Docstoc

Gangguan sulit tidur alias insomnia

Document Sample
Gangguan sulit tidur alias insomnia Powered By Docstoc
					            Gangguan sulit tidur alias insomnia, ya memang sangat
        mengganggu. Banyak orang mengatasinya dengan obat-obatan.
          Padahal upaya itu tidak dianjurkan, karena gangguan ini
      sebenarnya relatif mudah diatasi. Mengapa kita perlu tidur?
  Berapa jam idealnya orang dewasa tidur dalam semalam? Bagaimana
                                          kiat tidur yang nyaman?


Sudah sebulan Rina mengeluh susah tidur. "Paling-paling saya tidur 1 - 2 jam dalam
semalam. Itu pun kerap dihantui mimpi buruk," keluhnya. Padahal setiap hari ia harus
bangun pagi dan pergi ke tempat kerja yang jauh dari rumah. Akibatnya, di tempat kerja
                                  ia sering mengantuk dan badan terasa lemas.

                                  Tanpa berkonsultasi ke dokter, Rina mengambil
                                  inisiatif minum obat tidur. Tidurnya memang jadi
                                  pulas, tapi ketika bangun badan terasa semakin
                                  lemas dan lesu. Dalam sebulan berat badannya
                                  turun sampai 3 kg, dan nafsu makannya berkurang.
                                  Seorang rekan kerjanya menduga, Rina terserang
                                  stres karena dituntut menguasai pekerjaan barunya.
                                  Sebagai karyawan baru masa percobaan tiga bulan
                                  harus ia jalankan sebaik-baiknya agar bisa diangkat
                                  sebagai karyawan tetap.

                                  Cemas atau sakit

                                   Dalam terminologi kedokteran atau psikologi
                                   gangguan yang dihadapi Rina bisa digolongkan
                                   sebagai insomnia. Tapi penyebabnya sebenarnya
sangat beragam. Bisa karena soal sepele, bisa soal besar. Karena itu bila orang
terserang insomnia (in = tidak; sommus = tidur), hendaknya diteliti penyebabnya untuk
ditangani sesuai penyebabnya.

Menurut dr. W.M. Roan, psikiater dari RS Ongkomulyo, Jakarta, tubuh yang terasa
kurang sehat akibat menderita sakit sistemik (sakit tubuh menyeluruh) atau nyeri hebat
lokal, membuat penderita akan gelisah tidurnya. Gangguan jiwa, ringan sampai berat
pun, acap kali melahirkan insomnia. Itu jenis insomnia sekunder. Kalau penyebabnya
faktor psikologis atau depresi dinamai insomnia simpleks.

Untuk mengetahui dengan tepat penyebab insomnia, harus diteliti secara saksama:
apakah penderita mengalami insomnia selama beberapa jam, ataukah seluruh malam
tidak bisa tidur? Apakah di siang hari ia tidur? Gangguan insomia dapat dilacak dari
cara hidup seseorang secara rutin sampai kehidupan malamnya.

Seseorang yang mengeluh sulit tidur pada fase awal tidur malam hari, tambah Roan,
dapat dikaitkan dengan gangguan cemas hebat. Bila insomnianya terjadi tengah malam
- artinya waktu masuk tidurnya (pukul 21.00 - 22.00) mudah, tapi tengah malam (pukul
24.00 - 02.00) terbangun dan tidak bisa tidur lagi - menurut Roan, gangguan insomnia
itu dapat dikaitkan dengan gangguan jiwa atau saraf yang lumayan berat. Bila
terbangun di pagi buta (pukul 03.00 - 04.00), kemudian sulit tidur kembali, biasanya itu
berkaitan dengan gangguan depresi berat.

Sementara itu menurut Drs. Hartono Hdw., seorang apoteker, ada tiga jenis insomnia,
yakni insomnia sementara, insomnia jangka pendek, dan insomnia kronis. Pada
insomnia sementara, gangguan tidur hanya beberapa malam saja. Insomnia jangka
pendek karena stres mendadak. Yang lebih berat dan lebih sulit diobati adalah
insomnia kronis. Selain faktor depresi atau psikologis, bisa juga karena pengaruh
minuman keras atau minuman yang banyak mengandung kafein, penyakit, pengaruh
penggunaan obat tidur atau penenang dalam jangka lama, obat penurun tekanan darah
tinggi golongan betablocker seperti atenolol, nadolol, propanolol, dsb.

Belakangan sulit tidur juga dihubungkan dengan disorientasi waktu. Siklus tidur kacau
karena jam biologik tidurnya juga kacau. Orang yang naik pesawat melampaui 6 - 7
zone waktu, biasanya akan mengalami sindrom jet-lag, mengalami gejala penurunan
kesiagaan, insomnia, serta kelelahan tubuh. Orang yang mengadakan perjalanan
dengan pesawat dari Timur ke Barat, meski lelah namun tidak selelah terbang dari arah
sebaliknya. Mungkin tubuh kita harus siaga terus karena penerbangan dari Barat ke
Timur banyak siang harinya, sehingga orang harus terus melek sambil menunggu tiba
di tempat tujuan. Jet-lag dikatakan dapat ditanggulangi dengan melatonin.

Sementara itu penerbangan dalam satu zone waktu, Jakarta - Bangkok - Beijing
misalnya, tidak terasa melelahkan karena tetap berada dalam satu zone waktu, sama
seperti kalau kita naik mobil di dalam kota.

Bila penyebabnya faktor psikologis dan setelah lebih dari satu minggu tidak dapat
diatasi sendiri, sebaiknya segera dikonsultasikan ke psikolog atau psikiater. Kalau
karena penyakit tertentu, secepatnya diperiksakan ke dokter untuk diperiksa dan diobati
penyakitnya.

Mengobati sendiri dengan aneka obat penenang seperti Rina tidak dianjurkan. Sebab
tindakan itu dikhawatirkan justru bisa berdampak negatif, misalnya jadi kecanduan obat
tersebut, pikiran terganggu, pikun, gangguan organ tubuh, dll.

Para ahli gizi memberi saran agar penderita insomnia sehari-hari mengkonsumsi
makanan yang banyak mengandung tembaga (2 mg), zat besi (10 - 15 mg), serta
magnesium (400 mg). Namun penderita gangguan jantung atau ginjal sebaiknya
berkonsultasi ke dokter lebih dulu.

Otak dan otot saling merangsang

Gangguan insomnia menunjukkan betapa aktivitas tidur itu penting. Sebab, "Semua
orang memang perlu tidur (di malam hari) sesuai kebutuhan," komentar Joyse
Walsleben, Ph.D., psikolog asal AS. "Kalau tidak, otak akan menyuruh kita tidur di siang
hari."

Normalnya, seorang dewasa membutuhkan waktu tidur 7 - 8 jam semalam. Para lansia
sering kurang dari itu. Tidak heran, kurang tidur dalam semalam saja terasa kurang
segar, apalagi selama sebulan seperti dialami Rina.

Dengan tidur sebenarnya sesorang melakukan pembersihan diri dari "sampah
penyebab kelelahan". Mengutip penelitian para ahli kimia, dr. P. Carbone dari AS
mengungkapkan, dalam sehari produk "sampah" yang berasal dari seluruh kegiatan
otot tubuh - sebagian besar terdiri atas dioksida dan asam laktat - menumpuk dalam
darah dan mempunyai efek toksik pada saraf, menyebabkan rasa lelah dan mengantuk.
Selama tidur "sampah" ini dimusnahkan, sehingga saat bangun tubuh terasa segar.
Namun puncak rasa segar, menurut para ahli tadi, baru dirasakan dua jam sesudahnya.

Dr. Roan menambahkan, rasa kantuk berkaitan erat dengan hipotalamus dalam otak.
Dalam keadaan badan segar dan normal, hipotalamus ini bekerja baik sehingga mampu
memberi respons normal terhadap perubahan tubuh maupun lingkungannya. Namun,
setelah badan lelah usai bekerja keras seharian, ditambah jam rutin tidur serta sesuatu
yang bersifat menenangkan di sekelilingnya, seperti suara burung berkicau, angin
semilir, kasur dan bantal empuk, udara nyaman, dll., kemampuan merespons tadi
berkurang sehingga menyebabkan seseorang mengantuk.

Sebenarnya tidur tidak sekadar mengistirahatkan tubuh, tapi juga mengistirahatkan
otak, khususnya serebral korteks, yakni bagian otak terpenting atau fungsi mental
tertinggi, yang digunakan untuk mengingat, memvisualkan serta membayangkan,
menilai dan memberikan alasan sesuatu.

Tes yang pernah dilakukan terhadap beberapa ratus pria yang bersedia menjadi
sukarelawan untuk tidak tidur selama berhari-hari menunjukkan, setelah 4 - 8 hari,
memang tidak terjadi kemerosotan fisik yang berarti. Namun dalam 24 jam saja tidak
tidur, gejala gangguan mental serius sudah terlihat, seperti cepat marah, memori hilang,
timbul halusinasi, ilusi, dll. Meski begitu, dengan tidur kembali keesokan harinya semua
gangguan itu hilang. Malah ada ahli menyatakan, mendingan orang tidak makan dan
minum daripada tidak tidur. Tes laboratorium pada hewan menunjukkan, mereka bisa
bertahan hidup tanpa makan dan minum sampai 20 hari, tapi tidak tidur hanya bertahan
tidak lebih dari lima hari.

Sejumlah ahli yang memonitor aktivitas tubuh menuju tidur menambahkan, saat tidur
pikiran dan otot-otot kita saling merangsang. Ketegangan otot menyebabkan korteks
terus aktif sedangkan ketegangan otak menyebabkan otot terus aktif. Kelelahan akan
mengurangi irama kerja otot, demikian juga di kala beristirahat, sehingga semua ini
akan menurunkan kegiatan dalam korteks.

Menurunnya aktivitas dalam korteks akan membiarkan otot-otot kita semakin rileks.
Begitu rangsangan antara pikiran dan otot menurun, kita akan mengantuk lalu tertidur.
Selagi tidur, jantung kita akan berdetak lebih lamban, tekanan darah menurun, dan
pembuluh-pembuluh darah melebar. Suhu badan turun sekitar 0,5oF (… ? oC) tetapi
perut dan usus tetap bekerja. Sementara tidur, tubuh sekali-kali bergerak. Gerakan
sebanyak 20 - 40 kali masih dianggap normal. Terganggu insomnia berarti kerja pikiran
dan otot tidak berjalan seiring. Pikiran kita akan sulit tertidur bila otot masih tegang.
Sebaliknya, akan sulit bagi otot untuk tertidur jika pikiran masih terjaga, tegang, dsb.

Menurut Roan, dikatakan sehat dan normal bila begitu naik ke atas tempat tidur dengan
tatanan rapi, bantal enak dan empuk, kurang lebih selang 30 menit sudah tertidur,
bahkan ada orang begitu mencium bantal dalam 3 - 5 menit langsung tertidur.

Gerak bola mata cepat

"Tidur itu ada stadiumnya, tidur dangkal dan tidur dalam," kata Roan. Saat mulai tertidur
hingga sekitar 1 - 1,5 jam kemudian, stadium tidur dangkal berubah menjadi dalam.
Saat mencapai tidur dangkal kedua kalinya, bola mata tampak bergerak cepat (rapid
eye movement sleep = REM Sleep). Ini berlangsung selama 15 - 20 menit, kemudian
masuk lagi ke stadium tidur yang lebih dalam. Setelah lewat 1 - 2 jam, timbul kembali
tidur REM tahap 2, yang berlangsung 15 - 20 menit. Selama 7 - 8 jam tidur bisa 4 - 5
kali tidur REM.

Tidur REM beberapa kali harus terjadi selama tidur. Kalau tidak, tidur berikutnya akan
kacau. Seandainya selama dua minggu selalu terbangun atau dibangunkan dalam
stadium tidur REM, dua minggu berikutnya badan menuntut tidur REM lebih banyak
atau sering mengantuk. Kalau dalam keadaan normal tidur REM hanya 25% dari
seluruh tujuh jam tidur, bila selama dua minggu terganggu, membutuhkan sampai 65%.
Tidur REM ini memberikan ciri beberapa gangguan jiwa tertentu. Seseorang yang
depresi, tidur REM yang 4 - 5 kali selama 7 jam, bergeser lebih dekat dengan awal
tidur. Pada lansia, tidur REM bergeser dekat pagi hari.

Saat tidur terjadi pula perubahan gelombang listrik otak. Kalau dalam keadaan siaga
(melek), frekuensi gelombang otaknya tinggi. Dalam keadaan istirahat dan
memejamkan mata, otak mengeluarkan gelombang alfa dengan frekuensi 8 - 13 Hz.
Menuju stadium tidur lebih dalam, gelombang otak akan memperlambat diri, menjadi 3-
7 Hz. Gelombang ini disebut gelombang theta. Selanjutnya, bila tidur sangat dalam,
timbul gelombang delta, 1 - 4 Hz. Menurut beberapa peneliti, semakin banyak
gelombang kecil per detiknya, semakin lelap dan tenang tidur seseorang. Di kalangan
penggemar meditasi, gelombang delta justru dicari karena membawa ketenangan
sangat tinggi. Bila terjadi sebaliknya, tidur akan kurang lelap.

Betapapun masalah yang dihadapi seseorang, usahakan untuk mengatasinya sendiri
tanpa bantuan obat. Misalnya, untuk membantu mengusir pemicu stres, ambillah
selembar kertas, tuliskan masalahnya sebelum naik ke tempat tidur. Kalau Anda
membawa pekerjaan kantor ke rumah, singkirkan pekerjaan beberapa jam sebelum jam
tidur. Kalau masalah belum teratasi, tenangkan pikiran, bawalah tidur masalah Anda.
Keesokan harinya, di kala pikiran lebih terang dan tubuh lebih segar, masalah akan
lebih mudah teratasi. Percayalah! (Nanny Selamihardja)

By: I_O

dikutip dari:http://www.indomedia.com/intisari/1997/november/insomnia.htm

Tags: insomnia
0 comments share



                                                         Mar 18, '08 10:02 PM
   Gangguan Tidur Psikosomatis
                                                         for everyone

Gangguan Tidur Psikosomatis

Tidur merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang memiliki fungsi perbaikan dan
homeostatik (mengembalikan keseimbangan fungsi-fungsi normal tubuh) serta penting pula
dalam pengaturan suhu dan cadangan energi normal. Tidur disertai oleh berbagai perubahan
fungsi tubuh normal, termasuk di dalamnya pernapasan, jantung, otot, suhu badan, hormonal dan
tekanan darah. Sebenarnya tidur adalah suatu keadaan organisme yang teratur, berulang dan
mudah dibalikkan (dibangunkan) yang ditandai oleh keadaan tubuh yang relatif tidak bergerak
dan "kurang responsif" (ambang respon tubuh meningkat) dibandingkan waktu terjaga. Saat
seseorang jatuh tertidur, gelombang otaknya mengalami perubahan karakteristik tertentu yang
dapat dicatat melalui suatu alat yang dikenal dengan nama Elektroensefalografi (EEG).

Tidur terdiri dari dua keadaan fisiologis, yaitu tidur dengan gerakan mata tidak cepat (NREM)
dan tidur dengan gerakan mata cepat (REM). Pada orang normal, tidur NREM adalah keadaan
yang relatif tenang tidak terjaga, kecepatan denyut jantung biasanya lebih lambat 5 sampai 10
menit di bawah tingkat terjaga penuh dan sangat teratur.

Gangguan-gangguan tidur dapat terdeteksi dengan melihat hasil rekaman EEG seseorang dan
membandingkannya dengan keadaan normal. Frekuensi pernapasan dan tekanan darah juga
mengalami penurunan. Sedangkan pada periode REM, pencatatan EEG mirip dengan pola saat
terjaga dan cenderung tidak beraturan. Pola REM ini akan tercatat pada saat orang yang
bersangkutan sedang bermimpi.

Pola tidur berubah sepanjang kehidupan seseorang. Pada masa bayi baru lahir (neonatal), tidur
REM mewakili lebih dari 50% waktu tidur total dimana bayi tidur kira-kira 16 jam sehari dengan
periode terjaga yang singkat. Pada usia 4 bulan, pola berubah sehingga presentasi total tidur
REM turun sampai kurang dari 40%. Pada stadium dewasa muda, stadium tidur berubah dengan
proporsi REM 25% dan NREM 75%.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa peristiwa tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon antara
lain serotonin, asetilkolin dan dopamin yang saling berinteraksi dalam menidurkan dan
membangunkan seseorang. Beberapa orang secara normal adalah petidur yang normal yang
memerlukan tidur kurang dari enam jam setiap malam dan yang berfungsi secara adekuat.
Petidur lama adalah mereka yang tidur lebih dari sembilan jam setiap malamnya untuk dapat
berfungsi secara adekuat. Periode kekurangan tidur yang lama kadang-kadang menyebabkan
disorganisasi ego, halusinasi bahkan waham.

Tidur dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud disini adalah
irama biologis tubuh, dimana dalam periode 24 jam, orang dewasa tidur sekali, kadang 2 kali.
Sedangkan faktor eksternal dipengaruhi oleh siklus terang gelap, rutinitas harian, periode makan,
dan penyelaras eksternal lainnya. Faktor-faktor inilah yang membentuk siklus 24 jam.

Gangguan tidur merupakan suatu permasalahan yang banyak dialami, terutama di negara-negara
maju yang kaya akan rutinitas. Gejala utama yang menandai gangguan tidur adalah insomnia,
hipersomnia dan parasomnia.

Insomnia adalah kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur. Keadaan ini adalah
keluhan tidur yang paling sering, dapat bersifat sementara maupun persisten. Periode singkat
insomnia paling sering berhubungan dengan kecemasan, baik yang berhubungan dengan
pengalaman yang mencemaskan atau dalam menghadapi suatu pengalaman yang menimbulkan
kecemasan (misalnya peristiwa kedukaan, atau akan menghadapi persidangan).

Insomnia persisten adalah jenis yang cukup sering, gangguan ini terdiri dari sekelompok kondisi
di mana masalah yang paling sering adalah kesulitan untuk jatuh tertidur dan melibatkan dua
masalah yaitu ketegangan dan kecemasan dan suatu respon asosiatif yang terbiasakan. Mereka
mungkin tidak mengalami kecemasan itu sendiri tetapi selalu mengeluhkannya seolah-olah hal
tersebut memang sedang terjadi sehingga mengganggu tidur mereka. Ada pula insomnia yang
melibatkan penggunaan obat-obat tertentu atau penyakit organik tertentu yang mengganggu
sistem tubuh. Pengobatan untuk kasus-kasus insomnia biasanya dimulai dengan penghilangan
kebiasaan (pindah tempat tidur, menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur, dll) jika tidak
berhasil dapat diobati dengan obat-obat golongan hipnotik (konsultasi dengan psikiater). Perlu
disadari bahwa insomnia merupakan gangguan tidur yang sulit diatasi dan perlu kesabaran dalam
terapi.

Hipersomnia bermanifestasi sebagai jumlah tidur yang berlebihan dan mengantuk yang
berlebihan di siang hari. Mengantuk berlebihan di siang hari ini harus dibedakan dengan
mengantuk karena kelelahan fisik akibat bekerja terlalu keras. Gangguan ini dikenal sebagai
narkolepsi dimana pasien tidak dapat menghindari keinginan untuk tidur. Dapat terjadi pada
setiap usia tetapi paling sering pada awal remaja atau dewasa muda. Narkolepsi dapat berbahaya
karena sering menyebabkan kecelakaan kendaraan bermotor dan industri. Terapi yang dianjurkan
adalah memaksakan diri untuk tidur (walau sebentar) di siang hari sampai gejala hilang. Jika
tidak sembuh, dapat dibantu dengan obat-obatan (harap konsultasi ke psiakiater).

Parasomnia merupakan fenomena gangguan tidur yang tidak umum dan tidak diinginkan yang
tampak secara tiba-tiba selama tidur atau yang terjadi pada ambang antara terjaga dan tidur.
Paling sering muncul dalam bentuk mimpi buruk yang ditandai dengan mimpi lama dan
menakutkan. Seperti halnya mimpi lainnya, mimpi buruk juga terjadi pada fase REM.
Pengobatan spesifik tidak diperlukan, namun pemberian obat-obat yang menekan tidur REM
seringkali dapat bermanfaat. Ada juga keadaan yang disebut gangguan teror tidur dimana pasien
terjaga dalam pada bagian pertama malam hari selama tidur nonREM yang dalam. Biasanya
pasien terduduk di tempat tidur dengan ekspresi ketakutan, berteriak dengan keras, seperti
sedang mengalami teror yang kuat.

Gangguan lain adalah gangguan tidur berjalan yang dikenal sebagai somnabulisme dimana
pasien seringkali duduk dan melakukan tindakan motorik seperti berjalan, berpakaian, pergi ke
kamar mandi, berbicara bahkan mengemudikan kendaraan. Gangguan ini lebih sering terjadi
pada anak laki-laki dan dimulai pada usia 4-8 tahun. Pengobatan terdiri dari tindakan mencegah
cedera dan pemberian obat tidur.

                                                                                   By : indri oktaviani

                                                                                 Dari berbagai sumber

Tags: insomnia
0 comments share



                                                                   Mar 18, '08 10:39 AM
   Cara Mengendalikan Diri Sewaktu Depresi
                                                                   for everyone
Menjadi korban perang? Dicampakkan kekasih? Ditinggal mati orang terkasih? Dipecat dari
pekerjaan? Tidak lulus ujian? Tidak jadi dipromosi? Kalah dalam sebuah kompetisi? Ditipu orang lain?
Usaha bangkrut? Divonis dokter terkena penyakit parah? Dililit hutang berkepanjangan? Berkali-kali
gagal                                      mendapat                                    pekerjaan?..


Tak ada seorang pun yang ingin mengalami hal-hal menyedihkan seperti tersebut di
atas, yang membuat bumi tempat kita berpijak seakan mau runtuh.
Namun nasib manusia yang bergulir seperti roda, tidak selalu berada di atas. Suatu
saat, sebagai manusia biasa, bisa saja kita berada pada titik emosi yang paling
rendah.
Pada saat ini kita bisa saja merasa bahwa kita tidak punya kekuatan untuk keluar
dari masalah. Kita juga merasa takut menghadapi risiko yang mungkin timbul.
Sebagian dari kita mungkin ingin lari ke obat penenang, minuman keras, ataupun
usaha bodoh lainnya untuk terbebas dari rasa depresi. Stop, jangan lakukan hal sia-
sia tersebut, karena para ahli telah menemukan solusi bagi penderita depresi tanpa
menggunakan         obat        penenang.      Ingin        tahu       rahasianya?


Olahraga
Kathryn Lance, penulis buku Running for Health and Beauty mengemukakan bahwa
senam merupakan upaya yang efektif untuk mengatasi depresi. Pendapat ini
didukung sepenuhnya oleh para peneliti yang menemukan manfaat olahraga,
terutama yang dapat memperlancar sirkulasi darah dan oksigen dalam tubuh,
misalnya:       lari,    bersepeda,       jalan      cepat,      dan       berenang.
Menurut para ahli kesehatan, jika emosi sedang pada posisi terendah, penderita
dianjurkan untuk berolahraga selama 20 menit untuk tiap sesi dan dilakukan kurang
lebih tiga kali dalam seminggu. Atau, jika kita senang beraktivitas di alam terbuka,
kita bisa mencoba melakukan olahraga berkuda, hiking, ataupun naik gunung.
Pemandangan alam di alam terbuka, bisa membantu menenangkan pikiran.


Kegiatan
Selain olahraga, penderita depresi juga dianjurkan untuk melakukan kegiatan-
kegiatan yang dapat mengalihkan fokus perhatian mereka dari masalah kepada hal-
hal lain yang menyenangkan dan dapat memberi efek ketenangan. Jika kita senang
menghasilkan karya seni, misalnya: melukis, mengambil foto, menggambar, membatik,
membuat patung, membuat barang-barang dari keramik; gunakan bakat ini untuk
menyalurkan     perasaan-perasaan     negatif,   dan    menimbulkan     ketenangan.
Jika kita senang menulis, curahkan kesedihan kita pada puisi, surat, ataupun artikel
yang bisa kita tulis. Kita juga dianjurkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan lain
yang tidak berfokus pada diri sendiri, melainkan pada orang lain, misalnya:
membantu orang lain menyelesaikan tugas mereka, menghibur orang lain, merawat
orang lain (misalnya: orang-orang yang sakit, yang sudah tua atau anak-anak
terlantar), ataupun membagikan ilmu dan keterampilan pada orang lain. Jika kita
berhasil membuat orang lain tersenyum, rasa bahagia tersebut biasanya akan
menular juga pada kita, selain itu kita juga merasa bahwa hidup kita tidak sia-sia
karena         masih        bisa       berguna         bagi       orang         lain.



Pertanyaan
Andrew Matthews dalam bukunya Being Happy memberikan ilustrasi yang menarik
tentang pertanyaan-pertanyaan penting yang dapat digunakan untuk mengurangi
rasa depresi: Ada seorang pria yang menelepon Dr. Robert Schuller.
Pria tersebut bertanya pada sang dokter, ”Segalanya telah berakhir bagi saya. Saya
telah kehilangan seluruh uang saya. Saya telah kehilangan segalanya.” Sang dokter
pun kemudian bertanya, ”Apakah Anda masih bisa melihat? Apakah Anda masih bisa
mendengar? Apakah Anda masih bisa berjalan? Karena Anda sedang bicara di
telepon dengan saya, sudah jelas Anda masih bisa mendengar dan berkata-kata.”
Semua pertanyaan tersebut dijawab sang pria dengan, ”Ya.” Lalu Dr. Schuller
berkata dengan tegas, ”Rasanya Anda tidak kehilangan segalanya. Anda masih
memiliki banyak hal. Jadi, Anda hanya kehilangan uang Anda.” Pertanyaan-
pertanyaan ini pada intinya menggugah kita untuk berpikir positif dan menghargai
hal-hal          lain         yang           masih           kita         miliki.


Orang                                                                         Lain
Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, begitu kata pepatah. Nasihat nenek
moyang yang sering kita dengar ini juga bisa kita terapkan, yaitu dengan berbagi
kepedihan kita pada orang lain yang kita percaya: orang tua, kakak atau adik,
sahabat, pasangan hidup atau psikolog dan tenaga profesional yang khusus
menangani                    masalah                    seperti                  ini.
Dengan berbagai perasaan, beban perasaan yang kita tanggung akan terasa lebih
ringan. Namun, tidak selamanya hal ini bisa kita lakukan. Mungkin saja, ketika
diperlukan, orang tempat kita berbagi sedang sakit, sedang melakukan kegiatan lain
sehingga      tidak    bisa     dihubungi,   ataupun      sedang    keluar    kota.
Jika hal ini yang kita hadapi, jangan putus asa dulu. Kita masih bisa berbagai rasa
dengan buku harian ataupun sekedar secarik kertas, tentunya dengan menuliskan
semua kekesalan ataupun kesedihan kita. Kita bisa juga berbicara dan merekamnya
di tape recorder. Tujuannya adalah untuk mengeluarkan perasaan tertekan dari
dalam       hati      kita,     sehingga      kita      menjadi      lebih     lega.


Makanan
Catherine Houck dalam artikelnya, How To Beat A Bad Mood, yang dicetak kembali
dalam versi ringkas di Reader’s Digest menuliskan banyak cara, salah satunya adalah
makanan. Menurut Houck, para ahli menganjurkan penderita depresi untuk
mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat (misalnya: roti, nasi, kentang,
makanan            yang            mengandung            tepung            jagung).
Karbohidrat dipercaya dapat menstimulasi otak untuk memproduksi serotonin yang
dapat membuat kita merasa lebih tenang dan lebih rileks. Jenis makanan lain yang
dianjurkan adalah protein, antara lain yang terdapat dalam ikan, ayam, dan daging
sapi.
Protein dianggap dapat memulihkan daya kerja otak, sehingga kita menjadi lebih
segar dan lebih bergairah dalam menjalani hidup ini. Yang tidak dianjurkan untuk
dikonsumsi adalah segala sesuatu yang mengandung kafein tinggi, karena zat ini
dapat meningkatkan rasa depresi dan kecemasan pada sebagian orang.



Warna
Psikolog yang mengkhususkan diri membahas pengaruh warna, Patricia Szczerba,
menyarankan untuk memilih warna-warna yang tepat untuk mengendalikan perasaan
kita. Jika sedang marah, tegas, atau cemas yang berlebihan, sebaiknya kita memilih
warna-warna netral dan warna-warna muda (biru muda, hijau muda) yang dapat
memberikan ketenangan, dan menghindari warna merah, yang dapat meningkatkan
kecemasan.
Jika sedang pada titik emosi terendah (depresi, sedih), hindari warna-warna gelap
dan tua (hitam, biru tua) yang bisa menyebabkan kita merasa lebih tenggelam dalam
kesedihan, dan kelilingi diri kita dengan warna-warna cerah yang membawa
keceriaan.


Musik
Yang juga dianggap efektif oleh para ahli untuk menghilangkan rasa sedih adalah
musik. Carol Merle-Fishman, salah satu penulis buku The Music Within You
mengemukakan bahwa jika kita sedang marah, kita dianjurkan untuk mendengarkan
musik-musik dengan ritme tinggi, dan jika sedang sedih, mendengarkan musik-musik
melankolis. Jadi, musik yang kita pilih disesuaikan dengan perasaan yang sedang kita
alami.
Tujuannya adalah untuk menetralisasi perasaan negatif tersebut dengan ritme
musik yang sesuai. Setelah itu, barulah kita bisa mendengarkan musik-musik yang
lebih ceria (jika sedang sedih), atau yang lebih lembut (jika sedang marah). Tentu
saja, selain mendengarkan musik, kita juga bisa memainkan alat musik yang kita
kuasai. Dengan memainkan alat musik, kita bisa mendapat manfaat tambahan, yaitu
menyalurkan kesedihan ataupun kecemasan kita pada kegiatan memainkan alat musik
tersebut.
Jadi, jika bumi tempat Anda berpijak seperti mau runtuh, Anda tidak perlu bingung,
ataupun terjebak melakukan hal-hal yang sia-sia yang mungkin malah akan
memperburuk suasana. Cobalah menerapkan usulan-usulan para ahli di atas. Siapa
tahu ada yang cocok untuk Anda
Tags: depresi
1 comment share



                                        Mar 18, '08 10:21 AM
   Prevalensi Depresi
                                        for everyone
Prevalensi Depresi
Orang Kota Rentan Depresi?
       Kehidupan kota besar, urban life, yang tampak gemerlap dengan pertumbuhan
ekonominya yang pesat, ibarat lampu petromak bagi sekumpulan laron. Setiap tahun ribuan
orang menyemut memadati kota besar. Namun berbagai masalah sosial yang kemudian dihadapi
membuat masyarakat urban itu menjadi rentan terkena stres, frustasi berkepanjangan, dan masa
bodoh. Gaya hidup urban dicirikan dengan berbagai tekanan. Jalan yang semakin macet, letak
rumah yang semakin ke pinggiran, hunian yang makin padat, naiknya harga kebutuhan sehari-
hari, persaingan antara anggota masyarakat yang ketat, dan rintangan seperti "pameran"
kehidupan mewah di depan mata dan hanya dinikmati warga berkecukupan, membawa
masyarakatnya pada satu kata : stres.
       Prevalensi depresi di masyarakat cukup tinggi, berkisar 5-10 persen, perempuan dua kali
lebih banyak dibandingkan pria. Selain terkait dengan gangguan kejiwaan, depresi juga
berdampak pada kesehatan fisik. Penelitian menunjukkan depresi mempengaruhi peningkatan
mortalitas juga morbiditas pada pasien penyakit stroke, diabetes melitus, dan penyakit
kardiovaskular. Depresi juga meningkatkan risiko bunuh diri, hampir 90% dari pasien depresi
mengalami gangguan taraf sedang sampai berat dalam pekerjaan, rumah tangga atau pergaulan
sosialnya. Penderita depresi juga beresiko tiga kali lipat kehilangan pekerjaan.
Dari sisi genetik, orang yang mempunyai bakat depresi akan lebih gampang menderita depresi
bila ada stimulus. Jika faktor lingkungan muncul, misalnya, stres, kehilangan orang yang
disayangi, penyalahgunaan obat, penyakit fisik (kronis), kehilangan pekerjaan, dan latar
belakang sosial yang buruk, maka depresi lebih mudah muncul pada orang yang memiliki bakat
depresi.
       Menurut Irmansyah, risiko seseorang menderita depresi semakin besar bila kedua
orangtuanya menderita depresi, dibandingkan bila orangtua tidak menderita depresi. Survei pada
orang yang mengalami depresi memperlihatkan bahwa anak-anak yang berasal dari orangtua
yang menderita depresi sangat berisiko tinggi menderita depresi. Besarnya risiko berkisar 50
persen sampai 75 persen. Oleh karena itu, deteksi dini pada anak sangat diperlukan.

 sumber:
 http://www.suarapembaruan.com/News/2006/02/08/index.html
 Last modified: 8/2/06

Tags: depresi
0 comments share



                                       Mar 18, '08 10:21 AM
   Gejala Depresi
                                       for everyone
Kenali Gejala Depresi
Gejala Umum :
   -   Lelah
   -   Kurang konsentrasi
   -   Tidur terganggu
   -    Nafsu makan berkurang
   -    Kehilangan minat dan kesenangan
   -    Merasa bersalah
   -    Mudah tersinggung
   -    Sedih
   -    murung
   Selain gejala non fisik, manifestasi dari depresi adalah penyakit fisik, seperti gangguan
lambung, sakit kepala, nyeri yang tidak jelas sumbernya, serta gangguan saluran napas.

Gejala Fisik
Menurut beberapa ahli gejala yang terlihat ini menunjukkan seberapa besar dan luas depresi yang
dialami oleh seseorang
1. Gangguan pola tidur
Sulit, terlalu banyak, ataupun kurang tidur adalah tanda bahwa orang tertekan. Bangun di tangah
malam atau dini hari terus tidak bisa tidur lagi adalah tanda yang sering terjadi.
2. Menurunnya tingkat aktivitas
Biasanya ditandai dengan kesenangan melakukan suatu hal yang pasif dan tidak terlalu
melibatkan orang lain seperti nonton TV, tidur.
3. Menurunnya efisiensi kerja
Ini jelas biasanya ditandai dengan hilangnya fokus terhadap pekerjaan, pekerjaan sering tidak
terselesaikan. Tanda yang umum adalah sering keluar kantor entah merokok terlalu lama, ngopi
terlalu lama ataupun telfon terlalu lama.
4. Mudah merasa letih
Karena depresi adalah perasaan negatif tentu saja akan membebani pikiran dan tubuh seseorang,
yang akan dipikul suka ataupun tidak di mana saja dan kapan saja.

Gejala Psikis
Perhatikan gejala di bawah apakah teman atau bahkan anda sendiri mempunyai tanda - tanda
seperti ini
1. Kehilangan rasa percaya diri
Biasanya orang yang mengalami depresi memandang sesuatu dari sisi negatif, dan cenderung
membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Misal kecenderungan memandang bahwa orang
lain lebih kaya, lebih sukses, lebih diperhatikan dan sifat lainnya.
2. Sensitif
Karena memandang sesuatu dari sisi negatif maka orang yang demikian akan mengaitkan segala
sesuatu dengan dirinya, dan cenderung menjadi orang yang mudah tersinggung, marah, perasa
dan curiga.
3. Merasa diri tidak berguna
Perasaan ini muncul dikarenakan mereka merasa menjadi orang yang gagal bahkan di
lingkungan mereka sendiri. misalkan seseorang karyawan tidak diberi tugas oleh atasannya akan
merasa bahwa dirinya tidak dianggap, padahal alasannya adalah karena atasan sedang menyusun
joblist tersendiri untuk karyawan tersebut.
4. Perasaan bersalah
Biasanya perasaan ini muncul dikarenakan orang yang mengalami depresi cenderung
memandang suatu kejadian yang menimpa dirinya sebagai hukuman atau akibat karena
kegagalan mereka melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan. Selain itu sering kali mereka
merasa sebaagi orang yang menjadi beban orang lain dan menyalahkan diri sendiri akan situasi
yang dihadapi.
5. Perasaan terbebani
Perasaan ini muncul dikarenakan mereka berpikiran selama ini terlalu memikul tanggung jawab
yang besar. Yang paling mengkhawatirkan adalah bila mereka berpikiran bahwa hidup terlampau
sulit untuk dijalani

Gejala Sosial
Kenapa Depresi bisa berpengaruh pada hubungan sosial ? ini dikarenakan sifat orang yang
mengalami depresi cenderung sensitif, yang tentu saja akan mempengaruhi hubungannya dengan
teman, rekan kerja ataupun atasan. Masalah ini bukan hanya berbentuk konflik tapi juga perasaan
seperti minder, malu bila berada di komunitas tertentu dan merasa tidak nyaman berkomunikasi
secara normal. Mereka merasa tidak mampu menjalin hubungan dengan komunitas meskipun ada
kesempatan.

Tags: depresi
0 comments share



                                         Mar 18, '08 10:19 AM
   Atasi Depresi??
                                         for everyone
Penanganan Depresi
   1.  Pertama adalah mengenali apakah stres yang dialami telah masuk ke tahap perlu
      diwaspadai  Depresi adalah hal yang biasa namun jika tidak dikenali bisa jadi luar
      biasa. Kalau seseorang mampu mengenali perubahan perilakunya, depresi bisa lebih dini
      diatasi.
   2. Berkonsultasi ke psikiater atau mencari teman yang bisa menjadi pendengar 
      Terkadang yang dibutuhkan adalah pendengar yang baik, cukup mendengarkan karena
      memberi nasihat yang salah justru membuat pasien terbeban. Pasien depresi butuh
      motivasi positif dari seseorang.
   3. Pengobatan : obat antidepresan  Kesalahan yang sering dilakukan dokter adalah
      menggunakan obat penenang, atau jika memberi antidepresan dosisnya tidak cukup dan
      terlalu cepat dihentikan, Padahal obat antidepresan harus dikonsumsi minimal selama
      enam bulan.
   4. Selain obat, ada beberapa kegiatan yang direkomendasikan untuk dilakukan pasien
      depresi, yakni melakukan kegiatan yang membutuhkan ketelitian, seperti origami,
      kegiatan bengkel, atau bermain dengan hewan peliharaan (pet therapy).
       Penulis:An

       Sumber: http://www.kompas.co.id/

Tags: depresi
1 comment share



                                                                   Mar 18, '08 10:06 AM
   Asuhan Keperawatan pada klien dengan insomnia
                                                                   for everyone

Diagnosa keperawatan.
Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan sebelum pemberian obat sedatif, hipnotik, dan
ankhiolitik menurut Sheila S. Ralph, et.al (2005) adalah:

1. Gangguan pola tidur b.d ketidaksinkronan “circadian”.

2. Kelelahan b.d cemas, kurang tidur, kondisi penyakit.

3. Kurangnya pengetahuan tentang pengobatan b.d keterbatasan kognitif,

  interpretasi yang salah tentang informasi.



Sedangkan diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan setelah pemberian obat sedatif,
hipnotik, dan ankhiolitik adalah :

   1. Resiko pola nafas tidak efektif b.d efek depresan pernafasan karena barbiturat (Diane S.
      Aschenbrenner, et.al, 2002), penurunan energi/kelelahan (Sheila S. Ralph, et.al, 2005)

   2. Gangguan pola tidur b.d perubahan tahap tidur normal akibat efek barbiturat dan
      benzodiazepin.(Diane S. Aschenbrenner, et.al, 2002).

   3. Resiko cidera b.d efek depresan dari obat terhadap sistem saraf pusat, perubahan sensori-
      persepsisekunder terhadap perubahan kognitif akibat obat benzodiazepine dan amnesia
      anterograde (Diane S. Aschenbrenner, et.al,2002).

Intervensi keperawatan
1. Gangguan pola tidur (J. C. McCloskey & G. M. Bulecheck, 1996) :
a. Tetapkan pola tidur/aktivitas pasien dan perkirakan siklus bangun/tidur reguler pasien

  dalam asuhan keperawatan.

b. Jelaskan pentingnya istirahat yang cukup.

c. Tetapkan efek pengobatan pada pola tidur pasien.

d. Monitor pola tidur , jumlah jam tidur, dan

e. Catat observasi fisik yang ditemukan misalnya “sleep apnea”, sumbatan jalan nafas, dsb.

f. Awasi pola tidur pasien, pertahankan lingkungan yang nyaman untuk

  meningkatkan tidur pasien, dan hindari memberikan obat pada jam tidur pasien

g. Bantu menghilangkan situasi stress sebelum tidur.



2. Kelelahan :

a. Tetapkan pembatasan fisik pasien.

b. Tetapkan persepsi pasien tentang penyebab kelelahan, dan dorong pengungkapan verbal

  tentang pembatasan aktifitas.

c. Tetapkan penyebab kelelahan, awasi pasien terhadap kelelahan akibat emosional.

d. Monitor pola tidur pasien serta tingkatkan istirahat dan pembatasan aktifitas.

e. Gunakan “ROM” aktif/pasif untuk menghilangkan ketegangan otot, dan ajarkan pada pasien

  teknik meminimalkan konsumsi oksigen misal pengawasan diri, dsb.

f. Monitor pemberian dan efek obat yang bersifat depressants dan stimultants.



3. Kurangnya pengetahuan tentang pengobatan :

a. Informasikan pada pasien generik dan merek dagang dari masingmasing obat, instruksikan

 pada pasien untuk memperhatikan maksud dan kerja masing-masing obat.
b. Jelaskan pada pasien tentang dosis, cara pemakaian, lamanya pemakaian, dan

 kemungkinan efek samping tiap obat serta evaluasi kemampuan pasien mengobati diri

 sendiri.

c. Jelaskan tentang tanda dan gejala kelebihan dan kekurangan dosis obat pada pasien.

d. Jelaskan pada pasien dan keluarga kemungkinan ketergantungan terhadap obat barbiturat

 atau benzodiazepin dalam 1 sampai 10 hari yang ditandai dengan kesulitan berpikir, pusing,

 nafsu makan menurun, gangguan sensori, mual, muntah, insomnia, dan mungkin disertai

 kejang.



4. Resiko pola nafas tidak efektif :

a. Awasi pola nafas dan bandingkan dengan keadaan normal.

b. Awasi kelemahan otot diafragma.

c. Awasi peningkatan istirahat dan kecemasan.

d. Awasi kemampuan pasien untuk batuk efektif.

e. Awasi adanya sekresi pada jalan nafas.



5. Resiko cidera :

a. Jelaskan pada pasien dan keluarga efek samping obat kelompok barbiturat atau

 benzodiazepine seperti : perasaan mengantuk, mata berkunang-kunang/pusing.

b. Anjurkan untuk menghindari aktifitas selama gejala tersebut muncul.

c.Tekankan untuk membatasi penggunaan obat barbiturat untuk efek hipnotik paling lama

 minggu.(Diane S. Aschenbrenner, et.al, 2002).

d. Anjurkan untuk tidak mengkonsumsi alkohol, kopi, dan latihan yang berat selama
 menggunkan obat kelompok barbiturat atau benzodiazepine.

_by:Lie_

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:424
posted:5/20/2011
language:Indonesian
pages:17
mr doen mr doen mr http://bineh.com
About just a nice girl