Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

bayi KATA PENGHANTAR Segala puji bagi Allah yang telah

VIEWS: 362 PAGES: 14

									                   KATA PENGHANTAR
Segala puji bagi Allah yang telah menolong hamba nya menyelesaikan
makalah ini dengan
penuh kemudahan dan keberkahan . Tanpa izin NYA ,mgkn penyusun
tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.
Makalah ini di susun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
“ISLAM BERBICARA TENTANG KELAHIRAN ASI DAN BAYI
TABUNG”
Yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
.Makalah ini disusun oleh penyusun dengan berbagai rintangan .Baik itu
yang datang dari penyusun maupun dari luar.
Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah
,akhirnya makalah ini dapat di selesaikan .
Makalah ini memuat tentang “ISLAM BERBICARA TENTANG
KELAHIRAN ASI DAN BAYI TABUNG”
”. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki
detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Penyusun juga mengucapkan kepada DOSEN2 pembimbing yang telah
membimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara kami
menyusun karya tulis ilmiah.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang luas kepada
pembaca.
Lebih dan kurang nya kami minta maaf .TERIMA KASIH.
                                 Kelahiran asi
Kelahiran Asi merupakan tema pokok dalam peerjuangan perkumpulan keluarga
berencana Indonesia. Masalah pemanfaatan ASI terkait erat pula dengan program KB.
Semakin lama waktu menyusui akan menyebabkan semakin lama pula jarak kelahiran
berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan beberpa
karakteristik ibu danpemberian ASI dengan jarak kelahiran. Penelitian ini termasuk
penelitian survei penjelasan menggunakan metode observasi dengan pendekatan belah
lintang. Teknik pengambialn sampel menggunakan simple random sampling dengan
jumlah sample 88 ibu. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Untuk melihat
hubungan antara variabel bebas (umur, pendidikan, lama pemberian ASI murni, dan
lama pemberian ASI) dengan variabel terikat (jarak kelahiran) menggunakan uji
Korelasi Rank Spearman sedangkan untuk variabel bebas (jenis pekerjaan) dengan
variabel terikat (jarak kelahiran) menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian umur
rata-rata responden 29,11 tahun pendidikan rata-rata selama 10,45 tahun, jenis
pekerjaan sebagian besar ibu rumah tangga 65,9%, pemberian ASI murni rata-rata
selama 4,05 bulan, pemberian ASI rata-rata 18,18 bulan, dan jarak kelahrian rata-rata
30,17 bulan. Uji bivariat menunjukkan ada hubungan umur dengan jarak kelahiran
(p=0,005), ada hubungan pendidikan dengan jarak kelahiran (p=0,005), ada hubungan
jenis pekerjaan dengan jarak kelahiran (p=0,000), ada hubungan lama pemberian ASI
murni dengan jarak kelahiran (p=0,000) dan ada hubungan lama pemberian ASI
dengan jarak kelahiran (p=0,000). Disarankan bagi Dinkes kota Samarinda untuk
mempertahankan kondisi yang sudah ada dan meningkatkan penuuluhan mengenai
pemberian ASI. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor lain yang
berhubugan dengan jarak kelahrian misalkan pengetahuan, social budaya, urbanisasi,
pendapatan dan pelayanan kesehatan dalam sample yang lebih besar.
                Pentingnya ASI menurut pandangan Islam

Susu merupakan makanan terpenting dan sumber kehidupan satu-satunya bagi bayi di
bulan-bulan pertama usianya. Susu terbaik untuk anak adalah air susu ibu karena
dengan menyusui terjadilah kontak cinta dan kasih sayang antara ibu dan anak. Ibu
adalah orang yang paling mampu memberikan cinta dan kehangatan yang
sesungguhnya kepada anak dengan naluri keibuannya yang diberikan Allah
kepadanya.
“Ibulah yang dapat memenuhi kebutuhan cinta dan kasih sayang yang didambakan
anak sejak hari-hari pertama masa menyusui”.
“Dengan menyusui, hubungan cinta dan kasih sayang antara ibu dan anak akan
semakin erat dan akan membuat anak merasa tenang dan aman”.
Riwayat-riwayat Ahlul Bait a.s. dan wejangan-wejangan yang mereka berikan kepada
umat Islam banyak menekankan keutamaan air susu ibu bagi anak. Imam Amirul
Mu‟minin Ali a.s. berkata,



Artinya: Tidak ada air susu yang lebih berbarakah bagi anak bayi dari air susu ibunya
sendiri.
Riset ilmiah telah membuktikan bahwa ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi.
Selain itu, dengan menyusui anak akan merasa aman dan tenang berada di dalam
pelukan ibunya. Pada saat-saat ketika praktek menyusui tidak mungkin dilakukan
karena sedikitnya air susu ibu, atau karena ibu sedang sakit, atau ketiadaan ibu karena
bercerai atau meninggal dunia, Ahlul Bait memerintahkan untuk memilih ibu susu
yang memiliki kriteria tertentu.
Imam Ali bin Abi Thalib a.s. berkata,

                           ‫ئ‬
Artinya: Hati-hatilah kalian dalam memilih ibu susu untuk anak kalian karena air susu
yang diminumnya akan mempengaruhi jalan kehidupannya.
Baik air susu maupun ibu yang menyusui berpengaruh pada perkembangan jasmani
dan ruhani anak. Riset ilmiah yang dilakukan oleh para ahli pun membenarkan hal
tersebut.
Ada beberapa kriteria bagi ibu susu yang dijelaskan oleh para imam suci Ahlul Bait
a.s. Imam Muhammad Baqir a.s. berkata,

‫ق ح‬          ‫إ ك‬       ‫حس‬                  ‫ك‬         ‫عي ست‬            ‫ق‬             ‫ئ‬
Artinya: Susukanlah anak kalian pada wanita yang cantik dan jangan kalian susukan
kepada wanita yang buruk rupa karena air susu akan berpengaruh pada parasnya.[13]
Beliau juga mengatakan,

‫عي‬                 ‫ئ‬       ‫ؤرة‬         ‫ء‬         ‫ك‬      i98 k[
Artinya: Carilah ibu susu yang bersih dan cantik karena air susu akan berpengaruh
pada anak.
Ada larangan dari Ahlul Bait a.s. untuk menyusukan anak pada beberapa wanita, di
antaranya wanita Majusi. Abdullah bin Hilal berkata, “Aku pernah bertanya kepada
Imam Ja‟far Shadiq a.s. tentang menyusukan anak pada wanita Majusi. Beliau
menjawab,

‫ك تب‬     ‫هل‬    ‫ك‬       ,
Artinya: Jangan! Tapi susukanlah anakmu itu pada wanita Ahlul Kitab.
Kaum muslimin dapat memberikan anak mereka kepada wanita Ahlul Kitab (Yahudi
atau Nasrani) untuk disusui dengan syarat mereka harus melarang wanita tersebut
meminum minuman keras. Imam Ja‟far Shadiq a.s. berkata,

‫ب‬            ‫ع ه‬           ‫ك‬     ‫ر ع‬   ‫خم إ‬
Artinya: Jika wanita Ahlul Kitab akan menyusui anakmu, pertama kali, laranglah ia
dari minuman keras.
Ali bin Ja‟far berkata, “Aku pernah bertanya kepada abangku, Imam Musa Kadzim
a.s. tentang wanita Yahudi dan Nasrani yang menjadi ibu susu padahal mereka
meminum arak. Beliau menjawab,

 ‫ك‬   ‫ر ع‬           ‫ب خم‬                ‫ع ه‬
Artinya: Selagi mereka menyusui anakmu, laranglah mereka meminum minuman
keras.
Imam Ja‟far Shadiq a.s. melarang kita untuk menyusukan anak pada wanita pelacur
dan wanita yang memiliki air susu hasil dari perzinaan. Beliau berkata,

‫ته‬            ‫عه‬           ‫ست‬
Artinya: Jangan kau susukan anakmu pada wanita itu dan juga pada anaknya. Imam
Muhammad Baqir a.s. berkata,
                      ‫إ‬           ‫م س‬                      ‫ه‬
Artinya: Air susu wanita Yahudi, Nasrani, dan Majusi lebih aku sukai dari air susu
anak zina.
Hikmah dari larangan tersebut adalah karena air susu sangat berpengaruh pada
kepribadian anak. Wanita pezina selalu hidup dalam keresahan hati dan ketidak-
tenangan. Ia selalu dihantui oleh perasaan bersalah dan berdosa pada Tuhan sejak hari
pertama terbentuknya janin di rahimnya. Semenjak saat itu sampai ia melahirkan,
perasaan yang tidak menentu selalu hadir di hatinya. Kondisi jiwa dan mental seperti
itu sangat berpengaruh pada kestabilan mental dan keseimbangan jiwa anaknya.
Karena itulah, air susu anak hazil zina pun tidak baik bagi anak kita.
Dalam sebuah hadis di sebutkan bahwa Rasulullah SAWW mengingatkan kita untuk
berhati-hati terhadap air susu wanita pelacur dan wanita gila. Beliau bersabda,

‫عي‬               ‫ئ‬        ‫م‬                                 ‫ق‬
Artinya: Jagalah anak kalian dari air susu wanita pezina dan wanita gila karena air
susu akan meninggalkan kesannya pada anak tersebut.
Rasulullah SAWW juga bersabda,

          ‫حم ق ء أ‬            ‫ع‬    ‫ست‬
Artinya: Jangan kalian susukan anak kalian pada wanita yang dungu karena anak akan
terpengaruh oleh air susunya.
Imam Muhammad Baqir a.s. berkata,

  ‫ٌى‬         ٍ       : ‫ا ف , ءاقمح ا اوعضرتستا‬                  ‫عابط ا ب غي ب‬
Artinya: Imam Ali AS sering mengatakan, “Jangan kalian susukan anak kalian pada
wanita dungu, karena air susu akan mendominasi tabiat sang anak.”
Para pakar psikologi menekankan agar para ibu hendaknya dalam keadaan yang
tenang saat menyusui, lalu menyentuh kening anaknya dengan lembut. Selain itu
mereka menyebutkan bahwa ibu tidak boleh memaksa anaknya untuk menghadap ke
payudaranya, karena dikhawatirkan hal itu akan mengejutkan dan mem-bingungkan
anak.
Dalam konsep yang diajarkan oleh Ahlul Bait a.s. disebutkan juga tata cara dan masa
menyusui. Mereka menegaskan bahwa cara menyusui anak adalah dengan
memberikan kedua payudara ibu ke pada anak secara bergantian dan masa menyusui
hendaknya tidak kurang dari dua puluh satu bulan.
Imam Ja‟far Shadiq a.s. kepada Ummu Ishaq binti Sulaiman mengatakan,

    ‫ك‬    ‫هم‬              ‫ع‬     ‫ر‬          ‫ث ي‬        ‫ع‬            ‫م إ سح ق‬
           ‫آلخ‬      ‫هم ط ع‬
Artinya: Wahai Ummu Ishaq, jangan kau susui anak dengan satu payudara saja.
Susuilah dari keduanya secara bergantian karena salah satu payudara mengeluarkan
makanan bagi anak dan lainnya mengeluarkan minuman untuknya.
Dalam riwayat lain beliau juga mengatakan,

ً‫ى ال ص ب‬         ‫شهرا ف م ن ص ف هى جىر‬           ‫ال ر ض ع واحد و شرو‬
Artinya: Masa menyusui adalah dua puluh satu bulan. Jika kurang dari masa ini
berarti anak tersebut telah dizalimi haknya.
Masa yang cukup panjang ini sangat baik bagi per-kembangan mental dan psikis anak
karena masa menyusu adalah masa yang sangat sensitif bagi anak dan masa yang
membentuk kepribadiannya. Saat sang ibu mendekapnya, ia akan merasakan cinta dan
kehangatan.
Mengenai hal ini Profesor Louis Cablan menegaskan, “Anak yang mendapatkan
curahan kasih sayang yang cukup dari ibu pada tahun pertama dan kedua dari usianya
akan selalu merasa aman. Pada umumnya anak seperti ini tidak akan merasa gelisah
atau takut. Dengan mudah ia dapat beradaptasi saat menginjak usia tiga- empat tahun.
Anak yang selalu merasa aman memiliki kestabilan mental dan mudah bergaul
dengan siapa saja dan bergabung dengan anak-anak seusianya”.
Salah satu hal yang penting bagi anak di masa-masa seperti ini adalah nyanyian anak-
anak, karena hal itu sangat membantu mempercepat kemampuan berbahasa dan
perkembangan mentalnya di masa mendatang. Fathimah Zahra, putri kesayangan
Rasulullah SAWW, sering membawakan nyanyian berikut ini untuk anaknya Al-
Hasan.
Wahai Hasan, contohlah ayahmu Ali
Uraikan tali yang membelenggu agama Ilahi
Sembahlah Tuhan Yang Maha Pemberi
Jangan kau turuti kaum pendengki
Untuk anaknya Al-Husain, beliau bersenandung,
Kau mirip ayahku, Nabi
Dan tak mirip ayahmu, Ali
Ahlul Bait a.s. sangat menekankan pentingnya menjalin hubungan cinta dan kasih
sayang antara ayah dan ibu dan menghindari segala sesuatu yang dapat menimbulkan
pengaruh buruk terhadap kestabilan emosional keduanya secara khusus karena
kondisi mental dan emosional mereka berhubungan langsung dengan kejiwaan anak
di masa menyusui. Ahlul Bait a.s. sering berpesan untuk memperhatikan menu
makanan ibu yang sedang menyusui karena kuantitas dan kualitas air susu bergantung
kepada makanan yang ia makan. Dalam banyak hadis disebutkan bahwa kurma adalah
makanan terbaik bagi ibu menyusui. Rasulullah SAWW bersabda,

  ‫ط‬        ‫سء‬       ‫أل‬          ‫ك‬
Artinya: Makanan pertama yang paling baik dimakan oleh wanita yang baru
melahirkan adalah kurma ruthab.
Lalu ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, kalau belum datang musim ruthab?” Beliau
menjawab,

  ‫ئ‬             ‫م‬    ‫م‬      ‫م ت‬        ‫م س‬         ‫م ت‬          ‫س‬       ‫ك‬
   ‫ر‬
Artinya: Tujuh butir kurma Medinah. Jika tidak ada, tujuh butir kurma negeri kalian
sendiri.
Imam Ja‟far Shadiq a.s. menganjurkan untuk memakan satu jenis kurma, yaitu kurma
Barni. Beliau mengatakan,

  ‫سئ ك‬                   ‫ط عم‬              ‫ح‬      ‫سه‬
Artinya: Berilah isteri kalian yang baru melahirkan kurma Barni karena dapat
membuat anak kalian berhati lembut.
Riwayat yang lain menyebutkan bahwa beliau berkata,

            ‫م‬       ‫سه‬                ‫تم‬   ‫س ئك‬    ‫طعم‬
Artinya: Berilah isteri kalian yang baru melahirkan kurma Barni karena dapat
mempercantik paras anak kalian.
Ahlul Bait a.s. dalam banyak riwayat menyebutkan daftar makanan yang baik untuk
pertumbuhan dan kesehatan.
   Di antaranya adalah roti untuk mencegah datangnya penyakit, bubur gandum untuk
menumbuhkan daging, menguatkan tulang dan memudahkan percernaan, bubur
kacang adas untuk menurunkan darah tinggi dan mengurangi temperatur badan,
daging untuk mengurangi rasa amarah, bubur daging untuk menyegarkan badan dan
membuatnya penuh energi, buah zaitun untuk mengeluarkan angin dari tubuh, anggur
untuk mengurangi amarah, dan buah pir untuk menguatkan jantung.
Selain itu Ahlul Bait a.s. menekankan pentingnya madu, telur, susu, dan semua jenis
buah-buahan. Semua faedah yang dihasilkan makanan-makanan di atas juga akan
didapatkan oleh bayi melalui air susu yang ia minum.
Kesimpulan dari uraian di atas adalah sebagai berikut.
Pertama, anak harus mendapatkan air susu ibunya. Jika hal tersebut tidak
memungkinkan, dianjurkan untuk mencari ibu susu mukmin dan sehat lahir batin.
Namun bila ibu susu dengan kriteria tersebut tidak didapatkan, kita diperbolehkan
untuk mengambil ibu susu yang tidak beragama agama Islam dengan syarat
melarangnya meminum minuman keras dan memakan atau meminum segala sesuatu
yang dapat membahayakan keselamatan anak.
Kedua, kestabilan mental dan emosional ibu dan kesehatan jasmaninya haruslah
diperhatikan. Selain itu, untuk mendapatkan air susu dalam jumlah yang banyak dan
berkualitas tinggi, dianjurkan agar ibu memakan makanan yang mengandung banyak
gizi karena hal itu sangat penting untuk pertumbuhan fisik dan psikis anak.
    BAYI TABUNG MENURUT AJARAN AGAMA ISLAM


  Ajaran syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak boleh berputus asa dan
menganjurkan untuk senantiasa berikhtiar (usaha) dalam menggapai karunia Allah
SWT. Demikian halnya di ntara pancamaslahat yang diayomi oleh maqashid asy-
syari‟ah (tujuan filosofis syariah Islam) adalah hifdz an-nasl (memelihara fungsi dan
kesucian reproduksi) bagi kelangsungan dan kesinambungan generasi umat manusia.
Allah telah menjanjikan setiap kesulitan ada solusi (QS.Al-Insyirah:5-6) termasuk
kesulitan reproduksi manusia dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu
biologi modern yang Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur
dengan menggunakannya sesuai kaedah ajaran-Nya.


   Teknologi bayi tabung dan inseminasi buatan merupakan hasil terapan sains
modern yang pada prinsipnya bersifat netral sebagai bentuk kemajuan ilmu
kedokteran dan biologi. Sehingga meskipun memiliki daya guna tinggi, namun juga
sangat rentan terhadap penyalahgunaan dan kesalahan etika bila dilakukan oleh orang
yang tidak beragama, beriman dan beretika sehingga sangat potensial berdampak
negatif dan fatal. Oleh karena itu kaedah dan ketentuan syariah merupakan pemandu
etika dalam penggunaan teknologi ini sebab penggunaan dan penerapan teknologi
belum tentu sesuai menurut agama, etika dan hukum yang berlaku di masyarakat.
  Seorang pakar kesehatan New Age dan pemimpin redaksi jurnal Integratif
Medicine, DR. Andrew Weil sangat meresahkan dan mengkhawatirkan penggunaan
inovasi teknologi kedokteran tidak pada tempatnya yang biasanya terlambat untuk
memahami konsekuensi etis dan sosial yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, Dr.
Arthur Leonard Caplan, Direktur Center for Bioethics dan Guru Besar Bioethics di
University of Pennsylvania menganjurkan pentingnya komitmen etika biologi dalam
praktek teknologi kedokteran apa yang disebut sebagai bioetika. Menurut John
Naisbitt dalam High Tech - High Touch (1999) bioetika bermula sebagai bidang
spesialisasi paada 1960 –an sebagai tanggapan atas tantangan yang belum pernah ada,
yang diciptakan oleh kemajuan di bidang teknologi pendukung kehidupan dan
teknologi reproduksi.


   inseminasi buatan ini sejak tahun 1980-an telah banyak dibicarakan di kalangan
Islam, baik di tingkat nasional maupun internasional. Misalnya Majlis Tarjih
Muhammadiyah dalam Muktamarnya tahun 1980, mengharamkan bayi tabung dengan
sperma donor sebagaimana diangkat oleh Panji Masyarakat edisi nomor 514 tanggal 1
September 1986. Lembaga Fiqih Islam Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam
sidangnya di Amman tahun 1986 mengharamkan bayi tabung dengan sperma donor
atau ovum, dan membolehkan pembuahan buatan dengan sel sperma suami dan ovum
dari isteri sendiri. Vatikan secara resmi tahun 1987 telah mengecam keras pembuahan
buatan, bayi tabung, ibu titipan dan seleksi jenis kelamin anak, karena dipandang tak
bermoral dan bertentangan dengan harkat manusia. Mantan Ketua IDI, dr. Kartono
Muhammad juga pernah melemparkan masalah inseminasi buatan dan bayi tabung. Ia
menghimbau masyarakat Indonesia dapat memahami dan menerima bayi tabung
dengan syarat sel sperma dan ovumnya berasal dari suami-isteri sendiri.
 Dengan demikian, mengenai hukum inseminasi buatan dan bayi tabung pada
manusia harus diklasifikasikan persoalannya secara jelas. Bila dilakukan dengan
sperma atau ovum suami isteri sendiri, baik dengan cara mengambil sperma suami
kemudian disuntikkan ke dalam vagina, tuba palupi atau uterus isteri, maupun dengan
cara pembuahannya di luar rahim, kemudian buahnya (vertilized ovum) ditanam di
dalam rahim istri; maka hal ini dibolehkan, asal keadaan suami isteri tersebut benar-
benar memerlukan inseminasi buatan untuk membantu pasangan suami isteri tersebut
memperoleh keturunan. Hal ini sesuai dengan kaidah „al hajatu tanzilu manzilah al
dharurat‟ (hajat atau kebutuhan yang sangat mendesak diperlakukan seperti keadaan
darurat).
   Sebaliknya, kalau inseminasi buatan itu dilakukan dengan bantuan donor sperma
dan ovum, maka diharamkan dan hukumnya sama dengan zina. Sebagai akibat
hukumnya, anak hasil inseminasi itu tidak sah dan nasabnya hanya berhubungan
dengan ibu yang melahirkannya. Menurut hemat penulis, dalil-dalil syar‟i yang dapat
dijadikan landasan menetapkan hukum haram inseminasi buatan dengan donor ialah:
 Pertama; firman Allah SWT dalam surat al-Isra:70 dan At-Tin:4. Kedua ayat
tersebuti menunjukkan bahwa manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang
mempunyai kelebihan/keistimewaan sehingga melebihi makhluk-makhluk Tuhan
lainnya. Dan Tuhan sendiri berkenan memuliakan manusia, maka sudah seharusnya
manusia bisa menghormati martabatnya sendiri serta menghormati martabat sesama
manusia.
   Dalam hal ini inseminasi buatan dengan donor itu pada hakikatnya dapat
merendahkan harkat manusia sejajar dengan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang
diinseminasi.
Kedua; hadits Nabi Saw yang mengatakan, “tidak halal bagi seseorang yang beriman
kepada Allah dan Hari Akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain
(istri orang lain).” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dipandang Shahih oleh Ibnu
Hibban).
 Berdasarkan hadits tersebut para ulama sepakat mengharamkan seseorang
melakukan hubungan seksual dengan wanita hamil dari istri orang lain. Tetapi mereka
berbeda pendapat apakah sah atau tidak mengawini wanita hamil. Menurut Abu
Hanifah boleh, asalkan tidak melakukan senggama sebelum kandungannya lahir.
Sedangkan Zufar tidak membolehkan. Pada saat para imam mazhab masih hidup,
masalah inseminasi buatan belum timbul. Karena itu, kita tidak bisa memperoleh
fatwa hukumnya dari mereka.
 Hadits ini juga dapat dijadikan dalil untuk mengharamkan inseminasi buatan pada
manusia dengan donor sperma dan/atau ovum, karena kata maa‟ dalam bahasa Arab
bisa berarti air hujan atau air secara umum, seperti dalam Thaha:53. Juga bisa berarti
benda cair atau sperma seperti dalam An-Nur:45 dan Al-Thariq:6.
 Dalil lain untuk syarat kehalalan inseminasi buatan bagi manusia harus berasal dari
ssperma dan ovum pasangan yang sah menurut syariah adalah kaidah hukum fiqih
yang mengatakan “dar‟ul mafsadah muqaddam „ala jalbil mashlahah” (menghindari
mafsadah atau mudharat) harus didahulukan daripada mencari atau menarik
maslahah/kebaikan.
 Sebagaimana kita ketahui bahwa inseminasi buatan pada manusia dengan donor
sperma dan/atau ovum lebih banyak mendatangkan mudharat daripada maslahah.
Maslahah yang dibawa inseminasi buatan ialah membantu suami-isteri yang mandul,
baik keduanya maupun salah satunya, untuk mendapatkan keturunan atau yang
mengalami gangguan pembuahan normal. Namun mudharat dan mafsadahnya jauh
lebih besar, antara lain berupa:
1. percampuran nasab, padahal Islam sangat menjada kesucian/kehormatan kelamin
dan kemurnian nasab, karena nasab itu ada kaitannya dengan kemahraman dan
kewarisan.
2. Bertentangan dengan sunnatullah atau hukum alam.
3. Inseminasi pada hakikatnya sama dengan prostitusi, karena terjadi percampuran
sperma pria dengan ovum wanita tanpa perkawinan yang sah.
4. Kehadiran anak hasil inseminasi bisa menjadi sumber konflik dalam rumah tanggal.
5. Anak hasil inseminasi lebih banyak unsur negatifnya daripada anak adopsi.
6. Bayi tabung lahir tanpa melalui proses kasih sayang yang alami, terutama bagi bayi
tabung lewat ibu titipan yang menyerahkan bayinya kepada pasangan suami-isteri
yang punya benihnya sesuai dengan kontrak, tidak terjalin hubungan keibuan secara
alami. (QS. Luqman:14 dan Al-Ahqaf:14).


Adapun mengenai status anak hasil inseminasi buatan dengan donor sperma dan/atau
ovum menurut hukum Islam adalah tidak sah dan statusnya sama dengan anak hasil
prostitusi atau hubungan perzinaan. Dan kalau kita bandingkan dengan bunyi pasal 42
UU Perkawinan No. 1 tahun 1974, “anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam
atau sebagai akibat perkawinan yang sah” maka tampaknya memberi pengertian
bahwa anak hasil inseminasi buatan dengan donor itu dapat dipandang sebagai anak
yang sah. Namun, kalau kita perhatikan pasal dan ayat lain dalam UU Perkawinan ini,
terlihat bagaimana peranan agama yang cukup dominan dalam pengesahan sesuatu
yang berkaitan dengan perkawinan. Misalnya pasal 2 ayat 1 (sahnya perkawinan),
pasal 8 (f) tentang larangan perkawinan antara dua orang karena agama melarangnya,
dll. lagi pula negara kita tidak mengizinkan inseminasi buatan dengan donor sperma
dan/atau ovum, karena tidak sesuai dengan konstitusi dan hukum yang berlaku.
Proses pembuahan dengan metode bayi tabung antara sel sperma suami dengan sel
telur isteri, sesungguhnya merupakan upaya medis untuk memungkinkan sampainya
sel sperma suami ke sel telur isteri. Sel sperma tersebut kemudian akan membuahi sel
telur bukan pada tempatnya yang alami. Sel telur yang telah dibuahi ini kemudian
diletakkan pada rahim isteri dengan suatu cara tertentu sehingga kehamilan akan
terjadi secara alamiah di dalamnya.

\
 Pada dasarnya pembuahan yang alami terjadi dalam rahim melalui cara yang alami
pula (hubungan seksual), sesuai dengan fitrah yang telah ditetapkan Allah untuk
manusia. Akan tetapi pembuahan alami ini terkadang sulit terwujud, misalnya karena
rusaknya atau tertutupnya saluran indung telur (tuba Fallopii) yang membawa sel
telur ke rahim, serta tidak dapat diatasi dengan cara membukanya atau mengobati nya.
Atau karena sel sperma suami lemah atau tidak mampu menjangkau rahim isteri untuk
bertemu dengan sel telur, serta tidak dapat diatasi dengan cara memperkuat sel sperma
tersebut, atau mengupayakan sampainya sel sperma ke rahim isteri agar bertemu
dengan sel telur di sana. Semua ini akan meniadakan kelahiran dan menghambat
suami isteri untuk berbanyak anak. Padahal Islam telah menganjurkan dan mendo
rong hal tersebut dan kaum muslimin pun telah disunnahkan melakukannya.Kesulitan
tersebut dapat diatasi dengan suatu upaya medis agar pembuahan –antara sel sperma
suami dengan sel telur isteri– dapat terjadi di luar tempatnya yang alami. Setelah sel
sperma suami dapat sampai dan membuahi sel telur isteri dalam suatu wadah yang
mempunyai kondisi mirip dengan kondisi alami rahim, maka sel telur yang telah
terbuahi itu lalu diletakkan pada tempatnya yang alami, yakni rahim isteri. Dengan
demikian kehamilan alami diharapkan dapat terjadi dan selanjutnya akan dapat
dilahirkan bayi secara normal.
                 DAFTAR PUSAKA

 Perpustakaan Nasional RI : Katolog dalam Terbitan (KDT)

                 AL-REHAILI, Abdullah M.
oleh Abdullah M. al-Rehaili. - Yogyakarta: Tajidu Press, 2003

                         160 hlm.
                    ISBN 979-3I89-01-8

                       BUKU: Agama.

 ‘’’ISLAM BERBICARA TENTANG KELAHIRAN DAN BAYI
                     TABUNG’’’


       Hak Cipta 2003 pada © Abdullah M. al-Rehaili

								
To top