 100) - 10% (Tinggi Badan - 100) , untuk usia <= 30 th
Tinggi Badan - 100, untuk usia > 30 th

Tetapi banyak orang menggunakan rumus yang sangat disederhanakan, yaitu :

Berat Badan Ideal = (Tinggi Badan - 100) - 10% (Tinggi Badan - 100)

Kemudian tahun 1974 Dr. BJ Devine mempublikasikan sebuah rumus baru untuk
menghitung berat badan ideal. Rumus tersebut adalah (Halls, 2005) :

Men: Ideal Body Weight (in kilograms) = 50 + 2.3 kg per inch over 5 feet
Women: Ideal Body Weight (in kilograms) = 45.5 + 2.3 kg per inch over 5 feet

Rumus Devine ini sebenarnya dibuat untuk digunakan dalam dunia medis, yaitu
menghitung dosis obat-obat tertentu seperti digoksin, teofilin, atau gentamisin. Tetapi
kemudian penggunaannya semakin meluas. Sebagian besar rumus-rumus penghitung
berat badan ideal yang dipajang di situs-situs internet menggunakan rumus ini.

Pada tahun 1983, Dr. JD Robinson mempublikasikan rumus penghitung berat badan ideal
yang dimodifikasi dari rumus Devine (Halls, 2005).

Men: Ideal Body Weight (in kilograms) = 52 kg + 1.9 kg for each inch over 5 feet
Women: Ideal Body Weight (in kilograms) = 49 kg + 1.7 kg for each inch over 5 feet

Modifikasi rumus Devine juga dilakukan oleh Dr. DR Miller. Rumus tersebut adalah
(Halls, 2005) :

Men: Ideal Body Weight (in kilograms) = 56.2 kg + 1.41 kg for each inch over 5 feet
Women: Ideal Body Weight (in kilograms) = 53.1 kg + 1.36 kg for each inch over 5 feet

Baik Rumus Devine, Robinson, maupun Miller tampaknya hanya tersedia dalam satuan
inci dan feet (kaki). Sedangkan satuan dalam cm tidak penulis temukan saat tulisan ini
dibuat.

Rumus lain yang banyak digunakan untuk mengetahui status berat badan adalah Indeks
Massa Tubuh (IMT atau BMI, body mass index). Rumus ini lazim digunakan di bidang
kesehatan termasuk oleh WHO (World Health Organization).
Pada rumus IMT, status berat badan dihitung dengan membandingkan berat badan (kg)
dengan kuadrat tinggi badan (m). Rumusnya adalah :

IMT = BB / (TBxTB)

Jika nilai IMT sudah didapat, hasilnya dibandingkan dengan ketentuan berikut :

Nilai IMT < 18,5 = Berat badan kurang
Nilai IMT 18,5 - 22,9 = Normal
Nilai IMT 23-24,9 = Normal Tinggi
Nilai IMT 25,0 - 29,9 = Gemuk
Nilai IMT >= 30,0 = Gemuk Banget
Sumber : Adaptasi dari Kriteria WHO

Contoh penggunaan rumus IMT : Misal, A mempunyai berat badan 60 kg dengan tinggi
badan 1,69 m, maka IMTnya adalah 60 / (1,69x1,69) = 21,01. Dengan nilai IMT 21,01,
berat badan A termasuk dalam kategori normal.

2. PERHITUNGAN KEBUTUHAN ENERGI UNTUK BALITA


 BALITA (tahun)                               g/hari
 1                                            1,27

 2                                            1,19

 3                                            1,12

 4                                            1,06

 5                                            1,01

 6                                            0,98
DAFTAR PUSTAKA
Sediaoetama,achmad djaeni.2004.Jakarta:Dian Rakyat
http;//www.lusa.web.id/gizi seimbang pada balita
http://fannyvo ice.blogspot.com/2010/06/gizi seimbang pada
balita.html.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1311
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:11
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl